
"Tidak mungkin! Itu mustahil! Bagaimana bisa dia adalah Dewi Penyelamat?!" Andrew terkejut tidak menyangka bahkan sampai berusaha menyangkalnya.
"Tapi, itulah kenyataannya," kata Morgan
Andrew merasa kesal karena belum bisa berlatih bersama Raisa untuk melihat kemampuannya karena gadis itu sedang sakit. Padahal Andrew sudah sangat menantikan dan penasaran. Ia pun mulai meragukan kembali kemampuan Raisa dan bertanya-tanya, pada akhirnya ia membandingkan Raisa dengan sosok hebat yang dikatakan rumor sebagai Dewi Penyelamat dari dimensi asing.
Andrew terkejut saat Aqila membenarkan rumor yang beredar itu adalah tentang sosok Raisa yang sebenarnya.
"Kau sudah tahu, ya? Aku memang bukan berasal dari sini melainkan dari dimensi asing di dunia lain, tapi aku bukanlah Dewi Penyelamat," ujar Raisa yang baru saja muncul begitu sedang dibicarakan.
"Raisa, kenapa kau tidak istirahat lebih lama lagi?" tanya Rumi
"Aku sudah tidak apa, kakiku sudah pulih. Tadi Aqila membantuku memulihkannya," jawab Raisa
"Kau mendengar kami sedang membicarakanmu, ya? Tapi, kau benar-benar sosok penyelamat kami yang bagaikan seorang dewi," ujar Aqila
"Rumor selalu beredar dengan berlebihan, itu sebabnya aku tidak suka," kata Raisa
"Memang benar, sih, Raisa tidak ada saat pertama kali aku datang ke desa ini. Memang mungkin benar kau adalah sosok Dewi Penyelamat yang dirumorkan itu, tapi aku tetap tidak percaya," ucap Andrew
"Benar, jangan pernah percaya dengan rumor begitu saja! Dari pada memusingkan tentang rumor, kenapa tidak menyibukkan diri dengan berlatih saja?" ijar Raisa bertanya.
"Bagaimana aku bisa berlatih saat teman latihanku yang sudah berjanji denganku malah mangkir dari janjinya?" sebal Andrew
"Aku, kan, sudah datang sekarang walau waktu hadirku berbeda denganmu. Jika, aku tidak bisa menepati janji pun kau masih bisa berlatih bersama yang lain sebagai gantinya dari pada tidak berlatih sama sekali," ucap Raisa
"Aku tetap tidak mau kalau bukan kau orangnya! Kau juga sudah berjanji padaku dan berkata tidak akan mengingkarinya," keukeuh Andrew
"Baiklah, aku akan berlatih bersamamu. Tapi, apa kau sudah melakukan pemanasan sebelum berlatih? Padahal aku sudah datang terlambat, tapi jangan bilang kau masih belum juga melakukan pemanasan?" ujar Raisa bertanya.
"Kemarin kau tidak bilang aku harus melakukan pemanasan dulu sebum berlatih! Kau juga harus berlatih bersamaku, kau juga belum melakukan pemanasan sama sekali sepertiku, kan?!" timpal Andrew
"Kata siapa?! Aku sudah berlari mengitari tempat perkemahan di halaman sebelah sana lima kali tadi. Sekarang giliranmu," ucap Raisa
"Baiklah, akan kulakukan! Pemanasan, sekarang ... " kata Andrew
Andrew pun mulai berlari-lari kecil mengelilingi tempat di sana sebagai pemanasan yang dilakukannya.
Raisa menggunakan sihirnya memunculkan balok tanah dari bawah hanya dengan sedikit menghentakkan kakinya~
"Sementara kau melakukan pemanasan, aku akan menunggumu sambil duduk di sini," ujar Raisa
"Itu sihir elemen tanah," kata Andrew tanpa berhenti berlari.
"Ya, ini salah satu dari kemampuanku. Kau punya kesempatan melihat yang lainnya nanti," ucap Raisa
Rumi pun mendekati Raisa yang sedang duduk.
"Ini kubawakan sedikit makanan untukmu sarapan. Kami semua sudah sarapan tadi," ucap Rumi yang membawakan sebuah kotak makan dan sebuah botol berisi susu putih, lalu menyerahkannya pada Raisa.
"Wah, terima kasih atas perhatianmu," kata Raisa sambil tersenyum lembut.
Raisa membuka kotak makan pemberian Rumi. Kotak itu berisi dua potong sandwich. Raisa pun mulai melahapnya perlahan.
Lalu, Rumi pun berjongkok di hadapan Raisa.
