Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
[Season 2] 140 - Bukan Hal yang Mudah.


__ADS_3

Raisa pun duduk di hadapan sang suami di atas ranjang.


Rumi merasa khawatir saat melihat sang istri ke luar dari dalam kamar mandi dengan wajah yang seperti habis menangis dan mata yang agak memerah.


"Katakan saja dengan jujur jika memang masih sakit. Aku juga pernah belajar sedikit ilmu sihir medis dari ayahku, apa kau ingin aku memeriksamu? Atau kau perlu ke rumah sakit?" tanya Rumi


Lagi-lagi, Raisa menggeleng pelan. Kali ini sambil menunduk dalam. Rumi sungguh khawatir melihat istrinya yang seperti saat ini. Apa lagi, pria itu juga mendengar suara isak tangis yang berusaha ditahan oleh sang istri.


"Raisa, Sayang ... " panggil Rumi dengan lembut.


"Maaf, Sayang ... ternyata, aku sedang datang bulan," kata Raisa yang terdengar begitu lirih.


Rumi dapat mendengarnya meski suara istrinya terdengar sangat lirih. Ternyata, rasa khawatirnya berbeda dengan sang istri. Rumi mengira sang istri sedang menyembunyikan rasa sakit dari suatu penyakit yang mungkin berbahaya. Pria itu bersyukur tidak terjadi hal yang serius pada sang istri tercinta. Namun, sepertinya Raisa merasa sangat khawatir dengan kondisinya saat ini yang membuatnya tidak bisa melayani sang suami.


Rumi langsung menarik sang istri ke dalam pelukannya, lalu membelai rambut dan kepala istri cantiknya dengan lembut untuk menenangkan sang istri.


"Kukira kenapa ... sudah, tidak apa kok. Kau tidak perlu sedih. Apa rasanya sangat sakit? Apa perlu aku pijat perutmu agar rasa sakitnya mereda?" tanya Rumi


"Tidak. Aku hanya tidak enak denganmu. Padahal sampai sebelum berganti pakaian tadi, sudah kupastikan kalau siklus bulan merahku belum datang, tapi mendadak saja tamu bulananku itu datang," jelas Raisa


"Kan, sudah kubilang, aku tidak apa. Tidak masalah. Hal seperti ini memang terkadang terjadi secara tiba-tiba. Memang sudah wajar terjadi," ujar Rumi


Rumi memang dapat memakluminya, tapi Raisa jadi merasa kesal sendiri. Padahal wanita itu juga sudah menanti dan menginginkan malam bersama suaminya. Namun, siklus kewanitaannya sendirilah yang mengganggu.


Jadi, ini jugalah penyebab dari sikap dan suasana hati Raisa jadi mudah berubah-ubah. Itu karena wanita itu sedang ingin datang bulan.


Penyebabnya memang fifty-fifty antara Raisa sedang hamil atau malah ingin datang bulan. Dan penyebabnya malah yang kedua. Raisa menjadi merasa kesal karena itu terjadi secara tiba-tiba


"Artinya kita masih belum bisa cepat punya anak, ya?" tanya Rumi sambil bergumam.


"Kau ingin cepat punya anak, ya? Maaf, aku tidak bisa memenuhi harapanmu itu," ujar Raisa yang merasa menyesal dan tidak enak.


"Maaf, Sayang. Maksudku bukan ingin menuntutmu untuk cepat mengandung anak kita. Lagi pula, bukan tidak bisa, tapi hanya belum saatnya saja. Kita masih bisa berusaha lagi nanti," ucap Rumi


Raisa mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah sang suami. Namun, hanya sebentar dan langsung menyembunyikan wajahnya lagi pada dada sang suami.


Masih dalam posisi memeluk sang istri, Rumi pun merebahkan tubuhnya dan tubuh sang istri untuk berbaring bersama.


"Sudah. Lebih baik sekarang kita tidur saja. Jangan menangis," kata Rumi


Raisa terlihat menahan tangis, terbukti dengan air mata yang menggenang di pelupuk kedua matanya.


"Tapi, rasanya aku sangat kesal dan ingin menangis saja," keluh Raisa


"Jangan dong. Bagaimana caranya agar kau tidak merasa kesal lagi dan tidak menangis? Kau mau apa, Sayangku?" tanya Rumi


"Aku ingin kau cium aku," jawab Raisa sambil menatap ke arah sang suami dengan tatapan memohon dengan penuh harap.


"Dengan senang hati. Dijamin kau pasti suka dengan ciumanku," kata Rumi sambil tersenyum.


Raisa mengangguk kecil.


Rumi pun bergerak maju mendekat ke arah sang istri dan mencium bibir manis itu.


