Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
91 - Perang Busa Sabun.


__ADS_3

Setelah puas berkeliling satu desa, mereka semua pun berpikir untuk kembali pulang ke rumah masing-masing...


"Sudah malam, langit pun sudah menjadi gelap. Bukankah kita semua harus pulang?" Ujar Amy


"Benar juga, tak terasa sudah malam saja!" Kata Wanda


"Ya sudah. Masing-masing kita pulang sendiri saja." Sahut Sandra


"Hei, Raisa! Saat pulang ke duniamu besok, kau berpamitan dulu dengan jelas dan berkumpul dulu dengan kita semua. Jangan sampai seperti saat pertama kali, seolah kau ingin kabur begitu saja tanpa memberitahu." Tuntut Morgan


"Benar! Pastikan kau berpamitan dulu dengan sahabat terbaikmu yang cantik ini!" Pesan Chilla


"Jangan sampai kami kira kau hantu karena kau pergi menghilang begitu saja." Ujar Ian


"Jangan merepotkan kami untuk mencarimu sebelum kepulanganmu besok." Kata Devan


"Hehe, iya, pasti. Aku akan berkumpul dulu dengan kalian dan takkan kabur lagi seperti saat itu." Paham Raisa


"Kau sudah berjanji ya, Raisa!?" Ujar Marcel


"Kau harus ingat apa yang kau ucapkan ini, lho!" Kata Dennis


"Kau bilang kau bukan orang yang ingkar janji kan, Raisa?!" Tanya Billy memastikan.


"Aku mengerti, aku berjanji!" Patuh Raisa


"Sekarang, kau berhati-hatilah berjalan pulang ke rumahmu bersama Rumi." Ujar Aqila


"Benar! Ayo, pulang bersamaku, Raisa!" Kata Rumi yang mengajak pulang bersama.


"Hmm, baiklah. Sampai jumpa besok, semuanya!" Ucap Raisa


Setelah saling berpamitan di akhir hari ini, semua pun pulang ke rumah masing-masing. Raisa pun ikut berpulang ke rumahnya di Desa Daun itu bersama dengan Rumi... Tak lupa keduanya saling bergandengan tangan.


...


Raisa dan Rumi sudah sepakat ingin menghabiskan waktu berdua setelah berkeliling desa beramai-ramai dengan semua teman tadi. Dan inilah saatnya!


Setelah ini, Raisa memutuskan akan mampir ke rumah Rumi karena di hari sebelumnya Rumi telah mampir ke rumahnya, kali ini berganti ia yang akan mampir ke rumah lelaki pujaan hatinya itu...


Saat masuk ke dalam rumah Rumi, Raisa langsung meletakkan barang hasil belanjaannya saat berkeliling desa tadi di sofa ruang tamu di sana. Kali ini, Raisa ingin makan malam di rumah Rumi karena di malam sebelumnya sudah makan bersama di rumahnya.


Setelah masuk dan izin membersihkan diri seadanya di kamar mandi, Raisa langsung menuju dapur dan berkutat di sana. Rumi pun ikut menemani Raisa di dapurnya...


"Kali ini, aku ingin makan malam bersama di rumahmu." Kata Raisa


"Terserah kau saja, apa pun boleh kau lakukan di rumahku. Tapi, aku minta maaf karena tidak bisa memberimu makanan yang sepantasnya di rumahku. Di sini hanya ada beberapa makanan ringan sederhana saja." Ucap Rumi


"Tidak apa. Makanan sederhana pun cukup! Apa pun yang ada, aku akan menerimanya. Sama seperti aku menerimamu apa adanya..." Ujar Raisa disertai sedikit gombalan di akhir ucapannya.


Raisa pun menyiapkan apa yang akan dimakan bersama Rumi dengan apa yang ada di sana. Walau hanya membuat mie instan khas dunia itu. Raisa pun merebus mie untuk dua porsi.


Saat Raisa memasak, Rumi terus berada di sampingnya. Rumi pun tergerak untuk melingkarkan kedua tangannya di pinggang ramping milik Raisa, mendekatkan tubuhnya, dan memeluk tubuh Raisa.


