Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
[Season 2] 155 - Hari yang Melelahkan.


__ADS_3

Raisa bersama sang suami dan kelima temannya pun beralih pergi dari dunia ilusi Sang Dewa, Negeri Rembulan, menuju ke Desa Daun dengan menaiki burung raksasa 2 dimensi yang dihidupkan dengan kemampuan sihir milik Ian.


Sambil terbang menaiki burung raksasa 2 dimensi, Aqila memeriksa kondisi Raisa dengan kemampuan sihir medis miliknya. Jika mungkin Raisa terluka, maka Aqila akan langsung mengobatinya. Posisi Raisa saat ini adalah bersandar pada dada Rumi yang merangkul erat tubuhnya.


"Raisa, kenapa kau sering sekali terluka? Jika tahu akan jadi seperti ini, dari dulu aku akan belajar sihir medis saat ayah menyuruhku," ujar Rumi


"Tidak apa, aku baik-baik saja. Kau tidak perlu merasa bersalah atau menyesali hal yang telah berlalu," kata Raisa


"Apanya yang baik-baik saja? Tadi kau bahkan sempat muntah darah. Apa kau tahu perasaanku saat melihatmu yang dalam keadaan seperti itu tadi?" tanya Rumi


"Itu hanya efek samping dari aku yang berusaha melepaskan diri dari jeratan sihir ilusi Arion sebelumnya, karena aku tidak mungkin diam saja saat dia ingin menjadikan aku seperti sebuah boneka, apa lagi perintahnya itu adalah untuk membunuhmu. Aku tahu tindakanku salah karena sudah membuatmu menjadi merasa sangat khawatir, aku minta maaf. Harusnya dari awal aku tidak menurut saat Arion memintaku pergi bersamanya. Harusnya aku tidak termakan dengan ancamannya dan harusnya dari awal aku lawan saja dia bagaimana pun caranya," ungkap Raisa


"Kau tidak salah dan tidak seharusnya minta maaf. Aku mengerti dirimu dan sifatmu. Kalau terpaksa menuruti Arion karena kau ingin melindungi Monica dan agar Desa Daun tidak lagi hancur karena adanya pertarungan besar jika kau bertarung melawan Arion di sana. Akulah yang bersalah karena tidak bisa melindungimu dengan baik," ucap Rumi


"Kejadian kali ini juga bukan salahmu, Rumi. Aku tahu kau sedang dalam misi dan kau juga berkerja keras dalam hal itu. Musibah kali ini terjadi tanpa siapa pun menginginkannya," kata Raisa


"Apa pun alasanmu melakukannya, terima kasih karena telah melindungi Monica, Raisa," sahut Ian


"Harusnya akulah yang berterima kasih karena kau sudah melindungi adikku, Monica. Namun, aku tetap tidak membenarkan tindakanmu, Raisa. Memang benar harusnya kau langsung melawannya saja. Tidak masalah Desa Daun hancur karena setelah itu semua pasukan dan warga di desa bisa saling membantu membangun dan memperbaiki desa kembali seperti semula. Jadi, setidaknya kau tidak perlu menanggung semua beban seorang diri," ucap Morgan


"Kau benar, Morgan. Aku memang sudah salah. Maafkan aku karena sudah merepotkan kalian semua sampai harus datang menyelamatkanku. Kalian semua pasti baru kembali dari misi dan belum sempat istirahat," ujar Raisa


"Tentu saja, kami harus datang. Karena kau adalah teman kami yang berharga," kata Chilla


"Tidak perlu khawatir tentang kami, Raisa. Kami sudah istirahat pada malam sebelum kami pergi dalam misi penyelamatan dirimu," ujar Devan


"Aku sudah memeriksa keadaan Raisa. Istrimu memang baik-baik saja dan tidak ada yang terluka. Kau bisa tenang, Rumi," ungkap Aqila usai memastikan kondisi keseluruhan pada diri Raisa dengan menggunakan kemampuan sihir medis miliknya.


