
Di sela ciuman yang awalnya lembut kini berubah kian menuntut. Raisa-lah yang menuntut penghiburan dari sang suami melalui ciuman itu. Rumi pun hanya menuruti permintaan sang istri yang memintanya untuk menghibur dengan aksi mesra dan manja.
Namun, tak lama setelah itu Rumi melepaskan tautan bibir dan nenjauhkan wajahnya untuk menatap wajah Raisa. Dilihatnya ekspresi wajah sang istri yang seolah terlihat seperti perasaan yang sedang campur aduk.
Raisa memang terlihat nasih bersedih. Namun, ada perasaan lain yang tersirat dari raut wajahnya. Itu adalah hasrat yang telah berhasil bangkit karena ciuman tadi.
Rumi tersenyum sambil mengusapkan ibu jarinya pada bibir Raisa yang basah.
"Apa yang membuatmu merasa sedih, Sayang?" tanya Rumi
"Kau menyadarinya, ternyata," kata Raisa
"Pernikahan memang belum lama, tapi agaknya aku sudah cukup mengenalmu untuk mengetahui yang kau rasakan," ujar Rumi
"Katakan saja ... jangan ditutup-tutupi dariku," sambung Rumi
"Sepertinya aku baru menyadari bahwa aku adalah seorang yang manja," ujar Raisa
"Apa hubungannya kesedihan yang kau rasakan dengan sikap manja?" tanya Rumi yang merasa bingung.
"Buktinya saat aku merasa sedih, aku malah ingin dihibur dengan cara dimanja olehmu," jelas Raisa
"Kau bukanlah orang yang manja. Maaf, bukannya aku tidak ingin menghiburmu seperti yang kau mau, tapi aku lebih ingin kau mengatakan tentang perasaan yang kau rasakan agar kau bisa merasa lega," ucap Rumi
Satu tangan Rumi terus bergerak membelai rambut dan kepala Raisa dengan amat lembut demi mencurahkan kasih sayang agar sang istri tidak lagi merasa sedih atau setidaknya perasaan sedih itu bisa berkurang.
"Alasan aku merasa sedih adalah karena keluargaku sudah akan kembali ke Jakarta besok. Itu artinya aku akan segera berpisah dengan mereka," ungkap Raisa
"Aku tahu ini bukan perpisahan selamanya dan meski mereka pergi, aku juga bisa saja ikut kembali ke Jakarta, tapi tetap saja kami akan tinggal berpisah karena kita sudah punya rumah kita sendiri di sana. Sebenarnya itu pun bukan masalah. Namun, aku baru sadar kalau aku merasa tidak bisa jauh dari keluarga. Saat bekerja saja aku lebih memilih pulang ke rumah meski tempat kerjaku itu jauh karena tidak mau pisah dengan ibu, yang artinya aku memang manja," sambung Raisa
"Lalu, apa kau ingin kita tinggal di rumah orangtuamu saja? Aku tidak masalah kalau kau ingin seperti itu," ujar Rumi bertanya.
"Katanya, tidak ada hal baik jjka menantu dan mertua tinggal satu atap, entah itu akan tidak nyaman atau akan bertengkar. Aku tahu kau tidak akan seperti itu dengan orangtuaku, tapi aku tetap ingin tinggal berdua saja denganmu setelah menikah," jelas Raisa
"Apa sebenarnya ... aku ini egois, ya? Aku ingin tinggal berdua saja denganmu, tapi aku juga tidak ingin pisah dengan orangtua," sambung Raisa
"Bukan seperti itu. Hanya saja itu artinya kau masih belum terbiasa. Kan, usia pernikahan kita masih seumur jagung," kata Rumi
"Aku memang masih belum terbiasa, tapi aku juga manja. Aku jadi malu denganmu yang sudah terbiasa tinggal jauh dari keluarga karena ternyata aku bukan orang yang seperti itu," ucap Raisa
Raisa pun menenggelamkan wajahnya pada dada milik Rumi dan bersembunyi di sana.
"Kalau begitu, apa kau ingin ikut kembali ke Jakarta? Aku akan ikut denganmu," ujar Rumi bertanya.
"Kupikir kau akan menetap untuk beberapa waktu di sini. Memangnya kau tidak bekerja untuk menjalankan misi seperti biasa?" tanya balik Raisa yang lsngsung memperlihatkan wajahnya lagi setelah menarik wajah dari persembunyian pada dada milik sang suami.
