
Beberapa waktu yang lalu.
Rumi mengajak Chilla, Aqila, dan Morgan untuk pergi bersamanya untuk membantunya memilih barang.
Saat ini mereka berempat sedang berada di toko perhiasan di Desa Bambu.
"Kau membawa kami bersamamu ke toko perhiasan seperti ini buat memilih mahar untuk Raisa, ya?" tanya Morgan
"Benar. Kudengar saat Aqila memilih cincin pernikahan pun bersama Raisa dan Chilla, kan? Mungkin kalian juga bisa pilihkan yang cocok untuk Raisa," jawab Rumi
"Kalau begitu, ajak Aqila dan Chilla saja. Kenapa kau ajak aku juga?" tanya Morgan
"Karena kau suaminya Aqila. Kupikir aku harus mengajakmu juga agar bisa mengajak istrimu," jawab Rumi
"Kau tidak perlu sungkan seperti ini. Padahal cukup ajak Aqila saja. Aku tidak akan cemburu jika kau berpikir seperti itu. Bagaimana pun juga kau adalah teman kami," ujar Morgan
"Lalu, karena kau memperbolehkan aku pergi dengan Rumi, kau mau pergi seorang diri dan meninggalkan kami di sini, begitu?" tanya Aqila
"Tidak seperti itu juga maksudnya," jawab Morgan
"Baiklah. Kalau begitu, ayo kita pilihkan yang terbaik untuk Raisa," sambung Morgan
"Giliran untuk Raisa saja kau rela membantu Rumi memilih. Giliran untuk pernikahan kita, kau malah enggan menemaniku memilih. Dasar, lelaki ... " dumel Aqila
"Kok jadi aku lagi yang salah, sih?" tanya Morgan
"Karena memang kau yang salah," jawab Aqila
"Maaf, Sayang ... " kata Morgan
"Sudah, tidak usah sayang-sayang segala. Kau memang kalah dari Rumi dalam segi perhatian," ujar Aqila
Setelah itu, Morgan pun lebih memilih diam supaya tidak lagi jadi serba salah.
"Saat Raisa membantumu memilih cincin, apa kau tahu ukuran jari milik Raisa juga, Aqila? Apa ukurannya sama dengan jarimu?" tanya Rumi
"Ya. Ukuran jariku memang sama dengan jari milik Raisa," jawab Aqila
"Kalau begitu, tolong pilihkan cincin yang cocok dengan ukuran jari Raisa," pinta Rumi
"Kau ingin memberikan cincin dengan jenis yang seperti apa?" tanya Aqila
"Entahlah, aku tidak tahu. Kalian pilihkanlah yang kira-kira cocok dan cantik jika Raisa pakai," jawab Rumi
"Aku ingin memberikan banyak perhiasan sebagai mahar. Karena aku tidak bisa memberikan uang karena mata uang kami yang berbeda. Perhiasan yang kuberikan bisa Raisa jual kembali untuk membeli kebutuhan pernikahan di dunianya, syukur-syukur ada yang dia suka dan pakai untuk dirinya sendiri," sambung Rumi
"Tidak bisa seperti itu dong. Kau juga harus memilih sesuatu untuk benar-benar kau berikan pada Raisa selain untuk mahar. Tapi, kau harus memilihnya sendiri, setidaknya satu jenis perhiasan saja. Bayangkanlah Raisa yang akan terlihat sangat cantik jika ia memakai perhiasan pemberianmu itu," ucap Chilla
"Karena, Rumi ... cinta itu tidak selalu tentang cinta bebas bersyarat. Kadang kalanya cinta bersyarat itu juga sangat diperlukan. Makanya, kau juga harus memberikan sesuatu untuk Raisa dari hatimu yang tulus itu," sambung Chilla
"Kalau memang benar seperti itu, tapi aku tidak tahu selera Raisa dalam hal perhiasan," kata Rumi
"Memangnya kau tahu apa tentang hal yang Raisa suka? Kau pasti hanya tahu dirimu-lah yang Raisa sukai tanpa tahu hal selain itu. Makanya setiap harinya saat bersama Raisa kau hanya memberikan dan menunjukkan cintamu yang bebas bersyarat itu padanya. Jadi, ketika kau dihadapkan oleh kenyataan yang seharusnya adalah cinta bersyarat ... kau malah tidak tahu harus berbuat apa," ujar Chilla
"Kalau seperti itu, cintamu terkesan tidak tulus. Seolah jika sudah bosan dan tidak cinta lagi kau akan pergi meninggalkan Raisa begitu saja. Seperti misalnya, kau bilang tidak ada alasan untuk mencintai, tapi bagi Raisa tidak seperti itu. Dia pasti akan tetap bertanya alasanmu mencintainya. Karena dia harus tahu dan yakin bahwa selain cinta kau juga punya ketulusan untuknya dan tidak akan meninggalkannya. Ketahuilah, Rumi ... hati perempuan itu memang lebih rumit. Makanya, perempuan selalu butuh kepastian," sambung Chilla
"Kau tidak perlu bingung, Rumi. Kau pilihlah dengan hatimu sambil membayangkan Raisa. Asalkan kau tulus nemilih dan memberikan sesuatu untuk Raisa, dia pasti akan menyukainya. Apa pun yang kau berikan," ucap Aqila
Chilla pun menggangguk-anggukkan kepalanya tanda setuju dan membenarkan ucapan Aqila.
