Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
135 - Fakta Tambahan.


__ADS_3

"Aku mengerti, Paman. Aku sudah paham atas segala konsekuensi yang harus kutanggung dari segala tindakan dan jalan yang kupilih dan aku sudah siap untuk semua itu." Ucap Raisa


"Ekhem! Hmm... Dari semua penjelasan yang kau ungkap... Apa kau memiliki hubungan spesial dengan Rumi, seperti berpacaran dengannya?" Tanya Paman Aiden dengan suara yang sedikit memelan.


Bluushh!!~


Raisa langsung menundukkan pandangannya karena malu...


Raisa mencoba mengatur perasaannya dan kembali menegakkan pandangannya setelah cukup menjadi tenang. Seutas senyuman pun terukir pada bibir di wajahnya~


"Sepertinya Bibi dan Paman-Paman di sini memang sudah menyadarinya, memang tidak bisa ditutupi lagi. Benar, aku tengah menjalin hubungan yang lebih dekat lagi dengan Rumi. Mendengarnya dalam bahaya, tentu saja aku tidak bisa tinggal diam. Aku sungguh tidak hanya memikirkannya saja, tapi juga semuanya yang lain juga." Pelan Raisa menjawab.


"Jadi, itu kah sebab kau menjadi sedih ketika menyebut nama Rumi yang menjadi incaran para penjahat itu? Dan semua tindakanmu yang terkesan lebih peduli padanya dan berusaha melindunginya?" Tanya Bibi Sierra


"Benar! Agaknya aku tahu kenapa mereka berusaha mengincar Rumi, itu karena tubuh dan kemampuannya yang spesial. Aku mendengar sendiri saat ada yang melaporkan gerakan teman-teman saat mereka hendak menyelamatkanku, mereka juga tahu lingkup hubunganku dan memberiku ancaman dengan hubunganku dan Rumi, aku pikir itu pasti mungkin ada mata-mata atau pengkhianat di desa. Aku juga mendengar Rumi adalah korban yang asli, dia mungkin saja akan jadi orang yang akan dikorbankan untuk sesuatu yang sangat besar. Jika saja rencana mereka berhasil, ini takkan semudah yang aku bayangkan saja. Aku menjadi khawatir, apa lagi mereka adalah orang-orang yang terorganisir. Organisasi Mata Dewa pasti tidak hanya beranggotakan mereka yang merencanakan penculikan kali ini saja. Aku tidak bisa terus berada di sini, aku selalu berharap semua yang ada di sini akan terus dan tetap baik-baik saja." Jawab Raisa


"Aku mengerti kekhawatiranmu. Kami tidak akan mempedulikan masalah privasimu sedangkan masalah yang ada di desa beserta keamanannya adalah tanggung jawab kami. Kau tidak perlu khawatir berlebihan, Raisa." Ucap Paman Nathan


"Kami menemukan di rumahmu, kau telah bersiap dengan koper pakaianmu." Kata Paman Rafka yang sengaja menggantungkan ucapannya.


"Koper milikku... Aku di pagi hari kemarin, berencana untuk pulang ke dunia asalku. Teman-temanku memang tidak ada yang tahu karena aku berencana baru akan memberi tahu mereka saat berkumpul bersama saat pagi hari. Makanya saat ada yang datang nenculikku, aku pikir itu adalah temanku yang menghampiriku untuk mengajakku berkumpul dan memulai hari bersama-sama. Perkataanku adalah jujur! Paman tidak sedang berpikir aku hendak kabur dan pergi berkhianat dari desa ini kan?" Ungkap Raisa


"Ya, aku hanya butuh penjelasan darimu." Kata Paman Rafka


"Baiklah, aku mengerti." Paham Raisa yang dalam benaknya menyadari bahwa dirinya masih saja dicurigai dan belum sepenuhnya dipercaya.


"Rencana kepulanganmu sempat tertunda karena masalah penculikan kemarin, lalu kapan kau akan pergi? Apa sampai sekarang teman-temanmu belum tahu tentang ini?" Tanya Bibi Sierra


"Kalau hari ini aku sudah pulih dan boleh meninggalkan rumah sakit, mungkin besok aku akan langsung pulang. Aku sudah terlalu lama di sini, aku tidak ingin keluargaku khawatir dan malah tidak memperbolehkanku ke sini lagi. Untuk sementara teman-teman masih belum kuberi tahu, selesai interogasi ini aku baru ingin memberi tahu mereka." Jawab Raisa


Mereka yang menunggu di luar ruang rawat Raisa...