"Aku bisa ikut denganmu dan bisa meminta izin. Lagi pula, sekarang ini masih masa-masa pengantin baru dan masa cuti pun masih berlaku," jawab Rumi
"Apa itu tadi? Kau ke luar untuk membicarakan izin, kan? Kenapa tidak memberi tahu aku?" tanya Raisa lagi.
"Karena kau akan segera tahu. Benar, tapi karena tidak bisa menemui Tuan Pemimpin Desa karena tidak ingin mengganggunya, aku hanya menyampaikannya pada teman-teman, terutama pada Morgan, kuharap dia menyampaikan pada ayahnya. Bahwa aku ingin pergi bersamamu ke dunia sana," jelas Rumi
"Itu sebabnya tadi aku bertanya padamu ... apa keluargamu akan pergi besok? Kalau tidak atau keluargamu akan menetap di sini lebih lama, mungkin saat aku ke luar tadi aku bukan membicarakan tentang izin, tapi aku akan mengajukan permintaan jasa misi untuk pemandu wisata agar kita bisa jalan-jalan bersama keluargamu lagi," sambung Rumi
"Benarkah?" tanya Raisa dengan singkat.
"Ya. Jadi, kau tidak perlu khawatir atau sedih karena berpisah denganku atau dari keluargamu," jawab Rumi
"Syukurlah. Bagus, kalau begitu ... " ujar Raisa sambil tersenyum senang.
"Lebih bagus jika kau tersenyum senang seperti ini. Sekarang pasti perasaanmu sudah menjadi lega dan tidak sedih lagi," ucap Rumi sambil ikut tersenyum.
"Jadi, sekarang sudah waktunya untuk istirahat. Pejamkan matamu dan mulailah tidur," sambung Rumi
"Tapi-"
__ADS_1
"Besok kita harus kembali pergi ke dunia sana. Kau harus istirahat," kata Rumi yang lalu menarik Raisa ke dalam dekapannya.
..."Pergi ke sana hanya perlu membuka portal sihir teleportasi. Masalahnya bukan itu!" batin Raisa...
Padahal bagi kebanyakan orang sihir teleportasi adalah hal yang terbilang sangat sulit bahkan sudah sangat jarang ada orang yang memiliki kemampuan ini. Namun, bagi Raisa itu bukanlah yang sulit dan bahkan terbilang mudah. Hanya saja memang bukan itulah masalahnya saat ini.
Sedari tadi Raisa terus menggosok-gosok kedua kakinya pada satu sama lain. Ia menahan sesuatu selama perbincangannya dengan sang suami. Itulah yang dinamakan dengan hasrat.
Sejak berusaha menghibur diri dengan bermanja dan bermesraan dengan berciuman dengan sang suami, sudah sejak saat itulah hasratnya telah berhasil bangkit. Bahkan belum terpadamkan hingga perbincangan dengan sang suami telah usai saat ini.
Raisa sudah gagal memadamkan api gairah di dalam dirinya dan benar-benar tidak bisa menahannya lagi kini.
Wanita itu pun mendorong pelsn dada Rumi dan menatap suaminya itu dengan tatapan mata sendu sekaligus memohon.
"Apa kita hanya akan tidur sekarang?" tanya Raisa
"Apa kau masih butuh aku untuk menghiburmu?" tanya balik Rumi
Tatapan mata Raisa berubah menjadi sendu ysng menyedihkan. Perasaan sedih itu kembali lagi dengan alasan yang berbeda. Mungkin lebih pada perasaan kecewa.
"Begitu, rupanya. Ternyata, kau tidak mau menghiburku ... " pelan Raisa hingga terdengar lirih dan sedih.
"Bukan seperti itu. Tapi, bukankah masalahnya sudah selesai?" tanya Rumi
"Bukan seperti itu masalahnya, memang ... tapi aku tetap membutuhkanmu," ungkap Raisa
"Aku sudah terlanjur menginginkanmu. Aku butuh dirimu dan cintamu. Berikanlah padaku malam ini, kumohon ... karena aku menginginkannya. Sekarang juga," sambung Raisa meminta dengan tatapan penuh harap dan damba.
