Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
137 - Apa Yang Sudah Aku Lupakan?


__ADS_3

Malam harinya...


Setelah mengurus administrasi, Raisa langsung dipindahkan ke ruang rawat inap rumah sakit tersebut. Tak lupa juga Raisa melakukan serangkaian pengecekan lanjutan tahap awal meski pun masih dalam kondisi tak sadarkan diri. Dalam kondisinya saat itu, Bu Vani dan Pak Hilman sebagai kedua orangtuanya terus menemani di samping Raisa...


"Gimana ini, Pak? Kenapa sampai sekarang Raisa masih belum sadar juga?" Cemas Bu Vani bertanya.


"Ibu, tenang ya, yang sabar. Untung Raisa masih bisa selamat, katanya kalau dilihat dari kecelakaannya harusnya kobdisi Raisa lebih parah dari pada ini. Raisa kita kan kuat, makanya bisa sangat beruntung kayak gini, dia juga kan istimewa. Kita tunggu aja, pasti Raisa bisa sadar." Ucap Pak Hilman yang berusaha menenangkan istrinya.


...


Di rumah, Raihan yang dikabari tentang Raisa yang kecelakaan diminta Ibu dan Bapak untuk tetap tenang dan jaga diri di rumah sendiri. Raihan seorang diri di rumah, karena kedua orangtuanya sibuk mengurus dan menjaga kakaknya yang sedang berada di rumah sakit. Saat mendengar ketukan pintu dari luar, Raihan langsung mendekati pintu utama rumahnya. Setelah memastikan siapa yang datang, Raihan pun membukakan pintu rumahnya untuk bagian dari keluarganya juga.


"Kak Raina?! Ayo, masuk, Kak." Kata Raihan setelah membukakan pintu.


Raina datang bersama suami dan anaknya.


"Kamu sendirian di rumah ya? Takut gak?" Tanya Raina berbasa-basi.


"Enggak kok, Kak. Tapi, Kak Raisa..." Kata Raihan yang menggantungkan perkataannya.


"Kamu udah dikasih kabar ya, tapi kamu udah tahu kabar terbarunya belum? Katanya, walau masih belum sadar, kondisi Raisa itu dikatakan beruntung. Kalau dilihat dari kecelakaannya, luka Raisa jauh lebih ringan dari pada yang seharusnya, jadi Raisa pasti baik-baik aja. Kita berdoa aja, biar Raisa bisa cepat sadar." Ujar Raina


"Iya deh, kita berdoa aja. Kakak kapan dikasih tahu kabar terbarunya? Kok Raihan gak dikasih tahu juga sih?" Tanya Raihan


"Belum lama kok. Malah Kakak mah dikasih kabarnya baru pas tadi doang, sebelumnya Kakak belum dikasih tahu sama sekali. Kayaknya Ibu dan Bapak disana masih repot banget, makanya Kakak disuruh ke sini nemenin kamu. Besok kita ke rumah sakit bareng ya, jadi gak usah khawatir lagi." Jelas Raina


"Iya." Singkat Raihan


"Say, ini Farah sama kamu dulu deh. Aku mau masukin barang-barang yang ada di mobil." Ucap Arka yang menghampiri Raina sambil menggendong Farah.


Raina mengambil alih Farah dari gendongan suaminya. Arka pun lebih mudah memindahkan barang bawaan mereka dari dalam mobil ke dalam rumah. Karena mereka bertiga akan menginap untuk menemani Raihan yang berada sendirian di rumah.


"Om, Onty Icha mana? Nenek dan Kakek juga gak kelihatan?" Tanya Farah dengan polosnya.


"Farah, belum dikasih tahu ya, Kak?" Raihan malah balik bertanya pada sang kakak.


