Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
49 - Berlatih Bersama.


__ADS_3

Keesokan harinya...


Pagi ini, Raisa sudah disibukkan dengan persiapan sarapan bersama. Dibantu beberapa teman perempuannya, Raisa menata beberapa hidangan di atas meja makan.


"Selamat pagi, Semua... Pagi ini hanya bisa memakan menu sarapan yang sederhana. Semoga tidak mengecewakan kalian." Ujar Raisa seraya menyapa semua temannya yang telah berkumpul, duduk di kursi meja makan.


"Pagi juga, Raisa~"


"Yang terpenting ada sesuatu untuk mengawali hari. Jika, perut kosong, tubuhku akan lemas seharian..." Ujar Chilla


"Hei, gendut! Jangan sampai kau menghabiskan semua sarapan sendirian! Makanlah secukupnya!" Ucap Ian


"Kau tidak tau seberapa porsi cukupku! Tapi, akan kuusahakan makan sedikit." Kata Chilla


Di meja makan tersedia menu nasi goreng spesial, telur ceplok, roti dengan topping yang disediakan terpisah, beberapa kotak sereal dengan susu, pancake, dan beberapa buah-buahan yang telah dipotong kecil jika ingin memakan salad...


"Aku tidak tau selera kalian atau makanan apa saja yang biasa kalian makan saat sarapan. Tapi, kubuatkan yang umum di dunia ini saja. Ada nasi goreng, pancake, potongan buah jika ada yang ingin memakan salad, sereal dengan susu, dan roti dengan selai atau jika ingin memakan sandwich dengan tambahan seperti telur, daging, keju, dan sayuran. Semoga kalian akan suka! Makanlah..." Ucap Raisa sambil menujuk satu persatu yang sudah tersaji di meja.


"Oh ya, minumannya baru kusediakan susu dan teh manis. Jika, tidak mau teh yang manis bisa tambahkan potongan lemon yang sudah disiapkan. Rasanya akan jadi sedikit asam yang menyegarkan. Jika ingin yang lain seperti sirup atau jus, katakan saja. Akan kubuatkan..." Tambah Raisa


"Ini sudah cukup. Jangan sampai membuatmu repot." Kata Morgan


"Tidak kok. Aku juga dibantu yang lain saat menyiapkannya. Aku sangat senang kalian datang, aku juga ingin kalian merasa senang dengan jamuanku walaupun tidak seberapa." Ujar Raisa


"Kami sudah senang dengan kau menerima kedatangan kami. Jangan sampai kau merasa terbebani." Ucap Billy


"Tidak kok, pokoknya aku sangat senang! Sudah, sudah... Ayo, makanlah." Kata Raisa


"Baiklah... Selamat makan!"


Semua pun makan dengan lahap dengan memilih menu sarapan yang sudah disediakan di meja.


Setelah selesai sarapan, semuanya kembali bersantai di ruang berkumpul.


"Santailah dulu. Siang nanti baru kuajak kalian bermain. Kalian juga bisa berolahraga sambil berlatih. Halaman vila ini cukup luas untuk itu, tapi hanya untuk latihan bela diri biasa, jangan sampai ada sihir! Atau kalian ingin berkeliling? Aku akan jadi pemandu kalian..." Ujar Raisa


"Kami berlatih saja. Tapi, aku akan istirahat dulu sebentar di sini." Kata Marcel


"Apa dari kalian ada yang membawa gulungan kertas sihir? Untuk Ian, Sandra, dan Billy... Sepertinya kalian harus menaruh senjata kalian ke salam gulungan kertas sihir. Akan bahaya jika senjata kalian sampai dilihat orang. Dengan menyimpan di gulungan kertas sihir akan mudah untuk kalian memanggilnya kembali juga praktis saat dibawa. Aku harap kalian bisa memahami kondisi di sini. Saat kemarin kalian datang, senjata itu tidak nampak karena disembunyikan di balik jubah, jadi itu cukup aman..." Ucap Raisa


Sandra dan Ian memiliki sebilah pedang sebagai senjata. Sedangkan, Billy memiliki tongkat besi pemukul sebagai senjatanya.


Yang lain pun mempunyai beberapa bilah belati kecil. Namun, belati itu mereka simpan dalam tas yang tidak akan terlihat saat membawanya.