"Inilah alasanku tidak pernah mau memilih sesuatu bersama perwmpuan. Perempuan itu rumit, padahal semuanya juga terlihat bagus," batin Morgan
"Kalau kau masih bingung memilihnya, akan kuberi tahu tipe perhiasan kesukaan Raisa. Raisa pernah bilang saat membantu memilih cincin pernikahan untuk Aqila ... dia itu tidak suka perhiasan yang mewah atau ukurannya yang besar, tapi lebih suka tipe perhiasan yang berukuran kecil dan cantik yang akan terlihat manis saat dia pakai," ungkap Chilla
"Kau benar. Memang yang seperti itulah tipe kesukaan Raisa. Itu sangat cocok dengan tubuhnya yang mungil meski tinggi semampai," ucap Rumi yang bicara sambil tersenyum karena membayangkan sosok cantik Raisa.
"Sepertinya kau sudah ada pikiran untuk memilih sesuatu yang ingin kau berikan pada Raisa. Pilihlah sesukamu, sementara itu aku dan Chilla akan membantumu memilih perhiasan yang akan kau jadikan mahar untuk Raisa," ujar Aqila
Runi pun mengangguk.
Mereka pun sama-sama memilihkan perhiasan untuk Raisa. Aqila dan Chilla memilih banyak perhiasan untuk dijadikan mahar, sedangkan Rumi memilih satu perhiasan untuk diberikan pada Raisa secara terpisah yang berbeda daro yang dijadikan untuk mahar. Sedangkan Morgan hanya diam melihat-lihat.
"Kau ingin membeli seberapa banyak untuk kau jadikan mahar?" tanya Chilla
"Karena mahar yang bisa kuberikan hanya perhiasan, aku ingin membeli banyak sesuai jumlah semua uangku," jawab Rumi
"Kalau begitu, berarti tidak masalah jika kami memilih sangat banyak. Kau hanya tinggal menyesuaikan harganya dengan uang milikmu pada akhirnya nanti," ujar Chilla
Rumi hanya mengangguk. Kedua matanya masih tertuju untuk memilih satu jenis perhiasan yang akan diberikan pada Raisa. Dan pilihannya jatuh pada salah satu cincin dengan permata merah jambu berukuran kecil yang berbentuk hati.
"Bagaimana kalau aku pilih yang ini?" tanya Rumi saat menunjuk salah satu cincin.
"Ya. Itu bagus!" seru Aqila dan Chilla secara bersamaan.
"Aku akan memberikannya untuk dijadikan cincin pertunangan untuk Raisa sebelum kami akhirnya menikah nanti," ungkap Rumi
__ADS_1
Akhirnya Rumi membeli satu cincin untuk cincin pertunangan dan banyak perhiasan lainnya untuk dijadikan mahar.
"Kau membeli banyak perhiasan untuk dijadikan mahar karena mata uang dunia kita yang berbeda dengan Raisa. Berarti kau sudah memutuskan akan melangsungkan pernikahanmu dan Raisa di dunia Raisa sana dong, Rumi?" tanya Morgan
"Karena bagaimana pun Raisa adalah pengantin perempuanku. Jadi, kupikir harus melangsungkan pernikahan di tempat tinggalnya," jawab Rumi
"Kau yakin sekali akan menikah padahal melamarnya saja belum," kata Chilla
"Kalau Rumi yang melamarnya, Raisa pasti setuju dan terima. Karena Raisa mencintaimu, Rumi," ujar Aqila
"Meski begitu, kau juga harus melangsungkan pernikahanmu dan Raisa di sini. Jadi, kalian berdua harus menikah dua kali," ucap Morgan
"Aku tidak bisa berjanji. Karena aku akan selalu mengikuti keputusan Raisa," kata Rumi
Kembali pada saat ini.
Raisa dan Rumi pulang dengan menaiki mobil online yang sudah lebih dulu dipesan sebelumnya.
Begitu sampai di depan rumah orangtuanya, Raisa dan Rumi pun turun dari mobil pesanan online tersebut.
