
Raisa dan Rumi pun berjalan bersama dengan saling bergandengan tangan.
"Raisa, kau sungguh tidak apa dengan sikap Amon yang seperti itu padamu?" tanya Rumi
"Aku tidak apa, sungguh. Aku sudah terbiasa. Jangankan yang seperti ini, aku yang menjadi artis akan mendapat banyak komentar negatif dan tidak sedap," ungkap Raisa
"Lalu, kau juga tidak memberitahu keluargamu tentang hilangnya kemampuan sihirmu, ya? Bibi bilang padaku, dia mengkhawatirkanmu yang terlihat sedang menyembunyikan sesuatu," ujar Rumi
"Ya. Aku hanya tidak ingin mereka mengetahui kesedihanku, lalu mengasihaniku. Aku tidak masalah dengan orang yang membicarakan kekuranganku atau apa pun itu, tapi aku justru tidak suka dengan orang yang bersikap mengasihaniku. Itu jauh lebih terasa menyakitkan bagiku," ucap Raisa
"Apa aku ini terlihat menyedihkan bagimu untuk dikasihani?" tanya Raisa melanjutkan.
"Tidak. Bagiku kau orang yang kuat dan mengagumkan, juga yang selalu terlihat cantik sampai membuatku jatuh cinta berulang kali," ungkap Rumi
Raisa terkekeh kecil. Namun, setelah itu wajah Raisa terlihat muram.
"Kenapa kau malah terlihat sedih? Sudah kubilang, kan, kau itu mengagumkan dan aku mencintaimu." Rumi bingung dengan perubahan ekspresi Raisa yang menjadi sedih.
"Justru itu! Aku teringat dengan ucapan Maura dan Nilam kemarin. Aku ini tidak percaya diri dengan kepribadian dan perasaanku sendiri hingga terlalu sering membuatmu merasa kecewa dan sakit hati karena diriku. Ternyata, kau mencintai orang yang payah sepertiku. Aku memang menyedihkan dan pantas dikasihani," tutur Raisa
CUP!
Baru saja Raisa selesai bicara, Rumi sudah menyambar bibir Raisa.
Mata Raisa terbelalak karena terkejut dengan tindakan Rumi yang terbilang nekat. Bagaimana tidak? Rumi menciumnya di jalanan! Untung saja jalanan sedang sepi saat itu dan hanya menyisakan mereka berdua.
Saking terkejutnya dengan tindakan Rumi, Raisa tidak bisa lagi berbicara dan tubuhnya mematung. Untuk saat ini, Raisa tidak bisa berpikir apa pun sama sekali.
"Itu hukuman untukmu! Aku tidak mengizinkanmu untuk menjelek-jelekkan dirimu sendiri lagi," kata Rumi
"Apanya yang hukuman!? Ada apa denganmu, Rumi? Ini, sih, namanya kau mengambil keuntungan dariku," protes Raisa yang sudah bisa kembali berpikir jerih.
"Mengambil keuntungan juga boleh. Sebenarnya aku memang mengharapkan ciuman sebagai hadiah ulang tahun darimu," ujar Rumi bicara sambil memalingkan padangannya.
Raisa mengerti bahwa itu tandanya Rumi merasa malu meski dengan mudahnya ia bicara.
"Mengharapkan ciuman sebagai hadiah? Kau saja tidak mengatakannya, tapi malah mengambil keuntungan dariku ... " sebal Raisa
"Kalau aku mengatakannya ... ingin ciuman sebagai hadiah ulang tahun untukku ... apa kau akan mengabulkannya dan memberikannya begitu saja?" tanya Rumi dengan penuh harap.
"Tentu, tidak. Lagi pula, ulang tahunmu juga sudah lewat," jawab Raisa
Rumi pikir Raisa akan menjawab 'iya'. Ia sudah terlalu banyak berharap.