Keduanya saling memejamkan mata untuk menikmati ciuman masing-masing. Keduanya saling menyalurkan cinta dan menciptakan rasa puas meski hanya melalui ciuman.


Saat Rumi berusaha memperdalam ciumannya, Raisa pun membalas ciuman tersebut. Lidah Rumi berusaha menelesak masuk ke dalam rongga mulut sang istri dan Raisa langsung memberi akses masuk dengan membuka rongga mulutnya.


Lidah keduanya saling mengecap, membelit, dan menari bersama, serta nengabsen isi mulut satu sama lain. Tak lupa keduanya juga saling membagi nafas masing-masing. Saat keduanya merasa telah kehabisan pasokan oksigen, keduanya pun saling menarik diri dan melepas ciuman masing-masing.


Rumi pun mengusap bibir sang istri yang basah karena ulahnya. Setelah itu, Raisa pun kembali masuk ke dalam dekapan sang suami dan kini wanita itu menyembunyikan wajahnya pada leher suami tampannya.


"Bagaimana? Apa kau merasa senang, suka, dan puas dengan ciumanku?" tanya Rumi


"Hmm ... " Raisa hanya berdeham pelan sambil mengangguk kecil di dalam dekapan sang suami.


Berada sangat dekat dengan leher sang suami, dengan jahilnya Raisa memberi kecupan pelan, jilatan, bahkan gigitan kecil pada leher sang suami untuk menggoda suami tampannya itu. Hingga terdengar l*nguh*n kecil yang lolos ke luar dari mulut Rumi.


"Raisa, Sayang ... jangan menggodaku seperti ini. Bisa-bisa aku tidak bisa menahan diri. Sekarang kita tidak bisa melakukannya," ucap Rumi yang seolah terdengar seperti rintihan nikmat dari bibir dan mulutnya.


Raisa bergeming. Wanita itu tetap saja melancarkan aksi jahilnya dengan memberikan sentuhan menggoda pada lekuk leher milik sang suami menggunakan bibir, lidah, dan mulutnya.


Rumi bahkan mendongakkan kepalanya saking merasa nikmat dengan sentuhan yang diberikan oleh sang istri. Sebenarnya pria itu menikmatinya. Namun, dirinya harus menahan diri karena bagaimana pun juga tidak bisa melakukan bersama sang istri karena istri cantiknya itu sedang berhalangan karena kedatangan tamu bulanan.


"Ohh~ Sa-sayang, hhh ... hentikan," racau Rumi meminta.


"Baiklah-baiklah. Hehehe ... " Raisa terkekeh kecil saat menghentikan aksi jahilnya.


Raisa berakhir dengan mengecup singkat pipi kiri sang suami, lalu tersenyum manis.


"Kau ini ... jika saja tidak ada halangan, pasti aku sudah langsung melahapmu," ujar Rumi dengan wajahnya yang masih merona merah akibat rangsangan yang diberikan lewat sentuhan sensual oleh sang istri tadi.

__ADS_1


"Sebenarnya, aku juga sangat menantikannya," ungkap Raisa sambil mengedipkan sebelah matanya dengan nakal bermaksud menggoda sang suami.


"Benar-benar, deh ... aku telah dikalahkan oleh pesona kecantikanmu," kata Rumi


Raisa terkekeh kecil hingga mampu membuat sang suami semakin terpesona olehnya.


"Aku sudah memberi ciuman untukmu, lalu mana hadiah untukku?" tanya Rumi


"Memangnya apa yang kau inginkan?" tanya balik Raisa


"Kalau kau merasa harus memberi sesuatu untukku, maka bernyanyilah. Aku ingin mendengar suara indah nan merdu milikmu lagi. Tapi, kali ini jangan nyanyikan lagu sedih lagi seperti saat terakhir kau bernyanyi untukku di Desa Daun," pinta Rumi


"Baiklah. Kali ini aku akan bernyanyi lagu yang spesial untukmu," kata Raisa sambil tersenyum.


Raisa pun mulai bernyanyi.


Kau begitu sempurna, di mataku kau begitu indah


Kau membuat diriku akan s'lalu memujamu


Di setiap langkahku, ku 'kan s'lalu memikirkan diri mu


Tak bisa kubayangkan hidupku tanpa cintamu


Janganlah kau tinggalkan diriku


Tak 'kan mampu menghadapi semua


Hanya bersamamu kuakan bisa


Kau adalah darahku


Kau adalah jantungku


Kau adalah hidupku, lengkapi diriku


Oh sayangku kau begitu


Sempurna, sempurna


Kau genggam tanganku, saat diriku lemah dan terjatuh


Janganlah kau tinggalkan diriku


Tak 'kan mampu menghadapi semua


Hanya bersamamu kuakan bisa


Kau adalah darahku


Kau adalah jantungku


Kau adalah hidupku, lengkapi diriku


Oh sayangku kau begitu


Sempurna, sempurna~


Seperti itulah sekiranya lirik lagu yang dinyanyikan oleh Raisa yang berjudul Sempurna.


