Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
116 - Kuda Yang Mengamuk!


__ADS_3

Melihat ada salah satu kuda yang mengamuk membuat Raisa tak bisa tinggal diam dan meninggalkannya begitu saja kembali menuju ke peternakan. Kuda yang mengamuk itu masih membawa teman Raisa di atasnya, yaitu Sandra.


Raisa pun bergerak turun dari atas punggung kuda...


"Neng Raisa, mau ke mana?" Tanya Pak Wisnu


"Saya gak bisa diam aja, saya mau bantu teman saya dan juga kudanya." Jawab Raisa


"Jangan, Neng. Bisa bahaya!" Larang Pak Wisnu


"Saya tahu ini bahaya, maka dari itu saya harus menolong teman saya. Karena teman saya bukan dari sini, saya yang bertanggung jawab atas liburan mereka di sini. Saya gak bisa membiarkannya dalam bahaya apa lagi kalau sampai terluka. Kalau salah bertindak, para warga juga akan terluka." Ucap Raisa


"Itu dia bahayanya! Gimana kalau kudanya balik menyerang Neng Raisa?" Ujar Pak Wisnu ikut merasa khawatir.


"Gak masalah, Pak. Saya percaya bisa menanganinya." Tekad Raisa dengan senyuman lembutnya.


Raisa pun memeluk leher kuda pilihannya untuk menenangkannya karena juga ikut merasa cemas agar tidak berubah menjadi panik.


"Putri, kau mengerti ucapanku kan? Menurutlah, ya. Dengar baik-baik! Kau harus tetap tenang karena semuanya akan baik-baik saja, buatlah teman-temanmu juga merasa tenang. Dan apa pun yang terjadi menurutlah pada kata-kata Pak Wisnu. Jika diperlukan untuk pergi, maka pergilah dan tetap ikuti Pak Wisnu dan yang lainnya juga..." Tutur Raisa sambil mengelus tubuh kuda pilihannya itu. Seolah sedang bicara dari hati ke hati.


"Pak Wisnu, titip si Putri ya! Kalau harus pergi, tinggalkan saja saya di sini. Yang lainnya juga harus ikuti kata Pak Wisnu ya...!" Kata Raisa sedikit berteriak karena berangsur pergi dan berlari menuju ke arah keributan kuda yang mengamuk itu.


"Raisa!!" Seru teman-teman lain yang ikut merasa khawatir. Namun, Raisa tak menghiraukan seruan temannya yang memanggil namanya.


"Aduh, Neng Raisa! Sudahlah... Yang lain, kita kembali ke peternakan dulu. Ayo, jalan!" Ujar Pak Wisnu


Sementara yang lain kembali menuju peternakan, Raisa pun menghadapi kuda yang mengamuk itu...


"Sandra, kau tidak apa? Cukup lama kau bertahan, bagus! Tetaplah seperti itu!" Ujar Raisa


"Aku harus tetap bertahan supaya tetap baik-baik saja, kan... Kenapa kau ke sini, Raisa? Ini berbahaya!" Ucap Sandra dari atas kuda yang terus mengamuk itu.


"Justru karena bahaya, aku ke sini. Aku tak bisa meninggalkanmu yang berada dalam bahaya begitu saja!" Kata Raisa


Kuda yang mengamuk itu terus berlompatan ke sana ke mari. Menendang dan mengarahkan kakinya ke segala arah, untunglah semua orang sudah menjauh.


"Jangan ke sini, Neng!" Kecam seorang warga.


"Yang ada di atas kuda itu teman saya, Pak." Keukeuh Raisa


"Biar kami yang urus, Neng jangan maju lagi!" Katanya


Raisa tak mengindahkan peringatan orang itu dan terus bergerak maju untuk mendekat.