"Pokoknya, kalau sekali lagi kudengar kau menjelek-jelekkan dirimu sendiri lagi ... kau akan mendapat hukuman ciuman dariku," tegas Rumi
"Itu, sih, kau dapat untung banyak," kata Raisa
Raisa dan Rumi pun lanjut berjalan.
"Tapi, ucapanku benar, kan? Terlepas dari seperti apa pun sosok diriku, aku ini memang payah. Menyedihkan sekali," ujar Raisa
Rumi pun menghentikan langkanya dan bergerak cepat mendorong pelan tubuh Raisa hingga tersandar pada pohon. Satu tangannya mengunci pergerakan Raisa di satu sisi dan tangannya yang lain merengkuk pinggang ramping Raisa.
"Rumi, dari mana kau belajar menggunakan posisi ini? Lepaskan aku, ya," ujar Raisa meminta.
"Raisa, kau benar-benar menantangku, ya? Sudah kubilang akan menghukum bibir manismu jika kau bicara seperti tadi lagi," ancam Rumi yang mengabaikan pertanyaan dan permintaan Raisa dan mulai mendekatkan wajahnya pada wajah gadis itu.
Nafas Raisa tercekat. Ia sama sekali tidak bisa bergerak dalam posisinya saat ini. Rumi bersungguh-sungguh dengan ucapannya.
"Memangnya apa yang salah dengan ucapanku?" tanya Raisa dengan sisa keberaniannya.
"Kesalahan besar," jawab Rumi
Rumi terus mendekatkan wajahnya hingga kini hidungnya sudah berhasil menyentuh pipi lembut milik Raisa. Nafas Raisa pun tertahan.
Ugh~
Raisa menutup kedua matanya. Namun, kedua tangannya mendorong tubuh Rumi hingga akhirnya berhasil terlepas dari jeratan lelaki itu.
Tidak sampai di situ saja! Setelah berhasil lolos dari posisi menganehkan itu, Raisa pun berlari dari tempatnya menghindari jangkauan Rumi.
Raisa tertawa lega dengan lepas karena berhasil kabur dari lelaki yang semakin pandai menggodanya yang bernama Rumi itu.
"Kau pikir kau akan bisa lepas dariku hanya dengan berlari? Lihat saja, setelah tertangkap takkan kulepas lagi," ujar Rumi
Rumi pun ikut berlari mengejar Raisa untuk menangkapnya.
"Berhenti saja, Rumi! Jangan mengejarku! Aku tidak ingin ditangkap olehmu!" teriak Raisa
"Kalau tertangkap, takkan kulepaskan dengan mudah!" Rumi mengabaikan permintaan Raisa yang ingin ia untuk berhenti.
Terjadilah momen kejar-kejaran dalam arti kasmaran antara dua muda-mudi ini.
HUP! GREP~
HUGS ...
"DAPAT!"
Rumi berhasil menangkap tubuh Raisa dengan memeluknya dari belakang.
"Haha. Ampun, Rumi ... " kata Raisa
"Kau mengakui kesalahanmu?" tanya Rumi
__ADS_1
"Tidak ada, tuh ... " jawab Raisa
"Kalau begitu, tiada ampun bagimu!" tegas Rumi
Raisa yang lelah berlari pun menjatuhkan tubuhnya bersama Rumi di atas hamparan rumput hijau.
Keduanya pun berbaring miring di atas rumput dengan posisi Rumi yang masih memeluk tubuh Raisa dari belakang.
Rumi pun membalikkan tubuh Raisa agar berhadapan dengannya.
"Sini ... biar kulihat dirimu," kata Rumi
"Bebaskan aku, ya. Apa kau tega menghukum gadis yang mudah rapuh ini? Hmm ... " Raisa bicara dengan wajah memelas yang imut.
Rumi terlena dengan pesona keimutan wajah Raisa hingga wajahnya memerah.
"Raisa, kau aktris yang sangat hebat! Dengan mudahnya kau membuat perubahan ekspresi pada wajahmu seperti ini," ujar Rumi
Raisa tertawa kecil. Lalu, mendekatkan dirinya untuk memeluk tubuh Rumi. Suara tawanya perlahan menghilang dan berubah menjadi suara isakan pelan dalam pelukan Rumi.
