Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
[Season 2] 74 - Berkomunikasi Lewat Ular Sihir.


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan, akhirnya kereta yang mereka tumpangi tiba di stasiun Desa Bambu.


Raisa, Rumi, Amon, dan Sanari pun segera turun dari kereta listrik.


Setelah turun, kereta yang membawa mereka ke sana langsung pergi dari stasiun Desa Bambu. Di stasiun itu, semua kereta segera pergi dari sana. Ada perintah untuk segera mengosongkan stasiun kereta Desa Bambu, baik semua kereta atau para penumpang.


"Para penumpang harap segera tinggalkan stasiun sebelum sore tiba. Harap tinggalkan tempat ini dengan segera."


Setelah mendengar pengumuman tersebut, mereka berempat langsung beranjak pergi menuju lokasi misi.


Setibanya di lokasi, Tuan Derril langsung menyambut kedatangan mereka berempat.


Raisa dan Rumi sudah pernah bertemu dengan Tuan Derril saat menjalankan misi sekitar 4 tahun yang lalu. Namun, Sanari dan Amon baru pertama kali bertemu dengannya.


"Kita bertemu lagi, Raisa, Rumi. Sudah lama sejak kedatangan pertama kalian sekitar 4 tahun yang lalu," sapa Tuan Derril


"Benar. Senang bisa bertemu dengan Anda lagi, Tuan Derril. Anggota kami dalam misi kali ini berbeda dengan yang dulu. Perkenalkan ini adalah Sanari dan Amon," ujar Raisa sambil memperkenalkan Sanari dan Amon pada Tuan Derril.


"Sanari, Amon ... ini adalah Tuan Derril," sambung Raisa sambil memperkenalkan Tuan Derril pada Sanari dan Amon.


"Tuan Derril, coba jelaskan ... sebenarnya apa lagi yang terjadi di Desa Bambu ini? Apa benar kali ini pun ulah monster seperti dulu lagi?" tanya Rumi


"Semua warga berspekulasi seperti itu, tapi tidak ada yang tahu dengan pasti karena tidak ada yang melihatnya langsung sengan jelas. Semuanya terlalu takut dan sibuk bersembunyi karena merasa trauma dengan kejadian yang dulu," jawab Tuan Derril


"Hanya ada sedikit dari kami yang melihat penampakan seperti kilatan api dan saat itu muncul terdengar suara seperti auman yang keras," sambung Tuan Derril


"Jadi, sebenarnya makhluk apa itu?" tanya Amon


Tuan Derril menggeleng pelan sambil mengangkat kedua bahunya tanda tidak tahu.


"Makhluk itu selalu muncul saat matahari terbit dan terbenam. Jadi, sekarang masih aman, tapi saat mendekati dua waktu itu semua orang langsung bersembunyi di dalam rumah," ungkap Tuan Derril


"Lebih baik kalian istirahat dulu di panti asuhan seperti dulu. Setidaknya sebentar sebelum makhluk itu muncul," sambung Tuan Derril


"Baiklah. Kami akan istirahat dulu sebentar," kata Sanari


Mereka berempat pun mengikuti Tuan Derril menuju ke panti asuhan untuk beristirahat sejenak.


Begitu datang dan masuk ke dalam Panti Asuhan Cahaya Kasih, anak-anak yang sebelumnya pernah bertemu dengan Raisa dan Rumi langsung mendekati mereka secara bergerombol.


Anak-anak di sana tampak senang bisa kembali bertemu dengan Raisa dan Rumi. Mereka terlihat telah tumbuh lebih besar dari pada saat pertama kali bertemu.


"Kak Raisa, Kak Rumi ... kalian datang lagi!"


"Senang, deh, bisa ketemu lagi!"


"Senang juga bisa bertemu kalian lagi," balas Raisa


"Kenapa baru datang lagi, Kak? Sudah sangat lama, lho. Sudah 5 tahun, kan?"


"Salah, tuh. Yang benar itu 4 tahun."


"Ah, hanya salah beda 1 tahun. Kan, 4 tahun juga waktu yang lama."


Raisa terkekeh pelan melihat tingkah anak-anak itu.


"Iya, sudah lama sekali. 4 tahun ... tidak disangka kalian semua sudah semakin besar saja sekarang," ujar Raisa


"Iya. Kan, tidak mungkin kami terus jadi anak kecil."


"Kak Raisa juga semakin cantik dan Kak Rumi juga semakin tampan."


"Terima kasih," ucap Rumi


Raisa hanya tersenyum kecil.


"Kak Raisa dan Kak Rumi, datang sama teman lain, ya? Teman-teman yang waktu itu mana, Kak?"


