
Setelah kembali di panti asuhan, mereka semua langsung beristirahat. Semua mengaku lelah setelah melakukan aktivitas membantu di pusat pengobatan desa.
"Hah~ Lelah sekali! Aku terus mondar-nandir selama di pusat pengobatan tadi ... " keluh Chilla
"Ya, di sana juga ribut sekali. Banyak yang meminta tolong ini dan itu. Dan sebagian keributan itu karena Raisa," ucap Morgan
"Kau melakukan apa lagi di sana, Raisa? Sampai banyak orang yang berterima kasih dan bersorak untukmu?" tanya Devan
"Bukannya sudah kubilang, Raisa menumbuhkan tanaman obat langka yang sangat dibutuhkan dengan ajaib menggunakan sihirnya! Aku melihatnya sendiri karena aku juga bersama Raisa saat itu," ungkap Ian
"Aku dengar, Raisa juga melakukan hal lainnya lagi selama penanganan berlangsung. Kau melakukan hal hebat yang menakjubkan apa lagi, Raisa?" tanya Aqila
"Itu berlebihan, mungkin kau salah mendengarnya. Yang ada para wali pasien di sana protes padaku karena terkejut dengan cara penangananku yang berbahaya. Mereka meneriakiku," jawab Raisa
"Awalnya memang begitu, tapi setelah melihat penanganan berbahaya yang Raisa lakukan berhasil, mereka banyak yang berterima kasih padamu," ucap Rumi
"Memangnya apa yang terjadi? Ceritakan pada kami juga," pinta Morgan dengan hebohnya.
"Saat penanganan berlangsung ada pasien yang tidak mempan dibangunkan dengan sihir air seperti yang Raisa lakukan pada Aqila. Raisa mengatakan itu situasi sulit pasien antara hidup dan mati, tapi tentunya masih ada cara yang masih terpikirkan. Yaitu dengan sihir api! Selama penanganan dengan cara baru yang ekstream itu, wali pasien berteriak tidak terima mengira Raisa akan membakar mati keluarganya itu, wali pasien lainnya yang melihat pun mulai bertanya-tanya tentang yang dilakukan Raisa, tapi itu tidak bisa dihentikan karena akan bahaya bagi yang ditangani dan yang menangani," jelas Rumi
"Lalu, apa yang terjadi selanjutnyat" Tanya Chilla
"Penanganan itu diteruskan sampai akhirnya pasien tersadar dan membuka matanya. Cara dengan sihir api itu berhasil! Lalu, Raisa menjelaskan ... api yang digunalan selama penanganan bukan api biasa yang bersifat membakar hingga mati, tapi itu adalah api abadi yang dipinjamkan Burung Api Legendaris yang bersifat menghidupkan dan menyalurkan energi. Kesalah-pahaman dan ketegangan pun berakhir," ungkap Rumi
"Raisa memang selalu punya cara membuat kita terus merasa heran," kata Ian
"Lalu, yang terakhir! Ada pasien yang setelah sadar kehilangan semua ingatannya. Raisa mengembalikan ingatannya dengan cara yang hampir sama seperti cara kerja sihir pengontrol pikiran. Yang membuatnya berbeda adalah itu dilakukan langsung oleh roh Raisa yang menuntun roh pasien menemukan kembali ingatannya di pusat pikiran roh pasien tersebut," cerita Rumi
"Pantas saja Raisa langsung lemas tidak bertenaga seperti sekarang karena setahuku sihir roh adalah sihir tingkat tersulit yang pernah ada, jarang sekali yang bisa menguasai jenis sihir ini," ucap Devan
"Benar sekali. Aku belum sepenuhnya menguasai sihir ini dan baru pertama kali melakukannya hari ini. Sungguh menguras banyak tenaga," jujur Raisa
"Ya. Raisa sangat kelelahan hari ini," kata Rumi
"Itu sebabnya kau sangat perhatian padanya, kan, Rumi?" ujar Aqila bertanya.
Benar saja, Rumi tak pernah melepaskan pandangannya dari Raisa. Mungkin jika sewaktu-waktu Raisa memerlukan sesuatu, pasti orang yang pertama akan memenuhinya adalah Rumi!
