
Hari ini, tim dibagi menjadi tiga bagian.
Satu tim, terdiri dari dua orang, yaitu Ian dan Chilla menetap di panti asuhan untuk melindungi semua yang ada di sana.
Tim kedua, terdiri dari dua orang, yaitu Devan dan Morgan berjaga di luar hutan untuk menunggu dan berjaga-jaga di sana.
Dan tim terakhir, terdiri dari tiga orang yang melakukan penyelidikan dengan masuk ke dalam hutan bambu, yaitu Aqila, Rumi, dan Raisa.
Aqila, Rumi, dan Raisa masuk ke dalam hutan bambu. Terus berjalan walau banyak rintangan yang menghalangi menuju tempat yang disebut-sebut terjadinya penyerangan roh kegelapan pertama kalinya. Sebelum sampai ke tempat tersebut, ada satu titik di mana ada sebuah kobaran api abadi di dalam hutan. Ketiganya hampir sampai pada titik tersebut.
Namun, belum sampai ke lokasi api abadi, mereka bertiga sudah bertemu lawan mengerikan! Yaitu, adanya beberapa roh kegelapan dan monster misterius sekaligus yang menghadang perjalanan mereka.
Di sana, ada suatu sosok yang wujudnya tidak terlihat mengajak ketiganya bicara. Ia san ketiganya seperti sedang melakukan negosiasi untuk berdamai. Namun, dari pihak penghuni hutan bambu tersebut tidak ingin mendengar atau diajak bicara. Lalu, mereka menyerang begitu saja...
"Tunggu apa lagi?!! SERANG!!"
"TIDAK!! Tunggu dulu!"
Pertarungan pun tidak dapat dihindari!
Aqila, Rumi, dan Raisa pun bertarung melawan pasukan roh kegelapan dan monster misterius yang ada di hadapan mereka dengan sekuat tenaga dan semampu yang mereka bisa.
Pasukan roh dan monster hutan tidak ingin mengalah dan terus menyerang, sementara Aqila, Rumi, dan Raisa tampak kewalahan meladeni serangan yang datang tanpa henti. Kalau terus seperti itu, pertarungan antar kedua kubu tidak akan ada habisnya!
Melihat situasi genting seperti itu, Raisa pun maju dan mengeluarkan semua jurus elemen sihirnya untuk membuat pasukan lawan mundur~
"Siapa kau ini? Berani sekali berbuat semaunya di sini! Apa kau ingin menghancurkan hutan ini lagi?!!"
"Kami bertiga tidak datang untuk tujuan itu. Kami juga ingin kedamaian. Mohon dengarkan kami! Kami hanya ingin mencari tahu penyebab masalah yang terjadi belakangan ini di desa dan hutan ini dan kami juga ingin mencari solusinya bersama-sama dengan cara berdamai."
"OMONG KOSONG! Kami tidak percaya lagi pada kalian, manusia! Kalian telah berbuat kehancuran dan kepunahan di hutan ini!! SERANG MEREKA!!"
"Tidak! Mohon dengarkan kami dulu!!"
Tidak ingin bertarung lagi, Raisa mengeluarkan pancaran cahaya dari kedua tangannya yang mampu menghentikan pergerakan pasukan lawan yang hendak menyerang...
"Itu DEWI!"
"Dia adalah DEWI!!"
"Bicara apa kalian!? Tidak mungkin manusia itu adalah DEWI! MAJU SAJA DAN SERANG MEREKA!!"
Karena cahaya sihir yang dipancarkan Raisa, semua roh dan monster yang sedang berhadapan dengannya dapat bicara dan mengatakan bahwa dirinya adalah seorang DEWI. Namun, pemimpin mereka tidak ingin mengakui itu dan kembali memerintah penyerangan.
Walau Aqila, Rumi, dan Raisa sudah dalam posisi siaga... Namun, pihak lawan tidak ada yang bergerak maju untuk menyerang. Mereka tetap diam di tempat.
