
Keesokan harinya...
Raisa menggendong Mika ke luar dari rumahnya dan langsung menuju rumah Rumi. Namun, saat dilihat pintu rumah Rumi tertutup sangat rapat bahkan seperti sedang ditinggalkan.
"Mika, sepertinya Rumi sedang pergi. Bagaimana kalau kita menunggunya dulu di sini sambil bermain?" ujar Raisa bertanya.
"Bermain apa? Apa aku boleh ikut?" tanya Rumi yang baru saja kembali pulang ke rumahnya.
"Rumi, kau sudah kembali? Habis dari mana?" tanya balik Raisa
"Memeriksa panggilan misi. Hari ini aku kosong, makanya aku langsung kembali. Kudengar kalian ingin bermain?" jawab Rumi berakhir bertanya.
"Tidak juga. Kami hanya ingin mengisi kekesongan waktu sambil menunggumu. Oh, ya! Aku mengambil foto bersama Mika semalam dan tadi sebelum ke luar rumah. Lihatlah," ungkap Raisa menjawab.
Raisa pun mengeluarkan ponsel miliknya untuk memperlihatkan hasil jepretannya bersama Mika pada Rumi.
"Kalian lucu sekali! Fotonya bagus! Sayangnya, tidak ada aku di dalam fotonya," kata Rumi
"Kalau begitu, kita ambil foto bersama lagi saja. Bertiga," ujar Raisa
Raisa pun menyalakan kamera ponselnya dan mulai berfoto bersama Rumi dan Mika.
"Sepertinya sudah cukup. Lalu, Mika juga sudah lapar. Aku ingin memberinya makan, tapi tidak punya makanan kucing. Di rumahmu pasti ada makanan kucing, kan? Jadi, biarkan Mika masuk," ujar Raisa
"Ya. Makanan kucing sudah kusiapkan di dalam, jaga-jaga jika Mika pulang lebih awal pagi ini sendirian. Tapi, ternyata dia terus menemani bersamamu, ya. Kucing pintar! Masuklah untuk makan, Mika," ucap Rumi
Mika pun melompat turun dari gendongan Raisa dan berlalu masuk ke dalam rumah Rumi untuk makan~
"Apa kita harus menunggu Mika sampai selesai makan?" tanya Raisa
"Tidak perlu. Biasanya jika sudah makan dia akan mencari teman-temannya untuk bermain," jawab Rumi
"Begitu, ya. Dia sangat bebas, rupanya. Lalu, kita berdua bagaimana? Mencari teman-teman yang lain juga dan bermain seperti yang Mika lakukan?" ujar Raisa bertanya.
"Bagaimana kalau kita bermain berdua saja?" saran Rumi
"Begitukah? Bolehkah? Kalau begitu, maukah kau menemaniku jalan-jalan? Kita berdua saja, bagaimana?" tanya Raisa
"Kukira kaulah yang tidak mau hanya berdua denganku. Kalau aku, sih, sangat mau jalan-jalan berdua denganmu. Ayo," jawab Rumi sangat bersemangat.
Raisa langsung menggandeng tangan Rumi dengan sangat antusias~
"Aku belum tahu mau ke mana karena belum hafal tempat-tempat di sini. Kau ada saran?" bingung Raisa bertanya.
"Kita jalan dulu saja. Semua tempat yang didatangi bersamamu pasti akan terlihat bagus," kata Rumi
"Baiklah. Kali ini aku hanya akan mengikutimu! Kaulah kaptennya," patuh Raisa
Keduanya pun mulai jalan bersama sambil bergandeng mesra~
Keduanya tampak bahagia menikmati waktu bersama. Hanya berdua.
Bersama Rumi, seorang kekasih sekaligus pemandu jalan (hatinya *ciie~), Raisa menikmati waktu berwisata dengan mengelilingi Desa Daun.
Banyak tempat yang mereka singgahi berdua.
Taman, hutan lindung, tempat makan romantis, sampai tempat kencan yang populer di kalangan pasangan muda.
Tak terasa mereka menghabiskan waktu seharian berdua. Di sore hari, keduanya juga menemukan daerah yang sedang merayakan festival di dekat desa. Raisa dan Rumi pun menonton pertunjukan sirkus di sana.
Di perjalanan pulang, keduanya bertemu Aqila dan Chilla.