"Aku tidak bergabung dengan kalian lagi setelah ini, ya. Aku ingin istirahat di dalam kamar dan tidur untuk memulihkan diri," ucap Raisa
Raisa pun bergerak bangkit. Melihat Raisa yang kesulitan berdiri, Rumi pun membantunya dan menopang tubuhnya.
"Perlukah aku antar kau ke dalam kamar?" tanya Rumi
"Tidak apa. Kau lanjutkan saja dengan yang lain, jangan lupa istirahat juga," jawab Raisa
Raisa pun berjalan perlahan menuju kamar tidur perempuan.
Malam harinya.
Begitu Raisa istirahat, ia tertidur sampai malam. Saat bangun, makan malam sudah selesai dihidangkan.
"Kau sudah bangun, Raisa? Ayo, kita makan bersama. Semua makanan sudah disiapkan," ujar Aqila
"Kalian yang memasak semua ini? Kenapa tidak bangunkan aku?" tanya Raisa
"Kau terlihat sangat pulas, jadi kami tidak tega membangunkanmu. Kau butuh banyak istirahat setelah banyak menguras tenaga beberapa hari berturut-turut," ucap Chilla
"Lain kali seperti ini lagi, bangunkan aku saja. Kalau begitu, bekas makannya nanti biar aku yang mencucinya," kata Raisa
Benar saja, usai makan malam, Raisa mengambil alih tumpukan piring untuk meng-handle-nya dan mencucinya sampai bersih.
Saat Raisa hampir selesai dengan semua piring itu, Aqila datang menghampirinya di dapur. Dilihatnya, Raisa sedang mencuci piring dengan sihirnya dalam menggunakan air untuk mencuci dan menggunakan angin untuk mengeringkan. Melihat itu, Aqila bergeleng pelan.
"Yang benar saja kau, Raisa ... " seru Aqila
Raisa yang tidak menyadari kehadirannya pun menoleh dan melihat Aqila berjalan mendekat.
"Oh, itu kau, Aqila! Ada apa?" ujar Raisa bertanya.
"Aku datang untuk memeriksamu dan tak kusangka kau sedang mempersulit dirimu sendiri," ucap Aqila
"Aku, kan, sudah bilang akan mencuci semua piring ini," kata Raisa
"Aku tahu. Tapi, kau baru saja mengakhiri istirahatmu karena terlalu banyak menggunakan tenaga sihir selama beberapa hari berturut-turut. Namun, kau malah sedang menggunakan tenaga sihirmu lagi hanya untuk mencuci piring. Bukankah itu sama saja kau sedang nempersulit dirimu sendiri?" ujar Aqila bertanya.
"Tidak apa. Tenaga yang kukeluarkan hanya sedikit, aku harus menyelesaikan cucian piring ini dengan cepat, tapi karena ada banyak maka aku butuh bantuan dengan sihir," ucap Raisa
"Sudah tahu ada banyak, makanya dari awal tidak perlu kau yang kerjakan ini semua. Kau hanya tidak membantu kami membuat makanan sekali, tapi rasa bersalahmu seperti mangkir pekerjaan selama berminggu-minggu, dan kau jadi mempersulit dirimu sendiri," oceh Aqila
Raisa hanya terkekeh kecil menanggapi omelan dari mulut Aqila.
"Sudah, tidak perlu kau kerjakan lagi. Kau lanjut istirahat saja," kata Aqila
"Tapi, masih ada sedikit lagi. Tanggung, biar kuselesaikan dulu," enggan Raisa
"Tinggalkan saja, biar aku yang lanjutkan. Toh, hanya tersisa sedikit, jadi biar aku yang melakukannya," ucap Aqila
"Benarkah? Baiklah! Aku ingin mencari udara di luar sebentar," ujar Raisa
Raisa langsung membasuh bersih kedua tangannya dan meninggalkan sedikit piring yang masih belum dicuci.
"Ya. Nikmatilah waktumu," kata Aqila
"Terima kasih banyak, Aqila!" ucap Raisa
__ADS_1
"Sama-sama," balas Aqila
Raisa pun beranjak pergi dari dapur.
