Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
[Season 2] 56 - Hubungan yang Rumit.


__ADS_3

Hari ini dari siang hingga malam, Raisa terus berada di rumahnya bersama dengan Rumi. Seharian full berduaan saja.


Saat menonton serial film, keduanya duduk berdampingan dengan mesra. Raisa menyandarkan kepalanya pada dada Rumi dan Rumi memeluk tubuh ramping Raisa dari samping melalui belakang tubuh Raisa hingga tangannya melingkar di pinggang gadis cantik tercintanya itu.


Meski hanya menonton di dalam rumah, suasananya sudah seperti di dalam bioskop. Keduanya menonton sambil makan camilan dan minum minuman segar.


Raisa yang baru menonton serial film tersebut tampak menonton dengan serius, sedangkan Rumi terlihat menikmati wajah Raisa dari samping.


Saat waktunya untuk makan, keduanya menjeda waktu menonton untuk makan bersama. Saat menyiapkan makanan pun, Rumi terus mengikuti ke mana Raisa berada dan pergi. Lalu, keduanya pun makan bersama setelah menyiapkan makanannya bersama.


Saat malam tiba dan semakin larut, beberapa serial film telah selesai ditonton. Raisa pun merapikan kaset serial film yang ada. Lalu, Raisa pun menyuruh Rumi untuk pulang.


"Rumi, hari sudah semakin malam. Kau pulanglah. Kaset filmnya sudah kurapikan, kau bisa membawanya pulang," ucap Raisa


"Raisa, apa aku tidak boleh menginap di sini? Aku ingin terus bersamamu," pinta Rumi setengah merengek.


"Tidak bisa, tidak boleh. Jangan berpikir ingin seperti itu lagi. Besok kita bisa bersama lagi dari pagi sampai malam. Sekarang kau harus pulang," tolak Raisa dengan tegas.


"Baiklah," pasrah Rumi


"Besok aku berencana ingin pergi mengunjungi ayahku. Apa kau bisa ikut bersamaku?" tanya Rumi


"Kalau itu, aku bisa," jawab Raisa


"Kalau begitu, aku akan pulang sekarang. Kaset filmnya kau simpan saja di rumahmu. Aku sudah pernah menonton semuanya, kau bisa menontonnya jika sedang bosan," ujar Rumi


"Baiklah. Terima kasih. Sampai jumpa besok," ucap Raisa


Rumi bangkit berdiri dan Raisa mengikutinya untuk mengantarnya pergi.


"Sampai jumpa besok," balas Rumi


Rumi pun mengecup sekilas pipi kiri Raisa. Lalu, lelaki tampan itu melangkah pergi ke luar dari rumah Raisa. Raisa melambaikan pelan tangannya sebagai salam perpisahan.


Keduanya berpisah dengan saling tersenyum karena langsung menantikan hari esok untuk kembali bertemu.


•••


Keesokan harinya.


Di pagi hari, Raisa dan Rumi saling bertemu dan langsung melepas rindu meski baru berpisah dalam waktu semalaman.


Rumi menggenggam erat tangan Raisa sambil menyentuh wajahnya.


"Senang bisa bertemu denganmu lagi, Raisa. Aku sudah merindukanmu lagi meski baru kemarin kita bertemu," ucap Rumi


"Aku juga sama. Apa kita akan langsung pergi ke kediaman ayahmu?" tanya Raisa


"Ya. Kita langsung pergi saja supaya cepat sampai dan istirahat di sana," jawab Rumi


"Lalu, apa kau sudah makan?" tanya Raisa lagi.


"Aku sudah sarapan tadi. Kalau nanti merasa lapar, kita bisa membeli makanan di perjalanan," jawab Rumi


"Kalau begitu, apa kita harus menenui teman-teman dulu sebelum pergi untuk memberitahu kalau kita akan pergi?" tanya Raisa untuk ke sekian kalinya.


"Kurasa tidak perlu. Sudah kubilang, sekarang banyak orang yang sibuk dengan urusannya masing-masing," jawab Rumi


"Baiklah. Kalau begitu, peluk aku dulu sebelum pergi. Entah kenapa, aku sedang merasa agak dingin. Aku butuh banyak kehangatan darimu," pinta Raisa yang langsung menubruk tubuh Rumi.


Rumi pun langsung memeluk tubuh Raisa dengan sangat erat dan Raisa membenamkan wajahnya pada dada Rumi.


