Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
[Season 2] 78 - Mendadak Datang.


__ADS_3

Setelah kembali dari pesta pernikahan Aqila dan Morgan serta menjalankan misi di dimensi lain di dunia yang berbeda, Raisa kembali disibukkan dengan pekerjaannya sebagai artis.


Kini Raisa sedang disibukkan dengan jadwal membintangi sinetron aksi romantis. Setelah namanya di industri hiburan terus meroket, sinetron yang dibintanginya pun memiliki rating yang selalu bagus.


Raisa pun jadi lebih sibuk berada di lokasi syuting. Gadis cantik itu jadi sering pulang malam karena jadwal syutingnya untuk sinetron kejar tayang selalu padat. Tak jarang ia pun menginap di lokasi syuting saking banyaknya adegan yang harus diambil karena perannya sebagai tokoh utama dalam sinetron terbarunya itu.


 


"Setelah tiba di sana nanti, apa kita akan langsung mendatangi rumah Raisa?" tanyanya, pria dengan wajah dinginnya yang tampan.


"Ya. Akan lebih baik jika seperti itu," jawabnya, lelaki yang tak kalah tampan dan jauh lebih muda.


"Aku mohon bantuanmu, ya, Paman Elvano," sambungnya, Rumi.


"Baik. Aku mengerti," katanya, Paman Elvano.


"Bagaimana dengan Aqila dan Bibi Sierra? Apa mereka berdua tidak masalah jika kau pergi?" tanya Rumi


"Ya. Aku sudah memberi tahu pada mereka berdua bahwa aku akan pergi membantumu. Bahkan mereka berdua juga memberi dukungan penuh," jawab Paman Elvano


"Baguslah," kata Rumi


"Kalau begitu, kita pergi sekarang ... " ujar Paman Elvano


Rumi pun mengangguk mantap dab setuju.


Paman Elvano pun menggunakan kemampuan sihirnya untuk membuka portal sihir teleportasi. Ia dan Rumi pun pergi menuju ke dunia Raisa berada.


Begitu tiba di dunia tempat tinggal Raisa, Paman Elvano pun langsung menutup portal sihir teleportasi yang dibuka olehnya.


Sesuai rencana, ia dan Rumi pun langsung beranjak menuju ke rumah tempat tinggal Raisa.


Rumi dan Paman Elvano pergi dari dunia mereka dan datang ke dunia tempat tinggal Raisa dengan menggunakan pakaian semi formal dan keduanya sedang menuju ke rumah Raisa untuk suatu urusan di sana.


...


Kakak Raisa, Raina bersama suaminya, Arka, dan anak mereka, Farah, datang berkunjung ke rumah orangtuanya.


Mereka bertiga baru saja sampai.


Begitu tiba di rumah Nenek Kakek nya dan setelah memberi salam pada kedua orangtua Sang Mami, Farah langsung berkeliling rumah tersebut. Gadis kecil itu merasa rindu karena sudah lama tidak berkunjung di sana.


"Jadi, apa ini rumahnya?"


"Ya. Di sini tempatnya."


Seorang pria dan lelaki dewasa tampak berdiri di depan rumah orangtua 3R. Yaitu, Raina, Raisa, dan Raihan.


Farah yang sedang berkeliling di rumah itu langsung terkesiap begitu melihat seorang yang dikenalinya dari dua orang yang berdiri tak jauh dari rumah Nenek Kakek nya itu.


Gsdis kecil itu memastikan penglihatannya dari dalam rumah di balik jendela.


"Mami, ada yang datang! Itu ... Om ganteng! Om Rumi, temannya Onty Icha sama ... aku gak tahu orang satunya lagi," pekik Farah begitu memastikan penglihatannya benar.


Mendengar putrinya memekik cukup keras, Raina langsung menghampirinya.


"Farah, kenapa teriak-teriak segala di dalam rumah, sih? Emangnya siapa yang datang, Sayang?" tanya Raina, kakak perempuan Raisa.


"Itu, Mih ... Om Rumi sama gak tahu lagi siapa yang satunya," jawab Farah sambil menunjuk ke luar rumah dari balik jendela.


"Eh, iya ... benar. Ada Rumi datang," kata Raina begitu memastikan siapa yang datang dan berada di luar rumah kedua orangtuanya.


Bu Vani pun menghampiri anak dan cucu perempuan kesayangannya.


"Ada apa, Farah Sayang? Siapa yang datang, Raina?" tanya Bu Vani


"Itu, Bu ... ada Rumi dan satu orang lagi. Gimana, nih? Kan, Raisa lagi gak ada di rumah," jawab Raina yang jadi bingung saat kedatangan tamu kenalan adik perempuannya saat sang adik tidak ada di tempat.