"Kak Raisa, ayo! Kita main lagi!"
"Maaf, anak-anak. Aku ingin ke luar dulu sebentar. Aku tadi tidur terlalu lama sampai badan rasanya pegal semua, jadi ingin jalan-jalan sebentar di luar," ucap Raisa
"Yah ... baiklah. Terserah kakak saja."
"Tapi, jangan terlalu lama di luar, Kak. Kata Ibu, udara malam tidak baik untuk kesehatan."
*Ibu yang dimaksud adalah ibu pengasuh di panti asuhan tersebut.
Raisa terkekeh kecil mendengar nasehat dari anak kecil. Namun, ia tidak marah, hanya saja itu terdengar lucu saat anak kecil menasehatinya.
"Baiklah, aku mengerti. Aku ke luar dulu," kata Raisa
Raisa pun berjalan ke luar dan mulai berkeliling.
Panti asuhan tempatnya menginap selama menjalankan misi memang tidak besar, tapi di sana ada halaman kecil yang ditumbuhi banyak rumput dan beberapa tanaman berbunga. Itu seperti dijadikan taman kecil yang terurus dengan baik.
Raisa hanya berjalan di sekitar sana dan ia melihat seseorang yang juga berada di luar sama sepertinya.
"Rumi! Pantas saja aku tidak melihatnya saat di dalam tadi setelah makan malam, rupanya dia ada di sini," gumam Raisa
Raisa melihat sosok Rumi yang sedang terduduk diam sana. Tak ingin mengganggu, Raisa pun melanjutkan berkeliling. Namun, saat ia hendak melangkah pergi, ia berhenti begitu saja saat mendengar namanya disebut.
"Raisa, itu kau?" ujar Rumi bertanya.
"Ya. Maaf sudah mengganggu kesendirianmu," kata Raisa
"Bisakah kau temani aku di sini?" tanya Rumi
Awalnya, Raisa tidak ingin mengganggu atau menghampiri Rumi karena hubungan mereka yang terbilang rumit sekarang. Ia tak ingin canggung saat bicara berdua dengan lelaki itu. Namun, saat Rumi memanggil dan memintanya menemani, Raisa tak bisa menolak. Raisa pun berjalan mendekat dan berakhir duduk di samping Rumi.
"Kukira kau sedang tidak ingin diganggu karena sepertinya kau sedang nenikmati waktu seorang sendiri di sini," ujar Raisa
"Kau tidak pernah menggangguku, justru aku senang jika kau ada bersamaku," kata Rumi
"Ada apa? Kau sedang memikirkan sesuatu?" tanya Raisa
"Aku sedang memikirkanmu," jawab Rumi
"Aku, kenapa? Kita, kan, selalu bersama selama misi kali ini," bingung Raisa
"Kau bertanya karena tidak tahu atau hanya pura-pura?" tanya balik Rumi
Ya, bukannya Raisa tidak tahu atau pura-pura tidak tahu. Akhirnya semua tentang mereka berdua adalah karena hubungan keduanya yang tidak lagi punya status seindah dulu dan hanya kembali berteman.
"Maaf ...." Hanya satu kata itu yang bisa terucap oleh mulut Raisa.
"Tidak masalah. Sebenarnya aku hanya sedang teringat saat kau melakukan penanganan untuk lima orang yang tertidur panjang saat di pusat pengobatan tadi. Cara berbahaya yang kau bilang saat itu, aku pikir benar-benar akan membahayakan dirimu," tutur Rumi
"Ya, aku juga dapat bantuan dari Phoenix. Kalau bukan karena api abadi darinya, mungkin aku hanya bisa menyelamatkan satu orang dan mungkin saat ini aku tidak bisa ada di sampingmu," ucap Raisa
"Itu sangat berbahaya! Memangnya apa yang akan terjadi jika tidak ada Phoenix yang membantumu?" tanya Rumi
"Kau tidak tahu? Kupikir kau membahasnya karena kau tahu," kata Raisa
"Kalau begitu, tidak perlu dibahas lagi karena itu sudah berlalu," lanjut Raisa
"Tidak! Aku tetap ingin tahu! Mungkin aku bisa mencegahmu saat kau hendak melakukan hal berbahaya semacam itu di masa depan," paksa Rumi
"Apa pun yang kau lakukan tidak bisa mencegahku melakukan yang kumau jika itu sudah jadi keputusanku, apa lagi jika itu untuk menyelamatkan nyawa seseorang," tolak Raisa
..."Seperti inilah aku. Aku sangat egois! Jadi, berhentilah menyukaiku karena itu lebih baik bagimu," batin Raisa...