Maka dari itu, Raisa meminta Sandra, Ian, dan Billy untuk menyimpan senjatanya ke dalam gulungan kertas sihir. Supaya lebih aman bagi mereka saat bepergian tanpa dicurigai...


"Baiklah... Kami akan menuruti katamu." Ujar Billy


"Ini cukup merepotkan!" Kata Ian


"Hah~ Padahal pedang ini tak terpisahkan denganku. Sekarang terpaksa berbuat seperti ini..." Ucap Sandra


"Uh, maafkan aku yang terlalu banyak peraturan ya." Sungkan Raisa yang tak enak hati.


Mereka bertiga pun menuruti untuk menyimpan masing-masing senjatanya ke dalam gulungan kertas sihir~


"Raisa, apa yang sedang kau lakukan dengan semua buku itu?" Tanya Amy


"Oh, aku sedang belajar. Aku sedang mempersiapkan diri untuk ujian di beberapa bulan ke depan." Jawab Raisa


Rencana Raisa sebelum kedatangan teman-temannya dari dunia lain memang untuk belajar agar menjadi bekalnya saat ujian di semester depan sekolahnya. Di sela-sela liburannya bersama semua temannya pun ia sempatkan untuk tetap belajar seperti rencana awalnya...


Raisa pun kini sedang berkutat dengan buku-buku pelajarannya.


"Apa saja yang akan dibahas saat ujian di dunia ini?" Tanya Sanari

__ADS_1


"Banyak. Tapi, itu semua terangkum dalam 4 bidang studi. Aku tidak hebat dalam semua bidang. Aku hanya memahami satu bidang, yaitu pelajaran bahasa, karena aku suka saat mengarang cerita, tapi bukan berarti aku pembohong. Yang lainnya hanya cukup mengerti. Tapi, aku akan berusaha agar dapat hasil yang memuaskan." Jelas Raisa mengungkapkan.


"Sudah, jangan mengganggunya yang sedang belajar. Apa yang dia pelajari mungkin berbeda dengan di dunia kita." Ujar Devan


"Ya, kalian nikmati saja waktu kalian. Jangan pedulikan aku..." Kata Raisa


Saat itu, Rumi pun mendekati Raisa. Dan duduk tepat di sampingnya...


"Apa boleh kulihat? Mungkin ada yang bisa kubantu mengerjakannya..." Ujar Rumi


"Silahkan saja jika kau ingin melihat." Tanggap Raisa


Rumi pun memerhatikan Raisa yang sedang belajar dari sampingnya. Melihat Raisa yang sedang fokus muncul getaran dalam dadanya. Sosok itu kini seakan memesonanya. Membuat jantungnya berdebar saat menatapnya dari dekat. Saat ceria, termenung, bahkan saat bernyanyi, apalagi saat fokus, tidak ada bedanya! Saat memandangi sosok jelita itu seakan merubah sesuatu dalam dirinya... Semua ekspresi yang ditunjukkan gadis di sampingnya itu mampu membuat jantungnya berdebar tak karuan! Itu terjadi akhir-akhir ini...


Rumi tak tau apa yang salah pada dirinya. Selain merasa aneh pada dirinya sendiri saat munculnya getaran-getaran yang tak bisa ia artikan sendiri, itu juga membuatnya nyaman... Bersamaan dengan keanehan yang disadarinya, ia juga merasakan hatinya menghangat saat menatap gadis di sampingnya itu. Tatapannya pun menjadi teduh~


"Kau sedang berusaha memahami sesuatu? Mengalami kesulitan? Mau kubantu kerjakan?" Tanya Rumi


"Ya, sedikit sulit memahaminya. Yang seperti ini diajarkan di duniamu? Bisa kau tunjukkan padaku, bagaimana caranya? Jika, kau tidak keberatan..." Ujar Raisa


"Aku dengan senang hati membantumu belajar... Mari, perhatikan cara yang kutuliskan. Maaf, pinjam dulu sebentar alat tulisnya." Ucap Rumi


"Ya, silahkan... Mohon bantuanmu." Kata Raisa yang memberikan sebuah pensil beserta buku pelajarannya pada Rumi. Meminta bantuannya...


