Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
88 - Dimabuk Asmara.


__ADS_3

Tidur bersama berdua dengan Rumi? Kacau sudah pikirannya! Bukan hanya dilarang tapi juga tidak pantas! Untung tidak terjadi apa-apa saat itu...


Namun, jika diingat-ingat kembali... Malu sekali rasanya! Bahkan Raisa tak bisa menatap Rumi saat ini. Ia menundukkan wajahnya guna menyembunyikan rona merah pada pipinya. Mengingat saat itu ia mengatakan mendapat sebuah mimpi indah dan berharap ingin mimpi yang serupa terjadi kembali. Mendengar perkataannya itulah membuat Rumi mengartikan sendiri keinginan Raisa yang membuatnya sampai menyelinap untuk tidur bersama, berdua! Memalukan sekali!


Dalam tunduknya, Raisa sampai menutupi wajahnya dengan kedua tangannya saking merasa malu dirinya! Jika, dipikir lagi tindakannya mengatakan semua hal itu rasanya bodoh sekali! Sekarang ia bahkan merasa malu memperlihatkan wajahnya itu...


..."Bagaimana ini? Aku tidak berani mengangkat dan menunjukkan wajahku. Ah, malu sekali! Rasanya ingin membenamkan diri ke dalam tanah saja!" Batin Raisa yang menyesali perbuatan melalukannya di waktu yang sudah lalu....


Sementara Raisa yang sedang tertunduk malu, Rumi masih tak menyangka saat-saat seperti ini terjadi. Ternyata, Raisa juga menyukai dirinya. Perasaannya terbalaskan! Tak hanya itu, ia bahkan mendapat kecupan di pipi dari Raisa. Membuat hatinya terus berbunga-bunga seolah terbang tinggi ke angkasa~ Rumi juga masih terus memegangi pipinya yang dicium Raisa... Perasaan di saat-saat seperti ini takkan mungkin terlupakan!


Rumi pun menoleh dan mendapati Raisa sedang tertunduk menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Padahal Rumi ingin melihat wajah cantiknya...


Jantungnya pun berdebar tak karuan, sangat tak menentu~


"Mungkinkah Raisa juga merasakan hal yang sama seperti yang kurasakan saat ini? Rasanya mendebarkan sekali!" Batin Rumi yang semakin merasakan perasaannya, semakin ia ingin berbuat lebih.


"Di saat seperti ini, bukankah sayang jika hanya mendapat ciuman di pipi?" Gumam pelan Rumi


Tangan Rumi terulur untuk menarik dagu Raisa agar dapat mengangkat pandangannya supaya saling menatap. Tapi, Raisa masih enggan menunjukkan wajahnya dan masih bersembunyi di balik tutupan kedua telapak tangannya...


"Raisa, lihat aku! Tunjukkan wajahmu, aku ingin melihatnya..." Ucap Rumi


"Hei, apa maksud ucapanmu tadi?" Tanya Raisa yang menanyakan maksud hal yang disayangkan oleh Rumi dan bersuara dengan masih menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


"Aku ingin melihat wajahmu, Raisa..." Kata Rumi


"Bukan yang itu! Tidak tahu, ah! Aku malu!" Seru Raisa malu-malu.


"Untuk apa kau malu denganku? Ayo, perlihatkan wajahmu!" Ujar Rumi


Karena Raisa yang terus enggan menunjukan wajahnya, akhirnya Rumi nenggunakan satu tangannya yang lain untuk menyingkirkan kedua tangan Raisa yang menutupi wajah cantiknya. Raisa tak bisa menahan tangan besar lelaki pujaan hatinya itu. Namun, ia pun menutup kedua matanya karena tak mampu menatap Rumi langsung...


"Bukalah matamu~" Pinta Rumi


"Tidak mau!" Enggan Raisa menolak.


Tak kehabisan akal, Rumi pun mendekatkan wajahnya pada wajah Raisa sampai pada di telinga gadis pujaannya...


"Raisa..." Panggil Rumi berbisik lembut seraya menghembuskan nafas di telinga Raisa.


Bisikan suara Rumi yang sangat lembut di telinganya, membuat Raisa bergidik geli karena Rumi juga menghembuskan nafasnya di sana. Raisa pun membuka kedua matanya secara perlahan...


"Apa-apaan sih kau ini, Rumi?!" Protes Raisa


Nafas Raisa tercekat saat membuka kedua matanya... Ia melihat wajah tampan lelaki pujaan hatinya sangat dekat tepat di depan wajahnya!


"Aku pernah berkata, takkan pernah melakukan ini tanpa izinmu. Jadi, aku akan bertanya... Bolehkah aku menciummu sekarang, Raisa?" Ujar Rumi bertanya.


