Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
[Season 2] 116 - Berlibur di Desa Daun.


__ADS_3

Akhirnya semua telah berkumpul di ruang makan dan masing-masing duduk di kursi yang mengelilingi meja makan untuk makan malam bersama.


"Onty Icha, boboknya nyenyak gak tadi?" tanya Farah


"Nyenyak kok, Sayang. Maaf, ya, Onty Icha jadi gak bisa ikut menemani main bareng. Onty Icha ketiduran tadi," jawab Raisa


"Gak apa kok," kata Farah


Selalu saja gadis kecil itu yang pertama kali mencairkan suasana dengan pertanyaannya yang terkesan masih polos.


"Oh, ya ... rencananya kami akan pulang besok," ungkap Pak Hilman


"Pulang, Pak? Kenapa gak menetap beberapa hari lagi?" tanya Raisa


"Kami gak enak karena terus merepotkan. Lagi pula, acara pernikahan kamu dan Rumi juga udah selesai. Jadi, kami udah bisa pulang," jawab Bu Vani


"Apanya yang merepotkan? Tidak sama sekali kok. Kan, kita semua ini keluarga. Tidak perlu merasa tidak enak apa lagi sungkan atau segan," ujar Tuan Rommy


"Jangan terlalu buru-buru ingin pulang, Bu, Pak. Ibu Bapak dan yang lain juga belum pernah lihat dan mampir ke rumah kami (Rumi dan Raisa) di Desa Daun, lho," ucap Rumi


"Benar juga. Bagaimana kalau kalian datang ke rumah kami dan berlibur di Desa Daun selama sehari atau dua hari? Tiga hari juga boleh. Mau, ya?" tanya Raisa


"Mau, dong! Mau banget!" seru Farah menjawab.


"Tuh, Farah udah bilang mau. Semangat banget malah," kata Raisa


"Bagus juga idenya, tuh. Aku sempat dikasih pinjam laptop sama Kak Logan, terus aku pakai buat cari tempat liburan yang bagus di Desa Daun. Aku lihat beberapa tujuan yang bagus. Kayaknya bakal seru dan asik kalau liburan ke sana," ujar Raihan


Raisa tersenyum dan pandangan kedua matanya beralih menatap ke arah Tuan Rommy.


"Ayah Rommy dan yang lain juga, ikut saja bersama kami liburan di Desa Daun ... ya?" tanya Raisa


"Tidak perlu. Kau dan Rumi bersama keluargamu saja. Kami sudah merasa sangat senang setelah kalian semua menetap di sini selama beberapa hari ini," jawab Tuan Rommy


"Kenapa tidak? Kalau soal izin, aku bisa bicara pada Tuan Nathan kok. Lalu, kalau soal tempat tinggal di Desa Daun karena mungkin tidak akan bisa menginap di rumah kami, sekalian saja kita menginap bersama di hotel," ujar Raisa


"Ini bukan soal izin atau tempat tinggal untuk menginap, Raisa. Kuharap kau bisa mengerti," tolak Tuan Rommy


"Baiklah. Namun, akan sangat disayangkan jika kita semua tidak bisa liburan bersama," kata Raisa


Raisa mengira alasan ditolaknya rencana liburan ke Desa Daun oleh Tuan Rommy adalah karena ayah mertuanya dan semua yang tinggal di dalam kediaman tersebut adalah tahanan rumahan seumur hidup yang harus mengantongi izin jika ingin bepergian ke luar atau karena rumah tempat tinggal Raisa dan Rumi itu jelas tidak cukup jika ditempati oleh banyak orang. Namun, ternyata ada alasan lain yang tak bisa diungkapkan. Raisa tidak ingin bertanya lebih jauh dan berusaha untuk mengerti pada keoutusan yang diambil oleh Tuan Rommy.


"Maaf, ya, kami tidak bisa ikut liburan bersama," kata Nona Rins


"Selamat menikmati liburan kalian nanti," ucap Logan


•••


Keesokan harinya.


Hari menjelang siang setelah sarapan pagi bersama, akhirnya Rumi, Raisa dan keluarga berpamitan pada Tuan Rommy dan yang lain untuk pergi ke Desa Daun.


Tempat kediaman Tuan Rommy memang bukan terletak di Desa Daun, melainkan di desa pinggiran Negara Api yang letaknya cukup jauh dari Desa Daun tempat Rumi dan Raisa tinggal di dunia itu.


Di luar kediaman, Tuan Rommy, Logan, Tuan Garry, Tuan Johan, dan Nona Rina sedang melepas kepergian Rumi dan Raisa serta keluarganya yang ingin menuju ke Desa Daun.


Semua saling melambaikan tangan.