"Sudah lama, kenapa mereka masih belum selesai juga?" Penasaran Morgan


"Sepertinya mereka sudah hampir selesai." Kata Rumi yang mengintip dari kaca pintu ruangan dan melihat orang-orang yang menginterogasi Raisa sudah hendak ke luar dari ruang rawat tersebut.


"Kalian semua sedang apa beramai-ramai di sini?" Tanya seseorang yang baru saja datang.


"Papa, sudah kembali!?" Sapa Aqila yang melihat Paman Elvano yang datang menghampiri ke rumah sakit.


"Ya, aku ada perlu ingin ke dalam." Kata Paman Elvano


"Silakan masuk..." Yang lain langsung memberi jalan untuk Paman Elvano memasuki ruang rawat tersebut.


"Ada Paman Elvano yang baru saja masuk. Apa interogasinya akan semakin lama?" Tanya Marcel


"Entahlah, tapi mungkin Papa sudah mencari tahu suatu yang penting dan harus memberi tahu mereka yang ada di dalam. Semoga saja tidak butuh waktu lama." Jawab Aqila


"Kalian semua sudah selesai?" Tanya Paman Elvano yang baru saja masuk ke dalam ruang rawat Raisa.


"Elvano, kau sudah kembali ya? Apa ada yang ingin kau beri tahu?" Tanya Paman Nathan


Seperti dugaan, mereka yang di dalam tidak jadi ke luar begitu Paman Elvano datang...


"Setelah kau memberi tahu padaku, aku langsung pergi ke lokasi tersebut. Aku memang menemukan tiga orang terluka parah dan satu orang dengan luka bakar sesuai data darimu, tapi mereka berempat sudah ditangani oleh pemerintah desa sana. Aku tidak bisa meminta ke empat orang itu untuk diserahkan padaku, pihak sana menolaknya. Setelah aku selidiki dan menemukan markas mereka, tempat itu sudah terbakar." Ungkap Paman Elvano


"Itu tepat seperti para penyelidik desa yang dikirim ke sana." Kata Paman Nathan


"Itu kesalahanku. Pasti kau tidak dapat menemukan apa pun setelah nembuang waktumu di sana." Sesal Raisa


"Kata siapa? Empat orang itu memang tidak bisa kubawa ke sini dab markas itu memang sudah terbakar. Tapi, ada,satu ruangan tahan api yang masih tersisa. Aku menemukan beberapa benda dan informasi dari sana dan mungkin akan berguna. Ruangan itu sepertinya memang sengaja dibuat tahan dari bencana dan letaknya pun cukup dalam dan agak sulit ditemukan, tapi untungnya aku tetap menyelidiki begitu aku ada di sana." Jelas Paman Elvano


"Dengar itu, Raisa. Ini masih membuahkan hasil, kau tidak usah merasa bersalah lagi." Ucap Paman Nathan


"Dan lagi, pihak pemerintah sana memang tidak memperbolehkan aku mengambil alih empat orang itu. Karena berada di wilayah mereka, mereka berkata akan menyelidiki itu sendiri, tapi mereka juga mengatakan jika menemukan sesuatu yang penting, mereka akan mengkoordinasikan pada Desa Daun karena orang desa ini juga terlibat sesuatu yang berbahaya di sana. Untuk para pelakunya, saat aku tiba di markas mereka, ada beberapa yang ikut tewas terbakar. Aku tidak tahu apa masih ada dari mereka yang lolos dan hidup. Bisa jadi ada yang berhasil lolos dan menjadi mata-mata di berbagai pihak dan tempat, seperti di sini atau juga di pihak yang menyelidiki empat orang yang kusebut tadi. Kita tetap harus berhati-hati atas segala kemungkinan." Ungkap Paman Elvano


"Aku sudah mengerti. Terima kasih sudah membantu, Elvano." Kata Paman Nathan


"Itu sudah tugasku. Untuk kau Raisa, tidak perlu merasa bersalah atas apa yang sudah kau lakukan. Kalau jadi dirimu, aku juga akan melakukannya. Kau tidak salah, para penjahat seperti mereka sudah seharusnya dilenyapkan saja supaya tidak membuat masalah lagi. Aku memuji tindakanmu, yang kau lakukan sudah benar." Ujar Paman Elvano