Dunia Raisa terasa teralihkan saat melihat wajah tampan Rumi, seakan tuli sehingga membuatnya tidak dapat terkoneksi dengan pertanyaan yang diajukan padanya. Raisa sama sekali tak dapat mendengar perkataan Rumi barusan yang sedang meminta persetujuannya itu...


"Apa??" Linglung Raisa bertanya.


Raisa yang tak sampai mampu mendengar apa yang dikatakan Rumi, hanya diam tanpa menjawab pertanyaan dari lelaki yang sangat dekat wajahnya itu. Ia pun terus terdiam tanpa membuat reaksi atau ekspresi apa pun...


Rumi yang terus menatap wajah Raisa merasa gadisnya itu terlihat sangat imut! Selain itu, karena Raisa terus diam tanpa menjawab pertanyaannya, ia mengartikan bahwa sudah mendapatkan persetujuan atas perbuatan yang akan dilakukannya...


"Karena kau hanya diam, kuanggap kau menjawab, 'iya'." Anggap Rumi


Rumi pun mulai lebih mendekatkan wajahnya pada wajah Raisa secara perlahan...

__ADS_1


"Memangnya, apa yang kau katakan?" Bingung Raisa karena tak mendengar perkataan Rumi sebelumnya.


"Meminta persetujuanmu dan kau telah menyetujuinya!" Kata Rumi


Begitulah yang sering didengar dan dilihatnya. Saat seorang diam, maka sudah mendapat jawaban 'iya' dari orang tersebut. Itulah yang Rumi tahu...


Rumi terus mendekatkan wajahnya. Dan mata Raisa seakan terkunci dengan tatapan mata Rumi. Raisa merasa heran karena Rumi terus mendekat pada wajahnya, ia pun mulai merasa gugup!


"Hei, Rumi! Berhentilah mendekatiku! Kau mau melakukan ap-... Hhmmp!"


Kali ini, Rumi-lah yang seakan tuli dan tak dapat mendengar ucapan Raisa membuatnya tak berhenti mendekatkan wajahnya dan terus mendekat sampai... Bibirnya bertemu dengan bibir milik Raisa! Saling menempel, bersatu padu!~


CUPSS!~


Seakan tersihir, Raisa hanya diam diperlakukan demikian oleh Rumi...


Rumi pun mengulurkan tangannya untuk meraih leher Raisa dan menekan tengkuknya, mencegah agar pagutannya tak sampai terlepas.


Berawal dari kecupan, ******* kecil, sampai hisapan, hingga menjadi ciuman hangat ala sepasang insan yang baru menyatakan bahwa keduanya saling menyukai.


Raisa terdiam, memperhatikan wajah tampan Rumi yang asik dengan permainan pada bibirnya yang juga mulai meminta aksen ke dalam mulutnya...


Rumi pun menekan tengkuk Raisa saat sudah dipersilahkan untuk mendapat aksen masuk ke dalam mulut gadisnya. Raisa pun mulai memejamkan matanya menikmati perbuatan lelakinya, ia sampai meremas pakaian di bagian dada Rumi.


Keduanya seakan sedang dimabuk asmara yang menggelora~


Mereka berdua seolah terbuai oleh perasaan yang sama. Di dalam permainannya, lidah mereka saling menari seolah mempersembahkan perasaan kasih. Keduanya bahkan bertukar nafas saling menguatkan dalam permainan yang memabukkan itu...


Sampai dirasa telah kehabisan nafas, mereka berdua pun mengakhiri permainan yang membuat mabuk itu. Lihatlah, wajah mereka berdua yang sama-sama memerah karena kehabisan pasokan udara.


Saat ciuman berakhir, Raisa dan Rumi sibuk mengatur nafas dengan menghirup banyak-banyak udara di sekitar. Mereka berdua pun merasa lemas sampai menjatuhkan diri di atas hamparan rumput taman kecil itu.


"Hmmm...Terima kasih, Raisa!" Ucap Rumi


"Buat apa... Terima kasih, apanya!?" Kata Raisa yang masih merasa malu-malu.


"Tapi, aku sudah menanyakannya padamu. Kau hanya diam, kuanggap saja kau setuju. Kau juga tidak menolakku." Jelas Rumi


..."Dari mana dia mempelajari bahwa diamnya seseorang bisa dianggap persetujuan?" Batin Raisa bertanya-tanya....


"Benar, aku tidak menolakmu. Aku diam karena aku tidak mendengarmu... Tapi, kau juga tidak mendengarku yang memintamu untuk berhenti!" Ucap Raisa yang jelas masih merasa malu.