"Kau kenapa, Raisa? Apa kau merasa tidak enak badan? Atau kau sedang ada masalah yang bekum kau ceritakan padaku? Apa kita tunda perginya di lain waktu saja?" tanya Rumi


"Tidak. Kita langsung pergi sebentar lagi saja. Aku hanya sedang ingin dipeluk seerat mungkin," jawab Raisa


"Jarang sekali kau seperti ini. Apa kita tidak usah pergi saja? Cukup bermesraan di rumah saja?" tanya Rumi lagi.


"Jangan. Kita pergi saja. Memangnya hanya kau saja yang boleh dan ingin manja? Kan, sesekali aku juga ingin manja denganmu. Apa tidak boleh atau kau tidak ingin aku seperti ini?" tanya balik Raisa


"Boleh kok. Aku tidak merasa keberatan sama sekali. Aku malah sangat senang," jawab Rumi


Raisa mendongakkan kepalanya untuk menatap Rumi dengan tidak melepaskan pelukannya dan dagunya ia taruh dan menempel pada dada Rumi. Raisa menggembungkan pipinya sambil cemberut. Ia sedang nenunjukkan ekspresi merajuk yang menurut Rumi terlihat sangat lucu dan menggemaskan.


"Lagi pula kalau sudah di tempat ayahmu pasti tidak bisa lagi berpelukan seperti ini," ucap Raisa


"Kenapa tidak bisa? Ingin peluk tinggal berpelukan saja. Ini bukan hal sulit," ujar Rumi


Rumi langsung mencubit lembut pipi Raisa karena merasa gemas.


"Kau mungkin tidak masalah, tapi aku yang akan merasa malu," kata Raisa


Raisa mencubit pelan pinggang Rumi karena merasa kesal lelaki itu tidak mau mengerti perasaannya.

__ADS_1


"Aduh ... Raisa, kau mencubitku?" tanya Rumi sambil merintih pelan.


"Huh ... rasakan itu," kesal Raisa


"Jangan menggodaku dong, Sayang. Ini masih pagi," kata Rumi dengan nada suara dan tatapan mata yang ... umm, begitulah. Menggoda nakal.


Raisa langsung melepaskan pelukannya dengan Rumi.


"Siapa juga yang ingin menggodamu? Aku tahu ini masih pagi, kaulah yang sudah berpikir macam-macam. Pikiranmu semakin aneh saja," ujar Raisa


"Tidak bisa dibiarkan seperti ini. Ayo, kita langsung pergi sekarang saja," sambung Raisa


Raisa pun langsung menarik tangan Rumi untuk pergi agar lelaki itu tidak lagi berpikiran aneh yang macam-macam. Rumi tersenyum melihat tingkah Raisa yang baginya tampak imut dan menggemaskan.


Keduanya pun pergi menuju ke kediaman Ayah Rumi, Tuan Rommy. Keduanya pergi dengan saling berpegangan tangan dengan erat.


 


Setibanya di kediaman Tuan Rommy, setelah berpapasan dengan para penjaga di sana, Raisa tidak perlu lagi melakukan pemeriksaan karena datang bersama Rumi.


Para penjaga yang sudah tentu mengenali Rumi membiarkan Raisa masuk ke dalam kediaman bersamanya.


"Rumi, kau datang. Kau datang bersama siapa?" tanyanya


Orang pertama yang terlihat begitu memasuki kediaman adalah Tuan Garry dan Tuan Johan. Keduanya adalah kerabat Rumi.


"Oh, Rumi. Kau datang bersama Raisa, rupanya." Tuan Garry yang sudah pernah bertemu sekali dengan Raisa langsung bisa mengingat sosok gadis yang datang bersama Rumi.


"Johan, kau belum pernah bertemu dengannya, tapi kau pasti tahu tentang Raisa. Dia gadis luar biasa dari dunia lain yang rumornya sudah lama tersebar itu," jelas Tuan Garry


Raisa tersenyum sambil mengangguk kecil untuk menyapa.


"Tuan Garry dan Tuan Johan, sepertinya ingin pergi. Kalian berdua hendak pergi ke mana?" tanya Raisa


"Kami ada urusan di luar dan harus segera pergi," kata Tuan Garry yang tidak menjawab pertanyaan Raisa yang bertanya ingin pergi ke mana.


"Begitu rupanya. Padahal aku baru pertama kali bertemu dengan Tuan Johan. Kalau begitu, kami tidak akan menghalangi kalian lagi. Berhati-hatilah," ujar Raisa


"Ya. Kalian berdua masuk saja ke dalam," kata Tuan Garry


Rumi dan Raisa mengangguk secara bersamaan.