"Terima kasih sudah mau menghiburku, Paman. Tapi, tetap saja aku masih merasa bersalah dan aku pun tidak pernah menyangka akan melukai orang dengan kedua tangan dan kemampuanku ini." Ucap Raisa


"Kau masih gadis yang polos, aku bisa mengerti yang kau rasakan. Memang berat, tapi beginilah kehidupan yang keras." Kata Paman Elvano


"Aku juga mengerti, Paman sudah beranggapan seperti apa. Tidak masalah, ini akan berlalu. Aku harap semua baik-baik saja." Ujar Raisa


"Bagus, kalau kau mengerti." Puji Paman Elvano


"Semua sudah jelas diungkap. Sekarang waktunya kita ke luar. Raisa adalah pasien di rumah sakitku, dia masih harus istirahat, teman-temannya juga masih ingin lanjut menjenguk dan bertemu dengannya." Ucap Bibi Sierra

__ADS_1


"Baiklah. Raisa, lanjutkan istirahatmu." Kata Paman Nathan


Raisa pun mengangguk mengerti...


Mereka yang ada di ruangan rawat Raisa pun segera ke luar dan yang menunggu di luar kembali masuk ke dalam.


"Akhirnya selesai juga, kami pikir akan butuh waktu lama lagi setelah Paman Elvano datang tadi." Kata Wanda


"Ya, aku juga merasa lega setelahnya. Sudah menceritakan semuanya sambil mengingat kejadian kemarin sungguh membuat kepalaku pusing. Aku ingin melanjutkan makanku saja." Ucap Raisa


"Bilang saja, kalau kau tidak mau menceritakan lagi kejadian kemarin itu pada kami semua. Ya kan, Raisa?" Ujar Billy


"Ahahaha... Kau ini mengerti sekali sih!? Aku mohon maklumnya dari kalian semua deh." Kata Raisa


"Sudah, biarkan Raisa melanjutkan makan dan istirahatnya." Kata Rumi


"Ah, melihat orang sakit makan dengan lahap, aku jadi lapar lagi." Keluh Chilla


"Oh, ya, di mana Morgan, Ian, dan Devan? Aku tidak melihat mereka bersama kalian?" Tanya Raisa


"Mereka bertiga langsung mengikuti rombongan tadi untuk menanyakan ceritamu tentang kejadian kemarin pada masing-masing Ayahnya. Sepertinya mereka tidak sabar untuk mengetahuinya." Jawab Dennis


"Ternyata, begitu. Lalu, kenapa kau tidak ikut dengan mereka juga, Aqila? Padahal tadi ada Mama dan Papamu sekaligus di sini." Ujar Raisa bertanya.


"Biarkan mereka saja yang merasa kerepotan sendiri karena rasa penasaran, aku sih bisa kapan saja menanyakannya pada Mama atau Papa." Kata Aqila


"Benar, aku juga sudah tidak terlalu peduli dengan itu. Bagiku yang penting sekarang kau sudah baik-baik saja, Raisa." Ucap Rumi


"Aku pikir kalian semua juga sudah pergi karena sudah bosan terlalu lama menunggu di luar." Kata Raisa


"Apa sekarang maksudmu, kau ingin mengusir kami, Raisa?" Tanya Sandra


"Bukan begitu... Tolonglah jangan selalu salah paham dengan kata-kataku. Aku senang kok kalian bisa menemaniku di sini, tapi apa kalian tidak ada kegiatan lain? Aku tidak menyita waktu kalian hanya untuk menemaniku di sini kan?" Ujar Raisa


"Tidak kok, Raisa. Kami sedang bebas dari kegiatan apa pun, makanya kami semua datang." Kata Marcel


"Aku jadi merasa tidak enak. Kalian sudah menyempatkan waktu untuk menemuiku di sini, padahal aku akan meninggalkan kalian." Ucap Raisa


"Apa maksudnya itu?" Tanya Rumi


"Jika diperbolehkan ke luar dari rumah sakit, aku ingin langsung pulang ke duniaku setelahnya. Kalau hari ini sudah diperbolehkan pulang dari sini, besok aku akan langsung pergi." Jawab Raisa


"Kenapa begitu? Memangnya kau benar-benar merasa sudah pulih?" Tanya Amy


Raisa menyempatkan untuk diam-diam melirik ke arah Rumi untuk melihat seperti apa reaksinya setelah mendengar rencana kepulangannya. Dilihatnya, Rumi seperti tidak rela, tapi ia berusaha menahannya dan menerima keputusan itu dengan sikapnya yang diam saja. Rumi sedang bersabar sekarang...