"Ya, sangat sayang saja jika dihentikan. Jangan marah ya, Raisa..." Ujar Rumi


"Sudahlah, aku tidak marah." Kata Raisa


"Jadi, sikapmu ini karena malu-malu denganku ya?" Tanya Rumi


..."Sudah tahu begitu! Tidak usah dipertanyakan lagi, dong! Memang dasar, lelaki!" Batin Raisa...


"Sudahlah... Jangan dibahas lagi!" Malu Raisa


Rumi tersenyum melihat sikap malu-malu Raisa yang menurutnya menggemaskan sekali itu! Melihat Raisa menahan senyumnya karena malu membuatnya ingin mencubit pipi atau hidung Raisa. Tapi itu hanya keinginan kosong belaka karena ia takut Raisa yang malu-malu seperti ini malah benar-benar marah padanya.


"Aku benar-benar tak menyangka hari seperti ini akan terjadi dan mendatangiku. Tak hanya kau yang menerima perasaanku, tapi kau juga mempunyai perasaan yang sama denganku. Padahal sebelumnya kau terus menghindariku..." Ujar Rumi


"Maaf, soal itu. Aku hanya-"


Raisa tak mampu menjelaskannya...

__ADS_1


..."Aku tidak bisa memberitahukannya padamu. Alasanku yang merasa tidak pantas hanyalah sebagian kecil dari alasanku yang sebenarnya. Yang benar-benar aku cemaskan adalah kita harus berpisah suatu saat nanti karena dunia tempat tinggal kita berbeda, aku takut saat itu kita tidak bisa menahan rasa sakit hati yang kita rasakan. Persetan dengan perasaanku, aku lebih takut sesuatu terjadi padamu saat kau merasakan peraaaan terluka itu. Tapi, kuharap keputusan yang kuambil ini bukan hanya keegoisanku saja. Aku berharap, kita benar-benar bahagia menjalaninya dan bisa bersatu suatu saat nanti. Kali ini aku akan benar-benar menjalaninya denganmu, melewati semua hal dan hari-hari bersama. Berdua denganmu, Rumi!" Batin Raisa...


Rumi tidak mempermasalahkan saat Raisa tak bisa menjelaskan permasalahan itu padanya. Yang terpenting ia benar-benar merasa bahagia saat ini!


"Aku benar-benar tidak bisa jika tidak bersamamu, Raisa. Aku tak suka saat kau dekat bersama dengan lelaki lain. Baik itu Dennis atau lelaki yang tadi pagi kau temui itu! Kau hanya boleh dekat denganku!" Ungkap Rumi


"Ternyata benar! Kau cemburu, rupanya! Tapi, kau tidak boleh sampai posesif juga, apa lagi bersikap over-protektif! Aku akan tidak suka jika itu sampai terjadi. Bisa jadi bukan hanya menghindar, aku bahkan bisa lari dan pergi darimu." Ucap Raisa


"Apa arti cemburu, posesif, dan over-protektif itu?" Tanya Rumi kerena tidak pernah tau ketiga kata itu sebelumnya.


..."Benar saja, Rumi tidak mengerti hal seperti ini. Tapi, kenapa bisa dia memiliki sifat itu? Ah, ini pasti nalurinya sebagai lelaki! Ternyata, dia sebegitu sukanya padaku!" Batin Raisa...


"Cemburu adalah perasaan tidak suka saat kau melihat orang yang kau sayang, suka, dan cinta berada di dekat dan akrab dengan orang lain. Jika, rasa tak sukamu sampai berlebihan, kau bisa bersikap posesif atau over-protektif! Posesif dan over-protektif ni beda tipis. Jika posesif, kau bisa marah pada orang yang kau suka atau melarangnya melakukan sesuatu hanya karena rasa cemburu. Over-protektif, yaitu jika kau sampai benar-benar membatasi seorang yang kau suka agar tidak melakukan hal yang kau tidak suka. Kedua sikap ini bisa saja membuat orang yang kau suka berbalik jadi tidak menyukaimu, merasa jengah, bahkan membencimu! Cemburu boleh saja, karena itu tanda kasih sayang. Tapi, jangan sampai kau memiliki sikap dua yang lainnya itu, maka kau akan kehilangan orang yang kau suka darimu." Jelas Raisa


"Kalau begitu, aku boleh dan bisa saja merasa cemburu kan... Tapi, aku berjanji tidak akan bersikap seperti dua lainnya itu. Maka, jangan sampai kau pergi dariku, Raisa." Ujar Rumi


"Ya, baiklah." Kata Raisa


Kini keduanya berbaring memandang langit. Saling menikmati waktu kebersamaan mereka berdua. Walau tak saling menatap, kedua tangan mereka terpaut menjadi satu saling bergandengan...