Ternyata, sudah ada Paman Elvano yang menunggu lebih dulu di sana.
"Paman Elvano, sudah sampai lebih dulu ternyata. Maaf sudah membuatmu menunggu," ucap Raisa
"Tidak apa. Aku juga baru sampai kok," kata Paman Elvano
"Kalau begitu, ayo kita masuk ke dalam rumah dulu," ujar Raisa
Raisa pun mengajak Rumi dan Paman Elvano masuk ke dalam rumah orangtuanya.
Begitu masuk ke dalam rumah, Raisa pun mempersilakan Rumi dan Paman Elvano untuk duduk di atas sofa.
"Silakan duduk dulu. Aku akan buatkan minuman dan panggilkan Ibu Bapak dulu," kata Raisa
Rumi dan Paman Elvano pun duduk di sofa. Lalu, Raisa pun beranjak pergi meninggalkan Rumi dan Paman Elvano di ruqng tamu.
Raisa pun bergegas mencari dan memanggil Bu Vani dan Pak Hilman di kamar mereka berdua.
"Bu, Pak, Raisa udah pulang, nih. Di rumah ada tamu, Bu, Pak. Bisa tolong ke luar dan temani tamunya dulu? Raisa mau buat minum dulu ke dapur," ujar Raisa
"Iya, Raisa. Nanti Ibu Bapak langsung ke luar habis ini," kata Bu Vani dari dalam kamarnya.
"Ya udah, aku ke dapur dulu, ya, Bu," kata Raisa
Sementara Raisa berkutat di dapur, Bu Vani dan Pak Hilman pun ke luar dari kamar dan beranjak menuju ruang tamu.
"Kami kira siapa yang datang bertamu, ternyata Elvano dan Rumi," kata Pak Hilman
"Ada perlu apa kalian berdua datang lagi setelah dua hari yang lalu melamar Raisa ke sini?" tanya Bu Vani
"Maksud tujuan kami berdua datang ke sini bersangkutan dengan Raisa. Jadi, biar kami tunggu dia saja," ujar Paman Elvano
Tak butuh waktu lama, Raisa pun kembali dengan membawa nampan berisi minuman dan camilan.
"Raisa, kok gak bilang kalau yang datang itu Elvano sama Rumi?" tanya Bu Vani
"Maaf, Bu. Tapi, kok ini malah diam saja?" tanya balik Raisa
"Katanya, mereka mau nunggu kamu dulu baru mau bicara," jawab Pak Hilman
"Aduh, tapi Raisa mau mandi dulu. Mohon tunggu sebentar, ya," kata Raisa
Raisa pun bergegas menuju kamar tidurnya untuk membersihkan tubuh dan mandi di dalam kamar mandi yang ada di dalam sana.
Setelah selesai hingga berpakaian rapi dan sedikit berhias natural, Raisa pun bergegas kembali menuju ke ruang tamu.
Seperti dua hari yang lalu, Raisa pun duduk di antara Bu Vani dan Pak Hilman.
"Maaf karena lagi-lagi membuat semuanya menunggu. Jadi, kali ini mau bicara soal apa?" tanya Raisa to the point karena sudah merasa penasaran.
"Iya, nih. Masa dari tadi cuma menunggu Raiaa? Dari tadi kalian berdua belum bicara apa-apa, lho ... " ujar Pak Hilman
"Kedatangan kami berdua kali ini ingin membicarakan soal mahar. Saya hanya bantu menyampaikan, Rumi sendiri yang akan memberikan maharnya," ungkap Paman Elvano
"Benar. Karena dua hari yang lalu kita hanya membahas soal lamaran, kini tinggal mahar yang masih belum kuberikan saat itu," ucap Rumi
Rumi pun mengeluarkan dua gulungan kertas sihir dari tas pinggang miliknya yang dibawanya. Setelah merapalkan mantra, dari dua gulungan kertas sihir itu masing-masing muncul dua peti yang sebenarnya adalah kotak perhiasan. Jadi, jumlah kotak perhiasannya adalah 4.
Peti itu berukuran sedang dan begitu Rumi membukanya ternyata isinya adalah penuh dengan jenis perhiasan.
Raisa, Bu Vani, dan Pal Hilman pun terperangah saat melihatnya. Bagaimana tidak? Itu perhiasan dengan jumlah yang tidak sedikit.
