
"Raisa, katakan padaku ... apa Kak Logan tadi mengganggumu?" tanya Rumi
Raisa langsung menggelengkan kepala.
"Kau jangan takut pada Kak Logan. Kalau dia macam-macam, Ayah yang akan memberinya hukuman," ujar Rumi
"Ayah tidak pernah menghukumku. Aku tidak pernah buat kesalahan," kata Logan
"Tuan Logan adalah seorang kakak yang baik," ungkap Raisa sambil tersenyum penuh arti.
"Raisa, bagaimana kabarmu selama ini?" tanya Tuan Rommy
"Aku selalu baik, Tuan," jawab Raisa
"Ayah ... " Tuan Rommy ingin Raisa memanggilnya dengan sebutan seperti itu.
"Paman ... " Raisa hanya bisa memutuskan untuk memanggil Tuan Rommy dengan sebutan seperti ini.
"Kau keras kepala sekali," kata Tuan Rommy
Raisa hanya bisa tersenyum kecil.
"Kalau begitu, kau jangan panggil aku dengan sebutan Bibi. Aku tidak ingin jadi setara dengan Tuan Rommy," ujar Nona Rina
"Kau tetap ... Bibi. Aku seperti Aqila yang memanggilmu dengan sebutan Bibi," kata Raisa
"Tapi-"
"Nona atau Bibi? Lebih baik kupanggil Bibi saja supaya lebih terdengar akrab," ujar Raisa
"Kau memang keras kepala," kata Nona Rina
Lagi-lagi Raisa hanya bisa tersenyum tipis.
Raisa seperti tamu yang sangat diistimewakan.
Logan melihat Rumi bersikap sangat perhatian dan selalu memperhatikan Raisa. Menyadari hal itu, tiba-tiba saja Logan memiliki ide cemerlang.
"Kalau kau memanggil Ayah dengan sebutan Paman, kau jangan panggil aku Tuan. Panggil saja aku dengan sebutan Kakak seperti Rumi," ujar Logan
Raisa pun mengangguk mengerti.
Logan yang duduk di sisi lain di samping Raisa langsung menarik gadis cantik itu dan merangkul bahunya dengan akrab. Logan memulai aksinya dari rencananya untuk memanas-manasi Rumi.
"Jadi, sudah berapa lama kau mengenal Rumi?" tanya Logan
"Sejak pertemuan pertama kami hingga sekarang berarti sudah sekitar 6 tahun," jawab Raisa
Melihat Logan merangkul bahu Raisa dengan akrab membuat Rumi mulai memanas. Bahkan Raisa tidak menolak dan hanya membiarkannya.
"Kalian berdua sudah kenal selama itu, tapi hubungan kalian berdua masih belum ada kemajuan? Apa kau merasa Rumi tidak pantas? Kalau begitu, apa kau mau mempertimbangkan aku, Raisa?" tanya Logan sengaja memanas-manasi Rumi.
"Kak Logan, jangan seperti itu. Jangan membuat hubunganmu dengan Rumi jadi buruk karena aku," kata Raisa
"Raisa, kenapa kau memanggilnya dengan sebutan Kakak? Bukankah tadi kau masih memanggilnya dengan sebutan Tuan?" tanya Rumi
"Aku hanya msngikutimu memanggilnya dengan sebutan Kakak. Kan, aku juga ingin dekat dengan keluargamu," jawab Raisa
"Kalau begitu, panggil Ayah juga sama sepertiku," ujar Rumi
"Tidak bisa. Itu berbeda. Di duniaku pun aku memanggil kakak dari temanku dengan sebutan kakak, tapi untuk ayahnya kupanggil dengan sebutan Om alias Paman. Seperti ini sudah benar," jelas Raisa
"Panggil aku dengan sebutan lain juga tidak apa. Aku masih ingin kau untuk mempertimbangkan aku, Raisa. Mungkin kau bisa memanggiku dengan sebutan ... Sayang," ucap Logan
"Kak, jangan bertindak lebih dari ini. Kau jangan macam-macam!" tegas Rumi yang mulai meradang.
"Memangnya kenapa? Bukankah aku jauh lebih baik darimu? Iya, kan, Raisa?" tanya Logan
"Mungkin ... aku bisa mempertimbangkan Kak Logan. Asalkan Kakak bisa bersikap baik dan lembut," kata Raisa sambil tersenyum manis.
