Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
125 - Berbelanja dan Berlatih Senjata.


__ADS_3

Saat ini ditemani oleh Aqila dan Chilla, Raisa mengunjungi sebuah toko untuk berbelanja. Namun, Chilla tidak sesemangat biasanya karena kali ini Raisa tak memintanya berbelanja hal yang disukainya alias Raisa meminta Chilla menemaninya bukan untuk berbelanja makanan. Raisa berniat berbelanja kebutuhannya, bukan sembarang kebutuhan seperti biasa melainkan kebutuhan untuk misinya nanti...


Sekarang Raisa bersama Aqila dan Chilla sedang berada di sebuah toko senjata! Tentu saja untuk membeli senjata untuk kepentingan misi...


"Biasanya kalian membawa berapa banyak belati saat misi?" Tanya Raisa


"Seperlunya atau sebanyak mungkin. Kali ini kau mau beli berapa banyak, Raisa? Bukankah kau juga punya satu buah pemberian dari Rumi? Aku melihatnya saat di vila keluarga Dennis..." Ujar Aqila


"Untuk misi penting pasti memerlukan lebih dari satu belati kan? Tidak cukup jika hanya dengan itu." Kata Raisa


..."Sebenarnya, lebih tepat lagi karena aku merasa sayang menggunakannya. Itu pemberian dari Rumi, harus kusimpan baik-baik atau kugunakan saat situasi penting saja." Batin Raisa...


Raisa pun terus melihat-lihat senjata yang memenuhi toko tersebut...


"Eh, ada Aqila dan Chilla datang! Apa kabar kalian berdua?" Sapa Pemilik toko tersebut.


"Kami baik, Bibi Tiffany." Serempak Aqila dan Chilla menjawab.


"Hoho, inikah Raisa Sang Penyelamat itu? Kau ingin membeli yang seperti apa? Perlu rekomendasi dariku?" Tanya pemilik toko senjata tersebut, Bibi Tiffany.


"Hallo, Bibi Tiffany! Bagaimana kabarmu? Jangan panggil aku dengan julukan itu lagi ya, itu agak membebaniku karena yang kulakukan saat itu hanya sedikit membantu saja. Aku memerlukan senjata untuk kebutuhan misi. Senjata di sini bagus-bagus dan beraneka ragam sekali... Selain perlu rekomendasi dari teman, sepertinya aku juga butuh rekomendasi darimu yang jauh lebih senior dari kami. Tapi, kau juga pasti tahu, aku baru mendapat sedikit mata uang di sini... Bisakah kau merekomendasikan padaku sesuai isi kantongku yang tipis ini?" Ujar Raisa


"Raisa, mulutmu manis juga. Kau bahkan sudah tahu namaku, memang sangat sesuai seperti rumornya. Kabarku baik... Karena ini adalah permintaan pelanggan baruku yang baik, aku akan berikan rekomendasi yang terbaik juga untukmu!" Ucap Bibi Tiffany


"Aku akan memilihkan senjata yang umum dipakai saat misi, kau lihatlah senjata lainnya dengan Bibi Tiffany, Raisa." Kata Aqila


"Aku tidak terlalu minat dengan senjata, aku di sini saja." Ucap Chilla yang berdiri di dekat pintu masuk toko sambil melahap keripik kentang kesukaannya.


"Aku juga memiliki senjata yang tidak biasa di sini, yang luar biasa pun ada. Kau ingin yang seperti apa?" Tanya Bibi Tiffany


"Maaf, Bibi. Aku hanya memerlukan senjata biasa, itu sudah cukup." Jawab Raisa


"Aku juga punya gulungan kertas sihir, ada yang kecil sampai yang paling besar. Apa kau mau membeli beberapa untukmu?" Tanya Bibi Tiffany


"Maafkan aku, Bibi. Tapi, kemungkinan besar sihirku tidak terlalu cocok dengan sihir yang digunakan di sini. Jadi, mungkin aku tidak bisa menggunakan gulungan kertas sihir ini." Jawab Raisa


"Lalu, kau ingin membeli senjata seperti apa? Rekomendasi apa yang tepat untukmu ya?" Bingung Bibi Tiffany