"Kau dan kalian semua juga bisa dengar, kan? Aku baik-baik saja. Sudah kubilang, aku tidak akan mudah mati. Setidaknya tidak secepat ini saat diriku masih muda," ujar Raisa


"Aku mohon jangan dengan mudahnya membahas dan mengucapkan kata mati. Aku sangat takut kehilanganmu," ucap Rumi


"Aku salah, aku minta maaf dan tidak akan kuulangi lagi. Sepertinya aku ingat kau pernah belajar sedikit ilmu sihir medis dengan ayah Rommy. Kenapa tidak kau saja yang nemeriksa diriku, Rumi?" tanya Raisa


"Itu karena ilmu sihir medisku masih terlalu sedikit, aku takut aku malah salah melakukannya dan bukannya memeriksa dirimu dengan baik, aku malah tidak sengaja melukaimu. Lagi pula, aku lebih ingin memelukmu seperti ini," ungkap Rumi yang memang posisi Raisa bersandar padanya seperti Rumi memeluk sang istri dari samping belakang.


"Lagi pula, Raisa ... kalau kau mengetahui tentang ibuku dan Arion itu di masa lalu, kenapa kau tidak pernah bercerita pada kami?" tanya Morgan


"Karena kupikir itu hanya kejadian yang telah lalu dan kupikir itu bukan hakku untuk nenceritakannya. Untuk hal ini kupikir ayah atau ibumi yang lebih berhak menceritakannya. Lagi pula, semua orangtua kalian juga mengetahuinya. Pasti alasan mereka tidak menceritakannya juga karena berpikir itu adalah hal yang telah lama berlalu," jawab Raisa


"Saat ingat dulu bibi Hani pernah terpaksa ikut dengan Arion karena bibi Hellen lebih dulu diculik, aku sangat khawatir Arion membawa pergi Monica yang sedang bersama denganku. Sampai akhirnya tanpa pikir panjang aku malah termakan ancamannya hingga menurut untuk ikut pergi dengannya. Maafkan tindakanku yang gegabah ini. Yang kutahu dan yang kulihat pada mimpi ajaibku, Arion telah berubah setelah penculikan bibi Hani dan bibi Hellen telah gagal. Namun, rupanya dia kembali menjadi jahat seperti dulu. Syukurlah sekarang dia sudah benar-benar berubah menjadi baik lagi," sambung Raisa mengungkapkan.


"Sudah, tidak perlu minta maaf lagi dan jangan bahas pria itu lagi," kata Rumi


"Tapi, apa Arion benar-benar telah berubah menjadi baik? Apa tidak masalah jikackita mempercayainya begitu saja tanpa memilih untuk membunuhnya?" tanya Ian


"Tidak perlu memikirkan soal itu. Lagi pula ada Naga Biru yang akan mengawasi dan memberi hukuman padanya jika dia berbuat kesalahan lagi. Karena meski pun Arion tetap menjadi tuan dari Naga Biru itu, sekarang Naga Biru itu juga merupakan sekutu dari Raisa," jawab Devan


"Dari pada itu, Raisa ... sebenarnya Alexis si pelayan setia itu seorang perempuan, kan?" tanya Chilla


"Oh, rupanya kau menyadari hal itu, ya, Chilla. Memang benar, meski Alexis memakai seragam seorang pelayan pria, sebenarnya dia adalah seorang perempuan," jelas Raisa


"Sudah kuduga. Pantas saja kesetiaannya pada Arion terlihat begitu berlebihan dan aneh. Rupanya karena Alexis adalah seorang perempuan terlebih lagi dia juga terlihat mencintai Arion," ujar Aqila


"Kau benar, Aqila," kata Raisa


"Apa maksudnya itu? Jadi, pelayan yang tadi berpakaian seperti pria itu ternyata seorang perempuan? Apa hanya aku yang tidak menyadari soal ini?" tanya Morgan


"Itu karena hanya kau yang tidak peka. Semua menyadarinya kecuali kau," kata Devan


"Apa-apaan itu? Bagaimana bisa ternyata si Alexis itu seorang perempuan padahal terlihat seperti seorang pria?" tanya Morgan

__ADS_1


"Penampilan itu bisa diubah, tapi tidak dengan takdir hidup termasuk jenis gender. Yang aku sadari dari Alexis, dia mungkin sudah sejak lama mencintai Arion, tapi karena sadar tidak bisa saling memiliki dengan yang dianggap sebagai tuannya itu makanya dia mengubah penampilannya menjadi seperti seorang pria supaya dia bisa sadar dan menipu diri sendiri bahwa dirinya tidak bisa bersatu dengan Arion. Karena antar sesama pria tidak bisa bersatu, meski sebenarnya dia adalah seorang perempuan," jelas Raisa


"Dari sini kita sudah bisa membuka portal sihir teleportasi," kata Aqila


Sejak memasuki pintu masuk rahasia ke dunia ilusi Sang Dewa, gelombang sihir untuk membuka portal teleportasi telah sengaja dirusak agar tidak ada penyusup lain yang masuk. Hingga mereka harus pergi ke tempat yang cukup jauh untuk mencari gelombang sihir pada koordinasi yang tepat agar bisa membuka portal sihir teleportasi.