"Ho~ Raisa, Rumi, kalian dari mana saja tidak kelihatan seharian? Habis berkencan?" tanya Chilla
"Ya. Kami baru saja kembali," jawab Rumi
Rumi mengakuinya semudah itu membuat Raisa merona malu.
Aqila dan Chilla sama-sama menyaksikan kemesraan antara Raisa dan Rumi. Kedua tangan pasangan itu sudah tidak lagi bergandengan, melainkan saling menggenggam erat satu sama lain~
"Seharian, dari tadi pagi?" tanya Aqila yang heran tidak menyangka.
"Benar sekali," jujur Rumi
"Tidak sia-sia aku memberi Raisa camilan favorit itu! Dia benar-benar telah memanfaatkan camilan itu untuk menjadi dekat dengan Rumi seperti yang kuduga dan harapkan," batin Chilla berbangga diri.
"Hubungan kalian berdua baik sekali," puji Aqila
"Ya, terima kasih. Semoga kau dan Morgan juga begitu, Aqila. Sedang apa kau bersama Chilla di sini?" ujar Raisa bertanya.
"Kami menghabiskan waktu sesama gadis, seperti kita kemarin, Raisa. Ya, sudah ... kami tidak mengganggu kalian kencan lagi. Pergi dulu, ya! Selamat bersenang-senang, Raisa, Rumi!~" ucap Chilla yang kemudian menarik Aqila untuk pergi menjauh.
Kini kembali tersisa Raisa dan Rumi.
"Kali ini, kau mau ke mana lagi? Sudah mau pulang?" tanya Rumi
"Masih ada satu tempat yang ingin kudatangi. Tempat yang nyaman untuk kita bicara berdua sambil menikmati hari berakhir, seperti padang rumput desa. Kau bisa menunjukkan tempatnya padaku?" ujar Raisa bertanya.
"Tempat itu dekat. Ayo, kubawa kau ke sana," kata Rumi yang langsung memimpin jalan Raisa menuju tempat yang diinginkannya.
...
Sunyi namun terasa damai~
Semilir angin sore berhembus cukup kencang sampai mampu menerbangkan rambut dengan nakalnya~~
Tenang, bernafas dalam damai. Hamparan rumput hijau ada sejauh mata memandang~
Tempat yang sempurna untuk bicara dengan nyaman dari hati ke hati~~
Raisa menghirup nafas panjang dan menghembuskannya perlahan sampai terasa melegakan~
Tatapan matanya teduh menikmati suasana.
Sedangkan, Rumi sibuk menatap keindahan yang ada di sampingnya dengan penuh kagum~
"Kau menyukai tempat ini, Raisa?" tanya Rumi
__ADS_1
"Ya. Aku selalu ingin ke sini, tapi terus tidak sempat, baru sekarang meminta kau membawaku ke sini," jawab Raisa
Setelah asik menikmati suasana damai di tempat itu, Raisa pun merubah posisinya menghadap Rumi untuk menatapnya dengan keseriusan yang hangat dan lembut. Tak lupa dengan seuntai senyuman termanis juga ia sunggingkan.
"Tidakkah kau suka saat-saat seperti ini, Rumi? Menikmati ketenangan dan hembusan angin yang lembut. Menanti senja berakhir dan hari bergantikan malam," ujar Raisa
Mendengar kata-kata Raisa membuat Rumi ingat dengan lirik lagu yang pernah dinyanyikan untuknya. Wajah Rumi berubah murung menjadi tidak suka.
"Tidak terlalu suka. Aku teringat lagu tentang kata-katamu barusan yang pernah kau nyanyikan untukku," ungkap Rumi
"Kau masih ingat, rupanya. Senja kini berganti malam. Lalu, Perpisahan bukanlah duka. Meski harus menyisakan luka~" tutur Raisa
"Aku tidak suka itu!" tegas Rumi
"Memang kenapa?" tanya Raisa
"Seperti menyiratkan tentang hari perpisahan," jujur Rumi
Lagi-lagi, angin berhembus nakal menerbangkan rambut panjang Raisa hingga menutupi wajah cantiknya~
Raisa pun menyingkap rambut dari wajahnya.
Saat itu juga Rumi melihat senyum Raisa berubah menjadi kesenduan.