"Raisa, kau kenapa? Kenapa menangis? Apa aku sudah bertindak keterlaluan?" tanya Rumi yang khawatir dan merasa telah berbuat salah.
Rumi pun melonggarkan pelukan Raisa dan melihat wajahnya yang dibasahi air mata.
Dalam tangisnya, Raisa tersenyum kecil.
"Aku bahagia! Tapi, juga merasa sedih dengan diriku sendiri. Sebenarnya ini tangis haru kebahagiaan," ungkap Raisa
"Aku bahagia sekali sampai tidak menyangka kalau ini nyata. Aku jadi ragu. Apa tempatku berada bersamamu sekarang ini bukanlah dunia mimpi?" tanya Raisa melanjutkan.
"Tentu, ini adalah kenyataan bahwa aku ada bersamamu. Di sini bukanlah dunia mimpi, meski memang berbeda dengan dunia asalmu," jawab Rumi
Dengan gerak tangan perlahan, Rumi menghapus air mata Raisa.
"Berhentilah ... jangan menangis. Aku juga bahagia sama sepertimu. Melihatmu menangis nembuat hatiku serasa diiris-iris. Seolah di bumi ini juga akan turun hujan," sambung Rumi
Raisa terkekeh pelan.
"Mana ada yang seperti itu ... " kata Raisa
"Ini lebih baik. Kau terlihat lebih cantik saat tersenyum, meski menangis pun wajahmu tetap terlihat cantik," ungkap Rumi
"Apa kau sebegitu ragunya dengan dirimu sendiri? Sampai-sampai kau menangis bersamaan saat kau merasa bahagia? Kalau begitu, aku akan selalu bersamamu ... memberikan seluruh kepercayaan diriku untukmu. Bahwa kau itu sosok dari gadis yang luar biasa," sambung Rumi
"Raisa, kau bukan orang yang menyedihkan. Saat aku melihatmu melakukan pemotretan, kau tampak bersinar terang sampai terlihat menyilaukan. Percayalah pada dirimu sendiri. Aku mencintai dirimu apa adanya," sambung Rumi lagi.
Raisa merubah posisinya menjadi menatap lurus ke arah langit.
"Aku sangat bersyukur bisa dipertemukan denganmu, Rumi. Sungguh ... terima kasih," ujar Raisa
"Tumben langitnya-"
Langit sore itu memang sudah mendung. Hanya saja Raisa dan Rumi tidak begitu menyadarinya.
Rintik air pun mulai menetes dari langit.
"Benar saja ... hujan!" pekik Raisa
Keduanya pun bergegas bangkit dan berlari mencari tempat untuk berteduh.
"Ucapanmu sungguh mujarab, ya, Rumi. Tadi kau mengatakan bumi akan turun hujan, sekarang jadi turun hujan sungguhan," ujar Raisa
"Itu karena dirimu. Sudah kubilang jangan menangis. Langit pun ikut bersedih melihatmu menangis," ucap Rumi
Hujan turun langsung begitu deras.
"Kita tidak bisa terus berdiam di sini. Hujan ini sangat deras takkan mereda dalam waktu singkat," kata Raisa
"Kalau begitu, aku akan melindungimu ... " ujar Rumi
Rumi pun membawa Raisa berlari bersama sambil memeluknya dengan satu tangan. Rumi juga menadahkan tangannya yang lain di atas kepala Raisa dengan maksud agar air hujan tidak terlalu mengenainya.
Keduanya pun berlari sampai ke rumah Raisa di sana.
Sampai di teras rumah, Raisa melepaskan diri dari pelukan Rumi yang melindunginya dari hujan. Raisa pun berbalik menghadap Rumi.
"Sudah sampai. Kau basah. Keringkanlah tubuhmu di dalam," kata Rumi bermaksud menyuruh Raisa cepat masuk ke dalam rumahnya.
