Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
[Season 2] 62 - Keputusan Rumi.


__ADS_3

Raisa pun menghilangkan kutukan pada tubuh Tuan Johan dengan menggunakan kemampuan sihirnya.


Tuan Johan pun harus menahan rasa es yang membekukan serta api yang membakar lehernya.


Api abadi biasanya memang tidak membuat orang lain merasa kesakitan karena rasa panas yang membakar. Itu berlaku untuk orang yang memiliki niat hati yang baik. Namun, pada kasus Tuan Johan kali ini berbeda.


Tuan Johan memang tidak memiliki niat jahat dalam hatinya karena sudah berubah menjadi orang baik. Harusnya api abadi tidak memberinya rasa panas yang membakar. Namun, tetap saja. Pada tubuhnya terdapat kutukan yang tercipta dengan niat jahat. Hal ini tidak luput dari pengaruh api abadi.


Api abadi memang tidak membakar tubuh Tuan Johan hingga lenyap. Namun, Tuan Johan merasakan rasa menyakitkan dari rasa panas yang membakar karena pengaruh api abadi yang membakar kutukan pada tubuh Tuan Johan hingga nenghilang sepenuhnya.


Tuan Johan hanya perlu menunggu sampai api abadi selesai membakar habis kutukannya. Setelah itu Tuan Johan akan lepas dari pengaruh kutukan sepenuhnya.


"Bagaimana perasaanmu saat ini, Tuan Johan?" tanya Raisa setelah api abadi benar-benar padam dengan sendirinya.


"Sekarang aku merasa sangat hangat," jawab Tuan Johan


"Apakah sudah selesai?" tanya Tuan Garry


Raisa tersenyum dan akhirnya mengangguk pelan.


"Selamat, Tuan Johan. Sekarang kutukan pada tubuhmu sudah hilang sepenuhnya. Kau sudah terbebas dari penderitaanmu selama ini," ucap Raisa


Dengan menggunakan kemampuan sihirnya, Raisa menghilangkan penjara tanah buatan agar Tuan Garry dan Rumi bisa menghampiri Tuan Johan.


Tuan Garry dan Rumi pun mendekat ke arah Tuan Johan dan Raisa.


"Hanya seperti itu cara menghilangkan kutukannya? Johan, kau hanya perlu sihir es dan api, tapi kau malah menderita begitu lama selama ini," ujar Tuan Garry merasa heran dan menyayangkan penderitaan yang selama ini dialami Tuan Johan.


"Memang hanya sihir es biasa, tapi yang tadi bukanlah sihir api. Itu adalah api sungguhan milik Burung Api Legendaris. Yaitu, api abadi yang suci dan murni," ungkap Raisa


"Jadi, maksudmu kau memiliki api abadi Burung Api Legendaris?" tanya Tuan Garry


Raisa hanya tersenyum kecil.


"Ya. Raisa membiarkan Burung Api Legendaris merasuk ke dalam dirinya. Dia menyebutnya Sang Phoenix dan namanya adalah Helio," ungkap Rumi


Tuan Garry yang baru mengetahui fakta tersebut langsung tercengang. Ia tak bisa berkata-kata. Hanya bisa merasa takjub.


"Terima kasih banyak, Raisa," ucap Tuan Johan


"Jangan sungkan padaku, Tuan Johan," kata Raisa


"Lalu, bagaimana dengan solusi tentang manfaat di balik kutukan yang kau katakan sebelumnya?" tanya Tuan Johan


"Soal itu ... aku tahu kau memanfaatkan kutukan pada tubuhmu sebelumnya untuk menyerap dan menghilangkan kutukan dari makhluk tak bersalah lainnya. Meski sekarang kau tidak memiliki kutukan itu lagi, kau masih bisa menghilangkan kutukan yang dimiliki makhluk lain seperti yang biasa kau lakukan dulu," jawab Raisa


"Aku tidak hanya menggunakan api abadi untuk menghilangkan kutukan pada tubuhmu, tapi aku juga membagi dan memasukkan api abadi itu ke dalam tubuhmu. Mulai sekarang kau tetap bisa menghilangkan kutukan pada makhluk lain menggunakan api abadi yang ada dalam dirimu," sambung Raisa menjelaskan.


