
Begitu kembali ke lokasi syuting, ternyata artis lelaki lawan main Raisa yang bernama Vino baru saja menyelesaikan adegannya.
Vino pun menghampiri Raisa dan menyapanya yang sedang bersama Rumi.
"Hai, Raisa. Kamu lagi sama teman kamu, ya? Bukannya ini ... Rumi?" tanya Vino
"Halo, Vin. Iya, ini Rumi. Dia calon suami aku," ungkap Raisa
"Rumi, ini Vino. Yang kamu lihat ada di acara gosip kemarin," sambung Raisa
"Oh, iya, aku ingat. Halo, aku Rumi. Calon suaminya Raisa," sapa Rumi
Rumi yang mendapat kesempatan mengungkap status terbarunya dengan Raisa pun langsung merangkul bahu gadis cantik berstatus calon istri yang ada di sampingnya itu.
"Calon suami? Kalian berdua berencana mau menikah?" tanya Vino dengan ekspresi terkejut.
"Ya. Itu tujuan Rumi datang kali ini. Dia melamar aku dan aku udah terima lamarannya," jawab Raisa
"Oh ... selamat, ya. Jangan lupa kasih aku undangannya juga," ucap Vino
"Pasti. Tunggu aja," kata Raisa
"Terima kasih," kata Rumi
"Ya, sama-sama," balas Vino
"Oh, iya ... kamu udah selesai syutingnya?" tanya Raisa
"Iya. Baru selesai take beberapa adegan tadi. Mau istirahat dulu ke dalam," jawab Vino
"Oh, ya udah. Istirahat aja dulu sana," ujar Raisa
"Ya udah. Aku tinggal dulu, ya," kata Vino
Vino pun berlalu masuk ke dalam salah satu rumah yang juga dijadikan untuk syuting dan beristirahat di sana.
"Raisa, temanmu si Vino itu masuk ke dalam sana untuk istirahat. Kenapa kau juga tidak masuk saja ke sana? Kalau di luar panas dan bagaimana kalau tiba-tiba turun hujan? Bukankah lebih baik kau istirahat di dalam sana saja?" tanya Rumi
"Yang ada di dalam sana juga tidak sedikit orang. Tidak hanya ada yang sedang istirahat saja. Dari pada di dalam sana lebih baik di luar sini. Lebih luas," jawab Raisa
"Ayo, duduk di sini denganku. Temani aku berlatih dialog," sambung Raisa
Di sana ada dua kursi lipat yang kosong. Raisa langsung duduk di salah satu kursinya dan mengajak Rumi untuk duduk bersama di satu kursi lainnya. Rumi pun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu dan duduk di kursi lipat di samping Raisa.
Rumi yang pernah mendapat pengalaman mengawal dan menemani keseharian aktris dan aktor pun langsung mengambil kipas portable milik Raisa. Menyalakan kipas tersebut dan mengarahkannya ke arah Raisa yang sedang memegang dan membaca buku skenario.
"Kau sedang apa, Rumi?" tanya Raisa yang menoleh ke arah Rumi yang ada di sampingnya.
"Aku sedang memegangi kipas ini untukmu," jawab Rumi
"Tidak perlu seperti itu. Matikan dan taruh saja kipasnya. Aku tidak sedang merasa gerah," kata Raisa
Rumi pun mematikan kipas portable milik Raisa dan meletakkannya di meja kecil yang ada di sana. Ia beralih mengambil botol mineral yang sudah dapat diperkirakan bahwa itu adalah milik Raisa.
"Bagaimana kalau minum? Apa kau merasa haus?" tanya Rumi
"Tidak. Aku sudah puas minum saat makan tadi," jawab Raisa
"Kau hanya perlu diam dan menemaniku saja. Cukup dengan itu," sambung Raisa
Rumi pun beranjak bangkit dan beralih merapatkan kursi lipat yang ia duduki tadi dengan kursi lipat yang sedang diduduki Raisa. Lalu, lelaki tampan itu segera duduk. Posisi duduknya pun jadi sangat dekat dengan Raisa. Bahkan tubuh keduanya bisa saling bersentuhan.
"Dulu saat tim kami pernah mengawal aktris dan aktor, selalu saja ada yang disuruh mengipasi atau mengambilkan minum. Kupikir kau juga memerlukannya," ucap Rumi
"Tapi, saat ini aku sedang tidak memerlukannya. Sudah kubilang, aku tidak merasa gerah atau haus sekarang," ujar Raisa
"Lagi pula yang kutahu saat dapat misi menjadi pengawal aktris dan aktor saat itu kau hanya terus berdiri tegak. Sedangkan yang repot hanya Morgan dan Aqila," sambung Raisa
"Ya. Kau memang benar," kata Rumi
Di posisi duduk yang sangat dekat, Rumi pun meletakkan kepalanya pada bahu Raisa dan mencoba mengintip buku skenario yang sedang gadis cantik itu baca dan berada dalam genggamannya.
