Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
[Season 2] 66 - Firasat dan Prediksi.


__ADS_3

Raisa terkekeh geli saat melihat hidung Rumi yang menjadi merah akibat dari ulahnya yang menariknya dengan sekuat tenaga.


"Aku tidak marah padamu atau kesal karena kau tidak memberi tahu padaku soal pernikahan Aqila dan Morgan. Aku justru kesal karena kau tidak percaya padaku bahwa aku tidak marah dan seolah kau jadi takut padaku. Kau menyebalkan," ucap Raisa


Rumi mengusap hidungnya sendiri karena sadar hidungnya berubah menjadi warna merah.


"Hidungmu jadi merah sekali. Sakit tidak? Maaf, ya, aku menariknya terlalu kuat tadi," ujar Raisa


"Tidak sakit kok," kata Rumi


Rumi berkata sambil menggelengkan kepalanya. Namun, tetap ... Raisa mendekatinya untuk meniup pelan hidungnya agar tidak terasa sakit.


"Aku bermaksud supaya hidungmu tidak terasa sakit, tapi ini tidak berpengaruh, ya? Pfft ... kau jadi seperti badut," ujar Raisa


Raisa terus terkekeh geli karena melihat hidung merah Rumi yang seperti badut yang menurutnya terlihat lucu. Rumi yang ditertawai malah menatap Raisa seolah terpesona.


"Tidak. Itu berpengaruh kok. Terus tiup hidungku. Rasa sakitnya jadi berkurang," pinta Rumi


"Hmm ... padahal tadi katanya tidak sakit. Maaf, ya, hidungmu jadi merah dan terasa sakit karena aku. Sini, kutiup lagi ... " Raisa pun mendekat dengan sedikit berjinjit untuk meniup hidung Rumi.


Rumi terus menatap Rumi dengan sangat lekat. Baru saja Raisa hendak menghembuskan nafasnya perlahan, Rumi malah menarik pinggang Raisa untuk menghapus jarak dengan cepat hingga kedua bibir mereka bertabrakan dan menempel serta bersatu padu.


Raisa menghela nafas saat Rumi tiba-tiba menciumnya. Namun, gadis itu hanya membiarkannya.


Rumi langsung menikmati permainan yang ia mulai sendiri dengan memejamkan matanya untuk menikmati bibir manis Raisa. Gadis cantik itu terhanyut dalam permainan lelaki tampan itu dan ikut memejamkan matanya.


Ciuman itu terasa sedikit menuntut namun tetap lembut dan tidak tergesa-gesa.


Saat Rumi mengundang Raisa untuk membuka mulutnya, gadis itu menurut sambil mengalungkan kedua tangannya di leher lelaki tampan di hadapannya.


Semakin mesra. Lidah keduanya saling membelit satu sama lain dan menari bersama. Bertukar nafas dan saliva. Mengecap dan mel*mat. Des*han dan leng*han terdengar pelan.


Cukup lama, selama 5 menit. Tautan pun dilepaskan. Raisa dan Rumi sibuk mengatur nafas masing-masing sambil saling tersenyum.


"Maafkan aku jika sifatku yang menyebalkan serta kurang peka dan kurang peduli pada situasi telah membuatmu kesal. Aku sungguh tidak bermaksud seperti itu," ucap Rumi sambil mengusap bibir Raisa yang basah karena ulahnya.


"Tidak apa kok," kata Raisa


..."Apa mungkin kelakuan aneh Rumi belakangan ini yang jadi makin manja dan lengket karena dia iri dengan Morgan dan Aqila yang sudah mau menikah? Rumi sampai tidak memberi tahu padaku tentang mereka berdua karena perasaannya sendiri sangat kacau karena dirinya sendiri juga menginginkan pernikahan. Apa mungkin dugaanku ini benar?" batin Raisa...


Raisa kembali menjauh dan membuat jarak dengan Rumi.


"Rumi, kau sebaiknya bersiap lebih dulu untuk misi nanti malam. Setelah itu kita berkumpul lagi," ucap Raisa


"Baiklah. Kau tunggu aku, ya," kata Rumi


Raisa mengangguk cepat sambil tersenyum lembut.


