Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
146 - Bertemu di Tengah Malam.


__ADS_3

Sepulang dari bertemu Maura dan Nilam, Raisa masih menyiapkan camilan malam untuk teman-temannya di halaman belakang rumahnya. Mereka makan bersama sambil mengobrol.


Di tengah itu, Raisa masuk ke dalam rumah dan kembali dengan membawa sesuatu di tangannya.


"Kau membawa apa, Raisa?" Tanya Rumi


"Karena aku tidak bisa membawa kalian ke vila keluargaku seperti biasanya, jadi aku akan menyiapkan tenda untuk kalian menginap di sini. Maaf juga karena kalian tidak bisa menginap di dalam rumah." Jawab Raisa


"Tapi, kenapa hanya satu tenda? Tidak akan muat untuk kami semua di dalamnya..." Ujar Morgan bertanya.


"Bantu saja dulu aku mendirikannya." Kata Raisa tanpa menjawab pertanyaan Morgan.


"Kalau begitu, biar kami para lelaki saja yang mendirikan tendanya." Ucap Ian


"Kalau begitu, Aqila dan Chilla, bisa bantu aku ambil tikar untuk alas tidur kalian?" Tanya Raisa meminta bantuan.


"Baiklah." Jawab Aqila dan Chilla secara serempak.


Aqila dan Chilla pun ikut Raisa masuk rumahnya untuk mengambil tikar dan lainnya...


Saat ketiganya kembali, tenda sudah berhasil didirikan.


Saat ke luar, Raisa menghentakkan kakinya dan langsung berdiri dua tenda baru dari tanah. Raisa menggunakan sihir elemen tanahnya untuk mendirikan tenda untuk yang lainnya.


"Tenda asli untuk Aqila dan Chilla. Ingat, perempuan yang pertama harus didahulukan! 1 Tenda buatanku untuk Morgan dan Rumi, 1 lagi untuk Devan dan Ian. Ini ada tikar untuk alas tidur kalian. Adil, bukan?" Ujar Raisa


"Kami juga sering tidur terduduk hanya beralaskan tanah. Dari pada itu, ini sudah lumayan!" Kata Devan


Raisa kembali menggunakan sihirnya. Kali ini ia menumbuhkan tanaman rambat sebagai media pintu untuk kedua tenda buatannya.


"Sisi belakang tenda sudah dilapisi dinding tanah, agar lebih tertutup di bagian depan aku menggunakan tanaman rambat sebagai tirai untuk pengganti pintu. Walau ditutup, pintu belakang rumahku tidak dikunci. Kalian bisa masuk untuk menggunakan kamar mandi yang ada di samping dapur jika ingin. Kalian juga bebas mengambil makanan yang ada di kulkas." Ucap Raisa


"Baik. Terima kasih, Raisa!" Girang Chilla


"Karena sudah malam, kalian tidurlah. Aku juga akan masuk untuk tidur." Kata Raisa


"Selamat malam, Raisa!"


"Jumpa lagi besok!"


Raisa pun tersenyum tipis, lalu berbalik memasuki rumah...


Di dalam kamarnya, Raisa termenung. Ia merasa tidak enak dengan teman-temannya karena harus tidur di dalam tenda yang tidak nyaman, sedangkan dirinya sendiri sangat nyaman berada dalam kamar tidurnya. Saat hari ini ia baru memulihkan semua ingatan tentang sihirnya, dirinya juga tidak bisa menggunakan tenaga sihir miliknya sepenuhnya. Dengan sikap protektif, Rumi pun melarangnya berbuat demikian demi kebaikannya.


Meski pun begitu, Raisa tetap harus tidur malam ini agar dirinya bisa bangun lebih pagi besok dan menyiapkan kebutuhan pagi hari teman-tenannya sebelum mereka terbangun...


Di dalam tenda, pikiran Rumi terus tertuju pada Raisa. Merasa tidak bisa terus seperti itu, Rumi pun beranjak ke luar dari tenda. Ia pun lebih dulu mempersiapkan trik sihir ularnya yang menggantikan sosok dirinya supaya tidak ada yang curiga jika dirinya sedang menyelinap pergi, terutama Morgan!


Rumi pun langsung menuju samping rumah. Di sana terdapat beberapa jendela yang terhubung ke dalam rumah. Ia yakin, pasti salah satunya adalah jendela kamar Raisa.