"Sayang sekali... Padahal aku ingin kau terus berlama-lama di sini bersamaku, kalau perlu tidak usah pulang ke duniamu sekalian." Ujar Amy


"Tidak boleh begitu dong. Bagaimana pun juga keluargaku ada di sana, walau kalian pun sudah seperti keluargaku juga di sini, tapi aku tetap harus kembali. Akan jadi gawat jika aku lama tidak pulang ke sana dan sekalinya aku pulang, keluargaku tidak lagi memperbolehkanku sama sekali kembali datang ke sini karena tidak ingat untuk pulang. Yang perlu kalian ingat, aku pasti akan datang lagi karena kalian juga keluargaku." Ucap Raisa


"Kalau begitu, kau memang harus pulang. Karena akan gawat jadinya kalau kau tidak kembali lagi di sini, kami semua, terutama aku tidak bisa jika tidak ada dirimu. Jadi, ingatlah untuk datang lagi ke sini ya..." Ujar Rumi


"Haha... Kau ini sedang menanjungku tinggi-tinggi ya, Rumi? Tenang saja, aku pasti datang kembali ke sini kok. Itu pasti dan aku berjanji!" Kata Raisa


Sampai di sore hari...


Semua teman-teman yang lain sudah meninggalkan rumah sakit sejak siang tadi bersamaan habisnya waktu besuk, kecuali Rumi yang bersih kukuh meminta untuk dibiarkan menemani Raisa di sana. Raisa pun diperbolehkan untuk pulang dari rumah sakit saat itu. Rumi pun menemani Raisa untuk kembali ke rumahnya di Desa Daun tersebut...


Keesokan harinya...


Setelah beristirahat selama senalam, pagi hari setelahnya Raisa benar-benar melakukan sesuai perkataannya. Raisa sudah bersiap dan sedang bertemu dengan teman-temannya.


"Aku pergi dulu... Sampai jumpa lagi nanti!" Pamit Raisa


Setelah melakukan salam perpisahan akhirnya sosok Raisa menghilang sesaat setelah masuk ke dalam lingkaran hitam yang merupakan sihir portal teleportasi miliknya.


•••


Beberapa bulan kemudian...


Di dunia asalnya sendiri, Raisa pun memiliki kesibukan. Selain kumpul keluarga yang terbilang wajib, Raisa juga mulai aktif mengembangkan chanel youtube-nya bersama kedua sahabatnya, Maura dan Nilam.


Di beberapa kali pertemuan dengan kedua sahabatnya untuk urusan memulai pekerjaan dari nol, Raisa melakukan beberapa kali rekaman cover lagu. Karena jika waktunya Raisa harus pergi berpetualang di dimensi dunia lain yang memakan waktu lama, konten untuk chanel youtube-nya sudah tersedia dan hanya perlu pengeditan sebagai langkah akhir sebelum di-upload.


"Raisa, kapan kamu mau pergi liburan ke tempat pacar kamu lagi?" Tanya Maura


Saat ini, Raisa sedang berkumpul dengan kedua sahabatnya. Maura dan Nilam.


Maura bertanya seperti itu, karena yang Raisa beri tahu pada kedua sahabatnya jika ia pergi ke dimensi dunia lain adalah liburan untuk bertemu dan menghabiskan waktu bersama pacarnya, Rumi, yang tak lain dan tak bukan adalah manusia dari dimensi dunia yang berbeda. Tak hanya dengan pacar, Raisa juga punya banyak teman lainnya di sana...

