Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
177 - Proses Kehidupan.


__ADS_3

Sejak mengalami lumpuh sementara, Raisa terus memperbanyak berjalan agar semakin lancar melangkah. Terkadang, Raisa juga berlari-lari kecil untuk membiasakan dan memperkuat otot kaki. Setelah merasa kuat dan benar-benar bisa berjalan normal, Raisa berniat kembali ke dunia asalnya untuk pulang pada keluarganya.


Saat ini, tidak ada panggilan misi untuk Raisa sementara waktu pasca kesembuhannya. Sehari-hari, Raisa memilih untuk lebih sering berkeliling desa bersama teman-teman atau sendiri jika teman-temannya sedang dalam misi.


Seperti saat ini, Raisa sedang berkeliling dan bertemu dengan Bibi Sierra di perjalanannya.


"Raisa, kau sedang berkeliling sendiri?" tanya Bibi Sierra menyapa.


"Ya. Kau tidak ke rumah sakit hari ini, Bibi Sierra?" ujar Raisa balas bertanya.


"Hari ini pekerjaanku di rumah sakit sedang senggang, jadi aku ke rumah untuk bersih-bersih sebentar," jawab Bibi Sierra


"Oh, begitu," kata Raisa


"Mumpung bertemu di sini ... apa kau ingin mampir ke rumah Aqila dulu sebentar?" ujar Bibi Sierra bertanya.


"Boleh, deh. Kalau diizinkan, aku ingin istirahat sebentar sambil melihat-lihat rumah Aqila," jawab Raisa


"Tentu saja, boleh. Ayo!" kata Bibi Sierra


Raisa bertemu dengan Bibi Sierra di perjalanan dekat rumah Aqila, jadi Bibi Sierra menawarkan Raisa untuk mampir sebentar ke rumahnya.


*Aqila adalah anak dari pasangan Bibi Sierra dan Paman Elvano.


...


Raisa duduk di beranda rumah Aqila dan Bibi Sierra sedang mengambilkan minuman untuknya.


"Kenapa tidak masuk? Katanya, kau ingin melihat-lihat?" tanya Bibi Sierra yang menghampiri Raisa sambil membawa segelas minuman dan sedikit camilan.


"Aku di sini saja. Aku hanya ingin melihat-lihat tampak luar rumah Aqila karena yang kutahu pemandangan di luar sini bisa menyegarkan mata. Katanya, kau ingin bersih-bersih rumah. Lakukan saja, aku tidak ingin mengganggumu. Aku istirahat di sini saja dan terima kasih untuk minuman juga camilannya," ujar Raisa


Bibi Sierra pun ikut duduk di dekat Raisa.


"Jadi, bagaimana menurutmu pemandangan di sini?" tanya Bibi Sierra


"Aku menyukainya. Di sini luas dan terdapat hamparan rumput sejauh mata memandang. Aku sangat suka warna hijau, jadi berada di sini sangat menyegarkan. Udaranya juga bagus di sini," ungkap Raisa


Bibi Sierra menemani Raisa sambil berbincang ringan bersama. Raisa pun mengobrol sambil meminum minuman makan camilan yang sudah disediakan untuknya.


"Sekarang, bagaimana dengan kondisi dan perasaanmu?" tanya Bibi Sierra


"Tak perlu khawatirkan aku, aku sudah baik-baik saja. Sungguh, Bibi Sierra," jawab Raisa


"Dari yang kudengar, mungkin sebentar lagi kau akan ditanyai seputar kejadian tempo hari saat Sang Dewa datang. Kau bisa menolak jika masih tidak ingin membahasnya," ucap Bibi Sierra


"Aku akan siap kapan saja," kata Raisa


Suasana hening sejenak. Hanya terdengar suara angin yang menderu~


"Bibi Sierra, apa rasanya bersatu dengan orang yang kau cintai?" tanya Raisa


"Kenapa kau tiba-tiba menanyakan ini?" heran Bibi Sierra bertanya balik.


"Aku hanya ingin tahu. Kau selalu menunggu cintamu datang kembali padamu dalam waktu yang terbilang sangat lama. Bagaimana perasaanmu setelah akhirnya bisa bersatu dengan cinta yang telah lama kau tunggu-tunggu itu?" ujar Raisa bertanya lagi.


"Tentu saja, aku sangat senang. Rasanya seperti, akhirnya ... aku telah menemukan kebahagiaanku!" jawab Bibi Sierra


"Ada apa? Kau sedang ada masalah apa dengan Rumi?" lanjut Bibi Sierra bertanya.


Raisa hanya terdiam sambil tersenyum tipis. Senyum yang tetlihat miris.