Setelah memastikan melalui ventilasi udara dengan ular sihirnya, Rumi pun mengetuk salah satu jendela yang ada di sana...


Tok-tok-tok!


Mata Raisa yang terkatup langsung terbuka, ia masih belum terlelap~


Mendengar suara ketukan dari luar jendela, Raisa pun bangkit. Ia mengintip dari balik gorden jendela. Dilihatnya, Rumi sedang tersenyum tipis sambil melambai pelan~


Melihat itu, Raisa langsung menyibak gordennya sedikit lebih lebar~


Rumi menunjuk-nunjuk jendela kamar Raisa dari luar, rupanya ia meminta dibukakan jendela itu untuknya...


Dengan sangat hati-hati agar tidak minimbulkan suara bising, Raisa pun membuka jendela kamarnya...


"Ada apa? Kenapa kau tidak tidur?" Tanya Raisa berbisik pelan.


"Rasanya aku masih belum puas melihatmu, jadi aku datang mencarimu. Ke luarlah bersamaku sebentar..." Jawab Rumi pelan diakhiri dengan permintaan.


"Tapi, yang lain sudah tidur semua, kan?" Tanya Raisa


"Mereka semua sudah tidur, tenang saja." Jawab Rumi


"Bukan. Maksudku, kau tidur juga saja. Kan, sudah malam." Ucap Raisa


"Tapi, aku merindukanmu." Kata Rumi memasang wajah memelas.


Melihat ekspresi itu, Raisa tidak tega. Rumi benar-benar merupakan kelemahannya...


Raisa menghela nafas pelan~


"Baiklah. Padahal kita sudah bersama seharian tadi." Pasrah Raisa yang akhirnya mengikuti keinginan Rumi.


Raisa ke luar melewati jendela kamarnya. Rumi pun membantu memeganginya saat ke luar...


Hitung-hitung mencari angin sambil menemani Rumi yang masih terjaga, pikir Raisa.


"Kau ingin kita ke mana? Di sini ada orang yang berkeliling untuk jaga malam, dilarang keras untuk lelaki dan perempuan berduaan di malam hari. Jangan sampai ketahuan!" Ujar Raisa


"Aku tidak berpikir sampai sana. Aku hanya ingin bertemu denganmu." Kata Rumi


Raisa menggeleng kecil tak habis pikir...


Keduanya berhenti di dekat pohon di samping rumah. Raisa pun melihat ke atas pohon.


"Bagaimana kalau kita ke atas saja?" Tanya Raisa sambil menunjuk pada dahan pohon rumahnya.


Raisa pun menggunakan sihir elemen udara miliknya. Tubuhnya melayang naik ke atas, kemudian terduduk di dahan pohon yang besar.


"Kau bisa naik, kan?" Tanya Raisa sambil menepuk dahan pohon tepat di samping posisinya duduk.


Rumi pun ikut menggunakan sihirnya. Lengannya memanjang meraih dahan pohon, berpegangan untuk naik duduk di atas bersama Raisa.


"Kita sudah bersama sekarang. Selanjutnya bagaimana?" Ujar Raisa bertanya.


"Seperti ini juga bagus!" Gumam Rumi


"Apa tidak ada yang mau kau bicarakan denganku?" Tanya Raisa

__ADS_1


"Entahlah. Aku hanya ingin kau menemaniku sebentar di luar sini." Jawab Rumi sambil bergeleng pelan.


"Kalau begitu, biar aku yang bicara lebih dulu..." Kata Raisa


"Apa kau sungguh tidak masalah dengan masa laluku yang punya bekas pacar?" Lanjut Raisa bertanya.


Raisa bertanya karena ingin tahu jawaban sesungguhnya dari dalam hati Rumi. Ia memperhatikan Rumi dengan serius...


Rumi tampak berpikir sebelum menjawab, ia juga mencoba berusaha mengatur emosinya.


"Kalau dipikirkan lagi, sebenarnya aku agak kesal. Tapi, seperti katamu itu hanya bagian dari masa lalu yang sudah lewat. Aku bisa mengerti itu dan yang penting adalah sekarang. Aku akan memastikan bahwa seterusnya hanya akan ada aku yang selalu bersamamu, menemanimu selamanya di sampingmu." Ungkap Rumi menjawab.


"Lalu, apa kau juga tidak masalah jika aku sungguh akan jadi artis terkenal nantinya?" Tanya Raisa lagi.