Raisa pun menggunakan kemampuan sihirnya untuk membuka portal sihir teleportasi menuju ke Desa Daun. Lalu, satu per satu masuk ke dalam lingkaran hitam itu dimulai dari Raisa dan Rumi yang masuk paling akhir.


Setelah tiba di lokasi yang dituju, yaitu Desa Daun, Raisa pun menutup kembali portal sihir teleportasi yang telah dibuka olehnya.


"Kita sudah sampai di Desa Daun!" seru Rumi


"Nah, ini baru namanya pemukiman penduduk. Bukan cuma goa dan tanah kosong di mana-mana. Ups ... maaf," ujar Raihan yang langsung intropeksi diri karena mungkin perkataannya menyinggung Rumi karena berkaitan dengan lingkup tempat tinggal sang ayah, Tuan Rommy.


Rumi hanya tersenyum tipis menanggapi perkataan spontan dari sang adik ipar.


"Yang mana rumah Onty Icha sama Uncle Rumi?" tanya Farah


"Rumahnya ada di dalam gang, Sayang. Gak bisa langsung ke depan rumah pas lewat dari pintu sulap tadi. Jadi kita harus jalan kaki dulu sedikit biar bisa sampai ke rumahnya. Gak apa, kan?" tanya balik Raisa usai menjawab pertanyaan dari keponakan perempuannya.


"Gak apa-apa kok," jawab Farah


"Rumahnya gak besar, lho. Jadi, jangan kaget waktu sampai di rumah nanti, ya. Ayo, kita jalan," ujar Raisa


Semua pun mulai berjalan menuju rumah Raisa.


"Emangnya kenapa, Onty Icha?" tanya Farah yang mungkin bermaksud untuk bertanya soal ukuran rumah yang Raisa bilang tidak besar itu.


"Rumah itu awalnya Onty Icha dapat waktu belum nikah sama Uncle Rumi. Karena berpikir rumah hanya untuk satu orang, jadi rumahnya juga gak perlu yang terlalu besar, tapi yang penting itu bisa buat ditinggali dan nyaman kok," jelas Raisa


"Rumah itu fasilitas yang dikasih buat kamu karena kamu kerja di sini, kan?" tanya Bu Vani


"Iya, Bu," jawab Raisa sambil mengangguk singkat.

__ADS_1


Tak butuh waktu lama saat berjalan, akhirnya semua pun sampai di rumah Raisa.


"Nah, kita udah sampai, nih ... sebentar, aku buka kunci pintunya dulu," ujar Raisa yang mendekat hingga ke depan pintu masuk rumah untuk membuka kunci agar rumah daoat terbuka dan bisa dimasuki.


"Silakan masuk," kata Raisa


Semua pun masuk satu per satu.


"Gak terlalu kecil kok rumahnya walau gak besar juga," kata Pak Hilman


"Pas masuk, langsung ke ruang tengah. Bisa untuk ngumpul dan ruang tamu juga dan ada televisi," ujar Raisa


"Nah, ayo ... kita lihat kamarnya," sambung Raisa


Semua pun beralih menuju dan masuk ke dalam salah satu kamar.


"Ini kamar utamanya, tapi kasurnya cuma muat untuk dua orang. Jadi, kamar ini mau dipakai buat siapa?" tanya Raisa


"Kamar utama buat Farah, Raina, dan Arka aja," jawab Bu Vani


"Yakin, nih? Satu kamar lagi lebih kecil dan gak ada kasurnya karena di rumah ini cuma ada 1 kasur doang yang ada di kamar ini, jadi di kamar satunya lagi cuma bisa pakai kasur lantai. Emangnya gak apa?" tanya Raisa lagi untuk lebih meyakinkan.


"Iya, biarin aja. Gak apa-apa, Ibu sama Bapak, mah," jawab Pak Hilman


"Kalau begitu, kasurnya bisa buat Farah sama Kak Raina. Kak Arka terpaksa pakai kasur lantai juga dan tidur di bawah," ujar Raisa


"Lalu, ini ... barang-barang kalian bertiga," sambung Raisa yang mengeluarkan barang-barang milik keluarga kecil itu dari dalam inti sihir ruang penyimpanan miliknya.


Sebelum berangkat pergi ke Desa Daun, Raisa memang lebih dulu menyimpan barang bawaan keluarganya ke dalam ruang penyimpanan sihir miliknya.


"Onty Icha, yang barusan utu sulap apa?" tanya Farah dengan wajah keponya yang polos.


"Farah, tahu sulap yang ada di TV ... pas orang pegang sesuatu, terus barang itu hilang, kan? Nah, barang itu disimpan ke suatu tempat yang lain dan Onty Icha bisa sulap itu juga," jelas Raisa yang memberi alasan yang dikarangnya sendiri dengan konsep antara sulap dan sihir yang mungkin sama.


