Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
[Season 2] 122 - Bulan Madu.


__ADS_3

Saat masuk bilik pemandian air panas yang berbeda, mereka lebih dulu menukar pakaian dengan balutan handuk sebelum berendam.


Raisa dan Rumi berendam di kolam pemandian khusus berdua. Berendam di dalam kolam air panas, Rumi duduk di belakang Raisa sambil memeluk tubuh sang istri yang ada di depannya.


Sementara yang lain masuk ke dalam bilik pemandian yang berbeda pula antara perempuan dan lelaki yang terpisah baik bilik ganti atau kolam pemandiannya.


Farah, Raina, dan Bu Vani berendam di kolam yang sama khusus perempuan. Sedangkan Pak Hilman, Raihan, dan Arka berendam bersama di dalam kolam khusus lelaki.


"Tadi kalian berdua habis keliling ke mana aja?" tanya Pak Hilman


"Sebenarnya aku habis ngajak Kak Arka main jelajah malam berhadiah, Pak. Kami berdua menjelajah dan mengungkap misteri dari objek misterius yang ada di tempat ini. Ternyata misterinya cuma trik doang, apa lagi tadi juga udah dikasih tahu semua sama Kak Raisa. Jadi, kurang seru menurutku," ungkap Raihan


"Alasan Raisa kasih tahu tentang permainan ini ke kami berdua yang gak mau ajak Farah untuk ikut itu sebenarnya karena tempat ini berhantu, tahu, Pak," ungkap Arka


"Tapi, hantunya gak muncul atau ganggu kok. Karena Kak Raisa udah buat sihir pelindung cahaya suci. Jadi, semua aman," ungkap Raihan lagi.


"Kalau begitu, udah benar-benar aman karena Raisa udah ambil tindakan lebih dulu. Gak usah khawatir dan tenang aja," ujar Pak Hilman yang percaya sepenuhnya pada Raisa.


"Benar. Rileks aja sambil berendam air panas," kata Raihan


"Iya. Rasanya nyaman," sahut Arka yang sudah melupakan tentang hantu prajurit perang karena sudah merasa nyaman berendam di dalam kolam air panas di sana.


 


Farah lebih dulu menguji suhu panas air kolam dengan merendam kedua kakinya sambil duduk di tepi kolam berbahan batu. Raina berendam sambil menjaga tubuh anaknya yang duduk di tepi kolam agar tidak terjatuh.


"Hati-hati jatuh ke belakang, Farah," pesan Bu Vani


"Iya, Nek. Aku lagi uji coba aur panasnya sambil biasain berendam dari kaki dulu," kata Farah


"Mami udah pegal, nih, jagain punggung kamu supaya gak jatuh ke belakang. Sini, masuk aja berendam di dalam kolam. Bisa sambil santai. Jangan sia-siain udah diajak berlibur ke sini sama Onty Icha dan Uncle Rumi," ujar Raina


"Iya, deh ... alu ikut berendam sama Mami dan Nenek," patuh Farah yang kemudian langsung masuk ke dalam kolam pemandian untuk berendam.


Setelah merasa cukup berendam di dalam kolam air panas, ketiganya pun beranjak ke luar dari kolam tersebut. Begitu pula dengan Pak Hilman, Raihan, dan Arka di tempat yang berbeda itu.


Mereka pun kembali mengganti balutan handuk dengan pakaian yang sebelumnya digunakan, lalu kembali menuju kamar masing-masing untuk istirahat dan tidur malam.


Raina, Farah, dan Arka menempati satu kamar yang sama. Sedangkan, Raihan, Pak Hilman, dan Bu Vani berada di dalam satu kamar pula.


Di setiap kamar sudah disediakan camilan dan teh siap seduh.


 


Raisa berendam dengan begitu santai sambil memejam kedua matanya karena Rumi juga membantunya rileks dengan memijat bahu hingga ke punggung istri cantik tercintanya itu.


"Kau pasti merasa lelah, kan? Bagaimana rasa pijatanku? Ebak tidak?" tanya Rumi


"Hmm, rasanya tubuhku sangat rileks. Terima kasih, Sayang," jawab Raisa


"Sama-sama, Sayangku," balas Rumi


Setelah selesai berendam, Raisa dan Rumi membasuh tubuh dan mengganti balutan handuk dengan pakaian sebelumnya. Setelah itu, keduanya kembali ke dalam kamar untuk istirahat dan tidur malam.