"Benar. Aku juga tidak terlalu suka," kata Raisa
Kini perasaan Rumi menjadi tidak enak setelah mendengar perkataan sekaligus saat melihat perubahan ekspresi wajah Raisa.
"Aku juga tidak suka saat mengatakan tentang perpisahan padamu, namun aku harus melakukannya," lanjut Raisa
"Apa maksudmu, Raisa?" bingung Rumi bertanya. Ia berharap dapat mendengar jawaban yang bagus dari mulut kekasihnya.
Ketenangan itu kini berubah menjadi ketegangan.
"Rumi, sepertinya hubungan kita harus berakhir sampai di sini, seperti hari ini yang telah berakhir," ucap Raisa
"Raisa, kau membuatku tidak mengerti sekaligus takut. Apa maksud ucapanmu itu? Kumohon, jangan bergurau di saat seperti ini " ujar Rumi
"Kalau orang-orang di duniaku mengatakannya seperti ini ... ayo, kita putus! Dan kali ini bukan gurauan," kata Raisa
Ketakutan yang tadinya terus ditahan dan disembunyikan kini terlihat jelas pada raut wajah Rumi.
"Kau serius? Tapi, kenapa? Aku tidak mau putus denganmu," tolak Rumi sekaligus bertanya-tanya.
"Aku serius. Kita sudahi saja," kata Raisa yang terlihat mudah, namun sebenarnya terasa berat di dada saat mengatakannya.
Rumi mencari-cari keraguan di wajah Raisa, namun yang ia temukan adalah keseriusan. Meski begitu, Raisa berusaha tetap tersenyum walau terlihat sangat miris.
"Aku tidak bisa mengerti ini, sungguh! Sebenarnya, kenapa? Apa alasannya? Apa aku sudah berbuat kesalahan? Lalu, apa salahku? Apa pun itu, tolong katakanlah. Aku akan memperbaikinya," ujar Rumi
Raisa bergeleng pelan~
"Bukan. Kau tidak melakukan kesalahan apa pun. Bukan kau yang salah, tapi aku," ungkap Raisa
"Kalau bukan karena kesalahanku, lalu kenapa? Kalau itu kau, aku tidak apa. Aku akan menerima apa pun kesalahan dan kekuranganmu, tapi jangan tinggalkan aku! Jangan katakan, kau ingin putus denganku ... " racau Rumi
"Kalau begitu, katakan alasannya! Kenapa kau bilang ini salahmu? Memangnya apa yang kau perbuat? Kau tidak pernah menyakitiku, jadi kenapa kita harus putus?" Rumi mulai histeris.
"Bukankah aku menyakiti perasaanmu dengan kata-kata yang tidak ingin kau dengar dan tidak mengerti? Rumi, aku senang dapat mengenalmu, bahagia bersamamu, tapi hubungan ini membuatku cemas. Aku tidak ingin terus merasa seperti ini," tutur Raisa
"Apa yang membuatmu cemas? Apa aku-"
"Tidak, Rumi! Dengarkan aku dulu... Kumohon!" Nada bicara Raisa mulai naik turun.
Raisa menundukkan kepalanya. Ia terisak. Saat kembali menatap Rumi, air mata mulai membasahi pipinya~
Rumi tertegun!
"Apa karena ciuman semalam?" tanya Rumi
Raisa menggeleng, ia masih belum sanggup bicara lagi.
"Apa karena kau merasa tertekan karena aku selalu ingin bersama dan dekat denganmu? Ini karena aku terlalu menggenggammu hingga kau merasa tidak bebas, maka aku akan melonggarkan genggamanku. Kau bisa bebas, aku tidak akan mengekangmu," oceh Rumi
"Kau tidak membuatku tertekan, itu berbeda dari rasa cemas yang kurasakan. Jika hubungan ini terus berlangsung, maka aku hanya akan terus menerus merasa cemas. Penyebabnya bukan ada pada dirimu, tapi ada pada diriku sendiri. Kita dari dunia yang berbeda, mau bagaimana pun juga hubungan ini tidak akan berhasil, kita tidak bisa bersatu, dari awal hubungan ini memang seharusnya tidak ada," ucap Raisa
"Aku tidak peduli! Kita masih bisa bertemu dan bersama. Tidak harus putus seperti ini," pekik Rumi
"Saat kita terpisah, aku tidak bisa melindungimu, tidak bisa ada untukmu di sisimu, membuatku terus merasa cemas," ungkap Raisa
"Kalau begitu, aku berjanji tidak akan terluka atau membahayakan diriku lagi. Kau tidak perlu melindungiku dan terbebani akan hal itu," elak Rumi
"Kau tidak mengerti! Aku ingin menjadi mataharimu! Tapi, kau sudah memiliki Morgan sebagai mataharimu! Kau tidak membutuhkan matahari lain di hidupmu, seperti aku yang berasal dari dunia lain tidak akan bisa masuk dalam hidupmu! Kita memiliki kehidupan yang berbeda di dunia yang berbeda," tutur Raisa disertai isak tangis.
