
Raisa pun membungkuk dan mengulurkan tangannya untuk membantu Sandra berdiri.
Sandra pun menerima uluran tangan Raisa dan berdiri dengan bantuannya.
"Aku terlalu menikmani di saat waktu-waktu terakhir. Maaf, jika aku melukaimu." Ucap Raisa
"Tidak apa. Aku memang ingin kau serius dalam duel ini. Dan akhirnya, aku berhasil kau kalahkan." Ujar Sandra
"Dan juga maaf tentang itu." Kata Raisa
"Maaf untuk apa? Kau tidak perlu minta maaf. Ah, jangan minta maaf! Kalau tidak aku jadi akan terdengar seperti pecundang." Ujar Sandra
"Baiklah. Kalau begitu, aku anggap kali ini seperti berlatih bersama saja." Ujar Raisa
"Terserah saja. Dan selamat atas kemenanganmu!" Ucap Sandra
"Terima kasih untuk ucapan selamatmu." Kata Raisa
"Sama-sama. Dengan ini aku tidak akan merasa penasaran denganmu lagi. Kau memang hebat, Raisa!" Ucap Sandra
"Aku tidak begitu. Kaulah yang hebat! Aku tadi hampir saja tidak bisa mengambil keputusan." Ujar Raisa
Raisa mengulurkan satu tangannya ke belakang. Menggunakan kemampuan sihirnya mengendalikan senjata untuk membawa pedang milik Sandra padanya. Pedang itu melayang dari lantai aula tersebut ke arah genggaman tangan Raisa, ia mengambilkan dan memberikan pedang itu pada Sandra, pemilik aslinya.
"Ini, pedang milikmu, Sandra." Kata Raisa yang menyerahkan pedang di tangannya pada pemiliknya.
"Terima kasih!" Ucap Sandra yang menerima pedang miliknya dari tangan Raisa. Ia pun kembali memasukkan pedang ke dalam sarung pelindungnya.
"Hmm, sama-sama." Balas Raisa menyahut.
Teman-teman yang lain pun turun dari tempat kursi penonton dan menghampiri Raisa dan Sandra. Mereka berdua pun dikelilingi teman yang lain.
"Ah, akhirnya duel ini selesai juga!" Seru Morgan
"Iya, tadi aku ketakutan kalian terluka." Ujar Amy
"Kami tidak apa-apa kok." Kata Sandra
"Ian, ini milikmu. Terima kasih sudah mau meminjamkan pedangmu padaku. Itu berarti kau sudah membantuku tadi. Sudah kupastikan tidak ada noda darah yang menempel pada pedang milikmu ini." Ucap Raisa yang mengembalikan pedang Ian pada pemilik aslinya.
"Sama-sama. Sama sekali bukan masalah." Balas Ian yang menerima kembali pedang miliknya dari tangan Raisa yang meminjam darinya.
Paman Rico pun menghampiri mereka semua dan mendekati Raisa dan Sandra.
"Oh, lukamu sudah sembuh ya, Raisa... Kalau begitu, kau saja yang pergi ke ruang kesehatan akademi, Sandra. Obatilah lukamu di sana." Ucap Paman Rico
"Halo, Paman Rico... Senang bertemu denganmu dalam kesempatan kali ini." Ujar Raisa menyapa.
"Senang bertemu denganmu juga, Raisa. Seperti yang dirumorkan kau memang hebat." Ucap Paman Rico
"Terima kasih atas pujianmu, Paman. Soal Sandra, biar aku saja yang mengobati lukanya." Ujar Raisa
"Terserah saja. Kalau begitu, aku pamit pergi dulu. Masih ada urusan lain." Ujar Paman Rico
"Silakan, Paman. Maaf telah banyak menyita waktumu." Kata Raisa
"Tidak apa. Sudah kubilang, senang bisa bertemu denganmu. Baiklah. Bertemanlah dengan baik, anak-anak." Ucap Paman Rico
"Baik, Papa." Kata Marcel
Paman Rico pun beranjak dari tempat tersebut dan berlalu perhi. Mereka semua pun nencari tempat lain untuk mengobrol dan mengobati luka Sandra...
Mereka semua berkumpul dan duduk bersama di suatu tempat...
Di sana Raisa duduk berdekatan dengan Sandra untuk mengobati lukanya dengan kemampuan sihir medis.
"Walau tidak parah, maaf telah menyebabkan kau terluka." Ujar Raisa setelah mengobati luka Sandra dengan sihir medisnya.