"Kau sedang baca apa?" tanya Rumi
"Ini naskah skenario. Kau boleh melihatnya bahkan ikut membacanya," jawab Raisa
Raisa pun membaca naskah skenarionya dengan Rumi yang terus menempel dan ikut membacanya sepintas sambil terus memandangi wajah serius dari gadis cantik yang telah menerima lamarannya. Bagi Rumi wajah Raisa masih saja terlihat cantik bahkan sedang serius sekali pun.
Keduanya pun terlihat seolah sedang membawa majalah bersama di tepi pantai. Keduanya tampak santai memperlihatkan kemesraan karena merasa kini status keduanya pun telah menjadi jelas. Meski begitu kemesraan yang ditunjukkan oleh keduanya masih berada di batas wajar.
Saat itu Pak Sutradara menghampiri Raisa yang sedang duduk bersama Rumi.
Raisa pun menegakkan posisi duduknya yang sebelumnya bersandar pada kursi lipat tersebut.
"Raisa, sebentar lagi giliran adegan kamu, ya. Kamu udah siap, kan?"
"Giliran adegan yang mana, ya?" tanya balik Raisa
"Adegan kamu marah itu, lho."
__ADS_1
"Oh, itu. Ya, saya siap!" seru Raisa
"Siap-siap, ya. Ditunggu sebentar lagi." Pak sutradara pun berlalu meninggalkan Raisa untuk mempersiapkan diri yang mungkin masih butuh sedikit latihan.
"Kau sudah mau mulai syuting lagi, ya, Raisa?" tanya Rumi
"Iya, nih. Aku harus segera siap-siap," jawab Raisa
"Kalau kau mau, kau bisa melihat proses syutingnya dari sini atau dari dekat juga boleh. Aku tinggal dulu, ya," sambung Raisa
Raisa pun langsung bangkit dan menghampiri para kru dan sutradara untuk memulai adegan syuting. Karena Raisa bilang boleh melihat proses syiting dari dekat, Rumi pun mengikuti Raisa. Namun, lelaki tampan itu tetap menjaga jarak.
Terlihat Raisa sedang dihias punggung tangannya. Bukan suatu hiasan indah, melainkan hiasan yang membuat punggung tangannya berdarah-darah.
"Kamu ingat harus gimana, kan, Raisa?"
Raisa mengangguk dengan cepat.
"Saya harus marah, lalu memukul ke arah Vino, tapi pukulannya malah mendarat ke dinding yang ada tepat di belakangnya," jelas Raisa
"Ya, benar. Dinding yang udah asa retakkannya itu di kamera akan terlihat mulus tanpa retakkan. Jadi, kamu gak perlu pukul dindingnya terlalu keras. Yang penting itu pengekspresian kamu saat marah. Tangan kamu yang udah diberi luka palsu gak boleh terlihat di kamera."
"Siap. Saya mengerti," kata Raisa
"Ini adegan bareng Vino. Orangnya mana? Cepat panggil Vino!"
Vino yang belum lama beristirahat pun kembali di panggil untuk pengambilan adegan baru. Ia pun tergesa-gesa datang sambil membawa buku skenario yang mungkin sedang dibacanya sebelumnya.
"Aku kira kamu lagi break sungguhan, Vino," ujar Raisa
"Ya. Aku lupa kalau masih ada satu adegan lagi bareng kamu baru bisa break," kata Vino
"Raisa, Vino, siap ... kita langsung take kamera."
Raisa dan Vino pun menganggukkan kepala secara bersamaan.
"1 ... 2 ... 3, aktion!"
Posisi Raisa sedang membelakangi Vino.
Vino pun memulai dialog lebih dulu, "tolong, dengar aku dulu. Aku bisa jelasin semuanya ke kamu. Saat itu gak seperti yang kamu lihat."
"Diam!" Raisa pun memulai reaksi dengan satu patah kata dialog yang tegas.
Saat itu Vino benar-benar terdiam. Raisa pun terlihat emosi. Ingat, ini hanya proses adegan syuting, ya.
"Aku gak butuh penjelasan dari kamu!" Raisa langsung berbalik dengan cepat.
Saat itu, suara pukulan terdengar seolah nyata.