"Aku tahu bahwa kau ahlinya senjata sihir, Bibi Tiffany, itu juga sebabnya kau membuka toko ini. Sebenarnya, aku punya minat pada salah satu senjata, tapi aku tidak pandai dalam hal seperti ini. Aku ingin kau merekomendasikan padaku pedang yang cocok untuk gadis. Yang terlihat kecil namun mematikan, tapi juga cantik, dengan tetap mengutamakan keefektifannya sebagai senjata." Ujar Raisa


"Ah, kau mendeskripsikan kata-kata yang cocok antara senjata dan pesona yang kau miliki sendiri. Kau gadis pintar, aku menyukaimu! Tunggu ya, sepertinya aku punya pedang yang cocok untukmu. Biar aku cari dan pilihkan..." Ucap Bibi Tiffany


"Mohon bantuannya, Bibi." Kata Raisa


"Nah, ini dia pedangnya! Ada dua pilihan, kau tertarik membeli yang mana? Aku sarankan yang ini karena lebih cantik dan cocok denganmu. Tapi, yang membeli tetap adalah kau, jadi pilihlah..." Ujar Bibi Tiffany sambil menyodorkan dua bilah pedang bersarung pada kedua tangannya pada Raisa.


Di antara kedua pedang yang dipilihkan oleh Bibi Tiffany memang cocok seperti permintaan Raisa tadi dan juga tidak jauh memiliki perbedaan. Namun, pedang yang dibilang cantik adalah yang memiliki ukiran cantik pada sarung penutup dan gagangnya. Sedangkan yang satunya merupakan pedang biasa.


Raisa pun terlihat sedang memerhatikannya dengan seksama untuk menimbang ingin membeli yang mana...


"Lebih bagus lagi jika kau membeli kedua-duanya!" Kata Bibi Tiffany dengan strategi penjualannya.


"Ahahaha... Apa yang dikatakan Bibi akan aku pertimbangkan lagi nanti, karena aku sangat berminat dengan pedang sebagai senjata, tapi untuk saat ini aku hanya perlu dan bisa membeli satu saja. Pedang yang disarankan Bibi Tiffany memang sangat cantik, tapi sepertinya terlihat mahal..." Ucap Raisa


"Tidak apa, kau pilih dan beli yang ini saja! Khusus untukmu hari ini, akan kuberikan potongan harga spesial karena kau pelanggan baru yang baik dan yang aku suka!" Kata Bibi Tiffany sambil menyerahkan pedang dengan ukiran cantik pada Raisa.


"Terima kasih, Bibi! Tapi, memangnya tidak apa seperti ini? Aku adalah pelanggan yang baru kau temui, tapi kau sudah baik sekali padaku..." Ujar Raisa


"Aku sudah bilang tidak apa dan aku juga menyukaimu. Tapi, kau benar-benar mau mempertimbangkan satu pedang lainnya di lain waktu kan?" Kata Bibi Tiffany


"Terima kasih banyak, Bibi Tiffany! Kebaikanmu pasti terbalaskan! Kalau penghasilanku sudah banyak, aku pasti datang ke sini lagi!" Ucap Raisa


"Baik-baik. Itu sangat bagus! Apa kau ingin membeli senjata yang lain lagi?" Ujar Bibi Tiffany


"Untuk sekarang cukup segini dulu saja." Kata Raisa


"Baiklah. Ayo, kita ke meja pembayaran!" Kata Bibi Tiffany


Di meja pembayaran, Aqila sudah menunggu dengan beberapa senjata yang sering digunakan untuk keperluan misi.


"Pedang yang cantik! Kau benar-benar akan membelinya, Raisa?" Ujar Chilla yang ikut mendatangi meja pembayaran.


"Ya, dari dulu aku ingin sekali mempunyai pedang, tapi kalian juga tahu... Di duniaku, aku tidak benar-benar memerlukannya. Sebelum itu, aku akan menyimpannya dulu." Ucap Raisa


Raisa menggunakan sihirnya dan mengeluarkan api dari tanhannya yang memegang pedang. Api sihirnya melahap pedang tersebut hingga menghilang...


"Hei, apa yang kau lakukan!? Kenapa kau membakar habis pedangku!? Kau ke manakan pedang itu? Kau tetap akan membayarnya kan?" Panik Bibi Tiffany karena benda yang dijualnya menghilang terbakar sebelum dibayar.