Saat dirasa telah bisa menemukan titik gelombang sihir pada koordinasi yang tepat, Aqila pun menggunakan kemampuan sihir miliknya untuk membuka portal sihir teleportasi menuju ke Desa Daun. Dua burung raksasa 2 dimensi ciptaan Ian dengan kemampuan sihir miliknya yang mereka tunggangi pun memasuki portal sihir teleportasi yang telah dibuka Aqila hingga akhirnya bisa kembali ke Desa Daun di hari yang melelahkan ini.


 


 


Usai kepergian Raisa dan yang lain, Sang Dewa kembali menuju ke istana miliknya bersama sang pelayan setia.


Saat Sang Dewa bernama Arion berjalan perlahan, tiba-tiba saja ia menghentikan langkahnya hingga pelayan setianya yang bernama Alexis pun ikut berhenti melangkah.


"Ada apa, Tuan Dewa?" tanya Alexis


"Tidak ada. Hanya saja ... ternyata, jalan hidupku memang seperti ini," jawab Sang Dewa


"Jangan berkecil hati, Tuan Dewa. Suatu saat Anda pasti bisa mendapatkan yang lebih baik lagi. Wanita tidak hanya Nona Raisa saja," ucap Alexis


Sang Dewa pun berbalik menoleh pada pelayan pribadinya itu. Alexis pun langsung menundukkan pandangannya karena tak kuasa menatap wajah Tuan Dewa-nya. Alexis merendah karena merasa dirinya rendah dan tidak sederajat dengan Tuan Dewa-nya.


"Benar juga. Kalau kau berkata bahwa wanita tidak hanya Raisa saha, kau juga seorang wanita," ujar Sang Dewa


"Benar. Saya adalah pelayan Anda yang setia," kata Alexis


Tidak ada maksud apa pun dari perkataan Alexis pada Arion. Ia hanya ingin Tuan Dewa-nya tahu bahwa diririnya akan selalu setia sebagai pelayan yang mendampingi seumur hidup. Alexis sama sekali tidak berharap apa pun asalkan dirinya bisa terus bersama Arion dan Tuan Dewa-nya itu tidak membuangnya. Bagi Alexis bisa,terus berada di tempat yang sama dengan Arion saja sudah merupakan berkah terbesar di dalam hidupnya.


"Sudah lama sekali aku melupakan bahwa kau adalah seorang wanita, Alexis. Padahal kau bukan seorang pria," ucap Sang Dewa


"Al, apa kau mau menjadi setia denganku dengan cara yang lain?" tanya Sang Dewa


"Maaf. Namun, apa maksud Anda, Tuan Dewa? Maafkan saya jika saya tidak mengerti dengan apa yang Anda maksud," bingung Alexis bertanya.


"Alexis, maukah kau menikah denganku?" tanya Sang Dewa lagi.


Alexis langsung membelalakkan kedua matanya saat merasa terkejut dengan apa yang telah didengar olehnya dari mulut Tuan Dewa-nya. Namun, pada detik selanjutnya ia segera menundukkan pandangannya lagi.


Alexis sungguh tidak menyangka akan mendengar pertanyaan bagai pernyataan sebagus itu dari mulut Tuan Dewa-nya. Ia pun merasa bingung harus merespon seperti apa. Jika orang lain mungkin akan menganggap perkataan itu sebagai lelucon, tapi tentu saja Alexis tidak seperti itu.


Sebenarnya ada perasaan bahagia pada lubuk hati Alexis, tapi perasaan lain telah menghalaunya. Yaitu, perasaan tidak pantas. Alexis merasa dirinya yang rendah tidak pantas bersanding dengan Tuan Dewa-nya yang agung.