Raisa tahu Logan sedang berusaha memanas-manasi Rumi. Raisa pun memilih untuk ikut dalam permainannya karena ingin tahu sejauh mana Rumi akan bereaksi.
__ADS_1
"Tentu saja. Bagaimana kriteria lelaki idamanmu? Aku bisa sesuaikan diri dengan kesukaanmu dan akan jauh lebih baik dari pada Rumi," ujar Logan
"Raisa, kau jangan ikut-ikutan Kakakku. Dia hanya main-main," tegur Rumi
"Kenapa tidak? Kak Logan lebih dewasa dan sepertinya akan lebih peka dari pada dirimu, Rumi," ujar Raisa
"Tentu saja. Dan aku tidak sedang main-main," kata Logan
"Tidak mungkin. Kau bilang kau suka-" Rumi tidak sanggup melanjutkan ucapannya.
Namun, mulai terdengar suara desis ular yang marah. Dari tubuh Rumi mulai mengeluarkan aura dari tenaga sihir cadangannya. Pertanda Rumi sedang marah dan amarahnya akan segera meledak.
"Hoho. Apa kau marah, Rumi? Kau ingin menunjukkan jati dirimu? Kau jangan lupa, yang kau miliki aku juga punya. Aku juga bisa melawanmu," ujar Logan
Logan dan Rumi sama-sama manusia yang diciptakan oleh Tuan Rommy. Meski pun karakteristik keduanya berbeda, mereka berdua masih punya beberapa kesamaan seperti pada beberapa jenis sihir. Salah satunya adalah sama-sama pengguna sihir ular yang khas seperti orang yang telah menciptakan mereka berdua, yaitu Tuan Rommy.
Melihat Rumi yang mulai tidak bisa menahan amarahnya, Raisa langsung meraih tangannya untuk digenggam.
"Tenangkan dirimu, Rumi. Aku hanya bercanda. Tadi itu bukan sungguhan," ucap Raisa
Raisa pun melepas tangan Logan yang merangkul bahunya. Melihat itu, amarah Rumi pun langsung mereda.
"Sudah cukup, Kak. Jangan bercanda lagi," kata Raisa yang menghentikan permainannya bersama Logan.
Rumi pun langsung menarik Raiaa ke dalam dekapannya. Raisa cukup terkejut. Namun, ia tidak bisa berbuat apa-apa atau menolak demi untuk meredakan amarah Rumi.
"Rumi, jangan seperti ini. Lepaskan aku, ya," pinta Raisa akhirnya membujuk Rumi untuk melepaskannya karena merasa malu.
Bagaimana tidak merasa malu? Di sana selain Logan, masih ada Nona Rina dan Tuan Rommy yang melihatnya berada di dalam pelukan Rumi.
Rumi menatap tajam ke arah Logan.
"Kuperingatkan kau, Kak. Jangan kau coba-coba berpikir ingin merebut Raisa dariku. Raisa itu lebih suka lelaki yang lebih muda bukan yang lebih dewasa sepertimu. Ucapannya tadi hanya karena dia ingin mengujiku," ucap Rumi
"Kapan aku pernah bicara seperti itu? Kau jangan mengada-ada, Rumi," ujar Raisa yang jujur saja merasa semakin malu karena ucapan Rumi.
Raisa tidak pernah mengatakan hal seperti itu, tapi sepertinya opini yang Rumi ucapkan memang benar. Namun, Raisa tidak sembarangan menyukai lelaki yang lebih muda dari pada dirinya. Ia menyukai lelaki yang lebih muda hanya karena itu adalah Rumi dan bukan orang lain.
"Kau sepertinya salah paham, Rumi. Raisa memang tidak suka lelaki yang lebih dewasa, tapi dia suka lelaki yang bersikap dewasa. Tidak sepertimu yang masih saja bersikap kekanak-kanakan. Berhati-hatilah agar tidak ada orang yang merebut Raisa darimu," ujar Logan
"Sudah, hentikan. Kau juga jangan mengatakan hal tentang diriku secara sembarangan lagi, Rumi. Atau setelah ini aku yang akan marah sungguhan padamu," ucap Raisa
"Baiklah. Takkan kuulangi lagi," patuh Rumi
"Sekarang ... lepaskan aku," pinta Raisa
Rumi mengangguk kecil. Ia langsung menuruti pinta Raisa untuk melepaskan gadis cantik itu dari dekapannya. Namun, Rumi beralih menggenggam tangan Raisa dengan erat seolah tak ingin melepaskannya. Rumi bahkan juga meletakkan tangan Raisa yang sedang digenggamnya di atas pangkuannya. Raisa tidak menolak atau melarangnya.
