
Di dalam suatu ruang bersalin di rumah sakit, tampak ada seorang wanita yang sedang berjuang antara hidup dan mati untuk melahirkan anak kembarnya. Di luar ruamg bersalin ada keluarganya yang sedang menunggu dengan perasaan harap-harap cemas. Lalu, ada dua orang pria yang baru saja datang.
"Itu Kak Arka dan Kak Rumi!" seru Raihan
"Maaf, Bu, Pak, Raina gak bisa ikut karena ada Fathur yang masih kecil," ujar Arka, suami dari kakak perempuan Raisa.
"Bagaimana dengan Raisa?" tanya Rumi
"Raisa masih sedang melahirkan di dalam," jawab Pak Hilman
"Udah lebih dari 4 jam setelah pembukaan pertama. Semoga persalinannya dilancarkan," ucap Bu Vani
...
Di dalam ruang bersalin, Raisa terus berjuang untuk melahirkan secara normal. Dibantu dengan intruksi dari Dokter, wanita cantik itu terus mengejan kuat sambil tarik nafas dari hidung lalu ke luarkan dari mulut.
Raisa POV: ON.
Luar biasa. Rasanya sakit sekali. Aku mengira bisa melewatinya, melahirkan secara normal karena sudah sering terluka karena bertarung dan bahkan pernah melewati kematian setelah jantungku dirobek oleh Sang Dewa yang mengambil inti sihir milikku. Aku pikir bisa menahan rasa sakitnya seperti saat itu, tapi kini justru rasa sakitnya ribuan kali lipat dari pada itu.
Namun, entah kenapa aku mulai merasa tenang saat merasakan kehadiran dan mendengar suara Rumi yang datang di sana.
"Suster, apa bisa tolong panggilkan suami saya untuk ikut masuk ke dalam sini?" tanyaku dengan suara tak karuan antara lelah dan keras karena mengejan.
"Bukannya suami Bu Raisa sedang bekerja di luar negeri?"
"Panggilkan siapa saja, Sus. Bilang kalau Bu Raisa ingin ditemani oleh anggota keluarganya. Kalau suaminya sudah datang, suruh suaminya saja yang masuk."
"Baik, Dok."
Salah satu perawat pun beranjak ke luar.
"Bagaimana dengan istri saya, Suster?" tanya Rumi begitu melihat seorang suster ke luar dari ruang bersalin.
"Oh, suami Ibu Raisa sudah datang. Silakan masuk. Ibu Raisa ingin ditemani oleh suaminya. Yang lain, tolong tetap menunggu dengan tenang di sini."
"Baik, Suster. Terima kasih," ucap Rumi
Perawat pun kembali dan mempersilakan Rumi untuk ikut masuk bersamanya ke dalam ruang bersalin. Sedangkan yang lain masih harus tetap menunggu di luar ruangan.
Aku tersenyum saat melihat Rumi masuk bersama Suster tadi. Meski raut wajah suamiku itu tampak cemas, rasanya rasa sakit yang kurasa bisa sedikit berkurang. Pria yang kurindu selama 12 hari tidak bersama itu, mendekat ke arahku dan langsung menggenggam satu tanganku.
"Jangan khawatir, Sayang. Aku sudah ada di sini untuk menemanimu," ucapnya. Aku merasa senang mendengar suaranya secara langsung.
"Kau pasti lelah bekerja. Maaf kalau aku membuatmu terburu-buru untuk datang," kataku
"Tentu saja, aku harus datang. Aku langsung pulang saat Niran mengatakan anak-anak kita sudah hampir lahir. Tidak perlu pedulikan aku, kau pasti lebih merasa lelah dan kesulitan. Sekarang kau fokus saja dengan persalinanmu," ujar suamiku
Aku hanya bisa mengangguk pelan.
"Ayo, Ibu Raisa ... kepalanya sudah mulai terlihat."
Aku pun kembali fokus dengan intruksi Dokter pada persalinanku.
Rumi POV: ON.
Aku sudah merasa sedikit lega saat sudah bisa hadir menemani Raisa yang sedang melahirkan, rupanya aku tidak terlambat. Namun, ini belum berakhir karena istriku masih sedang berjuang untuk melahirkan putra-putri kami. Ya, Raisa hamil janin kembar berpasangan, lelaki dan perempuan.
Aku melihat istriku dipenuhi dengan keringat dingin dan aku mengusap peluh itu sesekali. Aku juga menggenggam tangan Raisa untuk menguatkannya, tapi aku merasa jemari tangan istriku yang kugenggam itu malah mengusap punggung tanganku dengan lembut seolah ingin membuatku merasa tenang dan memberi tahu padaku bahwa semua akan baik-baik saja. Memang seperti inilah sifat istriku yang lebih dulu mementingkan orang lain dari pada dirinya sendiri meski dalam situasi memperjuangkan hidup dan mati.