"Kami tidak bisa melawan DEWI. Harap DEWI membawa kedamaian pada semuanya~"
Para roh kegelapan menghilang begitu saja dan para monster misterius berbalik mundur dengan teratur.
Mereka berkata tidak ingin menyerang lagi.
"Aku bukanlah seorang DEWI, tapi aku bisa mencoba dan berusaha memenuhi keinginan kalian itu," gumam Raisa
Aqila dan Rumi maju mendekat ke arah Raisa.
"Raisa, mereka menganggapmu seorang Dewi. Apa maksudnya itu?" ujar Aqila bertanya.
"Entahlah, aku juga tidak tahu. Sepertinya ada kekeliruan di sini," jawab Raisa
"Mungkin saja mereka benar. Banyak yang bilang kau adalah sumber keberuntungan, mungkin bukan tidak mungkin jika kau juga sumber kedamaian seperti yang mereka harapkan," ucap Rumi
"Keberuntungan itu hanya kebetulan saja! Pembawa kedamaian? Itu mustahil! Aku hanyalah manusia biasa," ujar Raisa
Raisa berjalan ke depan saat melihat kobaran api abadi di dekat sana...
"Ayo, kita lihat api abadi di sini! Dan mungkin saja di sekitar sini ada suatu petunjuk," kata Raisa
Raisa berjalan mendekati sumber api abadi. Namun, dari arah api abadi tersebut terdengar suara orang berbicara persis dengan suara yang memerintah para roh kegelapan dan monster misterius sebelumnya untuk menyerang!
"Itu mustahil! Kau bukanlah DEWI! Ini adalah kekeliruan yang sangat besar! Kau hanyalah seorang manusia rendahan!" Kobaran api abadi itu membesar dan mengeluarkan suara layaknya manusia.
"Raisa, berhati-hatilah! Dia masih berada di sini walau kita tidak melihatnya," kata Rumi
Raisa mengangguk kecil.
"Jadi, aku terus bicara dengan Sang Api Abadi! Ketahuilah, aku memang bukan seorang Dewi, tapi aku juga bukan seorang rendahan! Semua makhluk hidup itu setara dan sama," ucap Raisa
"Apa maksudmu yang terus bicara adalah api abadi itu?" bingung Aqila bertanya karena merasa heran.
"Kalau bukan rendahan, lalu apa? Berbuat seenaknya sampai menghancurkan hutan kami?! Itu hanyalah perbuatan manusia rendahan!"
"Bukan kami yang mendatangkan kehancuran itu, kami bahkan tidak tahu apa yang telah terjadi. Kami hanya pendatang yang menawarkan perdamaian!"
Kobaran api abadi itu terus membesar seperti akan terjadi ledakan di sana!
Seberkas api melayang memisahkan diri dari kobaran api abadi yang besar dan menghampiri Raisa~
Api kecil yang secara ajaib melayang menghampiri Raisa terus berkobar menjadi sangat besar dan dari wujud api itu berubah menjadi seekor burung api raksasa!!~~
"Apa itu?! Dia berubah wujud!" pekik Aqila
"Hati-hati, Raisa! Itu adalah Burung Api Legendaris," pesan Rumi memperingati Raisa.
"Jadi, inilah wujudmu sebenarnya yang menyamar menjadi api abadi? Sang PHOENIX," ujar Raisa
"Pendatang yang suka ikut campur! Sangat lancang! Walau bukan kau yang menghancurkan hutan kami, kalian manusia semuanya sama saja! Untuk itu aku akan menghukummu, apa lagi kau telah melihat wujud asliku!"
"Aku tidak akan lari dan juga tidak akan menerima hukuman yang kau bilang itu," kata Raisa
"Manusia lancang, terimalah penghukuman dariku yang akan membakarmu sampai hangus!"
Burung api itu sudah bersiap mengeluarkan api seluruh tubuhnya.
