Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
130 - Bubur Kacang Merah.


__ADS_3

Keesokan harinya...


Besoknya, mereka semua bangun pagi-pagi sekali untuk berangkat pulang ke Desa Daun, Negara Api. Mereka pun menemui Bibi Pemilik untuk membayar biaya penginapan dan makan semalam. Mereka berkata akan langsung pergi, namun Bibi menahan mereka dan menyuruh mereka untuk makan terlebih dulu sebelum pergi. Saat itu, Chilla yang paling merasa senang dari pada yang lainnya.


Setelah selesai makan mereka semua langsung pergi dari sana dan menuju ke stasiun kereta listrik untuk menempuh perjalanan pulang ke Desa Daun, Negara Api.


"Apa akan baik-baik saja jika menggunakan kereta listrik untuk pulang?" Tanya Chilla


"Tisak apa. Kita sudah menyelesaikan misi dan yang harusnya mengejar kita pun sudah kehilangan jejak kita, kita semua akan baik-baik saja." Jawab Aqila


"Tujuh tiket sudah ada di tangan. Ayo, kita naik kereta yang menuju Desa Daun. Ke sebelah sini..." Ujar Devan


Setelah menemukan kereta bertujuan yang tepat, mereka semua pun segera menaiki kereta tersebut sebelum waktu keberangkatannya.


Di dalam kereta, Aqila dan Morgan duduk berdampingan, serta berhadapan dengan Rumi dan Raisa. Sedangkan Devan, Ian, dan Chilla duduk di tempat yang masih kosong lainnya.


"Akhirnya bisa beristirahat sambil duduk di dalam kereta." Lega Morgan


"Benar. Nyaman sekali!" Sahut Raisa


"Ada apa lagi denganmu, Raisa? Wajahmu tidak terlihat baik? Apa kondisimu semakin buruk dari yang kemarin?" Tanya Aqila


"Sudah jauh lebih baik dari kemarin, tapi semalam aku kurang bisa tidur karena kondisiku yang kurang baik seperti ini." Jawab Raisa


"Itukah sebabnya kau tidak bisa tidur di malam sebelumnya juga?" Tanya Rumi


Raisa pun mengangguk sebagai ganti jawabannya.


"Kalau begitu, sempatkan untuk tidur selama perjalanan di dalam kereta ini. Supaya kondisimu kembali segar dan pulih begitu terbangun nanti." Ujar Rumi


"Apakah bisa tidur saat dalam perjalanan seperti ini?" Tanya Raisa


"Terkadang suara mesin dan angin alam yang menderu juga bisa membuatmu mengantuk seperti alunan lagu nina bobo. Apa lagi dengan kondisimu yang seperti kelelahan, kau pasti berhasil tidur. Aku janji tidak akan berisik! Kalau berisik, aku akan pindah ke tempat Devan." Jawab Morgan


"Mungkin kita akan sampai sedikit lebih lama karena Desa ini yang letaknya agak jauh dan tidak berbatasan langsung dengan Desa Daun. Jadi yang ingin beristirahat, manfaatkanlah waktu selama berada dalam perjalanan di kereta ini." Ucap Devan yang ternyata tidak duduk berjauh dari sana.


"Mereka sudah bilang begitu, kau tidur saja, Raisa." Kata Aqila


"Tidurlah, aku yang akan menjagamu di sampingmu." Tutur Rumi


"Baiklah. Pastikan kalian membangunkan aku saat sudah sampai nanti." Ucap Raisa


"Baik, kami mengerti." Kata Aqila


Raisa pun berusaha memejamkan matanya dengan tenang. Ia mencari posisi agar bisa beristirahat dengan nyaman dan damai. Akhirnya, gadis satu itu pun terlelap masuk ke alam mimpi...


Setelah beberapa waktu perjalanan, tiba-tiba saja jalur kereta yang dilewati tidak semulus yang sebelumnya dan menimbulkan gejolak dan suara yang sedikit lebih bising yang dirasakan penumpang di dalam kereta.