"Sudah kubilang, kami hanya bercanda. Jangan hanya karena ini, kau jadi bertengkar dengan kakakmu. Itu tidak baik," ucap Raisa
"Baiklah. Akan kuusahakan dan kuingat ucapanmu," kata Rumi
Semua yang ada di sana diam-diam mengagumi Raisa. Bagaimana tidak? Raisa berhasil meluluhkan hati Rumi yang terkesan dingin dan keras tanpa menimbulkan perpecahan atau kekerasan. Rumi bahkan menuruti ucapan Raisa tanpa ada penolakan atau pun merasa keberatan. Berkat Raisa, kini Rumi seperti orang yang sangat berbeda.
"Sungguh mengesankan. Aku tidak tahan lagi menyaksikan drama romantis ini. Aku akan pergi ke kamarku," ujar Nona Rina yang langsung bangkit dan berlalu pergi dari sana.
"Aku menyaksikan sesuatu yang tidak disangka-sangka," kata Tuan Rommy
"Raisa, aku ingin bicara denganmu. Berdua saja. Sepertinya harus lebih dulu menjauhkanmu dari dua lelaki yang ada di sini. Ikuti aku," sambung Tuan Rommy
Raisa mengangguk. Tuan Rommy bangkit dan berlalu lebih dulu dan meminta Raisa ubtuk mengikutinya.
Raisa pun menepuk-nepuk tangan Rumi yang menggenggam tangannya untuk menyuruh lelaki tampan itu percaya padanya. Lalu, Raisa pun melepaskan tangan Rumi dari tangannya.
"Aku pergi dulu sebentar. Kau berbaikanlah dengan kakakmu. Aku tidak ingin sampai ada yang namanya pertengkaran saudara," ucap Raisa
"Baiklah. Aku akan segera menyusulmu nanti," kata Rumi
Raisa pun bangkit dan segera mengikuti langkah Tuan Rommy sebelum sosoknya menghilang.
Tuan Rommy membawa Raisa ke ruangan favoritnya, yaitu laboratorium pemeriksaan. Di sana tempat ia sering bicara dengan Rumi. Tempat itu sudah seperti tempat kekuasaannya.
__ADS_1
Setelah ditinggal Raisa dan berkata akan segera menyusulnya, Rumi hendak bangkit. Namun, Logan langsung menahannya.
"Kau mau ke mana, Rumi? Ayah pasti ingin bicara berdua dengan Raisa lebih lama. Berilah mereka berdua waktu untuk bicara," ujar Logan
"Lagi pula, bukankah kau masih punya urusan denganku. Kudengar dengan jelas Raisa memintamu agar berbaikan denganku. Atau sifat patuhmu itu hanya ditunjukkan jika hanya ada Raisa bersamamu. Itu namanya kau mengingkari perkataanmu sendiri," sambung Logan
"Kau bicara seperti ini, tapi kau sendiri sepertinya tidak punya niat untuk berbaikan denganku, Kak," kata Rumi
"Sifat dan cara bicaraku memang seperti ini. Kau seperti tidak mengenalku saja. Lagi pula apa kau tidak butuh atau ingin nasehat atau petunjuk dariku untuk hubunganmu dengan Raisa?" tanya Logan
"Memangnya kau tahu apa tentang hubungan lelaki dan perempuan?" tanya balik Rumi
"Setidaknya lebih banyak dari pada dirimu yang dulunya hanya peduli pada teman lelakimu yang kau anggap bagai matahari itu. Ayah sering memberiku tugas ke luar ke berbagai penjuru tempat. Pengalamanku jauh lebih banyak dari pada dirimu. Aku bahkan pernah beberapa kali memiliki hubungan dengan perempuan di luar. Hanya saja aku tidak mengungkapkannya. Dan bukan itu yang terpenting sekarang," jawab Logan
"Seberapa jauh dan banyak yang kau tahu?" tanya Rumi
"Profesi Raisa di dunianya itu artis, kan? Kau harus waspada. Raisa pasti di kelilingi oleh artis tampan. Meski dia mencintaimu, dia juga perempuan normal. Akan sulit baginya juga untuk menahan diri dari keindahan yang disuguhkan padanya. Ini juga akan sulit untukmu," ujar Logan
"Soal itu aku juga sudah mengerti. Dari mana kau tahu Raisa seorang artis?" tanya Rumi
"Aku mengobrol cukup banyak dengan Raisa saat kau menemui Ayah tadi," jawab Logan
"Sekarang, coba kau ceritakan padaku tentang hubunganmu dengan Raisa. Mungkin aku bisa memberimu sedikit saran," sambung Logan
Rumi pun menceritakan dengan jelas, padat, dan singkat secara spesifik tentang hubungannya dengan Raisa yang telah dijalani dari awal hingga kini pada Logan. Logan pun mendengarkannya dengan seksama.