"Apa yang kau lakukan, Raisa?" Tanya Aqila dan Chilla secara serempak yang juga ikut merasa panik.

__ADS_1


"Kalian semua tenang saja. Tentu saja, aku akan membayarnya, Bibi. Aku memang berniat untuk membelinya. Aku hanya menyimpannya ke dalam dimensi sihir milikku, pedang itu masih ada. Ini buktinya..." Tutur Raisa


Raisa kembali mengeluarkan pedang yang ia simpan ke dalam dimensi sihirnya. Kali ini dengan menggunakan sihir angin, pedang itu muncul kembali pada genggaman tangannya~


"Yang kulalukan tadi hanya untuk menyimpannya ke dalam dimensi sihir saja. Alih-alih langsung menyimpannya ke dalam dimensi sihir milikku yang lebih memerlukan waktu jika benda yang disimpan memiliki kriteria atau beban tertentu, aku lebih memilih untuk menggunakan sihir api untuk melahapnya untuk lebih cepat memasukkannya ke dalam dimensi sihir. Yang tadi itu bukan bermaksud membakar habis pedangnya. Atau sebenarnya kau merasa aku tidak covok lagi memiliki pedang ini ya, Bibi? Apa pedang ini harus kukembalikan lagi padamu? Jika begitu, ambillah... Pedangnya tidak memiliki cacat hanya karena sihirku tadi kok." Ujar Raisa


"Huhh~ Kau membuatku panik saja, Raisa! Aku merasa seperti telah dipermainkan! Tidak, kau ambillah pedang itu. Pedang itu sudah menemukan pemiliknya yang baru, yaitu kau. Kau hanya perlu membayarnya." Ucap Bibi Tiffany


"Kami jadi ikut panik..." Kata Aqila. Chilla menganggukan kepalanya menyahuti perkataan Aqila.


"Maaf jika caraku membuat semua jadi salah paham." Kata Raisa


Raisa pun kembali menyimpan pedang tersebut ke dalam dimensi sihir miliknya dengan kembali menggunakan sihir lahapan api. Lalu, ia segera membayar semua belanjaannya pada Bibi Tiffany.


"Sihir yang kau maksud tadi itu seperti fungsi gulungan kertas sihir ya, Raisa? Makanya, tadi kau bilang tidak memerlukan gulungan kertas itu?" Tanya Bibi Tiffany


"Benar, Bibi. Sihir milikku memiliki keistimewaan berupa lambang sihir yang berada di masing-masing telapak tanganku. Lambang sihir ini juga bisa berfungsi sebagai media penyimpanan berupa dimensi sihir pribadi milikku." Jawab Raisa


"Tak hanya itu, Bibi Tiffany. Lambang sihir itu juga bisa Raisa bagikan untuk orang lain loh! Aku juga memilikinya!" Ungkap Chilla


"Pada siapa saja kau memberikan lambang sihirmu itu, Raisa? Apa itu artinya, kini Chilla juga tidak lagi memerlukan gulungan kertas sihir?" Tanya Bibi Tiffany


"Sayangnya tidak begitu. Aku membagikan lambang sihirku untuk semua temanku di sini. Aku memang bisa menggunakan dengan bebas lambang sihir milikku ini, tapi mereka yang lain hanya bisa menggunakan itu untuk media pemindai. Itu seperti alat pemindai yang bisa mengetahui langsung keberadaan seseorang lainnya yang sama-sama memiliki lambang ini serta kondisi seseorang yang mereka cari. Fungsi lambang ini untuk media penyimpanan hanya untuk pribadi pemilik sihir sesungguhnya, yaitu diriku sendiri." Jelas Raisa


"Bukankah awalnya kau bilang, walau kami memiliki lambang ini darimu, hanya kau yang bisa mengetahui tentang keberadaan dan kondisi kami, tapi kami tidak bisa?" Tanya Aqila


"Awalnya aku bilang memang begitu ya... Tapi, berbeda dengan sekarang. Lambang ini memiliki penerobosan tahap ke tingkat lanjut. Sekarang kalian pun juga bisa menggunakannya, walau hanya bisa sampai saling mengetahui keberadaan dan kondisi masing-masing yang mempunyai lambang seperti ini dariku saja. Ini seperti fungsi mata elang super milikmu dan semua generasimu, Aqila. Walau berbeda fungsi dan lebih hebat matamu itu." Jawab Raisa


