
Setelah Aqila dan Ian sama-sama memberikan pertolongan pertama untuk mengobati Raisa, akhirnya mereka semua kembali ke Desa Daun.
Sesampainya di Desa Daun, Raisa langsung dilarikan ke rumah sakit.
Keesokan harinya...
Sejak kembali kemarin, Raisa belum juga sadar walau sudah ditangani langsung oleh Bibi Sierra, Kepala Rumah Sakit di sana. Walau Bibi Sierra mengatakan Raisa akan baik-baik saja, Rumi terus menemani di sampingnya. Rumi terus menggenggam tangan Raisa, berharap Raisa cepat sadar.
"Ngghh~ R-rumi, kau ada di sini?" Sadar Raisa
Raisa masih berusaha memulihkan pandangannya dengan mengerjapkan kembali kedua mata beberapa kali...
"Raisa, kau sudah sadar?! Syukurlah..." Lega Rumi
"Sepertinya ada seseorang yang sudah melupakan makan lagi." Kata Raisa sambil tersenyum tipis.
"Memikirkanmu sejak kemarin... Bagaimana bisa aku makan dengan tenang? Apa kau sadar sekarang sedang berada di mana?" Ujar Rumi
Raisa mengangguk lemah, tanpa menjawab.
"Tolong, bantu aku duduk." Pinta Raisa yang sedang berusaha bangkit dari posisi tidurnya.
Rumi pun membantu Raisa untuk duduk di ranjang rumah sakit itu...
"Kau sudah sadar bahwa kau berada di rumah sakit! Apa kau juga sadar, apa yang telah kau lakukan kemarin?" Tanya Rumi
"Aku harus melakukannya untuk mengatasi dalang penculikan kemarin tanpa harus melibatkanmu dan yang lainnya. Aku baik-baik saja, sudah terbukti sekarang. Tapi, kalau aku tidak melakukan seperti yang kemarin itu, bisa-bisa kaulah yang berada dalam bahaya! Aku tidak ingin menghadapi resiko seperti itu, untuk memikirkannya saja aku tidak mau!" Jawab Raisa
"Kenapa tidak? Aku tidak mengerti caramu berpikir dan tujuanmu sampai sekarang. Kalau perlu biarkan aku saja yang berkorban, toh dari awal aku memang sudah diciptakan untuk itu!" Kata Rumi
"Aku yang tidak akan membiarkanmu seperti itu! Kau adalah manusia sama seperti yang lain! Berhentilah memiliki pendirian untuk terus dan harus berkorban, kau juga berhak memiliki kehidupan seperti yang lainnya. Kali ini biarkan aku yang berkorban untukmu, toh ini juga bukan apa-apa, aku baik-baik saja. Aku sudah katakan kemarin kan... Apa kau tidak dengar ucapan terakhirku kemarin?" Ujar Raisa
"Bagaimana kau bisa baik-baik saja? Kau baru saja sadar setelah kejadian kemarin..." Risau Rumi
"Dengarkan aku, Rumi... Mulai sekarang kau harus berhati-hati! Jangan sampai terjadi apa-apa denganmu. Dari yang kuketahui, mereka yang menculikku kemarin sebenarnya mengincarmu. Mereka sengaja menculikku karena mengatur siasat untuk menangkapmu, menukarkan posisiku denganmu. Maaf, jika aku bicara begini. Tapi, sepertinya ada pengkhianat di Desa Daun. Mereka mengancamku tidak boleh melarikan diri karena tahu kedekatan kita..." Ucap Raisa
"Kalau begitu, seharusnya kau biarkan aku bertukar tempat denganmu kemarin!" Enteng Rumi
Raisa berdecak kesal!
"Ck! Kau tidak mengerti juga!?! Saat aku berusaha membebaskan diri kemarin, mereka mengancamku dengan keselamatanmu. Mereka tahu hubungan dan kedekatan kita. Itu artinya ada mata-mata atau pengkhianat di desa. Mereka berkata, akan menukar posisi kita... Aku akan dibebaskan jika bisa mendapatkamu dan menyerahkan pada mereka, tapi tentunya tidak akan semudah itu! Aku mendengarnya sendiri saat berpura-pura dalam pengaruh sihir kemarin! Mereka tidak akan melepaskanku saat kau berhasil ditangkap, itu artinya jika aku tidak bertindak kemarin kita berdualah yang akan dalam bahaya, mungkin teman-teman yang ikut datang kemarin juga tidak dibiarkan bebas begitu saja. Kau mengerti atau tidak sih? Tolong, jangan buat pengorbanan konyolku kemarin menjadi sia-sia. Kumohon, jangan sampai terjadi hal buruk padamu. Kau harus baik-baik saja, Rumi!" Ungkap Raisa sambil meneteskan air di ujung kedua matanya.