"Gawat! Ini bahaya sekali," kata Aqila
"Raisa, cepat pergi dari sana!" teriak Rumi
__ADS_1
Burung api itu pun mengeluarkan kobaran api di seluruh tubuhnya~ Api yang dikeluarkannya itu menyambar tubuh Raisa dan membakarnya!
"TIDAK!!"
"RAISA!!~"
Kobaran api itu memang menyelimuti tubuh Raisa seperti melahapnya, namun itu tidak sampai membakar tubuhnya. Karena Raisa bisa mengendalikan api itu dan melenyapkannya hingga padam sepenuhnya~
"Dulu aku pernah mengatakan hal seperti ini ... rasa panas tidak akan pernah bisa menyakitiku! Api tidak akan pernah bisa membakarku! Ini tidak akan lebih buruk dari pada perasaan yang membekukan diriku," ucap Raisa dengan lantang dan tegas.
Burung api itu terperangah dengan apa yang disaksikannya saat ini juga.
"Kau bisa mengendalikan api milikku? Itu tidak mungkin!"
"Namun, itulah yang terjadi dan sudah kulakukan!" berani Raisa
"Kau mungkin bisa menahan satu seranganku, tapi kau tidak akan bisa bertahan selamanya!~"
"Kalau begitu, aku akan mengeluarkan seluruh usaha dan kemampuan yang kubisa," kata Raisa
Pertarungan antara Burung Api dan Raisa pun terjadi dan berlangsung cukup lama.
"Kalian berdua menyingkirlah. Biar aku yang menenangkan amarah burung api ini," ucap Raisa
"Seberapa keras kau berusaha, itu tidak akan berhasil!!"
Tidak hanya bertarung pengendalian api, Raisa juga memanfaatkan bekas air hujan yang tertampung pada cekungan tanah di sana untuk memadamkan api dari Sang Burung Api Legendaris.
"Jadi, itu adalah Burung Api Legendaris? Aku pernah mendengarnya dan itu sangat menakjubkan! Tapi, apakah kita akan membiarkan Raisa terus bertarung dengannya?" ujar Aqila bertanya.
"Yang kutahu, tidak ada seorang pun yang akan tahan atau lolos dari serangan api burung legendaris itu bahkan seorang ahli sihir pengendali api yang hebat sekali pun, namun Raisa bisa bertahan sejauh ini. Itu sangat menakjubkan! Tapi, aku tetap saja khawatir! Apa kali ini Raisa bisa mengatasinya?" ujar Rumi pun bertanya-tanya.
"Jadi, apa yang harus kita lakukan? Haruskah kita membantu Raisa?" tanya Aqila
Rumi menggeleng pelan.
"Entahlah. Yang kutahu, saat ini kita tidak boleh mengganggunya karena hanya akan memecahkan fokusnya," jawab Rumi
Aqila dan Rumi terus menyaksikan pertarungan antara Raisa dan Burung Api Legendars.
Sampai akhirnya, saat Raisa hendak menghindar dari serangan Burung Api Legendaris itu, ia malah terpental cukup jauh ke belakang dan lengan pakaian sebelah kirinya berhasil terbakar oleh api Burung Legendaris tersebut~
"Raisa!"
"Kau baik-baik saja?"
Raisa mengangguk cepat, namun ia terlihat kelelahan terbukti dengan nafasnya yang terengah-engah karena terus meladeni Burung Api Legendaris bertarung...
"Sudah kuduga! Kau takkan bisa bertahan selamanya! Kau sudah kehabisan banyak tenaga, maka menyerah saja! Mungkin hukumanku tidak akan terlalu menyakitkan jika kau mengaku kalah dan bersalah karena telah menantangku!"
Raisa menggeleng.