"Lambangnya bergamar bentuk bunga ya... Bunga apa itu?" Tanya Bibi Tiffany


"Ini adalah lambang inti sihir milikku, Bibi. Bunga teratai putih. Apa Bibi juga mau kuberikan lambang ini? Ini bisa saja sangat berfungsi saat terdesak. Kalau iya, akan kuberikan dengan senang hati." Ujar Raisa


"Oh, bunganya cantik sekali ya... Aku bukan Irene yang punya toko bunga, jadi tidak tahu. Kau tidak perlu memberikannya padaku, Raisa. Aku yang sudah tua, tidak lagi memerlukan hal yang seperti itu. Lagi pula, hal mendesak apa yang akan terjadi pada diriku yang seperti ini. Jadi, tidak perlu sampai merepotkanmu." Ucap Bibi Tiffany


Masalah pembayaran sudah diselesaikan. Senjata belanjaan berukuran kecil selain pedang dimasukkan ke dalam kantong belanjaan dan diberikan langsung pada Raisa.


"Terima kasih sudah mau belanja senjata di sini ya, Raisa. Semoga senjata yang kau beli hari ini berguna untukmu." Ucap Bibi Tiffany


"Terima kasih kembali, Bibi. Semoga tokomu dikunjungi banyak pembeli!" Balas Raisa


"Raisa adalah pembawa keberuntungan, Bibi. Semoga tokomu ikut beruntung karena dapat ucapan darinya." Ucap Chilla


"Hoho, begitukah? Semoga saja itu memang benar! Kalau begitu, apa kau dan Aqila juga ingin berbelanja di sini?" Ujar Bibi Tiffany


"Oh ya, Bibi Tiffany... Yang kutahu kau juga mahir membuat senjata kan? Di lain waktu, jika ada kesempatan aku ingin kau membuatkan senjata lain untukku. Tapi, ini hanya sebuah rencana saja dan semoga bisa diwujudkan. Sampai saat itu, mohon bantuannya ya, Bibi." Ujar Raisa


"Oh, baiklah. Aku juga akan menunggu kesempatan itu datang!" Kata Bibi Tiffany


"Aku sudah selesai. Kami pergi ya, Bibi. Sekali lagi, terima kasih untuk hari ini..." Ucap Raisa


"Baiklah. Sama-sama." Balas Bibi Tiffany


Raisa bersama Aqila dan Chilla pun berlalu ke luar dari toko senjata milik Bibi Tiffany...


"Kau memang belanja senjata secukupnya untuk persediaanmu dalam misi, Raisa. Tapi, harga pedang juga tidak murah loh... Sebenarnya sudah berapa banyak jumlah uang yang kau kumpulkan sejak pertama kali ada di sini?" Tanya Chilla


"Aku memang baru sekali menjalani misi bersama Amy, Wanda, dan Sandra sebelumnya, tapi saat pemberian upah aku juga dapat bonus. Katanya bonus itu diberikan oleh pihak Desa Pasir sebagai tanda terima kasih telah membantu mereka menangkap buronan. Lalu, saat pertama kali ke sini, aku juga diberi uang yang katanya sebagai imbalan telah membantu menyelamatkan desa. Awalnya, aku menolak, tapi katanya itu untuk perbekalanku saat menginap di sini waktu itu. Uang yang diberikan saat itu lumayan banyak, karena katanya imbalan itu diberikan padaku yang seperti telah menyelesaikan tiga misi sekaligus. Sebelum beli senjata kali ini, uangku memang masih banyak, tapi setelahnya hanya tinggal tersisa sedikit. Semoga upah misi nanti bisa cukup kugunakan di sini dalam liburanku kali ini." Ungkap Raisa


"Keberuntunganmu berlipat ganda ya, Raisa?" Heran Chilla


"Keberuntungan, apanya? Kalau memang punya pun, bagaimana jika keberuntungan itu bisa habis kapan saja? Sepertinya itu akan gawat!" Ujar Raisa


"Lalu, apa rencana kita kali ini sebelum keberangkatan untuk misi nanti?" Tanya Aqila


"Sebenarnya, aku ingin berlatih teknik berpedang. Aku memang memahami sedikit tentang berpedang, tapi aku masih belum mahir melakukannya." Jawab Raisa