"Mel, aku tahu aku salah. Aku minta maaf, tapi kejadiannya benar-benar bukan seperti yang kamu kira. Jangan seperti ini dong, kumohon ...."
Tubuh Raisa bergetar menahan amarahnya. Pandangannya menunduk ke bawah. Lalu, perlahan Raisa mengangkat pandangannya dan menatap tajam ke arah Vino sambil menahan air mata.
Nama tokoh perang yang dimainkan Raisa saat ini adalah Melati dan Vino sebagai Reno.
"Udah berapa kali aku ingatkan kamu ... kalau aku paling benci PENGKHIANATAN! Udah berulang kali kamu seperti itu! Yang kemarin itu bukan yang pertama kali, kan?"
Vino alias Reno terkejut.
"Kamu salah paham. Aku itu-"
"CUKUP, Ren! Aku gak mau dengar lagi. Udah cukup aku menutup mata dan gak percaya sama pengkhianatan yang kamu lakukan selama ini, tapi yang kemarin itu adalah terakhir kalinya. Semuanya selesai! Di antara kita udah gak ada apa-apa lagi. Bahkan gak ada lagi kata kita!"
Raisa alias Melati menurunkan tangannya yang terkepal di permukaan dinding. Ia meengatir nafanya yang memburu karena emosi yang meledak-ledak. Saat ia hendak berbalik, Vino alias Reno menarik tangannya yang digunakan untuk memukul dinding tadi.
"Kita akan tetap menjadi kita! Aku tahu gak ada yang berubah termasuk juga perasaan kamu. Sini, biar kulihat tangan kamu. Tadi kamu pukul dindingnya keras banget. Tuh, kan, tangan kamu luka."
Raisa alias Melati menghempas kuat tangan Vino alias Reno dari tangannya hingga terlepas.
"Jangan sentuh aku dan gak usah sok peduli. Aku bukan perempuan bodoh! Aku gak mau dengar kamu dan jangan pernah temui aku lagi!"
Raisa alias Melati pun berlalu pergi meninggalkan Vino alias Reno di sana.
"Cut! Bagus, Raisa, Vino!"
Saat adegan syuting selesai, Vino langsung kembali menghampiri Raisa.
"Raisa, coba lihat tangan kamu tadi. Aku sampai dengar suara pukulan kamu tadi keras banget. Pasti ada luka betulan," ucap Vino
"Enggak kok. Ini cuma luka palsu," bantah Raisa
"Kak, luka palsunya udah boleh dihapus, kan?" tanya Raisa pada kru yang nenghias luka palsu pada punggung tangannya tadi.
"Ya, udah boleh langsung dihapus kok."
Raisa pun membuktikan perkataannya dengan mengambil tissue basah dan mengelap luka buatan pada punggung tangannya menggunakan tissue basah tersebut.
"Tuh, lihat, kan ... tangan aku bersih," kata Raisa sambil memperlihatkan punghung tangannya yang putih setelah luka buatannya dihapus bersih.
__ADS_1
"Tapi, tadi jelas banget suara pukulannya karena kamu mukul tepat ke samping kepala aku," kata Vino
"Aku emang pukul dindingnya, tapi gak sekuat itu. Mungkin kamu salah dengar atau itu efek suara editan. Udah, ya. Aku mau ke sana dulu," ujar Raisa
Raisa pun beranjak yang sebenarnya ingin menghampiri Rumi.
Tak bisa terus memaksa Raisa, Vino beralih kembali menuju ke dinding tadi. Ia melihat banyak retakkan pada dinding tersebut. Seperti kata sutradara, dinding itu memang sudah retak sejak awal, tapi ada retakkan baru di sana yang diyakini muncul karena pukulan Raisa yang keras.
"Dindingnya emang udah retak lebih dulu, tapi aku yakin muncul retakan baru setelah pukulan Raisa tadi. Aku juga dengar jelas banget kok suara pukulan yang keras. Tapi, kok tangan Raisa baik-baik aja, ya? Gak ada luka, emang aku gak berharap dia terluka, sih, tapi Raisa juga gak ngaku kalau pukulan dia emang keras banget tadi," batin Vino terheran-heran.
Vino sangat yakin saat mendengar pukulan Raisa yang sangat keras. Namun, entah kenapa Raisa terus membantahnya.