Rumi mengulurkan tangannya untuk menghapus air mata Raisa~
"Apa yang kau lakukan kemarin tidaklah konyol, tidak ada pengorbanan yang sia-sia. Sekarang aku mengerti! Sudah, jangan menangis lagi... Maafkan aku yang sempat tidak mengerti kekhawatiranmu dan terima kasih sudah selamat dan juga menyelamatkan aku." Ucap Rumi
"Aku juga minta maaf karena sudah membuatmu khawatir kemarin, tapi sudah jadi tanggung jawabku juga untuk melindungimu. Seperti kau yang khawatir padaku, aku juga khawatir setengah mati padamu. Aku yang lebih dulu tahu rencana mereka. Memikirkan kau akan dalam bahaya seperti sedang menghadapi kematian bagiku, itu sangat menyakitkan! Tentu, aku tidak bisa diam saja! Kalau sampai terjadi sesuatu yang membahayakan dirimu, aku seperti sudah tidak punya harapan lagi. Harapanku adalah melihatmu hidup dan bahagia. Apa harus menunggu aku menangis dulu sambil menjelaskannya, kau baru bisa mengerti dan percaya?!" Jelas Raisa sambil menahan rasa kesalnya.
"Baik, aku sudah mengerti. Jadi, jangan bahas ini lagi ya..." Kata Rumi sambil mbujuk Raisa yang merasa kesal.
"Kau ini sayang padaku tidak sih? Masa tega berdebat dengan orang sakit yang belum makan dan baru baru mau berhenti dan mengalah sekarang setelah aku menangis tersedu-sedu? Aku jadi meragukan rasa cintamu... Menyadarinya membuat aku kesal sekali!" Ujar Raisa
"Maaf, aku sampai lupa kalau kau belum makan. Aku memang tidak kompeten, tapi aku sungguh cinta padamu. Jangan marah lagi ya, Raisa sayang... Aku pergi beli makan untukmu dulu." Ucap Rumi
Rumi hendak bangkit dan pergi, tapi Raisa menahannya.
"Ada apa? Apa kau ingin memesan sesuatu yang khusus untuk dimakan?" Tanya Rumi
Raisa tersenyum...
"Apa saja yang hangat dan lembut. Jangan beli dengan porsi besar, aku baru sadar pasti masih sulit mencerna makanan. Tapi, belilah dua untuk kau makan juga. Ayo, kita makan bersama. Kau pasti juga belum makan karena terus menemaniku di sini." Jawab Raisa
"Kau sedang sakit, tapi masih memperhatikan dan mengingatkanku untuk makan. Kau baik sekali, Raisa. Kau bahkan rela terluka demi diriku. Aku memang tidak salah... Aku sangat mencintamu, kasihku!" Batin Rumi
Rumi pun ikut tersenyum membalas Raisa.
"Baik, aku mengerti! Tunggu aku ya, sayangku! Tidak akan lama..." Kata Rumi
Rumi mencuri cium sekilas pipi Raisa sebelum melangkah pergi ke luar dari ruangan tersebut dengan cepat.
__ADS_1
"Dasar! Aku sedang sakit pun masih saja cari kesempatan dalam kesempitan!" Sebal Raisa
Melihat Rumi yang ke luar dari ruang rawat Raisa dengan terburu-buru, membuat Bibi Sierra mampu menebak tentang kondisi Raisa. Bibi Sierra pun bergegas masuk untuk memeriksa Raisa lagi...