Tuan Garry dan Tuan Johan pun beranjak pergi ke luar dari kediaman, sedangkan Rumi dan Raisa terus melangkah masuk ke dalam kediaman.


"Ayah, aku sudah datang!" seru Rumi mengumumkan kedatangannya.


"Rumi, kau datang. Aku masih saja tidak terbiasa denganmu yang sudah beberapa tahun ini memanggil dengan sebutan Ayah," ucap Logan, kakak lelaki Rumi.


"Tidak perlu merasa heran. Aku juga bukan sedang memanggilmu ... Kakak," kata Rumi


"Sekarang kau bahkan memanggilku dengan sebutan Kakak? Apa kau masih Rumi yang dulu kukenal? Apa ada sesuatu yang merasukimu?" Logan bertanya-tanya karena merasa heran.


"Yang merasukinya adalah perasaan yang dinamakan cinta. Kau selalu bertanya-tanya apa yang membuatnya seperti ini. Lihatlah, Rumi bahkan membawa pulang seorang gadis," ujar Nona Rina


"Begitu rupanya. Ada seorang gadis di balik perubahanmu yang tidak disangka-sangka. Rina, apa dia adalah Raisa yang pernah kau ceritakan padaku?" tanya Logan


Nona Rina dan Raisa sama-sama mengangguk memberi pembenaran.


"Kalau sudah tahu, kau tidak perlu lagi bertanya, Kak. Reaksimu berlebihan," ujar Rumi


"Justru perubahanmu terasa berlebihan. Meski tidak buruk juga," kata Logan


"Salam kenal, Tuan Logan. Dan senang bertemu denganmu lagi, Nona Rina," sapa Raisa sambil sedikit membungkuk sebagai salam.


"Memang biasanya kau memanggil ayah dan kakakmu dengan sebutan apa, Rumi?" Raisa beralih bertanya pada Rumi.


"Jangan kau pikirkan ucapan kakakku yang berlebihan itu. Kau duduk saja dulu. Aku akan menemui ayahku sebentar," kata Rumi menolak menjawab pertanyaan Raisa dengan halus.


"Rina, tolong ambilkan minum. Dan ... kau, jangan mengganggu Raisa, Kak," sambung Rumi


Rumi pun menuntun Raisa untuk duduk di atas sofa yang ada di sana. Sedangkan, ia beranjak menemui Tuan Rommy.


Sebenarnya Raisa tahu tentang sikap Rumi di kediaman Tuan Rommy bahkan sampai cara Rumi memanggil para kerabatnya. Raisa bertanya hanya karena ingin tahu reaksi Rumi saat menjawab pertanyaannya. Namun, ternyata Rumi menilih mengalihkan diri dari topik pembicaraan tersebut.


"Kalau begitu, aku ambilkan minum dan camilan dulu. Kau tidak perlu takut karena Logan tidak menggigit," ujar Nona Rina


"Maaf, jadi merepotkan," kata Raisa sambil tersenyum.


"Tidak repot. Kau disambut baik di sini. Bukan sebagai tamu, tapi sudah seperti keluarga. Kau saja yang tidak pernah datang lagi setelah sekitar 5 tahun yang lalu," ucap Rina


Rina pun berlalu untuk mengambil minum dan camilan.


"Jadi, Raisa ... apa kau tulus dengan Rumi? Setelah tahu segalanya tentangnya, apa kau hanya ingin memanfaatkan Rumi saja?" tanya Logan

__ADS_1


Raisa merasa sesi introgasi sedang dimulai. Hubungan Logan dan Rumi membuatnya khawatir Raisa akan memanfaatkan sesuatu yang istimewa dari Rumi seperti yang belakangan pernah terjadi.


"Jangan seperti ini, Tuan. Hubungan kami hanya sebatas teman dan tentu saja tulus," jawab Raisa


"Melihat Rumi menyukaimu sampai seperti itu, bukankah kau juga menyukainya? Kau bilang kalian hanya berteman? Apa ada pertemanan antara lelaki dan perempuan?" tanya Logan lagi


"Memangnya tidak boleh ada ketulusan meski hanya berteman? Aku memang menyukainya. Bukankah harus ada rasa suka baru bisa berteman? Hubungan kami hanya sebatas seperti ini," ujar Raisa


"Apa kau tidak ingin ada yang lebih hanya karena Rumi seorang manusia buatan?" tanya Logan untuk ke sekian kalinya.