"Sandra, tak bisakah kau tenangkan kudamu?" Tanya Raisa


"Tidak bisa! Dia sudah terlanjur panik, sudah tidak mendengar kataku lagi." Jawab Sandra


"Carilah cara untuk melompat turun dari atas sana dengan aman dan selamat. Bagaimana pun caranya!" Kata Raisa


"Baiklah!" Patuh Sandra


Kalau diteruskan lebih lama berada di atas kuda, akan terus berlarut dalam bahaya. Raisa pun meminta Sandra untuk melompat turun. Sandra adalah orang yang mengerti sihir bertarung. Semua kemampuannya pasti juga meliputi ilmu bela diri. Hanya untuk melompat dari sedikit ketinggian, tentu tidak akan jadi masalah untuknya.


TAP!


Sandra pun melompat turun dari kuda dengan pendaratan yang aman dan selamat.


Raisa pun langsung menghampiri Sandra...


"Sandra, kau baik-baik saja kan?" Tanya Raisa


"Iya, tapi bagaimana dengan kudanya?" Kata Sandra


"Aku yang akan mengurusnya. Menjauhlah dulu dari sini. Pak, tolong bantu teman saya ini. Dia pasti syok." Ujar Raisa


Beberapa warga pun membantu memapah tubuh Sandra untuk berdiri. Baru beranjak beberapa langkah, kuda yang mengamuk itu berlarian menuju Sandra dengan hilang kendali.


"Menjauhlah, cepat!" Dengan gerakan cepat Raisa pun menghalangi Sandra dan warga lain yang sedang berusaha menjauh dengan tubuhnya sendiri.


Sandra dibantu warga pun dengan langkah cepat menjauh dari sana...


Raisa membuat pagar perlindungan bagi orang lain menggunakan tubuhnya sendiri. Berdiri dan merentangkan kedua tangannya... Kuda yang sedang mengamuk itu terkejut sampai melengking berdiri menggunakan kedua kaki belakangnya.


"Hei, kuda... Tenanglah! Kuda baik, tenang ya... Takkan ada yang ingin menyakitimu. Menurut dan tenanglah~" Raisa berbicara dengan fokus menatap mata kuda yang mengamuk itu.


Awalnya, kuda tersebut masih saja melompat-lompat dengan panik. Namun, Raisa berusaha terus mendekat dan mengulurkan kedua tangannya untuk meraih tali kendali kuda tersebut. Setelah meraih tali kendali, Raisa pun mencoba menggapai dan mengusap pelan kepala kuda tersebut untuk lebih menenangkannya.


"Kuda baik, tenanglah... Sudah tidak apa-apa. Semua akan baik-baik saja, aku ada di sini dan tidak akan melukaimu. Kau sudah aman." Ujar Raisa


Kuda tersebut pun sudah mulai kembali tenang berada di dalam buaian dan dekapan Raisa.


"Kuda pintar!" Gumam Raisa memuji kuda yang berangsur menjadi tenang.

__ADS_1


---


Setengah perjalanan sudah ditempuh dan hampir sampai kembali di peternakan. Namun, Rumi tiba-tiba saja menghentikan laju kudanya dan turun dari punggung Ellena.


"Rumi, kenapa berhenti? Kau mau ke mana?" Tanya Morgan


"Aku akan kembali untuk membantu Raisa." Jawab Rumi


"Ellena, dengarlah... Kembalilah dengan mengikuti rombongan Tuan Wisnu. Jadilah kuda yang baik dan penurut. Aku akan pergi!" Tutur Rumi berpesan.


Setelah berpesan pada kuda putih pilihannya, Rumi pun pergi dengan berlari cepat kembali pada lokasi keributan tadi...


"Aduh... Dasar, anak muda! Yang lainnya, terus berjalan! Kita sudah hampir sampai di peternakan..." Ujar Pak Wisnu


Awalnya, Rumi ingin menuruti kata Raisa yang menginginkannya kembali ke peternakan bersama yang lainnya. Namun, ia tak bisa menahan rasa khawatirnya saat suara teriakan kuda sampai terdengar olehnya yang sudah pergi cukup jauh dari tempat kejadian tadi. Rumi pun tak bisa mengabaikan rasa khawatirnya dan beranjak kembali menemui Raisa untuk membantu.


Saat sampai di lokasi kejadian, dilihatnya Raisa yang sedang memeluk kuda yang tadi mengamuk yang keadaannya sudah kembali menjadi tenang.