"Jangan sungkan, begitu... Lihatlah!" Balas Rumi


Rumi pun meraih sebuah pensil dan buku dari Raisa. Menunjukkan pada Raisa suatu cara dari suatu rumus. Terus menuliskan sesuatu pada lembaran buku Raisa...


"Bagaimana?" Tanya Rumi saat telah memecahkan suatu rumus.


"Maaf, Rumi... Gerakan menulismu terlalu cepat. Pemahamanku tidak mampu mengimbangi gerakan menulismu. Aku agak kebingungan di tengah-tengah." Jawab Raisa


Dennis yang kebetulan berada tak jauh dari tempat Raisa belajar pun menghampiri dan duduk di salah satu sisi lain Raisa.


"Ya! Dennis sangat pandai dalam hal penjelasan. Dia berbakat menjadi guru..." Kata Morgan


"Benar, aku pun sangat terbantu dengan Dennis." Sahut Billy


"Ah ya, aku juga tau tentang itu. Aku melupakannya! Bisakah kau membantuku, Dennis? Kumohon..." Ucap Raisa


Raisa pun beralih pada buku pelajarannya~


"Terima kasih atas bantuanmu sebelumnya, Rumi..." Ujar Raisa


Raisa pun menggeser posisi bukunya ke dekat Dennis di sisi lainnya.


"Tolong, jelaskan secara perlahan padaku tentang teori dan rumus ini." Pinta Raisa yang juga menyerahkan sebuah pensil pada Dennis.


"Baiklah, akan kujelaskan untukmu. Perhatikan!" Ujar Dennis seraya mengambil sebuah pensil dari tangan Raisa.


Dennis pun membantu Raisa mengerjakan sebuah soal lain serta menjelaskannya...


Dengan perlahan dan mengajak Raisa berinteraksi untuk ikut dalam penjelasannya. Menanyakan padanya, apa yang sulit, dan mencarikan cara termudah untuk Raisa pahami.


Melihat kedekatan mereka berdua saat menjelma menjadi sosok guru dan murid, membuat hati Rumi terhimpit batu tak kasat mata. Dadanya sedikit sesak melihat pemandangan itu. Matanya menunjukkan pandangan tak suka! Hatinya memanas~


"Baik! Aku mengerti... Kau menjelaskannya secara rinci dan dengan mudah. Terima kasih atas penjelasannya, Dennis... Teman guruku!" Ucap Raisa dengan senyuman manisnya~


"Sama-sama. Jangan sungkan dan jangan memujiku berlebihan..." Kata Dennis yang sedikit malu dengan pujian Raisa.


Raisa terkekeh kecil melihat ekspresi malu Dennis...


Melihat Raisa kembali ceria bahkan sampai tersenyum manis, membuat Rumi gelisah. Pasalnya, keceriaan itu bukan untuk dan dari dirinya...


Dirinya seakan diserang api cemburu! Walaupun ia sendiri tak tau apa yang tengah dirasakannya itu~

__ADS_1


"Terima kasih juga untukmu, Rumi. Tapi, maaf... Pemahamanku terlalu lambat untuk hal yang kau bantu kerjakan tadi." Ujar Raisa


"Hmn, tidak apa. Aku yang ingin membantumu, tapi ternyata aku tidak handal dalam hal ini. Maaf untuk itu." Ucap Rumi yang sebenarnya masih merasajan sesak di dada.


"Tidak! Aku yang meminta maaf padamu, telah merepotkanmu. Otakku yang tidak sampai dengan perumusanmu tadi." Kata Raisa


Raisa pun menutup buku-bukunya...


"Baiklah... Ini masih terlalu pagi untuk terlarut dalam pelajaran yang memusingkan! Kalian ingin berlatih saja, kan? Kalau begitu, aku akan menemani kalian berlatih... Ayo!" Ucap Raisa yang telah merapikan buku-bukunya serta alat tulisnya dan memasukkannya ke dalam tas.


Semua pun beranjak ke luar dari vila untuk berlatih...


Sebelum berlatih dengan bela diri mereka, semua nampak melakukan pemanasan. Meregangkan otot agar tidak mudah cedera saat melakukan gerakan bela diri.


Beberapa dari mereka ada pula yang terlihat bersantai sambil melakukannya. Menghirup udara dalam-dalam dikarenakan udara pagi yang menyejukkan. Sama halnya, dengan Raisa...