"Kenapa keretanya berjalan seperti ini? Jika seperti ini, aku yang berusaha keras untuk tidak berisik pun Raisa mungkin akan tetap terbangun." Bingung Morgan


"Sudah, kau jangan bicara menggerutu begitu! Kau yang tidak berisik saja sudah sangat bagus!" Kata Aqila


"Ah, aku sempat dengar tadi. Di lintasan ini ada beberapa perbaikan yang dilakukan sebelumnya. Walau di jalur ini sudah selesai diperbaiki, namun pembersihan area setelah perbaikan belum sepenuhnya selesai mengakibatkan guncangan ini." Ucap Chilla


"Tidak hanya mulutmu yang jago makan, ternyata telingamu ada gunanya juga, Chilla." Kata Ian


"Tentu saja! Tidak seperti mulutmu yang hanya mampu melontarkan ucapan pedas. Kutahu, kau tadi lebih bermaksud memuji, tapi kata-katamu lebih terdengar seperti penghinaan!" Balas Chilla


Guncangan yang terjadi cukup lama membuat posisi Raisa yang sedang tertidur menjadi tidak stabil. Rumi pun menangkap tubuh Raisa dan akhirnya menarik pelan tubuh Raisa serta menaruh kepala Raisa agar dapat bersandar pada bahunya. Kalau bukan karena tindakan gentle-nya, mungkin kepala Raisa sudah terbentur ke dinding kereta yang keras.


"Sstt! Sudahlah... Raisa, tidak akan terbangun. Jadi, jangan menambah berisik lagi." Ucap Rumi yang berkata dengan pelan.


Akhirnya suasana pun kembali hening dan tenang...


Raisa pun tetap dengan lebih nyaman terlelap tanpa harus ada ganguan lainnya lagi.


Perjalanan pun berakhir, kereta pun berhenti sementara di Desa Daun.


"Kita sudah sampai! Ayo, bangunkan Raisa." Ujar Aqila


"Tapi, aku tidak tega membangunkannya." Kata Rumi


"Kita harus bangunkan dia, dia memintanya begitu. Kalau tidak segera membangunkannya, kereta ini akan kembali bergerak." Ucap Aqila


"Kalau kau tidak sanggup membangunkannya, biar aku saja! Raisa, kita sudah sampai. Kereta sudah berhenti, ayo bangun..." Sambung Aqila yang lalu membangunkan Raisa dari tidurnya selama perjalanan di dalam kereta.


Aqila pun mengguncang pelan tubuh Raisa yang masih menyandarkan kepalanya pada bahu Rumi...


Raisa pun mulai mengerjapkan matanya berulang kali untuk mengumpulkan kesadarannya sampa sepasang matanya terbuka sempurna~


"Eungghh... Kita sudah sampai? Rumi, kenapa kau tidak langsung membangunkan aku?" Tanya Raisa


Saat membuka matanya, Raisa baru sadar bahwa ia bersandar pada bahu Rumi. Raisa pun langsung menegakkan tubuhnya dengan cepat.


"Aku tidak tega membangunkanmu. Kau terlihat sangat nyaman saat tertidur tadi." Jawab Rumi


"Benar, keretanya sudah berhenti di Desa Daun. Ayo, segera turun dari sini. Kalau tidak, kita akan terbawa pergi oleh keretanya lagi." Jawab Aqila


"Oh, ya... Baiklah." Kata Raisa


Raisa dan Rumi pun bangkit berdiri dari duduknya, lalu mereka berdua bersama Aqila pun turun dari kereta listrik tersebut. Menemui teman lainnya yang sudah lebih dulu menuruni kereta. Yang lainnya memang lebih dulu turun dari kereta, tapi mereka tidak meninggalkan teman yang masih berada di dalam kereta dan pergi begitu saja. Mereka yang di luar tetap menunggu untuk berjalan pulang bersama-sama...


"Kau sudah bangun, Raisa?" Tanya Morgan sambil menyapa.

__ADS_1


"Iya. Maaf, aku tadi tidur terlalu lama." Jawab Raisa


"Tidak apa. Hanya saja, tadi aku tidak tega membangunkanmu. Jadi meminta mereka berdua saja yang bangunkan kau." Ucap Morgan. Mereka berdua yang dimaksudnya adalah Aqila dan Rumi.


"Kami bertiga tidak duduk bersama kalian. Jadi, bukan tugas kami membangunkanmu, Raisa." Ujar Devan yang juga mewakili Ian dan Chilla untuk bicara.