"Gak usah panik gitu. Biar Ibu yang samperin," kata Bu Vani


Bu Vani pun ke luar dari dalam rumahnya. Lalu, ia berjalan menuju ke arah pagar dan membukanya untuk kedua tamu yang datang.


"Rupanya, ada tamu yang datang ... " ujar Bu Vani

__ADS_1


Itu adalah Rumi dan Paman Elvano yang datang ke rumah Raisa.


"Selamat siang, Bibi. Maaf, kalau kedatangan kami sangat mendadak," sapa Rumi dengan sopan.


"Tidak apa. Silakan masuk," kata Bu Vani


"Selamat siang, Nyonya ... " sapa Paman Elvano. Ini adalah kali pertamanya bertemu dengan Ibu Raisa, Bu Vani.


"Selamat siang juga. Ayo, masuk dulu ... " balas sapa Bu Vani sambil mempersilakan kedua tamunya untuk masuk.


Bu Vani pun membawa kedua tamunya yang berjalan di belakangnya untuk masuk ke dalam rumah.


"Kalian bisa duduk dulu di sini. Silakan ... " kata Bu Vani


Bu Vani mempersilakan kedua tamunya untuk duduk di sofa ruang tamu.


Saat itu Farah yang masih bersama Raina langsung mendekat ke arah Rumi dan Paman Elvano.


"Halo, Om Rumi ... " sapa Farah


"Hai, Farah. Sekarang sudah besar dan makin cantik," balas Rumi sambil memberi pujian.


Farah pun tersenyum manis mendengar pujian dari Rumi. Pandangannya beralih pada Paman Elvano yang berada di samping Rumi.


"Halo juga-" Gadis kecil itu memberanikan diri untuk menyapa Paman Elvano, sayangnya ia masih belum mengenal pria itu.


"Paman, ini adalah Farah, keponakan Raisa. Farah, kenalkan ini adalah Papa dari Kak Aqila." Rumi pun saling memperkenalkan keduanya.


"Hai, anak cantik. Kau boleh memanggilku dengan sebutan Kakek atau bisa juga ... Papa," sapa Paman Elvano


"Raina, tolong buatkan minuman untuk dua tamu kita dan tolong panggil Bapak ke sini," ucap Bu Vani


"Iya, Bu ... " patuh Raina


"Farah, sini, Sayang ... " sambung Raina memanggil putrinya.


"Maaf, Farah pergi dulu ya ... " kata Farah yang berlalu mendekati Raina.


"Kamu main sama Om Ehan dulu, ya. Jangan ganggu Nenek sama tamunya," bisik Raina


Raina pun menggiring Farah masuk ke dalam kamar Raihan.


"Ada siapa yang datang, Kak?" tanya Raihan


"Itu ... Rumi yang datang sama gak tahu siapa," jawab Raina


"Titip Farah dulu, ya. Ajak main," sambung Raina


Raihan pun mengangguk tanda mengerti dan mengajak keponakannya itu bermain bersama.


Raina pun beralih memanggil Pak Hilman untuk menghampiri Bu Vani. Baru setelah itu, ia beranjak ke dapur untuk membuat minuman.


"Perempuan tadi itu ibunya Farah, kakak Raisa, Paman. Namanya Raina," bisik Rumi


Paman Elvano hanya menanggapi dengan anggukan kecil.


"Maaf, kalian datang ke sini tapi sekarang Raisa lagi gak ada di rumah. Dia bilang mungkin baru pulang nanti sore," ucap Bu Vani


"Seperti itu, ya ... " kata Paman Elvano


Semalam Raisa memang menginap di lokasi syuting. Karena telah nenginap ia dijanjikan bisa pulang saat sore hari dan langsung memberi kabar ke rumah seperti yang telah diberi tahukan padanya.


"Ada apa, Bu?" tanya Pak Hilman yang menghampiri sang istri di ruang tamu.


"Ini, lho, Pak ... ada tamu," jawab Bu Vani


"Oh, ada tamu, toh ... " gumam Pak Hilman


Pak Hilman pun duduk bersama di sofa di samping Bu Vani dan di hadapan kedua tamu yang datang.


Bu Vani sengaja menyuruh Raina memanggil Pak Hilman karena ia sudah berfirasat bahwa dua tamu yang datang kali ini ada urusan penting di sana.