"Kau mengaku belum terlalu mahir, tapi kau bisa mengalahkan Sandra sebelumnya. Itu sangat hebat!" Kata Aqila


"Aku hanya mengandalkan kemampuan bertarungku saat itu sambil kupadukan dengan gerakan berpedang yang kutahu. Aku juga memiliki pengamatan gerakan lawan yang cukup baik, dengan itu hasilnya aku beruntung bisa menang dari Sandra. Itu pun aku memanfaatkan waktu secepat mungkin untuk mengakhiri pertarungan, kalau terlalu larut bertarung aku bisa saja kalah dengan Sandra saat itu. Ada baiknya, jika Papa-mu ada di desa saat ini, Aqila. Kalau dia berkenan, aku ingin memintanya mengajariku teknik berpedang. Sebenarnya saat di toko senjata tadi, aku ingin minta tolong Bibi Tiffany untuk melatihku, tapi aku tidak enak memintanya karena dia masih harus menjaga toko. Selain Paman Elvano dsn Bibi Tiffany yang mahir dalam meggunakan senjata yang termasuk menggunakan pedang, masih ada Paman Aiden. Tapi, dia juga pasti sibuk bertugas di kepolisian. Untuk saat ini aku mungkin hanya bisa minta berlatih bersama anaknya saja, si Ian. Juga dengan Sandra, itu pun kalau mereka mau dan punya waktu." Ucap Raisa


"Mencari guru untuk berguru dengan baik nemang tidak mudah." Kata Chilla


"Benar sekali!" Sahut Raisa


"Aqila, kau ada di sini? Sedang bersama temanmu ya? Ada Raisa juga?" Tanyanya yang berjalan di sekitar sana dan menghampiri Aqila juga Chilla dan Raisa.


"Papa!" Girang Aqila berjumpa dengan Papa-nya, Paman Elvano yang baru saja pulang dari tugas menjelajah.


"Tidak adil sekali! Nama yang di sebut hanya nama anaknya Aqila dan kau saja, Raisa. Namaku tidak disebut!" Oceh Chilla

__ADS_1


"Paman Elvano, kau sudah pulang? Ksmi baru saja habis membicarakanmu tadi. Bagaimana kabarmu, Paman?" Ujar Raisa


"Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja." Kata Paman Elvano


Aqila pun bergegas menghampiri Sang Papa yang baru tiba itu...


"Papa, sudah datang! Sudah pulang ke rumah belum?" Tanya Aqila


"Aku baru sampai dan belum sempat ke rumah. Ke rumah pun pasti tidak ada orang di sama karena Mama-mu pasti masih berada di rumah sakit untuk bekerja." Jawab Paman Elvano


"Papa, ada benarnya juga." Kata Aqila


"Memangnya ada apa? Apa kau menginginkan sesuatu?" Tanya Paman Elvano


"Apa itu terlihat sangat jelas?" Tanya balik Aqila sambil terkekeh kecil.


"Katakan saja, apa yang kau inginkan?" Tanya Paman Elvano lagi.


"Hmm... Begini, Papa. Tadinya aku berniat memintaku melatihku dan juga temanku. Kami akan menjalani sebuah misi penting sebentar lagi dan katanya Raisa perlu seseorang melatihnya cara berpedang. Tapi aku tahu kau lelah, jadi pulanglah saja dan beristirahat. Aku akan ikut denganmu untuk membuatkanmu makanan, untuk latihan kami, kami akan berlatih bersama secara mandiri. Kau tidak perlu khawatir." Ungkap Aqila


"Benar, Paman Elvano. Kau pulanglah dan selamat beristirahat. Kau juga, Aqila. Sampai jumpa nanti saat keberangkatan misi kita." Ucap Raisa


"Jadi, benar kau sudah bisa ikut dalam misi ya, Raisa? Apa kalian akan bergabung dalam misi yang sama?" Tanya Paman Elvano


"Itu benar." Jawab Raisa


"Kalau begitu, aku akan menemani kalian berlatih. Ayo!" Kata Paman Elvano


"Aku merasa terhormat, terima kasih. Tapi, Paman pasti lebih membutuhkan istirahat, kau juga seorang manusia, Paman. Ini pasti karena aku yang mengeluh ingin berguru denganmu tadi, aku harusnya tidak mengatakannya, aku salah." Ujar Raisa


