Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
19 - Waktu-waktu Terakhir.


__ADS_3

•••


2 hari kemudian.


Entah harus dikatakan cepat atau lambat dalam berjalannya waktu. Tak terasa Raisa sudah berada di dunia yang berbeda, dimensi asing untuk beberapa waktu. Namun, baginya tempat tersebut terasa akrab. Seperti berlibur. Tak ada rasa penat, gelisah, ataupun cemas. Yang ada hanya bahagia, nyaman, dan gembira. Mengingat dirinya telah cukup dekat dengan orang-orang di sana. Mengetahui mereka seperti di dalam mimpinya.


Beberapa waktu kebersamaan dan moment tertentu telah diabadikan oleh Raisa mrnggunakan kamera ponselnya. Saat ditinjau, Raisa sedikit bingung. Ia ingin sekali menceritakan pengalaman dan keberadaannya yang saat ini kepada orang-orang di dunianya. Namun, apakah boleh? Apakah bisa? Apakah orang-orang di dunianya akan menerima kenyataan ceritanya yang berada di dunia yang dimensinya berbeda? Akankah dirinya dianggap aneh atau bahkan mereka akan mengatakan dirinya gila? Akankah ceritanya hanya akan dianggap halusinasi belaka?


"Raisa, kenapa kau hanya diam? Kau melamun?" tanya Rumi, menegur Raisa hingga dirinya tersadar dari lamunannya.


"Kau yang mengajak kami semua makan bersama, tapi kau sendiri yang terdiam melamun seperti itu," ujar Devan


"Kalau ingin makan, seharusnya kau merasa senang menantikannya. Bukannya melamun. Memangnya kau sedang memikirkan apa?" ujar Chilla bertanya.


"Lihatlah, Chilla. Kalau sudah tentang makanan, dia pasti semangat," kata Ian meledek.


"Ah, iya. Maaf. Aku teralihkan sesuatu," jata Raisa


"Tumben kau mengumpulkan kami, itu pun untuk makan. Kali ini dalam rangka apa?" ujar Morgan bertanya.


"Bukan suatu yang spesial. Aku hanya teringat, saat Chilla mengatakan ingin makan daging waktu itu. Sekarang kondisiku sudah fit, jadi aku ingin mengajak kalian makan bersama. Walaupun kali ini aku sanggup membayar sendiri, sepertinya aku belum bisa menraktir kalian. Kali ini kita bayar masing-masing dulu ya. Itu pun kalau kalian tidak keberatan," jelas Raisa


"Memangnya kau punya uang dari mata uang kami?" tanya Wanda


"Itu ... akan kuceritakan saat kita makan nanti," jawab Raisa


"Jadi, sekarang kita akan makan daging?" tanya Billy


"Yeay~ Daging panggang, aku datang!" girang Chilla


Raisa pun melanjutkan aktivitasnya merekam yang tadi sempat tertunda saat ia melamun. Merekam mereka semua, satu persatu saat jalan bersama. Itu akan menambah koleksi moment kenangannya saat di dunia itu. Mengingat, sebentar lagi ia akan kembali ke dunianya.


Kini, mereka semua berkumpul bersama.


Raisa... Morgan, Aqila, Rumi. Devan, Ian, Chilla. Marcel, Dennis, Billy. Sanari, Amy, Wanda.


Menuju tempat makan daging panggang atas ajakan Raisa. Raisa melakukan ini demi memperbanyak moment kebersamaan agar tak ada penyesalan baginya saat kembali ke dunianya.


...'Di saat waktu-waktu terakhirku di sini, aku ingin menghabiskan waktu dan mengabadikan kebersamaan bersama kalian semua seperti ini. Karena besok atau lusa, aku sudah harus kembali ke duniaku di dimensi lain. Aku akan pergi dan entah bisa kembali atau tidak. Atau kapan aku kembali, aku tak tau. Jadi, selama itu nanti, aku akan terus mengenang kalian. Takkan pernah melupakan kalian,' batin Raisa...


Raisa yang berjalan di belakang demi merekam itu semua, perlahan berjalan terus menuju ke depan mendahului semuanya dari samping. Menyerukan nama mereka satu persatu agar melihat ke arah kamera ponselnya.


"Semuanya ... lihatlah kemari! Lihat aku, aku akan merekam kalian. Menambah moment kenangan kebersamaan kita semua. Tersenyum~" ujar Raisa memberi aba-aba.


Di antara mereka pun ada yang tersenyum, melambaikan tangan, bahkan bergaya ala masing-masing ke arah Raisa untuk direkam~


Raisa yang terus berjalan menuju depan. Saat posisinya telah mendahului semuanya, ia pun menghadap belakang ke arah yang lain. Terus merekam mereka semua dengan kamera belakang ponselnya dan ia pun berjalan mundur.


"Lihat ke sini, semuanya..Hari ini cuaca cerah, bukan? Sekarang kita akan ke mana?" ujar Raisa seperti sedang sesi tanya-jawab dalam wawancara.

__ADS_1


"Kita akan pergi ke tempat makan untuk makan daging panggang!" teriak Chilla kegirangan.


"Siapa yang menjawab itu? Wajahmu tidak terlihat di kamera. Tunjukan dirimu, Cantik ... " ucap Raisa


"Itu aku!! Si Cantik Yang Seksi. Sebentar lagi kita akan makan-makan," ujar Chilla yang maju agar terlihat di kamera ponsel Raisa.