"Tapi, kau sudah masuk ke dalam kehidupanku. Kau sudah mengisi hari-hariku, mengubah warna duniaku yang kelabu menjadi cerah, kau memiliki tempat di hatiku bahkan telah memenuhinya," ucap Rumi
"Di dunia ini tidak bisa memuat dua matahari sekaligus, seperti aku yang bukan masuk ke dalam kehidupanmu, tapi aku hanya singgah sebentar, lalu pergi. Akan selalu seperti itu, kita tidak bisa selalu bersama selamanya. Akan selalu ada perpisahan di antara kita, makanya sudah layaknya kita berpisah. Kita yang bisa bertemu saat dunia kita berbeda saja tidak masuk akal logika, maka hubungan kita juga sama. Saat kita harus berpisah dan pulang ke dunia masing-masing, kita selalu merasa sedih. Kita tidak bisa terus merasa seperti itu, maka hubungan kita harus berakhir," tutur Raisa dengan histeris.
Dada Raisa bergerak naik turun, terasa sesak saat terus bicara hal yang sulit baginya. Namun, ia berusaha mengontrol emosinya.
Rumi pun ikut terdiam~
"Kau hanya tidak ingin mengerti, sebenarnya aku juga tidak mengerti dan tidak tahu lagi apa yang harus kukatakan. Kecemasanku ... ketakutan terbesarku adalah saat tidak ada lagi penghubung antar dunia kita, pada akhirnya kita benar-benar harus berpisah dan hanya akan merasa tersakiti oleh perpisahan itu. Maka, sebelum itu benar-benar terjadi, hubungan ini harus diakhiri sekarang juga. Lebih baik merasa sakit hati dan berpisah sekarang saat cinta kita belum tumbuh begitu besar dari pada nanti saat cinta kita sudah tidak bisa lagi dipisahkan, karena itu akan lebih menyakitkan," jujur Raisa
Rumi mengepalkan kedua tangannya dengan sangat erat, lalu kedua tangan itu bergerak menarik Raisa ke dalam pelukannya~
Rumi mendekapnya dengan sangat erat.
"Benar katamu! Aku bukan tidak ingin mengerti, tapi tidak akan bisa mengerti ucapanmu. Harusnya aku tidak melonggarkan genggamanku, harusnya aku terus menggenggam dan mendekapmu seperti ini. Jadi, tidak ada celah untukmu merasa cemas. Kau tidak perlu merasa cemas, kita tidak akan berpisah. Tidak akan pernah," tutur Rumi
"Tidak bisa seperti itu, Rumi. Kau tidak bisa seperti ini," kata Raisa
Raisa mendorong Rumi dengan seluruh kekuatannya hingga pelukannya terlepas. Raisa menggunakan sihirnya dan terbang untuk pergi menjauh dari Rumi~
"Mungkin ini terdengar egois bagimu, tapi ini yang terbaik untuk kita berdua. Rumi, mulai sekarang kita kembali berteman saja, maka tidak akan ada lagi kecemasan di hatiku. Tidak akan ada rasa takut akan perpisahan dan kehilangan " ucap Raisa
Raisa terus pergi menjauh, Rumi pun terus berusaha meraih Raisa dengan melompat tinggi menggunakan sihirnya.
__ADS_1
"Tidak, Raisa! Jangan tinggalkan aku! Aku sangat mencintaimu!" teriak Rumi
"Aku tidak akan meninggalkanmu, aku juga sangat mencintaimu. Akan tetap, selalu, dan terus seperti itu. Aku hanya harus melakukan ini, aku hanya akan pergi sebentar. Sampai jumpa, Rumi~" ungkap Raisa sebelum menggunakan sihir transparasi dan menghilang begitu saja.