"Aku jadi semakin menyukaimu, Raisa!" Ungkap Rumi


"Bagus, dong! Tapi, kenapa kamu begini sih? Kalau aku jadi tidak fokus, lalu mie-nya tumpah, bagaimana?" Kata Raisa


"Aku tidak akan mengganggumu, hanya ingin memelukmu saja. Tolong, biarkan aku melakukannya. Izinkan, sebentar saja!" Ucap Rumi


..."Kata-katanya yang ingin memelukku, persis sama seperti saat aku ingin bersandar di bahunya saat aku berada di rumah sakit. Ini sih sama saja dia tidak membiarkanku untuk menolaknya dengan mengatakan perkataan yang sama sepertiku waktu itu. Dasar, Rumi! Sikapnya padaku manja sekali!" Batin Raisa...


Raisa teringat suatu waktu. Saat dirinya pingsan setelah pertarungan besar di Desa Daun tepat saat kali pertamanya datang di dunia asing ini, Raisa pernah dilarikan di rumah sakit. Ternyata, saat itu Rumi terus menjaganya. Di suatu malam ada sesuatu yang terjadi dan Raisa meminta dirinya dibiarkan bersandar di bahu Rumi. Kata-katanya saat meminta izin kala itu, persis sama seperti yang Rumi katakan untuk membiarkannya memeluk Raisa. Tentu, Raisa jadi tak bisa menolaknya! Walau tanpa memohon pun, Raisa takkan mungkin sanggup menolak Rumi...


"Uh, baiklah. Aku memang tidak pernah bisa menolakmu." Pasrah Raisa

__ADS_1


"Kau baik sekali, aku suka!" Spontan Rumi


"Sudahlah, cukup! Atau kau akan menggangguku." Tegur Raisa


"Baiklah. Aku hanya akan diam seperti ini saja." Patuh Rumi


Rumi pun diam tak lagi berbicara agar tidak mengacaukan fokus Raisa. Memeluk tubuh Raisa, menyandarkan dagunya pada pundak Raisa, dan menempelkan wajahnya pada leher Raisa. Saat seperti ini pun, Raisa hanya djam dan terus berusaha fokus agar pergerakannya dapat teratur dan tidak melakukan kesalahan saat memasak. Sebebarnya, posisinya saat ini sangat membuatnya gugup!


..."Haish... Memang dasar, lelaki! Tak hanya sikapnya yang manja, tapi kata-kata yang ke luar dari mulutnya pun sangat manis. Yang seperti ini sih sangat beracun! Siapa yang akan tahan dengan perlakuannya?!" Batin Raisa...


Memasak mie instan pun selesai...


"Sudah selesai, mie-nya sudah matang! Aku hanya perlu menyiapkan dan menaruhnya di mangkuk. Rumi, kau bisa dusuk dulu sambil menunggu kubawakan mie-nya." Ucap Raisa


"Baik. Terima kasih, Raisa!" Kata Rumi


Rumi yang memeluk Raisa dari belakang pun memajukan wajahnya dan mencium pipi Raisa. Setelah melakukannya, ia baru nelepaskan pelukannya pada pinggang ramping Raisa dan beranjak untuk menunggu Raisa membawakan mie untuk makan malam mereka berdua.


Raisa yang mendapat kecupan di pipi dari Rumi terperanjat kaget. Untung saja tidak sampai melepaskan panci rebusan mie yang masih dipegang di tangannya...


"Rumi, ini...! Kenapa aku benar-bebar tidak bisa marah sama sekali padanya, sih?!" Gumam Raisa yang merasa heran karena hanya bisa menerima perlakuan dari Rumi.


Selama Rumi menunggu di ruang tamu, Raisa menyiapkan dan menaruh mie instan rebus ke dalam mangkuk di dapur. Lalu, segera membawa dua mangkuk mie rebus itu menghampiri Rumi di ruang tamu untuk makan bersama...


"Makan malam sudah siap! Uh, pasti rasa mie rebus di sini sangat enak! Aku tidak sabar ingin mencobanya..." Ujar Raisa


Raisa pun duduk di sofa ruang tamu di samping Rumi. Raisa memberikan semangkuk mie rebus di aalah satu tangannya yang lain pada Rumi.


"Maaf ya, Raisa. Jika di rumahku, kau tidak bisa makan enak. Saat ini pun hanya bisa makan mie rebus instan, padahal saat malam hari kan dilarang makan berat seperti mie instan ini." Ucap Rumi


"Tidak apa-apa kok, ini bukan hal yang perlu dipermasalahkan. Lagi pula makan seperti ini kan hanya sesekali saja, aku juga ingin mencoba rasa mie instan di dunia ini, penasaran dengan rasanya. Aku yang ingin makan ini, pasti akan menikmatinya." Kata Raisa


"Baik. Kalau begitu, selamat mencoba, Raisa!"