"Yang benar itu, Si Gendut Yang Rakus Makan! Apa matamu rabun, Raisa? Caramu menilai sangat buruk," sangkal Ian


"Wah, Ian. Wajahmu tampan tapi mulutmu pedas juga ya? Persis sama seperti Ayahmu, Paman Aiden," tutur Raisa


"Raisa sudah seperti sedang wawancara saja," jata Amy sembari terkekeh kecil


"Hei, Raisa. Kau yang terus merekam kami tanpa melihat jalan akan jatuh jika terus seperti ini. Perhatikanlah jalannya," pesan Marcel


"Kita kan berjalan di jalan dan tujuan yang sama. Jika ada yang menghambatku, kalian katakanlah. Aku akan berhati-hati," ucap Raisa


"Takutnya saat kami mengatakannya sudah tidak sempat bagimu dan kau akan celaka," ujar Dennis


"Benar kata Marcel dan Dennis," kata Sanari


"Raisa, hati-hati. Awas, di belakangmu," peringat Aqila


"Eh!? Ada ap- AKH!!~"


Kaki Raisa masuk ke dalam lubang. Ia pun tersandung dengan kakinya yang lain. Tubuhnya pun oleng, tak seimbang dan terlihat akan jatuh ke belakang.


Namun, dengan sigapnya Rumi menangkap tubuh Raisa... Memeluk Raisa, melingkarkan tangannya pada pinggang Raisa. Hingga Raisa pun tidak terjatuh~


"Sudah diperingati masih juga mengeyel. Kau ini memang merepotkan," ujar Devan


...'Rumi menolongku lagi? Tapi, ini ... terlalu dekat!! Bahaya!' batin Raisa...


DEG... DEG!


DEG~


"Kau tidak apa, Raisa?" tanya Rumi


Raisa pun tersadar dari perasaannya. Dan segera mrmbenarkan posisinya, ia pun berdiri tegak, melepaskan pelukan Rumi.


"Aku baik-baik saja. Terima kasih, Rumi. Kau menolongku lagi. Berkatmu, aku tidak terjatuh," ujar Raisa


"Memangnya, seberapa penting rekaman itu untukmu, Raisa? Hingga kau ceroboh tidak memperhatikan jalan, membahayakan dirimu sendiri," ucap Morgan


"Bagiku rekaman ini penting. Ini moment berharga kebersamaan kita," ungkap Raisa dengan tatapan sendu yang terpancar.


Raisa pun memilih mengakhiri rekaman tersebut. Dan tatapan sendunya pun hilang, digantikan oleh senyuman manisnya yang menawan.


"Baiklah. Rekamannya kusudahi saja. Nanti, bisa dilanjutkan lagi. Ayo, kita fokus ke tempat makan saja," ujar Raisa yang memasukkan ponselnya ke dalam tas.

__ADS_1


"Berangkat!!~" Semangat Chilla


•••


@Restoran


Raisa dan yang lainnya pun akhirnya memasuki restoran daging panggang dengan semangat dan ceria.


Mereka pun duduk di hadapan meja secara berkelompok. Posisi duduk Raisa bersebelahan dengan Aqila, bergabung dengan kelompoknya bersama Morgan dan Rumi.


Beberapa orang sibuk dengan pesanan.


Raisa sedikit bergeser mendekati Aqila dan berbisik di telinganya.


"Stt~ Aqila, sebenarnya aku memberanikan diri untuk mengajak kalian makan karena aku diberikan uang saat di kantor pemimpin desa. Aku mendapat imbalan. Katanya, aku yang banyak menolong di sini disetarakan dengan telah mengerjakan tugas yang setara dengan 3 misi besar. Entah sebenarnya uang ini cukup atau tidak untuk membayar makanan daging panggang yang mahal ini. Aku tidak tau nilai mata uang di sini. Lihatlah, bagaimana menurutmu, Aqila?" bisik Raisa memberitau Aqila dan bertanya padanya.


Raisa pun sedikit memperlihatkan uang yang berada di tasnya yang didapatkannya saat di kantor pemimpin desa pada Aqila.


"Raisa ... uang ini sangat banyak! Cukup untuk membiayaimu sendiri di sini. Bahkan jika kau ingin menraktir kami semua kali ini pun bisa. Mungkin ... jika yang lainnya makan dengan tidak berlebihan," jawab Aqila dengan berbisik.


"Benarkah? Syukurlah, aku bisa tenang ... " kata Raisa berbisik.


Raisa pun kembali pada posisi duduknya semula, menjauh dari Aqila. Dan membenahi tas yang dibawanya.


"Nah ... Raisa, sekarang kau bisa memberitau kami. Alasan kau mengajak kami makan bersama. Kau memiliki uang dengan mata uang di sini?" ujar Devan bertanya.


"Ah, aku baru saja membicarakannya. Sebenarnya, aku diberikan uang saat di kantor pemimpin desa saat itu. Katanya, ini upah yang setara dengan menjalankan tugas karena aku telah banyak membantu. Awalnya, aku tak mau menerimanya karena aku menolong dengan tulus. Tapi, aku tidak ingin lebih merepotkan kalian karena menetap di sini beberapa waktu juga membutuhkan biaya. Jadi, aku menerimanya. Aku hanya berpikir secara logika saat itu jadi memilih denikian," jelas Raisa


Pesanan daging pun datang.


"Baiklah ... ayo, kita makan!" semangat Chilla yang sudah bersiap terlebih dulu untuk makan.


Semua pun terlihat sibuk memanggangkan daging untuk dimakan.


"Hei, Chilla. Kau makanlah perlahan. Jangan habiskan jatah daging kami," ujar Ian


"Kalau begitu, kau juga makanlah dengan cepat," kata Chilla


Saat semua sedang makan dan di sela-sela obrolan ringan mereka, Raisa pun kembali mengeluarkan ponselnya. Merekam acara makan bersama untuk menambahkan moment di ponselnya.


.


.


.



.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2