
Akhirnya, Raisa membiarkan Rumi memeluknya dari samping. Raisa berdalih, mengatakan, dirinya akan merepotkan Rumi untuk melakukan hal seperti itu. Tapi, Rumi tidak keberatan.
Rumi bahkan mengatakan, dirinya yang akan mewakili yang lainnya untuk menjaga Raisa.
Oh, tidak!
Timbul rona kemerahan pada pipi di wajah Raisa~
Segera, Raisa tutupi kedua pipinya dengan telapak tangannya. Berdalih, jika dirinya masih kedinginan. Dalam hatinya, ia terus merutuki dirinya sendiri saat menyadari jantungnya kembali berdebar tak karuan...
...'Kumohon, Rumi ... berhentilah mengeluarkan kata-kata manis yang membuatku salah paham. Sebenarnya, darimana dan dari siapa kau belajar untuk berkata-kata sedemikian manisnya? Membuat orang salah tingkah! Oh, ya ampun ... semoga tak ada yang mendengar suara detak jantungku yang begitu kencang ini. Dan, semoga saja gelapnya malam dapat membuat yang lain tidak menyadari perubahan warna pada pipiku,' batin Raisa...
Raisa melihat sekekiling melalui ekor matanya. Semua pandangan tertuju padanya dan sosok lelaki di sampingnga yang memeluknya. Seakan mereka meminta penjelasan atas kelakuan dua insan yang mereka lihat ini.
"Ah, aku belum selesai dengan ceritaku! Bukan itu saja, masih ada lagi! Yang bisa dilakukan sihirku," kata Raisa yang memecah rasa penasaran yang lainnya agar tidak terpaku dengannya dan Rumi yang terlihat mesra saat ini.
"Ada kemampuan lain? Lalu, sihir apa lagi yang bisa kau lalukan?" tanya Morgan dengan sangat keponya.
"Yang kusebutkan sebelumnya hanya sihir dasar yang kukuasai. Sihirku memiliki tingkatannya. Bagaimana, ya? Petir, contohnya! Jika, di dunia kalian petir adalah unsur sihir yang berbeda dari yang lain. Bagiku unsur sihir petir adalah tingkat lanjutnya dari sihir api. Saat aku telah menguasai sihir api, saat emosiku meledak di waktu latihan, tiba-tiba saja aku menguasai sihir petir ini. Makanya, menurutku petir adalah sihir unsur tingkat lanjutan dari unsur api. Petir juga bisa nenimbulkan api. Bukankah, begitu? Kalian mengerti maksudku, kan? Lanjut! Lalu, juga es! Entah bagaimana jika di dunia kalian, bagiku sihir es adalah unsur tingkat lanjutan dari sihir air, yaitu teknik membekukan air. Dan, lava! Aku juga menguasai sihir ini. Lava adalah sihir tingkat lanjut dan penggabungan antara sihir tanah dan api," ungkap Raisa
"Itu sihir tingkat lanjut. Aku juga menguasai sihir lainnya. Apalagi ya? Sihir tetumbuhan. Mungkin ini juga sihir tingkat lanjut, entahlah. Yang pasti, aku bisa menumbuhkan tumbuhan jika ada media tanah. Aku juga bisa menyuburkan tanaman yang layu dengan sihir ini. Tapi, aku masih belum terlalu menguasai sihir ini. Lalu, ini adalah sihir yang cukup berbahaya. Aku menganggap sihir ini terlarang, tapi aku malah sering menggunakannya saat terdesak. Ini juga sihir tingkat lanjut dari sihir air. Mengendalikan darah! Jika, sebelumnya kalian terheran dengan tingkah dan pergerakan lawan yang aneh saat bersamaku. Saat itu, aku mengendalikan darah mereka. Membuat mereka sulit bergerak tak berkutik. Tapi, aku tidak pernah melakukannya pada kalian kok. Terakhir, mengendalikan senjata! Sihir ini ada kelemahannya. Tapi, aku tidak akan memberitaukan tentang kelemahan sihir ini. Aku sudah mengungkapkan semua sihir pamungkasku, jadi aku akan merahasiakan kelemahan sihir yang satu ini. Toh, lama kelamaan kalian juga akan tau suatu saat nanti," cerita Raisa menjelaskan.
Semua terperangah mendengar apa yang Raisa ungkapkan. Banyak sekali sihir-sihir yang Raisa kuasai. Sampai mereka bingung harus memberi respon seperti apa.
