Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
92 - Belajar Berdua Di Rumah Raisa.


__ADS_3

Walau hanya saling mengobrol bersama. Tidak penting mereka melakukan hal apa, yang terpenting saat ini adalah mereka bisa menghabiskan waktu dengan berdua saja! Saling melengkapi kebersamaan berdua...


Setelah terlarut dalam obrolan berdua, Rumi mulai merasa gelisah. Ia mencemaskan waktu yang terus berlalu, khawatir harus segera berpisah dengan Raisa. Kali ini, waktunya ia yang memikirkan cara agar tidak perlu cepat berpisah


"Setelah ini kau langsung pulang ya, Raisa?" Tanya Rumi


"Iya. Tapi, aku kembali ke duniaku kan besok. Setelah ini aku hanya akan pulang ke rumahku dengan hanya jarak perbedaan tiga rumah saja dari sini. Besok kita bisa bertemu dulu sebelum kepulanganku ke duniaku, malam ini aku hanya perlu beristirahat di rumahku di Desa ini sebelum kepulanganku besok." Jelas Raisa


"Tapi, sekarang pun aku masih belum mau berpisah denganmu." Kata Rumi


"Sudah kuduga, kau akan berkata begitu." Tebak Raisa


"Bisakah aku melakukan suatu hal sebelum harus berpisah denganmu malam ini?" Tanya Rumi


"Eh, apa yang ingin kau lakukan itu?" Tanya balik Raisa


"Kita bisa melakukannya di rumahmu." Kata Rumi


"Itu tak menjawab pertanyaanku. Lalu, bukankah kita sepakat menghabiskan waktu berdua di rumahmu?" Ujar Raisa


"Asalkan kita menghabiskan waktu berdua, di mana pun itu tidak penting, yang penting kita bisa bersama. Aku ingin menemani dan membantumu saat belajar." Ungkap Rumi


"Oh, kau masih terpikir tentang Dennis, rupanya! Kau masih saja merasa cemburu padanya? Dia kan tidak sedang berada di sini, kita hanya sedang berdua sekarang." Kata Raisa


"Tetap saja! Memangnya tidak boleh ya, kalau aku ingin melakukan hal seperti itu bersamamu? Kali ini, aku akan membantumu belajar dengan baik." Ujar Rumi


Raisa mengerti!


Rumi masih terpikirkan saat Dennis membantu mengajarkan Raisa saat belajar. Rumi juga ingin seperti itu! Mungkin, Rumi juga ingin Raisa mengingatnya saat ia dapat membantu mengajarkan pelajaran pada Raisa, bukan hanya mengingat Dennis saat itu saja... Ini seperti rasa cemburu yang terpendam!


"Tentu saja, boleh dong! Aku senang kok kalau kau membantuku belajar, sangat senang malah! Memang ada beberapa rumus pelajaran yang sangat sulit mengingatnya, tapi aku selalu begitu mudah lupa dengan rumus-rumus itu. Kalau begitu, kita bisa langsung ke rukahku saja! Karena aku pun tidak membawa buku-buku pelajaranku di dalam tas yang kubawa." Ucap Raisa


"Begitu, kah? Kalau begitu, ayo! Kita langsung ke rumahmu saja sekarang!" Girang Rumi


"Tapi, kali ini kau harus bisa bersabar membantuku belajar secara perlahan, ya! Pokoknya kau harus bisa sampai aku mengerti yang kau ajarkan padaku. Jangan sampai seperti waktu ity, kau malah seperti memahami pelajaran itu sendirian dan tidak benar mengajarkannya padaku. Anggap saja, ini seperti tantangan bagimu untuk membimbing seorang murid menuju kelulusannya." Tutur Raisa


Raisa berkata seperti itu bukan untuk merendahkan dirinya sendiri atau berniat mematahkan semangat Rumi, tapi ia justru ingin meningkatkan semangat Rumi dengan cara seolah menantang Rumi agar bisa membantu mengajarkannya sampai benar-benar mengerti apa yang diajarkan padanya... Ini seperti sedang mencoba menumbuhkan rasa kepercayaan diri Rumi agar tidak sampai membandingkan dirinya dengan Dennis atau jangan sampai Rumi mendapat pemikiran Dennis akan menikung dirinya dalam mendapatkan kepercayaan Raisa hanya karena masalah membantu belajar ini. Ini sama halnya seperti dorongan sebuah dukungan!