"Kau sendiri bilang ini tidak parah, lagi pula aku baik-baik saja." Kata Sandra
"Tadi jelas-jelas kami melihatmu juga terluka, Raisa. Tapi, saat duel itu berakhir kenapa lukamu sudah menghilang?" Ujar Denis yang bertanya dengan herannya.
"Lukaku sembuh dengan sendirinya karena sihir medis yang kumiliki saat aku mengaktifkan kemampuan itu saat duel masih berlangsung tadi." Jelas Raisa
"Ya, aku melihatnya langsung tadi. Lukanya perlahan hilang dengan sendirinya tepat di depan mataku." Ungkap Sandra
__ADS_1
"Bagaimana pun itu, aku bersyukur kau baik-baik saja, Raisa." Kata Rumi
"Dan selamat atas kemenanganmu, Raisa!" Ucap Billy
"Ya. Terima kasih!" Kata Raisa
"Aku masih tak menyangka busa melihat duel kalian yang begitu menakjubkan tadi!" Seru Raisa
"Tapi, bagaimana bisa kau malah menerobos masuk ke dalam sihir badai tadi, Raisa?" Tanya Aqila
"Ya, kau ceroboh sekali!" Kata Chilla
"Raisa tidak ceroboh, tapi dia cerdik! Tadi itu adalah trik mengelabuhi lawan! Masuk ke dalam serangan seperti orang nekat yang sangat ceroboh, lawan akan mengira dia pasti terluka. Tapi, diam-diam malah terus maju dan menyerang secara mendadak! Dia melakukannya karena yakin bisa mengatasinya." Jelas Devan
"Devan, benar! Bisa menebaknya, kau memang rajanya taktik bertarung seperti Ayahmu." Ucap Raisa
"Ngomong-ngomong, soal Ayah... Tadi adalah kali pertamamu bertemu dengan Paman Rico ya, Raisa?" Tanya Morgan
"Benar! Marcel benar-benar mirip seperti Ayahnya!" Kata Raisa
"Kau juga tau tentang mereka berdua lewat mimpimu ya, Raisa?" Tanya Billy
"Iya. Walau tidak mengetahuinya lewat mimpi, dengan penampilan semirip itu pasti bisa langsung tau saat pertama kali lihat, kan... Tapi, kalian sangat terkejut saat pertama kali lihat Ayah dan anak ini ya? Terutama kau, Dennis!" Ujar Raisa
"Benar sekali!" Kata Dennis
"Karena Papa adalah panutanku!" Sahut Marcel
"Oh, ya! Soal aku yang minta rekamkan duel tadi. Apa sudah kau rekam, Dennis?" Tanya Raisa
"Ah, hampir saja lupa! Untung kau mengingatkannya, Raisa! Sudah, ini ponselmu! Kau bisa lihat sendiri hasil rekamannya." Ujar Dennis seraya mengembalikan ponsel pada Raisa.
"Terima kasih, Dennis!" Ucap Raisa yang menerima kembali ponselnya.
"Sama-sama." Balas Dennis
Raisa pun melihat hasil rekaman yang Dennis ambil pada ponselnya. Raisa tak menyangka akan memiliki rekaman seperti itu di dalam ponselnya terlebih lagi itu adalah aksi duel bersama temannya sendiri...
"Yang terlihat di dalam rekaman ini sangat bagus. Kau memang ahlinya, aku suka!" Kata Raisa
Mendengar kata itu ke luar dari mulut Raisa untuk orang lain membuat telinga Rumi memanas! Ia jelas tidak suka akan hal ini! Tapi, kali ini ia tidak menunjukan rasa sukanya maupun protes atau bertingkah apa pun itu. Kali ini ia berusaha sabar menerimanya dan menahan ketidak-sukaannya...
•••
Keesokan harinya...
Saat sedang berkumpul di pagi hari, tiba-tiba beberapa di antara mereka ada yang di panggil menuju ke kantor pemimpin desa, yaitu satu tim, Amy, Wanda, dan Sandra. Namun, kali ini Raisa ikut dipanggil bersama mereka bertiga.
Di dalam kantor pemimpin desa, keempat orang yang dipanggil langsung berhadapan dengan Pemimpin Desa, Tuan Nathan, yang didampingi oleh penasehatnya, Tuan Rafka.