Raisa bernyanyi sambil meletakkan kepalanya di atas lengan sang suami yang dijadikan sebagai bantalan tidur untuknya. Satu tangan wanita itu bergerak menepuk-nepuk pelan dan sesekali mengusap dada sang suami seolah sedang menina-bobokan suami tampannya itu.


Namun, Rumi malah menyusupkan satu tangannya ke balik pakaian Raisa. Bukan untuk menggoda istrinya melainkan memberikan pijatan kecil nan lembut pada perut sang istri. Ini memang terkadang dilakukannya saat sang istri sedang datang bulan untuk meredakan rasa sakit yang dirasakan sang istri pada periode siklus bulanannya.


Rumi memijat perut Raisa hingga lagu yang dinyanyikan untuknya berakhir. Padahal kedua mata pria itu terpejam saat menikmati suara merdu nan indah sang istri yang sedang bernyanyi. Namun, tangannya terus saja melakukan pijatan pada perut sang istri. Sungguh perhatian dan romantis.


"Seperti biasa, suaramu selalu terdengar merdu dan indah. Terima kasih, Sayang," ucap Rumi


"Harusnya aku yang bilang seperti itu karena kau sudah mau melakukan pijatan perut untukku. Terima kasih, Sayangku," sahut Raisa


Rumi tersenyum sambil membelai lembut rambut sang istri. Lalu, tangannya beralih menepuk dada miliknya sendiri seolah menyuruh sang istri berbaring di atas dada miliknya itu.


"Katanya, kau ingin coba merasakan tidur sambil membaringkan kepalamu di atas dadaku? Ayo, sini ... " tawar Rumi


"Baiklah," kata Raisa dengan patuh.


Karena Rumi sendiri yang menawarkan padanya, Raisa pun tidak sungkan lagi. Wanita itu langsung bergerak untuk membaringkan kepalanya di atas dada milik sang suami.


Rumi langsung memeluk dan membelai punggung sang istri yang berada dan berbaring di atas tubuhnya dengan lembut dan mesra.


"Raisa, Sayang ... kau tahu, kan, kalau aku ini mencintaimu?" tanya Rumi

__ADS_1


"Ya, aku tahu dan aku juga sangat mencintaimu," jawab Raisa


"Karena itu jangan sesekali kau merasa tidak enak atau bersalah denganku hanya karena tidak bisa melakukannya. Lagi pula, kan, ini memang karena kau berhalangan dan aku menikah denganmu bukan hanya untuk melakukan itu saja, tapi karena memang aku mencintaimu dan ingin kau ada bersama dan mendampingiku hingga selama-lamanya. Kau juga boleh menolakku jika kau memang tidak bersedia kok," ujar Rumi


"Meski begitu, tetap saja ... maafkan aku," kata Raisa


"Tidak apa, Sayang. Tidak masalah kok," sahut Rumi


"Jangan pikirkan itu lagi. Dan lebih baik sekarang kita tidur saja. Pejamkan matamu," sambung Rumi


"Hmm ... baiklah," patuh Raisa


Raisa pun mulai memejamkan kedua matanya, begitu juga dengan Rumi.


Kali ini, Rumi-lah yang menina-bobokan Raisa dengan cara terus mengusap punggung sang istri dengan sangat lembut dan penuh cinta kasih.


Keduanya pun akhirnya tertidur dengan posisi kepala Raisa berbaring di atas dada milik Rumi.


•••


Keesokan harinya.


Di pagi hari, Raisa terbangun masih dalam posisi kepalanya berada di atas dada milik sang suami. Karena khawatir membangunkan tidur sang suami, wanita itu bergerak perlahan mulai dari kakinya. Namun, salah satu kakinya itu malah tak sengaja menyenggol kaki sang suami hinga mengusik tidur pria tampan itu.


Dengan perlahan juga, Raisa mengangkat kepalanya dari dada milik sang suami. Dilihatnya, sang suami yang mulai berusaha membuka kedua mata sambil sesekali dikerjapkan.


Saat kedua mata sang suami terbuka dan bersitatap dengan sepasang mata miliknya, pria itu tersenyum tipis.