Karena hari masih siang, setelah mempersiapkan segala sesuatu untuk misi di malam hari, Raisa dan Rumi kembali bertemu untuk menghabiskan waktu bersama.


Namun, saat waktu terus bergulir dan langit mulai menjadi gelap, Raisa dan Rumi langsung bergegas menuju stasiun kereta listrik untuk berkumpul dengan yang lain seperti yang sudah ditetapkan.


Di stasiun, semua anggota lain dalam misi kali ini sudah menunggu.


"Kalian semua sudah ada di sini. Kami berdua datang!" seru Rumi


"Apa kami berdua terlambat? Maaf, ya," ujar Raisa


"Tidak kok, Raisa. Aku dan Amon juga baru datang," kata Morgan


"Itu karena kau terlalu lama bersiap-siap saat waktu berkumpul sudah hampir tiba. Kalau saja aku tidak harus menunggumu untuk pergi bersama, aku sudah pergi ke sini lebih dulu tanpamu dari tadi," ucap Amon dengan nada jengkel.


"Itu karena tadi siang aku menemui Aqila lebih dulu," kata Morgan


"Kalau kau tidak tega meninggalkan calon istrimu, lebih baik kau mengundurkan diri dari misi," ujar Ian


"Bukan seperti itu. Saat menemui Aqila, aku juga bertemu Bibi Sierra dan Paman Elvano. Jadi, aku harus lebih lama tinggal di sana untuk menunjukkan hormatku dan mengobrol dengan keduanya," jelas Morgan


"Terdengar seperti alasan, tapi kau memang harus menambah kesan baik di depan calon mertuamu. Karena sebelumnya kesanmu tidak baik sama sekali. Aku saja merasa heran dengan Aqila yang mau dan setuju untuk menikah denganmu," ucap Chilla


"Sudahlah, jangan berdebat lagi. Lebih baik kita pergi sekarang. Aku sudah beli tiketnya untuk kita semua," kata Devan


Mereka bertujuh pun beralih menaiki gerbong kereta yang menuju ke Negara Tanah.

__ADS_1


Karena Negara Tanah adalah negara tetangga yang tepat bersebelahan dengan Negara Api, tanpa butuh waktu lama mereka pun sampai di tujuan.


Di sana adalah stasiun pemberhentian di Negara Tanah, Desa Batu. Mereka bertujuh masih harus menuju ke perbatasan Desa Lumpur.


Dari sana, semua mengeluarkan gulungan kertas sihir dan mengeluarkan benda lain lagi yang di simpan di dalamnya. Raisa hanya bisa melihat saja karena hanya dirinyalah yang tidak termasuk pengguna gulungan kertas sihir.


Benda yang dikeluarkan dari gulungan kertas sihir adalah jubah berwarna hitam. Dan semuanya bergerak memakai jubah hitam tersebut kecuali Raisa.


"Raisa, aku lupa memberi tahu padamu. Karena misi kita kali ini termasuk misi mata-mata, kita harus memakai jubah. Itu sudah peraturan dan aku lupa kau tidak tahu aturan ini," ucap Devan


"Bukankah Raisa juga sudah pernah ikut misi mata-mata dengan kita sambil memakai jubah?" tanya Chilla


"Meski begitu, kita belum pernah menegaskan tentang aturan ini padanya. Entah Raisa membawa jubah hitamnya atau tidak kali ini," ujar Ian


"Biar Raisa pakai jubah milikku saja. Aku tidak memakai jubah juga tidak apa," kata Rumi


"Tidak bisa seperti itu dong. Aturan tetap aturan. Kita semua harus pakai jubahnya," timpal Amon


"Tidak apa. Aku memang tidak tahu ada aturan seperti itu, tapi aku sudah melakukan segala persiapan. Jubah hitam itu ... aku juga membawanya," ungkap Raisa


Tanpa menggunakan gulungan kertas sihir, jubah hitam ke luar begitu saja saat Raisa mengibaskan tangannya. Raisa memang menyimpan jubah hitam miliknya ke dalam sihir penyimpanannya.


Raisa pun menggunakan jubah hitam sama seperti yang lain.