"Farah, Onty Icha lagi sakit, Sayang. Nenek dan Kakek lagi nemenin Onty di rumah sakit, jadi mereka bertiga gak ada di rumah. Kita ke sini buat temenin Om Ehan, kasihan sendirian di rumah. Jadi, kalau mau main, Farah main sama Om aja dulu ya." Jelas Raina


"Iya, Mih. Om Ehan kasihan sendilian di lumah, Onty Icha lebih kasihan lagi sakit di lumah sakit." Ucap Farah


"Iya, Onty kasihan. Makanya besok kita mau jenguk ke rumah sakit, Farah juga udah kangen sama Onty Icha kan? Malam ini main boleh, tapi jangan main sampai terlalu malam ya. Biar besok bisa bangun pagi untuk siap-siap pergi ke rumah sakit buat jenguk Onty Icha. Terus nanti di rumah sakit besok, Farah gak boleh rewel ya..." Ujar Raina


"Yeay, ketemu Onty Icha! Siap deh, Mih!" Kata Farah


Walau tanpa ditemani Raisa, Farah pun asik bermain dengan Raihan, Raihan pun melupakan kekhawatirannya karena kedatangan Farah yang ceria. Tidak sampai larut malam, Farah sudah minta untuk ditemani tidur dengan Raina agar dapat bangun pagi hari untuk langsung bersiap menjenguk Raisa di rumah sakit.


•••


Keesokan harinya...


Pagi-pagi sekali...


Raisa terus tertidur di atas ranjang rumah sakit di suatu ruang inap. Bu Vani dan Pak Hilman terus menemani tak jauh dari Raisa, pagi-pagi sekali kedua orangtua Raisa ini sudah bangun dan melihat putrinya yang masih saja terlelap.


Perasaan sedih orangtua yang melihat kondisi anaknya sakit dan terluka bahkan belum sadarkan diri itu mulai membuahkan hasil ketika melihat anggota tubuh Raisa yang perlahan mulai bergerak...


"Ngghh~ Hhhh..." Lenguh Raisa yang perlahan mulai sadar.


"Pak, Raisa...!"


Raisa pun mulai mengerjapkan sepasang matanya berulang kali dan saat kedua matanya terbuka, Raisa pun menyapu pandangannya ke sekelilingnya. Raisa melihat Ibu dan Bapak-nya yang sedang berada di dekatnya di sana...


"Raisa, kamu udah sadar, Nak? Bisa lihat jelas gak?" Tanya Pak Hilman


"Ibu, Bapak, ini di mana? Rumah sakit? Raisa sakitnya parah ya?" Tanya Raisa dengan sedikit terbata dan bersuara pelan.


"Gak apa, Sayang. Kamu bakal baik-baik aja kok." Kata Bu Vani


"Bapak panggil Dokter dulu!" Cepat Pak Hilman yang langsung bergegas ke luar dari ruangan.


"Dokter! Suster!" Suara Pak Hilman yang memanggil para medis pun terdengar sampai ke dalam ruang rawat Raisa.


Setelah memanggil Dokter dan Suster, Pak Hilman pun kembali dengan kedua para medis tersebut ke dalam ruang inap Raisa.


"Dok, anak saya udah sadar. Tolong periksa anak saya!" Mohon Bu Vani


"Baik. Raisa, ya? Saya periksa dulu ya..." Ujar Dokter


Raisa pun hanya mampu terdiam melihat dan membiarkan Dokter memeriksa dirinya.


"Raisa, bisa lihat dengan jelas? Coba, saya tunjukkan dan Anda sebutkan jari saya ada berapa?" Tanya Dokter


"Jelas, Dok. Itu, tiga!" Jawab Raisa yang dapat melihat dengan jelas.


"Bisa kenal orang yang ada di ruangan ini?" Tanya Dokter


"Ada Ibu dan Bapak saya, tapi saya gak kenal sama Dokter dan Suster yang ada di sini." Jawab Raisa

__ADS_1


"Sekarang apa yang Raisa rasakan? Ada keluhan?" Tanya Dokter


"Badan saya lemas kayak gak ada tenaga, sakit semua rasanya kayak remuk, terutama kepala saya yang paling sakit." Jawab Raisa


"Sejauh ini pasien Raisa baik-baik saja, tapi masih harus dipastikan lebih jauh. Tapi, maaf... Saya hanya Dokter jaga, Dokter yang menangani pasien Raisa masih belum datang. Jadi, harap bersabar. Setelah Dokter khusus yang menangani pasien Raisa datang nanti, Raisa masih harus menjalani beberapa pemeriksaan lanjutan." Jelas Dokter


"Untuk pasien Raisa, baik-baik istirahat dulu ya. Kalau merasa tidak ada tenaga, jangan banyak bergerak atau bicara dulu. Setelah makanan diantar nanti harap langsung dihabiskan untuk pemulihan tenaganya ya." Lanjut Dokter


Raisa pun mengangguk mengerti...