"Cinta itu adalah sebuah perasaan yang tidak memandang kekhawatiran. Perasaan khawatir mungkin atau memang pasti ada saat kau menunggu, dalam hal apa pun itu. Menununggu itu seperti sebuah proses, hasilnya pasti akan terlihat cepat atau lambat, baik berhasil atau gagal. Tapi, jika kau kuat dan sabar juga ikhlas selama menanti saat prosesnya berlangsung, maka kau pasti tidak akan kecewa dengan apa pun hasilnya. Begitu juga dengan perasaan cinta," ungkap Bibi Sierra


"Sudahlah, aku mungkin hanya sedang melantur. Lupakan saja. Bagaimana pun kau adalah orang yang menunggu, sedangkan aku adalah orang yang membuatnya menunggu atau bahkan hanya memberinya harapan palsu. Dengan dua kenyataan ini, sudah pasti sangat berbeda. Percuma saja," ujar Raisa


"Raisa, hidup juga adalah suatu proses. Khawatir memang perasaan yang wajar ada. Tapi, hidup tidak perlu banyak khawatir. Hidup saja sesuai dengan kata hatimu, maka kau bisa merasa puas. Cinta juga bagian dari kehidupan! Aku tahu kau pasti mengerti," tutur Bjbi Sierra

__ADS_1


Saat itu, Paman Elvano datang.


"Paman Elvano ... " sapa Raisa sembari mengangguk kecil.


"Elvano, kau sudah pulang?" tanya Bibi Sierra


"Aku hanya ingin memulangkan kotak makan. Makanannya sudah kuhabiskan, terima kasih. Aku akan pergi lagi," ujar Paman Elvano menjawab.


Paman Elvano menyerahkan kotak makanan pada Bibi Sierra dan Bibi Sierra langsung menerimanya.


"Paman Elvano, kapan kau kembali ke Desa Daun?" tanya Raisa


"Kemarin lusa. Saat itu katanya, kau sedang pergi bersama yang lainnya ke pemandian air panas," jawab Paman Elvano


"Mumpung bertemu di sini, kau ikutlah denganku, Raisa. Aku diminta menjemputmu untuk datang ke kantor pemimpin desa," lanjut Paman Elvano


"Aku mengerti. Ayo, kita pergi sekarang," kata Raisa


Raisa langsung bangkit berdiri.


"Bibi Sierra, terima kasih sudah memperbolehkanku mampir untuk istirahat sebentar di sini. Terima kasih juga untuk camilan dan minumannya! Aku pamit pergi dulu," ucap Raisa


"Aku juga pergi, Sierra," pamit Paman Elvano


Bibi Sierra hanya mengangguk.


Raisa dan Paman Elvano pun beranjak pergi dari sana.


"Aku sudah dengar ada sesuatu yang terjadi saat aku tidak di sini dan aku tahu kau pasti bisa menerimanya," ucap Paman Elvano


"Benar, sekarang aku sudah baik-baik saja," kata Raisa


"Maaf, jika saja aku ada saat itu, aku pasti bisa membantumu. Kudengar, saat itu kau melindungi Aqila. Aku berterima kasih untuk itu," ujar Paman Elvano


"Tidak perlu bilang maaf, Paman. Aku melakukannya karena itu memang keinginanku. Dan, jangan berterima kasih. Aqila sudah seperti saudariku sendiri karena semua orang di sini sudah kuanggap seperti keluarga bagiku," ucap Raisa


Paman Elvano pun membuka pintu ruangan tersebut dan masuk lebih dulu. Raisa mengikuti di belakannya.


"Aku sudah menjemput Raisa," kata Paman Elvano


"Selamat siang, Tuan Nathan," sapa Raisa


"Selamat siang, Raisa. Maaf, aku memintamu datang padahal kau belum lama pulih dan ke luar dari rumah sakit," ucap Tuan Nathan


"Tidak masalah. Aku sudah baik-baik saja," kata Raisa


"Kau tidak perlu menceritakan kronologi kejadian tempo hari karena aku sudah tahu semuanya. Kutahu kau orang yang cerdas, jadi apa kau menyadari sesuatu di balik kedatangan Sang Dewa saat itu? Dia terkesan terburu-buru. Dia datang seorang diri dengan gegabah, tapi dia melupakan mangsanya yang ada di depan mata. Walau dia sudah mendapat sesuatu darimu, tapi setelah itu dia membiarkan semuanya dan pergi begitu saja. Ini tidak seperti sifatnya, harusnya dia tidak membiarkan ada yang lolos, terutama mangsa yang telah lama diincar," ujar Tuan Nathan


Raisa tampak berpikir.


"Setelah kuberi tahu pada Elvano ... katanya di waktu yang bersamaan, ada penyerangan di tempatnya berada. Ini bukan kebetulan, tapi sangat menganehkan," lanjut Tuan Nathan


Raisa langsung menoleh ke arah Paman Elvano yang berada tepat di sampingnya.