"Ada perlu apa, ya?" tanya Pak Hilman

__ADS_1


"Sebelumnya, maaf kalau kedatangan kami ke sini sangat mendadak. Seperti Bibi dan Paman tahu, saya adalah Rumi ... teman Raisa yang datang dari dimensi lain. Lalu, perkenalkan ... ini adalah Papa Aqila sekaligus murid dari ayah saya, Paman Elvano." Rumi memperkenalkan Paman Elvano pada Bu Vani dan Pak Hilman yang baru pertama kali datang dan bertemu.


"Saya, Elvano. Saya akan menjadi wali untuk Rumi hari ini karena ayahnya berhalangan untuk datang," ucap Paman Elvano


"Saya, Hilman, Bapak Raisa. Dan, ini istri saya, Vani ... Ibu Raisa," ujar Pak Hilman


"Tapi, Raisa masih bekerja untuk syuting di luar dan sedang tidak ada di rumah," sambung Pak Hilman


"Kami tidak masalah meski Raisa sedang tidak ada di rumah karena urusan kami datang hari ini lebih pada Nyonya dan Tuan sebagai orangtua Raisa," ucap Paman Elvano


"Jangan panggil Tuan dan Nyonya, kami berdua tidak terbiasa dengan panggilan itu di sini. Panggil saja Bapak dan Ibu," kata Pak Hilman


Sejauh ini respon Bu Vani dan Pak Hilman cukup baik karena menerima kehadiran Rumi dan Paman Elvano di sana tanpa terlihat tidak suka atau pun risih.


Saat itu, Rumi tampak menjadi tegang. Namun, Paman Elvano tetlihat biasa saja berada di sampingnya.


Dalam keadaan canggung itu, Raina datang membawa minuman untuk mereka berempat di ruang tamu tersebut. 4 cangkir teh hangat.


Raina pun menyajikan teh hangat itu di atas meja.


"Jangan jadi tegang. Silakan dimunum dulu tehnya," kata Raina sambil tersenyum tipis.


"Kalau begitu, saya permisi dulu. Silakan dilanjut mengobrolnya," sambung Raina


Setelah menyajikan teh di atas meja, Raina pun berlalu dari sana agar tidak mengganggu pembicaraan yang tampak serius itu.


"Siapa tamu yang datang, Mih?" tanya Arka dengan suara pelan, suami Raina yang merasa penasaran dan langsung menghampiri sang istri dan sedikit mengintip ke arah ruang tamu.


"Itu, lho ... temannya Raisa yang bisa sihir itu. Kayaknya ada urusan penting dan kelihatannya serius banget," jawab Raina sambil berbisik.


Bukannya beranjak dari sana pasangan suami istri itu malah terus mengintip dan menguping pembicaraan di ruang tamu.


Rumi tampak menarik nafas pelan. Baru kali ini ia menjadi gugup di hadapan orang lain selain saat bersama Raisa karena perasaan kacaunya akibat mencintai gadis cantik itu.


"Seperti ini ... kedatangan saya bersama seorang wali ke sini karena saya serius ingin melamar Raisa untuk menikah dan menjadi istri saya kelak," ungkap Rumi setelah menghela nafas dengan sangat teramat pelan.


"Saya sebagai wali dari Rumi berharap Anda berdua bisa melihat niat baik dan perasaan tulus Rumi atas lamaran ini dan kami juga berharap sebagai orangtua Raisa Anda berdua bisa menerima Rumi sebagai calon suami Raisa dan juga calon menantu Anda berdua," ucap Paman Elvano yang karena tidak leluasa dan tidak terbiasa dengan sebutan Ibu dan Bapak seperti yang diinginkan Pak Hilman, ia pun memilih kata Anda untuk menyebut kedua orangtua Raisa.


Bu Vani dan Pak Hilman pun saling nemandang satu sama lain. Keduanya tampak terkejut dengan lamaran yang terkesan mendadak untuk putri keduanya. Namun, keduanya juga tampak tenang nenghadapi pembicaraan yang serius ini.


"Kami berdua sebagai orangtua Raisa tidak berhak mengambil keputusan atas lamaran untuk putri kami," kata Pak Hilman


Rumi jadi merasa cemas. Dari respon Pak Hilman artinya status lamarannya masih menggantung tanpa kepastian yang jelas. Kini ia jadi tahu seperti apa perasaan Raisa yang merasa ragu dengan hubungan mereka berdua yang bagai tanpa kepastian yang jelas. Rasanya seperti tertekan dan menanggung beban yang berat. Sama persis seperti yang pernah dikatakan Raisa padanya.


Bukan berarti Rumi merasa takut Raisa menolaknya. Ya, mungkin ada sedikit ketakutan tentang hal ini, tapi yang jadi ketakutannya saat ini di hadapan kedua orangtua Raisa adalah karena ia tidak tahu seperti apa Bu Vani dan Pak Hilman menilai dirinya, seperti apa kedua orangtua Raisa beranggapan tentang dirinya.