"RAISA!!~~" teriak Rumi
"Tidak peduli kau yang tidak bisa menjadi matahari seperti yang kau inginkan, atau kau yang tidak ingin menjadi bulan di tengah kegelapan. Bagiku kau adalah Bintang Hatiku! Bintang yang selalu ada dan bersinar terang. Jadi, teruslah bermimpi bersama bintang lainnya, Rumi~" Suara Raisa terdengar walau tanpa disertai sosoknya.
"Raisa, kau masih di sini, kan? Di mana kau, Raisa?! Kalau harus begini, kenapa kau mengajakku pergi bersama untuk berkencan? Bukankah ini namanya kau mempermainkan perasaanku?" tanya Rumi dalam kegelisahan dan amarah.
"Aku tidak ada niat untuk mempermainkan perasaanmu. Maafkan aku, Rumi. Jalan ini adalah pilihan yang terbaik." Lagi-lagi suara tanpa sosok itu adalah milik Raisa.
Rumi kehilangan sosok Raisa yang terbang menghilang di antara awan•••
Hilangnya sosok kekasih tercinta membuatnya seperti kehilangan arah dan jati diri.
Rumi pun mencari keberadaan Raisa ke mana pun tempat yang ia tahu. Terus mencari ke segala penjuru~
Namun, sosok cantik yang dicintainya itu tidak ketemu atau pun terlihat sama sekali.
"Diakhiri sekarang pun sudah tidak bisa lagi. Hati ini tetap takkan sanggup! Karena aku sudah terlanjut mencintaimu. Rasa cintaku padamu sudah amat sangat besar! Raisa-ku~" batin Rumi
Langit berubah menjadi gelap seperti kegelapan yang menyerang hati seorang Rumi. Hampa dan mati rasa~
Tidak menyerah sampai di sana, Rumi terus mencari kebaradaan sosok Raisa sepanjang malam.
•••
Keesokan harinya.
Setelah mengunjungi suatu tempat, Rumi bertemu Morgan dan Aqila di jalan.
"Ada apa denganmu, Rumi? Kenapa kau tergesa-gesa? Kau habis dari mana?" tanya Morgan
"Hari ini kita tidak ada misi, aku sudah memeriksanya," jawab Rumi
"Apa kalian melihat Raisa?" lanjut Rumi bertanya.
Pagi ini, Rumi lebih dulu pergi ke pusat panggilan misi untuk memeriksakannya. Setelah memastikan tidak ada panggilan misi, Rumi meneruskan mencari Raisa seperti yang dilakukannya semalaman suntuk.
"Mungkin dia masih di rumahnya," jawab Morgan
"Bukankah kau pergi bersamanya kemarin? Hari ini kau sudah rindu dan merasa kehilangannya?" tanya Aqila
"Ya, tapi dia tidak ada di rumahnya. Aku sudah ke sana pagi-pagi sekali," jawab Rumi
Aqila dan Morgan pun jadi bingung harus menanggapi seperti apa, karena keduanya belum bertemu atau melihat Raisa. Kecuali Aqila yang terakhir kali bertemu Raisa dan juga Rumi kemarin.
"Aku tidak akan menuduhmu mempermainkan perasaanku lagi, tapi bisakah kau muncul di hadapanku saat ini juga? Tidak bisa melihatmu adalah hal terberat untukku, kumohon kembalilah, Raisa ... " batin Rumi
Saat itu, Amy, Wanda, dan Sandra muncul di sana~
"Kau sedang mencari Raisa? Tadi aku bertemu dengannya yang sedang olahraga dan latihan pagi," ujar Amy
"Kau tahu Raisa ada di mana? Apa dia mengatakan sesuatu, tentang diriku misalnya?" tanya Rumi
"Raisa ada di sekitar rumah sakit tadi, tapi sekarang tidak tahu lagi. Dia hanya sempat mengatakan, setelah latihannya selesai ingin pergi jalan-jalan sendiri karena melihat tempat yang menarik kemarin, namun tempat itu terlewat dan tidak sempat ia datangi," ungkap Amy
"Kalau begitu, terima kasih banyak," ucap Rumi yang langsung melesat pergi.