"Istimewa sekali. Johan, sekarang kau memiliki kemampuan untuk menggunakan api abadi," ucap Tuan Garry


"Tuan Johan, mulai sekarang kau bisa dengan bebas menggunakan api abadi. Namun, api abadi ini hanya bisa digunakan untuk hal baik. Berhati-hatilah karena api abadi itu bisa saja lenyap dalam dirimu jika kau memiliki niat jahat, tak hanya itu kau juga bisa saja terbakar oleh api abadi hingga hangus dan mati jika memiliki niat tidak baik," ungkap Raisa


"Pengaruh api abadi itu bukankah sama saja dengan kutukan yang dimiliki Johan sebelumnya jika bisa membuatnya mati?" tanya Tuan Garry


"Tentu saja, tidak. Karena aku percaya Tuan Johan adalah orang baik," jawab Raisa


"Garry, kau bicara seperti itu ... apa itu artinya kau tidak percaya jika Johan adalah orang baik?" tanya Rumi


"Tentu saja, tidak. Maaf sudah meragukan," kata Tuan Garry


"Selamat, Raisa. Sekali lagi kau melakukan hal baik dan kau berhasil," ucap Rumi


Raisa hanya menanggapi ucapan selamat dari Rumi dengan senyuman manis.


"Apa kau merasa lelah setelah menghilangkan kutukan pada tubuh Johan?" tanya Rumi


"Tidak sama sekali," jawab Raisa sambil menggeleng dengan cepat.


Rumi merangkul dan memeluk tubuh Raisa dari samping karena merasa bangga pada gadis cantik tercintanya itu.


"Karena sudah seperti ini ... bagaimana kalau kita kembali saja ke kediaman Tuan Rommy?" tanya Raisa


"Ya, kita kembali saja. Lagi pula sudah sekitar 7 tahun tidak ada lagi makhluk lain yang terkena kutukan. Kita sudah tidak perlu lagi berada di sini," jawab Tuan Garry


"Oh, apa Tuan Johan ingin menemukan dan menghilangkan kutukan makhluk lain di sekitar sini? Kalau begitu, aku akan membantu dan menemanimu di sini," ujar Raisa


"Tidak perlu. Seperti kata Garry, sudah lama makhluk yang terkena kutukan sudah tidak ada. Jadi, kita kembali saja," ucap Tuan Johan

__ADS_1


"Lagi pula, aku tidak ingin merepotkanmu lagi lebih dari ini," sambung Tuan Johan


"Baiklah. Ayo, kita pergi dari sini," kata Raisa


Mereka berempat pun berlalu ke luar dari goa tersebut.


Bulan purnama tampak telah menghiasi langit malam. Kini Tuan Johan tidak lagi merasa menderita meski berada di malam bulan purnama karena riwayat kutukan sudah hilang sepenuhnya dari tubuhnya.


"Tuan Johan, setelah kau bertarung melawan energi dari kutukan saat kita menghilangkannya tadi ... apa kau masih sanggup bepergian jauh?" tanya Raisa


"Aku tidak apa-apa. Aku masih punya cukup tenaga," jawab Tuan Johan


Meski berkata seperti itu,Tuan Johan yang tampak merasa lemas. Raisa jadi tidak tega melihatnya.


"Aku melupakan sesuatu. Tidak perlu repot lagi. Kita kembali dengan portal sihir teleportasi saja," ucap Raisa


"Memangnya kau sendiri tidak merasa lelah setelah menghilangkan kutukan pada tubuh Johan, Raisa?" tanya Rumi


"Tidak sama sekali. Kondisiku sangat fit," jawab Raisa


Raisa pun menggunakan kemampuan sihirnya untuk membuka portal teleportasi menuju ke kediaman Tuan Rommy.


"Tuan Johan dan Tuan Garry, kalian berdua duluan saja," kata Raisa


Keduanya mengangguk.


Tuan Johan dan Tuan Garry pun lebih dulu memasuki portal sihir teleportasi.


Setelah itu, giliran Raisa dan Rumi saja. Sebelum memasuki portal sihir teleportasi, Raisa dan Rumi pun saling bergandengan tangan. Dan di langkah selanjutnya, mereka sudah berada di pekarangan kediaman Tuan Rommy.


Setelah sampai, Raisa pun menutup portal sihir teleportasi yang telah dibuka olehnya.


Tuan Garry, Tuan Johan, Rumi, dan Raisa pun masuk ke dalam kediaman Tuan Rommy.


