Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
[Season 2] 115 - Perlakuan Manis dan Istimewa.


__ADS_3

Setelah siap dan berpakaian dengan rapi serta telah melakukan ritual morning kiss, akhirnya Raisa dan Rumi beranjak ke luar dari kamar.


Keduanya berjalan berdampingan menemui yang lain. Saat menghampiri ke ruang makan, ternyata yang lain telah usai melakukan sarapan pagi bersama dan hidangan pun sudah hendak dirapikan kembali.


"Selamat pagi, semuanya!" seru Rumi mengucapkan salam hangat.


"Rumi, Raisa, kalian berdua baru bangun? Kupikir kalian akan melewatkan sarapan pagi. Aku baru saja mau membereskan makanannya," ujar Nona Rina


"Biarkan saja semuanya di sini, Bibi. Nanti aku yang akan bereskan setelah kami berdua selesai sarapan," ucap Raisa


"Tidak apa. Aku akan bereskan yang kotor. Untunglah masih ada lauk yang tersisa. Makanlah berdua dengan tenang," kata Nona Rina


Raisa dan Rumi pun duduk di kursi yang berhadapan dengan meja makan itu.


"Terima kasih, Bibi Rina," ucap Raisa


"Sama-sama," balas Nona Rina


Nona Rina pun membereskan alat makan yang telah terpakai dan membawanya kembali ke dapur dibantu oleh Raina.


"Onty Icha, Uncle Rumi, selamat pagi!" seru Farah


"Maaf, kami berdua terlambat bangun pagi," kata Raisa


"Onty Icha sama Uncle Rumi, kok tumben telat bangun? Kenapa?" tanya Farah


"Onty Icha dan Uncle Rumi kelelahan karena pesta semalam, Sayang," jawab Raisa


"Pestanya sampai malam banget, ya? Aku bobok duluan semalam, jadi gak tahu," ujar Farah


"Iya. Sampai sekarang aja Onty Icha masih lelah dan ngantuk," kata Raisa


"Perasaan pesta semalam tidak sampai terlalu malam. Pasti Raisa merasa lelah karena Runi yang mengajaknya bermain sampai terlalu malam," ucap Tuan Garry


"Main apa, Paman? Apa Onty Icha sama Uncle Rumi main kuda-kudaan lagi semalam?" tanya Farah dengan polosnya.


"Tepat sekali," jawab Tuan Garry


Menurut Tuan Garry terasa menyenangkan saat meledek Raisa karena jarang bisa melihat reaksi malu dari wanita tangguh sepertinya. Seperti saat ini. Namun, berbeda dari yang sebelumnya kali ini Raisa tidak lagi menunjukkan reaksi malu-malunya dan justru menatap tajam ke arah Tuan Garry. Membuat nyali pria itu ciut seketika. Karena memang ia selalu takut dengan orang berkemampuan hebat yang sedang marah.


"Paman Garry, tolong jangan terus meledekku. Lagi pula tidak baik didengar oleh keponakanku yang masih kecil. Tolong beri contoh yang baik-baik saja," ucap Raisa


"Jangan marah padaku, Raisa. Aku hanya bercanda untuk mencairkan suasana. Aku juga tidak ada niat memberi contoh yang buruk untuk Farah," kata Tuan Garry


"Baguslah, kalau begitu. Lalu, carilah cara mencairkan suasana yang lebih positif," ujar Raisa


"Lagi pula, aku merasa heran ... kenapa bisa semua pria itu sama saja? Bisa-bisanya bercanda sambil mengaitkan dengan hal-hal yang kurang pantas," sambung Raisa


"Tidak semua pria seperti itu, Raisa. Contohnya saja aku dan Johan," kata Logan


"Aku juga gak bicara apa-apa kok," sahut Arka


"Aku juga diam aja," sambar Raihan


"Kalau Rumi, bebas saja ingin bicara apa pun padamu jika kalian sedang berdua karena dia adalah suamimu, tapi Garry ... dia selalu saja tidak bisa memilih waktu dan tempat untuk sekadar bercanda," ujar Tuan Johan


Di sana memang telah tersisa para muda-mudi saja. Tuan Rommy, Pak Hilman, dan Bu Vani sudah lebih dulu beranjak untuk mengobrol sesama orangtua dan saling mengakrabkan diri. Sedangkan Nona Rina dan Raina sedang berada di dapur.