Rumi pikir karena rasa sedih yang dirasakan oleh Raisa telah lenyap, maka masalah sudah selesai. Istrinya pun sudah tidak perlu penghiburan darinya lagi. Namun, saat melihat tatapan sedih dari wanita yang dicintainya itu lagi, pria itu tahu bahwa masih ada yang belum terselesaikan dan ia merasa dirinya telah salah.
Rumi tidak tahu jika meski sang istri tidak lagi butuh "penghiburan", tapi Raisa tetap menginginkan dirinya. Pria itu tahu bahwa istrinya sempat berhasrat, tapi tidak tahu jika hasrat istrinya itu belum terputus alias belum padam. Rumi hanya mengira Raisa hanya sempat, tapi bukan masih berhasrat.
Rumi tidak menyangka jika Raisa akan meminta dirinya dan cintanya bahkan memohon untuk diberikan sekarang juga. Namun, pria itu merasa senang karena sang istri lebih dulu berinisiatif untuk meminta pada dan dari dirinya dengan tatapan yang, err ... sangat menggoda.
Rumi tersenyum. Tak sangka hanya dengan tatapan mata dan suara lirih dari Raisa yang begitu menggoda baginya, pria itu langsung merasa dari dalam dirinya sesuatu ikut terbangkitkan. Yaitu, hasrat!
CUP!
Raisa tersenyum dalam ciumannya dengan Rumi.
"Aku dan seluruhnya ... adalah milikmu. Dan malam ini milik kita berdua," kata Rumi yang menarik diri sementara dari Raisa.
Lalu, Rumi bergerak naik ke atas tubuh Raisa. Menindih, mengukung sang istri yang berada di bawahnya. Keduanya pun kembali melakukan aksi adegan panasnya.
Hingga entah sejak kapan keduanya telah sama-sama hanya mengenakan pakaian dalam.
Saat keduanya masih asik berciuman, satu tangan Raisa tidak tinggal diam dan berbuat nakal dengan menurunkan celana d4l@m milik Rumi dan dengan lihainya mengeluarkan senjata pamungkas milik sang suami yang sudah menegang tegak dari persembunyiannya untuk ia mainkan dengan sentuhan sensualnya. Bahkan wanita itu juga menurunkan celana d4l@mnya sendiri dan menggoda kepemilikan suaminya untuk di arahkan pada lubang bawah miliknya. Sedikit dimasukkan, tapi lalu dikeluarkan lagi. Beberapa kali seperti itu.
Tak ingin kalah dari sang istri, Rumi bergerak melepas pengait br* milik Raisa dan menanggalkannya. Pria itu membiarkan wanitanya bermain dengan miliknya dan ia sendiri bermain dengan dua gundukan milik istrinya itu.
Raisa bermain dengan tangan, sedangkan Rumi bermain dengan mulut.
Saat keduanya merasa sudah tidak tahan lagi, Raisa mendorong sang suami dan Rumi menarik diri dari sang istri. Namun, permainan tidak berhenti sampai di situ saja. Yang sebelumnya hanya permulaan bagai pemanasan saja, kini keduanya pun beralih pada permainan inti.
Keduanya bermain hingga benar-benar merasa puas. Barulah setelah itu keduanya berhenti saat sama-sama telah merasa lemas hingga akhirnya Rumi ambruk di samping tubuh Raisa.
Keduanya menarik selimut untuk menutupi tubuh satu sama lain dan tertidur pulas setelah beberapa kali melakukan pelepasan bersama.
•••
Keesokan harinya.
Pasangan suami istri itu tidur dengan satu tangan Rumi memeluk pinggang sang istri dan satu tangan Raisa yang memeluk leher sang suami.
Pagi itu keduanya terbangun dengan senyuman yang sama-sama mengembang karena saking melihat wajah satu sama lain saat membuka mata.
__ADS_1
"Selamat pagi, Sayang!" seru Rumi
"Pagi, Suamiku ... " balas Raisa dengan suara yang terdengar lirih.
Bukan sebab apa suara Raisa menjadi lirih, sepertinya wanita itu telah kehabisan suara karena terlalu banyak berteriak semalam.
Rumi memang memiliki suara yang serak basah dan terdengar berat. Namun, saat ini Raisa pun seperti itu dan tidak seperti biasa.