"Kalian semua sudah kembali ... " sambut Nona Rina


"Kalian semua kembali cepat sekali," kata Logan


"Garry, pasti ada yang ingin kau laporkan pada Tuan Rommy. Aku akan pergi istirahat sendiri saja," ujar Tuan Johan


Tuan Johan pun beranjak menuju kamar tidurnya untuk beristirahat.


"Ada yang ingin Tuan Rommy bicarakan pada Raisa setelah kembali. Kita semua diminta menemuinya," ucap Nona Rina


"Kebetulan juga ada yang ingin kusampaikan pada Tuan Rommy," kata Tuan Garry


"Kalau begitu, kita semua langsung temui Ayah saja," ujar Logan


"Baiklah," kata Raisa


Kecuali Tuan Johan, mereka semua pun beranjak menemui Tuan Rommy di ruangan pribadinya.


Nona Rina yang pertama membuka pintu dan masuk me dalam ruangan pribadi Tuan Rommy.


"Tuan Rommy, mereka semua sudah kembali. Namun, Johan langsung istirahat di dalam kamarnya," lapor Nona Rina


"Biarkan saja Johan istirahat. Biarkan yang lainnya masuk," kata Tuan Rommy


Mereka pun melangkah masuk ke dalam ruang pribadi Tuan Rommy.


"Kudengar dari Bibi Rina, Paman ingin bicara denganku?" tanya Raisa


"Benar. Tapi, sebelum itu biarkan Garry mengatakan sesuatu yang ingin dia sampaikan padaku," jawab Tuan Rommy


Raisa pun mengangguk tanda mengerti.


"Saat ada banyak orang, aku jadi bingung ingin bicara apa," gugup Tuan Garry sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Baiklah, begini. Aku hanya ingin menyampaikan Johan sudah terbebas sepenuhnya dari kutukan yang Anda ciptakan," sambung Tuan Garry mengungkapkan.


"Apa kau melihat langsung saat Raisa menghilangkan kutukan pada tubuh Johan?" tanya Tuan Rommy


"Ya. Aku dan bahkan juga Rumi ada di sana dan melihat langsung Raisa menghilangkan kutukan pada tubuh Johan," ungkap Tuan Garry


Rumi pun menggangguk kecil untuk membenarkan pernyataan Tuan Garry.


"Kutukan yang kuciptakan harusnya terikat dengan kehidupan orang yang memilikinya, tapi ... ternyata, Raisa bisa mematahkan dan menghilangkan kutukan itu sepenuhnya," ucap Tuan Rommy

__ADS_1


"Aku jadi penasaran. Sebenarnya bagaimana caramu menghilangkan kutukan itu, Raisa?" tanya Logan


"Dengan menggunakan sihir dan ada sedikit bantuan," jawab Raisa


"Bantuan ... " gumam Logan


Logan yang bertanya-tanya langsung menatap ke arah Tuan Garry. Namun, yang ditatapnya malah diam membisu. Tuan Garry tidak bisa berkata-kata untuk menjelaskan karena dirinya sendiri masih kurang percaya bahwa Raisa memiliki Burung Api Legendaris bahkan bisa dengan bebas menggunakan api abadi yang suci dan murni.


"Raisa pun sudah turun tangan langsung dalam hal ini. Rumi, apa kau masih ingin terus mempertahankan kutukan pada tubuhmu? Apa kau tidak menginginkan bantuan Raisa untuk menghilangkan kutukanmu juga?" tanya Tuan Rommy


"Eh ... kutukan pada tubuh Rumi masih belum dihilangkan?" tanya Tuan Garry


Tuan Garry mengira saat Raisa dan Rumi datang untuk menghilangkan kutukan pada tubuh Tuan Johan sebelumnya, kutukan pada tubuh Rumi pun telah lebih dulu dihilangkan. Ternyata, tidak.


Dilihat, Rumi tampak berpikir sebelum menjawab pertanyaan dari Tuan Rommy.


"Raisa, bagaimana menurut pendapatmu soal ini?" tanya Tuan Rommy beralih pada Raisa.