"Selamat pagi, Sayang!" seru Rumi


"Selamat pagi. Maaf, aku jadi membangunkan tidurmu," ujar Raisa


"Tidak apa. Aku bersyukur saat aku membuka mata, hal yang pertama kali kulihat adalah wajah istriku yang cantik," ucap Rumi


"Kau bisa saja," kata Raisa


Sebelum beralih dari atas dada milik sang suami, Raisa lebih dulu menggunakan kemampuan sihirnya untuk melancarkan peredaran darah sang suamk dengan sihir pengendali darah lewat tangannya yang berada di atas dada milik sang suami.


Namun, bukannya langsung bangkit dari tidur, Raisa malah kembali merebahkan diri berpindah dari atas dada milik sang suami ke ranjang hampa di samping sang suami.


"Maaf, ya, karena aku tidur dengan membaringkan kepalaku di atas dadamu, kau pasti jadi merasa sesak dan pegal," ujar Raisa


"Tidak apa. Lalu, bagaimana denganmu? Apa perutmu masih terasa sakit?" tanya Rumi


"Sudah tidak terlalu sakit karena semalam sudah dipijat olehmu," jawab Raisa


"Tidak. Semalam itu pasti masih belum cukup," kata Rumi yang langsung meletakkan tangannya di atas perut milik sang istri untuk memijatnya.


"Tidak perlu seperti ini, Sayang. Kan, semalam kau sudah memijat perutku," ucap Raisa


"Kaulah yang tidak perlu merasa tidak enak atau sungkan padaku. Aku ini suamimu. Lagi pula, anggap saja ini balasan karena tadi kau sudah melancarkan aliran darahku dengan menggunakan kemampuan sihirmu," ujar Rumi


"Masih pagi kau sudah menggunakan tenaga sihirmu. Kalau hanya sebatas memijat, sih, tidak ada apa-apanya," sambung Rumi


"Rupanya, kau menyadarinya. Aku hanya melancarkan aliran darahmu karena memang akulah yang membuatnya tersendat karena tidur di atas dadamu semalaman," kata Raisa


"Coba saja aku memiliki kemampuan sihir pengendali darah sepertimu juga. Pasti aku sudah bisa membantumu menghilangkan rasa sakit pada perutmu karena siklus datang bulan seperti ini," ucap Rumi


"Benar juga. Kau bisa mengendalikan darah dengan kemampuan sihirmu, tapi kenapa kau tidak menghilangkan rasa sakit perutmu atau bahkan mempercepat waktu saat siklus bulananmu datang?" tanya Rumi


"Jika saja memang semudah itu, tapi nyatanya tidak. Rasa sakit yang dirasa karena datang bulan itu tidak hanya sekali atau dua kali pada waktu sehari saja. Dalam jangka waktu yang berulang atau mungkin sering itu aku tidak mungkin menggunakan kemampuan dan tenaga sihirku untuk hal itu saja. Kalau mempercepat masa saat kedatangan tanu bulanan, lebih tidak mungkin lagi. Jika seperti itu maka cairan darah yang ke luar maka akan lebih atau bahkan sangat banyak dalam satu atau singkat waktu. Salah-salah itu bisa jadi menguras darah yang ada atau dinamakan pendarahan. Memang sudah kodrat seorang perempuan seperti ini," jelas Raisa


"Aku jadi membahas hal tabu seperti ini denganmu," sambung Raisa


"Ini bukan hal yang tabu karena aku bukan pria asing lain, tapi aku ini suamimu. Biar aku mengetahuinya juga agar aku bisa berjaga-jaga dan menjagamu dengan baik," ucap Rumi


"Kalau begitu, artinya hal yang sering kudengar itu benar bahwa menjadi seorang perempuan itu memang tidak mudah. Mulai dari datang bulan, malam pertama, hingga melahirkan, bahkan saat mengandung anak pun sama ... semuanya terasa sakit, sulit, dan berat. Belum lagi jika harus bekerja. Semuanya bukan hal yang mudah," sambung Rumi


"Itu berarti aku harus lebih menyayangi, mencintai, menghargai, peduli, perhatian, dan pengertian padamu. Aku merasa sangat beruntung dan bersyukur bahwa kaulah yang menjadi istriku karena kutahu kau adalah perempuan yang hebat dan kuat. Terima kasih karena sudah bersedia menemani sisa hidupku di sisiku, Sayang. Akan kuusahakan untuk tidak pernah membuatmu merasa kecewa," tambah Rumi lagi.


"Terima kasih juga karena kau sudah bersedia melengkapi hidupku, Sayangku," ucap Raisa sambil tersenyum dengan lembut dan hangat.


Rumi pun langsung menarik sang istri ke dalam pelukannya. Sang suami memeluknya dengan begitu erat, tentu saja Raisa pun membalas pelukan tersebut.


Keduanya pun berpelukan masih dalam posisi berbaring di atas ranjang di pagi hari setelah terbangun dari tidur.


.



Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2