
Wanda pun berbalik untuk menuju dapur mengambilkan sekotak sabun cuci untuk Raisa yang setelah itu akan mencuci kasur tidurnya.
Tak butuh waktu lama, Wanda kembali dengan sekotak sabun cuci di tangannya dan langsung memberikan benda yang dipegangnya pada Raisa. Raisa pun menerima sekotak sabun cuci tersebut dari tangan Wanda.
"Terima kasih, Wanda!" Ucap Raisa
"Sama-sama. Apa yang akan kau lakukan dengan menggunakan sabun cuci itu?" Ujar Wanda
"Mencuci kasur tidurnya." Singkat Raisa
"Aku ingin lihat, bagaimana kau melakukannya dengan sihirmu!?" Ujar Devan
Di sana, di belakang rumah baru Raisa di Desa Daun tersebut hanya terdapat lahan kecil kosong yang setelah lahan itu terdapat jalan setapak menuju hutan. Agak menyeramkan, memang. Mungkin itu sebabnya rumah tersebut dilimpahkan pada Raisa sebagai tunjangan. Rumah tersebut lama tak ditinggali karena nampak belakangnya terlihat seram. Raisa pun baru tau keadaan lengkapnya setelah ia ke luar dari pintu belakang rumahnya. Raisa pun hanya bersikap abai dan menjaga pikirannya agar terus berpikir positif saja.
Di lahan kecil itu, Raisa menghentakkan kakinya. Ia menggunakan sihirnya. Dengan sihir elemen tanah ia menimbulkan tanah ke atas permukaan untuk meletakkan kasur yang akan dicucinya di sana.
"Tolong letakkan kasurnya di atas tanah timbul itu." Pinta Raisa
"Ya, baiklah." Kata Morgan
Bersama, Devan, Morgan dan Ian pun menggotong dan meletakkan di atas tanah timbul seperti permintaan Raisa.
"Mari, kita lihat! Bagaimana kau akan mencucinya!?" Ujar Ian
Raisa pun memulai pencucian kasurnya. Ia menggunakan sihirnya. Ia mengeluarkan sihir elemen air dari kedua telapak tangannya dan menyemprotkannya ke arah kasur tidurnya. Lalu, ia mengambil kotak sabun cuci dan menuangkan sabun tersebut begitu saja ke atas kasur tidurnya. Kemudian, ia menyirami kasurnya dengan sihir airnya lagi.
"Hanya begitu? Kau menuangkan sabunnya lalu membilasnya begitu saja? Ini tidak seperti pencucian!" Heran Morgan
"Tidak juga. Sabun cuci itu adalah sabun cair. Aku kembali menyemprotkan air, bukan hanya untuk membilas saja. Saat air yang kusemprotkan menyentuh sabun di permukaan kasur, sabun itu menyatu dengan air buatan(sihir)ku. Saat kedua unsur ini menyatu, aku mengendalikannya seperti melakukan pengendalian air, yaitu mengendalikan air yang tercampur sabun. Mengendalikan dua unsur campuran ini dan menyiraminya pada kasur, ini seperti menyirami dengan air sabun. Terus dilakukan berulang kali sampai bersih. Lalu, kutarik kembali air sabun itu dan membuangnya. Baru setelah itu kubilas lagi dengan sihir air yang hanya air saja. Melakukannya berulangkali sampai unsur zat sabunnya menghilang sepenuhnya. Setelah selesai, hanya tinggal dikeringkan!" Jelas Raisa sambil melakukan seperti apa yang ia katakan. Sudah seperti mempraktekan cara pencucian dengan menggunakan sihir.
"Keren sekali! Pencucian paktis!" Kata Ian
Setelah itu pun, Raisa menggunakan sihir elemen anginnya untuk melakukan pengeringan. Seperti melakukan pengeringan otomatis!
"Dengan melihat caramu ini, aku jadi bisa membayangkan caramu mengangkut semua debu pada rumahmu ke luar." Ucap Devan
"Melihatmu menggunakan sihir terus menerus walau pun bukan dalam pertarungan membuatku percaya kau memiliki tenaga sihir yang sangat banyak, seperti yang kau katakan pada Rumi dan dia mengatakan pada Guru Kevin. Tenaga sihir tanpa batas, luar biasa!" Ungkap Morgan
"Tanpa batas apanya!? Walau begitu, aku masih manusia pada umumnya yang bisa merasa lelah karena mengeluarkan tenaga terlalu banyak." Ucap Raisa
"Kudengar ada yang menyebut namaku. Kalian ada di sini?" Ujar Rumi yang baru saja muncul.