"Kau sedang apa di situ?" tanya Raisa melirik ke bawah tempat Rumi berjongkok.
"Aku ingin memeriksa kakimu. Kakimu mengalami kram tadi, tapi kau bilang sudah berlari berkeliling halaman lima kali. Kau membuatku khawatir saja," jawab Rumi yang mulai menyentuh kaki milik Raisa.
"Hei, kau! Yang benar saja! Tidak perlu melakukan itu! Aqila sudah memulihkan kakiku tadi, kakiku sudah pulih dan baik-baik saja. Lebih baik kau duduk di dekatku saja," ucap Raisa
Raisa pun memunculkan balok tanah seperti tempat duduknya untuk Rumi dan yang lain agar tidak hanya dirinya saja yang duduk di sana.
Raisa pun menarik lengah Rumi untuk bangkit dan duduk di tempat yang disediakan di sampingnya.
Rumi tidak dapat menolak lagi dan akhirnya duduk di samping Raisa~
"Aqila, Morgan, kalian berdua juga duduklah," ujar Raisa
"Apakah enak?" tanya Rumi yang memperhatikan saat Raisa melahap sarapannya.
Raisa mengangguk sebagai ganti jawabannya.
"Tadi kau sarapan apa?" tanya Raisa
"Sama sepertimu, tapi kami bisa meminta berapa pun yang kami mau. Apa kau mau lagi? Biar aku yang ambilkan untukmu," jawab Rumi, kemudian bertanya lagi.
"Ini saja sudah cukup. Aku tidak makan banyak saat sarapan, yang penting mengisi perut. Kalau kau makan sarapan yang sama, kenapa kau masih bertanya padaku tentang rasanya? Kau, kan, sudah merasakannya sendiri tadi," ujar Raisa
"Aku memang memakannya juga tadi, tapi aku tidak tahu apa rasanya sesuai dengan seleramu," kata Rumi
Rumi asik memerhatikan Raisa sarapan.
Rumi pun membantu Raisa membersihkan sudut bibirnya yang terkena saus tomat dari sandwich yang sedang dimakannya. Gerakannya sangat mesra.
"Ada apa?" tanya Raisa
"Saus tomat tertinggal di sudut bibirmu. Aku membantumu membersihkannya," jawab Rumi
"Kenapa tidak bilang saja? Aku bisa bersihkan sendiri. Tidak enak dilihat orang lain," ujar Raisa
"Aku sudah menahan diri. Kalau tidak, tadi kugunakan bibirku untuk membersihkan noda sausnya," bisik Rumi
"Jangan menggodaku," kata Raisa yang menahan rasa malunya sampai wajahnya memerah.
Rumi terkekeh kecil melihatnya.
Terakhir, Raisa meneguk susu putih dari botol yang diberikan Rumi~
"Aku sedang melakukan pemanasan, kau malah asik bermesraan," dumel Andrew yang baru selesai berlari.
"Aku tidak begitu," bantah Raisa
Raisa pun menghampiri Andrew yang sibuk mengatur nafasnya setelah berlari.
"Istirahatlah sebentar, baru lanjutkan berlatih lagi," ujar Raisa
__ADS_1
"Tidak usah. Langsung lanjut saja," kata Andrew
"Baiklah. Kalau begitu, pertama-tama aku ingin lihat kau membidik menggunakan belati. Seperti yang kau pelajari dari Morgan," ucap Raisa
"Itu mudah! Aku sudah mahir melakukannya," kata Andrew
Benda-benda yang diperlukan untuk latihan sudah disiapkan.
Andrew pun fokus pada target dan membidik dengan sempurna.
"Bagus! Aku jadi ingat saat pertama kali berlatih membidik sepertimu," gumam Raisa
"Kau juga berlatih untuk ini? Kupikir kau handal dalam segalanya," ujar Andrew
"Jika ingin memiliki kemampuan yang hebat, memang harus sering berlatih. Aku pun sama, aku juga manusia biasa," ucap Raisa
Di awal, Andrew dan Raisa berlatih cara bertarung jarak jauh. Membidik lawan menggunakan belati, melempar bom asap, dan lain-lain. Raisa juga memperlihatkan kemampuan sihirnya saat Andrew mulai memaksa ingin melihatnya. Dan saat harus berlatih cara bertarung dari jarak dekat, Rumi pun maju untuk menawarkan diri.