Raisa dan Rumi pun memulai makan malam bersamanya, menikmati semangkuk mie rebus.


"Bagaimana rasa yang baru pertama kali kau coba ini, Raisa?" Tanya Rumi


"Hmm, enak! Sepertinya di mana pun berada rasa mie memang kurang lebih sama. Hanya berbeda sedikit, jika mie rebus mungkin yang membedakannya adalah rasa kuahnya. Kali ini yang kurasakan kuahnya lebih terasa kental gurihnya. Aku suka!" Ungkap Raisa


"Lalu, bagaimana menurutmu? Tingkat kematangan hasil masakanku sesuai dengan seleramu atau tidak, Rumi?" Imbuh Raisa bertanya.


"Sangat pas! Tidak terlalu lembut karena terlalu matang atau pun tidak terlalu kaku karena belum matang. Apa pun masakanmu aku pasti suka kok!" Jawab Rumi


"Kau selalu saja bilang begitu. Jika memang masakanku tidak enak atau tidak sesuai dengan seleramu, kau jujur saja padaku. Agar aku bisa memperbaiki masakanku dan belajar untuk lebih baik lagi." Ujar Raisa


"Aku mengerti. Tapi, memang selama kau memberiku masakanmu rasanya selalu pas dengan lidahku. Kau pandai dalam hal memasak, kau juga memahami seleraku." Ucap Rumi


Raisa senang jika Rumi memang menyukai apa pun masakannya. Ini pasti karena Rumi tidak pilih-pilih dalam hal masakan atau rasa makanan, bukan berarti Raisa memahami selera makannya. Rumi saja yang selalu menyanjungnya. Rumi adalah lelaki pengertian yang baik hati!


Setelah makan bersama berakhir, Raisa memilih ingin mencuci piring bekas makan mereka berdua. Namun, Rumi melarangnya. Rumi beralasan, Raisa cukup memasak untuk makan malam mereka berdua tidak perlu sampai mencuci bekas makan mereka. Toh, mereka berada di rumah Rumi dan Rumi bisa melakukannya sendiri. Raisa keukeuh ingin mencuci, Rumi keukeuh melarang. Akhirnya, mereka berdua malah mencuci bersama...


"Padahal yang dicuci pun hanya sedikit, aku bisa melakukannya sendiri. Tapi, kau malah ikut mencuci bersamaku." Ujar Raisa


"Aku juga sudah melarangmu, tidak perlu mencuci, biar aku saja. Kau malah tidak mau mendengarku! Aku hanya bisa mengikutimu saja mencuci di sini." Ucap Rumi


"Aku kan hanya ingin meringankan pekerjaan di rumahmu. Kalau begini kan kita hanya akan berhimpit-himpitan seperti ini di sini!" Kata Raisa


"Aku kan sudah bilang, aku akan bisa melakukannya sendiri nanti. Maaf, kalau dapur di rumahku memang sempit untukmu." Ujar Rumi


..."Eh, aku salah bicara ya?!" Batin Raisa...


"Bukan maksudku mengatakan dapurmu sempit. Tapi, pekerjaan seperti ini kan memang biasanya hanya dilakukan oleh satu orang saja. Kita berduaan seperti ini melakukannya malah akan mempersulitnya." Ucap Raisa


"Bukankah malah bagus jika seperti ini? Kita bisa saling berdekatan!" Ujar Rumi

__ADS_1


Sambil berucap, Rumi pun ikut lebih mendekatkan tubuhnya pada tubuh Raisa hingga posisi tubuh mereka bertempel satu sama lain. Entah apa yang ingin dimaksud Rumi. Atau ini memanglah niat Rumi yang tersembunyi?


..."Ih, dasar, modus!" Batin Raisa...


Rumi pun menoleh menatap Raisa di sampingnya...


Tangan Rumi pun terulur untuk meraih pipi Raisa untuk menghadapkan padanya agar mereka berdua bisa saling menatap. Raisa pun tergiring untuk menatap Rumi. Dan saat kedua manik mata mereka bertemu, Raisa langsung tak bisa berkutik. Tatapan mata keduanya saling terkunci! Saat itu juga, Rumi mulai mendekatkan wajahnya dengan wajah Raisa...


..."Apa ini? Kenapa dia mendekat? Apa lagi yang mau dilakukan olehnya?!" Batin Raisa...