"Kau yang basah kuyup karena berusaha melindungiku dari hujan dengan tubuhmu. Masuklah dulu dan hangatkan tubuhmu di dalam. Kau bisa pulang setelah hujannya reda. Rumahmu, kan, sangat dekat dari sini," ucap Raisa
Raisa mempersilakan Rumi masuk ke dalam rumahnya. Rumi pun ikut masuk ke dalam rumah bersama Raisa.
Saat masuk, Raisa langsung mengaktifkan penghangat ruangan di dalam rumahnya. Untungnya penghangat ruangan itu tidak rusak dan masih berfungsi dengan baik meski telah tidak terpakai dan dibiarkan begitu saja setelah sekian lama selama kurun waktu 4 tahun.
"Tunggu sebentar, ya," kata Raisa yang bergegas pergi.
"Nah, Rumi ... sudah kusiapkan air hangat di kamar mandi untukmu. Mandilah, cepat agar kau tidak masuk angin," sambung Raisa saat kembali.
"Kau duluan saja," kata Rumi
"Jangan khawatirkan aku. Aku tidak lebih parah darimu, tapi kau basah kuyup. Kalau aku bisa mengeringkan tubuhku lebih dulu dan mengganti pakaian dan mandi setelahmu, tapi kau harus langsung mandi. Di dalam laci penyimpanan di kamar mandi ada handuk kimono, pakailah itu setelah mandi. Ukurannya cukup besar, jadi pasti muat di badanmu. Cepatlah masuk ke kamar mandi," ujar Raisa
"Baiklah," patuh Rumi
Rumi pun beranjak ke kamar mandi di rumah Raisa. Rumi terpaksa menuruti perkataan Raisa agar gadis itu juga bisa mandi setelahnya. Karena percuma bersikeras dengannya saat ini. Yang ada hanya akan muncul perdebatan.
__ADS_1
"Raisa, aku sudah selesai mandi. Sekarang giliranmu," kata Rumi yang telah ke luar dari kamar mandi.
Raisa melihat ke arah Rumi. Tubuhnya masih agak basah karena habis mandi. Handuk kimono yang dipakainya ternyata sangat pas di badannya bahkan hampir kekecilan hingga saat dipakai malah menampakan dada bidang milik Rumi.
Raisa terpesona seketika. Bagaimana tidak? Ia dihadapkan dengan lelaki dewasa yang berpenampilan agak basah yang menampakkan dada bidangnya setelah mandi. Siapa pun gadis normal akan terpesona melihatnya.
Raisa langsung memalingkan wajahnya yang bersemu merah.
..."Ternyata, meski handuk kimononya berukuran besar ... itu adalah ukuran wanita. Itu tetap terlihat kecil di badannya. Dadanya sampai terlihat," batin Raisa...
"Aku akan mandi. Kau bisa pakai kamar tidurku untuk berpakaian. Untungnya barang bawaanmu dari duniaku yang kau bawa tadi dititipkan di rumahku, jadi kau bisa memakai pakaianmu meski sedang ada di rumahku. Tas dan barang milikmu sudah berada di dalam kamar. Lekas pakai bajumu, aku akan mandi ... " ucap Raisa
Raisa beranjak masuk ke dalam kamar mandi sambil membawa pakaian ganti agar bisa langsung mengenakan pakaian saat di dalam kamar mandi.
Usai dari kamar mandi, Raisa tidak langsung menghampiri Rumi. Melainkan lebih dulu membuat coklat panas untuknya dan juga Rumi. Barulah setelahnya ia membawa dua gelas coklat panas dan menghampiri Rumi.
Rumi sudah berpakaian rapi. Raisa pun memberikan segelas coklat panas untuk Rumi.
"Ini untukmu. Minumlah untuk menghangatkan tubuhmu," kata Raisa
"Terima kasih," ucap Rumi menerima segelas coklat panas pemberian Raisa.
Raisa pun beralih untuk duduk di sofa di samping Rumi.