"Sekarang, lawanlah aku sebagai latihan cara bertarung jarak dekat," ucap Raisa
"Aku harus melawan seorang gadis? Lelaki tidak melawan gadis, itu melanggar etika yang dipegang teguh olehku," tolak Andrew
"Mau bagaimana lagi? Kau tidak bisa hanya berlatih cara bertarung jarak jauh. Katanya, kau ingin berlatih bersamaku. Atau kau takut saat harus bertarung jarak dekat?" ujar Raisa bertanya.
"Aku tidak takut pada siapa pun! Aku hanya tidak mau melawan gadis," kata Andrew
"Kalau begitu, sebagai gantinya lawan aku saja! Supaya seimbang lelaki lawan lelaki," ucap Rumi mengajukan diri.
"Aku tidak mau berlatih bersama yang lain, kecuali Raisa!" tegas Andrew
"Kau hanya ingin berlatih dengan Raisa, tapi tidak ingin melawannya atau ganyi melawan yang lain? Kau seperti sedang menyalahkan Raisa hanya karena dia seorang gadis," ujar Aqila
"Sepertinya Rumi langsung mengajukan diri saat Andrew hendak berlatih cara bertarung dari jarak dekat bukan karena mempermasalahkan Raisa akan terluka jika melawan Andrew, tapi Rumi mempermasalahkan tentamg jarak dekat antara Andrew dan Raisa saat berlatih! Rumi tidak ingin ada lelaki lain berada di dekat Raisa! Tidak kusangka Rumi benar-benar menjadi Budak Cinta," gumam Morgan yang sedang menganalisa dari jauh.
"Kalau begitu, kau bantulah teman-temanmu yang sedang dalam situasi sulit itu," kata Aqila
"Kenapa jadi harus aku?" heran Morgan bertanya.
"Andrew sudah lebih dulu dekat dan berteman denganmu. Selain yang membantunya berlatih, kau juga membantu Rumi menjauhkannya dari Raisa," jelas Aqila
"Baiklah, aku mengerti ... " pasrah Morgan
Morgan pun lalu menghampiri Andrew.
"Kau berlatih denganku saja, Andrew!" ajak Morgan
"Kau tidak mau melawan Raisa juga tidak apa, lagi pula walau Raisa bisa bertarung dari jarak dekat, tapi dia memang lebih sering bertarung dari jarak jauh menggunakan sihirnya untuk mengalahkan lawan. Kalau tidak mau melawan Rumi juga tidak apa, lawan aku saja," lanjut Morgan
"Baiklah. Kalau Morgan yang menemaniku berlatih, aku mau," kata Andrew
Pada akhirnya, bukan Raisa atau Rumi yang berlatih bersama Andrew cara bertarung jarak dekat, melainkan Morgan!
"Akhirnya, aku terjebak dalam situasi yang mengharuskan aku untuk melatihnya lagi," batin Morgan
Dari bertarung tanpa menggunakan senjata, sampai bertarung dengan menggunakan belati. Semua itu Andrew lakukan beesama Morgan yang menemaninya berlatih.
"Aku bukannya takut, tapi aku gugup saat melawanmu. Bagaimana pun juga kau lebih mahir dari pada aku," ucap Andrew
"Itu sama saja! Walau kau menyangkalnya, lawanmu akan menganggapmu takut padanya saat kau merasa gugup sedikit saja saat melawannya. Lalu, lawanmu akan mudah mencari cela untuk segera mengalahkanmu. Makanya, kau harus lebih berani dan kuat lagi. Karena mungkin saja lawanmu yang kau hadapi nanti lebih kuat, mahir, dan kejam dari pada aku yang menjadi lawanmu saat ini," ujar Morgan
"Baiklah. Aku sudah mengerti," kata Andrew
"Sudah cukup latihannya untuk hari ini. Apa kau sudah puas dengan latihan hari ini, Andrew?" ujar Raisa bertanya.
"Aku puas dengan latihannya. Tapi, aku masih butuh satu hal lagi untuk meyakinkanku bahwa kau adalah Dewi Penyelamat yang itu! Lakukanlah satu hal itu," jawab Andrew berakhir meminta sesuatu pada Raisa.
"Kenapa aku harus menurutimu? Sudah kubilang, aku bukan Dewi! Jangan percaya pada rumor yang berlebihan itu," elak Raisa menolak permintaan Andrew.
"Aku tetap harus yakin dan memastikannya sendiri! Ayolah, kau temanku juga, kan, Raisa?" ujar Andrew bertanya.