"Harusnya tadi kau tidak perlu dibangunkan, biar aku menggendongmu lagi saja." Kata Rumi


"Jangan lagi dong. Aku sudah terlalu merepotkanmu, jangan sampai itu terjadi lagi." Ucap Raisa


"Tidak apa. Kalau untukmu, aku rela melakukan apa saja." Jujur Rumi


Raisa pun tertawa canggung dengan malu-malu karena kejujuran Rumi. Ia juga melakukannya untuk pengalihan pembicaraan...


"Hahaha... Kau bercanda, lucu sekali! Setelah ini kita harus apa lagi?" Ujar Raisa


"Mau apa lagi? Ya, pulang ke rumah masing-masing!" Sahut Ian


"Setelah menyelesaikan misi, biasanya kita memang istirahat setelah kembali pulang." Ungkap Chilla


"Lalu, bagaimana dengan menulis laporan misi?" Tanya Raisa


"Itu bisa dilakukan setelah beristirahat." Jawab Devan


"Kau mengingatkan hal yang cukup merepotkan, Raisa. Menulis laporan misi adalah tugas ketua tim, seperti Devan dan Aqila." Ucap Morgan


"Tapi, aku juga ingin mengetahui cara penulisannya. Saat melakukan musi bersama Amy, Wanda, dan Sandra, aku juga ikut belajar cara menulus laporan misi. Kapan kalian berdua berencana akan menulisnya?" Ujar Raisa


"Mungkin besok. Raisa adalah contoh baik yang ingin belajar hal baru, tidak seperti orang pemalas itu!" Ucap Aqila sambil menyindir Morgan sebagai pemalas.


"Terserah saja mau bicara apa. Sudah ditugaskan pada ketua, untuk apa lagi aku yang melakukannya? Merepotkan saja!" Ujar Morgan


"Saat penulisan laporan, aku juga ikut ya?" Tanya Raisa


"Terserah kau saja. Toh, kau hanya akan melihat saja." Jawab Devan


"Ya!" Girang Raisa


Mereka semua pun berjalan beriringan untuk pulang bersama. Saat arah pulang mereka menemui perbedaan jalan, mereka pun mulai berpisah satu persatu. Namun, tidak dengan Raisa dan Rumi. Karena keduanya memiliki arah jalan pulang yang sama.


Saat tak ada lagi teman lainnya yang berjalan pulang bersama dan hanya ada mereka berdua yang berjalan berdampingan... Rumi pun memberanikan diri untuk menggenggam tangan Raisa.


"Saat melihat kau dengan senangnya mengajukan diri untuk belajar cara penulisan laporan, kau terlihat girang sekali. Apa itu artinya kondisimu sudah jauh lebih baik? Atau kau merasa masih ada yang sakit? Haruskah aku menggendongmu pulang sampai rumahmu?" Ujar Rumi


"Memang masih ada sedikit rasa lelah, tapi itu wajar setelah melakukan misi. Sekarang aku sudah jauh lebih baik, apa lagi setelah beristirahat di dalam kereta selama perjalanan pulang tadi. Aku sudah baik-baik saja, tidak perlu lebih merepotkanmu lagi, lagi pula sebentar lagi juga sudah sampai rumah." Ucap Raisa


"Padahal, aku sudah membantumu memijat. Apa itu tidak mengurangi rasa sakitnya? Kau bilang semalaman kau tidak bisa tidur?" Tanya Rumi


"Sepertinya memang kemarin itu rasanya paling sakit, tapi ini akan segera berangsur pulih dan tidak akan sakit lagi. Ini sudah sering terjadi, jadi kau tidak usah khawatir. Aku akan baik-baik saja seiring waktu berlalu dan itu pasti!" Jawab Raisa


"Lucu sekali! Sebelumnya kau yang selalu mengabaikan pola makanmu dan aku selalu mengingatkanmu, sekarang kau melakukan sebaliknya. Tenang saja, aku tidak akan lupa makan walau hanya bisa makan sedikit. Kalau kau sendiri bagaimana? Apa kau sudah tidak pernah lupa makan lagi dan makan tepat waktu?" Ujar Raisa


"Aku sudah memperbaiki pola makanku karena aku selalu ingat ucapan dan pesan darimu, kau tak perlu khawatir. Sudah lebih baik sekarang." Kata Rumi


"Baiklah, aku percaya padamu. Sudah sampai di depan rumahmu. Kau masuklah, sana..." Ucap Raisa


"Aku akan menemanimu sampai rumahmu dulu, nanti aku baru kembali lagi ke rumahku. Ayo!" Elak Rumi


Baru saja berhenti di depan rumah Rumi, Raisa dan Rumi melanjutkan berjalan sampai menuju rumah Raisa...