"Pak, tolong bawa kudanya juga menjauh dari sini." Pinta Raisa


Seorang warga pun membantu menggiring kudanya menjauh...


"Satu masalah selesai, tinggal satu masalah lagi!" Kata para warga yang masih tersisa berada di sana.


"Awas, Neng.! Itu, ular!"


Raisa pun berbalik dan melihat ada seekor ular yang tersesat yang sedang berusaha diamankan warga karena mengamuk.


"Jadi, ini penyebab kuda tadi jadi panik. Karena dia merasa terancam saat melihat ada ular." Tebak Raisa yang seratus persen tepat.


Raisa pun lagi-lagi mencoba menenangkan ular tersebut.


"Hati-hati, Raisa!" Teriak Rumi dari kejauhan.


Rumi pun berlarian menghampiri Raisa...


"Rumi, kenapa kau kembali ke sini?" Tanya Raisa


"Aku khawatir denganmu." Jawab Rumi


"Amukan ular itu yang membuat kuda tunggang Sandra menjadi panik tadi." Ungkap Raisa


"Aku mengerti. Kalau begitu, aku yang akan mengurusnya. Kau tidak apa-apa kan, Raisa?" Ujar Rumi


"Baik, aku mau pun Sandra baik-baik saja. Kudanya pun sudah kembali tenang sekarang. Berhati-hatilah, jangan sampai kemampuan spesialmu terungkap di depan banyak orang seperti di sini, Rumi." Ucap Raisa


"Sebenarnya, bagaimana bisa ular ini muncul di sini, Pak?" Tanya Raisa pada warga yang masih berjaga untuk mengamankan ular tersebut.


"Cuaca di desa sekitar sini lagi gak menentu, Neng. Kadang kering, kadang banjir... Mungkin itu sebabnya, ular ini lagi cari tempat tinggal baru untuk cari makan." Jelasnya


"Kau bisa menanganinya, Rumi? Jangan sampai keistimewaanmu terungkap. Atau aku saja yang turun tangan?" Ujar Raisa berbisik pada Rumi.


"Aku lebih mengerti tentang yang satu ini. Kau menjauh saja, dia sangat agresif!" Kata Rumi


Raisa tahu, Rumi adalah pemilik sihir dengan ciri khas ular. Mungkin hal seperti ini pun bisa Rumi tangani dengan mudah. Namun, Raisa takut identitas spesial Rumi terungkap saat terpaksa menggunakan sihir ularnya. Raisa pun tetap mendampingi Rumi di sebelahnya untuk membantu mengamankan ular tersebut dengan sedikit berjaga-jaga.


"Kita mau bagaimana menangani ular ini? Kenapa gak panggil pemadam kebakaran saja?" Tanya Raisa


"Pemadam kebakaran sudah dipanggil, Neng. Tapi, karena akses jalan desa kurang memadai untuk mobil berukuran besar mungkin perjalanannya sedikit terhambat. Sementara ini, kami ingin memasukkan ular ini ke dalam karung dulu untuk diamankan." Ungkapnya


"Karungnya sudah dipersiapkan?" Tanya Raisa


"Ada, Neng. Ini!" Jawabnya menunjukkan sebuah karung goni berukuran besar karena ularnya pun adalah ular jenis sanca piton berukuran lumayan besar dan panjang sampai dua meter.


"Berikan pada saya saja karungnya, Pak." Pinta Raisa


"Tapi, Neng..."


"Tidak apa-apa." Kata Raisa


Karung pun diserahkan pada Raisa.


"Masukkan ular itu ke dalam sini untuk diamankan. Apa kau bisa?" Ujar Raisa


Rumi mengangguk...


Setelah beberapa saat menghadapi ular tersebut, Rumi pun dengan berani dan mudahnya meraih leher dekat kepala ular itu untuk dicengkram agar tidak mudah lepas. Berada digenggaman tangan Rumi, ular itu menjadi tenang. Setelah bagian kepala ular tersebut berhasil dimasukkan ke dalam karung, bagian tubuh lainnya bergerak masuk sendiri ke dalam karung tanpa paksaan atau aksi penolakan seperti memberontak. Sepertinya, ular itu mengenali Rumi sebagai temannya melalui sedikit sihir yang dipancarkan...


