
Keesokan harinya ...
Di pagi hari, Rumi sudah menghampiri rumah Raisa. Sebelum masuk, Rumi lebih dulu mengetuk pintu.
Tok-tok-tok!
Pintu pun terbuka dan memperlihatkan Raisa yang ada di dalam.
"Halo, Rumi. Kau datang, rupanya. Masuklah," sapa Raisa mempersilakan Rumi untuk masuk ke dalam rumahnya.
Rumi pun masuk ke dalam rumah Raisa dan mendekati gadis itu.
"Kau sudah baik-baik saja, Raisa? Harusnya kau masih ada di atas ranjang dan beristirahat. Kan, sudah kubilang ... kau jangan turun dari ranjang dulu untuk sementara waktu," ujar Rumi
"Aku sudah pulih dan baik-baik saja kok, sungguh. Kau tidak berniat untuk terus bedrest dan hanya istirahat, kan?" tanya Raisa
"Aku memang berniat menyuruhmu terus dan istirahat lagi. Kau harus baik-baik memperhatikan dan menjaga kondisimu. Aku akan ikut menjagamu," jawab Rumi
Inilah yang Raisa khawatirkan. Jika Rumi mengetahui kenyataan tentang beban konsekuensi yang harus Raisa tanggung karena memiliki kemampuan sihir suci, Rumi akan bersikap protektif dan berlebihan menyuruhnya untuk istirahat.
..."Pasti akan sulit jika aku ingin ke luar rumah. Rumi pasti melarangku," batin Raisa...
Tiba-tiba Raisa mempunyai ide. Raisa pun tiba-tiba merubah ekspresi wajahnya menjadi waspada dan terlihat takut.
"Raisa, ada apa denganmu?" tanya Rumi yang menyadari perubahan ekspresi wajah Raisa.
"Dari tadi aku melihat ada serangga di dalam rumah, tapi masih tidak bisa menemukannya. Aku jadi waspada," jawab Raisa
"Hanya serangga saja, untuk apa kau takut?" tanya Rumi lagi.
"Tapi, aku tidak suka serangga," jawab Raisa
KYAAAA!!
Raisa berlarian ke luar dari rumah.
"Aku melihat ada seranga di sana," pekik Raisa
"Jangan takut. Aku akan memeriksa dan mengusirnya," kata Rumi
Raisa tersenyum dan terkekeh kecil.
"Rumi, karena sudah di luar seperti ini. Bagaimana kalau kita sekalian pergi saja?" tanya Raisa
Raisa langsung berlarian kecil untuk menjauh dari rumahnya.
"Kau berbohong soal serangga itu denganku, ya ... " Rumi sadar Raisa telah berbohong padanya dan nenjadikan serangga sebagai alasan hanya supaya bisa ke luar dari rumahnya.
Raisa terkekeh kecil. Ia tahu Rumi pasti akan cepat menyadari sandiwaranya karena tidak mudah ditipu.
"Tapi, aku serius soal tidak suka dengan serangga kok," jujur Raisa
"Pintu rumahmu bahkan belum ditutup," kata Rumi
__ADS_1
"Itu mudah," singkat Raisa
Raisa langsung menggunakan kemampuan sihirnya untuk menutup dan mengunci pintu rumahnya dari jarak jauh.
"Aku bahkan sudah mengunci pintu rumahku. Ayo kita pergi," ucap Raisa
"Kau baru saja pulih, tapi sudah asal menggunakan kemampuan sihir," ujar Rumi
"Tidak apa. Aku sungguh sudah pulih," kata Raisa
"Tidak bisa seperti ini. Kau masih harus istirahat lebih lama lagi," ucap Rumi
Seperti deja vu. Rumi pasti ingin menangkapnya dan menyuruhnya untuk tetap istirahat di rumah. Raisa tidak menginginkan itu. Maka yang harus dilakukan saat ini adalah lari dari jangkauan Rumi!
Rumi hendak menghampirinya dan Raisa pun berlari.
"Aku tidak ingin terus di dalam rumah saja. Aku ingin ke luar," pekik Raisa
"Aku tidak akan membiarkanmu," tegas Rumi
Raisa yang tidak berniat untuk terus berlari pun berhenti hinhga membuat Rumi bisa menangkapnya dengan mudah. Rumi pun menangkap tubuh Raisa dengan memeluknya dari belakang.
"Tertangkap kau," kata Rumi
"Rumi, aku baru saja selesai memulihkan diri, kau malah sudah langsung membuatku merasa lelah dengan berlari. Tidak bisakah kau biarkan aku ke luar dan bersantai?" tanya Raisa
"Sudah tahu baru memulihkan diri dan tidak boleh merasa lelah, kau malah berlari dan memprovokasi aku. Kau juga bisa bersantai di rumahmu," ujar Rumi yang masih enggan melepaskan Raisa.
"Tidak mau dan tidak bisa," tolak Rumi
Saat itu juga terlihat Aqila dan Chilla mendekat.