"Mengendalikan darah?! Ini berbahaya, pantas saja kau bilang ini sihir terlarang! Bagaimana kau bisa melakukannya? Kapan dan siapa saja yang pernah kau kendalikan darahnya?" tanya Devan
Raisa nampak berusaha untuk mengingat-ingat.
"Hmm ... pertama kali aku melakukannya secara tanpa sadar. Aku tidak mengingat jelas di mana, tapi tentu saja di duniaku ini. Saat itu aku sedang tersesat dan entah situasi apa saat itu, aku dikepung oleh 3 ekor anjing. Anjing-anjing itu terlihat liar dan sangat galak, saat itu aku tersudutkan. Aku berusaha mengusir mereka dengan mengibas-ngibaskan tanganku, dari kejauhan, tentunya. Dan, tiba-tiba saja ketiga ekor anjing itu bergerak dengan aneh dan tidak jelas. Aku mulai menyadarinya saat kugerakkan tanganku ke sana ke mari, anjing-anjing itu mengikuti arah gerak tanganku! Begitulah, saat aku terdesak, aku menemukan diriku bisa menggunakan sihir tersebut. Ingat, saat kita semua dikepung musuh saat di dimensi asing? Aku menjebak mereka dengan beberapa perangkap sihir. Sesaat sebelum itu, aku menggunakan teknik sihir ini dengan mereka supaya mereka bisa tepat masuk perangkap sihirku. Lalu, saat melawan Sang Dewa. Tepat sebelum aku menghunuskan bongkahan es tajam ke jantungnya aku menggunakan sihir ini padanya agar es itu tepat tertancang di jantungnya tanpa dia bisa menghindar dan juga sesaat setelahnya. Aku mencairkan es itu agar melebur merasuki jantungnya lalu aku gunakan sihir pengendali darah agar es yang berhasil masuk ke dalam jantungnya dengan cepat menjalar ke seluruh tubuhnya melalui saluran darah dari jantungnya itu. Makanya, setelah itu tubuhnya membeku lalu berhasil dihancurkan sampai berkeping-keping oleh Nyonya Tanaya dengan teknik pukulan mautnya. Kemudian, saat beberapa hari lalu itu! Beberapa dari kalian menyaksikan sendiri saat aku memblokir tenaga sihir orang yang berbuat onar di duniaku. Dengan adanya kemampuan sihir pengendali darah ini, mempermudahku untuk melakukan pemblokiran tenaga sihir. Seperti Bibi Hani, Ibu Morgan, yang bisa memblokir tenaga sihir dengan pemukulan titik vital, kemampuan pengandali darahku ini hampir sama kegunaannya dengan kempampuan Bibi Hani itu. Sihir ini mempermudahku nenemukan titik vital saat merasakan aliran darah lawan dan saat itu juga aku menekannya sampai memblokir tenaganya," yngkap Raisa menjawab
"Walaupun termasuk berbahaya, sihir itu mempermudah untuk mengalahkan lawan," ujar Ian
"Kemampuan ini memiliki persamaan seperti tahap pertama latihanmu menggunakan sihir pengendali pikiran, Ian. Seolah merasuki lawan dan mengendalikan pikirannya untuk mengikuti arahanmu melakukan pergerakan apapun. Atau, seperti teknik sihir Paman Devan, Tuan Rovan! Sihir pengendali boneka~ Apa ada dari kalian berdua atau kalian semua merasakan sihir pengendali darah milikku? Tidak akan terlalu sakit kok, rasanya seperti dicekik atau dicengkram dengan kuat," ucap Raisa
Semua pun bergidik ngeri mendengar ucapan Raisa yang disertai senyum miringnya itu~
__ADS_1
Tentu, Raisa hanya bergurau.
"Hih~ Tidak, terima kasih," cepat Ian menjawab.