"Oh, iya. Lupa mengenalkan teman-teman kakak kali ini. Ini Kak Sanari dan Kak Amon. Teman-teman yang dulu sedang sibuk sekarang, jadi hanya kami berempat yang datang kali ini," jelas Raisa sambil memperkenalkan Sanari dan Amon pada anak-anak panti asuhan.


"Halo, Kak Sanari, Kak Amon ...."


"Halo, anak-anak semuanya ... " balas Sanari sambil tersenyum ramah.


"Anak-anak, kakak-kakaknya jangan dibiarkan berdiri terus menerus dong. Suruh mereka duduk," pekik Tuan Derril


"Oh, iya, lupa. Kakak-kakak semua, ayo ... duduk dulu."


Anak-anak di sana pun membawa mereka berempat untuk duduk bersama.


"Kak Aqila dan Kak Morgan sekarang sudah menikah, ya? Kakak-kakak yang lain juga pasti sibuk karena sebelumnya terus nenyiapkan pernikahan mereka berdua, kan?"


"Benar. Ternyata, kalian semua sudah tahu, ya ... " kata Raisa

__ADS_1


"Iya. Karena sebelum itu beberapa dari kami datang ke Desa Daun nengantarkan pesanan rangkaian bunga untuk pernikahan Kak Aqila dan Morgan."


"Oh, aku tidak tahu karena aku tidak di sana saat mendekati hari pernikahan Aqila dan Morgan. Rumahku sangat jauh dari sini dan aku cukup sibuk bekerja saat itu," ucap Raisa


"Tahu tidak ... kebun yang dibangun Kak Raisa sekarang sudah jadi besar. Ada banyak tanaman buah dan bunga di sana. Banyak warga yang mengambil bibit dari kebun untuk kembali ditanam di pekarangan rumah masing-mading. Karangan bunga yang dipesan untuk pernikahan Kak Aqila dan Kak Morgan juga berasal dari kebun itu."


"Oh, ya? Syukurlah, kalau kebun itu bisa terus bermanfaat untuk semua warga di sini," ujar Raisa


"Tapi, kebun itu pernah tiba-tiba layu saat kakak-kakak baru saja pergi dari sini. Para warga jadi berusaha keras untuk mempertahankan kebun itu agar tetap hidup dan untungnya usaha para warga saat itu berhasil mempertahankan hidup kebun itu. Saat itu bulan tiruan dari Kak Raisa pun tiba-tiba pecah dan meleleh begitu saja."


"Kami sempat khawatir sampai berpikir yang tidak-tidak saat itu. Kami teringat perkataan Kak Raisa bahwa bulan tiruan itu bisa saja rusak saat sesuatu yang gawat terjadi pada Kak Raisa, mungkin saja itu adalah saat kakak kehilangan kemampuan sihir atau bahkan meninggalkan dunia ini. Tidak ada yang terjadi pada Kak Raisa saat itu, kan?"


Memang benar. Saat tim yang diikuti Raisa baru saja kembali ke Desa Daun sepulangnya dari Desa Bambu, Sang Dewa muncul dan menyerang Desa Daun. Saat itulah Raisa mengalami luka yang sangat parah bahkan hampir kehilangan nyawa karena inti sihirnya telah dirampas oleh Sang Dewa. Untung saja inti sihir itu hanya berisi tenaga sihir cadangan dan kemampuan sihir Raisa yang sempat menghilang bisa kembali pulih setelah beberapa tahun setelah insiden tersebut.


Mengingat peristiwa itu membuat Rumi langsung kembali merasa sedih karena teringat dengan kondisi Raisa yang menjadi sangat lemah saat itu.


Sedangkan Sanari dan Amon sedari tadi hanya diam.


"Saat itu memang ada sesuatu yang terjadi padaku. Ada orang jahat yang merampas inti sihirku yang membuatku sempat kehilangan kemampuan sihir selama beberapa tahun, mungkin itulah penyebab bulan tiruan itu jadi rusak. Tapi, sekarang kemampuan sihir milikku telah kembali lagi," jelas Raisa


"Selalu berhati-hatilah, Kak Raisa. Untung saja Kak Raisa sudah baik-baik saja sekarang."


"Iya. Akan kuingat pesannya dan terima kasih sudah mengkhawatirkan aku," ucap Raisa


Saat itu Tuan Derril datang dari arah dapur sambil membawa nampan berisi minuman dan toples camilan untuk diberikan pada Raisa, Rumi, Amon, dan Sanari.


"Raisa, Rumi, Amon, dan Sanari ... ayo, diminum dulu minumannya dan silakan makan camilannya," ujar Tuan Derril


"Tuan Derril, minumannya untuk kakak-kakak doang? Untuk kami semua mana?"