"Tidak bisakah kau beri tahu saja padaku? Jika memang itu akan jadi keputusanmu, setidaknya aku bisa mempersiapkan diri dan menerima atas apa yang mungkin terjadi. Tidak seperti sebelum ini, aku hanya akan merasa frustasi," pinta Rumi
Rumi meminta Raisa dengan tatapan memohon. Dalam tatapannya itu memang sudah ada perasaan frustasi. Raisa selalu menyadari itu setelah putus darinya. Hanya saja, Rumi selalu pandai menekan perasaan itu dalam dirinya hingga sering kali tidak terlihat oleh mata Raisa. Dan kali ini Rumi memperlihatkannya dengan jelas membuat Raisa menjadi tidak tega. Dan akhirnya, Raisa memutuskan menjelaskan hal yang diminta Rumi untuk diberi tahu padanya.
"Api abadi yang kugunakan saat penanganan berlangsung bertujuan untuk membebaskan roh korban dari jeratan pengaruh kegelapan dan memberinya cahaya yang menuntunnya kembali pada energi kehidupan yang diberikan pada korban saat itu juga," ungkap Raisa
"Kalau bukan karena api abadi yang Phoenix berikan padaku untuk kupinjam, maka saat penanganan berlangsung aku harus menggunakan cahaya energi kehidupan milikku sendiri untuk kuberikan pada korban sebagai ganti milik korban yang sudah perlahan dan terus menghilang karena penaruh kegelapan. Yang artinya aku harus mengorbankan nyawaku sendiri untuk kuberikan pada korban sebagai pengganti nyawanya yang akan hilang sepenuhnya. Cahaya energi kehidupan milik pribadi berarti nyawa milik seseorang itu sendiri," jelas Raisa melanjutkan.
"Kalau begitu, untung ada Phoenix yang bersedia membantumu tanpa pamrih. Sampaikan terima kasihku pada Phoenix karena berkatnya aku tidak kehilangan seseorang yang sangat berharga untukku," ujar Rumi
"Phoenix yang ada dalam diriku bisa mengetahui apa pun yang terjadi di sekitarku. Dia sudah mendengar ucapan terima kasihmu dan merasa senang karena ada manusia yang nenghargainya," ucap Raisa
"Aku hanya diam. Kapan aku merasa senang karena mendengar ucapan terima kesihnya?" Phoenix dalam diri Raisa mengajak bicara.
"Kalau kau ingin terus bersamaku setidaknya berhentilah membenci manusia dan belajarlah untuk saling menghargai karena tidak semua masusia itu jahat. Bukankah sudah terbukti dengan kau percaya pada manusia seoerti aku ini?" balas Raisa bertanya.
"Untuk berhenti benci pada manusia rasanya sangat sulit bagiku, tapi aku akan berusaha karena aku percaya padamu, Tuan," ucap Helio, Phoenix.
"Kau selalu menyebutku, Tuan. Mulai sekarang panggil saja aku dengan namaku, Raisa. Kau harus belajar percaya dan menghargai manusia lainnya, Helio. Karena ada manusia yang baik kerena memiliki cinta di hatinya. Selama masih ada cinta di dunia ini, maka selama itu kau bisa percaya pada manusia," balas Raisa
Rumi baru tahu ada cara sihir medis yang berbahaya bagi penggunanya setelah Raisa bicara padanya. Ia tak dapat membayangkan jika harus kehilangan Raisa dengan cara yang seperti itu. Seolah dirinya akan bangga pada sosok Raisa yang rela berkorban, tapi juga sangat sedih karena harus kehilangan. Untungnya itu tidak benar-benar terjadi.