"Aku memanggil kalian berempat ke sini untuk memberikan tugas misi sekalian bicara denganmu, Raisa." Ucap Tuan Nathan
"Tugas misi? Apa itu juga berlaku untukku, Tuan?" Tanya Raisa
"Benar, untuk itu kau dipanggil ke sini!" Jawab Tuan Nathan
"Akhirnya! Aku sudah sangat menantikannya!" Girang Raisa
"Seperti yang sudah selalu ditugaskan pada kalian bertiga, kali ini pun misinya adalah pengawalan terhadap pengantar barang. Seorang dari sekumpulan kelompok pengantar barang memiliki barang antik yang sangat mahal untuk diantarkan. Dikarenakan nilai harga barang pasti banyak orang yang mengincarnya dan kali ini bukan hanya antar desa tapi ke luar dari Negara Api. Jadi, mohon untuk berhati-hati!" Jelas Tuan Nathan
"Kali ini negara mana yang akan kami tuju?" Tanya Wanda
"Negara Angin, Desa Pasir! Ini adalah petanya! Yang akan kalian tempuh adalah titik jalan ini! Kemungkinan perampasan datang di perbatasan desa, pintu ke luar negara, dan pintu masuk Negara Angin. Negara ini adalah tetangga negara kita, jadi jika tak banyak hambatan kalian bisa kembali ke sini dengan cepat. Tingkatkan kewaspadaan kalian, jangan sampai lengah!" Ungkap Tuan Rafka sambil memperlihatkan sebuah peta dan menunjukkan jalur pengawasan.
"Kali ini, kalian tidak berangkat bersama Helen karena dia masih dalam misi besarnya. Untuk itu Raisa dipanggil untuk menjalankan misi bersama kalian. Walau hanya satu orang yang membawa barang antik, kalian tetap ditugaskan untuk menjaga semua orang dalam kelompok pengantar barang ini bersama semua barang bawaan mereka. Harap kalian bisa saling kooperatif dalam bekerja sama." Ucap Tuan Nathan
"Aku mengerti!" Kata Amy
"Aku pun akan berusaha semaksimal mungkin dalam misi kali ini. Terima kasih sudah mempercayakanku juga dalam tugas ini." Ucap Raisa
"Raisa, mungkin tugas kali ini adalah tugas pertama dan terakhirmu dalam kunjunganmu ke sini kali ini. Karena kudengar dari Morgan, kau hanya berlibur di sini selama seminggu dan harimu di sini tersisa beberapa hari terakhir saja. Jadi, cepatlah selesaikan tugas ini bersama yang lain dan kembali, lalu kau bisa segera pulang ke duniamu." Ungkap Tuan Nathan
"Soal itu, benar! Hari-hariku di sini sudah tersisa sedikit saja. Jadi, kami akan cepat menyesesaikan tugas ini dan kembali. Dalam kunjunganku di lain waktu pun, kuharap masih bisa dipercayakan untuk menjalankan tugas misi yang lainnya." Ujar Raisa
"Karena kelompok pengirim barang itu sudah menunggu, kalian bisa berangkat siang ini juga. Lokasi janji temu adalah di lapangan samping toko antik di desa. Harap mempersiapkan segala sesuatu untuk keberangkatan kalian dan berhati-hatilah!" Ucap Tuan Rafka
__ADS_1
"Baik. Kalau begitu, kami pamit untuk bersiap. Permisi..." Ujar Sandra
Mereka berempat pun pamit ke luar dari kantor pemimpin desa. Dan mereka segera mempersiapkan diri untuk tugas misi kali ini...
Setelah siap, mereka berempat bersama-sama menuju lokasi janji temu yang disebutkan Tuan Rafka sebelumnya, yaitu di lapangan samping toko antik. Saat dalam perjalanan ke sana, mereka berempat bertemu dengan Aqila, Morgan, Rumi, Dennis, Marcel, dan Billy. Sedangkan Chilla, Devan, dan Ian, sudah ditugaskan dalam misi lain.
"Hei, kalian sudah kembali dari kantor pemimpin desa? Ada apa Ayahku memanggil kalian berempat?" Tanya Morgan. Ayah Morgan adalah Tuan Nathan, Pemimpin Desa.
"Kami ditugaskan dalam suatu misi bersama." Jawab Amy
"Bersama? Berarti ini adalah misi pertamamu di desa ini ya, Raisa?" Tanya Aqila
"Benar. Aku diikut-sertakan dalam misi kali ini." Jawab Raisa
"Ya. Kami pergi tanpa Guru Helen karena dia sedang ada tugas besar dan Raisa mengisi kekosongan itu bersama kami." Ungkap Wanda
"Kalau begitu, selamat, Raisa!" Serempak Dennis, Marcel, dan Billy.
