
Rumi terus mendekat ke arah Raisa hingga saat ini Raisa merasa telah terpojokkan! Tangan Rumi pun sudah berhasil meraih wajah Raisa...
Raisa ingin berpaling menghindari Rumi yang seperti sedang menjadikannya sebagai sasaran, namun pergerakannya seolah terkunci karena gerbong bianglala yang sempit itu.
Klak!
Pintu gerbong telah terbuka, waktu bermain wahana telah habis.
"Ah, sudah waktunya turun. Ayo, cepat!" Kata Raisa
Raisa pun bergegas ke luar dari gerbong bianglala tersebut...
Raisa berhasil terselamatkan, lagi-lagi kesempatan itu datang di waktu yang sangat tepat! Seperti saat di taman bermain tempo lalu, sewaktu Rumi hendak mengatakan perasaannya di saat yang sangat canggung, Raisa juga terselamatkan dengan terbukanya pintu gerbong oleh petugas wahana tersebut.
Rumi pun ikut ke luar dari dalam gerbong wahana bianglala dengan raut wajah tang sedikit kesal dengan perasaan kecewa. Raisa yang sudah lebih dulu berada di luar wahana pun melirik ke arah Rumi yang sedang berada di belakangnya. Raisa pun terkekeh kecil tanpa suara. Kekasihnya sedang merasa kecewa dengan wajah yang bermuram durja, rupanya.
"Ada satu wahana lagi yang ingin kunaiki sambil bersantai ria. Ayo, ikuti aku! Kita jalan lagi..." Ujar Raisa
Walau merasa kesal karena kesempatannya telah hilang, Rumi tetap mengikuti langkah Raisa mencari kesenangan dengan bermain wahana. Menuruti keinginan sang kekasih hati...
Raisa dan Rumi pun sampai di wahana yang akan mereka naiki bersama. Yaitu, komedi putar atau orang awam menyebutnya kuda-kudaan.
"Ayo, kita naik!" Ajak Raisa
Raisa pun lebih dulu menaiki wahana di depannya tersebut dan Rumi hanya mengikuti gadisnya itu...
Bukannya menaiki patung kuda, Raisa malah duduk di bangku berhadapan seperti di gerbong bianglala pada wahana komedi putar tersebut. Bedanya bangku itu tidak terkurung dengan jeruji seperti di wahana bianglala.
Rumi pun ikut duduk di samping Raisa dan bukannya di bangku yang ada di hadapan Raisa.
"Kenapa kau tidak menaiki kudanya seperti kebanyakan yang lain, Raisa?" Tanya Rumi
"Aku ingin bersantai sambil bersandar di di sini. Kalau naik kuda harus berpegangan dengan besi itu dan tidak bisa bersandar, aku tidak bisa bersandar kalau begitu." Jawab Raisa yang langsung menyandarkan punggungnya pada sandaran yang ada di belakang bangkunya.
"Kau sendiri, kenapa tidak naik kuda saja atau duduk di depanku?" Tanya balik Raisa
"Aku ingin duduk di sampingmu. Wahana ini tidak mungkin tidak seimbang jika kita tidak duduk berhadapan." Jawab Rumi
SKAKMATT!!
Sepertinya Rumi takkan membiarkan Raisa jauh dari dirinya lagi...
Raisa pun takkan bisa menghindar lagi jika begini, tapi itu tak penting lagi. Ia hanya perlu diam bersantai menikmati waktu bermain wahana tersebut
Saat Raisa duduk bersantai sambil bersandar, Rumi meraih kepala Raisa untuk disandarkan pada bahunya sendiri. Rumi pun menelusupkan sebelah tangannya ke belakang tubuh Raisa untuk dapat memeluk dan merangkul gadis itu dari samping.
"Jika ingin bersandar, bersandar saja padaku." Kata Rumi
"Jika seperti ini kau takkan bilang aku berat kan?" Tanya Raisa
"Tidak akan. Kau jangan tersinggung dengan ucapanku saat itu dong, Raisa." Jawab Rumi
"Baiklah." Raisa pun membenarkan posisinya supaya dapat merasa nyaman dalam rangkulan Rumi.
Raisa seperti sedang bermanja ria pada Rumi dan keduanya nampak seperti sepasang kekasih yang sangat serasi...
"Kenapa kau diam saja? Kau kesal ya, Rumi?" Tanya Raisa yang merasa tidak enak atas diamnya Rumi. Karena mungkin Rumi masih merasa kesal dengan gagal kesempatannya saat di gerbong wahana bianglala.
"Tidak kok. Aku hanya ingin membiarkanmu merasa nyaman saat ini." Jawab Rumi
Entahlah maksud dalam perkataan Rumi itu mengandung rasa kesal yang tersembunyi atau tidak...