Raisa tahu apa yang akan terjadi selanjutnya dan ia harus mencegahnya!


"Ih, Rumi! Apa sih yang kau lakukan!? Pipiku yang kau pegang jadi penuh busa! Apa kau lupa sedang mencuci? Tanganmu yang memegang pipiku kan penuh busa dan sabun!" Ujar Raisa mencegah apa yang akan terjadi selanjutnya dengan mencubit hidung Rumi.


"Aww, Raisa! Kenapa kau mencubit hidungku?! Hidungku jadi penuh busa juga..." Protes Rumi


"Huh, itu balasan untukmu! Kau juga sudah lebih dulu membuat pipiku penuh dengan busa." Sebal Raisa


..."Yang terpenting Rumi telah mengurungkan niatnya yang ingin melakukan suatu hal itu!" Batin Raisa...


"Uh, maaf deh. Tapi, menurutku kau terlihat lucu dengan wajah berbusa itu! Hehehe..." Ucap Rumi disertai tawa kecilnya setelah mencolek hidung Raisa dengan tangan berbusanya. Hidung Raisa pun sama persis sepertinya yang dipenuhi busa.


"Hei, kau mencoba menjahiliku ya!? Mau perang busa sabun denganku, hah?! Rasakan ini!" Kesal Raisa sambil melumuri pipi Rumi dengan busa di tangannya.


"Kau merasa kesal ya, Raisa? Tapi, kau benar-benar terlihat lucu!" Kata Rumi yang kembali mencolek pipi Raisa dengan tangannya yang berbusa.


"Bagaimana aku tidak merasa kesal, kalau wajahku jadinya begini?!" Ujar Raisa


Alhasil, mencuci piring belum diselesaikan, keduanya malah bermain air dan perang busa sabun. Raisa tak lagi merasa kesal, keduanya pun malah terlarut dalam tawa dan asik dengan permainan jahil itu...


Saat merasa lelah tertawa, keduanya pun berhenti. Kedua wajah mereka penuh dengan busa dan pakaian mereka pun jadi basah karena terciprat air washtafel.


"Hentikan, sudah cukup! Aku sudah lelah tertawa." Kata Raisa


"Baiklah. Sudah cukup bermainnya, kau harus membersihkan wajahmu." Ujar Raisa yang mencoba membersihkan wajah Raisa dari busa sabun dengan tangannya.


"Takkan berhasil jika membersihkan wajahku dengan tanganmu. Tanganmu kan masih bersabun, yang ada wajahku tidak bersih malah tambah berbusa." Ucap Raisa


"Kau benar, maaf." Kata Rumi


"Aku akan mencuci wajahku saja. Setelah ini kita masih harus mencuci piringnya. Kau juga cucilah wajahmu setelah aku." Ujar Raisa


Raisa dan Rumi pun saling brrgantian mencuci dan membasuh wajah dengan air hingga bersih dari busa. Setelah itu, mereka kembali melanjutkan mencuci piring hingga tuntas.


"Akhirnya selesai juga, semua cucian sudah bersih! Tapi, pakaianku jadi basah semua, pakaianmu juga." Kata Raisa


"Maafkan aku. Harusnya aku tidak membuatmu kesal dengan membuat wajahmu penuh dengan busa sabun." Ucap Rumi


"Tidak apa. Ini mudah untukku! Aku hanya tinggal mengeringkan pakaianku dengan sihir angin, seperti ini!" Ujar Raisa


Raisa pun menyatukan kedua telapak tangannya dan menggunakan kemampuan sihirnya. Saat itu juga, di sekelilingnya mulai muncul hembusan angin yang membuat pakaiannya yang basah menjadi kering. Setelah membuat pakaiannya kembali kering, Raisa pun tak lupa membantu mengeringkan pakaian Rumi juga.


"Lihatlah, pakaianmu pun sudah dikeringkan juga!" Kata Raisa


"Benar. Terima kasih, Raisa!" Ucap Rumi


"Sama-sama." Balas Raisa dengan disertai senyuman manisnya.


Setelah selesai mencuci di dapur, Raisa dan Rumi kembali ke ruang tamu untuk menghabiskan waktu seperti yang sudah dijanjikan. Dengan apa pun caranya, walau mereka berdua hanya saling mengobrol bersama. Tidak penting mereka melakukan hal apa, yang terpenting saat ini adalah mereka bisa menghabiskan waktu dengan berdua saja! Saling melengkapi kebersamaan berdua...


.



Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2