"Ya, memang hanya keluarga Raisa yang tidak pernah aneh-aneh. Garry ini memang orangnya bawel sekali, giliran melihat orang marah sudah langsung takut," ujar Logan


"Memang sudah jadi kebiasaannya yang sulit diubah," kata Tuan Johan


"Tapi-"


Baru saja ingin mencoba bersilat lidah dan mencari alasan, Tuan Garry sudah merasa takut dengan tatapan mata Rumi yang seperti kilat seolah sedang memberinya peringatan.


"Ternyata, kalian semua menyudutkan aku! Baiklah, aku tidak akan bicara lagi mulai sekarang!" seru Tuan Garry yang memilih pura-pura merajuk karena merasa disudutkan dan diabaikan.


"Perempuan itu emang gak bisa sama sekali diganggu kalau lagi lelah atau lapar. Bisa-bisa mengamuk. Marahnya seram dan galak banget," ungkap Arka


"Jadi, maksud kamu aku itu tukang ngamuk, pemarah, menyeramkan, dan galak banget ... gitu?" tanya seorang wanita yang suaranya sudah jelas milik istri dari pria yang baru saja bicara. Yaitu, Raina.


Raina baru saja kembali dari dapur dan mendengar perkataan sang suami.


"Sayang, maksud aku gak gitu kok ... " kata Arka yang langsung ciut seketika saat sang istri datang dan menangkap basahnya sedang bicara mengenai karakter perempuan yang juga termasuk istrinya itu.


"Gak gitu maksudnya, jadi apa maksudnya?" tanya Raina

__ADS_1


"Bukan apa-apa kok. Kamu salah dengar mungkin tadi," jawab Arka


"Jadi, maksud kamu pendengaran aku bermasalah ... gitu?" tanya Raina lagi.


"Enggak. Kok kamu malah jadi ngawur, sih ... " kata Arka


"Kamu, tuh, yang kalau ngomong tuh dijaga, jangan ngawur!" seru Raina menegur sang suami.


"Maaf, deh ... " sesal Arka


"Minta maaf aja gampang, tapi ulangi terus kesalahan yang sama," kata Raina


Arka pun seketika menjadi diam dan tidak lagi menyahuti perkataan sang istri supaya dirinya tidak semakin disalahkan karena semua kesalahannya.


"Udah, yuk, Farah ... biarin Onty Icha sama Uncle Rumi makan. Papi kamu juga, tinggalin aja dia. Kita main aja, yuk, sama Om Ehan," ujar Raina


"Yuk, kita main aja ... " ajak Raihan yang memilih untuk beranjak dari pada nanti dirinya juga ikut terseret dalam perdebatan yang memusingkan saat itu.


"Ayo ... let's go!" seru Farah


"Onty Icha, Ubcle Rumi, semuanya juga, aku main dulu bareng Om Ehan sama Mami, ya. Dadah ... " sambung Farah yang berpamitan sebelum beranjak pergi.


"Dah, Sayang ... " balas Raisa


Karena Farah melambaikan tangan, Rumi pun hanya membalas dengan lamabaian tangan pula. Farah dan Raihan pun berlalu pergi dari sana bersama Raina.


Sedangkan Raisa dan Rumi melakukan sarapan yang sempat tertunda, Arka, Logan, Tuan Garry, dan Tuan Johan pun beranjak pergi meninggalkan pasangan pengantin baru itu untuk mengobrol bersama dan saling mengakrabkan diri.


Usai sarapan berdua, Raisa pun membereskan bekas makan bersama Rumi yang siap membantunya. Setelah itu keduanya pun pergi meninggalkan dapur.


"Apa kau ingin istirahat di dalam kamar saja, Sayang?" tanya Rumi


"Tidak. Hanya terus berada di dalam kamar juga bisa membuatku merasa bosan," jawab Raisa


"Lalu, kau ingin apa?" tanya Rumi


"Kau temani aku menonton televisi saja," jawab Raisa


"Baiklah ... ayo," kata Rumi


Keduanya pun beranjak menuju ke ruang tengah dan menonton televisi berdua di sana.


Setelah berlama-lama menonton televisi berdua, Farah dan Raihan datang menghampiri Raisa dan Rumi di sana.


