Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
95 - Saat kelulusan.


__ADS_3

Perayaan kelulusan pun akan digelar!


Setelah menerima hasil ujian dan kelulusannya pihak sekolah mengadakan acara perayaan kelulusan bagi tingkat akhir seperti Raisa dan semua yang lainnya.


Dengan pakaian casual bebas, Raisa menunggu acara perayaan kelulusan itu dimulai...


Semua murid tingkat awal dan tengah telah menikmati hari libur mereka. Berbeda dengan mereka, semua murid tingkat akhir hadir di sekolah dengan mengenakan pakaian casual bebas.


Kini Raisa bersama dengan kedua sahabat jelitanya, Maura dan Nilam. Mereka tidak hanya bertiga, tapi juga berbaur dengan murid tingkat akhir lainnya. Sama-sama menunggu acara kelulusan dan pelepasan murid dimulai.


"Huh, akhirnya semua berakhir sekarang!" Seru Maura


"Semua emang udah selesai, tapi aku masih deg-degan nih nunggu hasil peringkat sekolah." Ujar Nilam


"Iya juga sih!" Kata Maura


"Ga usah tegang sampai deg-degan gitu. Yang penting kan, kita semua udah dinyatakan lulus!" Ucap Raisa


"Kamu sih enak aja bilang gitu, kan kamu dapat peringkat satu di kelas. Paling juga peringkat sekolah kamu juga gak jauh-jauh dan ga bakal mengecewakan." Ujar Maura


"Bebar! Kalau kamu sih udah ga diragukan lagi! Beda cerita sama kita berdua ini, tahu gak?!" Kata Nilam


"Maaf deh kalau begitu. Tapi, gak usah tegang juga, nanti malah stress duluan." Ujar Raisa


"Emang udah stress, tahu!" Serempak Maura dan Nilam


"Eh?! Hehe... Santai, sayang! Jangan tegang, jangan stress, nanti cantiknya hilang. Kalian berdua udah tampil cantik lho hari ini!" Ucap Raisa yang berusaha menghibur kedua sahabatnya.


"Aduh... Dibilang cantik sama si cantik, aku jadi tersipu!" Kata Nilam


"Hehe, terima kasih, Raisa! Kamu juga cantik hari ini!" Ucap Maura


Di hari yang telah dinanti ini, Raisa menggunakan gaun dengan panjang di bawah lutut sebagai busananya. Dengan warna biru muda langit, yang di bagian leher dada atas dan pinggangnya berbahan brukat. Rambutnya diikat setengah dengan jepitan yang menghiasi abak rambuat alias poninya. Sedangkan Maura menggunakan gaun selutut dengan perbedaan warna pink di atas sebatas pinggang dan bagian rok bawahnya berwarna putih, dan rambutnya dibuat bergelombang. Dan Nilam menggunakan pakaian terusan berwarna hijau dengan celana sebagai bawahannya, dengan rambutnya diikat buntut kuda.


"Udahlah, gak usah bahas penampilan buat menghibur. Gara-gara stress jadi laper nih. Cari makanan yuk!" Ucap Nilam


"Ke kantin aja beli makanan." Saran Maura


"Ya sudah, ayo!" Kata Raisa


"Kamu tunggu di sini aja, Raisa. Siapa tau acaranya udah mau dimulai. Biar aku sama Maura aja yang cari makanan di kantin." Ujar Nilam


"Oke deh, aku nitip kalian aja." Patuh Raisa


"Iya, kita tahu kok makanan kesukaanmu. Tunggu ya, Raisa." Kata Maura


Nilam dan Maura pun meninggalkan Raisa di tengah kerumunan murid tingkat akhir lainnya. Mereka berdua akan mencari makanan untuk mengganjal perut yang lapar. Keduanya sengaja meninggalkan Raisa dan memintanya menunggu acara yang akan dimulai karena mereka tahu kemungkinan besar nama Raisa akan dipanggil sebagai murid berprestasi. Maura dan Nilam merencanakan seperti ini tanpa sepengetahuan Raisa alias Raisa tidak tahu niat atau maksud terselubung kedua sahabatnya itu.