"Kau bahkan tau tentang Pamanku? Tau darimana kau jika seperti itu rasanya? Kau, kan, hanya pernah mengendalikan tanpa pernah sebaliknya?" tanya Devan
"Aku memang tau dan pernah merasakannya. Setelah pertana kali mengendalikan darah ketiga anjing waktu dulu, aku pernah ingin mencobanya lagi. Tapi, terus berulang kali gagal. Aku sangat penasaran! Suatu kali, aku mencoba fokus agar bisa melakukan sihir itu lagi. Aku coba membayangkan saat pertama kali melakukannya dengan tiga ekor anjing saat itu atau teori-teori lain yang memungkinkan aku bisa menggunakan sihir itu lagi. Alhasil, sihir itu malah menyerang balik padaku. Aku malah terjerat dengan mengendalikan darahku sendiri! Tak tanggung-tanggung, aku malah menghentikan aliran darah ke jantung! Membuatku sesaat kehabisan nafas. Aku hampir saja mati oleh percobaan sihirku sendiri. Sungguh mengerikan! Sampai sekarang masih kuingat jelas bagaimana rasanya. Makanya, aku tak pernah melakukan sihir ini ke sembarang orang dan hanya saat aku terdesak saja. Benar-benar berbahaya! Makanya, bagiku ini adalah sihir terlarang," jelas Raisa menjawab.
"Aku bahkan tak mau membayangkannya! Tapi, Raisa, semua kemampuanmu bukankah sangat mempermudahmu? Kau seperti sosok yang didamba untuk bisa menjadi sepertimu atau memiliki kemampuan seperti dirimu," ujar Amy
Raisa tersenyum sendu. Terasa sangat miris melihatnya.
"Kau berpikir seperti itu? Aku jadi tersanjung. Terima kasih. Tapi, apa kalian tau? Seperti kata pepatah, semakin banyak kemampuan yang dimiliki, maka semakin banyak pula beban yang ditanggung. Bagiku tanggung jawab memiliki semua kemampuan sihir sangatlah besar. Bukannya aku ingin mengulang-ngulang kata-kataku. Tapi, seperti yang kubilang, sihirku adalah berasal dari kekuatan yang murni. Maka, niatku pun harus sama murninya. Saat aku berniat buruk sedikit saja saat menggunakan sihir apalagi yang membahayakan orang lain, maka ada timbal baliknya. Balasan yang setimpal! Aku pernah sekali jatuh pingsan tak sadarkan diri selama sehari penuh bahkan lebih juga dengan rasa sakit saat aku mencoba mencelakai seseorang dengan sihirku. Setelah itu, aku tersadar. Bahwa kemampuan milikku ini bukan main-main melainkan anugerah yang harus dijaga dengan baik, seperti itulah. Kemampuanku pun belum seberapa sampai pantas mendapat pujian, tidak pantas dikatakan hebat juga," ucap Raisa
"Kenapa, begitu? Kau jangan pesimis, Raisa! Dengan semua kemampuanmu itu, bagaimana bisa kau merasa tidak pantas? Kau sangat hebat," kata Wanda
"Hahaha. Aku tidaklah sehebat itu. Aku sering kali lalai, lengah... Aku telah merasa dinyamankan dengan situasi duniaku yang selalu dan telah lama damai dan tenang. Aku lengah dengan semua kedamaian ini sampai tidak menyadari seseorang dari dimensi lain telah masuk ke dalam duniaku. Ini tentang kejadian beberapa waktu lalu yang juga pertama kali kalian datang ke sini... Instingku, firasatku masih belum kuat untuk merasakan dan menyadari situasi gawat seperti saat itu. Aku lalai membiarkan seseorang mengacaukan duniaku. Sesaat aku merasa tidak berguna, tidak becus! Merasa tidak berdaya... Sampai akhirnya, bantuan datang... Aku sangat berterima kasih dengan kedatangan kalian saat itu. Karena kalian, untunglah aku bisa mengatasi situasi buruk saat itu. Berkat bantuan kalian," ungkap Raisa
Sembari menyelesaikan ucapannya, Raisa bergerak menjauh melepaskan pelukan Rumi dari tubuhnya.
Raisa menoleh dan tersenyum tipis ke arah Rumi~
"Sudah cukup, aku sudah kembali menghangat. Terima kasih. Kau baik sekali, Rumi," ujar Raisa dengan suara pelan yang hanya Rumi yang mendengarnya.