"Baiklah. Satu hal saja! Kau ingin aku melakukan apa supaya kau yakin?" tanya Raisa
"Tunjukkanlah sayapmu padaku! Kudengar, penyelamat itu terbang nenggunakan sayap seperti seorang Dewi! Aku ingin melihatnya langsung," pinta Andrew
"Tapi, aku sedang malas untuk terbang, karena pasti setelah melihatnya kau malah ingin melihat atau memintaku membawamu terbang," tolak Raisa
"Aku hanya ingin menyentuh dan merasakan sayapnya. Ayolah, Raisa! Kabulkan untuk yang satu ini saja," rengek Andrew
Raisa tampak berpikir sejenak.
"Baiklah, tapi ada syaratnya! Untuk melakukan sihir itu, aku ingin kau berjabat tangan denganku dan mengizinkanku menyentuh dahimu," ucap Raisa mengajukan syarat.
"Hanya itu saja? Tentu, aku bisa dan mengizinkanmu," kata Andrew
Andrew langsung mengulurkan satu tangannya untuk menjabat tangan Raisa~
Raisa tersenyum kecil seolah sedang merencanakan sesuatu. Lalu, ia pun menerima uluran tangan Andrew dan saling berjabat tangan. Kemudian menyentuh dahi Andrew dengan satu jari.
Sriiingg~~
Cahaya yang menyilaukan berpendar di sekitar Andrew dan Raisa.
"Apa itu tadi? Kenapa aku merasa aneh? Lalu, ayo! Ke luarkan dan tunjukkan sayapmu padaku," oceh Andrew meracau sendiri.
"Bagaimana rasanya? Setelah aku membagi sihirku dan memunculkan sepasang sayap di balik punggungmu?" tanya Raisa
Alih-alih menggunakan sihirnya untuk mengeluarkan sayap, Raisa malah membagi sihirnya dan memunculkan sayap untuk Andrew di balik punggungnya.
"APA??!" Andrew terkejut dan berusaha melihat punggungnya sendiri yang tumbuh sayap dengan sihir Raisa.
"Aku malas menggunakan sayap sihir, jadi aku biarkan kau mencobanya langsung seperti memilikinya sendiri. Kesempatan ini hanya sekali! Sekarang, coba gunakan dan gerakkan sayapmu," ucap Raisa
"Aku tidak pernah punya sayap atau sihir sebelumnya, bagaimana aku bisa menggunakan sayap darimu? Padahal aku hanya ingin melihat dan menyentuhnya sebentar. Kalau begini, apa kau sedang mempersulit aku?" ujar Andrew bertanya.
"Itu tidak sulit atau ingin mempersulitmu. Coba bayangkan saja bagaimana caranya agar bisa terbang. Aku memberimu sihirku yang terhubung dengan pikiranmu. Pikiranmu bisa mengendalikan gerakan sayap itu. Jika kau ingin melihat dan menyentuh sayapnya, pikirkan saja untuk membentangkan sayap itu. Maka, itu akan terbentang dan kau bisa meraih dan merasakannya," jelas Raisa
Andrew terlihat menikmatinya. Ia pun mencoba untuk berpikir untuk menggerakkan sayap yang diberikan Raisa. Dan itu mulai bergerak sesuai keinginannya.
__ADS_1
Sayap itu mulai terbentang lebar dan sedikit condong ke depan hingga Andrew bisa meraih dan menyentuhnya~
"Apa sekarang aku bisa terbang?" tanya Andrew
"Tentu! Coba saja bayangkan kau sendang terbang mengudara, sudah kubilang pikiranmu dapat mengontrol pergerakannya. Kau hanya perlu berhati-hati saat kau menggunakan sayapmu untuk terbang," jawab Raisa
"Baiklah. Aku akan mencobanya," kata Andrew
Raisa mengangguk untuk meyakinkannya sebelum melakukan percobaan.
Andrew pun memejamkan matanya mengendalikan pikirannya untuk mengontrol pergerakan sayapnya.
"Perlahan saja dan pikirkan dengan hati-hati," tutur Raisa
Sayap yang sudah terbentang itu mulai bergerak mengepak-ngepak bersiap untuk terbang. Lalu, saat Andrew berpikir untuk terbang, maka tubuhnya pun mulai mengudara~
"Aku berhasil! Aku bisa terbang," girang Andrew
"Hati-hatilah saat kau sedang ada di atas sana," pesan Raisa
Andrew terlihat gembira dengan tertawa lepas, lalu ia pun mencoba terbang lebih tinggi~
"Apa kau semudah itu membagi sihirmu seperti itu? Apa itu tidak menguras tenaga sihirmu?" tanya Aqila
"Dia bebas menggunakan sihirku untuk terbang jika itu keinginannya, tenagaku masih sangat penuh. Biarkan dia merasa bahagia sementara waktu ini," jawab Raisa
"Apa itu caramu untuk neminjamkan orang sayap sihir seperti milikmu?" tanya Rumi
"Itu hanya salah satu cara termudah dan yang tidak membebani kedua pihak yang menyalurkan dan yang disalurkan sihir milikku," jawab Raisa
"Kenapa? Ada yang ingin mencobanya juga? Apa itu kau, Rumi?" Raisa lanjut bertanya.