"Susternya akan mengambil darah untuk diperiksa. Kalau begitu, saya permisi dulu." Kata Dokter


"Terima kasih, Dokter."


Dokter pun berlalu pergi meninggalkan ruangan, tersisa Suster yang sudah siap dengan peralatannya untuk mengambil darah.


"Darahnya sudah saya ambil ya, ini akan diperiksa dan doberi tahu hasilnya nanti. Sementara istirahah yang baik sambil menunggu Dokter khususnya datang. Saya permisi dulu..." Ucap Suster


"Terima kasih, Suster."


Setelah kedua tenaga medis itu ke luar dari ruangan, Bu Vani dan Pak Hilman pun langsung mendekati ranjang rawat Raisa.


"Syukurlah, kamu udah sadar, Sayang..." Lega Pak Hilman


"Kamu mau apa, Nak? Makan mau ya, sedikit aja biar ada tenaga? Ibu ada roti rasa blueberry kesukaan Raisa." Ujar Bu Vani bertanya.


"Raisa haus, Bu. Mau minum." Pinta Raisa


"Minum ya... Ini, Sayang. Ibu bantu ya." Kata Bu Vani yang dengan cepat mengambilkan dan membantu Raisa untuk minum air putih.


"Kepala Raisa sakit, Bu. Pusing, mau tidur dulu, sebentar lagi aja." Ucap Raisa


"Ya sudah. Tapi, nanti Ibu bangunin kalau makanan udah datang ya." Ujar Bu Vani


Raisa pun mengangguk dan matanya perlahan kembali terpejam untuk tidur dan untuk sedikit menghilangkan rasa sakit di kepalanya.


 


Di tempat lain...


Masalah penyusup yang datang menyerang Desa Daun sudah diselesaikan. Dengan adanya pasukan keamanan yang dikerahkan dan juga bantuan langsung dari Pemimpin Desa, musuh berhasil dikalahkan...


Pagi-pagi sekali, seorang pemimpin desa yaitu Paman Nathan pergi suatu tempat yang sudah lebih dulu diamankan.


"Bagaimana dengan kondisi Rumi?" Tanya Paman Nathan pada Bibi Sierra.


"Ini salahku, kalau saja aku tidak bersih kukuh untuk pergi dan mengajaknya ke lokasi penyerangan penyusup. Padahal Ayah dan Raisa juga sudah mengingatkanku waktu itu. Maaf..." Sesal Morgan


"Ini bukan sepenuhnya salahmu, Morgan. Raisa juga sudah mengingatkanku bahwa adanya penyusup yang memata-matai desa, tapi sampai sekarang aku masih belum menemukan mata-mata itu. Aku sebagai Pemimpin Desa juga sudah gagal melindungi wargaku sampai Rumi jadi sasaran target penyerangan." Ucap Paman Nathan


"Tapi, saat Ayah datang kemarin, kau mampu menyelamatkan Rumi sedangkan aku tidak. Aku lah penyebab Rumi sampai jadi seperti ini. Aku lalai tidak ingat pesan kalian semua bahwa Rumi sedang menjadi target musuh." Ujar Morgan


"Bukan hanya kau yang lalai, kita semua sama-sama telah melupakan bahaya yang mengintai hanya karena selama ini musuh belum melakukan pergerakan untuk menyerang, sampai saat kemarin kita semua kewalahan karena tiba-tiba saja musuh menyerang tanpa peringatan. Jangan salahkan dirimu sendiri dan kalau kau ingin minta maaf, katakan sendiri dan tunggulah sampai Rumi sadarkan diri." Tutur Paman Nathan


"Sekarang, bagaimana dengan Rumi? Aku tidak bisa asal memberi tindakan padanya karena kondisi tubuhnya yang spesial. Apa kita harus membawa Rumi ke tempat Ayah-nya? Rommy pasti tahu cara menyelamatkan Rumi." Ujar Bibi Sierra yang menanyakan pendapat Paman Nathan.