"Seperti yang kuduga, kau sidah sadar ya? Waktunya pemeriksaan, Raisa! Bagaimana kondisimu? Apa yang kau rasakan saat ini?" Sapa Bibi Sierra
"Senang bertemu denganmu, Bibi." Sapa Raisa
"Senang bertemu denganmu juga, Raisa. Tapi, jangan sampai pertemuan kita karena kondisimu yang seperti ini terus dong..." Kata Bibi Sierra
"Aku baik-baik saja kok, Bi. Selain merasa lemas dan sedikit mual, aku merasa sehat. Terima kasih sudah merawatku dan maaf karena pertemuan yang kurang menyenangkan ini." Ucap Raisa
"Ini pasti karena kau belum makan dan tusukan kemarin itu. Walau sudah disembuhkan sepenuhnya, memang pada kondisi tertentu masih bisa merasakan mual sepertimu." Ucap Bibi Sierra
"Dari kemarin, aku memang belum makan sama sekali sih." Kata Raisa
"Jadi itu sebabnya, Rumi tergega-gesa ke luar tadi? Untuk membawakanmu makanan? Sebenarnya, apa yang coba kau lakukan dengan pemikiranmu kemarin sih, Raisa?" Tanya Bibi Sierra
"Bibi, maaf. Kau dan petinggi lainnya nanti pasti menanyakanku tentang itu kan? Bisakah bahasnya sekalian interogasi nanti saja? Karena kalau boleh jujur, aku masih belum punya banyak tenaga untuk banyak bicara." Ujar Raisa
"Baiklah, aku akan memanggil mereka untuk mempercepat interogasi saja. Tentu, itu akan dilakukan setelah kau selesai makan nanti. Aku juga akan memberi tahu kabar pada teman-temanmu bahwa kau sudah sadar. Kau juga baik-baik saja sekarang. Kalau begitu, aku permisi dulu. Istirahatlah dengan baik." Ucap Bibi Sierra
"Terima kasih atas kunjungan pemeriksaannya, Bibi." Kata Raisa
"Sama-sama." Balas Bibi Sierra
Setelah usai memeriksa kondisi Raisa, Bibi Sierra pun berlalu meninggalkan ruang rawat tersebut.
Tanpa harus menunggu dengan waktu yang lama, Rumi pun kembali dengan membawa sesuatu di tangannya.
"Aku audah datang, Raisa. Kau tidak bosan selama menungguku di sini kan?" Ujar Rumi
"Tidak kok, kau tidak pergi terlalu lama. Tadi juga ada Bibi Sierra yang datang berkunjung untuk pemeriksaan." Kata Raisa
"Apa yang dikatakan Bibi Sierra tadi? Apa kau sungguh baik-baik saja?" Tanya Rumi
"Tadi, Bibi Sierra juga bertanya dan sudah memeriksaku. Aku bilang, selain sedikit lemas dan merasa mual, aku baik-baik saja. Bibi Sierra juga bilang, aku sudah baik baik-baik saja dan tidak ada hal lain yang serius. Katanya, rasa mualku kemungkinan karena efek tertusuk kemarin walau pun lukanya sudah sembuh dan juga karena aku belum makan saja." Jelas Raisa
"Tidak, aku bicara yang sebenarnya kok." Jawab Raisa
Rumi pun nampak menyiapkan dan menaruh makanan yang dibawanya ke dalam mangkuk.
"Apa yang kau bawa itu?" Tanya Raisa
"Ah, ini! Bubur kacang merah yang pernah kita makan waktu itu. Makan ini bagus untuk menambah darah. Tenang saja, aku minta dibuatkan yang tidak terlalu manis untukmu. Aku juga sudah meminjam mangkuk dan sendok dari dapur rumah sakit untuk wadah dan alat makannya." Jawab Rumi
"Itu bagus! Wah, wanginya harum sekali!" Kata Raisa
"Apa kau ingin aku suapi?" Tanya Rumi
"Tidak usah, biar aku sendiri saja. Kau juga kan harus makan. Aku juga ingin memulihkan pergerakanku yang masih terasa lemas." Jawab Raisa
"Baiklah, kalau begitu hati-hati. Buburnya kasih panas." Ujar Rumi yang menyerahkan semangkuk bubur kacang merah pada Raisa.
"Memegang sesuatu yang panas juga bagus untuk membantu kembali melancarkan peredaran darah. Terima kasih, Rumi." Kata Raisa yang mengambil mangkuk pemberian Rumi.
Raisa dan Rumi pun makan bersama di ruang rawat rumah sakit tersebut. Tak selang beberapa lama, teman-teman yang lain datang untuk menjenguk.
"Raisa, kami datang!"
"Ah, kalian... Selamat datang!" Sapa Raisa sambil tersenyum.