__ADS_1


"Belum kepikiran lagi sih. Kita masih harus mengumpulkan konten videonya kan? Lagi pula, sebenarnya aku merasa gak enak sana sini, tahu. Karena harus pulang pergi menghabiskan waktu sama keluarga dan teman-teman di sini juga sama pacar dan teman-teman di sana. Lama-lama liburan di sana... Gak bisa dan harus pulang ke sini juga. Lama-lama menetap di sini, gak enak sama yang sudah menunggu di sana. Jadinya, agak kewalahan juga." Ungkap Raisa


"Emang susah ya, kalau punya pacar beda negara gitu. Lama-lama LDR-an juga jadi gegana." Kata Maura yang mengerti perasaan Raisa.


Raisa pun mengangguk kecil...


*LDR: Long Distance Relationsip.


Gegana: Gelisah Galau Merana.


"Sebenarnya sih aku-nya senang-senang aja, tapi ya gitu deh. Kadang-kadang bingung juga nentuin dan bagi-bagi waktunya." Tutur Raisa


"Jadi, ini alasannya yang sempat bikin kamu berpikiran kalau kamu gak bakal bisa bersama pacar kamu itu?" Tanya Nilam


DEG!


Nilam menyinggung sesuatu yang jadi permasalahan yang Raisa pendam selama ini.


"Hmm, iya. Untuk sekarang aku cuma bisa jalani semuanya, tapi aku juga gak bisa yakin sepenuhnya kalau semua akan berjalan baik-baik saja untuk aku dan Rumi. Aku masih saja merasa takut menghadapi kemungkinan kami akan berpisah suatu saat nanti." Jawab Raisa sambil tersenyum pahit.


"Ah, lupain tentang itu! Seperti kata kamu, jalani aja dulu, kebahagiaan pasti datang walau jalan yang ditempuh sangat sulit. Lagi pula, kenapa pacar kamu itu gak berkunjung liburan ke sini nemuin kamu sih? Kayaknya udah lama dia dan teman-teman kamu yang lainnya gak datang ke sini kan? Masa harus kamu terus yang ke sana?" Ujar Nilam


"Sepertinya dia juga sibuk di sana. Di sana dia juga kerja, tahu... Dan juga, jangan sebut dia pacar aku terus dong. Kalau mau bahas dia sebut namanya aja, Rumi. Sebutan pacar itu, aku merasa kurang nyaman." Ucap Raisa


"Ngomong-ngomong, pacar kamu kerja apa? Bukannya seharusnya dia masih sekolah? Kamu bilang, dia lebih muda dua tahun dari kamu kan?" Tanya Maura


"Desa tempat dia tinggal menyediakan lapangan kerja untuk mereka yang akan segera masuk dunia kerja, semacam pengalaman pra-kerja gitu. Jadi, mulai dari awal dia udah berkontribusi untuk desanya. Begitu lah..." Jawab Raisa berdusta.


..."Di sana mereka memang bekerja lebih awal. Pendidikan sebelum bekerja sebagai penerima misi yang berkaitan dengan sihir pun hanya sebentar, tapi aku gak mungkin bilang begini kan..." Batin Raisa...


"Kalau sebut nama dia, nanti dia bisa sakit telinga kalau aku lagi kesal dan menggerutu tentang dia." Kata Nilam


"Loh, emangnya kesal kenapa?" Tanya Raisa


"Habisnya, dia masih aja buat sahabatku yang cantik ini merasa sedih!" Sebal Nilam


"Apa sih? Enggak kok, aku senang kalau lagi sama dia. Aku-nya aja yang masih kurang pendirian, ragu, dan egois. Harusnya kalau dari awal aku gak yakin kayak gini, aku gak usah aja kasih dia harapan sampai mau pacaran sama dia. Aku ini emang egois!" Kata Raisa yang kembali mengembangkan senyuman pahitnya.


"Udahlah, Raisa. Semua orang emang punya keegoisannya masing-masing, kamu kayak begini juga demi mencari kebahagiaan kamu. Emang gak sepenuhnya dibenarkan, tapi kamu juga gak salah. Ini cuma kebimbangan dalam hal perasaan cinta yang sering terjadi. Pokoknya manusia emang begitu, kamu jangan menyalahkan diri kamu sendiri kayak begini dong..." Ucap Nilam


"Kalau pada akhirnya aku yang terus ragu ini memilih mengakhiri hubungan kami dengan alasan demi kebaikan masing-masing karena gak mau kami merasa patah hati setelah benar-benar harus berpisah nanti, apa itu artinya aku hanya mempermainkan perasaan dia? Aku suka dan sayang banget sama dia, aku juga gak mau pisah, tapi gak bisa menutupi kemungkinan itu gak akan terjadi juga. Terus, apa yang harus aku lakukan? Seandainya kami gak pernah ketemu, pasti gak akan jadi serumit ini!" Bingung Raisa mengungkapkan apa yang ada di benaknya.