Saat kedua sahabatnya pergi meninggalkannya sendiri, Raisa jadi merasa dirinya sendiri tidak ada kegiatan tersendiri saat acara belum juga dimulai. Jika ada kedua sahabatnya mungkin mereka akan asik mengobrol, tapi tidak untuk saat ini yang hanya membuatnya bosan dan malah tidak sengaja mendengar obrolan tidak penting dari murid lainnya.


Dan rasa bosan menunggu itu membuat Raisa tidak sengaja mendengar obrolan yang kurang mengenakkan tentang dirinya dari mulut murid lain.


"Menurut kalian peringkat sekolah teratas bakal diraih sama siapa?"


"Gak tahulah, gak terlalu penting amat yang penting kan kita semua lulus."


"Ya, kalau peringkat sekolah mah paling juga dari siswa-siswi yang peringkat kelasnya juga bagus."


"Kemungkinan primadona sekolah juga dapet."


"Primadona? Maksud lo Raisa yang itu ya? Lo pada tahu ga, dia punya gosip miring di sekolah ini loh!"


"Gosip miring apa tuh?"


"Denger-denger dia kan masuk SMA telat setahun. Karena dia lebih tua dari kita-kita, katanya prestasi dia di sekolah itu dapet dari taktik muslihat ke guru-guru lelaki muda di sekolah ini!"


"Maksudnya dia dapet nilai bagus karena ada main sama guru-guru lelaki muda di sini gitu? Tahu dari mana lo?!"


"Ada yang bilang sih gitu. Dia jual tampang cantiknya dan punya keberanian gitu karena lebih tua setahun pas masuk SMA sini."


"Wah, kalau benar sih gila aja tuh cewek!"


"Dan kebanyakan prestasinya itu berkat nempel terus sama Pak Adam, ituloh yang guru ganteng itu!"


"Gak nyangka banget, ngeri ih!"


Semua pembicaraan mengenai dirinya itu terdengar langsung oleh Raisa. Ia hanya mampu menghela nafas dan mengelus dada.


..."Ada aja orang yang berpikir negatif! Dapat info dari mana mereka? Semua cuma fitnah! Bisa-bisanya ada orang yang beranggapan begitu!" Batin Raisa...

__ADS_1


Saat sibuk mengatir emosi agar tidak marah, ponsel Raisa berdering dari dalam tas yang dibawanya. Ia pun mengecek ponselnya, ternyata ada sebuah panggilan masuk. Raisa pun mengangkat panggilan tersebut.


"Halo, Bu. Ada apa?"


"~~"


"Suaranya gak jelas nih, di sini terlalu ramai. Tunggu sebentar, aku cari tempat kosong dulu buat cari sinyal yang lebih jelas."


Raisa pun beranjak dari tempat tersebut dan mencari tempat yang sedikit sepi untuk mencari sinyal yang bagus...


"Dari tadi kita ngomongin orang, orangnya ada di deket kita, cuy!"


"Gimana nih? Dia marah gak tuh?"


"Gak usah dipikirin! Lihat kan tadi, dia sibuk majn HP. Paling juga gak denger apa yang kita omongin. Orang zaman sekarang kan begitu!"


Setelah mencari tempat yang dirasa dapat mengubah sinyalnya menjadi lebih jelas, Raisa pun melanjutkan pembicaraannya dengan seorang yang menelponnya.


"Ya, Bu? Gimana?"


"Raisa, acara bersama orangtuanya belum mulai kan? Ibu sama Bapak belum bisa ke sana, sayang. Masih pada repot nih di rumah, udah gitu adikmu katanya mau ikut segala!"


"Iya, Bu. Gapapa, acaranya belum mulai sama sekali kok. Santai aja siap-siapnya, jangan sampai ada barang yang tertinggal nantinya."


"Mungkin nanti bakal telat sampai di sekolah kamu."


"Iya, Bu, gapapa."


"Ya udah, Ibu mau siap-siap lagi kalau begitu. Tutup dulu telponnya ya, sayang."


"Iya, Bu. Raisa tutup ya."


Tut!


Sambungan panggilan terputus.


Raisa sedang berada di dekat gerbang masuk sekolahnya saat menjawab panggilan telpon dari Sang Ibu. Di sana ia memandang ke arah luar gerbang sekolahnya dan melihat sosok yang dikenalnya.


"Lho, mereka udah datang?" Gumam Raisa


Raisa pun berjalan menuju luar pintu gerbang sekolahnya.


"Kalian cari siapa?" Tanya satpam penjaga.