"Ada apa dengan kalian berdua?" tanya Aqila
"Masih pagi, kalian berdua sudah bermersaan saja sampai tidak mau lepas seperti itu," kata Chilla
"Apanya yang bermesraan sampai tidak mau lepas? Rumi ingin menyuruhku terus istirahat dan berniat mengurungku di dalam rumah. Aku ingin lari, tapi malah tertangkap. Kalian berdua, tolong lepaskan aku darinya atau mintalah padanya untuk melepaskanku," ujar Raisa
"Kau seolah-olah membuatku terdengar seperti penjahat," kata Rumi
"Kalau begitu, cepat lepaskan aku," pinta Raisa
"Tidak bisakah kalian berdua bicara baik-baik saja?" tanya Aqila
"Ini, sih, Rumi saja yang ingin tetap memeluk Raisa, makanya tidak ingin melepaskan pelukannya," ujar Chilla
Saat itu juga Rumi pun melepaskan pelukannya pada tubuh Raisa. Raisa pun langsung berlari ke arah Aqila dan Chilla. Raisa menyusup masuk di antara Aqila dan Chilla yang menggandeng tangan kedua teman gadisnya itu di masing-masing satu tangannya. Supaya Rumi tidak bisa lagi memaksa atau menangkapnya.
"Sungguh, aku baik-baik saja dan sudah pulih. Aku bisa mati bosan jika terus berada di dalam rumah. Biarkan aku bersantai di luar," ucap Raisa
Hati Rumi terasa sakit saat melihat Raisa tidak ingin berada di dekatnya dan memilih untuk berada di antara Aqila dan Chilla. Apa lagi, Raisa mengatakan kata 'mati' dengan mudah dari mulutnya. Kata yang tidak ingin Rumi dengar dari mulut gadis itu.
"Baiklah, kau bisa bepergian dan bersantai di luar rumah. Tapi, jangan jadi takut padaku atau mengatakan kata 'mati' dengan mudah seperti tadi. Kumohon ... " lirih Rumi
__ADS_1
"Aku tidak takut padamu kok. Jadi, aku boleh ke luar dengan yang lain bersamamu juga, kan?" tanya Raisa
Rumi mengangguk. Raisa pun tersenyum ceria.
"Yeay, asik! Jadi, kita mau ke mana?" tanya Raisa
"Seperti biasa. Kita akan ke tempat kumpul," jawab Chilla
Mereka pun sama-sama memutar arah untuk menuju ke tempat berkumpul. Rumi pun mengikuti langkah ketiga gadis itu.
Meski tidak bisa berjalan tepat di samping Raisa, Rumi sudah merasa senang karena bisa melihat senyum ceria milik Raisa lagi dan bukannya melihat sikap waspada dan ekspresi takut gadis itu yang diperlihatkan padanya. Itu pun sudah cukup bagi Rumi.
Saat sampai di tempat berkumpul seperti biasa ... Rumi merasa sangat senang saat Raisa memilih untuk duduk di sampingnya. Ia pikir Raisa masih akan menjaga jarak dengannya dan tidak mau berada di dekatnya atau duduk di sampingnya untuk sementara waktu atau bahkan seterusnya. Ia pun merasa lega karena itu hanyalah kekhawatirannya yang berlebihan saja.
Rumi pun terus tersenyum karena merasa senang.
"Kalian akhirnya datang juga," ujar Devan
"Kau juga datang, Raisa ... " sapa Ian
"Raisa, kukira kau masih akan beristirahat di rumah," kata Morgan
"Aku juga sudah menyuruhnya untuk tetap istirahat dan diam di rumah. Tapi, Raisa tidak mau dan bersikeras ingin ke luar dari rumah," ujar Rumi
"Aku sudah pulih dan baik-baik saja. Meski harus menanggung konsekuensi, pemulihanku tidak memakan waktu lama karena sebelumnya aku tidak terluka. Aku datang ke sini untuk liburan, masa baru menetap sebentar sudah harus terus berdiam diri di rumah. Itu akan sangat membosankan," ucap Raisa
"Ya. Yang penting Raisa sudah pulih dan baik-baik saja," kata Dennis
"Aku tidak menyangka akan ada konsekuensi yang harus kau tanggung dengan memiliki dan menggunakan kemampuan sihir milikmu," ujar Billy
"Kelihatannya saja yang menyenangkan memiliki kemampuan yang sangat hebat, tapi ternyata sangat berat bagimu, ya, Raisa ... " ucap Amy
"Ya. Kami sudah dengar cerita tentangmu kemarin dari Chilla," ungkap Wanda
"Tidak apa. Ini memang tanggung jawabku dan aku sudah terbiasa. Kan, dari awal aku juga sudah pernah menjelaskan pada kalian bahwa aku tidak bisa menggunakan kemampuan sihir milikku secara sembarangan," ujar Raisa
"Kau sangat hebat dan kuat, Raisa!" puji Marcel
Raisa tersenyum kecil.
"Omong-omong, kalian berenam ada di mana saat kejadian kemarin? Kenapa aku tidak melihat kalian?" tanya Raisa merujuk pada Dennis, Marcel, Billy, Wanda, Sandra, dan Amy.
"Kemarin kami diminta untuk mengevakuasi korban yang ada dan menangani para penyusup yang telah disegel," jawab Sandra
Raisa mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti.
.
•
Bersambung ...
__ADS_1