Rumi memang selalu memasang ekspresi wajah yang datar. Karena itulah, Raisa tidak dapat menebak yang ada dalam isi hati Rumi. Walau Rumi selalu bisa berlapang dada, namun Raisa tak menyangka akan ada saatnya Rumi bersikap bucin seperti tadi. Raisa jadi tak enak hati dan berniat untuk sedikit menghibur Rumi.
"Ah, bagaimana kalau kita berfoto lagi di sini?" Tanya Raisa yang langsung mengambil ponsel miliknya dari dalam saku celananya.
"Ah, iya. Katamu tadi kan kita akan berfoto saat sudah turun dari wahana sebelumnya." Kata Rumi yang langsung setuju.
Karena sudah bersandar pada bahu Rumi, pose pun telah sesuai untuk berfoto.
Raisa pun mulai mengarahkan kamera depan ponselnya untuk memotret dirinya dan Rumi.
Cekrik... Cekriik!
Cekriikk~
Kali ini foto yang diambil pun cukup banyak.
Raisa menggunakan macam-macam gaya berpose saat berfoto. Salah satunya, Raisa memeluk lengan Rumi dan bersandar dengan mesra. Dan, yang terakhir... Raisa mengecup pipi Rumi! Itu pun ikut masuk dalam foto yang diambilnya.
"Segini saja sudah cukup kan?" Tanya Raisa dengan rona merah pada pipinya setelah memberanikan diri mengambil foto yang terakhir.
Raisa kembali merasa malu-malu setelah mengambil foto terakhir tadi dan Rumi pun terlihat sedikit terkejut dengan apa yang dilakukan Raisa hanya untuk berfoto dengannya.
"Aku juga ingin mengambil foto dari sisiku. Aku pinjam ponselmu dong, Raisa." Ucap Rumi yang meminta.
__ADS_1
Raisa pun memberikan ponsel miliknya pada Rumi...
Karena Rumi yang akan mengambil foto, Raisa pun hanya asik bersiap dengan gayanya untuk berfoto. Kali ini, Raisa ingin bergaya yang sedikit lebih mesra lagi...
Sebelah tangan Raisa memeluk satu lengan Rumi, sambil bersandar pada bahu Rumi, sebelah tangan Raisa yang lain diletakkan di atas dada Rumi...
Rumi pun mulai memposisikan kamera depan ponsel Raisa untuk mengambil foto. Dan...
Cekriik!
CUP~
Tepat saat foto diambil, Rumi mengambil kesempatan untuk mencuri cium bibir Raisa sekali lagi.
Jadilah, foto yang diambil adalah saat Rumi mencium bibir Raisa dengan mesra. Di foto tersebut, Rumi terlihat srbang. Sedangkan, Raisa terlihat sedikit terperanjat kaget dengan apa yang dilakukan Rumi saat mengambil foto mereka berdua.
"Rumi, kau ini mau membalasku ya!?" Sebal Raisa yang tak menduga Rumi akan menciumnya saat difoto.
"Iya, aku membalas kasih sayang darimu." Kata Rumi
Walau sudah jahil sampai ke tahap seperti ini, Raisa tetap saja tak bisa marah pada lelaki itu. Ini memang termasuk salahnya sendiri yang sudah memancing Rumi untuk melakukan yang seperti itu, karena Raisa sendiri yang lebih dulu mencium pipi Rumi saat berfoto sebelumnya...
"Semua hasil fotonya bagus. Jangan ada foto yang dihapus termasuk yang barusan tadi ya." Ucap Rumi
"Baiklah, baiklah... Benar-benar deh, aku tak bisa marah padamu!" Kata Raisa
Rumi pun mengembalikan ponsel Raisa pada pemiliknya. Raisa pun kembali menyimpan ponsel miliknya ke dalam saku celana.
..."Seharusnya aku tidak mencium di pipinya lebih dulu. Itu pasti seperti memancingnya! Ini seperti aku mendapat pembalasan yang setimpal. Aku kesal, tapi tetap saja aku tidak bisa marah padanya." Batin Raisa...
Sehabis bermain wahana komedi putar, Raisa dan Rumi menyudahi aktivitas bermainnya di pasar malam itu. Mereka berdua hanya tinggal menunggu teman lainnya juga selesai bermain dan bertemu di tempat semula mereka semua berkumpul sebelum berpisah tadi.
Sebelum malam terlalu larut, semua pun akhirnya bertemu di tempat yang sudah dijanjikan sebelumnya. Mereka semua terlihat senang dengan sedikit rasa lelah di wajah masing-masing, mungkin semuanya telah puas bermain.