"Kau selalu seperti ini. Padahal rumahku juga sudah sangat dekat." Kata Raisa


"Sepertinya aku baru bisa merasa tenang jika melihatmu masuk ke dalam rumahmu dengan aman." Jujur Rumi


"Dasar! Kau ini berlebihan..." Tutur Raisa


"Sudah sampai. Masuklah... Aku akan kembali ke rumahku begitu melihatmu benar-benar sudah berada di dalam rumah." Kata Rumi


"Sikapmu yang seperti ini seperti sedang mengantarku pulang saat malam hari saja. Ya sudah, aku akan masuk. Setelah aku masuk, kau lamgsung pulang." Ucap Raisa


Rumi mengangguk...


Raisa pun berjalan masuk ke dalam rumah setelah membuka pintu rumahnya. Raisa menyempatkan melihat Rumi dari jendela dalam runahnya dan melambaikan tangan pada Rumi yang ada di luar. Setelah melihat Raisa melambaikan tangan ke arahnya dari jendela rumahnya, Rumi baru melangkah pergi dan kembali ke rumahnya sendiri...


Malam harinya...


Setelah kepulangannya dari misi di Desa Awan, Negera Petir... Raisa terus berada di dalam rumah karena kondisinya. Sebenarnya sedari tadi pun Raisa tidak betah hanya di dalam rumah, tapi ia ingat pada seseorang yang mengatakan akan datang ke rumahnya dan menemui dirinya di malam hari. Sepertinya Raosa lebih memilih menunggu kedatangan orang tersebut di rumahnya.


Raisa menunggu dengan bosam di dalam rumahnya. Ia memainkan ponselnya walau tidak mendapat sinyal di sana. Raisa tetap menunggu tanpa tahu kapan orang itu akan datang. Beberapa kali ia memainkan permainan di dalam ponselnya, suara ketukan pun terdengar dari pintu rumahnya... Raisa pun mematikan permainan dalam ponselnya dan langsung beralih membuka pintu. Sebelum membuka pintu, Raisa lebih dulu memastikan siapa yang datang ke rumahnya dari jendela.


Kriiett~~


"Rumi, kau sungguh datang ya?" Sapa Raisa sambil bertanya saat membukakan pintu.


"Tentu saja! Aku selalu memegang ucapanku, apa lagi jika itu untukmu." Katanya yang ternyata adalah Rumi yang sudah berkata akan datang.


"Silakan masuk." Raisa pun mempersilakan Rumi untuk memasuki rumahnya.


Rumi pun langsung duduk di sofa begitu masuk ke dalam rumah Raisa.


"Oh ya, Raisa. Aku membawakan makanan untukmu. Makanlah selagi masih hangat." Ucap Rumi seraya memberikan bingkisan pada Raisa.


"Terima kasih! Padahal kau tidak perlu repot-repot seperti ini. Kau ingin minum apa? Biar aku siapkan..." Ujar Raisa sambil menerima bingkisan dari tangan Rumi.

__ADS_1


"Apa saja, asal tidak merepotkanmu." Kata Rumi


"Kau ini tamu, mana mungkin merepotkan. Tunggu sebentar di sini ya." Ucap Raisa yang lalu beranjak menuju ke dapur.


Tak menunggu lama, Raisa pun kembali dengan membawa nampan berisi makanan dan minuman.


"Ini makanan untukmu. Dan bubur yang kau bawa, kubagi menjadi dua porsi untuk kita berdua masing-masing karena porsi aslinya terlalu banyak untukku." Ucap Raisa sambil menaruhkan makanan dan minuman di atas meja.


