Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
74 - Bertemu Tuan Kevin.


__ADS_3

"Kau rasakanlah sendiri!" Kata Rumi


Rumi menarik kepala bagian belakang Raisa untuk mendekatkan telinga Raisa pada dada bagian kiri tubuhnya. Tepat pada bagian jantungnya!


"Ada sesuatu yang salah di dalam sini. Kau dapat mendengar suaranya, kan? Dia yang berada di dalam sini bersuara berisik sekali! Aku tak tahan lagi!" Ungkap Rumi


Raisa terdiam namun ia terkejut!


Apa maksud Rumi? Mengapa ia diarahkan tepat pada dada kiri, yaitu posisi jantung Rumi?! Apa sesuatu yang salah pada jantungnya itu? Apa maksud perlakuan Rumi ini!?!


"E-eh! Apa maksudnya ini, Rumi?" Tanya Raisa kebingungan menebak-nebak maksud Rumi.


"Apa ada yang salah dengan yang ada di dalam dadaku ini?" Tanya balik Rumi


Rumi masih menahan posisi kepala Raisa yang ditempelkan pada dada kirinya. Membuat Raisa mendengarkan suara detak jantungnya yang berdebar cepat dan kencang.


"Apa yang kau maksud adalah jantungmu? Jantungmu sehat kok, dia yang ada di dalam sana berdetak dengan baik." Ujar Raisa


"Ada sesuatu yang lain yang kurasakan. Apa jantungku bermasalah, Raisa?" Ucap Rumi dengan pertanyaannya di akhir kalimat.


Tanpa sadar Raisa meremas pakaian depan Rumi karena tangannya juga berada di dada Rumi. Ia memejamkan matanya menahan semua gejolak yang ia rasakan. Ia juga menahan diri dan emosinya agar air matanya tidak menetes.


..."Tak bisakah kau merasakannya juga, Rumi? Jantungku pun berdebar sangat kencang dan cepat sepertimu. Debaran ini hanya untukmu! Bisakah kau tidak menyiksaku seperti ini? Ketahuilah, aku tak ingin membuatmu terluka jika teringat kenyataan yang akan kita hadapi jika kita bersatu. Tidak, kita tidak bisa bersatu! Kita hanya akan bertemu dengan hal yang namanya perpisahan. Karena dunia kita berbeda! Mustahil untuk kita bisa bersama. Lebih baik merasakan sakit saat ini dari pada nanti. Jika yang kau maksud, kau memiliki perasaan yang sama sepertiku ini, maka lupakanlah sekarang juga!" Batin Raisa yang begitu tersiksa....


Raisa tak tahan lagi jika terus seperti ini. Ia pun memaksakan diri untuk mengangkat kepalanya menjauh dari dada Rumi...


"Tunggu! Apa aku mebyebabkan hal yang fatal padamu? Apa sihirku jadi membuat ada sesuatu yang salah pada jantungmu? Ini salahku! Maaf... Apa aku harus menjauh darimu agar dirimu tidak terluka karenaku!?" Ucap Raisa dengan perasaan yang tak karuan.


Akhirnya Raisa mengucapkannya. Tapi, alih-aluh mengungkapkan apa yang selama ini ia pendam, Raisa membuat seolah-olah dirinya melakukan sihir yang salah pada diri Rumi dan berkata akan menjauh darinya. Padahal, yang Raisa takuti selama ini adalah kenyataan akan perpisahan karena dunia yang berbeda dan tak mungkin bisa bersama atau pun bersatu. Ia menakuti kenyataan yang bahkan belum menghampirinya.


Kacau sekali perasaannya!


Rumi pun bangkit dari posisi berbaringnya dan langsung berhambur memeluk tubuh Raisa. Memeluk dan mendekapnya dengan sangat erat!


"Jangan! Kumohon, jangan lakukan itu! Jangan menjauh dariku! Kau tidak salah... Aku yang salah." Mohon Rumi dengan sangat pada Raisa.