"Rumi, kau datang?" Tanya Wanda
"Aku mencari kalian yang tidak terlihat di dalam. Kalian sedang apa?" Ujar Rumi
"Kami habis membantu membawa kasur tidur ke sini untuk Raisa cuci. Sekarang dia sedang mengeringkannya dengan sihir angin. Mencucinya pun ia lakukan sendiri dengan sihirnya." Jawab Ian
"Aku juga bisa melakukan sihir angin. Mau kubantu juga?" Tawar Rumi bertanya.
"Terima kasih atas niat baikmu. Tapi, sihirmu kau gunakan ubtuk bertarung. Khawatirnya kasur tidur ini malah bisa melayang terbang karena sihirmu atau kami pun bisa terhempas jauh karena sihirmu. Tidak apa, ini bisa kulakukan sendiri." Ucap Raisa
"Kau benar. Tapi, Raisa, kau sudah menggunakan sihirmu sejak pagi, kau bisa saja kelelahan. Kau juga mengatakannya tadi, kan?" Kata Rumi yang baru menyadari.
"Tidak apa, aku akan istirahat setelah ini." Kata Raisa
"Jika, kasur ini bisa langsjng kau keringkan, lalu kasur lantai dariku jadi tidak berguna dong, Raisa?" Tanya Wanda
"Tidak juga. Kasur ini tidak mungkin bisa langsung kering. Walau kering pun aku akan menyimpannya dulu dan menggunakan kasur darimu." Jawab Raisa
Raisa baru menyadari hal itu. Wanda memberikannya kasur lantai. Ia harus menghargai usaha dan niat baik temannya itu! Ia pun menyudahi sihir anginnya untuk mengeringkan kasur tidurnya untuk dalih supaya bisa menggunakan kasur pemberian Wanda lebih dulu.
"Aku juga lelah terus menggunakan sihir. Bagaimana kalau kita semua istirahat saja? Kalian juga lelah kan? Aku akan membelikan minuman dan makanan ringan untuk kita semua beristirahat." Ucap Raisa mengalihkan topik pembicaraannya.
"Baiklah, kita istirahat dulu." Kata Devan
"Kasur ini biarkan terjemur di sini, itu akan kering dengan sendirinya nanti. Ayo, semuanya kembali masuk." Ujar Raisa
Mereka semua pun kembali memasuki rumah dari pintu belakang tersebut. Dan menemui teman yang lain.
__ADS_1
"Kalian semua, beristirahatlah dulu." Pekik Raisa meminta semua temannya untuk beristirahat.
"Istirahat apanya? Kami belum lelah. Ternyata, rumah ini sudah sangat bersih." Ujar Billy
"Benar. Yang kami lalukan di sini hanya sedikit." Kata Marcel
"Biarpun begitu, kalian juga sudah mengatur letak posisi barang di rumah ini. Duduk saja dulu, aku akan membelikan makanan dan minuman untuk kalian." Ucap Raisa
"Tak perlu kau yang ke luar, kau pasti lelah sudah terus menggunakan sihirmu. Biar aku saja yang belikan untuk kita semua." Timpal Aqila
"Aku ikut denganmu membeli makanan ya, Aqila." Ujar Chilla
"Jangan! Kalau kau ikut, nakanannya akan habis duluan sebelum kembali ke sini atau kau membeli makanan sangat banyak padahal untuk kau sendiri." Larang Ian
"Biar aku yang pergi dengan Aqila." Kata Sandra
"Baiklah. Terserah saja. Aku akan menunggu." Pasrah Chilla
"Ya sudah, kalian berdua bisa gunakan uangku." Ujar Raisa
"Tak usah. Kami gunakan uang kami saja." Tolak Aqila
"Tapi-"
"Tidak ada tapi, kau diamlah beristirahat di rumah barumu ini." Tegas Sandra
"Ya, Raisa. Kau diam saja di rumah." Kata Amy
Aqila dan Sandra pun beranjak ke luar, pergi bersama untuk membelikan camilan dan minuman.
Raisa pun tidak bisa berbuat lebih saat kedua temannya itu sudah lebih dulu berinisiatif untuknya. Ia hanya bisa menerima kebaikan temannya itu. Lalu, pandangannya beralih pada seorang temannya yang masih sibuk di sana. Ia pun menghampirinya. Ia menghampiri seorang teman lelakinya yang terlihat sedang mengotak-atik sesuatu di sana.
"Dennis, apa yang sedang kau lakukan di sini?" Tanya Raisa yang ternyata menghampiri Dennis.