"Harusnya kau makan sendiri saja, aku membelinya untuk kau makan sendiri. Kenapa malah membaginya denganku?" Tanya Rumi


"Aku tidak terbiasa makan banyak saat malam hari, apa lagi kalau makanan berat seperti bubur kacang merah ini. Apa seharusnya aku memberimu makanan lain? Padahal kau membelinya untukku, tapi aku malah menyuguhkanmu dengan makanan pemberianmu. Rasanya memang kurang pantas ya?" Ujar Raisa


"Bukan begitu. Aku suka apa saja pemberianmu, apa pun dan dari mana pun asalnya. Hanya saja, tadinya aku berharap kau makan banyak. Makanya aku membeli porsi besar sekaligus untuk diberikan padamu, tapi ternyata itu terlalu berlebihan. Baiklah, ayo! Kita makan bersama saja buburnya." Ucap Rumi


Raisa dan Rumi pun memakan bubur kacang merah itu bersamaan. Makan merdua di malam hari memang terasa mengesankan walau tidak ada suasana yang mendukung sekali pun.


"Aku belum pernah makan jenis olahan kacang merah sebelumnya. Tak kusangka rasanya enak dan cocok di lidahku." Ucap Raisa setelah menghabiskan bubur kacang merah di mangkuknya.


"Sudah kubilang, harusnya kau makan sendiri saja buburnya. Jika kau suka, kau pasti sanggup menghabiskannya." Kata Rumi


"Bukan masalah sanggup atau tidak, tapi makan makanan berat malam juga tidak baik untuk kesehatan. Selain itu daya tampung perutku memang tidak banyak." Ungkap Raisa


"Walau begitu... Apa kau mau makan sedikit lagi? Biar aku suapi, buka mulutmu..." Ujar Rumi yang sudah menyendokkan sesuap bubur kacang merah dan menyodorkannya pada Raisa.


"Tunggu, tapi itu bagianmu. Aku sudah cukup makan, kau saja yang makan punyamu." Tolak Raisa


"Sebenarnya sebelum ke sini pun aku sudah makan dengan yang lain. Katamu, makan berlebihan saat malam hari itu tidak baik. Kau juga tidak perlu menghabiskan sisa punyaku, ayo kita makan bersama lagi. Makanya, terima saja. Tanganku juga sudah mulai pegal..." Ucap Rumi


"Uh, baiklah..." Pasrah Raisa yang akhirnya menerima suapan dari tangan Rumi.


Rumi menyuapi Raisa dengan sendok yang sebelumnya sudah ia pakai. Setelah sekali menyuapi Raisa pun, Rumi menyendok untuk dimakan dirinya sendiri. Ini sudah seperti ciuman secara tidak langsung!


Setelah menghabiskan bubur kacang merah bersama, Raisa mengobrol dengan Rumi sambil menyandarkan kepalanya pada bahu lelaki itu dengan mesra.


"Sebelumnya saat kau ke rumahku pasti untuk membantuku belajar untuk mempersiapkan ujian, tapi sekarang kita hanya bisa mengobrol. Apa kau tidak merasa bosan? Hal apa lagi yang bisa kita lakukan ya? Apa kau ingin menonton televisi? Aku tidak tahu siaran yang bagus di sini, apa kau bisa merekomendasikannya?" Ujar Raisa


"Apa pun yang kulakukan asalkan bersamamu tidak pernah membuatku bosan. Selain itu aku juga jarang menonton televisi jika bukan sedang bersama teman-teman. Di rumahku pun tidak ada televisi, jadi aku tidak bisa memberimu rekomendasi." Ucap Rumi


..."Benar juga. Kalau diingat-ingat bukan hanya rumahku lebih besar dari pada rumah Rumi yang hanya seperti kamar kost-kostan di duniaku, di rumahnya juga tidak ada televisi... Terlalu sederhana." Batin Raisa...


"Benar juga ya... Bagaimana pun memberiku rumah ini sebagai tunjangan untukku rasanya terlalu berlebihan. Ini bahkan terlihat lebih baik dari rumah milik warga sepertimu yang sudah berkontribusi untuk desa dan negara." Ungkap Raisa


"Mereka melalukan itu karena menganggapmu sebagai tamu terhormat dan bahkan sekarang kau juga termasuk bagian dari kami seperti yang lainnya. Tidak bisa dibandingkan denganku juga. Rumahku itu didapatkan dari pemberian dengan penghasilan ayahku yang masih termasuk seorang tahanan yang masih diawasi, tidak bisa dan tidak mementingkan kemewahan hanya yang penting bisa untuk ditinggali saja. Lagi pula yang penting rumahku masih layak huni, kebersihan dan kekokohannya pun masih sangat bagus, hanya ukurannya saja yang memang lebih kecil. Aku juga hanya anak lelaki yang tinggal sendiri." Jelas Rumi


"Sudah tidak ada yang bisa kita obrolkan atau lakukan, hari pun semakin malam. Kalau sudah seperti ini, kau lebih baik pulang saja. Kau juga pasti butuh istirahat." Ucap Raisa


"Benar, kau juga butuh istirahat. Tapi, kenapa aku merasa tiba-tiba kau ingin sekali mengusirku?" Ujar Rumi dengan ekspresi sedih.