"Bagaimana jadi kau yang salah? Aku yang sudah melakukan sihir padamu? Apa ada yang salah dengan sihir pengendali darah milikku?" Tanya Raisa dalam dekapan erat Rumi.


Rumi pun melepaskan pelukannya. Ia langsung mengunci tatapan dari kedua mata milik Raisa. Ia meraih wajah Raisa dan mengusap pipi Raisa dengan lembut. Tatapan yang Rumi tunjukkan pada Raisa adalah menunjukkan perasaan yang tulus dan terbesit perasaan bersalah.


"Tidak! Kau tidak salah. Tidak ada yang salah dengan sihir yang kau lakukan padaku. Tubuhku, jantungku baik-baik saja seperti awal yang kau katakan. Aku yang salah sudah menjahilimu dengan kata-kataku. Kumohon, jangan lagi ucapkan kau akan menjauhiku. Kumohon, jangan pernah pergi dariku! Aku berjanji tidak akan lagi menjahilimu, tidak akan lagi bersikap keterlaluan seperti tadi. Komohon, Raisa... Tetaplah di sisiku, berada dekat denganku." Tulus Rumi memohon.


"Baiklah. Rumi, kau tidak perlu sampai seperti ini." Kata Raisa


Rumi memohon pada Raisa sampai menundukkan kepalanya tepat di depan Raisa. Ia sangat-sangat memohon dengan tulus. Raisa tentu tidak akan tega melihatnya seperti itu. Raisa pun membingkai wajah Rumi untuk kembali mengangkat kepala dan pandangannya. Raisa kembali mengunci pandangannya dengan tatapan milik kedua mata Rumi.


"Hiduplah dengan baik. Sehat-sehatlah... Supaya aku selalu bahagia dengan hanya melihatmu." Ucap Raisa


Selain hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti, Rumi hanya diam.


Raisa pun mengulurkan kedua tangannya untuk memeluk tubuh Rumi. Di balik tubuhnya, Raisa meremas pakaian belakangnya.


Rumi meletakkan dagunya pada bahu Raisa...


..."Semua perasaanku, aku tidak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata. Kata maaf pun tak bisa kuucapkan padamu karena tidak bisa menjelaskan semuanya padamu. Aku benar-benar p*ng*cut! Rumi, aku tidak pantas untuk lelaki baik sepertimu. Kau pasti bisa mebemukan gadis baik lainnya yang pantas untuk bersama denganmu." Batin Raisa...


Raisa pun melepaskan pelukannya. Lalu, ia melontarkan senyuman terbaiknya setelah berusaha keras menahan tangisnya dan semua gejolak yang ada di dalam dadanya.


"Setelah ini kau ada aktivitas apa?" Tanya Raisa berusaha mencairkan kembali suasana.


"Biasanya, aku akan berkumpul bersama dengan Morgan dan Aqila sebagai tim juga menunggu Guru Kevin bergabung bersama kami. Jika ada panggilan tugas dari desa kita akan pergi menjalankan tugas itu. Kalau tidak, mungkin kami akan berlatih." Ungkap Rumi


"Menjalankan tugas atau berlatih... Apa kau tidak bisa izin dulu untuk saat ini? Kondisimu kan baru saja pulih setelah terkena pengaruh racun kemarin." Ujar Raisa


"Sepertinya tidak. Kami selalu menjawab panggilan untuk berkumpul ini. Toh, aku juga sudah baik-baik saja. Kau kan juga sudah menjaga dan merawatku." Ucap Rumi

__ADS_1


"Baiklah, aku akan ikut denganmu. Aku akan menemani untuk mengawasimu. Kau pasienku sekarang. Mengerti!? Jadi, bolehkah aku ikut?" Ujar Raisa


"Aku akan senang jika kau ikut untuk menemaniku." Kata Rumi


"Kalau begitu, kapan kau akan pergi? Sekarang?" Tanya Raisa


"Ya." Rumi menganggukkan kepalanya.