"Ini semua adalah mahar untuk pernikahanku dan Raisa," ungkap Rumi
__ADS_1
"Rumi, ini banyak sekali!" seru Bu Vani
"Rumi, kau menikah bukan seorang diri saja. Untuk mahar, aku juga bisa membantumu mengumpulkannya bersama. Tidak perlu kau berikan sebanyak ini," ujar Raisa
"Tidak. Dalam hal ini aku ingin aku seorang diri saja yang bertanggung-jawab. Kalian hanya perlu menerimanya saja," ucap Rumi
"Rumah yang sedang kutempati bersama Paman Elvano saja adalah milikmu yang akan kau gunakan bersamaku setelah menikah nanti. Setidaknya dalam urusan mahar biar aku yang menanggungnya," sambung Rumi
"Sudah kubilang, rumah itu bahkan belum kulunasi pembayarannya," kata Raisa
"Ya. Aku pun akan menepati perkataanku untuk membantumu melunasi pembayaran rumah itu setelah menikah nanti," ujar Rumi
"Biarkan saja kalau emang Rumi maunya seperti itu, Raisa. Itu adalah bentuk dari rasa tanggung jawab lelaki," ucap Pak Hilman
"Katakan saja jika maharnya kurang. Saya masih menyiapkan yang lainnya," kata Rumi
"Ya. Kami pun akan mengembalikannya jika memang berlebihan," sahut Pak Hilman
Rumi pun hanya tersenyum.
"Karena sudah berkumpul di sini ... bagaimana kalau kita semua makan bersama dulu? Ibu akan menyiapkan makanannya di meja makan," ujar Bu Vani
"Aku bantu, Bu," kata Raisa
"Kamu temani aja tamu kamu," larang Bu Vani
"Kan, ada Bapak, Bu. Biar para lelaki menunggu sambil mengobrol," ujar Raisa
Raisa pun membantu Bu Vani menghidangkan makanan di atas meja. Sedangkan Pak Hilman, Paman Elvano, dan Rumi menunggu sambil mengobrol meski terasa canggung.
Usai makanan dihidangkan di atas meja makan, Bu Vani meminta Raisa untuk memanggil para lelaki untuk segera makan bersama.
"Raisa, panggilkan mereka semua untuk makan sekarang," pinta Bu Vani
"Baik," patuh Raisa
Raisa pun langsung berjalan menuju ke ruang tamu.
"Makanan sudah dihidangkan. Ayo, semuanya ... kita makan," ujar Raisa
"Ya. Ayo, kita semua ke meja makan sekarang," kata Pak Hilman
Paman Elvano dan Rumi pun mengikuti Raisa dan Pak Hilman untuk beranjak bersama menuju ke meja makan.
"Di mana Raihan? Aku tidak melihat adik lelakimu itu?" tanya Rumi
"Hari ini dia sekolah dan terus berlanjut mengikuti les di sekolahnya," jelas Raisa
"Begitu rupanya," kata Rumi
Mereka semua pun duduk di hadapan meja makan, lalu semuanya pun makan bersama.
"Selamat makan!"
Usai makan bersama selesai, Raisa dan Rumi beranjak menuju ke halaman belakang untuk setidaknya mengobrol ringan sambil mencerna makanan.
"Rumi, kau pasti sudah habis-habisan menggunakan uang tabunganmu untuk membeli mahar yang kau berikan hari ini. Harusnya kau berdiskusi dulu denganku mengenai mahar ini. Kan, kita bisa berbagi tanggung-jawab dan menanggungnya bersama-sama. Aku jadi merasa tidak enak," ucap Raisa
"Tidak apa, Raisa. Biar soal mahar ini jadi tanggung-jawabku saja," ujar Rumi
"Selagi membahas soal ini, ada sesuatu yang ingin kuberikan padamu lagi," sambung Rumi
"Apa itu?" tanya Raisa
Rumi pun mengeluarkan kotak perhiasan kecil dari saku celananya. Begitu dibuka, terpampanglah cincin dengan permata berbentuk hati berukuran kecil berwarna merah jambu.
Raisa tercengang melihat apa yang diberikan oleh Rumi untuknya.
"Sebelum menikah aku ingin lebih dulu mengikatmu untuk menjadi tunanganku. Kuharap kau bisa meberimanya, Raisa," ucap Rumi
"Padahal kau sudah memberi mahar yang banyak," kata Raisa
"Tapi, aku akan menghargai niatmu dan menerimanya," sambung Raisa
Rumi pun mengambil cincin hati tersebut dari kotak perhiasan kecil dan menyematkannya pada jari manis milik Raisa.
"Aku harap kau menyukainya," kata Rumi
"Terima kasih, Rumi. Aku menyukainya," ucap Raisa
Raisa pun melompat kecil dan berhambur memeluk Rumi. Kedua tangannya dikalungkan pada leher milik lelaki tampan yang kini berstatus calon suaminya itu. Rumi pun membalas memeluk pinggang Raisa dengan erat.
.
•
__ADS_1
Bersambung.