"Kami semua cari gadis yang bernama Raisa. Katanya dia bersekolah di dekat sini." Ujar seseorang.


"Apa ada fotonya?" Tanya satpam


"Ada, ini orangnya!" Jawabnya seraya memberikan selembar foto kebersamaan dengan gadis bernama Raisa.


"Oh, Raisa yang ini. Dia emang sekolah di sini. Kalian semua siapanya gadis ini?" Ujar satpam


"Kami semua teman jauhnya yang berkunjung." Ungkapnya


"Boleh gak nih mereka semua masuk?" Tanya satpam penjaga pada sesamanya yang lain.


"Boleh kali. Kan acara kali ini emang khusus keluarga kerabat murid." Jawab sesama satpam penjaga.


"Ya udah, kalian boleh masuk. Dari sini kalian masuk, belok kiri lalu belik kanan, acaranya ada di sana." Ucap satpam penjaga


"Baik, terima kasih!" Katanya


Dari dalam gerbang seorang gadis melambaikan tangannya.


"Hai! Kalian semua datang?!" Sapanya menghampiri.


"Nah, itu Raisa!" Kata seorang satpam penjaga.


"Raisa!" Seru mereka semua memanggil.


Dari luar gerbang sekolah, ada banyak orang yang mencari keberadaan seseorang yang bernama Raisa yang katanya bersekolah di dekat sana. Kebetulan mereka menanyakan kepada satpam penhaga sekolah yang dimaksud. Dan karena sedang berlangsug acara keluarga kerabat murid di sekolah, mereka semua diperbolehkan untuk masuk.


Raisa dari dalam gerbang berlarian menuju ke luar gerbang sekolahnya, menghampiri orang-orang yang dikenalnya.


"Raisa, ternyata ini sekolahmu ya? Kalau begini, kami tidak repot lagi mencarimu." Ujarnya, Devan.


Ya, mereka semua yang datang adalah teman spesial Raisa yang datang dari jauh alias dari dimensi dunia yang berbeda. Tak disangka, mereka datang saat acara kelulusan akan dilangsungkan.


"Iya, ini memang sekolahku. Tak sangka kalian semua datang hari ini saat hari kelulusanku!" Ucap Raisa

__ADS_1


"Bukankah memang ini yang kau harapkan?" Tanya Ian


"Memang benar, ini yang kuharapkan. Makanya aku senang sekali!" Ujar Raisa


Saat semua teman spesialnya itu datang, otomatis Raisa langsung menggunakan bahasa bakunya saat berbicara.


"Selamat untuk kelulusanmu ya, Raisa!" Ucap Chilla


"Terima kasih banyak!" Girang Raisa


Satu persatu temannya pun mengucapkan selamat pada Rausa atas kelulusannya.


"Selamat atas apa yang kau raih. Kau cantik sekali hari ini, Raisa!" Ucap Rumi


"Ah, terima kasih, Rumi!" Kata Raisa


Saking senangnya dengan kedatangan semua teman spesialnya, Raisa hampir saja lupq dengan statusnya dengan lelaki bernama Rumi yang baru saja memuji penampilannya itu. Ia juga lupa sedang berpenampilan seperti apa saat itu. Wajar saja Runi berkata seperti itu karena memang penampilan Raisa berbeda dari yang biasa dilihat saat mereka bersama. Karena hari ini adalah hari spesial kelulusannya, penampilan Raisa pun turut berbeda dari buasanya. Ia terlihat cantik apa lagi dengan jepit rambut itu! Raisa sengaja memakai jepit rambut itu di hari spesialnya karena jepit itu adalah pilihan Rumi saat mereka berbelanja bersama. Rumi tampak senang saat Raisa memakainya, pikirnya Raisa sangat cantik saat itu...


"Ayo, masuk bersamaku. Teman sekolahku sedang menungguku di dalam, takutnya mereka bingung mencariku yang tidak ada di tempat semula kami bertemu." Ajak Raisa


"Memangnya tidak masalah jika kami masuk?" Tanya Aqila


"Tidak apa. Penjaga sekolah tadi bilang juga boleh." Jawab Raisa


Akhirnya Raisa pun membawa semua temannya itu untuk ikut masuk ke dalam sekolahnya.