"Baiklah, kau bersiaplah. Aku juga akan membawa barang-barangku yang dibutuhkan." Kata Raisa


Rumi dan Raisa pun sama-sama bersiap. Rumi membawa semua peralatan untuk bertugas dan berlatihnya, sedangkan Raisa menyiapkan apa saja barang yang akan ia bawa.


"Aku sudah siap!" Ucap Raisa


"Baiklah, ayo! Kita berangkat." Kata Rumi


Rumi dan Raisa pun ke luar dari rumah dan berjalan bersama menuju tempat biasa Rumi berkumpul bersama dengan timnya.


"Di mana tempat biasanya kau berkumpul dengan ysng lainnya?" Tanya Raisa


"Di tengah desa atau di pinggiran desa. Kau akan tau setelah sampai di sana." Jawab Rumi


"Rumi, apa tidak sebaiknya kau memeriksakan diri lagi jika ada kesempatan? Mintalah Bibi Sierra, Mama Aqila untuk memeriksa kondisimu untuk terakhir kalinya. Aku masih mencemaskanmu." Ujar Raisa


"Sebenarnya, sepertinya itu tidak perlu lagi. Saat di tempat orangtuaku, Ayah sudah memeriksaku, kau pun sudah melakukan pemeriksaan ulang tadi. Tapi, mungkin setelah berkumpul dan bertemu Guru Kevin nanti aku akan izin padanya untuk memeriksakan kondisiku saat waktu kami luang. Kau tidak perlu cemas dan aku tidak akan membuatmu merasa begitu." Ucap Rumi


"Ya, begitu jauh lebih baik." Kata Raisa


"Jadi, kau tenanglah saja." Ujar Rumi


Setelah berjalan bersama, Rumi pun akhirnya tiba di tempat berkumpul di tengah desa dengan Raisa yang ikut bersamanya. Di sana sudah ada Morgan dan Aqila yang tiba lebih dulu.


"Kau sampai juga, Rumi. Kukira kau mungkin akan terlambat." Ujar Morgan


"Hehe, kau sama saja seperti Ayahmu, Morgan. Paman Nathan juga sering terlambat saat waktu berkumpul. Membuatnya terkena omelan dari Bibi Sierra yang sama menyeramkannya dengan Aqila. Tapi, Ayahmu, Aqila, dia selalu diam dan bersikap dingin. Dan terkadang Paman Elvano juga ikut memarahi Paman Nathan sih." Ungkap Raisa menceritakan masa lalu orangtua Morgan dan Aqila.


"Kau bahkan tau tentang orangtua kami. Seberapa banyak yang kau tau tentang masa lalu yang terjadi di dunia kami, Raisa?" Ujar Aqila


"Raisa, kau juga ikut ke sini? terima kasih sudah menjaga sahabatku tadi malam. Dan, jawablah pertanyaan Aqila. Aku juga ingin tau, seberapa taunya kau." Ujar Morgan


"Mungkin sangat banyak? Entahlah, aku hanya melihat apa yang diperlihatkan padaku melalui mimpi." Ucap Raisa


"Raisa bilang, dia ikut untuk menemani dan mengawasiku. Aku sudah menjadi pasiennya sekarang." Ucap Rumi


"Tidak apa kan, kalau aku ikut bergabung?" Tanya Raisa


"Tidak masalah!" Jawab Morgan


"Kami bergabung sebagai tim, bukannya tidak boleh. Sepertinya sifat Guru kami sedikit sulit." Ucap Aqila


"Tidak apa. Ku yakin Kak Kevin tidak akan masalah denganmu yang ikut bergabung dengan kami." Kata Morgan