"Soal kutukan pada tubuh Rumi, aku pun ingin membantunya untuk menghilangkannya karena ... maaf, aku mengatakan ini. Aku tidak ingin ada orang yang merasa menderita, terlebih lagi jika itu adalah Rumi," jawab Raisa


"Namun, aku tetap memerlukan izin dari Rumi dan Paman Rommy. Karena meski berharap tidak ada yang menderita karena kutukan, aku juga tidak ingin memaksakan bantuanku pada orang lain. Seolah itu bukan bantuan melainkan pemaksaan," sambung Raisa


Mempertahankan kutukan pada tubuhnya adalah pilihan Rumi sendiri. Karena ia ingin patuh dan tidak ingin melanggar aturan. Jika Rumi tetap menginginkan jalan hidupnya seperti itu, Raisa tidak bisa berbuat apa-apa atau memaksa kehendaknya pada Rumi. Namun, Raisa memang berharap Rumi akan sadar dengan sendirinya bahwa tidak akan jadi masalah pada jalan hidupnya meski tanpa kutukan pada tubuhnya. Karena Raisa percaya bahwa Rumi akan selalu patuh dan tidak akan ingkar.


Raisa mengerti bahwa Rumi yang mempertahankan kutukan pada tubuhnya adalah sebagai bentuk kepatuhannya yang sangat ia jaga. Seperti sebuah janji yang tidak akan ia ingkari.


"Sebagai penciptanya aku memberi izin kutukan itu dihilangkan. Sekarang hanya tinggal keputusan Rumi. Apa kau ingin menghilangkan kutukan pada tubuhmu atau tidak?" tanya Tuan Rommy


"Ya. Aku ingin Raisa menghilangkan kutukan pada tubuhku," jawab Rumi


Raisa langsung menoleh dan menatap ke arah Rumi yang ada di sampingnya.


"Apa kau yakin?" tanya Raisa


"Ya, aku yakin. Karena aku percaya padamu seperti kau percaya padaku. Ini juga demi dirimu, Raisa." Rumi menjawab sambil kembali menggenggam tangan Raisa yang sempat terlepas.


Dengan satu tangannya yang digenggam oleh Rumi, Raisa menggunakan satu tangan lainnya untuk memukul dada lelaki tampan di sampingnya itu dengan keras.


Rumi tampak meringis menahan rasa sakit di dadanya akibat pukulan dari Raisa.


Orang-orang di sana cukup terkejut saat melihat Raisa memukul Rumi tanpa ragu.


"Jangan bicara dan memutuskannya demi aku seolah kau hanya memikirkan kebahagiaanku. Aku tidak ingin seperti itu. Ini menyangkut tubuh dan hidupmu. Putuskan dan bicaralah demi kebahagiaan dirimu sendiri," ucap Raisa


"Bicaramu tidak hanya membuatku sedih saja, tapi juga kecewa," sambung Raisa


"Aku memutuskan demi kebahagiaan kita berdua. Aku bersungguh-sungguh," kata Rumi dengan serius.


Setelah berkata seperti itu, Rumi langsung menarik tangan Raisa yang ia genggam dan mengecupnya singkat.


Kedua mata Raisa langsung membola. Namun, wajahnya langsung merona. Ia langsung memberi satu pukulan lagi pada dada Rumi. Namun, dengan sigap Rumi menangkap tangan Raisa sebelum benar-benar memukul dadanya. Kini Rumi menggenggam kedua-dua tangan Raisa.


"Jangan pukul lagi, Sayang. Aku kesakitan," rengek Rumi


Wajah Raisa langsung jadi merah padam saking merasa malu.


"Jangan macam-macam di depan banyak orang. Kau sungguh membuatku kesal. Lepaskan tanganku," pekik Raiaa yang langsung menarik kedua tangannya dari genggaman Rumi hingga lepas.


Raisa pun langsung berbalik badan membelakangi Rumi dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya karena merasa sangat malu.


..."Rasanya aku ingin bersembunyi di tempat yang sangat jauh, tapi aku tidak sanggup melakukan apa pun lagi saking malunya," batin Raisa...


"Jangan marah, Raisa Sayang ... " bujuk Rumi dengan nada mesra.


"DIAM!" teriak Raisa masih dalam keadaan menutup wajahnya dengan kedua tangan.


Semua yang berada di sana dan menyaksikan langsung merasa tidak percaya. Rumi mampu berkata-kata romantis, merengek, bahkan membujuk dengan bicara mesra. Sungguh seperti bukan Rumi saja.


Melihat sikap Rumi yang berubah sangat drastis, ada yang terkekeh pelan menahan tawa, bergidik ngeri, merinding hingga merasa mual, dan juga ikut tersipu malu.


Benar-benar pemandangan dan momen yang sangat langka.


.



Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2