Sudah cukup lama Raisa tidak mengunjungi vila keluarganya itu. Dirinya cukup merindukan suasana asri di pesekitaran vila. Ia lebih tak menyangka lagi! Pasalnya, kedatangannya kali ini adalah ketika dirinya membawa rombongan teman dunia lainnya untuk berlibur bersama. Hatinya sungguh merasa senang~


Di tengah kekagumannya pada suasana yang menentramkan di sana, seseorang menepuk pundaknya... Membuat Raisa menoleh karenanya~


"Raisa, ayo! Berlatihlah denganku..." Ajaknya


"Rumi, kau mengajakku berlatih seperti apa?" Tanya Raisa pada Rumi yang mengajaknya berlatih.


"Berlatih bela diri, tentunya! Buatlah diri kita berkelahi satu sama lain." Jawab Rumi


Raisa memicingkan sebelah matanya, heran...


Tiba-tiba saja, Rumi mengajaknya berlatih. Berduel!


Rumi bukanlah sosok yang suka mengajukan diri terlebih dulu jika bukan diajak orang lain, terlebih lagi terhadap seorang perempuan... Ada apa dengannya sebenarnya?


Raisa juga menangkap sesuatu dari pancaran matanya. Mata Rumi memancarkan bara api kekesalan!


...'Tunggu! Itu... Perasaan kesal?! Kenapa dia merasa kesal? Ada apa dengannya sebenarnya? Apa ada sesuatu yang salah dariku yang membuatnya merasa demikian?' Batin Raisa bertanya-tanya....


"Ayo, serang aku! Atau hentikanlah ini!" Kata Rumi yang langsung menyerang Raisa secara tiba-tiba...


Raisa yang mendapat serangan mendadak, tentunya dengan sigap menghindari serangan itu dengan gerakan refleksnya~


Mata Raisa mendelik, dahinya berkerut. Ia mencoba menerka ke dalam diri Rumi. Apa yang sebenarnya membuatnya bersikap aneh seperti ini. Namun, Raisa tak mendapat jawaban itu dengan menatapnya. Nihil! Tatapan Rumi benar-benar memancarkan kekesalan yang tidak tau sebabnya. Sulit diartikan!


Rumi terus menyerang Raisa dengan serangan bertubi-tubi dengan gerakan cepat. Sedangkan, Raisa tidak benar-benar melakukan serangan balik. Ia hanya menghindari serangan Rumi yang terus menargetkannya.


"Tidak biasanya Rumi memiliki inisiatif lebih dulu untuk mengajak berlatih. Terlebih lagi jika lawannya perempuan. Hari ini dia berbeda dari biasanya." Ucap Aqila


"Hei, Rumi! Kau menyerang Raisa tanpa aba-aba. Dia belum benar-benar mempersiapkan dirinya. Kau sudah menyudutkannya!" Protes Wanda


"Rumi, sudah terlebih dulu mengajak Raisa berlatih. Lagipula, Raisa mengatakan tidak boleh ada sihir, jadi tentunya Raisa harus mengerti jika Rumi mengajaknya berlatih bela diri. Tidak ada lawan yang mengatakan dirinya akan menyerang, jadi Raisa harusnya bisa mempersiapkan diri saat dirinya diserang saat itu juga." Ujar Devan


"Tapi, ini seperti bukan Rumi. Dia bertindak dengan tergesa-gesa..." Kata Morgan


Rumi terus menyerang Raisa dengan tatapan tajamnya yang sulit diartikan. Sedangkan, Raisa terus menghindari serangan dengan tatapan hampa seperti pasrah...


Raisa tau jika Rumi sedang berusaha melampiaskan rasa kesalnya, walaupun ia tak rau apa penyebab rasa kesal Rumi itu. Apa dirinya membuat Rumi kesal padanya?


...'Lakukanlah jika ini membuatmu merasa lega. Seranglah aku, jika bisa membuatmu melampiaskan kekesalanmu. Tak peduli jika sampai aku terluka... Yang penting kau mencapai kepuasanmu~ Aku rela!' Batin Raisa...


"Apa yang kau lakukan!? Balik seranglah aku, Raisa!" Pinta Rumi


.



Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2