"Maaf, tapi apa saya salah dengar? Sepertinya, mungkin pendengaran saya bermasalah. Saya tidak berani, Tuan Dewa," ujar Alexis


"Apa sekarang kau sudah berani menolakku, Alexis?" tanya Sang Dewa


"Lagi-lagi, saya tidak berani, Tuan Dewa. Maafkan saya," jawab Alexis


"Aku tidak akan pernah menghukummu lagi seperti dulu, maka katakanlah pendapatmu tentang pertanyaanku tadi," ujar Sang Dewa


"Aku benar-benar tidak berani, Tuan Dewa ... dan aku sungguh merasa tidak pantas," kata Alexis


"Apa bukan karena kau merasa takut dan tidak sudi bersama denganku?" tanya Sang Dewa


"Tentu saja, tidak. Bagi saya Anda adalah orang yang mulia dan agung. Saya sangat memuja Anda," ungkap Alexis


"Lalu, bagaimana dengan perasaanmu padaku?" tanya Sang Dewa


"Sudah sangat lama saya sangat mengagumi Anda, Tuan Dewa," jujur Alexis

__ADS_1


"Pada kejadian kali ini, Raisa telah memberi tahu dan banyak menyadarkan aku bahwa sebenarnya kedudukan dan derajat setiap manusia pun sama, termasuk keturunan Dewa. Aku pun tidak sepenuhnya murni merupakan keturunan Dewa asli dan sudah tidak bisa banyak berharap lagi, terutama pada Raisa. Seperti katamu, masih banyak wanita lain," ucap Sang Dewa


"Saya akan selalu menghargai dan mendukung apa pun keputusan Anda, Tuan Dewa," kata Alexis


"Kalau begitu, aku akan mengganti perkataanku sebelumnya. Alexis, ayo menikahlah denganku," ujar Sang Dewa


"Tuan Dewa, jika Anda memberi saya kesempatan untuk mengatakan pendapat saya pribadi. Maka, saya akan mengusulkan Anda untuk memikirkan segalanya dengan baik. Anda yang seorang Dewa akan merusak citra Anda yang selama ini Anda jaga jika bersanding dengan orang seperti saya," ucap Alexis


"Memangnya siapa yang akan peduli dengan hal seperti itu? Aku pun tidak peduli. Aku selalu mendamba-dambakan hal yang berada jauh dariku, hingga aku tidak peduli dengan ada yang di sekitarku, tapi sekarang aku tidak akan seperti dulu lagi. Dulu aku selalu mengidamkan takhta Dewa Tertinggi hingga aku membunuh Ayahku yang sangat berharga, padahal harusnya aku merasa cukup telah diangkat menjadi anaknya dan tidak dibiarkan telantar dan mati begitu saja. Lalu, aku mendambakan pasangan yang sempurna, padahal diriku pun telah banyak melakukan kesalahan," ujar Sang Dewa


"Syukurlah jika Tuan Dewa telah menyadari semua perbuatan salah Anda. Sekarang Anda hanya perlu fokus untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi," kata Alexis


Selama menjadi pelayan setia Sang Dewa, Alexis merasa harus menuruti segala peringahnya meski tahu itu merupakan hal yang tidak benar. Dirinya merasa tidak pantas melarang Tuan Dewa-nya. Maka dari itu, Alexis sangat bersyukur saat Tuan Dewa-nya, Arion ingin berubah menjadi baik.


"Jadi, selama ini kau tahu banyak perbuatanku yang salah, tapi kau tidak berusaha untuk mengingatkan aku?" tanya Sang Dewa


"Saya yang hanya merupakan orang rendah ini tidak berani dan tidak pantas untuk menginterupsi segala keputusan dan tindakan Anda, Tuan Dewa. Namun, saya aku itu adalah kebodohan dan kesalahan saya. Saya mohon maaf," ucap Alexis


"Kalau begitu, selama ini bukan hanya aku yang bersalah, tapi kau juga. Kau benar saat berkata aku hanya harus fokus untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi, tapi untuk itu aku butuh bantuan. Lebih tepatnya, aku butuh seseorang untuk menemaniku yang sedang dalam proses berubah menjadi lebih baik ini dan membantu mengingatkan aku jika aku mendekati pilihan yang salah agar tidak melakukan kesalahan lagi seperti dulu. Dan orang yang tepat yang aku butuhkan adalah kau, Alexis," ujar Sang Dewa