"Tentu saja! Aku pasti akan bisa membantu mengajarimu sampai kau benar-benar mengerti. Agar kau dapat mengingat saat-saat kau belajar bersamaku..." Kata Rumi


"Aku pasti akan selalu mengingatnya! Saat-saat belajar bersama orang yang kusuka, pasti sangat menyenangkan! Ayo, kita ke rumahku!" Ucap Raisa


"Ayo! Aku akan membantumu membawakan barang belanjaan milikmu." Ujar Rumi


"Baik. Terima kasih, Rumi!" Kata Raisa


"Ya, sama-sama." Balas Rumi


Raisa dan Rumi pun bersama-sama menuju ke rumah Raisa. Raisa membawa sebagian barang belanjaannya dan sebagian yang lain Rumi yang akan membantu membawakannya...


Sesampainya di rumahnya, Raisa langsung menaruh dan meminta Rumi juga menaruhkan barang belanjaannya ke dalam kamarnya. Saat Raisa membereskan semua barang belanjaannya di kamar, ia meminta Rumi ke luar dari kamarnya dan menunggunya di ruang tamu. Setelah ia selesai membereskan barang di kamarnya, ia berkata akan langsung menghampiri Rumi di ruang tamu dengan membawa buku-buku pelajarannya dan alat tulis yang ikut dibawanya ke dunia asing itu...


Raisa pun datang menghampiri Rimi di ruang tamu dengan membawa buku-buku pelajaran dan alat tulis di tangannya. Raisa pun menaruh buku-buku miliknya di meja ruang tamu tersebut.


"Itu semua buku-buku belaharku. Kau bisa melihat-lihatnya dulu jika kau mau. Aku ingin membuatkan minuman dulu untuk pendamping kita selama belajar nanti. Kau tunggu saja di sini..." Kata Raisa


Raisa pun beralik beranjak ke dapur untuk membuat minuman untuk dirinya dan Rumi selama kegiatan pembelajaran mereka nanti...


Saat Raisa membuat minuman di dapur, seperti katanya yang membolehkan Rumi melihat-lihat buku belajar miliknya... Rumi pun meraih buku-buku milik Raisa dan membukanya satu persatu. Saat Rumi melihat-lihat buku milik Raisa, suatu ide terlintas di pikirannya. Rumi pun mengambil sebuah alat tulis dan menuliskan sesuatu di buku tulis milik Raisa. Saat nenuliskan sesuatu itu, sebuah senyuman mengembang di bibirnya~


Saat Raisa kembali dengan dua gelas minuman di tangannya, Rumi langsung meletakkan kembali buku dan alat tulis milik Raisa di tempatnya semula berada. Seolah Rumi tidak melakukan apa pun pada buku Raisa...


Raisa membawa dua gelas susu putih hangat di tangannya. Setelah meletakkan dua gelas susu itu di meja, Raisa pun ikut mendaratkan dirinya untuk duduk di samping Rumi.


"Karena sebelum tidur aku selalu meminum susu putih hangat, sekalian saja kubuatkan untukmu juga yang sama sepertiku. Kau sudah lihat buku milikku, Rumi?" Ujar Raisa


"Sudah. Tulisan tanganmu bagus, aku suka!" Kata Rumi


..."Walau seharusnya aku biasa dengan kata itu, tapi tidak bisakah kau jangan terlalu sering mengucapkan kata suka ini? Hatiku selalu tiba-tiba bergetar saat mendengarnya!" Batin Raisa...

__ADS_1


Merasa gugup saat mendengar kata suka dari mulut Rumi, Raisa mengalihkan perasaannya dengan meneguk sedikit susu putih hangat di tangannya, guna menetralkan kembali rasa gugupnya...


"Begitu, kah? Kulihat, sepertinya tulisanku terlihat biasa saja... Jadi, kita langsung mulai belajarnya saja, kan? Coba, kau tolong aku untuk memahami rumus yang ini!" Tutur Raisa yang menunjuk suatu rumus setelah membuka buku pelajaran miliknya.


"Yang ini? Baik, aku akan menunjukkan caranya padamu. Lihatlah, aku akan pelan-pelan menunjukkannya padamu." Ujar Rumi


"Baik, Guru Tampanku!" Kata Raisa


Kegiatan pembelajaran antara keduanya pun dimulai. Kali ini, Rumi mencoba untuk pelan menerangkan pada Raisa dan Raisa terus berfokus pada apa yang diterangkan Rumi padanya.


"Benda apa itu yang ada di antara buku-bukumu, Raisa?" Tanya Rumi


"Oh, itu! Selimut. Jika sudah semakin malam pasti akan semakin dingin, jadi aku menyiapkan selimut ini untuk menyelimutiku. Ah, tapi aku hanya membawa satu ini saja. Harusnya aku membawa satu lagi untukmu juga. Sebentar deh, aku ambilkan satu selimut lagi!" Ujar Raisa yang hendak bangkit dari duduknya untuk mengambil selimut.


Namun, Rumi menahan Raisa pergi dengan mencekal tangannya. Raisa pun menoleh... Tatapannya seolah bertanya dengan heran.