"Sepertinya hanya itulah satu-satunya cara yang bisa dilakukan, tapi kita harus melakukannya tanpa diketahui orang. Menjaga kalau masih ada mata-mata di sini, kita harus merahasiakan saat membawa Rumi pergi ke tempat Rommy. Ini akan menjadi misi pengawalan tingjat tinggi! Morgan, kau harus ikut untuk mengawal perginya Rumi dan selama pengobatan Rumi di tempat Rommy, kau tetap harus mengawasinya dan melindunginya dari dekat. Kau kan juga masih harus menunggunya sadar untuk minta maaf secara langsung." Ucap Paman Nathan


"Terima kash, Ayah! Aku akan melakukan misi ini dengan baik!" Kata Morgan


"Ini adalah misi kita sebagai tim. Tenang saja kau tidak akan sendirian, Morgan. Tuan Pemimpin Desa, biarkan aku ikut dalam misi pengawalan ini!" Ujar Aqila yang sedari tadi berada di sana.


"Baiklah, aku memang berencana menyertakan kau dalam misi ini." Kata Paman Nathan


"Terima kasih, Tuan Pemimpin Desa!" Ucap Aqila


"Nathan, bagaimana keadaan di desa sekarang ini? Apa musuh sudah benar-benar pergi? Apa akan aman membawa pergi Rumi setelah ini?" Tanya Bibi Sierra


"Saat ini desa sudah kembali aman, musuh sudah pergi, kami berhasil membuat mereka mundur. Rasanya cukup aman untuk membawa Rumi pergi. Aku tahu kekhawatiranmu, makanya kita akan membawa Rumi secara diam-diam." Jawab Paman Nathan


 


Setelah beberapa saat tertidur, Raisa pun kembali terbangun. Saat bangun, Bu Vani membantu Raisa untuk membersihkan tubuh dengan mengelap anggota badan dengan air hangat secara perlahan, Pak Hilman pun ke luar dari kamar rawat agar memudahkan Raisa membersihkan tubuhnya. Setelah membersihkan tubuh, makanan pun datang diantarkan petugas rumah sakit ke dalam kamar rawat Raisa. Setelah dibantu Bu Vani untuk duduk, Raisa pun memakan sarapannya sendiri. Walau Bu Vani menawarkan bantuan untuk menyuapinya, Raisa bersih keras ingin melakukannya dengan usaha sendiri.


Saat waktu makan tersebut, ada ketukan dari luar. Ternyata yang membuka pintu dan masuk ke dalam adalah Pak Hilman, serta Raina, Raihan, Arka, dan juga Farah yang baru saja datang untuk menjenguk Raisa.


"Raisa, kakak dan adikmu sudah datang!" Seru Pak Hilman saat masuk.


"Raisa, gimana keadaan kamu? Pasti terasa sakit banget ya?" Tanya Raina


"Sekarang udah gak terlalu sakit kok." Jawab Raisa


"Nih, ada buah-buahan buat Kak Raisa. Tadi mampir beli dulu di jalan." Ucap Raihan


"Pake repot segala. Emang udah ada toko buah yang buka masih pagi begini?" Ujar Raisa


"Cari aja, pasti ada kok yang udah buka." Kata Raihan

__ADS_1


"Terima kasih deh, kalau begitu." Ucap Raisa


Awalnya, Raisa hanya melihat Raina dan Raihan saja yang masuk. Ternyata, Arka menyusul paling akhir dengan menggendong Farah...


"Farah, bisa masuk? Emang gak dilarang sama penjaga di luar?" Tanya Bu Vani


"Penjaganya gak ada, Bu. Mungkin lagi pergantiam sift, jadi langsung masuk aja tadi." Jawab Arka


"Lho, Kak Arka bawa anak kecil? Lucu banget! Anak siapa nih yang dibawa? Gak nyulik anak orang kan?" Tanya Raisa dengan polosnya.


"Gak usah becanda deh, itu Farah! Keponakan kamu." Kata Raina


"Keponakan siapa? Keponakan Kak Arka yang lagi dititipin ya? Kak Raina mah baru hamil gak lama ini kan? Sekarang udah berapa bulan, Kak?" Tanya Raisa


DEG!


Semuanya terkejut dan saling memandang, kecuali Farah yang berekspresi bingung dengan begitu polosnya...