"Aku memeriksa sekering listrik di rumah ini." Jawab Dennis
"Ya, Dennis terus melakukannya sedari tadi. Kurasa mungkin ada yang salah. Aku membantunya memegangi kursi ini agar dia tidak jatuh." Ucap Amy
"Apa ada suatu masalah dengan listriknya? Kenapa kau sangat lama jika hanya untuk memeriksanya saja?" Tanya Raisa
"Saat ini pintu dan semua jendela rumahmu dibuka lebar-lebar, makanya suasananya sangat terang, tapi tidak untuk malam hari. Aku mencoba memeriksanya dan menemukan sedikit keganjalan pada suatu kabel di sini. Aku mencoba terus membetulkannya agar mencegah arus pendek atau konsleting listrik, akan bahaya jika terjadi sesuatu pada rumahmu di malam hari." Ungkap Dennis
"Ah, aku tidak berpikir untuk memeriksa aliran listriknya. Aku tidak paham tentang ini, sebaliknya kau sangat handal. Adakah yang bisa kubantu untukmu, Dennis?" Ujar Raisa
"Tidak usah. Malah akan berbahaya jika orang yang tidak mengerti untuk mengotak-atiknya. Tidak apa, aku bisa sendiri. Aku ke sini juga kan untuk membantumu di rumah ini, bukan untuk memintamu juga membantuku yang ingin membantumu. Sepertinya sedikit tidak etis." Tolak Dennis
"Benar. Aku pun tidak mengerti tentang listrik, jadi hanya bantu jaga kursi ini saja agar tidak jatuh." Kata Amy
"Justru, rasanya tidak etis aku tidak melakukan apa pun saat seseorang berbaik hati membantuku." Ucap Raisa
"Tidak apa. Aku kan memang tulus ingin membantumu saja." Kata Dennis
Padahal baru saja mencari Raisa dan menemukannya di luar pintu belakang rumah barunya. Setelah kembali memasuki rumah, Rumi malah kehilangan sosok Raisa dari pandangannya lagi. Rumi pun berusaha menyapukan pandangannya pada seisi rumah tersebut untuk menemukan sosok yang ia cari. Saat matanya menangkap sosok yang ia cari, Rumi malah merasa tidak suka. Ia tidak suka melihat Raisa sedang berada dekat dengan Dennis seperti apa yang tertangkap oleh pandangannya. Entah kenapa, Rumi merasa ada gejala perasaan kompetitif antaranya dan Dennis. Ia merasa seperti Dennis akan merebut seseorang yang ia suka darinya dan ia tidak suka perasaan akan hal itu!
Saat melihat Raisa berada dekat dengan Dennis, Rumi juga dapat mendengar apa yang mereka bicarakan. Rumi pun segera menghampiri mereka dengan langkah cepat.
Entah kenapa, perasaan emosi akan kecemburuannya jadi menggebu. Padahal di sana Raisa tidak hanya berduaan dengan Dennis melainkan juga ada Amy yang menemani mereka di sana.
"Dennis, benar! Malah akan bahaya jika kau ikut memeriksanya. Biarkan aku saja yang membantu Dennis. Tak perlu khawatir, kau tenang saja." Sambar Rumi saat mendatangi posisi Raisa dan Dennis.
Raisa dikejutkan dengan kedatangan Rumi secara tiba-tiba.
..."Rumi, datang! Sebelumnya dia pernah merasa cemburu denganku dan Dennis. Sebaiknya aku tidak memperpanjang masalah kali ini. Saat itu, karena kecemburuannya, dia menyerangku, aku kasih bisa mengatasinya. Tapi, bagaimana jika dia menyerang Dennis hanya karena diriku? Tidak, itu tidak boleh terjadi! Walau aku pun berharap rasa cemburunya itu hanya kesalah-pahamanku saja. Aku harap Rumi tidak benar-benar memiliki perasaan yang lebih terhadapku. Karena itu akan lebih mudah dan baik untuk kami berdua. Setidaknya itu tidak akan melukai hatinya, biar aku saja yang merasakan sakit hati ini. Itu sebanding untukku yang bisa merasakan cinta." Batin Raisa...
Raisa berpikir lebih baik jika hatinya terluka karena merasakan cinta dari pada seorang cintanya terluka karena perasaannya itu sendiri. Lebih baik cintanya tak terbalas dari pada melihat pujaan hatinya menderita. Itu sebanding dari pada mereka harus berpisah di kemudian hari dan malah menyebabkan kedua hati mereka terluka. Ia tidak mau lelaki pujaannya merasakan penderitaan atas rasa sakit itu, biarkan hanya ia yang merasakan semua penderitaan itu sendiri. Entah itu karena keegoisannya sendiri, ia tidak peduli! Yang terpenting ia bisa melihat lelaki yang dicintainya tersenyum walau hatinya harus menangis.
Itu sebabnya ia mengalah. Mengalah dalam semua hal.
"Baiklah, kalau begitu. Aku akan memeriksa di ruangan lainnya. Kalian periksa ini baik-baik dan harus hati-hati ya." Ujar Raisa
__ADS_1
Akhirnya Raisa berlenggak ke tempat lain. Meninggalkan kedua lelaki temannya itu berdua. Dan ia mengajak Amy ikut bersamanya.