"Tidak perlu lagi. Satu ini saja cukup karena sepertinya selimutmu ini cukup lebar. Kita gunakan saja bersama, seperti ini..." Ucap Rumi


Setelah menahan Raisa agar tidak pergi, Rumi pun meraih selimut milik Raisa dan membuka lipatannya. Rumi pun merangkulkan selimut tersebut pada tubuhnya dan juga tubuh Raisa guna menyelimuti mereka berdua. Raisa pun hanya diam menerima perlakuan dari Rumi tersebut...


..."Kupikir Rumi adalah orang yang tak peduli dengan rasa dingin, makanya aku hanya mengambil satu selimut ini saja. Tapi, setelah kupikir aku salah karena berpikir seperti itu karena walaupun memang begitu aku tetap harus memberi satu selimut untuknya. Tapi, dia menolak. Ternyata Rumi ingin berada di satu selimut yang sama denganku. Benar saja, seperti ini lebih terasa hangat dan nyaman..." Batin Raisa...


"Lihat, satu selimut saja pun cukup untuk kita pakai berdua! Jadi, kau tak perlu repot lagi mengambilkan selimut lain untukku." Kata Rumi


Di dalam selimut itu, Rumi pun lebih mendekatkan dirinya pada tubuh Raisa dan merangkul tubuh gadis di sampingnya itu.


..."Kupikir lagi sepertinya Rumi hanya modus ingin berada dalam satu selimut untuk lebih dekat padaku dan memelukku. Tapi, tak apa... Aku pun merasa senang." Batin Raisa...


"Baiklah. Ayo, kita lanjutkan lagi belajarnya!" Seru Raisa seraya tersenyum kecil.


Keduanya pun melanjutkan kegiatan pembelajaran bersama dengan Rumi yang membantu membimbing Raisa belajar, sambil sesekali meneguk segelas susu putih hangat sebagai minuman pendamping belajar. Kali ini, Rumi sungguh-sungguh membantu mengajari Raisa pelajaran yang kurang dipahaminya. Sedangkan Raisa terlihat sangat fokus dengan apa yang diterangkan Rumi padanya...


Di sela kegiatan belajarnya, Raisa kembali meneguk susu putihnya. Rumi pun ingin ikut neneguk susu yang dibuatkan untuknya, tapi saat hendak meraih gelas susunya, ternyata susu putih yang mengisi gelas tersebut sudah habis sampai tak bersisa.


"Ah, Susu putih yang kau buatkan untukku sudah habis, ternyata!" Kata Rumi


"Sudah habis? Mau kubuatkan minuman yang lain?" Tanya Raisa


"Tidak masalah, akan kubuatkan lagi untukmu." Kata Raisa


Saat Raisa hendak bangkit dari duduknya, lagi-lagi Rumi menahannya untuk tidak pergi dengan mencekal tangannya. Rumi pun menarik tangan Raisa agar tidak beranjak dari sisinya.


"Tak perlu kau buatkan yang lain lagi untukku. Aku hanya ingin...-" Ucapan Rumi terpotong saat ia melakukan sesuatu.


Rumi menarik tangan Raisa agar lebih mendekat padanya dan saat posisi Raisa sudah sangat dekat dengannya, Rumi pun mengecup dan sedikit mel*mat bibir Raisa tepat di tempat yang terdapat sisa susu yang diminumnya sampai pada ujung-ujung bibir Raisa...


CUP!


Rumi pun mencium bibir Raisa untuk mengambil sisa susu putih yang tersisa padanya~


Pergerakan Rumi yang cepat membuat Raisa hanya bisa terdiam menerima perlakuan darinya. Raisa pun hanya dapat mengerjapkan matanya perlahan karena tak menyangka Rumi akan berbuat seperti itu padanya di saat jeda kegiatan pembelajaran mereka.


"Aku tak ingin yang lain, aku lebih suka yang ini! Yang ada di bibirmu jauh lebih terasa manis dan hangat. Aku sangat menikmatinya!" Ungkap Rumi


"Dari mana kau belajar hal yang seperti ini sih, Rumi? Dasar!" Sebal Raisa seraya memukul kecil lengan Rumi.


"Memangnya kenapa? Padahal aku baru mau bertanya, apa aku boleh melakukannya lagi? Apa tidak boleh?" Polos Rumi bertanya.


"Haish... Sudah, fokus kembali pada materinya!" Seru Raisa yang mengelak dan mengalihkan ke topik pembicaraan lain.


"Tidak boleh, ya? Padahal aku ingin lagi!" Ujar Rumi


..."Ingin lagi, apanya?! Tak bisakah dia fokus pada materi pembelajarannya saja!? Dasar, Rumi!" Batin Raisa...


Melihat susu putih yang masih tersisa di gelas milik Raisa, Rumi pun meraihnya...