"Itu tidak akan terjadi! Aku tidak bersalah atau pun akan kalah! Mungkin air takkan bisa memadamkan apimu. Kalau begitu, akan kutunjukkan pengendalian api asli yang murni dan suci yang sebenarnya padamu," ucap Raisa
Raisa mengeluarkan api dari kedua tangannya dengan menggunakan sihir. Juga mengeluarkan sepasang sayap sihir di balik punggungnya.
"Semangat yang bagus, tapi semangat itu akan segera padam! Karena tidak ada yang pernah bisa menang dariku!!"
"Semangatku tidak akan padam, sama seperti tujuanku yang ingin menciptakan perdamaian di hutan dan desa ini," ucap Raisa
Kali ini, Raisa bergerak menyerang lebih dulu.
Raisa mengeluarkan pengendalian api terbesarnya~
Setelah melakukan penyerangan pertama, Raisa bergerak secara teratur menghadapi Burung Api Legendaris.
Burung Api Legendaris menunjukkan ekspresi tercengang pada wajahnya!
"TIDAK MUNGKIN!!"
Burung Api Legendaris menunjukkan respon yang tidak terduga juga tidak dapat dimengerti. Raisa tidak menyerangnya. Gerakan Raisa setelah melakukan penyerangan pertama seperti sedang melakukan ritual penghormatan, lalu gerakannya yangh teratur itu malah terkesan seperti gerakan suatu tarian...
Yang lebih mengejutkan adalah Burung Api Legendaris itu malah seperti mengiringi gerakan Raisa yang bagai seorang yang sedang menari itu.
Namun, walau terlihat seperti sedang menari... Raisa mengeluarkan gerakan yang disertai pengendalian api. Itu seperti Tarian Pengendalian Api yang Harmonis!
"Apa yang sedang Raisa lakukan? Dia sedang menari?" bingung Aqila bertanya karena merasa heran.
"Apa pun itu, yang Raisa lakukan ... Burung Api itu seperti sedang mengikuti tempo dan ritme gerakan Raisa, itu seperti Burung Api itu sedang mengiringi gerakan yang Raisa lakukan. Terlebih lagi, sepertinya Raisa sudah menenangkan Burung Api itu," ucap Rumi
Aqila dan Rumi terus memerhatikan Raisa dan Burung Api itu. Yang bukan seperti melakukan pertarungan, tapi menari dan mengiringi tarian bersama-sama.
Sampai akhirnya, gerakan Raisa terhenti. Burung Api Legendaris juga berhenti. Dan keduanya mendarat di atas tanah~
Raisa membungkuk hormat di hadapan Burung Api Legendaris. Dan Burung Api Legendaris membalas salam hormat Raisa dengan menundukkan kepalanya.
Raisa menegakkan posisinya dan berjalan maju dan mendekati Burung Api Legendaris di hadapannya, serta satu tangannya terulur menyentuh kepala Burung Api Legendaris~
Dari antara tangan dan kepala Burung Api Legendaris itu memancarkan cahaya terang. Api di seluruh tubuh Burung Lrgendaris itu padam seolah menjadi tenang dan mengenali Raisa.
"Senang bertemu denganmu, Phoenix!" Raisa berucap sapa.
"Senang juga bertemu denganmu setelah sekian lama, Dewi Teratai Putih... Aku sudah menantikan waktu ini, Tuanku!" balas Burung Api Legendaris.
Raisa menyebut Burung Api Legendaris itu sebagai Burung Phoenix karena itulah yang Raisa tahu tentang burung kuning keemasan yang dapat mengeluarkan api di seluruh tubuhnya.
Aqila dan Rumi pun segera menghampiri Raisa.
"Apa maksud dari akhir ini? Burung Api Legendaris mengakuimu sebagai seorang DEWI?" bingung Aqila bertanya.