"Kau juga tahu, maksudku bukan seperti itu." Kata Raisa


"Begini saja, kalau kau memberikan sesuatu untukku sebagai hadiah sebelum pulang... Setelah itu, aku akan langsung pulang. Kau juga tahu kan, sebelumnya aku sudah melalukan banyak hal untukmu. Tidak bisakah kau memberimu sebagai penghargaan atau hadiah spesial? Bagaimana?" Nego Rumi


"Aku tahu, aku sudah sangat merepotkanmu kemarin. Kau pasti kesulitan karena aku. Jadi, kau ingin aku melakukan dan memberikan apa?" Ujar Raisa


"Eh, bukan maksudku membuatmu merasa begitu. Aku tidak merasa terbebani sedikit pun, sungguh!" Kata Rumi yang malah merasa tidak enak.


Raisa pun tersenyum kecil...


Raisa sebenarnya tau niat dibalik permintaan Rumi yang terdengar berbelit-belit itu, hanya saja Raisa merasa ingin mengerjai lelaki di sampingnya itu...


Raisa pun terkekeh kecil...


"Aku mengerti! Maaf, barusan itu aku hanya bergurau. Kalau kau memang ingin hadiah sebelum pulang dariku, kau harus menutup kedua matamu lebih dulu." Ujar Raisa


"Oh, baiklah." Patuh Rumi yang langsung memejamkan kedua matanya.


Saat seperti ini, Rumi hanya bisa langsung menuruti Raisa.


Sett~


CUP!


Raisa menarik pakaian bagian dada Rumi untuk membuat lelaki itu mendekat dan kemudian mencium tepat di bibirnya...


Rumi tidak menyangka Raisa akan mengerti dan memberi hadiah berupa kecupan di bibir, padahal ia masih saja diliputi rasa bersalah karena kesalah-pahamannya sendiri. Tapi, karena Raisa sudah bersedia memberikannya, Rumi tidak akan tanggung-tanggung. Itu pun tidak hanya menjadi sebuah kecupan singkat saat Rumi memeluk pinggang erat punggang Raisa dan memperpanjang waktu ciuman mereka. Ciuman itu pun berubah menjadi hangat dan mendebarkan~


"Hmm... Seperti kataku, setelah kau memberiku hadiah, aku akan langsung pulang. Istirahatlah dengan baik malam ini, sampai jumpa lagi besok." Ucap Rumi setelah mengakhiri ciumannya dan mengelap bibir Raisa yang agak basah akibat ulahnya.


"Ya, sampai jumpa besok!" Balas Raisa seolah tersihir setelah berciuman dengan Rumi.


Rumi pun bangkit dan langsung beranjak pergi ke luar dari rumah Raisa...


..."Dasar, lelaki itu! Dia hanya seorang yang baru pertama kali berpacaran! Tapi, kenapa aku merasa bakat ciumannya sudah semakin hebat saja!? Walau sebenarnya, pengalaman ciumanku pun baru pertama kali kulakukan dengan dia sih..." Batin Raisa...


.



Bersambung...


Kutipan Author 》


"Meninggalkan tahun lalu, menyambut tahun baru... Ayo, kita ucapkan selamat pada diri kita masing-masing karena sudah mampu dan berhasil melewati waktu-waktu sulit yang sudah berlalu di tahun 2021. Serta tetap tanamkanlah asa dan harapan baru untuk tahun yang baru ini, tahun 2022. Yakinlah bahwa kita bisa melewatinya seperti yang sudah-sudah, baik mudah maupun susah. Selamat dan Tetaplah Semangat!"

__ADS_1


^^^Salam hangat:^^^


^^^[Dilawrsmr]^^^


__ADS_2