"Hei, bukan salahmu jika ingin berguru, Raisa. Tidak apa. Aku yang minta maaf karena Papa tidak bisa melatihmu sekarang. Ayo, kita pulang saja, Papa." Ucap Aqila


"Kenapa kalian malah saling merasa bersalah, padahal aku bersedia menemani kalian berlatih? Ayo, berlatih saja! Aku bisa istirahat nanti dan aku juga sudah makan sebelum pulang ke desa ini. Tapi, mungkin aku hanya bisa menemani kalian berlatih sebentar saja. Jadi, ayo, cepat! Dan panggil juga Morgan, sekalian aku ingin melatihnya juga." Ujar Paman Elvano


"Aku merasa senang, tapi apakah tidak apa?" Tanya Raisa


"Papa sudah berkata, kita hanya bisa mengikuti. Kalau tidak dia yang akan mencecar kita. Aku yang akan mencari Morgan. Kau tunggu saja." Kata Aqila


"Kalau begitu, biar aku saja yang mencari Morgan. Kau saja yang menunggu di sini bersama Paman Elvano dan juga Chilla." Timpal Raisa


"Apa kau tahu di mana harus mencari Morgan?" Tanya Aqila


"Di mana lagi, kalau bukan di Resto Cita Rasa Petir? Jika tidak ada di sana, aku bisa mencarinya di tempat lain. Aku akan bisa menemukannya. Aku akan cepat kembali!" Ujar Raisa yang langsung bergegas pergi dari sana.


"Aku seperti diabaikan dan itu membuatku merasa agak kesal!" Gerutu Chilla


Rsisa pun mencari Morgan dan langsung menemukan keberadaannya begitu masuk ke dalam Resto Cita Rasa Petir bersama teman-teman yang lain.


"Sudah kuduga kau ada di sini, Morgan! Ayo, cepat ikut aku!" Kata Raisa to the poin.


"Ada apa kau terburu-buru mencariku, Raisa?" Tanya Morgan merasa heran.


"Paman Elvano ada di desa ini dan ingin kita berlatih bersama. Kau pasti juga tahu, jarang ada kesempatan seperti ini dan katanya hanya punya waktu sebentar. Jadi, cepatlah!" Jawab Raisa


"Aku kira kenapa, Raisa lebih mencari Morgan bukan aku? Ternyata ini soal latihan." Batin Rumi


"Hebat sekali. Kalau begitu, ayo!" Girang Morgan saat mendengar guru kebanggaannya sudah datang.


"Ini kesempatan yang jarang ada. Bolehkah kami juga ikut nrlihat kalian berlatih?" Tanya Ian


"Mungkin saja boleh, Chilla juga sedang ada di sana. Ikut saja kalau mau." Jawab Raisa


Setelah menemukan Morgan, Raisa pun langsung memintanya ikut dengannya. Teman yang lainnya juga ikut untuk menyaksikan sesi latihan mereka.


"Morgan, ambillah pedang dariku ini! Berlatihlah karena kudengar kalian akan menjalani misi penting." Ucap Paman Elvano


"Baik. Terima kasih, Guru!" Kata Morgan


"Apa aku juga boleh ikut berlatih bersama? Aku juga seseorang yang menggunakan pedang dan akan ikut dalam misi yang sama juga..." Tanya Ian


"Kau sudah datang, lebih baik ikut mengambil pelajaran dari pada hanya menonton." Jawab Paman Elvano yang berarti setuju Ian ikut berlatih bersama.


"Kau tidak mau ikut berlatih dengan mereka juga, Sandra? Kau kan juga seorang pengguna pedang?" Tanya Devan


"Latihan ini hanya untuk pengguna pedang yang ikut untuk misi kalian bersama nanti, aku tidak termasuk. Tapi aku bisa meresapi cara berlatih mereka untuk diriku srndiri hanya dengan menyaksikannya, itu sudah cukup." Jawab Sandra


Raisa, Morgan, dan Ian pun berlatih bersama teknik menggunakan pedang dengan Paman Elvano. Mereka juga latihan hal lain bersama-sama selain teknik berpedang...


.

__ADS_1



Bersambung...


__ADS_2