"Aku akan sibuk nantinya, tidak punya banyak waktu untuk bertemu dan menghabiskan waktu bersamamu, dikerumuni banyak orang dan mungkin banyak lelaki yang akan menyukaiku. Lalu, aku juga akan kenal dan dekat dengan artis tampan seperti kata Chilla. Apa kau benar-benar tidak masalah dengan semua itu?" Lanjut Raisa


"Kalau kau bahagia dengan pekerjaanmu, tidak apa. Aku juga akan bahagia untukmu. Asal kau bisa membagi waktumu, jangan sampai kau jadi stress dengan kesibukanmu saat itu." Ucap Rumi


Raisa memang tidak berharap Rumi akan cemburu atau melarangnya, Raisa tidak menginginkan itu sebagai jawaban Rumi. Tapi, Raisa tidak menyangka... Bukan kecemburuan atau larangan, Rumi malah memerhatikan perasaannya dan mengkhawatirkan kondisinya.


Raisa sangat senang mendengar itu dan tersenyum hangat~


"Wah, kau perhatian sekali!" Kata Raisa sembari tersenyum lebar.


"Raisa, memangnya kau menyukai lelaki lain selain aku?" Tanya Rumi


"Ternyata, kau penasaran juga. Tentu saja! Aku menyukai banyak artis idolaku yang tampan, selain mantan pacarku, aku juga pernah menyukai beberapa lelaki semasa sekolah." Jawab Raisa tak hanya memberi tahu tentang adanya idola yang disukainya, ia juga mengatakan tentang pernah menyukai lelaki lain.


"Tapi, di antara semuanya, kau lebih menyukai dan hanya mencintaiku seorang saja, kan?" Tanya Rumi


"Tentu saja!" Jawab Raisa dengan cepat sembari tersenyum lembut.


Rumi ikut tersenyum. Ia bahagia mendengar jawaban Raisa. Setelah itu mereka pun bercakap-cakap sambil bersenda gurau bersama. Keduanya tertawa sampai tidak menyadari adanya patroli jaga malam yang melewati rumah Raisa.


HUP!


Raisa langsung menutup mulut Rumi, memintanya untuk diam...


"Kenapa berhenti? Ayo, lanjut patroli lagi!"


"Tadi saya dengar ada suara samar orang ketawa dari rumah Pak Hilman. Arahnya dari pohon samping rumahnya itu!"


Seseorang yang berpatroli berhenti dan mengarahkan senter yang dibawanya pada pohon samping rumah Pak Hilman. Untung saja Raisa menggunakan sihir pelindung transparan agar tidak ada yang dapat melihat sosok dirinya dan Rumi yang sedang duduk di atas pohon...


"Omonganmu bikin merinding aja! Apa kamu sendiri gak takut?"


"Iya juga, sih. Yuk, ah! Lanjut jalan lagi aja!"


Mereka yang berpatroli pun akhirnya pergi...


Setelah memastikan dua orang yang berpatroli pergi, Raisa pun merasa lega.


..."Untungnya mereka malah berpikir ke sana dan ketakutan." Batin Raisa...


Raisa melirik ke arah Runi di sampingnya. Salah satu tangannya masih menutupi mulut Rumi. Lalu, Raisa merasakan sesuatu pada telapak tangannya yang digunakan untuk menutupi mulut Rumi itu...


Raisa terkejut!


Itu bukan ada sesuatu yang menyentuh telapak tangannya, melainkan memang Rumi nencium telapak tangan Raisa~


Tanpa Raisa sadari, tangan Rumi pun menggenggam tangan Raisa yang menutupi mulutnya itu...


Raisa pun buru-buru menarik tangannya kembali. Wajahnya merona karena malu.


"Mereka sudah pergi!" Kata Raisa nemecahkan kecanggungan di antara dirinya dan Rumi.


Rumi sama sekali tidak merespon. Tanpa disadari, jarak mereka lebih dekat dari pada sebelumnya. Itu membuat Raisa gugup!


"Rumi, aku sudah mulai mengantuk!" Kata Raisa


"Benar juga! Sudah larut malam. Baiklah... Ayo, kita turun!" Ujar Rumi


Raisa mengangguk...


Rumi turun lebih dulu, lalu menjaga di bawah saat Raisa hendak turun dari atas pohon.