"Kapan hujannya akan berhenti? Deras sekali," gumam Raisa
Tak terasa waktu terus berlalu bersamaan hujan yang turun dengan sangat deras. Kini hari sudah malam dan gelap di luar.
"Di sini sudah mulai masuk musim dingin. Kau harus selalu berpakaian tebal saat ke luar rumah agar tetap hangat. Kau tidak suka dingin, kan ... " ujar Rumi
"Begitu, rupanya. Terima kasih sudah memberitahukannya padaku," ucap Raisa
"Hujannya sangat deras dan awet sekali. Aku belum punya payung di rumahku. Sepertinya kau harus menginap di sini karena tidak mungkin kau menerobos hujan lagi setelah basah kuyup karena hujan tadi," sambung Raisa
"Benarkah?" Rumi terlihat antusias dan merasa sangat senang jika sungguhan bisa menginap di rumah Raisa.
"Mau tidak mau, kan ... " kata Raisa
Setelah bicara, Raisa juga tidak menyangka akan memperbolehkan Rumi menginap di rumahnya karena hujan. Namun, cuaca saat inilah yang memaksanya membuat keputusan seperti itu.
"Aku akan membuat sup untuk mengusi dan menghangatkan perut kita," sambung Raisa yang bangkit menuju ke dapur.
Saat sedang menghidangkan sup ke dalam mangkuk, Raisa merasakan sepasang tangan melingkar di pinggangnya dari belakang.
"Raisa, apa kau tidak merasa kedinginan?" tanya Rumi ikut muncul di dapur.
"Tidak juga," jawab Raisa
"Kalau begitu, akulah yang kedinginan," ujar Rumi yang membalikkan tubuh Raisa agar menghadap ke arahnya dengan tetap memeluk pinggang gadis tersebut.
Rumi mendekatkan wajahnya pada wajah Raisa.
HUP~
Raisa menyuapi sesendok sup panas ke dalam mulut Rumi saat wajahnya terus mendekat.
"Bagaimana, enak tidak? Kita akan makan sup ini bersama," ujar Raisa
Raisa pun langsung membebaskan diri dari pelukan Rumi dan bergegas pergi dengan membawa dua mangkuk sup panas di tangannya.
"Ini panas," gumam Rumi merasakan panas di lidah dan mulutnya karena suapan sup panas Raisa setelah ditinggalkan seorang diri di dapur.
"Ternyata memang tidak bisa mendapat ciumannya lagi," batin Rumi
Rumi pun beranjak menghampiri Raisa.
"Kau membawa dua mangkuk sup itu begitu saja. Tidak tahukah kau kalau itu masih sangat panas? Apa tanganmu tidak kepanasan?" tanya Rumi yang langsung duduk di samping Raisa.
"Kalau begitu, tinggal redakan saja panasnya di wajahmu yang dingin ... " ujar Raisa menangkupkan kedua tangannya pada wajah Rumi.
..."Aku malah membuat suasana tambah canggung," batin Raisa...
Raisa pun langsung menarik kedua tangannya kembali.
"Ayo makan supnya," kata Raisa
Waktu terus berlalu dan malam jadi semakin dingin. Setelah makan sup bersama, Raisa menyiapkan bantal dan selimut tebal untuk Rumi tidur di luar kamarnya.
"Maaf, ya, Rumi. Kau tidak bisa tidur di dalam kamar," kata Raisa
"Tidak apa. Terima kasih sudah begitu perhatian padaku," ucap Rumi
"Kalau perlu apa pun, panggil saja aku. Aku terus berada di dalam kamar," ujar Raisa
"Aku mengerti," kata Rumi
Rumi merasa senang bisa dapat perhatian besar dari Raisa.
"Aku masuk ke dalam kamar, ya ... " kata Raisa
Rumi mengangguk.
Raisa pun meninggalkan Rumi masuk ke dalam kamar setelah memberikan bantal dan selimut tebal pada Rumi yang akan tidur di sofa di ruang tamu rumahnya.
.
__ADS_1
•
Bersambung...