"Kau tidak apa, Raisa? Tanganmu tidak terluka sungguhan? Temanmu sampai sangat khawatir seperti itu?" tanya Rumi
"Kenapa ... kau cemburu?" tanya balik Raisa
"Aku khawatir padamu. Ya, nemang ada sedikit rasa cemburu saat melihat temanmu-lah yang pertama mengkhawatirkan kau dan memeriksa tanganmu. Tapi, aku juga tahu kalau tadi bukan pukulan biasa," ujar Rumi
"Saat sedang syuting terkadang aku memang terbawa suasana saat mendalami peran dan terlalu menghayatinya, tapi untung saja ... kau juga tahu sendiri, lukaku akan mudah sembuh. Kalau hanya luka akibat pukulan tadi memang mudah sekali hilangnya," ungkap Raisa
Yang dimaksud Raisa adalah luka tubuhnya akan mudah sembuh karena dirinya memiliki kemampuan sihir medis yang membuat dirinya dapat menyembuhkan luka dengan sendirinya.
"Tapi, tetap saja itu berbahaya, Raisa. Selain kau bisa terluka walau mudah sekali sembuh, kemampuanmu bisa saja dicurigai. Lain kali berhati-hatilah," ucap Rumi
"Baik. Aku mengerti," kata Raisa
Di hari itu pun Rumi menemani Raisa syuting sambil melihat prosesnya.
Di sore hari akhirnya Raisa sudah boleh pulang setelah syuting hari ini berakhir.
"Raisa, kamu udah bisa pulang. Adegan syuting kamu hari ini sudah selesai."
"Kalau begitu, saya pulang duluan, ya. Sampai ketemu lagi besok," ujar Raisa
Setelah berpamitan pada beberapa kru yang masih senggang di sana, Raisa pun langsung mengajak Rumi untuk pulang bersama.
"Tapi, tetap saja itu berbahaya, Raisa. Selain kau bisa terluka walau mudah sekali sembuh, kemampuanmu bisa saja dicurigai. Lain kali berhati-hatilah," ucap Rumi
"Baik. Aku mengerti," kata Raisa
Di hari itu pun Rumi menemani Raisa syuting sambil melihat prosesnya.
Di sore hari akhirnya Raisa sudah boleh pulang setelah syuting hari ini berakhir.
"Raisa, kamu udah bisa pulang. Adegan syuting kamu hari ini sudah selesai."
"Kalau begitu, saya pulang duluan, ya. Sampai ketemu lagi besok," ujar Raisa
Setelah berpamitan pada beberapa kru yang masih senggang di sana, Raisa pun langsung mengajak Rumi untuk pulang bersama.
"Rumi, ayo kita pulang. Aku susah selesai syuting di hari ini," kata Raisa
"Baiklah. Tunggu sebentar. Ada panggilan telepon masuk," ujar Rumi
Raisa mengamgguk tanda mengerti.
Rumi pun mengangkat panggilan telepon yang masuk pada ponselnya. Siapa yang menelepon Rumi sedangkan yang mengetagui nomor pobsel Rumi hanya Raisa? Itu adalah Paman Elvano yang menelepon menggunakan telepon rumah di rumah minimalis baru milik Raisa dan Rumi memang sudah lebih dulu memberikan nomor ponselnya pada Paman Elvano.
"Halo. Ada apa, Paman Elvano?"
"Rumi, kapan kau akan pulang? Katanya hari ini kita mau berkunjung ke rumah orangtua Raisa lagi?"
"Aku akan segera pulang, Paman. Kebetulan aku memamg sedang bersama Raisa dan akan pulang bersamanya."
"Kalau begitu, kau langsung ke rumah orangtua Raisa saja bersamanya. Aku yang akan menyusul kalian ke sana. Aku akan pergi sendiri dengan membuka portal sihir teleportasi."
"Baiklah, aku mengerti. Kita bertemu di rumah orangtua Raisa, ya, Paman."
"Baik. Sampai bertemu nanti."
Tut!
Sambungan telepon terputus.
"Raisa, apa aku boleh sekalian ikut ke rumah orangtuamu?" tanya Rumi
"Boleh kok," jawab Raisa
"Karena memang rencananya hari ini aku mau ke rumah orangtuamu bersama Paman Elvano. Jadi, PamanElvano tinggal menyusul seorang diri saja nanti," ungkap Rumi
"Memang sudah direncanakan mau datang ke rumah orangtuaku? Ada perlu apa lagi?" tanya Raisa
"Kau juga akan tahu nanti," jawab Rumi yang lebih dulu merahasiakan tujuannya datang ke rumah orangtua Raisa bersama Paman Elvano.
Setelah itu Raisa dan Rumi pun pulang bersama memuju ke rumah orangtua gadis cantik itu.
.
•
__ADS_1
Bersambung.