"Karena selama ini kau terus menemaniku, kuharap kau mau dan bisa selalu menemaniku hingga selamanya nanti. Untuk itu, aku ingin kau bersanding denganku. Aku ingin kau menemaniku di sampingku dan bukan di belakangku seperti dulu. Menikahlah denganku dan kita bisa berubah bersama menjadi lebih baik lagi sebagai pasangan suami istri, bukan sebagai tuan dan pelayan. Hanya ini yang aku butuhkan saat ini hingga selamanya nanti," sambung Sang Dewa


"Tuan Dewa, aku tidak tahu harus memberi jawaban seperti apa," kata Alexis


"Al, kenapa sekarang kau jadi merasa ragu seperti ini? Apa terlalu sulit bagimu untuk memenuhi permintaanku yang saru ini? Padahal selama ini kau selalu memenuhi keingananku dengan sangat baik hingga aku bisa merasa puas. Apa sebenarnya akulah yang membuatmu ragu? Atau bagimu aku ini adalah orang yang meragukan?" tanya Sang Dewa


"Tentu, tidak, Tuan Dewa ... aku hanya tidak tahu harus berbuat seperti apa," ungkap Alexis


"Kau tidak perlu merasa bingung. Lakukanlah dengan baik seperti yang selalu kau lakukan sejak dulu, namun kini dengan kau menjadi istriku dan bukan lagi pelayanku," kata Sang Dewa


"Apa-"


"Kau tidak perlu lagi merasa ragu atau bingung. Bukankah kau selalu percaya dengan keputusan yang selama ini aku buat? Aku pun tidak pernah merasa seyakin ini. Aku yakin keputusanku kali ini sidah sangat tepat. Selama ini aku selalu mengharapkan hal yang jauh hingga membuatku lupa akan hal yang dekat, tapi aku tidak akan lagi seperti itu. Kali ini aku menyadari bahwa hal yang jauh itu bukan milikku dan aku harus menghargai hal yang berada di dekatku yang selama ini aku miliki dan yang penting bagiku. Itu adalah dirimu, Alexis. Ayo, menikah denganku!" seru Sang Dewa


"Sejak dulu saya memang tidak bisa menolak permintaan Anda, Tuan Dewa. Saya tidak bisa bilang apa pun lagi selain akan menuruti keinginan Anda itu," kata Alexis


"Tegakkan pandanganmu dan lihat aku ... " pinta Sang Dewa


Secara perlahan, Alexis pun mengangkat kepalanya untuk memandang wajah Sang Dewa.


"Cukup dengan perasaanmu dan kepercayaanmu padaku yang mampu membuatku memilihmu. Baru kali ini aku sadari bahwa sebenarnya dari dulu aku telah memilih pilihan yang tepat, yaitu dirimu. Syukurlah aku mempunyai dirimu yang selama ini berada di sisiku," ujar Sang Dewa


Sang Dewa mengulurkan satu tangannya. Mengerti dengan maksud Tuan Dewa-nya, Alexis pun menerima uluran tangan Sang Dewa dan keduanya saling bergenggaman. Lalu, Sang Dewa menarik Alexis ke dalam pelukannya.


"Terima kasih karena telah memilih saya yang seperti ini," ucap Alexis yang perlahan membalas pelukan dari Sang Dewa


"Kita akan menikah segera setelah memperbaiki kekacauan di dunia kita berdua ini. Untuk sekarang, mari kita istihatah lebih dulu di hari yang melelahkan ini," kata Sang Dewa sambil perlahan melepaskan pelukannya dengan Alexis.


"Al, aku ingin mulai sekarang kau cukup hanya memanggilku dengan nama saja," sambung Sang Dewa, Arion.


"Baiklah. Aku akan mengikuti perkataanmu ... Arion," patuh Alexis sambil tersenyum.


Keduanya pun berjalan melewati reruntuhan tanah dan batu di hari yang kacau dan melelahkan itu sambil bergenggaman tangan.


Tidak perlu ditanyakan lagi, sudah pasti perasaan Alexis saat ini sangatlah bahagia. Seolah penantiannya selama ini tidak pernah sia-sia. Perasaan cintanya terbalas sudah.


.



Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2