"Aku cari-cari sama Om Ehan, ternyata Onty Icha sama Uncle Rumi ada di sini!" seru Farah


"Ada apa sampai cari Onty Icha dan Uncle Rumi?" tanya Raisa


"Gak tahu, nih, Farah ... aku cuma antar dia aja," jawab Raihan


"Onty Icha, Uncle Rumi, kita main di luar, yuk ... dari kemarin main di dalam terus. Bosan," ajak Farah


"Onty Icha, masih lelah, Sayang. Mau duduk di sini aja sambil nonton TV. Farah mainnya sama Om Ehan dan Uncle Rumi aja, ya, Sayang. Maaf, nih ... " ujar Raisa


"Tolong, ya, Suami. Ajak keponakan main dulu," sambung Raisa yang beralih bicara dengan sang suami.


"Ya udah, deh ... gak apa. Yuk, Uncle Rumi ... " ajak Farah


"Baiklah. Kalau begitu, aku pergi main dulu," ujar Rumi


Raisa mengangguk pelan. Rumi pun mengecup kening istrinya, lalu bangkit berdiri dan beranjak pergi bersama Farah dan Raihan untuk bermain bersama ke luar dari kediaman tersebut.


Rumi merasa hal yang wajar jika hanya sekadar mengecup kening Raisa meski berada di hadapan Farah dan Raihan karena saat dulu sering bermain ke rumah orangtua Raisa dan ada Raina dan Arka di sana, dirinya sering melihat Arka mengecup kening Raina.


...


Saat kembali masuk ke dalam kediaman setelah bermain di luar, Rumi, Raihan, dan Farah kembali menghampiri Raisa di ruang tengah. Namun, ternyata wanita itu telah tertidur sambil duduk bersandar di sofa dengan keadaan televisi yang masih menyala.


Ketiganya kembali masuk ke dalam kediaman karena setelah bermain sampai siang, di luar kediaman terasa panas terik dari matahari hingga mereka bertiga memutuskan untuk menonton televisi saja bersama Raisa di ruang tengah. Namun, ternyata Raisa malah tertidur di sana.


"Onty Icha-nya bobok," kata Farah


"Iya. Sepertinya Onty Icha-nya kelelahan," ujar Raihan


Saat itu Nona Rina kebetulan lewat sana untuk menuju ke suatu tempat.


"Rumi, kasihan istrimu tidur di sini sambil duduk seperti itu. Lebih baik kau pindahkan dia supaya bisa tidur di dalam kamar," ucap Nona Rina

__ADS_1


"Baiklah," kata Rumi


"Farah, sama Om Ehan dulu menonton televisi di sini, ya. Uncle Rumi mau pindahkan Onty Icha supaya tidur di dalam kamar," sambung Rumi yang beralih bicara pada keponakan perempuan sang istri.


"Oke, Uncle Rumi!" seru Farah


Rumi pun bergerak menggendong Raisa ala bridal sytle dan membawa sang istri untuk pindah ke dalam kamar dan tidur di sana.


"Hati-hati, Kak ... " kata Raihan berpesan.


Raisa benar-benar tidur dengan sangat lelap sampai tidak sadar kalau dirinya digendong dan dipindahkan ke dalam kamar oleh Rumi. Wanita itu bahkan tertidur hingga waktu sudah hampir malam dan kembali merasa segar saat malam hari.


...


Saat Rumi menghampiri Raisa ke dalam kamar, wanita itu sudah tidak ada di atas ranjang. Ranjang pun telah dibereskan hingga rapi. Namun, terdengar suara gemericik air di dalam kamar mandi yang ada di dalam kamar tersebut. Mungkin Raisa sedang berada di dalam kamar mandi, seperti itulah dugaan Rumi.


Benar saja, setelah menunggu beberapa saat Raisa ke luar dari kamar mandi sudah dengan pakaian yang telah berganti baru dan handuk kecil yang dikalungkan pada lehernya yang digunakan untuk mengeringkan rambutnya yang basah usai keramas saat mandi.


"Rumi, apa kau mencariku?" tanya Raisa


Rumi hanya tersenyum menanggapi pertanyaan dari sang istri.


"Sini, biar aku bantu keringkan dan sisir rambutmu," ujar Rumi


"Duduklah di kursi ini," sambung Rumi sambil menunjuk kursi kecil yang ada di depan meja rias di dalam kamar tersebut.


"Baiklah," kata Raisa


Raisa pun menghampiri sang suami dan duduk di kursi kecil yang ada di depan meja rias, sedangkan Rumi berdiri di belakang Raisa yang sedang duduk. Keduanya menatap ke arah cermin yang memantulkan bayangan wanita cantik dan pria tampan yang terlihat begitu serasi itu.