Paman Elvano pun tampak berdiam diri dengan santai. Tugasnya di sini hanya membantu mendampingi Rumi sebagai walinya saja. Karena keputusan tetap berada di tangan kedua orangtua Raisa dan dirinya tidak boleh mengganggu atau bahkan merusak proses lamaran yang sama sakralnya seperti sebuah pernikahan.


"Rumi, apa kamu mencintai anak kami, Raisa? Juga dengan segala kelebihan dan kekurangannya serta mau menerimanya apa adanya?" tanya Pak Hilman


"Tentu saja. Saya sangat mencintai Raisa. Bagi saya Raisa sangat istimewa bagai takdir baik yang datang ke dalam hidup saya. Bahkan sepertinya sayalah yang punya banyak kekurangan," jawab Rumi


"Contohnya, saya bukan manusia seperti pada umumnya karena saya adalah manusia buatan yang diciptakan oleh ayah saya sendiri, saya bukanlah orang baik dan begitu pula dengan ayah saya, ayah telah tercatat sebagai penjahat sekaligus tahanan rumahan wajib lapor selama sia hidupnya, saya bukan orang yang suka mengasihani orang lain. Tapi, saya beruntung saat Raisa memiliki perasaan kasih sayang yang tulus untuk saya. Karena itulah saya merasa bersyukur bisa mencintai orang yang tepat bagi saya dan itu adalah Raisa. Justru Raisa-lah yang telah menerima saya apa adanya. Dengan kebaikan hatinya itu, bagaimana bisa saya tidak jatuh cinta padanya? Saya telah sepenuhnya jatuh pada pilihan hati yang lebjh dulu memilih saya yang seperti ini. Sekali lagi, bagi saya oramg itu hanyalah Raisa. Tidak tahu bagaimana pendapat Paman dan Bibi tentang diri saya ini," sambung Rumi


Paman Elvano cukup terkejut dengan semua yang dikatakan Rumi. Biasanya saat melamar pujaan hati, orang ingin menunjukkan sisi baik dan kelebihannya. Namun, tidak dengan Rumi. Berbanding terbalik dengan kebanyakan orang, lelaki itu malah menunjukkan sisi buruk dan kekurangannya.


Namun, itu tetap keputusan Rumi ingin bicara apa tentang dirinya sendiri. Dilihatnya pun, kedua orangtua Raisa masih tetap terlihat tenang. Paman Elvano pun mengerti alasan Rumi melakukan hal ini dan mengungkap semua itu.


Alasan Rumi adalah karena ia ingin tahu respon dan pendapat kedua orangtua Raisa tentang dirinya meski yang mereka tahu adalah keburukan tentangnya. Namun, sepertinya Pak Hilman mau pun Bu Vani tidak terpancing untuk memberi respon tentang ungkapan lelaki yang tengah melamar putri gadisnya itu.


"Rumi, apa kamu bersedia, mau, dan bisa melindungi dan nembahagiakan putri kami, Raisa?" tanya Bu Vani


Rumi terdiam dan tampak berpikir. Ia yang tak langsung memberi jawaban membuat kedua orangtua Raisa menunggu dan ingin mendengar jawaban darinya.


Sebelumnya, Pak Hilman yang lebih dulu bertanya. Kini berganti giliran Bu Vani yang bertanya. Tampaknya ini menjadi sesi introgasi bagi Rumi.


"Soal itu ... saya dan Raisa, kami berdua telah berjanji untuk saling melindungi. Saya tidak tahu apa saya mampu membahagiakan Raisa, tapi saya akan berusaha memberi kebahagiaan untuknya bagaimana pun caranya dan tentu dengan cara yang disetujui oleh Raisa. Yang jelas saya ingin bisa bersama dengannya dalam suatu kepastian dan saya merasa jawabannya adalah membentuk ikatan pernikahan. Untuk itulah saya datang ke sini hari ini," jelas Rumi


"Kalau memang ingin berusaha membahagiakan Raisa, kenapa Ibu malah melihat Raisa suka bersedih bahkan sampai menangis diam-diam? Apa maksudnya kamu hanya ingin membahagiakan Raisa setelah menikah dengannya saja? Apa saat-saat sebelum menikah bagimu itu tidak penting?" tanya Bu Vani lagi.


Kecemasan Rumi meningkat saat mendengar pertanyaan Bu Vani yang terdengar tajam sampai mampu menusuk hatinya. Namun, Rumi masih terus mengontrol dirinya dan berusaha untuk tetap tenang.


.

__ADS_1



Bersambung ...


__ADS_2