"Sebenarnya jika tidak ada bantuan dari Phoenix, ada satu cara untuk menyelamatkan lebih dari satu korban hari ini. Aku hanya perlu memeriksa lebih dulu, mereka yang bisa diselamatkan hanya dengan metode sihir air, akan kuselamatkan lebih dulu. Tapi kalau seperti ini, aku hanya bisa menyelamatkan satu orang dari dua korban yang harus diselamatkan dengan metode sihir api. Sebenarnya jarang sekali yang tahu metode sihir api medis pertukaran cahaya energi kehidupan ini. Aku beruntung bisa mengetahui metode sihir ini," tutur Raisa
"Aku malah merasa lebih baik kau tidak tahu ada metode sihir medis seperti itu dari awal," gumam Rumi
"Raisa, akhir-akhir ini aku merasakan perasaan yang sangat menggangguku. Itu seperti situasi yang sangat berbahaya sampai aku harus kehilangan dirimu. Aku sangat tersiksa dengan firasat semacam ini, membuatku sangat takut," ungkap Rumi
__ADS_1
"Itu tidak akan terjadi. Setidaknya jika aku tiada, cintaku akan selalu ada untukmu. Karena aku akan selalu berada di dalam hatimu sampai kapan pun itu," ucap Raisa
"Kau masih mencintaiku, Raisa?" tanya Rumi
"Tentu saja. Cintaku takkan pernah berubah, selalu dan akan tetap sama. Hanya saja kita sudah tidak bisa berpacaran lagi," jawab Raisa
"Aku tahu kau tidak ingin membahas tentang ini lagi, tapi bisakah kau jawab satu pertanyaanku? Apakah kau memutuskan hubungan denganku karena merasakan firasat yang sama denganku? Apa kau merasa akan ada bahaya yang membuatmu menghilang dariku, makanya kau ingin putus? Lebih baik aku merasa tersakiti sekarang, dari pada nanti?" tanya Rumi bertubi-tubi.
..."Ternyata, Rumi juga merasakan firasat yang sama denganku. Sebenarnya itu salah satu alasanku memilih putus denganmu, Rumi. Tapi, jika aku menjabarkan semua alasan, itu hanya akan terdengar seperti aku tidak sungguh-sungguh mencintaimu dan sangat memperlihatkan betapa besar keegoisanku. Sebenarnya aku hanya seorang penakut yang tidak pantas menerima cinta darimu," batin Raisa...
"Kau salah. Meskipun bukan dengan alasan firasat akan meninggalkanmu, kita takkan bisa bersama karena dunia kita berbeda. Tapi, poin Lebih baik merasa tersakiti sekarang, dari pada nanti itu benar adanya. Akhirnya kau bisa mengerti itu," jawab Raisa
"Apa pun bisa kuterima asalkan kau tidak benar-benar meninggalkanku selamanya, Raisa," ucap Rumi
Raisa hanya bisa tersenyum sambil menatap Rumi. Raisa pun bangkit berdiri.
"Aku sudah harus kembali ke dalam. Anak-anak sudah menungguku untuk bermain bersama. Kau ingin ikut masuk denganku atau tidak?" ujar Raisa bertanya.
Rumi mengangguk.
"Aku jalan duluan, ya ... " kata Raisa yang berlalu masuk kembali ke dalam panti.
"Kalau tahu kau akan suka dan perhatian dengan anak-anak, maka aku berharap bisa jadi anak kecil di antara mereka semua, tapi itu tidak akan pernah bisa terwujud!" batin Rumi
Rumi pun bangkit berdiri dan menyusul langkah Raisa yang memasuki panti.
"Raisa, tunggu aku!" seru Rumi
Di dalam panti asuhan.
Akhirnya, Raisa dan Rumi kembali masuk ke dalam panti bersamaan. Setelah masuk, Raisa langsung bergabung ke tengah anak-anak yang berkumpul dan duduk bersama.
"Kalian sedang bermain apa? Aku boleh ikut bergabung, kan?" tanya Raisa
"Kami ingin menggambar. Kami semua akan menggambar sesuatu dan akan dinilai siapa yang palinh bagus oleh Kak Ian yang jago dalam menggambar. Kak Raisa, ikut saja!"