"Haha, gak usah becanda lagi, Raisa. Ini Farah, masa kamu lupa?" Ujar Raina


"Oh, namanya Farah ya? Cantik!" Kata Raisa


"Farah, itu anak Kak Arka sama Kakamu, Raina. Keponakan kamu, Raisa." Ucap Arka


"Apaan deh becandanya! Kak Raina kan masih hamil, mana mungkin langsung melahirkan anaknya udah gede begini." Ucap Raisa


Dalam gendongan Arka, Farah minta diturunkan. Setelah turun, Farah langsung berlari mendekati ranjang rawat Raisa dengan lincahnya...


"Onty, aku kangen...! Mau main sama Onty Icha lagi!" Kata Farah


"Kamu panggil aku Aunty ya? Pintar banget! Tapi, nama aku Raisa, bukan Icha." Ujar Raisa


"Iya, Onty Icha!" Seru Farah


"Oh, masih cadel ya?" Tanya Raisa


Farah mengangguk...


Raina pun beralih menggendong Farah.


"Raisa, Kakak udah melahirkan. Usia mengandung 9 bulan udah lewat, ini anak Kak Raina dan Kak Arka. Namanya Farah, usianya udah hampir 4 tahun." Ungkap Raina


"Apa?!" Kali ini berhasil membuat Raisa terkejut! Ekspresi Raisa pun seperti orang kebingungan.


"Kamu gak ingat, Raisa? Farah, ini keponakan kesayangan kamu loh! Onty Icha itu panggilan kesayangan dari Farah buat kamu, selain alasan dia yang masih cadel." Ujar Raina


"Keponakan kesayangan?" Gumam Raisa yang lalu memegangi kepalanya yang mulai terasa semakin sakit.


Raisa tersenyum canggung sambil menahan rasa sakit di kepalanya.


"Maaf, aku gak ingat. Apa yang sudah aku lupakan? Kenapa jadi seperti ini?" Ujar Raisa kebingungan.


"Tenang ya, Raisa." Kata Bu Vani yang mulai cemas dengan keadaan Raisa yang terlihat kesakitan.


"Bu, kepala Raisa sakit!" Keluh Raisa


Raisa mulai meremas rambutnya sendiri!


Saat kondisi Raisa yang seperti itu, waktu kunjungan Dokter pun tiba. Dokter khusus yang menangani Raisa dan Suster pun masuk ke dalam ruang rawat inap tersebut...


"Permisi, waktunya pemeriksaan!"


"Ramai sekali! Sedang ada keluarganya yang datang ya? Tapi, maaf. Anak kecil dilarang masuk ke sini. Mohon untuk ke luar ya." Ujar Dokter


"Farah, kita ke luar dulu ya. Onty Icha lagi mau diperiksa sama Om Dokter." Ucap Raina


"Iya, Mih." Patuh Farah sambil mengangguk.


Raina pun membawa Farah dalam gendongannya ke luar dari ruang rawat Raisa...


Arka pun ikut ke luar bersama istri dan anaknya. Mereka bertiga menunggu di luar ruang rawat inap Raisa.


"Dok, tolong periksa anak saya. Kepalanya sakit setelah gak bisa ingat sama keponakannya tadi." Ucap Bu Vani


"Pasien Raisa ya? Kepalanya sakit? Coba tenang dulu... Tidak apa kalau tidak bisa ingat untuk sekarang, mungkin ini karena benturan di kepala saat kecelakaan terjadi. Tidak perlu memaksa untuk ingat sekarang juga." Ujar Dokter yang menangani Raisa setelah terjadinya kecelakaan kemarin.


"Dokter bilang apa tadi? Saya kecelakaan? Bukannya saya hanya sakit biasa?" Bingung Raisa yang masih memegangi kepalanya yang sakit.


..."Apa itu sebabnya kepalaku diperban? Banyak luka di tubuhku dan tanganku dibalut gips? Aku lupa ingatan?!" Batin Raisa...


"Trauma akibat benturan di kepala saat kecelakaan memang wajar dan sering terjadi. Bisa saja bersifat sementara saja dan hanya berlangsung sebentar setelah pasien sadar seperti sedikit kebingungan dan berusaha adaptasi dengan kerja otak secara normal kembali. Makanya, Raisa tenang dulu ya. Coba atur nafas perlahan, tarik dan hembuskan, lakukan minimal tiga kali... Tenangkan diri, jangan berpikir yang rumit atau coba mengingat dengan keras. Rileks saja..." Tutur Dokter


Raisa pun mencoba untuk tenang dan melakukan seperti yang Dokter katakan.


.


__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2