"Begitu rupanya. Dari yang kudengar, kalian berdua memang saling mencintai. Ternyata kisah cintamu akan jadi rumit seperti ini. Jika saja, kalian berdua ditakdirkan tinggal dan berada di dunia yang sama, tapi inilah cobaan untuk kalian berdua yang harus dilewati. Semua tergantung takdir yang menentukan ... bisakah kau dan Raisa bersatu dan berakhir bersama," ujar Logan
"Sekarang tinggal mencari solusi yang tepat untuk kalian berdua," sambung Logan
"Sudahlah. Bicaramu terlalu berberlit-belit, Kak. Kau pasti tidak tahu apa-apa tentang solusi untuk hubunganku dengan Raisa. Bicara saja memang mudah," ucap Rumi
"Aku tidak akan menunggumu berpikir lagi. Aku akan menyusul Raisa dan Ayah," sambung Rumi
Rumi pun bangkit berdiri dan langsung beranjak pergi. Setidaknya ia sudah bercerita banyak pada Logan. Itu sudah cukup membuatnya lega dari beban di dalam hatinya.
"Aduh ... anak itu. Masih tetap saja tidak sabar dan keras kepala," gumam Logan
"Padahal dulu kau punya banyak keraguan dan pertimbangan. Sekarang kau sudah bisa memilih gadis untuk kau cintai dan ingin selalu hidup berdampingan bersamanya. Hanya saja jalanmu masih panjang. Rumi, kau sudah jadi lelaki dewasa," batin Logan
Logan juga bukannya tidak punya solusi. Hanya saja untuk hal rumit seperti itu, solusinya pun tidak akan mudah. Harus lebih dulu melalui banyak pertimbangan dan berdiskusi untuk bisa mencapai keputusan dan kepuasan bersama.
Logan pun tersenyum saat memikirkan solusi tersebut.
"Raisa, kau sudah membuat Rumi melewati banyak hal. Termasuk juga membuat dia merasakan sakit hati," ucap Tuan Rommy
"Maafkan aku, Paman," kata Raisa
"Alu mengatakan hal seperti ini bukan untuk menyalahkanmu, Raisa. Semua itu bagus untuk menjadi pengalaman dan Rumi pun bisa semakin dewasa setelah melewati banyak hal itu. Aku hanya bersyukur bahwa Rumi kuat dan bisa bertahan dari semua hal yang pernah dia lewati sampai sekarang ini," ungkap Tuan Rommy
"Aku juga sama. Aku merasa bersyukur dan sangat beruntung bisa bertemu Rumi yang selalu bersedia untuk terus berada di sisiku. Dia sangat memahamiku dan sudah sering kali memaklumi diriku," ucap Raisa
"Hanya saja harus kukatakan semua hal itu bisa membuat kondisinya menjadi buruk, baik secara fisik atau pun mental. Aku berharap kau bisa terus bersamanya," ujar Tuan Rommy
"Aku juga berharap bisa seperti itu," pelan Raisa seperti sedang bergumam lirih.
Saat itulah Rumi datang menemui Raisa dan Tuan Rommy di sana.
"Apa saja yang sudah kalian berdua bicarakan?" tanya Rumi
"Belum banyak yang kami bicarakan, tapi kau sudah datang," jawab Tuan Rommy
"Lalu, apa aku mengganggu kalian berdua?" tanya Rumi lagi.
"Tentu, tidak. Kami berdua hanya mengobrol ringan saja," jawab Raisa sambil tersenyum.
"Selagi kau di sini, lakukanlah pemeriksaan. Aku ingin memastikan kondisimu," kata Tuan Rommy
.
__ADS_1
•
Bersambung ...