Saat ini, langit malam bertabur bintang dan tampaknya bulan telah menjadi saksi bisu dimulainya perjalanan kisah kasih mereka berdua~ Raisa dan Rumi!


"Awalnya, aku pikir bisa bersikap biasa saja denganmu. Tapi, kebaikanmu yang tidak biasa itu membuatku berpikir. Kau yang sepertinya sangat memahamiku membuatku ingin memahami diriku sendiri. Aku pun bertanya-tanya dan mulai merasa penasaran. Yang awalnya aku tidak penarasan denganmu menjadi berbalik memiliki perasaan aneh. Aku mulai tertarik padamu, tapi dalam bentuk ketertarikan apa? Aku pun merasa heran dan bingung... Siapa sebenarnya dirimu? Kenapa bisa sampai membuatku seperti ini? Apa yang aneh atau yang berubah pada diriku? Aku merasa sedih saat sadar kau mulai menghindariku, tersiksa saat jauh atau sedang tidak bersamamu, kesal dan kecewa saat kau dekat dengan lelaki lain. Semua pertanyaan yang ada sebelumnya pun berubah... Sebenarnya, apa artimu bagiku sampai aku merasa seperti ini? Tidak, ternyata bukan itu pertanyaannya. Tapi, apakah artiku bagimu? Sampai akhirnya, aku mulai mengerti! Ternyata, aku mulai menyukaimu dan semakin merasa begitu! Dan aku merasa lega juga senang saat kau ternyata juga menyukaiku..." Ungkap Rumi


"Begitukah? Aku juga senang mengetahui semua ini." Ujar Raiaa


"Itu cerita dariku. Bagaimana denganmu?" Ucap Rumi


"Bukankah sudah kuceritakan padamu tadi?" Kata Raisa


"Tidak, aku ingin tahu lebih lagi." Rengek Rumi meminta.


"Uh, bagaimana ya? Awalnya aku memimpikan hal ajaib tentang kalian semua di sini. Aku pun melihatmu dalam mimpiku dan awalnya merasa kau sedikit unik karena berbeda dari yang lain. Ternyata banyak rahasiamu yang terungkap di dalam mimpiku. Saat aku mengetahui rahasiamu yang tidak banyak diketahui orang lain, aku merasa seperti mengenal dan memahamimu. Tapi, ternyata tidak! Aku malah merasa penasaran dan ingin lebih memahamimu saat kita benar-benar dipertemukan oleh takdir. Saat itulah aku benar-benar merasa tertarik dengan dirimu. Saat aku ingin berteman dekat denganmu, aku merasa tidak cukup! Memang sifat manusia yang serakah... Tapi, aku menyadari perasaanku yang seolah memahamimu, merasa penasaran, dan tertarik denganmu adalah perasaan yang muncul karena aku menyukaimu. Aku pun sama denganmu... Ingin selalu dekat denganmu, rindu saat tak bersamamu, selalu memikirkanmu. Saat aku pernah merasa tidak pantas dengan perasaanku padamu, aku malah tersiksa! Saat mencoba menghindarimu, ternyata aku tak sanggup! Karena aku benar-benar menyukaimu!" Jelas Raisa


"Ternyata begitu... Aku senang bisa mendengar semuanya langsung darimu." Kata Rumi


"Ah, saat ini rasanya nyaman sekali! Sampai sepertinya aku bisa tertidur di sini..." Gumam Raisa


"Apa kau mengantuk, Raisa? Benar saja, ini sudah malam. Kita harus pulang. Kau harus istirahat dan kembali ke rumahmu." Ujar Rumi


"Sepertinya begitu... Pulang, kembali ke rumah." Kata Raisa


"Baiklah. Ayo, kuantar kau pulang!" Ucap Rumi


Saat sedang berdua, dunia terasa milik mereka berdua. Sampai keduanya pun lupa terhadap waktu. Mereka berdua pun lupa jika saat ini hati sudah malam...


Rumi pun bangkit berdiri dan juga tak lupa membantu Raisa untuk berdiri. Mereka pun kembali ke arah jalan pulang. Mereka berdua pun berjalan sambil bergandengan tangan...


"Haruskah aku menggendongmu, Raisa? Kau terlihat sudah mengantuk sekali..." Ujar Rumi bertanya.


"Eh, tidak perlu. Aku masih bisa berjalan sendiri kok, aku juga masih bisa membuka mataku dan melihat jalan dengan jelas. Lagi pula, sebentar juga sampai. Rumah kita kan sudah sangat dekat dari sini." Ucap Raisa


Raisa dan Rumi terus berjalan pulang dengan tangan bertautan. Namun, baru saja mereka merasa senang saat bersama, setelah ini mereks berdua harus berpisah karena tinggal di rumah yang berbeda...


.



Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2