"Semua sudah berkumpul ya?" Tanya Rumi
"Iya, hanya tinggal menunggu rombongan kakakmu, Raisa." Jawab Aqila
"Ah, tadi Kak Raina mengabariku lewat pesan di ponsel. Kalau mereka sudah lebih dulu pulang ke vila karena Farah yang tiba-tiba rewel karena sudah mengantuk. Sepertinya Raihan juga sudah ikut pulang." Ungkap Raisa
"Jadi, kita semua sudah bisa pulang sekarang?" Tanya Amy
"Ya, kalau kalian memang sudah ingin pulang. Atau mau istirahat dulu sebentar sebelum jalan pulang ke vila?" Ujar Raisa
"Kita langsung pulang saja." Kata Marcel
"Ah, iya. Kebanyakan Rumi yang memenangkan hadiah dari permainannya untukku." Ucap Raisa
"Kalian berdua seperti anak kecil yang keasikan bermain permainan berhadiah saja!" Ujar Morgan
"Apanya yang seperti anak kecil!? Mereka itu seperti lelaki yang memenangkan hadiah permainan untuk gadis tercintanya, seperti sepasang kekasih!" Celetuk Chilla
Raisa hanya terkekeh dengan sedikit kikuk...
Hubungannya dengan Rumi memang tidak diberi tahu pada teman yang lainnya, tapi sering kali teman yang lain menafsirkan hubungan mereka berdua dengan tepat, terutama Chilla yang peka perihal hubungan asmara, walau Raisa dan Rumi sama-sama tidak pernah memberikam tanggapan pasti pada penafsiran nereka semua. Raisa atau pun Rumi belum pernah menjelaskan atau mengungkapkan hubungan yang mereka jalani saat ini...
"Kalau memang sudah ingin pulang... Ayo, kita jalan kembali menuju vila." Ujar Raisa mengajak yang lainnya kembali pulang ke vila.
Mereka semua pun mulai jalan kembali pulang menuju ke vila dengan saling beriringan...
Setibanya di vila, Raisa dan semua temannya langsung memasuki vila tersebut...
Di dalam vila, ada Bu Vani yang seorang diri menunggu mereka semua pulang ke vila.
"Ibu, kok masih di sini? Sendirian aja, yang lain mana?" Tanya Raisa yang menjumpai Bu Vani seorang diri di ruang kumpul keluarga.
"Ibu nunggu kalian semua pulang. Yang lain udah pada tidur duluan." Jawab Bu Vani
"Maaf ya, Bu. Jadi buat Ibu menunggu sendirian di sini. Tadi, Kak Raina sekeluarga sudah pulang duluan kan, Bu? Raihan juga pulang duluan ya?" Ujar Raisa
"Iya, mereka semua udah pada tidur duluan. Kelihatannya sih kecapekan habis main tadi." Kata Bu Vani
"Maafkan kami semua yang pulang kelewat malam ya, Bibi. Bibi pasti lelah menunggu kami sendirian di sini." Ucap Aqila
"Tidak apa. Kalian semua teman dekat Raisa, sudah seperti anak Bibi sendiri." Ujar Bu Vani
"Sekarang, Ibu bisa istirahat masuk ke kamar dan tidur. Kami semua sudah bisa urus diri sendiri masing-masing. Terima kasih sudah mau menunggu kami semua sampai pulang ya, Bu." Ucap Raisa
"Raisa, walau pun di depan semua temanmu, Ibu tetaplah Ibumu. Jadi, tak perlu sungkan sama Ibumu sendiri. Kalau begitu, Ibu tinggal tidur duluan ya. Kalian semua jangan tidur terlalu malam, setelah istirahat sebentar langsung masuk ke kamar masing-masing dan tidur ya." Ujar Bu Vani
"Baik, Bibi. Terima kasih..." Kata Rumi
Bu Vani mengangguk sambil tersenyum untuk menanggapi ucapan dari Rumi. Setelah itu, Bu Vani pun beranjak masuk ke dalam kamarnya meninggalkan mereka semua yang baru pulang ke vila...
"Seperti biasa, kalian ingin dibuatkan apa sebelum tidur? Sekalian aku ingin membuat susu untukku sendiri nih..." Ujar Raisa bertanya.
__ADS_1
"Tak perlu, Raisa. Kau buat untuk dirimu sendiri saja. Kau juga pasti lelah, tidur dan istirahatlah setelah itu. Kami bisa melayani diri kami sendiri. Jika, kami ingin membuat sesuatu, kami bisa membuatnya sendiri." Ucap Wanda
"Baiklah, kalau begitu." Kata Raisa
"Kau buatlah susu untuk dirimu, Raisa. Aku akan membantumu membawakan semua hadiah mainannya ke kamarmu." Ucap Rumi
"Baik. Terima kasih, Rumi!" Ujar Raisa
Raisa pun beranjak menuju dapur untuk membuat susu putih hangat. Seusai membuatnya, Raisa membawa susu putih buatannya ke kamarnya sendiri.
Raisa pjn masuk ke dalam kamarnya dan segera menutup pintu kamarnya...