"Aku minum sisa punyamu saja ya, Raisa? Aku minta ya!" Pinta Rumi


Tanpa menunggu jawaban dari Raisa, Rumi langsung meneguk susu putih tersebut sampai habis di tegukan terakhir~ Dan Rumi meminumnya tepat di tempat bekas Raisa menempelkan bibirnya...

__ADS_1


Bluushh!~


Pipi Raisa memerah malu karena melihat perlakuan Rumi yang tak terduga itu...


..."Jadi, Rumi yang berkata ingin lagi itu ingin minum susunya lagi, ternyata! Tapi, kenapa dia harus meminum punyaku tepat di bekas bibirku yang menempel pada gelas itu?! Buat aku tidak fokus saja!" Batin Raisa...


"Hmm, rasanya sangat manis! Enak sekali!" Seru Rumi


"Kenapa kau tidak membiarkan aku membuatkan susu hangat lagi saja yang baru untukmu, sih?! Yang tadi kau minum itu kan punyaku, dari gelas bekas yang kupakai!" Heran Raisa


"Tidak apa, kan? Aku hanya tidak ingin merepotkanmu." Ujar Rumi


"Sebenarnya, kau merepotkanku juga tidak apa. Kau kan tamuku." Kata Raisa


..."Perlakuannmu itu karena sifatmu yang polos atau kau sengaja ingin menggodaku sih?!" Batin Raisa yang terus berusaha menenangkan hatinya yang terasa tak menentu....


"Sudahlah, tak perlu dibahas lagi! Kita lanjut saja belajarnya!" Kata Raisa


Kegiatan belajar pun kembali dilanjutkan. Hari pun semakin larut dan Raisa terlihat sudah mulai mengantuk. Terbukti dengan sesekali kepalanya yang terjatuh di bahu Rumi. Saat kembali sadar, Raisa pun kembali menegakkan posisinya.


"Caraku menerangkan padamu terlalu membosankan ya, Raisa?" Tanya Rumi


"Eh, tidak kok. Maaf ya, aku sudah mulai tidak fokus." Kata Raisa


"Kau sudah mengantuk ya, Raisa?" Tanya Rumi lagi.


"Ya, sepertinya begitu." Jawab Raisa


"Kalau begitu, belajarnya kita sudahi sampai di sini saja. Kau juga sudah semakin paham dengan yang kuterangkan padamu." Ucap Rumi


"Begitukah? Sayang sekali, waktu sangat cepat berlalu." Ujar Raisa


"Kalau begitu, aku pulang dulu. Kau siap-siap tidur saja ke kamarmu." Kata Rumi


"Tidak, aku akan mengantarmu sampai depan pintu rumahku." Ucap Raisa


Rumi pun bangkit berdiri. Raisa lebih dulu merapikan semua buku dan alat tulisnya di atas meja, lalu berdiri hendak mengantar Rumi sampai depan pintu rumahnya...


"Terima kasih susah mau menemaniku belajar ya, Rumi." Ucap Raisa


"Tidak masalah, kan memang aku yang ingin menenani belajarmu." Kata Rumi


CUP!


Raisa sedikit berjinjit untuk mengecup pipi Rumi~


"Kau sudah meluangkan waktumu, itu sebagai tanda terima kasih kecilku untukmu." Ungkap Raisa


..."Rumi sudah dua kali mencuri cium dariku. Kuharap dia sebang saat aku juga memberi satu pada pipinya." Batin Raisa...


"Aku yang seharusnya berterima kasih karena kau sudah mau menghabiskan waktumu bersamaku berdua saja seperti ini. Aku sangat senang!" Ucap Rumi


"Aku juga sangat senang kok!" Seru Raisa


CUP!


Rumi meraih kening Raisa untuk mengecupnya...


"Itu, ucapan selamat malam dariku! Aku pulang dulu ya!" Pamit Rumi


"Selamat malam juga! Fokuslah saat berjalan..." Sahut Raisa


Rumi pun melangkah pergi beranjak dari rumah Raisa menuju ke rumahnya sendiri yang hanya berjarak tiga rumah lainnya dari sana. Setelah Rumi pergi dan hilang dari pandangan, Raisa pun menutup dan mengunci pintunya...


Raisa kembali ke dalam rumah, mengambil semua buku dan alat tulisnya di atas meja ruang tamu, lalu beranjak memasuki kamar tidur pribadinya.


Dengan hati yang berbunga-bunga, Raisa pun bersiap untuk tidur di malam hari yang indah bertabur bintang. Juga bersiap untuk kepulangannya besok menuju dunia asalnya meninggalkan dunia asing itu dan orang-orang tersayangnya di sana...


.

__ADS_1



Bersambung...


__ADS_2