"Darah dan kemampuan sihir yang ada pada diri Tuan adalah sebagian dari milik Tuanku yang sebelumnya. Reinkarnasi dari DEWI TERATAI PUTIH sebelumnya," jawab Burung Api Legendaris
"Sangat mengangumkan! Kau adalah seorang Dewi, Raisa!" takjub Rumi
"Aku adalah diriku sendiri. Ini hanya tentang yang diturunkan padaku dan aku hanya manusia biasa," ucap Raisa
"Kalau begitu, kenapa tidak dari awal saja Burung Legendaris ini mengenalimu? Kenapa kalian harus bertarung untuk hal semacam ini?" tanya Aqila
__ADS_1
"Maafkan aku yang tidak bisa mengenalimu lebih awal, Tuanku!"
"Ini hanya tentang pembuktian. Mungkin waktu yang dilewati Phoenix sangat berat untuknya sampai ia tidak lagi bisa mempercayai manusia," kata Raisa
"Kau menyebutnya Phoenix?" tanya Rumi
"Ya, itulah sebutan untuk burung api di duniaku. Di duniaku, Phoenix hanyalah makhluk mitologi yang melegenda di sebagian negara. Aku tidak menyangka akan menemui yang aslinya di sini," ungkap Raisa
"Tuan juga menyebutku dengan panggilan ini di kehidupan sebelumnya. Tapi, aku mempunyai nama asliku sendiri! Dulu, Tuan memanggilku dengan nama... Helio," ungkap Burung Api Legendaris, Phoenix. Bernama Helio.
"Kau burung jantan? Kupikir Phoenix adalah betina karena menjadi lambang kekuatan para perempuan hebat," ujar Raisa
"Kami menjadi lambang kekuatan bagi banyak perempuan hebat hanya karena kami adala kekuatan yang melindungi dan menyertai jiwa para perempuan hebat sepertimu, Tuan. Nyatanya, kami adalah jantan yang tangguh. Kami juga adalah suatu lambang kebangkitan dari kekuatan baru atau kehidupan baru yang sering disebut reinkarnasi. Seperti kekuatan yang hidup dalam dirimu, Tuan," ungkap Helio, Sang Phoenix.
"Ya. Aku ingat ada penjelasan seperti itu juga," kata Raisa
Satu tangan Raisa kembali terulur menyentuh kepala Helio, Sang Phoenix. Mata Raisa pun terpejam lembut.
"Kalau begitu, sebenarnya apa yang telah kau alami selama ini? Bisakah kau menunjukkannya padaku, Helio?" tanya Raisa
Raisa memang bertanya, tapi nyatanya ia sedang menelaah masuk ke dalam memori dalam pikiran Helio untuk mengetahui apa yang sebenarnya telah dialami olehnya.
Raisa membaca dan menyaksikan semua kejadian yang telah dilewati oleh Helio yang terjadi di Hutan Bambu ini melalui sihir pembaca memori pikiran~
"Jadi, itu yang menyebabkan kau membenci manusia dan mengatakan tentang mereka yang menghancurkan hutan ini," gumam Raisa yang sudah mengetahui semuanya.
"Apa yang terjadi? Apa yang telah kau lihat dari memorinya, Raisa?" tanya Aqila
"Keserakahan manusia," jawab Raisa
"Kalau Tuan menginginkannya, aku akan membawa Tuan pada kebenarannya!"
"Ya. Tuntun aku jalannya," kata Raisa
Sang Phoenix pun melesat terbang untuk menuntun Raisa ke suatu tempat~
"Ayo, ikuti dia bersamaku," kata Raisa
Raisa pun mengikuti arah Phoenix terbang bersama Aqila dan Rumi.
Phoenix mendarat dan berhenti di suatu tempat. Di mana di srkelilingnya hanya terlihat kesuraman di pedalaman hutan bambu tersebut.
"Di mana ini?" tanya Rumi
"Kurasa ini tepat di pedalaman hutan," jawab Aqila
"Di sinilah kehancuran yang dilakukan para manusia itu terjadi! Mereka merusak dan menghancurkan hutan kami yang berharga! Membunuh dan memburu hewan yang melindungi kelestarian hutan ini! Perbuatan mereka sangat tidak beradab seperti bukan manusia!"