Begitu masuk ke dalam kamar, Raisa nelihat ada sepoci teh hangat dan beberapa camilan di ata meja kecil di sana.


"Ada teh seduh, aku ingin mencobanya. Katanya teh pemandian air panas itu rasanya enak," ujar Raisa


Rausa langsung duduk di dekat meja kecil tersebut dan menuangkan teh di dalam poci ke dalam cangkir yang juga sudah disediakan di sana.


"Rumi, kau juga mau? Aku akan tuangkan untukmu juga," tawar Raisa


"Ya. Aku juga ingin coba," kata Rumi


Raisa mengangguk kecil. Wanita itu pun menuangkan teh pada dua cangkir sekaligus untuk dirinya sendiri dan sang suami.


Setelah tertuang penuh, Raisa nemberikan satu cangkir untuk Rumi. Lalu, ia pun menghirup aroma teh yang harum itu sebelum meneguknya.


"Harum sekali aromanya," gumam Raisa


Raisa pun mulai menegak teh tersebut. Rasanya enak. Kehangatannya pas dan tidak terlalu panas. Tak terasa Raisa langsung meneguk tehnya hingga hampir habis di dalam cangkirnya.


Rumi pun ikut meneguk teh seduh yang dituangkan sang istri untuknya. Saat merasakan rasa teh tersebut, Rumi terhenti untuk sekadar menghirup aroma teh yang lalu ia nikmati kembali hingga tandas.


"Rasanya enak. Katanya teh di pemandian air panas itu juga bisa buat tubuh rileks," ujar Raisa

__ADS_1


"Emang benar. Dari aromanya saja sudah langsung tahu kalau teh ini membuat rileks, tapi selain itu ... teh ini juga bisa dan bagus untuk meningkat stamina," ungkap Rumi


Kalau saja teh yang diteguk Raisa tidak sedang dalam proses untuk ditelan, mungkin wanita itu sudah menyemburkan teh di dalam mulutnya. Namun, Raisa hampir saja tersedak saat mendengar ucapan Rumi.


Rumi menaruh kembali cangkir teh di atas meja kecil setelah menghabiskannya. Begitu juga dengan Raisa.


"Begitu, ya. Kau tahu banyak tentang teh, rupanya. Kalau aku tidak, kupikir teh itu semua sama saja," ujar Raisa


"Tehnya sudah habis. Sekarang sudah waktunya untuk tidur," sambung Raisa


Raisa pun dengan cepat membaringkan tubuhnya di atas kasur lantai yang sudah tersedia di dalam kamar tersebut dan langsung menyelimuti tubuhnya.


Rumi juga ikut beranjak ke atas kasur. Namun, bukannya merebahkan diri di atas kasur di samping Raisa, pria itu malah menindih tubuh sang istri tercintanya itu.


Dengan mata terbelalak, Raisa menatap tubuh gagah sang suami yang kini sedang mengukungnya.


"Ada apa? Bukankah sudah saatnya untuk kita tidur?" tanya Raisa


Dengan ragu-ragu Raisa menatap suaminya yang kini juga menatapnya dengan tatapan mata dan senyum bibir yang agak mengerikan(?).


"Kalau kita berdua langsung tudur, bukankah kita akan menyia-nyiakan manfaat teh yang sudah disediakan dan kita minum tadi?" tanya balik Rumi


Raisa terdiam sejenak.


Melihat Rumi yang langsung bersemangat setelah minum teh seduh membuat Raisa berpikir. Apa teh tersebut ditambahkan ramuan per*ngs*ng? Tapi, jika benar kenapa dirinya sendiri tidak merasakan apa pun? Atau itu hanya bereaksi terhadap pria? Namun, Raisa merasa bahwa itu tidak mungkin.


Rumi melihat sang istri yang terdiam. Namun, dirinya tidak ingin berdiam diri begitu saja. Tangannya mulai menyentuh dan meraba pinggang Raisa yang masih terhalang pakaiannya setelah pria itu menyingkap selimut yang nenutupi. Raisa langsung tersadar begitu merasakan sentuhan tangan Rumi yang membelainya dengan lembut.