"Oh, gitu ... terus, kalau itu barang apa, Onty?" tanya Farah yang menunjuk ke arah benda seperti gagang atau tongkat tipis yang berada di samping pintu kamar.


Benda itu sebenarnya adalah pedang milik Raisa.


"Aku lupa kalau benda itu disimpan di sini," pelan Raisa yang langsung menarik pedang bersarung itu untuk mendekat ke arahnya dengan menggunakan kemampuan sihir dan langsung menyimpannya ke dalam ruang penyimpanan sihir miliknya.


"Wow, benda itu jalan sendiri dan hilang gitu aja, dong!" seru Raihan dengan takjub.


"Itu pisau panjang, Sayang. Udah Onty Icha simpan pakai cara sulap," ungkap Raisa dengan dustanya.


"Apanya yang pisau panjang? Kalau dilihat dari ukuran dan bentuknya, benda tadi itu pedang, kan?" tanya Raihan sambil mengucapkan tebakannya.


Raihan pun hanya bisa terkekeh pelan.


"Pedang itu yang dipakai pangeran buat menyelamatkan tuan putri dari penjahat, kan?" tanya Farah


"Benar, Sayang ... tapi, itu berbahaya," jawab Raisa


"Wah ... keren!" seru Farah


Sudah banyak diberi asupan tontonan kartun barbie dan dongeng kerajaan, seperi itulah jadinya bagi Farah.


"Karena udah ada di kamar, Farah sama Mami Papi bisa istirahat atau beresin barang bawaannya. Onty Icha sama Uncle Rumi mau kasih tahu kamar satunya lagi ke Nenek Kakek dan Om Ehan dulu," ucap Raisa


"Farah, gak usah ikut dan di sini aja. Kamar yang satu lagi gak pernah dipakai, jadi banyak debu dan kotor," sambung Raisa yang menyela lebih dulu sebelum keponakannya bicara.


"Ya udah, deh ... " pasrah Farah


"Oh, ya ... Kak Arka, kasur lantainya ada di dalam lemari dinding di sana, ya. Tolong ke luarin aja semuanya buat Ibu dan Bapak di kamar sebelah nantinya. Semua kasur lantainya bersih kok," ujar Raisa sambil menunjuk suatu dinding yang sekaligus merupakan sebuah lemari penyimpanan di sana.


"Oke, Raisa!" seru Arka


"Terima kasih, Raisa," ucap Raina


"Sama-sama, Kak," balas Raisa


Raisa, Rumi, Raihan, Pak Hilman, dan Bu Vani pun beranjak pergi meninggalkan Raina, Farah, dan Arka di dalam kamar tersebut dan beralih menuju satu kamar lainnya.


"Karena kamarnya kotor karena gak pernah dipakai, Ibu Bapak sama Raihan tunggu di luar aja, ya. Biar aku dan Rumi aja yang masuk. Kami berdua mau bersihin kamarnya dulu, gak lama kok," ucap Raisa


Raisa pun membuka pintu kamar tersebut dan masuk ke dalamnya bersama Rumi.


"Benar-benar kotor karena tidak pernah terpakai," kata Rumi


"Sayang, aku butuh bantuanmu," pinta Raisa


"Mohon bantuannya," sambung Raisa


"Tentu, Sayang ... " kata Rumi


Sekali saja Raisa bicara, Rumi langsung bisa mengerti soal bantuan apa yang istrinya butuhkan.

__ADS_1


Pertama Raisa membuka jendela kamar yang menghubungkan ruangan itu ke luar dengan menggunakan kemampuan sihirnya menggerakkan besi pengunci dan engsel besi. Lalu, wanita itu bersama sang suami menggunakan kemampuan sihir elemen udara untuk membersihkan kotoran di dalam kamar tersebut dengan cara mengangkat semua partikel debu dan kotoran lainnya memggunakan hembusan agin dan membuangnya ke luar melalui jendela.


Semua pun langsung bersih dengan sekali coba.


"Bersih-bersih pakai sihir emang keren!" seru Raihan


"Karena kamarnya lebih kecil, jadi mungkin cuma bisa muat buat Ibu dan Bapak doang," kata Raisa


"Terus, nasib aku gimana?" tanya Raihan


"Yang muda yang perkasa harus mengalah, tidur di atas sofa di ruang tengah, ya," jawab Raisa


"Kalau tahu gitu dari awal aku diduk aja di sofa sambil nonton TV," ujar Raihan yang langsung menekuk wajahnya.


"Tapi, barang-barang kamu bisa ditaruh di dalam kamar ini kok," kata Raisa


"Dasar, pemberi harapan palsu ... " dumel Raihan yang langsung beranjak menuju ke sofa dan duduk di sana, lalu menyalakan televisi untuk menonton.