"Ah , Raisa pergi lagi! Tapi, itu lebih baik dari pada dia harus dekat bersama dengan lelaki lain." Batin Rumi
Rumi memperhatikan Raisa yang berjalan menjauh. Lalu, ia beralih membantu Dennis memeriksa aliran listrik di rumah baru Raisa di Desa Daun teesebut.
Tak lama kemudian, Aqila dan Sandra kembali dari perginya membelikan camilan dan minuman. Mereka berdua kembali memasuki rumah Raisa.
"Kami kembali!" Sorak Aqila dan Sandra secara serempak.
"Akhirnya! Mana yang kalian beli?" Ujar Chilla yang bertanya dengan kegirangan dan sangat antusias.
"Itu disimpan ke dalam gulungan kertas sihir milik Sandra." Kata Aqila
"Karena yang dibeli untuk kita semua ada banyak jadi aku menyarankan untuk disimpan ke dalam gulungan kertas sihir milikku dulu agar mudah untuk membawanya." Ungkap Sandra
Sandra pun mengeluarkan dan membuka gulungan kertas sihir miliknya. Setelah dirapalkan mantra, dari lembaran kertas itu ke luar apa yang ia beli bersama Aqila, yaitu camilan dan minuman untuk mereka semua.
"Terima kasih, Aqila, Sandra." Ucap Raisa
"Sama-sama." Balas Aqila dan Sandra secara serempak.
"Uang untuk membeli semua ini akan kuganti." Kata Raisa
"Tidak perlu. Semua ini biar kamu berdua yang membelikannya, tak usah kau ganti uangnya." Tolak Sandra
"Aku ingin membeli sesuatu untuk merayakan rumah baru ini dan setidaknya sedikit berterima kasih pada kalian semua karena sudah membantuku. Kalau kalian yang membayar dan membeli semua ini, tidak seperti yang aku rencanakan dong?" Ujar Raisa
"Kami juga hanya membantu sedikit, semuanya banyak yang kau lakukan sendiri. Biarkan ini nenjadi kami yang menyelamatimu atas apa yang kau dapatkan hari ini. Jangan sungkan lagi pada kami dan jangan tolak niat baik kami." Ucap Aqila
"Ya, baiklah. Padahal tadinya aku mau ikut untuk membeli keperluan lain di rumah ini juga, tapi kalian tidak membolehkan aku ikut." Tutur Raisa
"Itu nanti saja! Kalau kau tadi ikut untuk membeli keperluan lain rumahmu, makanannya akan lama sampai. Itu bisa kau beli nanti, aku akan menemanimu." Ujar Chilla
"Yang benar, kau akan menemaniku, Chilla?" Tanya Raisa
"Ya, kan aku yang menawarkan diri untuk menemanimu." Jawab Chilla
"Aku juga akan menemanimu!" Serempak Amy dan Wanda
"Aku juga ikut!" Serempak Aqila dan Sandra juga.
"Itu akan menjadi rencana berbelanja para gadis yang merepotkan!" Kata Devan
"Ah, ya! Sudahlah... Mari, kita makan saja. Terima kasih untuk Aqila dan Sandra yang sudah memberikan kita semua hidangan ini dan terima kasih banyak juga untuk kalian semua yang sudah bersedia dengan tulus hati membantuku merapikan isi rumah ini." Ucap Raisa
"Dan selamat untukmu atas rumah barumu ini, Raisa!" Sorak mereka semua secara serempak pada Raisa.
Semuanya pun makan camilan itu bersama di rumah baru Raisa. Acara makan sederhana kali ini bertujuan sebagai perayaan kecil bagi Raisa dan rumah barunya.
Terlihat Chilla yang sangat lahap memakannya sejak makanan itu dikeluarkan. Dan Raisa menikmati kebersamaan mereka di rumah barunya itu.
"Padahal sebelum ini kita semua baru saja makan. Tapi, kau malah terlihat sangat rakus memakan semua ini lagi, Chilla. Dasar, gendut!" Ucap Ian
"Kau bicara begitu, padahal kau juga makan makanan ini." Oceh Chilla
"Tapi, makanku tidak sebanyak dirimu. Dasar, rakus!" Omel Ian
"Yang penting adalah isi perut dan makan!" Kata Chilla
Raisa terkekeh melihat pertengkaran kecil seperti ini. Inilah yang ia rindukan selama tidak bersama teman-teman spesialnya. Walau terkadang ia juga suka beradu mulut dengan adik lelakinya, Raihan, di dunianya...
Hari pun mulai menjelang sore...
Rumah baru Raisa telah siap dan selesai dirapikan sejak beberapa saat lalu. Dan kini saatnya memulai rencana para gadis untuk berbelanja ria!
.
•
__ADS_1
Bersambung...