Dengan Raisa yang memegangi karung tersebut, ia memberikan karung tersebut pada warga lain untuk diikatkan tali.


"Sudah selesai!" Kata Raisa


"Ularnya nurut ya, kayak pasrah gitu."

__ADS_1


"Di rumah saya di luar negeri, Ayah saya pelihara banyak ular. Ular tadi sudah seperti teman main saya di rumah." Dusta Rumi mengalihkan rasa penasaran para warga yang melihat.


"Benar! Makanya, saya biarkan teman saya ini yang menangani ularnya. Hal seperti tadi sudah biasa dia alami." Raisa hanya mampu mengiyakan ungkapan dusta seorang Rumi untuk mencari aman.


"Oh, pantas aja kalau begitu mah!"


"Lain kali, tolong kalau ada kejadian serupa jangan sampai jadi bahan tontonan karena bisa jadi bahaya." Ucap Raisa yang tahu adanya banyak kerumunan warga di tempat kejadian pssti karena ingin menonton aksi pengamanan ular sanca tadi.


"Kami semua di sini untuk bantu amankan ular tadi, Neng. Karena gak mungkin cukup dengan sedikit orang saat menangani ular sepanjang dan sebesar tadi." Alih-alih mengaku, warga lainnya malah mengelak dengan membuat alasan sebagai penyangkal.


"Iya juga sih, tapi tolong tetap hati-hati dan jangan terlalu ramai juga karena bisa jadi ularnya semakin merasa terancam dengan keramaian orang seperti ini." Ujar Raisa yang berusaha memihak warga namun tetap mewanti-wanti mereka karena tahu pembenaran tadi hanyalah alasan belaka.


"Iya, Neng." Katanya


"Terima kasih sudah datang membantuku ya, Rumi." Ucap Raisa


"Ini sudah seharusnya dan aku senang melihatmu baik-baik saja." Kata Rumi


"Kalau begitu, kami serahkan ular yang sudah diamankan tadi pada Bapak-Bapak di sini ya. Kami harus kembali membawa teman kami." Ujar Raisa


"Terima kasih sudah bantu kami, Neng, Den." Ucapnya


"Tidak masalah, Pak. Kita semua ada di sini kan untuk saling membantu." Kata Raisa


"Kami permisi dulu, semuanya..." Pamit Rumi


Raisa dan Rumi pun menghampiri Sandra dan kuda tunggangnya tadi di sisi jalan yang berjarak dengan tempat kejadian tadi.


"Sandra, kau baik-baik saja kan?" Tanya Raisa


"Hmm, aku tidak apa-apa. Terima kasih sudah datang membantuku, Raisa." Ujar Sandra. Raisa pun mengangguk untuk membalas ucapan terima kasihnya.


"Kenapa kau tidak bilang kalau ada ular di depan saat berkuda tadi? Kau pasti sudah melihatnya kan?" Tanya Rumi


"Kalau aku beri tahu, takutnya teman yang lain dan kuda yang lainnya pun ikut panik." Jawab Sandra


"Tindakanmu sudah benar, tapi kau harus menanggung ini sendirian. Kau benar tidak apa-apa setelah kuminta kau lompat turun dari kuda tadi?" Ujar Raisa


"Tidak usah berlebihan, Raisa. Aku bukan tipe orang yang lemah karena hal seperti ini." Kata Sandra


"Ya, syukurlah. Bagus, kalau begitu..." Lega Raisa


Raisa pun beralih mendekati kuda tunggang pilihan Sandra yang juga sempat mengamuk tadi. Raisa mengusap lembut kepala kuda tersebut...


"Bagaimana dengan keadaanmu? Kau baik-baik saja, bukan? Kuda pintar! Terima kasih sudah mau menuruti kataku untuk tenang tadi..." Gumam Raisa mengajak kuda tersebut bicara.