Raisa dan Rumi kembali pada tempat awal mereka sebelum bertemu di tengah malam ini.


"Masuklah..." Kata Rumi sesampainya di dekat jendela kamar Raisa.


"Aku akan masuk. Kau kembali saja ke tendamu." Ucap Raisa


"Aku akan melihatmu masuk dulu, baru akan kembali ke tenda." Ujar Rumi


"Dasar, kau ini... Baiklah, aku akan masuk!" Kata Raisa


Raisa pun masuk kembali ke dalam kamarnya melalui jendela seperti saat ia ke luar, Rumi juga sedikit membantunya untuk masuk...


"Aku sudah di dalam. Kau sudah bisa kembali." Kata Raisa


"Raisa~" Panggil Rumi dengan sangat lembut.


"Hmm?" Deham Raisa merespon.


Tangan Rumi terulur menyentuh wajah Raisa~


Rumi mendekat ke arahnya...


CUP!


Rumi mendaratkan bibirnya pada bibir milik Raisa~


Cukup lama... Ciuman yang mengandung perasaan rindu dan kasih sayang.


Raisa merasakan perasaan yang Rumi salurkan melalui ciumannya dengan memejamkan mata~


Muah~

__ADS_1


Raisa membuka kembali kedua matanya dan di hadapannya, Rumi tersenyum sangat hangat...


"Sampai jumpa besok, Raisa~ Aku mencintaimu!" Ucap Rumi sambil melambai pelan.


Raisa hanya membalas dengan senyuman lembut dan lambaian halus~


Rumi pun beranjak kembali ke tendanya dan Raisa pun menutup kembali jendala kamarnya. Keduanya bersiap kembali untuk tidur...


"Aku juga mencintaimu, Rumi!" Gumam Raisa sebelum memejamkan matanya dan tidur.


"Kau habis dari mana, Rumi?" Tanya Morgan yang menjadi teman satu tenda dengan Rumi saat ia menyadari temannya itu baru saja kembali memasuki tenda.


Rumi merebahkan tubuhnya kembali dan di sana trik sihir ularnya sudah dihilangkan begitu ia kembali memasuki tenda.


"Aku mencari angin sebentar di luar sambil melihat langit malam. Benar kata Raisa, langit malam di sini ternyata tidak memiliki satu pun bintang yang menghiasi." Jawab Rumi


"Begitu, ya." Kata Morgan yang hanya terbangun sebentar dan sudah kembali terlelap.


"Tapi, langit malam di sini tetap terlihat indah saat kau ada di sisiku untuk menemani... Raisa!" Batin Rumi


Rumi pun memejamkan matanya sambil tersenyum. Ia mencoba untuk tidur...


•••


"Kalian yakin ingin kembali pulang hari ini juga?" Tanya Raisa


Setelah sarapan di keesokan harinya, teman-teman Raisa yang menginap mengatakan ingin kembali ke dunia asal mereka di dimensi asing. Mereka juga telah berpamitan pada kedua orangtua Raisa, juga adiknya, Raihan...


"Ya, Raisa. Kami datang ke sini hanya untuk memastikan keadaanmu. Dan kau sudah baik-baik saja sekarang, jadi kami harus kembali." Jelas Aqila


"Benar. Kami datang dengan rencana dadakan tanpa memberi tahu orang di Desa Daun. Akan jadi sangat merepotkan jika kami dihukum karena terlalu lama meliburkan diri." Ucap Devan


"Ya, kami tidak ingin itu sampai terjadi!" Kata Ian


"Jika kau luang, kaulah yang datang ke sana. Gantian kau yang mengunjungi kami seperti biasa." Ujar Morgan


"Ya! Saat kau berkunjung nanti akan kuundang kau makan-makan ala keluargaku sebagai ganti aku yang sering makan enak saat berada di sini." Ucap Chilla


"Wah, itu suatu kehormatan untukku! Aku akan ingat untuk menagihnya nanti, loh!" Kata Raisa


"Tapi, Raisa... Apa kau sudah bisa melakukan sihir yang menghabiskan lebih banyak tenaga seperti sihir teleportasi? Aku khawatir kau malah akan kehabisan tenaga dan kelelahan hanya karena membuka portal untuk mengantar kami pulang." Ujar Rumi bertanya.