"Jadi, inilah sebabnya kau mau memijatiku tadi? Karena kau ingin meminta sesuatu dariku seperti sekarang ini?" tanya Raisa


"Bukan seperti itu, tapi bukankah kau bilang ingin merasakan sensasi yang berbeda di atas kasur lipat lantai? Sekarang juga kita bisa mencobanya bersama," ujar Rumi


"Kan, sudah kubilang, maksudku bukan seperti itu," kata Raisa


"Tapi, aku menginginkannya," jujur Rumi


Raisa tersenyum manis dengan sangat lembut dan satu tangannya terulur menyentuh wajah sang suami, lalu Rumi pun mulai mendekatkan wajahnya pada wajah sang istri.


"Kalau begitu, kau tinggal mengatakannya langsung," ujar Raisa


"Aku akan senang kalau bisa merasakan pijatanmu lagi," sahut Raisa sambil terkekeh pelan


"Tapi-"


"Aku sudah memasang lingkaran sihir kedap suara," ungkap Rumi yang langsung mengerti kekhawatiran sang istri.


"Baguslah. Kalau begitu, aku akan melayanimu malam ini," ujar Raisa


Dengan wajah keduanya yang sudah sangat dekat, Rumi pun memulai aksinya dengan mencium bibir manis milik sang istri. Raisa hanya bisa pasrah dan menurut dengan menyerahkan dirinya pada sang suami.


Pasangan suami istri itu benar-benar melakukan bulan madu mereka di dalam suatu kamar tempat pemandian air panas tersebut dan melakukan aktivitas yang tak kalah panasnya.


...


Keesokan harinya.


Setelah baru bisa tertidur saat dini hari, Raisa dan Rumi sedikit bangun terlambat di pagi harinya. Keduanya pun langsung beralih untuk berendam air panas bersama.


Di kolam air panas, seperti yang sudah dikatakan semalam, Rumi menepati perkataannya dan memijat bagian belakang tubuh Raisa sambil berendam bersama. Membantu sang istri untuk mrnghilangkan rasa pegal setelah kegiatan panas semalam.


Usai berendam bersama, keduanya langsung beranjak untuk membasuh diri dengan mandi air hangat berdua di dalam satu kamar mandi yang sama di sana.


Setelah itu, keduanya kembali ke dalam kamar untuk berganti pakaian. Begitu ke luar dari dalam kamar, Raisa dan Rumi berpapasan dengan pelayan di sana.


"Nyonya, Tuan, apa Anda berdua ingin sarapan pagi di dalam kamar? Kami akan segera menyiapkannya untuk Anda berdua."


"Bagaimana dengan keluarga kami yang lain? Ada di mana dan sedang apa mereka sekarang?" tanya Raisa


"Mereka semua masih sedang sarapan di dalam ruangan yang digunakan semalam."


"Kalau begitu, kami berdua akan sarapan bersama mereka di sana saja. Tolong bawakan saja makanan tambahan untuk kami berdua," ujar Raisa


"Baiklah. Akan segera kami bawakan."


"Mohon bantuannya. Kami akan menunggu di dalam ruangan semalam," kata Raisa

__ADS_1


Keduanya pun beranjak bersama menuju ke ruangan yang digunakan semalam. Keduanya berjalan berdampingan dengan Rumi yang merangkul pinggang Raisa dengan mesra.


"Apa kau masih merasa pegal dan lelah, Sayang?" tanya Rumi


"Tidak, aku sudah mulai terbiasa. Lagi pula kau sudah memijatku tadi," jawab Raisa


"Terima kasih, ya, Sayang ... " sambung Raisa


"Harusnya aku yang berterima kasih padamu. Karena kau selalu bersedia memenuhi keinginanku," ucap Rumi


"Itu sudah menjadi tugas dan kewajibanku, Sayang," kata Raisa


Keduanya pun masuk ke dalam ruangan yang digunakan semalam. Di dalam sana, ada keluarga Raisa yang masih sedang sarapan bersama.


"Selamat pagi, semuanya ... " salam Rumi menyapa semua yang ada di sana.