"Kalau boleh kutahu, saat itu apa yang terjadi di tempatmu, Paman Elvano? Apa kau menemukan sesuatu?" tanya Raisa tanpa menjawab pertanyaan dari Tuan Nathan terlebih dulu.


"Tidak ada yang spesial. Itu hanya penyerangan biasa. Para penyerang itu memiliki tanda Mata Dewa pada lengan kanan atasnya, tapi mereka pergi begitu saja setelah membuat kekacauan. Mereka yang berhasil kutangkap, langsung bunuh diri saat hendak diinterogasi. Mereka adalah pasukan berani mati," ungkap Paman Elvano


"Bagaimana tanggapanmu, Raisa?" tanya Tuan Nathan


"Aku yakin Paman Elvano juga punya dugaan, tidak tahu apakah sama dengan dugaanku atau tidak," ujar Raisa


"Penyerangan di tempat Paman Elvano adalah upaya pencegahan. Tempat Paman Elvano bekerja adalah Pusat Penelitian Alat Sihir Modern, alat sihir berteknologi ini sama pentingnya di dunia sihir ini. Para penyerang tahu, Paman Elvano dimintai untuk menjaga keamanan tempat itu dan memiliki tanggung jawab yang besar di sana. Menyerang dua tempat di waktu yang sama adalah taktik mereka supaya dapat mencegah Paman Elvano agar tidak bisa meninggalkan tempat penelitian dan mengganggu penyerangan di Desa Daun yang dilakukan oleh Sang Dewa. Paman Elvano adalah halangan besar, ini adalah cara agar aksi Sang Dewa berjalan lancar," jelas Raisa


"Sama persis. Sesuai seperti dugaanku," kata Paman Elvano


"Lalu, bagaimana menurutmu tentang penyerangan Sang Dewa?" tanya Tuan Nathan

__ADS_1


"Penyerangan Sang Dewa terkesan tergesa-gesa karena memang sedang diburu waktu. Di balik kebringasannya selama ini, Sang Dewa menyembunyikan luka parah. Karena waktunya hampir habis, dia ingin mendapatkan tumbalnya dengan cepat, yaitu Rumi yang telah lama diincarnya. Aku tahu tentang kondisinya, makanya aku menawarkan inti sihir dalam diriku agar dia bisa memulihkan diri dengan tenang. Setidaknya untuk sementara waktu dia tidak akan muncul dan berulah. Karena sihir yang kumiliki berasal dari dunia yang berbeda, pemulihannya dengan menggunakan inti tenaga sihirku akan membutuhkan waktu yang lebih banyak," ungkap Raisa sambil menunduk lesu.


"Maafkan aku! Bukannya langsung melenyapkannya, aku malah memberinya kesempatan untuk memulihkan diri. Saat itu aku tidak terpikir cara lain lagi. Aku ingin melindungi Rumi dan yang lain, tapi aku juga terluka karena pertarungan saat itu. Jadi, aku hanya terpikir untuk membiarkannya pergi saat itu juga. Aku memang bodoh!" ucap Raisa dengan nada bicaranya yang bergetar.


"Kau benar! Keselamatan orang lain memang penting, tapi bagaimana kau bisa mengorbankan keselamatanmu sendiri? Kau hampir saja kehilangan nyawamu saat itu, tahu ... " ujar Tuan Nathan


DEG!


Raisa tidak menyangka. Ia kira Tuan Nathan akan marah dan menyalahkannya karena tidak langsung membunuh musuh dan memberi kesempatan musuh untuk memulihkan diri yang artinya musuh akan datang kembali membuat kekacauan suatu saat nanti. Tapi, nyatanya Tuan Nathan lebih memikirkan keselamatan dirinya!


..."Jangan berpikiran sempit, Raisa! Tuan Nathan adalah orang baik yang tidak mungkin menyalahkanmu!" batin Raisa yang langsung menghapus air matanya yang baru saja menetes....


"Aku mengaku salah dan telah berpikiran pendek. Saat itu aku yang telah terluka tidak bisa membiarkan teman-temanku ikut terluka, terlebih lagi melihat Rumi dibawa untuk dijadikan tumbal. Karena sama-sama terluka, jadi aku menawarkan inti sihir milikku agar dia mau pergi. Aku berpikir positif dia akan menerima tawaranku karena dia pasti juga berpikir untuk tidak perlu lagi repot-repot mendapat lebih banyak luka demi mendapatkan tumbal dan bisa memulihkan diri dengan baik. Hanya itu yang bisa terpikir olehku saat itu. Aku bahkan tidak memikirkan bahwa dia akan kembali lagi nanti," tutur Raisa