"Bisa kok, tenang saja. Setelah membuka portal sihir telepertasi untuk kalian aku akan langsung beristirahat seharian penuh di rumah. Aku hanya akan melakukan satu jenis sihir, jadi tidak akan menguras tenagaku terlalu banyak." Jawab Raisa


"Bilang saja kalau kalian tidak rela untuk berpisah... Tidak usah bertele-tele seperti itu!" Sindir Ian


"Kami tidak ada yang bilang seperti itu, jadi kau jangan sok tahu!" Kata Raisa


"Kalau begitu, berjanjilah untuk langsung banyak istirahat setelah kami pulang. Kau harus menjaga kondisimu, Raisa!" Pesan Rumi


"Aku mengerti! Kau juga harus ingat untuk istirahat setelah sampai nanti, kau juga harus baik-baik memulihkan kondisi serta tenagamu. Saat aku datang nanti, aku mau lihat kau sudah sangat sehat dan segar bugar!" Ucap Raisa


"Saat itu tiba, aku akan menyambutmu dengan gembira!" Kata Rumi


Raisa tersenyum sambil menganguk kecil...


Raisa pun menggunakan sihir teleportasi untuk membuka portal menuju dimensi lain~


"Kalian bisa kembali pulang sekarang. Sampai jumpa nanti!" Ucap Raisa


"Sampai jumpa lagi, Raisa~"


Raisa melambaikan tangan melepas kepergian teman-temannya...


Hanya tertinggal Rumi di belakang, ia masih bersama Raisa dan menatapnya dengan sangat lekat.


"Kenapa? Kau tidak rela pergi, ya? Aku juga sedikit tidak rela ditinggal olehmu, tapi kau tetap harus pergi. Lagi pula, kita selalu akan bertemu kembali, kan?" Ujar Raisa


"Ya, kau benar. Sesaat, aku hanya khawatir berlebihan. Segera tutup portalnya setelah aku pergi, supaya tidak menguras lebih banyak tenagamu." Ucap Rumi


Rumi bicara sambil memegangi salah satu sisi wajah Raisa dengan lembut, Raisa pun memegangi tangan Rumi yang menyentuh wajahnya dengan hangat~


"Sampai jumpa lagi, sayangku!" Kata Rumi sambil tersenyum hangat.


Rumi pun melangkah memasuki portal teleportasi yang terbuka dan sosoknya menghilang dalam sekejap mata~


Raisa segera mengakhiri sihirnya dan menutup portal teleportasi yang dibuka olehnya. Keadaan pun kembali seperti semula...


Raisa pun kembali memasuki rumahnya dari pintu belakang karena sedang berada di halaman belakang rumahnya. Ia sudah berjanji untuk langsung istirahat setelah teman-temannya kembali pulang ke dunia asal mereka.


"Syukurlah. Kakak udah sembuh dan semua ingatan Kak Raisa udah balik lagi sampai bisa gunain sihir lagi." Ucap Raihan


"Teman-teman kamu udah pergi, Raisa?" Tanya Pak Hilman


"Udah, Pak. Mereka cuma mampir sebentar mau periksa keadaan Raisa karena aku udah lama gak berkunjung ke dunia mereka. Berkat mereka datang, aku jadi pulih sepenuhnya sekarang." Jawab Raisa


"Itu bagus! Tapi, kamu harus langsung istirahat sekarang. Kamu udah lama gak pakai sihir, tenaga kamu pasti banyak berkurang." Ucap Bu Vani


"Iya, Bu. Aku bakal istirahat kok." Patuh Raisa


•••


Beberapa waktu berlalu...


Seperti kata Raisa, saat luang ia langsung pergi berkunjung menuju dunia asing pada dimensi lain di sana~


Raisa langsung menuju rumahnya di Desa Daun begitu sampai di sana. Setelah ia merapikan barang bawaannya, ia langsung mengirimkan transmisi suara pada teman-temannya bahwa ia sudah datang dan sedang beristirahat sejenak di rumahnya.


Raisa lebih dulu memeriksa masing-masing tempat dan kondisi teman-temannya di sana. Begitu ia memastikan tidak akan mengganggu mereka, Raisa langsung bertelepati...


"Teman-teman, aku sudah datang! Aku ada di rumahku sekarang dan akan istirahat sebentar di sini sebelum menenui kalian." Pesan Raisa melalui transmisi suara pada masing-masing teman-temannya di sana.


-


.


__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2