"Bagus. Kalau begitu, kita semua hanya perlu menuju perbatasan Desa Lumpur saja," ujar Morgan


Mereka pun langsung berjalan menuju perbatasan antara Desa Batu dan Desa Lumpur sesuai yang tertera pada peta yang telah dibawa.


"Morgan, kali ini kau harus berhati-hati. Jangan bertindak gegabah karena ada Aqila yang menunggumu kembali nanti," pesan Raisa


"Aku tahu dan mengerti itu. Omong-omong, Raisa ... apa kau merasakan sesuatu tentang misi kali ini? Biasanya firasatmu selalu tepat. Sama juga seperti Devan, tapi biasanya dia selalu menyembunyikannya," ujar Morgan


"Aku hanya merasakan firasat tentang orang yang menjadi target kita kali ini memang sulit ditakhlukkan. Tidak akan mudah menghadapinya. Meski pun bukan berarti juga kita tidak bisa menangkapnya," jelas Raisa


"Setelah kau bertanya, firasatku jadi semakin tidak enak," sambung Raisa sambil bergumam pelan.


Rumi yang berjalan di samping Raisa dan mendengar gumamannya langsung menggenggam erat tangan Raisa untuk memberinya rasa tenang untuknya. Rumi pun tersenyum dan Raisa juga ikut tersenyum meski perasaannya menjadi cemas.


Seketika itu juga, ada bayang-bayang melintas di benaknya tentang firasat dan prediksi kejadian yang akan datang. Itu adalah malam yang gelap dengan langit berwarna hitam pekat dan bercampur dengan warna merah karena asap dan api.


Hanya satu yang membuat perasaannya sekacau itu. Raisa pun langsung menoleh ke arah Rumi yang berada di sampingnya dengan ekspresi menahan tangis tanpa diketahui orang lain.


"Rumi, kau juga harus berhati-hati kali ini," pesan Raisa


"Kenapa? Memangnya kau juga merasakan firasat tentang diriku?" tanya Rumi


Rumi hanya asal bertanya. Namun, Raisa malah mengangguk dengan cemas.


"Tenang saja. Akan kupastikan tidak akan terjadi apa-apa," ucap Rumi


"Ya. Kau ... harus," kata Raisa


Sudah cukup lama, kini Raisa memang suka melihat prediksi tentang hal yang akan terjadi dalam waktu dekat.


Kemampuannya memang terus bertambah. Biasanya Raosa hanya dapat mengetahui hal-hal yang telah lalu, tapi kini ia bisa memprediksi hal yang akan datang. Firasat serta prediksi seperti ini sudah Raisa alami sekitar 5 bulan belakangan ini yang terjadi saat ia sedang bekerja.


Firasat dan prediksinya selama 5 bulam terakhir selalu benar-benar terjadi. Dan kali ini prediksi itu tentang Rumi dan Morgan juga dirinya sendiri. Memang tidak jelas kejadiannya seperti apa. Awal mula dan akhir yang seperti apa, Raisa tidak tahu serinci itu. Namun, asap dan api tentu saja pertanda bahaya. Bahkan ia melihat dirinya sendiri menangis di dalam prediksinya.


..."Entah itu bahaya seperti apa, tapi sepertinya bahaya itu mengincar aku, Rumi, atau Morgan. Aku tidak peduli pada diriku sendiri, tapi aku harus melindungi Rumi dan Morgan. Mulai saat ini aku harus selalu berada di dekat Rumi dan Morgan. Dan yang lainnya juga ... semuanya harus selamat, meski aku harus mengorbankan diriku sendiri," batin Raisa...


Setelah terus berjalan, mereka akhirnya sampai di perbatasan antara Desa Batu dan Desa Lumpur. Banyak orang berlalu lalang di sana.


"Banyak sekali orang di sini," kata Chilla


"Jika ini adalah wilayah abu-abu, pasti banyak orang jahat di sini," ujar Ian


"Semua orang sepertinya ingin sekali masuk ke tempat itu. Ayo, kita ke sana. Mungkin target juga ada di dalam sana," ucap Devan


"Tapi, itu adalah bar. Tempat yang paling tidak ingin aku kunjungi," gumam Raisa


"Jadi, kau ingin ikut masuk atau tetap berada di luar sini, Raisa?" tanya Amon


"Ini demi misi. Tentu saja, aku ikut masuk, meski terpaksa," jawab Raisa

__ADS_1


Bar adalah tempat yang paling tidak ingin Raisa kunjungi karena menurutnya tidak ada hal baik di dalamnya. Namun, demi keberlangsungan misi, mau tak mau Raisa masuk ke dalamnya meski terpaksa. Apa lagi sebelumnya Raisa memiliki firasat dan prediksi tidak baik, jadi ia tidak ingin memisahkan diri dari teman-temannya.