"Raisa, syukurlah... Kau sudah sadar dan terlihat baik-baik saja. Aku sangat khawatir, apa lagi saat melihat kau kembali dslam kondisi tak sadarkan diri dan terluka kemarin." Ucap Amy
"Tidak apa, Amy. Aku sudah baik-baik saja. Tidak perlu khawatir lagi." Kata Raisa
"Oh, kau sedang makan, rupanya! Bersama Rumi juga!" Ujar Morgan
"Iya, aku menyuruhnya untuk makan juga. Karena pasti dia belum makan dari kemarin karena menungguku dan merasa bersalah masalah tertusuk kemarin." Jelas Raisa
__ADS_1
"Masalah kemarin itu... Bagaimana caramu berpikir sampai harus melakukan itu semua sih?" Tanya Ian
Raisa hanya tersenyum tanpa membalas dan sebagai ganti balasannya.
"Maaf, harusnya kalian tidak datang sekarang." Kata Raisa
"Kenapa, begitu? Apa supaya kau bisa asik berduaan dengan Rumi?" Tanya Chilla
"Eh, bukan begitu! Aku belum selesai bicara! Aku hanya tidak enak saat makan, tapi tidak bisa menyuguhkan sesuatu untuk kalian." Jawqb Raisa
"Tidak apa, Raisa. Kau tidak perlu sampai memikirkan hal seperti itu. Di sini kau sedang sakit, justru kami yang minta maaf karena tidak membawa apa pun saat menjengukmu. Ini karena kami khawatir dan sangat penasaran dengan hal apa yang sebenarnya terjadi kemarin." Ucap Wanda
"Benar, kau juga belum menjawab pertanyaan dariku! Ceritakanlah semuanya pada kami!" Tuntut Ian
"Ah, masalah kemarin itu... Bukannya aku tidak mau menceritakannya pada kalian semua. Begini, nanti pasti ada yang akan menanyaiku tentang hal yang terjadi kemarin. Para petinggi pasti menginterogasiku demi keamanan desa dan negara. Bisakah kalian mencari tahu setelah itu saja? Aqila bisa bertanya pada Bibi Sierra yang akan ikut menyaksikan interogasiku nanti, atau Devan dari Ayahnya atau Morgan dari Ayahnya, juga atau Ian dari Ayahnya. Aku masih merasa lemas untuk banyak bicara. Saat Bibi Sierra menanyaiku tentang ini waktu pemeriksaan tadi, aku juga memintanya menunggu mendengar langsung saat interogasi nanti. Aku mohon maklum dari kalian semua..." Ujar Raisa
"Kondisi Raisa sedang seperti ini, kalian biarkanlah dia dulu." Kata Rumi
"Baiklah. Kurasa, itu bisa dimengerti. Biarkanlah Raisa istirahat dan fokus memulihkan tenaganya." Ucap Dennis
"Saat Mama memeriksamu tadi, dia bilang apa? Apa kau sungguh baik-baik saja? Saat kami membawamu ke sini kemarin, Mama bilang kau terinfeksi racun yang parah. Sampai aku dan Ian kesulitan mengobatimu." Tanya Aqila
"Soal racun itu, aku juga tidak tahu, Bibi Sierra tidak menjelaskan soal itu. Kemarin aku memang dimasukkan racun yang mengandung pengaruh sihir ilusi pengendali sekaligus. Aku bisa menahan racunnya, walau akhirnya aku pingsan setelah terus menahannya sebelum sempat aku ke luarkan racun itu seluruhnya dari tubuhku. Bibi Sierra hanya mengatakan aku sudah baik-baik saja dan hanya perlu menunggu memulihkan tenaga." Jawab Raisa
"Racun? Kenapa kalian tidak ada yang beri tahu padaku?" Tanya Rumi
"Soal racun, aku dan Ian juga awalnya tidak tahu persis. Yang kami berdua tahu, kondisi Raisa kemarin hanya lebih parah dari pada dugaan. Aku juga tahu dari Mama. Aku tidak memberi tahu yang lain karena takut memperburuk suasana karena kemarin kita semua sudah sangat khawatir dan panik dengan kondisi Raisa yang tak sadarkan diri." Ungkap Aqila
"Hal besar seperti ini, kenapa tidak diberi tahu? Kalau, Raisa tidak bisa pulih dari racunnya dan tidak ada yang tahu... Bagaimana?!" Kesal Rumi
"Sudahlah, Rumi... Aku juga tidak memberi tahu padamu karena tidak ingin kau khawatir. Toh, sekarang aku memang sudah baik-baik saja. Bibi Sierra juga sudah mengatakannya sendiri. Kau tidak ingin aku mengalami yang sebaliknya seperti yang kau katakan kan?" Ujar Raisa
"Tentu saja, tidak! Aku mengatakan seperti tadi bukan karena ingin itu sungguh terjadi padamu, tapi karena aku benar-benar khawatir!" Ucap Rumi
"Kalau begitu, berhentilah khawatir berlebihan. Kalau kau masih tidak yakin, kau bisa menanyakan langsung kondisiku pada Bibi Sierra." Kata Raisa
"Semua yang mendengar pun kecewa karena tidak tahu hal ini. Tapi, bukankah kita semua sudah bisa lega karena Raisa sudah sadar? Dan untunglah, Raisa baik-baik saja." Ucap Sandra
Kriiett~~
Pintu ruang rawat kembali terbuka memunculkan sosok para petinggi dari baliknya. Situasi yang dikatakan Raisa, di mana ia harus memberi kesaksian atas kejadian kemarin sudah harus dilakukan...