Raisa terkekeh kecil. Wanita itu pun mengeluarkan barang milik kedua orangtua dan adik lelakinya dari ruang penyimpanan sihir miliknya. Lalu, ia bersama Rumi pun beralih menuju ke ruang tengah.


"Di sini cuma ada satu kamar mandi di belakang, ya, dan ada dapur juga di sana," ucap Raisa dengan nada suara keras agar semua yang ada di dalam rumah dapat mendengar ucapannya.


"Kalau mau aja, Kak Arka juga bisa tidur di ruang tengah bareng Raihan, tapi karena sofa cuma ada 1, jadi mungkin salah satunya harus pakai kasur lantai di bawah atau dua-duanya tidur di kasur lantai di bawah juga bisa. Meja mininya bisa digeser lebih dulu," sambung Raisa


Raina dan Farah pun menyusul keduanya menuju ke ruang tengah.


"Kalau semua tempat udah dipakai, kamu sama Rumi mau tidur di mana, Dek?" tanya Raina


"Kan, dulunya ini rumahku, jadi aku dan Rumi bakal tinggal di rumahnya Rumi," jawab Raisa


"Yah, kita gak serumah bareng, dong?" tanya Farah


"Rumah Uncle Rumi dekat kok dari sini. Cuma berjarak tiga rumah dari rumah ini ke sebelah kiri. Kalau mau Farah bisa main ke rumah sana," jelas Raisa


"Lalu, karena di rumah ini cuma ada 1 kamar mandi ... kalau pada ngantre ke kamar mandi, tapi udah gak tahan juga bisa langsung lari ke tiga rumah sebelah kiri dan pakai kamar mandi di rumah Rumi. Hehe," sambung Raisa yang disertai dengan tawa kecil.


"Rumah Kak Rumi juga ada di dekat sini? Kalau gitu, aku ikut tidur di sana aja boleh gak?" tanya Raihan


"Bukannya gak boleh, tapi gak bisa. Rumahnya bahkan lebih kecil dari pada ini cuma bisa dua orang tinggal di sana. Ruangannya cuma lorong setelah pintu masuk, 1 kamar tidur, dapur mini, dan 1 kamar mandi. Maklumlah dulunya rumah bujang," jelas Raisa


"Kalau mau tidur di sana, paling kamu juga cuma bisa tidur di atas sofa di lorong setelah pintu masuk. Di sana bahkan gak ada TV," sambung Raisa


"Yah ... kalau begitu, mending aku di sini aja. Dari pada ganggu pasutri baru," ujar Raihan


"Maaf, ya, Raihan ... " kata Rumi


Raisa hanya bisa terkekeh pelan.


"Lalu, di lemari bawah televisi ada tumpukan CD serial film fiksi pahlawan Desa Daun. Dulu itu punya Rumi, bisa ditonton untuk hiburan," ujar Raisa


"Punya Kak Rumi? Katanya, di rumah Kak Rumi gak ada TV? Terus di sana nonton CD pakai apa?" tanya Raihan


"Pakai laptop," jawab Rumi


"Aku pinjam laptopnya boleh gak, Kak Rumi?" tanya Raihan


"Boleh, kok, lapotop itu memang jarang dipakai dan masih bagus. Nanti aku albilkan di rumah dan kuantarkan ke sini," jawab Rumi


"Yes ... terima kasih, Kakak ipar," ucap Raihan


"Laptopnya belum aku kasih kok ... tapi, sama-sama," kata Rumi


"Dasar, bocah maruk ... " dumel Raisa


"Biarin aja, wlek!" ledek Raihan


Saat itu Arka ke luar dari kamar utama karena hendak mengantar kasur lantai ke kamar sebelah untuk ibu dan bapak mertuanya.


"Raisa, kamu kok punya banyak kasur lantai di rumah? Bukannya kamu cuma tinggal sendiri?" tanya Arka


"Itu ... teman-temanku di sini dulu suka menginap di rumah. Jadi, aku beli beberapa kasur lantai tambahan, tapi kasur itu semuanya udah dicuci bersih sebelum akhirnya disimpan," ungkap Raisa


"Begitu, rupanya ... " kata Arka sambil mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti.


"Kalau begitu, aku dan Rumi pulang ke rumah sana, ya. Pamit dulu," ujar Raisa


"Laptopnya jangan lupa, ya!" seru Raihan


"Iya, bawel ... " sahut Raisa


"Kalau begitu, permisi ... " pamit Rumi


Raisa dan Rumi pun beranjak le luar dari rumah (Raisa) tersebut dan beralih menuju rumah (Rumi) yang hanya berjarak tiga rumah dari sana.


.

__ADS_1



Bersambung.


__ADS_2