__ADS_1
Aku melihat dan mendengar Raisa mengejan sambil terus mengatur nafasnya. Hingga akhirnya aku mendengar istriku berteriak dengan keras.
Aarrggghh!!
Dan suara tangis bayi pertama kami pun terdengar.
Oek ... oeekk~
Aku dan Raisa tersenyum.
"Syukurlah. Anak pertama telah lahir, seorang putra yang tampan dan sehat."
Dokter memperlihatkan anak pertama kami. Bayi mungil yang masih berlumur cairan lendir dan darah.
"Kami akan mandikan bayinya dulu."
Aku tidak bisa bereaksi dan hanya bisa menghadiahi banyak kecupan untuk istriku.
"Sayang, aku ingin minum. Merasa haus," pinta istriku
"Aku ada bawa botol minum kecil yang sudah kuisi ulang jauh sebelum aku datang. Minumlah dulu," kataku
Aku mengeluarkan botol air kecil dari tas yang masih selalu bertengger di pinggangku, membuka tutup botol itu dan membantu Raisa untuk minum.
Istriku meminum air dari dalam botol mini yang kubawa hingga tandas. Tampak rasa lega pada raut wajahnya, tapi aku tidak tahu apa itu cukup untuk memuaskan dahaganyakarena wanita cantik di sisiku ini masih saja terengah-engah.
"Apa minumnya masih kurang, Sayang?" tanyaku
"Sudah cukup. Terima kasih," ucapnya
Raisa memejamkan kedua matanya. Mungkin karena merasa lelah. Nafas istriku pun mulai kembali berhembus dengan teratur
Anggukan kecil tampak muncul sebagai respon dari istriku. Raisa hanya memejamkan mata, tapi kesadarannya tetap terjaga. Mungkin karena ia nerasa punya kewajiban untuk membawa kehidupan pada seorang bayi lainnya untuk hadir dan melihat dunia.
Tiba-tiba saja, Raisa meraih dan menggenggam tanganku lebih dulu. Istriku kembali membuka kedua matanya. Ia menatap ke arahku sambil tersenyum tipis.
"Aku, perutku ... AKH!" jerit istriku
Baru saja nafasnya bisa kembali teratur dalam hitungan beberapa menit, tapi secepat ini rasa sakit kembali nenyerangnya.
"Bayi kedua sudah mulai mendesak ingin ke luar. Ibu Raisa, yang kuat, ya. Kita ulangi proses kedua persalinan seperti yang sebelumnya. Tarik nafas dan hembuskan. Dorong dan terus mengejan. Proses yang kedua ini pasti akan lebih cepat dari yang pertama karena jalan lahirnya sudah lebih dulu terbuka."
Proses persalinan pun kembali diulang. Masih sama seperti sebelumnya aku menggenggam tangan Raisa dan istriku masih saja malah mengusap punggung tanganku dengan ibu jarinya seolah ingin membuatku tetap tenang. Istriku itu lebih khawatir jika aku merasa panik saat melihat prosesnya yang sedang melahirkan.
Memang benar, kali ini bayi ke luar lebih cepat. Bersamaan dengan teriakan istriku, suara tangis bayi kedua kami pun terdengar.
AARRGGHHH~~
Oek! Oeek ... oekk~
Kali ini istriku meneteskan air dari sudut matanya.
"Selamat, Ibu, Bapak. Putrinya sudah lahir. Cantik dan sehat."
"Kau wanita yang kuat, Sayang. Terima kasih," ucapku
"Tentu saja. Terima kasih juga karena sudah datang dan menemaniku di sini," balasnya
"Dok, tolong bangunkan saya jika sudah waktunya saya untuk menyusui kedua anak kami," ucap istriku pada Dokter.
__ADS_1
"Baik, Bu."
"Istirahatlah, Sayang. Jangan khawatir karena aku akan selalu ada di sisimu untuk menemanimu," ujarku
Raisa pun mengangguk kecil dan mulai memejamkan kembali kedua matanya. Istriku memang butuh istirahat setelah berjuang keras mati-matian untuk melahirkan kedua anak kami.
Soal kedua anak Raisa dan Rumi, setelah selesai dimandikan akan dibawa dan dimasukkan ke dalam tabung inkubator. Karena ini adalah kehamilan kembar, yang seharusnya menjadi massa atau berat seorang bayi, ini beratnya malah harus terbagi menjadi dua untuk masing-masing bayi. Hingga berat badan masing-masing bayi terbilang kurang optimal dan mengharuskan kedua bayi mendapat perawatan intensif di dalam tabung inkubator, apa lagi sang ibu sudah lebih dulu mengalami pecah ketuban yang menyebabkan kedua bayi sempat meminum air ketuban.