Rumi pun menatap Raisa dengan tatapan yang sulit diartikan. Namun, Raisa bisa sedikit merasakan perasaan dorongan penuh semangat dari tatapan yang Rumi berikan itu~
"Raisa, kau jangan sungkan denganku, dengan kami semua, atau apalagi dengan dirimu sendiri. Kau tidak perlu merendah diri... Kau sudah sangat hebat dengan dirimu sekarang dan dengan apa yang kau miliki. Yang terpenting kau sudah punya keberanian dan tekad! Kau juga memiliki kami semua sebagai temanmu. Jangan memendam semuanya sendiri dan berpikir seolah semua adalah tanggung jawabmu. Karena kami semua ada untuk membantumu, saling berbagi beban masing-masing. Dan, kau yang bercerita seperti tadi itu adalah suatu langkah pertama yang baik. Bukankah kau sudah merasa sedikit lega sekarang ... " ucap Rumi
"Rumi, benar! Kau yang seperti ini hebat sekali lho, Raisa. Bayangkan saja ... mengingat, kau berada di lingkungan yang kau adalah satu-satunya yang memiliki kemampuan sihir, berlatih dan mengembangkan semua kemampuan itu sendiri. Itu adalah pencapaian yang luar biasa! Kau sangat hebat! Lihat, kami semua. Masing-masing dari kami baru bisa menjadi seperti sekarang setelah berlatih keras bertahun-tahun lamanya dengan adanya bimbingan guru-guru kami. Tapi, kau tidak! Kau hanya sendiri dan hanya membutuhkan waktu 2 tahun saja untuk bisa sehebat ini? Jika, kami tidak bertemu dan mendengar ceritanya langsung darimu, kami tentu takkan percaya adanya sosok yang sepertimu ini. Kau mengagumkan," ungkap Aqila
Raisa terkekeh kecil mendengar pujian dari Rumi dan Aqila yang berusaha menghibur dirinya...
"Jika, mendengar apa yang kalian katakan memang ada benarnya. Tapi, rasa ini aku sendiri yang merasakannya. Masing-masing dari kalian pasti juga sudah pernah merasakan perasaan ketidakberdayaan ini. Bagaimana rasanya? Tentunya, sangatlah berat dan membuat hati kesal!! Hah!~" Raisa benar-benar meluapkan emosinya di akhir kalimat pada ucapannya.
Emosi yang Raisa luapkan bersama di akhir ucapannya membuatnya menumpahkan sihir ke luar bersama uneg-unegnya. Raisa lagi-lagi memperbesar kobaran api unggun di hadapannya dengan sihirnya hingga mencapai 5 kaki tingginya dari permukaan tanah!
__ADS_1
Raisa yang tak menyangka akan terjadinya hal seperti itu, dengan spontanitas membuat pagar es dengan sihirnya tepat di sekeliling teman-temannya yang berhadapan langsung dengan api unggun di hadapan mereka. Untunglah api itu hanya berkobar ke atas tanpa menyebar ke sekeliling.
Semua pun tetap aman terkendali~
AHH!!
Walaupun begitu, tetap ada yang berteriak histeris karena ketakutan akibat emosi Raisa yang meluap dengan sihir apinya yang ikut membludak ke luar~
Saat api itu kembali pada kobaran normal seperti semula, sihir pemagar es pun ikut dilenyapkan oleh Raisa.
"Oh, tidak! Maaf! Aku tidak sengaja. Apa kalian ada yang terluka karena terkena semburan api itu? Aku benar-benar minta maaf, sungguh-sungguh tidak sengaja. Aku menyesal. Maafkan aku," ucap Raisa
"Tidak ada dari kami semua yang terluka," ujar Marcel
"Meskipun, begitu ... tenangkanlah dirimu, Raisa," kata Dennis
"Kami baik-baik saja. Kau juga kan sudah mendirikan pagar es agar kami terhindar dari apimu tadi. Walau, api tadi pun tidak menghampiri kami. Walaupun emosi, refleksmu masih bagus, Raisa," ucap Sanari
"Menakutkan," gumam Amy yang gemetar ketakutan.
"Walau tidak ada yang terluka, maaf telah menakuti dan membuat kalian terkejut," sesal Raisa
"Bisakah lupakan saja emosiku yang meluap tadi? Apa aku masih boleh melanjutkan ceritaku?" tanya Raisa dengan hati-hati.
Sebenarnya, Raisa masih merasa tak enak akan perbuatannya yang meluapkan emosinya. Namun, ia tak mau suasana menjadi canggung. Jadi, ia berusaha mengalihkan ke pembicaraan lain.
"Memang masih ada hal lain yang belum kau ceritakan? Apalagi yang mau kau ungkapkan? Tentang sihirmu lagi?" tanya Chilla
"Benar. Masih seputar tentang sihir yang kukuasai. Dengan, Chilla, yang bertanya. Maka, kuanggap kalian juga mengizinkan aku melanjutkan bercerita lagi," jawab Raisa yang mulai bersiap bercerita lagi.
.
•
Bersambung...
__ADS_1