"Ini bukan tentang Sang Dewa, tapi dirimu, Raisa! Tentang keselamatanmu dan kau yang hampir kehilangan nyawa! Seharusnya kau tidak berpikir bahwa semua itu adalah tanggung jawab dan beban yang harus kau tanggung sendiri. Harusnya kau bisa percaya dan mengandalkan orang-orang di sekitarmu. Kau yang berbuat seperti itu bahkan membuatku yang selaku Pemimpin Desa ini seolah tidak punya muka lagi karena gagal melindungi desa dan warganya! Apa kau berniat menggantikan posisiku di sini?!" omel Tuan Nathan


"Aku tidak memiliki maksud seperti itu, Tuan. Maaf," kata Raisa


"Nathan, kau sendiri tahu, Raisa juga seorang korban di sini. Jangan terlalu keras padanya karena sebenarnya kalian adalah orang yang sifatnya sama. Dia sama sepertimu, hanya ingin melindungi orang-orang. Mungkin karena usianya yang masih muda, jadi belum bisa menentukan hal yang lebih baik dari pada yang terpikirkannya saat itu. Dulu kau juga seperti itu saat masih muda," ucap Paman Elvano


"Bagus, kau membelanya, Elvano. Tapi, aku bicara begini juga karena memikirkannya," kata Tuan Nathan


"Terima kasih karena sudah membelaku, Paman Elvano," ucap Raisa sambil tersenyum.


"Kau sudah merasa senang, ya, Raisa. Ya, setidaknya kau bisa selamat setelah hari itu," ujar Tuan Nathan


"Untuk langkah siaga. Pemulihan dengan inti sihirku membutuhkan waktu kurang lebih 5 tahun. Bisa kurang dari waktu itu, tapi setidaknya tidak akan kurang dari 3 tahun. Untuk saat ini, sementara kita bisa tenang," ungkap Raisa


"Jangan bahas tentang Dewa itu lagi. Kau tidak mengerti juga, ya, Raisa?! Aku masih kesal karena dia dan memikirkan kau yang mengorbankan dirimu saat itu. Kau masih ingin membahas itu lagi sekarang?" ujar Tuan Nathan bertanya.


"Tidak. Aku sudah sampaikan semua yang ingin kusampaikan," kata Raisa


"Sudah tahu, Raisa telah mengorbankan dirinya. Harusnya kau beri dia semacam penghargaan, kan, Nathan," ujar Paman Elvano


"Aku masih kesal, tapi kau lagi-lagi membelanya. Kalian berdua ini punya kesepakatan untuk membuatku jadi kesal, ya?" selidik Tuan Nathan yang tentunya tidak serius.


Raisa dan Paman Elvano hanya terdiam.


Tuan Nathan pun menenangkan dirinya sejenak dan menghela nafas pelan.


"Baiklah. Jadi, sebagai bentuk penghargaan yang akan diberikan, kau ingin apa, Raisa?" tanya Tuan Nathan


"Aku tidak ingin apa pun, tapi kalau boleh meminta ... aku akan memulihkan diri baik-baik setelah ini. Untuk itu aku ingin kembali ke duniaku, berharap ada yang bersedia membukakan portal sihir agar aku bisa pergi. Itu adalah inginku yang pertama. Lalu, mungkin aku akan lebih lama di sana dan tidak akan kembali untuk sementara waktu, atau mungkin akan sangat lama. Karena sekarang yang bisa membuka portal teleportasi hanya dari dunia ini, jadi aku harap tidak akan ada yang menggangguku selama aku memulihkan diri di sana. Itu inginku yang kedua. Yang terakhir, aku harap saat aku kembali ke sini semuanya akan baik-baik saja. Itu tiga keinginanku. Aku tidak menginginkan hal lain lagi," ungkap Raisa


"Berapa lama kau berencana memulihkan diri di duniamu?" tanya Tuan Nathan


"Beberapa tahun... Mungkin 5 tahun," jawab Raisa


"Kau tidak akan kembali selama itu. Apa kau sudah memberi tahu teman-temanmu soal rencanamu ini?" ujar Paman Elvano bertanya.


Raisa menggelang pelan.


"Aku akan memberi tahu mereka nanti, itu sudah pasti," kata Raisa


"Kuharap mereka tidak kecewa setelah tahu rencanamu ini. Maksudku, tidak sedih," kata Paman Elvano


"Kalau begitu, terima kasih karena sudah bersedia datang dan bekerja sama menjawab pertanyaan dari kami. Raisa, setelah kau pulang ke duniamu, kuharap kau bisa memulihkan diri baik-baik di sana " ujar Tuan Nathan


"Tentu. Terima kasih kembali juga untuk ... semuanya! Karena bersedia menerimaku di sini," ucap Raisa


"Tentu saja. Kau tetaplah bagian dari kami di Desa Daun ini," kata Tuan Nathan


Setelah pembicaraan lebar itu, Raisa ke luar dari ruangan tersebut dan Paman Elvano mengantarnya.


.


__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2