Begitu berbalik, Raisa dikejutkan dengan Rumi yang tiba-tiba muncul dan berada di belakangnya.
"Oh, ya ampun! Kau membuatku terkejut, Rumi! Untung saja gelas susu yang kubawa tidak terjatuh." Kaget Raisa
"Maaf, aku tak bermaksud ingin membuatmu terkejut, Raisa." Kata Rumi
"Kenapa kau masih ada di sini? Hadiah mainan tadi sudah kau bawakan ke sini kan? Kalau begitu, terima kasih ya." Ujar Raisa yang melihat semua hadiah permainan yang didapatkan tadi telah diletakkan di atas ranjang kasur kamar utama tersebut.
"Hanya begitu saja?" Tanya Rumi
"Lalu, apa lagi? Bukankah aku sudah mengucapkan terima kasih padamu?" Bingung Raisa seraya memiringkan sedikit kepalanya.
"Aku menunnggumu di sini karena ingin bertemu denganmu untuk mengucapkan salam perpisahan sebelum kau tertidur." Kata Rumi
"Oh! Kalau begitu, terima kasih untuk hari ini, Rumi. Kau telah menemaniku bermain dan memenangkan banyak hadiah untukku, kau bahkan membantuku membawakan semua hadiah mainan ke dalam kamarku. Sekarang, kau kembalilah ke kamarmu dan tidur yang nyenyak. Selamat malam, selamat tidur! Dan jumpa lagi besok..." Ucap Raisa
Rumi tersenyum mendengar salam perpisahan yang Raisa ucapkan padanya di malam hari itu. Rumi pun melangkah maju untuk lebih mendekat ke arah Raisa...
Raisa yang kembali merasa terancam karena Rumi mendekat padanya pun tak dapat berpaling karena posisinya telah dipojokkan dan tepat di belakangnya adalah pintu kanar yang sudah tertutup. Raisa tak mungkin ke luar lagi ubtuk menghindari Rumi dan hanya dapat berdiam diri...
"Sudah kan? Aku sudah mengucapkan salam perpisahanku. Hanya tinggal kau saja dan setelah itu kembalilah ke kamarmu." Ujar Raisa
"Kau begitu ingin aku cepat pergi ya, Raisa? Jahat sekali!" Kata Rumi
Kini punggung Raisa telah menempel pada pintu kamar dan Rumi mengunci pergerakan Raisa di sisi kiri dan kanannya.
"Kau mau apa? Salam perpisahan tidak harus seperti ini kan?" Panik Raisa
"Kau pasti lelah setelah bermain. Setelah ini tidurlah dengan nyenyak." Kata Rumi
"Apanya yang lelah? Memangnya kita bermain seperti apa sih sampai membuat lelah? Tidak juga tuh!" Pelan Raisa
"Tidak lelah? Apa itu artinya kau masih mau bermain denganku?" Tanya Rumi yang semakun mendekatkan dirinya pada Raisa hingga kening keduanya bersentuhan.
"Tidak, kau pasti salah dengar! Aku lelah sekali dan mengantuk. Ingin sekali rasanya langsung tidur sekarang juga!" Elak Raisa
"Sudah mengantuk dan ingin tidur sekarang? Apa aku harus menemanimu tidur di sini malam ini?" Goda Rumi
"Tidak! Sudah kubilang tidak boleh!" Tegas Raisa
"Kenapa kau harus panik? Kalau tidak mau juga tidak apa..." Ujar Rumi
"Aku tidak panik!" Gugup Raisa
"Benarkah?" Rumi mendekati wajahnya pada Raisa.
"Benar, tidak!" Cepat Raisa
"Oh ya?" Rumi semakin menggoda Raisa dengan lebih mendekatkan dirinya hingga hampir tak berjarak.
Raisa pun memejamkan matanya...
CUP!
Ciuman Rumi mendarat pada kening Raisa~
Raisa pun membuka matanya kembali.
"Sudah! Itu salam perpisahan dariku... Selamat malam dan Selamat tidur, Raisa! Sampai jumpa besok..." Ucap Rumi
Rumi pun menggeser tubuh Raisa yang mematung untuk membuka pintu kamar dan pergi ke luar dari kamar tersebut, setelah itu kembali menutup pintu kamar itu...
..."Kau sudah seperti mengancamku dengan mendekatkan dirimu denganku, ternyata hanya mau mengecup kening saja!?" Batin Raisa...
"Rumi! Sifat jahilmu sudah menjadi permanen dan mendarah daging!" Kesal Raisa
Raisa kesal karena Rumi sudah menjahilinya atau kecewa hanya mendapat ciuman di kening? Entahlah...
Raisa hanya menggerutu sambil meneguk habis susu putih hangat di tangannya~
.
•
__ADS_1
Bersambung...