Mereka pun berjalan masuk ke dalam bar dengan santai. Lalu, duduk di dalam sana.


"Apa alasanmu tidak mau masuk ke dalam bar, Raisa?" tanya Rumi


"Menurutku tidak ada hal baik di dalam sini dan aku paling tidak suka dengan minuman keras. Apa pun itu," jawab Raisa


"Kau juga ... kalau tidak ingin aku marah padamu, jangan pernah sentuh minuman terlarang itu. Aku tidak akan suka. Baik itu bir, anggur, vodka, wiski, sampanye, atau apa pun itu. Aku tidak suka dengan orang yang mabuk," sambung Raisa


"Baiklah. Untung saja aku tidak pernah menyentuh semua minuman itu sampai sekarang," kata Rumi


"Benarkah itu? Kau tidak berkata bohong, kan?" tanya Raisa


"Aku berkata jujur. Sungguh," jawab Rumi


"Itu bagus," lega Raisa


Setelah berhasil masuk, mereka mengedarkan pandangan untuk menemukan target misi yang harus ditangkap.


Saat itu, seorang pelayan datang menghampiri mereka.


"Kalian ingin pesan apa?"


"Aku ingin soda saja." Raisa berkata dengan cepat.


"Aku juga." Rumi menyahuti.


"Kalau begitu, kami pesan 2 gelas soda, 2 gelas wiski, dan 3 gelas anggur," pesan Devan


"Mohon ditunggu."


Pelayan itu pun mencatat pesanan dan mengangguk. Lalu, berlalu pergi untuk menyiapkan pesanan.


"Apa kalian akan benar-benar meminum minuman yang dipesan tadi?" tanya Raisa


"Itu hanya sebagai bentuk pengalihan saja. Tidak akan sungguhan meminumnya," jawab Morgan


Raisa yang benar-benar tidak suka dengan tempat itu pun tidak ingin memesan minuman memabukkan di sana meski hanya untuk berpura-pura sekali pun.


Tak lama, pelayan pun kembali dengan membawa pesanan tadi.


"Silakan."


"Terima kasih."


Setelah mengantar pesanan, pelayan itu kembali pergi.


"Lihat arah jam 2. Target kita ada di sana," kata Devan


Mereka pun langsung mengarahkan pandangan ke arah jam dua sesuai intruksi Devan dan benar. Mereka menemukan target sedang duduk di sana. Hanya saja target tidak hanya seorang diri.


"Benar. Tapi, tunggu dulu. Apa target kita ada 2 orang? Kenapa dia punya kembaran?" tanya Morgan


"Tidak. Target hanya satu orang," jawab Ian


"Lalu, bagaimana bisa kedua orang itu sangat mirip dengan target kita? Mana yang asli?" tanya Chilla


"Sadari dulu pertanyaanmu sendiri, Chilla. Kau hampir mengetahui kebenarannya. Yang asli memang hanya satu orang, satu yang lain hanya merupakan jurus pengganda atau bayangan diri," ungkap Raisa


"Dia ingin selalu berjaga-jaga. Jika ada bahaya, dirinya yang asli bisa melarikan diri dengan mengorbankan dirinya yang palsu," jelas Amon


"Tepat sekali," kata Raisa


"Kita hanya perlu menemukan yang asli," ujar Devan


"Bagaimana caranya untuk kita membedakan antara yang asli dan yang palsu?" tanya Chilla


Semua pun tampak memikirkan suatu cara. Sebenarnya memastikan raga asli dari jurus pengganda atau bayangan diri hanya perlu memberi pukulan keras. Namun, cara itu tidak mungkin dilakukan karena mereka tidak boleh memancing keributan yang beresiko membuat target melarikan diri.


.


__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2