"Ingatlah, Morgan! Dia itu guru kita. Panggillah dengan seharusnya." Tegur Aqila


"Kita juga masih belum bertemu dengannya. Tidak masalah, kan?" Remeh Morgan


"Karena Tuan Kevin adalah murid Ayahmu dengan mudahnya kau memanggilnya dengan sebutan Kakak, padahal sekarang dia adalah gurumu. Morgan, kau bahkan dengan mudahnya memanggil pemimpin desa tetangga dengan sebutan Kakak atau Paman. Mantan pemimpin Desa Daun pun kau panggil Paman dan Nenek. Kalau mereka semua tidak menegurmu, kau tidak mengubah panggilanmu pada mereka." Ungkap Raisa


"Kau tau semua hal ya, Raisa? Bahkan sampai hal kecil sekali pun." Ujar Morgan


"Sudahlah, ayo! Kita temui Guru sekarang. Raisa, kau ikut saja dengan kami." Kata Aqila


Morgan, Aqila, dan Rumi pun mengajak Raisa bergabung dan pergi bersama mereka bertiga menuju ke tempat bertemunya dengan Guru pembimbing di lapangan dekat akademi sihir mereka, yaitu tempat mereka belajar dan praktek sihir sama halnya seperti sekolah. Di dunia itu mereka juga mempelajari pelajaran umum seperti yang biasa dipelajari di dunia Raisa. Namun, di dunia itu lebih memprioritaskan pembelajaran tentang sihir, yang mana di dunia Raisa tidak diajarkan sama sekali.


"Kata Rumi, kalau tidak ada panggilan tugas untuk tim kalian, kalian hanya akan berlatih bersama ya? Apa latihan itu butuh waktu lama?" Tanya Raisa

__ADS_1


"Itu tergantung seperti apa latihan yang kami lakukan, tapi tidak sampai sangat lama juga kok." Jawab Aqila


"Kalau ada waktu luang setelah kalian latihan, bisakah Rumi melakukan pemeriksaan lagi ke rumah sakit desa ini? Aku masih sedikit mencemaskan kondisinya." Ujar Raisa


"Memangnya ada apa dengan kondisi Rumi?" Tanya Morgan


"Tadi, Raisa sempat memeriksaku sebelum pergi untuk berkumpul. Menurut pemeriksaannya, aliran peredaran darahku sedikit lebih lambat walau tidak ada sesuatu yang menghambat. Walau Raisa sudah mengatasinya dengan sihir pengendali darahnya, dia masih saja cemas dengan kondisiku." Jelas Rumi


"Kata Rumi, efek dari penawar racun kemarin hanya akan membuat lemas sementara dan menghilangkan tenaga cadangan di dalam tubuh Rumi untuk sementara waktu. Efeknya berlangsung 15 sampai 30 menit. Tapi, mungkin ada efek lain yang mempengaruhi aliran peredaran darahnya yang tidak sampai diketahui Tuan Rommy. Jadi, aku sedikit cemas dan ingin meminta Mama Aqila, Bibi Sierra untuk memeriksanya sekali lagi." Ucap Raisa


"Kalau begitu, bisa saja kok kita ke rumah sakit setelah berlatih untuk memeriksakan kondisi Rumi. Tapi katamu, Raisa mengatasi aliran peredaran darahmu yang lambat dengan sihir pengendali darahnya?" Ujar Aqila


"Raisa, bukankah katamu sihir itu berbahaya?" Tanya Morgan


"Aku belum mengungkapkan sisi lain sihir ini. Sihir pengendali darah memang berbahaya jika digunakan saat bertarung, sihir ini berguna untuk melumpuhkan lawan atau bahkan membunuhnya, itulah sisi fungsi negatifnya. Tapi, sihir ini juga punya sisi fungsi positif, yaitu untuk media pengobatan yang melibatkan aliran peredaran darah, saraf, tulang, atau organ dalam tubuh lainnya. Aku bisa merasakan jika ada sesuatu yang salah pada organ dalam tubuh dengan sihir ini dan membantu mengatasinya." Ungkap Raisa