Rumi pun menyingkirkan handuk kecil yang dikalungkan pada leher istrinya dan mulai mengeringkan rambut sang istri yang basah dengan sihir elemen udara yang dimiliki setelah bersatu dengan Naga Suci. Lalu, pria itu mengambil sebuah sisir untuk menyisiri rambut hitam panjang milik istri tercinta.


KETERANGAN: (Yuk, kita bahas tentang kemampuan tokoh utama.)


Rumi adalah pengguna kemampuan sihir dengan elemen sihir petir dan udara juga beberapa teknik sihir pengubah wujud dasar, pelindung, dan lingkaran sihir. Namun, sebenarnya ia hanya bisa menggunakan kemampuan sihir dengan merapal mantra.


Lalu, Rumi mendapat sedikit kemudahan setelah bersatu dengan Naga Suci yang merasuk ke dalam dirinya. Naga Suci adalah pemilik sihir suci dengan elemen api, petir, udara, dan air serta sedikit teknik sihir elemen es. Naga Suci dapat memanggil reaksi alam, seperti menurunkan hujan, menyambarkan petir, serta angin topan dan badai.


Setelah bersatu dengan Naga Suci, Rumi bisa menggunakan sihir tanpa merapal mantra pada elemen sihir tertentu yang telah disebutkan di atas.


Sedangkan, Raisa adalah pengguna sihir dengan elemen api, petir, udara, air, dan tanah. Dan sihir lainnya seperti es, darah, lava, penumbuh tanaman, dan logam yang kecuali platinum, serta juga api suci biru surgawi. Serta beberapa teknik sihir ilusi, pengubah bentuk, pelindung, pendeteksi, penyembuh, dan penyimpanan. Ia dapat menggunakan kemampuan sihir dengan bebas tanpa merapal mantra.


Raisa juga telah bersatu dengan Phoenix dan Penguasa Sungai Suci yang merasuk ke dalam dirinya. Phoenix adalah pemilik sihir suci api abadi yang bisa mengubah api abadi sucinya yang berwarna merah menyala menjadi api suci biru surgawi. Sedangkan Penguasa Sungai Suci adalah pemilik sihir suci dengan elemen air dan es. (Pembahasan selesai sampai sini, ya.)


Rumi menyisiri rambut Raisa sambil sesekali membelainya dengan sangat lembut. Hingga akhirnya pria itu selesai menyisiri rambut sang istri. Raisa merasa sangat senang mendapat perlakuan manis dan istimewa seperti ini oleh sang suami.


"Sepertinya mulai sekarang aku harus belajar menata rambut wanita agar bisa membantu menata rambutmu yang panjang dan indah ini," ucap Rumi


Raisa terkekeh pelan.


"Silakan saja. Aku juga siap membiarkan rambutku ini menjadi subjek uji coba untukmu. Toh, nantinya yang merasa senang karena rambutnya ditata menjadi lebih indah juga aku," ujar Raisa


Rumi tersenyum saat melihat istrinya merasa senang.


"Sudah selesai, Sayang ... " kata Rumi


Raisa pun bangkit berdiri dan berbalik menghadap ke arah Rumi yang awalnya berada dan berdiri dibelakangnya. Lalu, wanita itu mengecup singkat pipi sebelah kiri suaminya.


"Terima kasih sudah membantu mengeringkan dan menyisiri rambutku. Pasti yang memindahkan aku saat tidur di sofa ruang tengah ke dalam kamar adalah dirimu. Jadi, terima kasih sekali lagi," ucap Raisa


"Sama-sama," balas Rumi sambil tersenyum senang.


"Kau mandilah dulu. Lalu, aku akan ke luar. Mungkin saat ini Bibi Rina sedang memasak untuk makan malam di dapur dan aku akan membantunya," ujar Raisa


"Baiklah," kata Rumi


Raisa pun kembali mengecup singkat sang suami. Namun, kali ini bukan pada pipinya, melainkan pada bibirnya.


"Aku ke luar dulu, ya, Sayang ... " kata Raisa sambil tersenyum manis.


Rumi mengangguk kecil. Pria itu merasa sangat senang karena sang istri yang sangat pengertian padanya dengan memberikan kecupan manis tanpa harus diminta lebih dulu, terlebih lagi itu dua kali. Satu di pipi dan satu pada bibir.


Raisa pun melangkahkan kakinya pergi ke luar dari kamar. Sedangkan Rumi beranjak masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamar tersebut untuk segera mandi.


.


__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2