"Semalam itu bukan merupakan suatu penghiburan dariku, tapi apa kau merasa puas dengan pelayananku?" tanya Rumi
"Bukan hanya puas bahkan aku merasa lemas dan suaraku juga habis," jawab Raisa
"Kalau suaramu habis kau hanya perlu mengisinya lagi dengan memproduksi saliva dan itu akan bekerja dan pulih sendiri dengan seiringnya waktu. Kau juga bisa mengonsumsi lebih banyak cairan agar cepat pulih dengan banyak minum air putih. Lalu, perbanyak bicara lagi sebagai latihan maka suaramu akan pulih lagi," ujar Rumi
Raisa mengangguk pelan tanda mengerti.
"Katanya, saliva pasangan juga bisa membantu untuk memulihkan suara yang habis," ungkap Rumi
Raisa menaikkan sebelah alisnya. Jika suaranya baik-baik saja mungkin wanita itu sudah melontarkan pertanyaan. Namun, tenggorokannya terasa sangat tidak enak hanya untuk bersuara, makanya ia memilih untuk hanya diam.
"Karena di sini tidak ada air minum yang dekat dan produksi salivamu akan membutuhkan waktu, maka aku akan membantumu," kata Rumi
Rumi langsung menyambar dan melahap bibir Raisa. Beralasan untuk membantu produksi saliva sang istri dengan salivanya serta saling bertukaran saliva saat berciuman, Rumi mencari kesempatan untuk kembali mencicipi bibir Raisa untuk sarapan paginya.
Raisa hanya menurut dan berdeham saat ciuman telah usai. Wanita cantik itu tersenyum.
"Benar saja. Rasanya tenggorokanku jadi lebih baik," ungkap Raisa
"Bagus. Artinya teori yang kusampaikan tadi tidak salah," kata Rumi
"Aku tidak akan lagi merasa sedih karena berpikir harus berpisah dengan keluarga atau terpisah sementara denganmu dan aku merasa senang saat kau ada di kala kesedihanku untuk menghiburku. Tidak masalah berjauhan dengan keluargaku yang lain, karena itu pasti adalah saat aku bisa berdekatan dan bersama denganmu, karena sekarang kau juga merupakan bagian dari keluargaku. Sekarang aku memang masih belum, tapi pasti akan terbiasa dengan kondisi seperti ini," ucap Raisa
"Terima kasih, Suamiku ... " samnung Raisa
"Harusnya aku yang berkata seperti itu ... terima kasih, Sayangku. Kau selalu sangat luar biasa," ujar Rumi
"Tidak. Semalam aku lah yang meminta, jadi aku yang harus berterima kasih," kata Raisa
"Saat masih kecil, aku juga sering memeluk leher ibu saat tidur. Aku terbiasa bergantung pada ibu sekali pun sedang tidur, tapi sekarang sosok itu adalah dirimu. Bersiaplah dan kuharap kau tidak akan pernah bosan karena aku yang akan bergantung padamu," sambung Raisa
"Aku justru merasa senang dan tidak akan pernah bosan," sahut Rumi
Saat Rumi bergerak sedikit saja, Raisa merasa seluruh tubuhnya sakit akibat pergumulan semalam karena tubuh keduanya saling berdekatan. Namun, tidak hanya itu saja. Raisa merasakan milik Rumi kembali menegang tegak di balik selimut.
"S-sa-sayang ... " Raisa tergagap saat merasakan sesuatu yang terbangun.
"Karena semalam kau yang meminta, bolehkah saat ini giliranku yang meminta?" tanya Rumi
Raisa tercengang diam. Sedangkan Rumi tersenyum dan terkekeh pelan. Di detik selanjutnya, Rumi kembali memulai aksi dengan menindih Raisa di bawah kukungannya.
Tanpa ada penolakan dari Raisa, Rumi kembali menggempur istri cantiknya. Keduanya kembali bergumul hingga dua ronde.
Setelah itu, barulah keduanya beranjak untuk mandi bersama.
"Benar saja. Sekarang suaraku susaj mulai pulih kembali," kata Raisa saat telah ke luar dari kamar mandi.
"Ternyata, memang benar kalimat yang mengatakan nahwa pasangan itu bisa menjadi obat bagi satu sama lain," sambung Raisa
"Itu benar dan aku sangat bersyukur untuk itu," sahut Rumi
Raisa dan Rumi pun mulai berherak mengenakan pakaian dan setelah itu menyiapkan makanan untuk sarapan bersama. Karena setelah sarapan keduanya harus menjemput keluarga untuk kembali ke Jakarta alias pergi ke dunia sana.
.
•
__ADS_1
Bersambung.