"Itu sebabnya kau marah besar," kata Rumi
"Benar! Di sinilah penyebab kemarahan roh kegelapan dan monster misterius sampai mereka menyerang desa. Mereka melakukan protes besar! Di sinilah awal mula terjadinya semua serangan yang datang ke permukiman desa," tutur Raisa
Tempat itu benar-benar suram dan sunyi~
Bekas hutan terbakar dan penebangan pohon di mana-mana. Dan jejak perburuan besar-besaran juga di temukan di sekeliling tempat di sana, di setiap inci tempat tersebut!
"Kalau begitu, kita harus membawa keadilan pada kehidupan hutan ini! Hukum orang yang berbuat kerusakan di hutan ini! Mungkin itu yang bisa membuat para roh dan monster menjadi tenang dan tidak menyerang desa lagi," ujar Aqila
"Kau benar, Aqila! Kita harus membuat kehidupan manusia di desa dan hewan dan tumbuhan serta roh dan monster di hutan ini stabil. Tidak ada yang boleh saling mengganggu," kata Raisa
"Kalau ingin menghukum orang yang berbuat kerusakan di hutan ini, kita perlu bukti! Tidak bisa hanya menunjukkan jejak kekejaman di sini, lagi pula kita tidak tahu siapa pelaku di balik kerusakan hutan ini," ucap Rumi
"Untuk itu, ada Phoenix di sini untuk membantu kita! Helio, bisakah kau tunjukkan di mana dia? Aku ingin bertemu dan bicara dengannya," ujar Raisa
"Kau mencari siapa, Raisa?" tanya Aqila
"Kau ingin bertemu dan bicara dengan siapa?" tanya Rumi
"Roh hewan pelindung hutan bambu ini. Dia pasti tahu siapa pelaku di balik kerusakan hutan ini," jawab Raisa
"Anda bisa mencarinya sendiri, Tuan. Dia berada di batang pohon besar yang terlihat hangus terbakar di titik paling tengah itu!"
Raisa mengangguk mengerti.
Raisa pun berjalan mendekat ke arah batang pohon besar yang dimaksud itu.
"Di sini," gumam Raisa
"Aku memanggilmu, roh pelindung hutan!" seru Raisa
Raisa mengeluarkan sihir pengendalian udara untuk memanggil roh tersebut~
Kilatan cahaya kecil ke luar bersamaan sosok kegelapan yang ke luar dari sela-sela pohon besar di hadapan Raisa.
Sosok kegelapan itu adalah roh hewan pelindung hutan bambu tersebut!
Begitu ke luar dari persemayamannya, roh tersebut bergegas hendak menyerang Raisa yang mengganggu ketenangannya. Namun, Phoenix menghalagi serangan roh tersebut dan melindungi Raisa~
"Jangan menyerangnya, wahai roh! Dia adalah Sang Dewi!"
Roh pelindung itu menjadi tenang begitu melihat Phoenix yang termasuk penghuni hutan bambu tersebut.
Raisa pun mendekati roh hewan pelindung hutan~
Cahaya terpancar ke luar dari tangan Raisa yang terus terulur menyentuh roh hewan pelindung di hadapannya. Hingga roh tersebut menjadi sosok hewan sebelum ia mati, walau masih berupa roh ghaib.
"Maafkan aku, Sang DEWI! Kemarahanku membuatku tidak dapat mengenalimu ...."
Sosok roh pelindung hutan bambu sebelum mati ternyata adalah hewan panda dewasa.
Roh panda itu sudah tenang dan bisa bicara.
"Tidak apa. Aku mengerti perasaanmu, wahai pelindung hutan! Melihat kondisi di pedalaman hutan ini juga membuatku marah," ucap Raisa
.
•
__ADS_1
Bersambung...