"Onty Icha, Uncle Rumi!" seru Farah


"Halo, Sayang ... " sapa Raisa


"Ciie ... yang telat bangun berdua," sindir Raihan


Raisa dan Rumi beranjak duduk dan keduanya hanya tersenyum kecil menanggapi sindiran dari Raihan.


Saat itu, dua orang pelayan pun masuk ke dalam ruangan tersebut untuk mengantarkan menu sarapan pagi tambahan untuk Raisa dan Rumi setelah mengetuk pintu.


Setelah Raisa dan Rumi masuk ke dalam ruangan tersebut, barulah terasa lengkap formasi mereka semua. Mereka semua pun berbincang bersama meski pun akhirnya hanya tersisa Raisa dan Rumi yang sarapan di sana karena yang lain sudah lebih dulu menyelesaikan sarapan.


"Raisa, setelah ini kita akan pulang, kan?" tanya Pak Hilman


"Iya, Pak. Setelah agak siangan nanti, kita akan jalan-jalan lagi ... wisata kuliner keliling Desa Daun juga boleh," jawab Raisa


"Emangnya gak apa-apa? Apa kami semua gak ganggu kalian berdua? Ini waktunya kalian nikmatin saat bulan madu berdua, kan?" tanya Bu Vani


"Iya. Saat kami semua datang ke sini sebelum hari acara pernikahan kedua kalian, bukannya kalian juga baru aja balik dari misi? Pasti kalian berdua belum ada waktu buat berbulan madu, kan?" tanya Raina


Raisa yang bingung harus merespon dannmemberi jawaban seperti apa pun hanya bisa menatap ke arah Rumi untuk meminta bantuan agar sang suami yang menjawab pertanyaan dari ibu dan kakaknya.


"Tidak apa. Jarang sekali kita punya waktu untuk berlibur bersama. Untuk masalah bulan madu, kami berdua masih punya banyak waktu untuk melakukannya lain kali," jawab Rumi


"Kalau Rumi sudah bilang seperti itu, berarti memang tidak apa. Lagi pula, sudah lama sekali kalian belum pernah datang ke sini, jadi harus jalan-jalan dan lihat-lihat sekitar dong," ujar Raisa


Usai sarapan, mereka pun bersiap untuk meninggalkan pemandian air panas tersebut. Raisa dan Rumi pun menuju ke meja kasir untuk melakukan transaksi pembayaran. Sedangkan yang lain hanya menunggu sambil duduk tak jauh dari sana.


Salah satu pelayan di meja kasir pun memberikan tagihan yang harus dibayar oleh dan pada Raisa dan Rumi.


"Apa benar kami hanya perlu membayar membayar sejumlah ini?" tanya Raisa setelah melihat tagihan dengan nominal yang terbilang sedikit pada lembaran tagihan padahal yang datang ke sana bukanlah dirinya seorang diri bersama Rumi saja, tapi bersama keluarganya juga.


"Benar. Karena selain menggunakan voucher potongan harga, Anda juga telah memakai pakai promosi bulan madu dan keluarga di sini, jadi tagihan Anda mendapat potongan harga tambahan."


"Biar aku saja yang membayarnya," kata Rumi saat melihat dan menahan Raisa yang sedang merogoh koceknya.


"Terima kasih. Selamat datang kembali di lain waktu dan sekali lagi selamat atas pernikahan Anda berdua."


"Terima kasih kembali atas pelayanannya untuk kami semua," ucap Rumi


"Terima kasih, ya, Sayang," ucap Raisa setelah Rumi melakukan transaksi pembayaran.


"Kembali kasih, Sayangku," balas Rumi yang langsung kembali merengkuh pinggang Raisa.


Keduanya pun menghampiri yang lainnya yang sedang menunggu tak jauh dari sana.


"Onty Icha, Uncle Rumi, kita langsung pulang, ya?" tanya Farah


"Iya, Sayang. Kita istirahat di rumah dulu sebentar karena agak siangan nanti kita jalan-jalan lagi," jawab Raisa


Rumi hanya mengangguk menanggapi pertanyaan dari Farah yang sudah dijawab oleh Raisa.


Mereka pun melangkah pergi meninggalkan Pemandian Air Panas Z dan kembali menuju ke rumah.


.



Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2