"Ada apa dengan Rumi kali ini?" tanya Sandra
"Tadi aku juga sempat bertanya seperti itu padanya, tapi aku juga tidak tahu. Apa kau tahu sesuatu, Aqila? Katanya, kau bertemu dengannya dan Raisa kemarin?" ujar Morgan bertanya.
"Yang kutahu, Rumi pergi bersama Raisa seharian kemarin. Hari ini dia sudah sangat nerindukan Raisa sampai mencari-cari sebegitunya," ycap Aqila
"Kalau sudah cinta, sekalinya bertemu tidak ingin pisah. Ya, seperti itulah," kata Wanda
Rumi langsung pergi begitu saja tanpa memberi tahu tentang yang telah terjadi kemarin dan alasannya mencari Raisa, karena dirinya pun masih belum terima dengan apa yang terjadi kemarin~
Semakin dicari, semakin Rumi merasa kehilangan Raisa. Meski pun harus bepergian ke tempat yang ia kunjungi bersama Raisa kemarin seperti petunjuk yang berikan melalui Amy.
Namun, semua tempat itu tidak menunjukkan adanya tanda-tanda keberadaan Raisa sedikit pun dan sekecil apa pun~
Sekali lagi, Rumi merasa putus asa!
"Setelah mengatakan semua hal kemarin, sepertinya Raisa sengaja pergi meninggalkanku. Rasanya sedikit aneh jika dia meninggalkan petunjuk tentang keberadaannya pada Amy. Kecuali ia ingin aku semakin bingung dan kehilangan keberadaannya karena tahu aku pasti mencarinya," gumam Rumi
"Setelah dicari ke mana-mana, tetap tidak ketemu juga. Raisa, sebenarnya kau ada di mana? Kenapa harus bersembunyi dariku seperti ini? Apa kau benar-benar ingin meninggalkanku seperti ini?" batin Rumi
...
Di suatu tempat, Raisa bersembunyi dengan hati dipenuhi dengan rasa sesak dan merasa bersalah.
Raisa sudah bersembunyi di sana semalaman. Saat ini, ia pun menggunakan sihirnya untuk mengirim transmisi suara pada seseorang~
"Sanari, ini aku, Raisa... Aku menggunakan sihir transmisi suara untuk bicara padamu. Nari, maaf... Aku telah membobol rumahmu di Desa Daun semalam. Aku membutuhkan tempat untuk bersembunyi sementara. Aku baik-baik saja, hanya butuh menghilang sebentar. Kau tidak perlu khawatirkan aku atau rumahmu, tolong jangan tanya mengapa. Aku butuh keheningan sementara waktu," pesan Raisa melalui sihir transmisi suara.
"Baik, aku mengerti. Pakai saja rumahku semaumu dan jaga dirimu baik-baik, Raisa. Aku hanya ingin mengatakan itu," balas Sanari
"Terima kasih!" ucap Raisa sebelum benar-benar memutus sihir transmisi suaranya.
Sanari adalah salah satu teman di Desa Daun yang bekerja pada penelitian alat sihir modern di perbatasan desa. Ia terus bekerja dan memiliki tempat tinggal sekaligus di sana. Rumah miliknya di Desa Daun sudah ditinggalkan lama dan dibiarkan begitu saja.
"Untunglah aku terpikir untuk ke sini untuk bersembunyi. Pasti tidak akan ada yang menyangka jika aku ada di sini karena rumah ini sudah lama dibiarkan kosong," gumam Raisa
..."Kemarin pikiranku sangat kacau! Kata-kata dalam pikiranku muncul dan hilang begitu saja membuatku tidak bisa mengungkapkan dan mengakhiri hubungan dengan baik dan jelas. Hanya berharap Rumi dapat mengerti dan menerima keputusanku yang sangat egois dan mendadak itu. Pasti sangat menyakitkan, tapi aku pun sama merasakannya dan ini sangatlah sulit, namun juga yang terbaik!" batin Raisa...
Raisa memutuskan untuk bersembunyi di rumah Sanari untuk beberapa hari ke depan supaya dapat menenangkan diri, hati, dan pikiran. Supaya baik dirinya dan Rumi merasa sedikit tenang setelah putus. Setidaknya keduanya membutuhkan hal seperti itu untuk sementara waktu~
.
•
Bersambung...
__ADS_1