Raisa pun menunduk lesu sambil berusaha keras menahan air matanya agar tidak jatuh.


"Udahlah, Raisa... Kamu jangan menekan kesalahan pada diri kamu sendiri. Kalian bertemu juga karena takdir, mungkin juga kalian berjodoh. Ya kalau bukan jodoh, juga mau gimana lagi... Tapi, kalau jodoh pasti kalian akan dipersatukan. Keraguan dan segala kebimbangan kamu juga adalah cobaan untuk perjalanan cinta kalian ysng baru di mulai. Ini baru awal, akhirnya bakal jadi seperti apa, gak ada yang tahu. Mungkin aja kalian bakal nemuin kebagagiaan untuk akhir kalian. Berpikir positif aja, untuk sekarang seperti kata kamu, kamu jalani aja, keraguan kamu itu jangan dipikirin dulu. Biarlah semua seperti berjalan seperti seharusnya." Tutur Maura


"Maura, benar! Maaf ya, udah sempat mengorek luka yang lagi berusaha kamu tahan. Aku benar-benar gak bermaksud. Maaf ya, Raisa." Ucap Nilam


"Kalian berdua benar, aku gak apa-apa kok. Terima kasih ya udah mau dengar keluh kesah aku. Aku gak biasanya begini, gak sangka aku ternyata cengeng juga." Kata Raisa


"Itu gunanya sahabat, kan?" Sahut Maura


"Benar. Kami malah berterima kasih karena kamu bersedia curhat." Kata Nilam


Raisa pun kembali mengangkat pandangannnya dan menyeka air yang berada di ujung matanya yang sejak tadi berusaha ia tahan, lalu kembali tersenyum secerah mentari~


..."Mau kita gak bertemu pun, aku yang ditakdirkan berbeda dari yang lain pun bisa melihat Rumi dalam penglihatan mimpi ajaib itu. Susah untuk aku gak jatuh cinta sana dia, karena mungkin sejak awal aku lihat dia dalam mimpi penglihatan ajaib itu aku udah mulai ada perasaan yang sulit diungkapkan terhadap Rumi. Kalau mau disesali pun, seharusnya aku gak punya takdir spesial ini. Supaya aku gak melihat, bertemu, mau pun jatuh cinta sama Rumi. Tapi, apalah daya? Aku bukan orang yang bisa menentang takdir atau menghapusnya. Baik itu takdir atau perasaan rumit ini... Benar kata Nilam, aku emang egois! Tapi, Maura juga benar. Ini semua hanya cobaan untuk perjalanan cintaku yang baru dimulai. Semuanya masih panjang dan aku berharap bisa menemukan kebahagiaan itu." Batin Raisa...


Saat Raisa sudah kembali tersenyum ceria, diam-diam Maura mengambil ponselnya. Ia mengetik sesuatu dan mengirimnya pada seseorang...


Nilam yang menerima pesan pun membuka ponselnya...


From: Maura


Kok kamu tumben sih malah ngomong yang menyinggung rasa sakitnya Raisa? Gak biasanya kamu ceroboh gitu?


Nilam pun mengirim balasan...


^^^Iya, tumben nih. Biasanya kan kamu yang ceroboh, tapi kali ini kok malah aku... Aku juga bingung sendiri sampe ngerasa gak enak sama Raisa, tapi untung kamu bisa bikin jadi lebih baik. Hari ini sifat kita kayak jadi terbalik! Maaf deh, aku gak bermaksud...^^^


From: Maura


Ya, untungnya... Raisa udah balik baik-baik aja.


Setelah diam-diam saling mengirim pesan, Maura dan Nilam pun sama-sama menghibur Raisa.


Setelah janji temu kumpul bersama Maura dan Nilam, Raisa pun kembali pulang ke rumah...


.

__ADS_1



Bersambung...


__ADS_2