Saat menemani Raisa yang sedang istirahat, aku pun mendengar cerita dari sana sini bahwa persalinan untuk pertama kali istriku yang melahirkan anak kembar ini terbilang cepat dari pada proses persalinan pada umumnya. Padahal yang kudengar, Raisa sudah mulai tiba di rumah sakit sejak pagi hari karena mengalami kontraksi dan pecah ketuban.
Menahan rasa sakit yang amat besar secara terus menerus selama lebih dari 5 jam dan sekurang-kurangnya adalah dari pagi sampai lewat dari tengah hari saja sudah terbilang cepat, apa lagi yang prosesnya lama? Aku sungguh tidak bisa membayangkan rasa sakitnya menjadi seorang wanita dan lebih tepatnya adalah seorang ibu.
Sore harinya, aku diminta dokter untuk membangunkan Raisa. Aku menyuapi istriku itu makan bersama denganku juga. Awalnya aku hanya ingin memberi Raisa makan, tapi seperti biasa ... istriku itu ingin aku ikut makan karena dirinya bisa menebak jika aku juga belum makan.
Kenapa harus makan? Karena sebentar lagi Raisa harus mulai mencoba menyusui kedua anak kami.
Berselang tak lama setelah usai makan, Dokter dan Suster kembali untuk menyerahkan kedua anak kami agar mendapat ASI pertama dari ibunya. Raisa yang sudah lebih dulu duduk bersandar dengan bsntal yang ditinggikan pun mulai menerima dan menyusui satu per satu anak kami.
Usai menyusui satu bayi, aku pun menggendongnya dan Raisa menyusui bayi lainnya. Hingga akhirnya kedua bayi tertidur lelap di masing-masing pelukan kami.
"Kita harus mulai benar-benar memikirkan nama untuk kedua anak kita," kata istriku
"Hmm ... kau benar," sahutku
Kami berdua memang belum menentukan nama untuk diberikan pada kedua anak kami dengan serius, tapi mungkin sebenarnya kami sudah punya dan memikirkan beberapa rekomendasi.
Saat itu, anggota keluarga lain mulai masuk. Ya, kini kami sudah pindah ke ruang rawat dan sebelumnya yang lain tidak ingin mengganggu istirahat Raisa, jadi mereka baru menampakkan diri. Mereka memberi selamat sambil melihat kembali rupa kedua anak kami dari dekat, karena sebelumnya mereka sudah melihat dari jauh alias dari luar jendela kaca ruang inkubator. Mereka juga mulai memberi rekomendasi nama untuk kedua anak kami.
•••
Seminggu kemudian.
Setelah seminggu di rawat di rumah sakit, Raisa dan kedua anaknya dengan Rumi pun kembali ke rumah. Namun, mereka memutuskan untuk menetap di rumah kedua orangtua Raisa lebih dulu karena pasca persalinan yang baru menginjak seminggu ini setidaknya mereka ingin Raisa ada yang menemani untuk ikut merawat si kembar jika saja nantinya Rumi kembali harus bekerja.
BACK TO Raisa POV: ON.
Sepulang dari rumah sakit, keluarga pun berkumpul. Bahkan keluarga kecil Kak Raina yang kini bertambah satu daj menjadi empat orang pun hadir di sana.
Selain Farah, kini Kak Raina dan Kak Arka telah dikaruniai seorang anak yang masih berusia 2 bulan dan bernama Fathur.
"Lucu-lucu banget, deh ... si dedek kembar. Mungil banget," kata Farah
"Ya, karena tadinya ada dua dedek di dalam perut Onty, jadi yang harusnya berat bayinya untuk satu bayi harus dibagi untuk dua bayi. Makanya, jadi mungil ... " jelas Raina
"Dedek Fathur, beratnya 3,2 kilo. Kalau si kembar berapa, Onty?" tanya keponakan perempuanku yang manis itu.
"Yang lelaki beratnya 2,3 kilo ... kalau yang perempuan beratnya 2,2 kilo, Sayang," ungkapku
"Sekarang Farah udah punya 3 adik, nih. Harus bisa jadi kakak yang baik, ya," pesan Arka
"Oke, sip, Pih!" seru Farah
"Jadi, nama si Duo Kembar siapa, Kak?" tanya Raihan, adik lelakiku yang ikut berjasa saat awal-awal prosesku merasakan tanda-tanda pra-persalinan.
Namun, aku hanya tersenyum.
.
Penasaran, ya, sama nama si kembar Raisa dan Rumi junior? Hehe, akan diungkap di bab berikutnya, ya~
__ADS_1
Maaf, jika ada kesalahan pada penerangan proses persalinan. Karena Author pun hanya manusia biasa yang tidak bisa mengetahui segalanya.