"Luar biasa!" Sorak Morgan


"Walau bahaya, sihir ini ternyata masih memiliki fungsi baik juga." Ujar Aqila


"Ya, begitulah. Sebelumnya, aku berharap bisa menjadi hebat bersama-sama dengan kalian. Sebenarnya, maksudku juga ingin memiliki kesempatan berlatih bersama kalian. Walaupun jenis sihir kita berbeda, kupikir aku masih bisa belajar sesuatu tentang sihir di dunia ini dibandingkan di duniaku. Jadi, bisakah aku ikut berlatih bersama kalian juga nanti? Kau sangat berharap dan menantikannya!" Ucap Raisa


"Soal itu bukan kami yang menentukan melainkan guru pembimbing, yaitu Guru Kevin." Jelas Aqila


"Itu bagus! Kuharap, Kak Kevin bisa menerimamu berlatih bersama kami." Ucap Morgan


"Sepertinya akan menyenangkan!" Kata Rumi


Raisa tersenyum melihat dan mendapat respon baik dari ketiga temannya itu soal harapannya ingin berlatih bersama dengan mereka...


Setelah asik mengobrol sambil berjalan menuju tempat pertemuan dengan Guru pembimbing tim, akhirnya mereka berempat sampai di tempat yang mereka tuju. Di sana sudah ada Tuan Kevin sebagai guru pembimbing tim.


"Kak Kevin, kami datang! Apa ada tugas yang harus kami lakukan, Kak?" Antusias Morgan saat tiba di sana.


"Morgan, panggil aku ini Guru! Sekarang aku adalah gurumu!" Tegas dan tegur Tuan Kevin.


"Ah, aku lupa. Baiklah... Maaf, Guru." Ujar Morgan


"Sudah kubilang, makanya perbaikilah kebiasaanmu itu, Morgan!" Omel Aqila


"Guru, kami membawa dan mengajak Raisa bersama ke sini. Dia akan menemaniku untuk mengawasiku." Ucap Rumi


"Selamat pagi! Senang bertemu dengan Anda, Tuan Kevin." Sapa Raisa dengan sopan.


"Oh, kau juga datang, Raisa!? Aku sudah dengar tentang yang terjadi kemarin. Jadi, kau ke sini karena mengawasi kondisi Rumi, begitu?" Ujar Tuan Kevin


"Dari mana kau tau tentang hal yang terjadi kemarin, Guru?" Tanya Aqila


"Dari Devan! Dia sebagai ketua murid akademi sihir seangkatan kalian berkewajiban melaporkan semua hal yang terjadi jika memang kalian pergi bersama karena suatu alasan. Saat Devan melaporkannya pada Pemimpin Desa, aku juga sedang berada di sana. Jadi, aku mengetahuinya." Ungkap Tuan Kevin


Devan sebagai ketua murid akademi sihir seangkatannya memiliki tugas wajib untuk melaporkan jika sesuatu terjadi saat nereka sedang bersama kepada Pemimpin Desa. Ia melaporkan semuanya. Dan saat itu, Tuan Kevin juga sedang berada di kantor pemimpin desa. Jadi, ia mengetahui segala informasi tentang yang terjadi kemarin pada Rumi.


"Ternyata, Devan memiliki tugas yang berat sebagai ketua." Kata Morgan


"Tujuan utamaku ke sini memang untuk mengawasi kondisi Rumi. Tapi, aku juga berharap bisa berlatih bersama yang lain dengan Anda, Tuan. Aku berharap Anda juga bisa jadi guru untukku saat ini." Ucap Raisa


"Jika memang tidak diizinkan, aku bisa hanya mengawasi Rumi saja. Duduk di kejauhan, takkan mengganggu latihan kalian." Takut niat dan harapannya ditolak brgitu saja, Raisa memilih mengalah dan mengesampingkan keinginannya untuk berlatih bersama.


Pada akhirnya, Raisa benar-benar hanya duduk di kejauhan untuk melihat mereka berlatih.


.



Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2