"Hmm. Terima kasih!" Ucap Raisa
"Kalian berhati-hatilah!" Pesan Rumi. Rumi memang mengatakannya untuk mereka berempat, tapi tatapannya hanya tertuju pada Raisa.
"Kami harus berangkat siang ini juga. Jadi, kami pergi dulu!" Pamit Sandra
Amy, Wanda, Sandra, dan juga Raisa pun beranjak dari sana dan berlalu ke tempat perjanjian...
Mereka berempat pun menemui kelompok pengantar barang tersebut dan menghampiri mereka.
"Apa kalian yang dikirim untuk menjadi pengawal kami?" Tanya salah satu dari anggota kelompok pengantar barang. Kemungkinan dialah yang membawa barang antik nan mahal yang telah disebutkan sebelumnya.
"Benar! Apa semua orang dalam kelompok sudah hadir semua?" Ujar Wanda
"Kami susah lengkap semua, hanya tinggal menunggu kalian datang. Mohon bantuan kalian!" Ucapnya
"Dan mohon kerja samanya!" Kata Amy
"Tujuan kali ini adalah Negeri Angin. Kapan kita akan berangkat?" Ujar Sandra bertanya.
"Kami semua telah siap. Kita berangkat jika kalian juga sudah siap." Jawabnya
"Kalau begitu, berangkat sekarang saja!" Kata Wanda
"Baiklah... Semuanya, kita berangkat sekarang!" Ucapnya seorang ketua pengantar barang yang mengumumkan keberangkatan mereka semua pada anggota lainnya.
"Baik!"
Mereka semua pun mulai keberangkatan menuju Negara Angin.
Amy, Wanda, Sandra, dan Raisa. Mereka berempat bertugas mengawal kelompok pengantar barang ke luar negara. Jumlah anggota kelompok pengantar barang ada 14 orang...
Raisa lebih banyak diam. Dia mengerti posisinya yang hanya orang lain yang ditambahkan dalam sebuah misi. Dia hanya lebih banyak mengawasi sekeliling jika saja ada yang mencurigakan.
Di pintu keluar Desa Daun sitiasi masih aman karena di sana ada penjagaan dan masih ramai orang. Mereka semua pun menuju ke tempat tranportasi yaitu kereta bawah tanah, satu-satunya transportasi yang ada di dunia asing itu. Mereka menggunakan transportasi satu ini untuk pergi menuju Negara Angin.
Sesampainya di wilayah perbatasan negara, kereta bawah tanah yang mereka tumpangi berhenti di suatu stasiun bawah tanah. Mereka semua pun berbondong-bondong ke luar dari kereta bersama keseluruhan penumpang kereta bawah tanah tersebut. Dari sana mereka menuju pintu masuk Negara Angin berjalan beriringan.
Amy dan Wanda mengawal para pengantar barang di depan mereka, sedangkan Rausa dan Sandra berposisikan di belakang mereka. Semua pun berjaga-jaga dan bersikap waspada. Tak hanya yang bertugas dalam misi kali ini, tapi juga para pengantar barang yang menjaga barang bawaannya dengan hati-hati.
Sejauh ini mereka tetap aman termasuk saat di dalam kereta.
Saat memasuki wilayah Negara Angin, semua penjuru ditutupi oleh pasir dan angin pun mulai berhembus kencang. Negara Angin adalah negara gurun pasir yang ada di dunia itu. Gurun pasir yang bertiupkan angin kencang... Untuk itulah Negara tersebut dinamakan Negara Angin dan desa utama di sana diberi nama Desa Pasir.
Setelah 20 menit menempuh perjalanan dengan berjalan kaki menuju Desa Pasir, beberapa di antara mereka sudah ada yang kelelahan. Mereka semua pun berhenti untuk istirahat. Mereka semua sibuk membenarkan posisi barang bawaan mereka juga meneguk air karena kebanyakan mereka membawa banyak barang yang berat.
Saat dirasanya cukup, setelah beristirahat sebentar mereka semua pun melanjutkan perjalanan mereka menuju ke Desa Pasir. Semua orang memupai kembali berjalan kaki, kecuali Raisa. Ia terdiam seperti melamun... Namun, Sandra segera menyadarkannya.
"Raisa, sedang apa kau diam saja di situ!? Ayo, kita harus melanjutkan perjalanan!" Pekik Sandra mengejutkan Raisa.
"Ah, baiklah. Tunggu aku!" Kata Raisa setelah tersadar dari diamnya.
Raisa pun akhirnya kembali mengikuti berjalan di belakang bersama Sandra...
.
•
__ADS_1
Bersambung...