Kuda tersebut pun menelisik masuk ke dalam pelukan kedua tangan Raisa. Saat itu, Kang Arif datang setelah berlarian dari peternakan untuk memastikan kondisi Raisa dan teman-teman juga kuda dari peternakan tempatnya bekerja.


"Neng Raisa, gimana? Semuanya baik-baik aja?" Tanya Kang Arif yang datang atas perintah Pak Wisnu sebagai bosnya.


"Semuanya baik, Kang. Kudanya dan teman saya juga baik-baik aja." Jawab Raisa


"Neng Raisa, kelihatan dekat sama kuda ini juga. Kok bisa sih, kayaknya semua kuda tuh nurut sama kata-kata si Eneng?" Heran Kang Arif yang melihat kuda pilihan Sandra sedang berada dalam pelukan Raisa dengan tenang.


"Gak ada yang spesial kok, Kang. Mungkin semua kudanya bisa merasakan kalau saya orangnya sangat bersahabat dengan semua makhluk hidup." Ucap Raisa


"Neng Sandra, gak apa? Den Rumi, juga? Pak Wisnu khawatir, Den Rumi juga tiba-tiba pergi nyusul Neng Raisa." Ujar Kang Arif


"Saya mohon maaf kalau sudah membuat khawatir." Kata Rumi


"Saya tidak apa, Kang. Raisa dan Rumi datang untuk menolong saya." Jawab Sandra menjawab pertanyaan Kang Arif. Sandra mengikuti Raisa yang memanggil Kang Arif dengan sebutan 'Akang'.


"Kalau semua baik-baik aja, ayo! Kita balik ke peternakan. Semua udah pada nunggu di sana... Pak Wisnu gak bisa ikut jemput ke sini, karena harus periksa kondisi semua kuda takutnya ada gejala stress karena syok setelah kejadian tadi." Ucap Kang Arif


"Sandra, bagaimana denganmu? Apa kau ingin langsung kembali ke vila saja?" Tanya Raisa


"Aku sungguh baik-baik saja. Aku ikut dengan kalian saja." Jawab Sandra


"Benarkah? Apa aku harus menggendong atau memapah tubuhmu?" Tanya Raisa lagi.


"Jika, diperlukan seperti itu biarkan aku saja yang menggendong Sandra." Kata Rumi


"Aku akan marah padamu jika kau menganggapku lemah lagi, Raisa! Aku bisa jalan sendiri!" Tegas Sandra


"Baiklah, aku takkan begitu lagi. Aku juga tahu kau itu gadis yang kuat, aku kan hanya khawatir pada temanku. Rumi, kalau kau juga khawatir boleh saja jika kau yang menggendong Sandra. Itu pun kalau kau tidak masalah menggendong seorang gadis..." Ucap Raisa


"Tidak perlu! Aku jalan sendiri! Ayo, Kang Arif! Kita kembali ke perternakan." Ujar Sandra


Mereka berempat pun kembali menuju ke peternakan dengan berjalan kaki. Berjaga-jaga dengan kondisi kuda yang takutnya masih merasa syok, lagi pula tidak mungkin saru kuda mengangkut empat orang sekaligus tanpa perantara karena Kang Arif pun tidak membawa kembali serta kuda tunggangnya saat menjemput mereka bertiga.


"Aku mengerti Sandra sedang kesal karena merasa Raisa menganggapnya lemah padahal Raisa hanya khawatir padanya. Tapi, kenapa Raisa juga terlihat sedang kesal? Apa dia cemburu saat aku bilang akan menggantikannya menggendong Sandra jika itu diperlukan? Padahal aku bilang begitu karena aku sendiri khawatir Raisa kelelahan jika harus menggendong Sandra. Jika benar Raisa cemburu, kenapa aku merasa senang ya? Apa itu artinya aku tahu jika dia mencintaiku? Sampai tidak rela aku menggendong gadis lain... Raisa, kau manis sekali!" Batin Rumi yang lalu tersenyum senang.


.

__ADS_1



Bersambung...


__ADS_2