"Menggambar, ya. Sayangnya aku tidak pandai menggambar, tapi mungkin hasil gambarku akan jadi lebih bagus jika aku meniru gambar seseorang. Jadi, siapa yang jago menggambar di sini? Bolehkah aku meniru gambar milikmu?" ujar Raisa bertanya
"Itu tidak adil! Gambar harus hasil kreasi dan karya sendiri dong!"
"Bagaimana, Kak Raisa, ingin ikut menggambar atau tidak?"
"Baiklah. Apa pun itu aku akan ikut," kata Raisa
Akhirnya mereka semua menggambar bersama.
"Oh, ya! Masih ada yang harus dilakukan di Desa Bambu dan aku akan beri tahu besok. Ini demi kebaikan warga desa, jadi kalian bersiaplah," ucap Raisa disela aktivitas menggambarnya.
"Masih ada perlu apa lagi, sih?" tanya Morgan
"Sepertinya, Raisa sudah betah tinggal di sini. Kau itu merepotkan, Raisa," kata Devan
"Kalau saja, Ian menggambar sesuatu dan menyuruh semua meniru gambarnya. Siapa yang lebih mirip gambarnya yang akan menang, maka aku bisa sedikit lebih optimis bisa menang!" ucap Raisa beralih ke topik lain.
"Cara itu tidak terpikir olehku sebelumnya. Tapi, tetap saja kali ini harus kreasi dan karya masing-masing," kata Ian
Di akhir, banyak sekali hasil gambar. Ada pemandangan, gambar hewan, manusia salju, dan lain-lain.
Dari banyak orang, Chilla menggambar buah-buahan, Rumi menggambar seekor ular, dan Raisa menggambar sebuah rumah.
"Gambarmu tetap saja tidak jauh-jauh dari makanan, ya, Chilla ... " ucap Ian
"Tapi, bagus, kan?" tanya Chilla dengan sangat percaya diri.
"Apa yang kau gambar, Rumi? Kenapa tidak di beri warna?" tanya Ian
"Seekor ular. Seperti ularku yang berwarna putih, maka tidak perlu diberi warna lagi," jawab Rumi
"Sederhana sekali ... seperti gambar anak-anak," kata Ian
"Kalau, Raisa ... dari sekian banyak hal yang bisa digambar, kenapa memilih untuk menggambar sebuah rumah?" tanya Ian
"Aku tidak punya inspirasi, jadi memilih gambar rumah yang sederhana saja. Dulu saat sekolah aku juga sering menggambar rumah. Alasannya rumah adalah tempat untuk kita berlindung dan bernaung. Di dalam rumah, kita bisa berlindung dari dinginnya hujan dan panasnya terik matahari, rumah membuat kita merasa aman dan tempat kita pulang setelah seharian beraktivitas di luar. Yang lebih penting, tidak peduli seperti apa rumahnya asalkan bersama orang-orang yang disayangi dan dicintai maka itu adalah tempat terindah dan ternyaman yang pernah ada," ungkap Raisa
"Alasan bagus, gambarmu juga lumayan bagus," kata Ian
"Jadi, gambar siapa yang paling bagus?"
"Siapa pemenangnya?"
"Aku tidak bisa memilih. Gambar kalian semua bagus! Jadi, kuputuskan kalian semua pemenangnya!" ucap Ian
"Tidak asik! Masa tidak ada yang menang?"
"Raisa, tolong aku ... " bisik Ian
"Kenapa jadi aku? Aku hanya ikut berpartisipasi saja. Dari awal anak-anak sudah memilihmu untuk mengambil keputusan, aku tidak bisa ikut campur," Elenggan Raisa menolak.
Pada akhirnya Ian tidak bisa memutuskan siapa yang menang dalam menggambar. Karena banyak sekali gambar dan tidak ingin ada kecemburuan saat pemenang dipilih, akhirnya Ian memutuskan semua adalah pemenangnya!
"Sudah kubilang, harusnya kau suruh saja kita meniru gambarmu semirip mungkin. Jika begitu, mungkin kau masih bisa menentukan pemenang!" ucap Raisa
.
•
__ADS_1
Bersambung...