"Permisi... Maaf, mengganggu waktu jenguk kalian." Ujar Bibi Sierra
"Nyonya Sierra, maaf. Bisakah interogasinya nanti saja? Sekarang ini Raisa masih belum selesai makan." Pinta Rumi
"Maaf, aku juga sudah mengatakan untuk dilakukan setelah Raisa selesai makan. Tapi, kalian tahu sendiri... Para petinggi ini sangat sibuk dan tidak punya banyak waktu untuk saling mencocokkan waktu dengan jadwal mereka yang padat." Ucap Bibi Sierra
"Hmm, lakukan sekarang saja. Lebih cepat diselesaikan, lebih baik. Maka, semuanya cepat menjadi jelas. Tidak apa, aku bisa menyelesaikan makanku setelah interogasi selesai." Ucap Raisa
"Maka, yang lain mohon untuk menunggu di luar selama proses ini berlangsung." Pinta Paman Aiden, Ayah Ian, yang datang sebagai perwakilan dari pihak kepolisian untuk sesi interogasi kali ini.
"Baiklah, kami semua mengerti."
Semua pun beranjak ke luar dan menyisakan Raisa, Bibi Sierra selaku pihak rumah sakit, Paman Nathan selaku pemimpin desa, Paman Rafka selaku penasehat, dan Paman Aiden selaku Kepala Polisi, untuk melangsungkan interogasi.
Setelah semuanya ke luar dan menjadi hening. Proses sesi interogasi pun dimulai. Raisa pun menceritakan serta menjelaskan semua yang telah terjadi kemarin.
"Raisa, apa benar kau dibawa pergi dengan paksa kemarin?" Tanya Tuan Aiden
"Benar, bukan aku yang berniat pergi dengan sendirinya. Aku telah dipaksa." Jawab Raisa
"Benarkah yang menculikmu berjumlah tiga orang?Bagaimana ciri-ciri mereka? Bagaimana cara mereka memaksamu? Lalu, bagaimana pada akhirnya teman-temanmu dapat menemukanmu?" Tanya Paman Rafka selaku penasehat, Ayah Devan.
"Benar, tiga orang. Aku tidak bisa melihat dan mengungkapnya dengan jelas karena sangat asing bagiku dan mereka bertiga adalah pria berjubah hitam, itulah yang kutahu dan ingat dengan jelas. Saat datang, aku masih berpikir positif, mungkin mereka adalah warga Desa Daun yang tidak kukenal yang datang mencari dan ada perlu denganku, makanya aku kehilangan waspada saat mereka menyerangku secara mendadak. Mereka menyerangku dengan sesuatu yang menyengat, entah itu sihir atau alat ilmiah berkekuatan listrik atau petir. Mereka menyerang tepat pada mata kiriku dan setelah itu aku pungsang tak sadarkan diri, itulah saat mereka memaksa membawaku pergi. Mereka, teman-teman yang datang menyelamatkanku bisa menemukanku dengan mudah karena aku sudah memberi mereka lambang inti sihirku yang dapat menyalurkan dan memberi tahu mereka keberadaan orang yang dalam bahaya. Mereka menyadari tanda bahaya yang muncul, laku lergi mencari dan akhirnya menenukanku Semua teman-temanku memilikinya, lambang inti sihirku. Ini berfungsi seperti alat pendeteksi yang saling menghubungkan kami. Kami bisa tahu jika dari kami terdapat bahaya, maka kami bisa saling menolong." Ungkap Raisa
"Apa saja yang telah terjadi kemarin? Selama penculikanmu berlangsung?" Tanya Paman Nathan, Ayah Morgan, Pemimpin Desa.
.
__ADS_1
•
Bersambung...