"Tidak. Aku tahu Rumi dan Tuan Logan sama dan merupakan manusia buatan, tapi kalian berdua tetap manusia dan bagiku itu tidak ada bedanya dengan manusia normal biasa lainnya. Hanya saja ... bukan seperti itu. Itu saja." Raisa tidak bisa menjawab dengan mengungkap semuanya. Rasanya sangat sulit diungkapkan.


Dari jawaban Raisa barusan, Logan jadi bisa tahu jika di antara Rumi dan Raisa memiliki hubungan yang tidak biasa sekaligus juga rumit.


 


Rumi menemui Tuan Rommy di ruangan pribadinya.


"Ayah, aku datang karena sekarang di Desa Daun sedang sangat senggang." Rumi bicara seolah sedang melapor.


Hubungan Rumi dan Tuan Rommy yang telah menciptakannya memang tidak terlalu baik untuk dibilang sebagai hubungan anak dan ayah.


"Baguslah. Sering-seringlah datang. Apa kau datang sendiri?" tanya Tuan Rommy


"Tidak. Aku datang bersama Raisa," jawab Rumi


"Kau jarang datang ke sini karena lebih sering pergi ke dunia asing untuk bertemu dengannya, tapi sekarang kau datang bersamanya. Bagus sekali," ucap Tuan Rommy


"Aku hanya memberitahumu kedatanganku ke sini. Raisa masih menungguku," kata Rumi


"Hanya itu? Kukira kau yang bahkan datang bersama Raisa karena ... apa kau tidak ingin mengikuti Morgan dan Aqila?" tanya Tuan Rommy


"Morgan memang temanku yang paling istimewa, tapi aku tidak bisa terus mengikuti langkahnya," jawab Rumi


"Kenapa? Bukankah kau serius dengan Raisa?" tanya Tuan Rommy


"Tentu saja. Aku ini sangat serius di setiap tindakanku. Hanya saja hubungan kami lebih rumit dari yang terlihat. Karena kami tinggal di dunia yang berbeda, ini akan sulit," jelas Rumi


Tuan Rommy langsung bisa mengerti yang Rumi maksud. Meski disebut Ayah, hubungannya dengan Rumi yang merupakan manusia ciptaannya hanya seperti orangtua asuh sementara yang seolah masih menjalin hubungan baik saja.


"Aku ingin bertemu dengannya. Di mana Raisa?" tanya Tuan Rommy


Tuan Rommy pun mengikuti Rumi untuk menemui Raisa.


Kembalinya Rumi bersama Tuan Rommy hanya berselang sesaat dengan Nona Rina yang kembali dari dapur untuk mengambil minum dan camilan.


"Minum dan makanlah, Raisa. Karena aku tahu akan berkumpul seperti ini, makanya aku bawa banyak. Silakan," ujar Nona Rina


"Terima kasih, Nona Rina," ucap Raisa


"Kau jadi sungkan lagi. Panggil saja aku Bibi," kata Nona Rina


"Aku hanya tidak terbiasa," kata Raisa


"Kalau begitu, biasakanlah mulai sekarang," ujar Nona Rina


Raisa hanya tersenyum.


"Senang bertemu dengan Anda lagi,Tuan Rommy," sapa Raisa yang melihat Rumi kembali bersama Tuan Rommy.


"Tidak bisakah kau memanggilku dengan sebutan Ayah saja, Raisa?" tanya Tuan Rommy


Lagi-lagi Raisa hanya bisa tersenyum.


Tuan Rommy dan Rumi pun duduk di atas sofa. Tentunya, Rumi langsung duduk di samping Raisa.


"Wah, wah, wah ... apa mulai sekarang aku juga harus memanggilmu dengan sebutan Ayah?" tanya Logan


"Biasakanlah dirimu, Logan," kata Tuan Rommy


"Baiklah, Ayah ... " patuh Logan yang mengerti maksud dari perkataan Tuan Rommy.


"Kita adalah keluarga yang harmonis," celetuk Nona Rina


Di kediaman tersebut biasanya untuk memanggil satu sama lain hanya perlu menyebut nama. Jika memanggil Tuan Rommy akan menggunakan sebutan Tuan karena Tuan Rommy adalah kepala kediaman. Namun, sekarang jadi berbeda.


Mendapat perlakuan hangat di sana, Raisa malah merasa canggung. Raisa benar-benar tidak terbiasa karena ia pun tahu seperti apa biasanya jalinan hubungan orang-orang di sana. Raisa jadi merasa tidak enak, segan, sekaligus canggung karena seolah seperti diistimewakan.


.



Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2