Acara kelulusan hari ini memang memperbolehkan keluarga kerabat murid untuk ikut. Mungkin yang jadi penentu adalah pakaian yang mereka pakai. Dan apa yang selalu teman-teman Raisa pakai itu sudah dinilai baik. Selain mereka selalu memakai pakaian yang sopan, pakaian mereka selalu rapi dan bagus, bahkan juga terlihat mahal. Mungkin di dunia mereka, pakaian yang selalu mereka kenakan terbilang biasa. Tapi di dunia sini, pakaian mereka dipandang memiliki nilai lebih karena berbeda dari pakaian yang biasa dipakai di dunia itu.


Raisa pun menuntun jalan sampai pada tempat tunggu khusus keluarga kerabat murid yang bersebelahan langsung dengan tempat acara kelulusan akan dilangsungkan.


"Eh, lihat tuh Raisa! Si cewek gatel yang ganjen itu!"


Bisik-bisik gosip tak mengenakan mulai kembali terdengar.


"Raisa, apa yang mereka bicarakan? Mereka sedang membicarakanmu ya?" Tanya Morgan


"Tak perlu didengar, itu hanya omong kosong. Anggap saja itu angin lalu!" Kata Raisa


Raisa tak tahu apa teman-teman spesialnya itu mengerti yang mereka dengar, yang pasti mereka tahu bahwa yang didengar adalah tentang Raisa, temannya itu.


"Omong kosong, apanya!? Kalian temannya Raisa ya? Tahu gak teman kalian itu orang yang seperti apa? Dia itu perempuan gak bener yang sukanya menggoda gurunya yang lebih tua darinya." Ujarnya


Dibilang begitu, Raisa hanya tersenyum ramah menahan marah.


"Raisa, mereka membicarakanmu seperti itu? Kau hanya diam saja?" Tanya Billy


"Sudah kubilang itu omong kosong. Tak perlu dihiraukan!" Kata Raisa


"Lihat deh, temannya aja penampilan orang kaya semua pasti kenalnya juga lewat backingan!" Ucapnya


"Mereka pasti berbicara jelek tentang dirimu ya, Raisa? Apa harus aku memberi mereka sedikit pelajaran?" Tanya Sandra


"Jangan buang tenagamu, Sandra. Mereka tidak penting!" Kata Raisa


"Dih, sombong!" Celanya


Dari arah belakang seseorang maju danendekati Raisa.


"Maaf, apa yang kalian bicarakan itu tidak benar! Orang yang kalian bicarakan adalah Raisa, pacarku! Dia bukanlah orang yang seperti itu. Hati-hatilah jika bicara dan periksalah lagi info yang kalian dengar karena belum tentu info itu semuanya benar." Ucap Rumi yang membela Raisa sambil merangkul bahu gadisnya itu.


Raisa tersenyum saat mendengar pembelaan dari sosok Rumi. Pada setiap kata yang diucapkan untuk membelanya terdengar manis di telinga Raisa. Ia sungguh tak menyangka akan mendapat perlakuan romantis dan ia pun terharu...


"Ih, udah punya pacar kok masih suka ganjen!"


"Saya bisa dengar apa yang kaluan bicarakan dari tadi. Kalian sudah salah menyangka, saya sudah bertunangan dan sebentar lagi menikah. Gak mungkin saya dan Raisa seperti yang kalian hicarakan. Saya dan Raisa hanya sebatas guru dan murid, tidak lebih. Jaga bicara kaliqn! Untung kaliqn sudah lulus, kalau tidak kaliqn akan mendapat hukuman. Atau kalian ingin saya bawa ke ruang konseling sekarang juga?" Ujar Pak Adam yang datang. Guru yang digosipkan memiliki hubungan lebih dengan Raisa.


"Ah, maaf, Pak. Kami gak bermaksud. Kami permisi dulu!"


Teman sekolah yang menjelekkan Raisa itu langsung berhamburan kabur saat ditegur langsung oleh guru mereka...


"Selamat atas kelulusanmu, Raisa. Dan jangan hiraukan mereka tadi." Ucap Pak Adam


"Saya juga hanya menganggap omongan mereka angin lalu, Pak. Terima kasih sudah datang menegur mereka." Ujar Raisa


"Ya sudah, baik-baik nikmati acaranya bersama temanmu ya." Kata Pak Adam yang lalu beranjak pergi dari sana.


.


__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2