"Ya. Aku ingin mencobanya sekali ini saja," jawab Rumi
Raisa terkejut! Ia tidak menyangka Rumi juga menginginkan untuk mencoba terbang. Sebelumnya ia hanya iseng bertanya.
Aqila dan Morgan pun ikut terkejut dan bingung dengan keinginan Rumi kali ini.
"Kau yakin?" tanya Raisa
"Ya," jawab Rumi sambil mengangguk pelan.
Rumi pun mengulurkan tangannya bersiap untuk berjabatan tangan dengan Raisa sebagai syarat sebelum memakai sayap sihir milik Raisa.
Raisa tak lagi berpikir panjang untuk memenuhi keinginan pacarnya itu. Ia pun menyambut dan menjabat tangan Rumi, lalu juga tak lupa menyentuh dahi kekasih tampannya~
Sriiingg~~
Cahaya yang sama dengan sebelumnya pun muncul dengan menyilaukan mata.
Dengan ajaib sepasang sayap muncul di balik punggung Rumi.
"Selamat atas terwujudnya keinginanmu. Gunakan kesempatan yang datang sementara waktu ini. Selamat menikmati waktumu untuk terbang dengan sayap barumu," ucap Raisa sambil tersenyum kecil.
Raisa mewujudkan keinginan kekasihnya walau merasa heran tanpa menanyakan alasan khusus Rumi ingin mencoba sayap sihirnya untuk terbang.
"Terima kasih," ucap Rumi
Rumi pun mencoba menggerakkan sayapnya perlahan-lahan.
"Apa kau juga ingin mencoba terbang, Aqila? Selagi Raisa menawarkan membagi sihirnya," ujar Morgan
"Aku tidak mau," jawab Aqila menolak dengan cepat.
"Bukankah kau ingin mencobanya, Rumi? Tunggu apa lagi? Cobalah untuk terbang," ujar Morgan
Rumi mengangguk mantap. Tak ada keraguan pada wajahnya. Dan saat ia merasa sudah bisa mengontrol gerakan sayapnya, Rumi pun mulai beraksi!~
Rumi mengepakkan sayapnya bersiap untuk terbang. Tepat sebelum terbang mengudara, Rumi menarik tubuh Raisa dan menggendongnya (ala bride style) ke dalam pelukannya. Lalu, ia pun terbang sambil membawa Raisa dalam pelukannya~
KYAAA!!~~
Raisa tak menyangka Rumi akan membawanya terbang dalam percobaan pertamanya. Ia pun berteriak begitu saja!
"Sudah kubilang, aku malas untuk terbang. Kenapa kau membawaku terbang bersamamu, Rumi?" tanya Raisa
"Apa kau takut karena aku baru pertama kali mencoba terbang? Tenang saja, aku takkan melepaskanmu," ujar Rumi balik bertanya.
"Bukan itu. Aku tahu, kau takkan melepasku. Lagi pula, ini sihir milikku, mudah untukku menggunakan sihir yang sama atau mengontrolnya," jawab Raisa
Raisa memang bilang seperti itu, tapi ia mengeratkan pelukannya pada leher Rumi dan mendekapnya dengan erat. Saat itu, Rumi tahu bahwa Raisa merasa kedinginan dan itulah sebabnya Raisa enggan untuk terbang.
Rumi pun ikut mengeratkan pelukannya pada Raisa~
"Aku ada di sini, Raisa, dan selalu bersamamu," kata Rumi
"Aku tahu itu. Makanya, aku selalu merasa tenang saat bersamamu. Karena kau selalu ada untukku," balas Raisa
Raisa melonggarkan pelukannya hntuk menatap Rumi tanpa melepasnya.
Sensasi berbeda saat saling bertatapan dalam kondisi terbang dan berada di udara bebas~
Rumi membalas tatapan Raisa dengan sangat lekat. Rumi pun menyatukan dahinya pada dahi milik Raisa sampai saling bersentuhan...
Dan . . .
•
•
•
CHU~
.
•
__ADS_1
Bersambung...