"Kalian semua bisa ambil masing-masing sendiri. Jangan iri sama tamu dan jangan manja," kata Tuan Derril


Anak-anak di sana tertawa kecil. Tuan Derril langsung berlalu pergi dari sana karena tahu anak-anak itu hanya bersikap iseng padanya.


"Kakak-kakak pasti datang karena monster muncul lagi di sini, kan? Apa harus tunggu muncul monster di sini dulu baru kakak-kakak datang ke sini?"


"Maaf, ya, anak-anak." Hanya itu yang bisa Raisa katakan pada anak-anak di sana.


"Jangan seperti itu, anak-anak! Kakak-kakak pasti sibuk dengan pekerjaan mereka!" teriak Tuan Derril dari jauh.


"Iya-iya, kami tahu!"


"Sebenarnya apa yang kalian tahu tentang monster yang muncul kali ini?" tanya Amon


Dengan siapa pun mereka bertanya, percuma saja karena tidak ada yang pernah melihat monster itu dengan jelas secara langsung karena sudah lebih dulu merasa takut.


Setelah mengobrol dengan anak-anak di sana, mereka semua pun makan bersama. Nyonya Wita, pengurus panti asuhan di sana sudah memasak untuk mereka semua.


Saat itu sebenarnya Raisa sudah makan siang dan masih merasa kenyang. Namun, karena merasa tidak enak kalau tidak makan karena sudah disuguhkan banyak makanan, akhirnya Raisa memilih untuk tetap ikut makan meski hanya sedikit.


Usai makan bersama, Raisa, Rumi, Amon, dan Sanari langsung bersiap-siap untuk melakukan penyelidikan tentang monster baru yang disebut-sebut itu.


Mereka berempat memutuskan untuk pergi menyelidiki sebelum waktu matahari terbenam karena itu adalah waktu monster itu sering muncul. Saat inilah waktunya. Mereka berempat pun telah siap untuk pergi.


"Sebelum kita pergi, ada sesuatu yang ingin kulakukan dulu," kata Raisa


"Rumi, bisakah kau pinjamkan aku ular sihir milikmu? Ular sihir yang kau berikan padaku, kutinggal di rumah orangtuaku di dunia sana karena kupikir aku akan pulang cepat hari ini juga. Aku ingin mengabari orang di rumah bahwa aku akan lebih lama di sini dan terlambat pulang. Aku ingin kau komunikasikan dengan ular sihir yang ada di dunia sana untuk mencari adikku supaya aku bisa berkomunikasi dengannya mekalui ular sihir itu," sambung Raisa


"Baiklah. Tapi, katamu ... orang-orang di duniamu takut dengan ular. Bukankah itu termasuk juga adikmu? Apa Raihan tidak akan takut saat melihat ada ular?" tanya Rumi


"Paling dia hanya sedikit terkejut sebentar. Aku sudah bilang pada Raihan kalau aku pulang terlambat aku akan mengabarinya lewat ular sihir yang kutinggalkan, jadi dia pasti akan sadar," jawab Raisa


"Cepatlah kalau kau mau berkabar dengan adikmu. Kau harus ingat kita harus segera pergi untuk penyelidikan," ucap Amon


"Ya, aku mengerti. Rumi, mohon bantuanmu," ujar Raisa


Rumi mengeluarkan ular sihir miliknya. Dengan sekali bertatapan mata dengan ular sihirnya, Rumi seolah sedang melakukan video call dengan ular sihirnya yang berada di tempat lain. Dengan satu kali isyarat, Rumi menyuruh ular sihir yang berada di rumah Raisa di dunia sana untuk mencari keberadaan adik Raisa, Raihan.


"Sabarlah, Amon. Raisa juga butuh mengabari orang di dunianya," kata Sanari


"Aku sedang berkoordinasi dengan ular sihirku yang ada di duniamu supaya dia mencari keberadaan Raihan di rumahmu sana," ucap Rumi


"Sudah terhubung. Ular sihirku di sana juga sudah menemukan keberadaan adikmu. Raisa, sekarang kau bisa berkomunikasi dengan Raihan," sambung Rumi


 


Di tempat lain.


Di dunia normal tanpa adanya sihir, Raihan berada di dalam kamar pribadi di rumahnya. Adik lelaki Raisa itu sedang rebahan di atas kasur empuk kesayangannya dalam posisi tengkurap sambil bermain game di ponselnya.


Pintu kamarnya tertutup dengan rapat. Seekor ular putih kecil masuk ke dalamnya melalui sela bawah pintu.


Saat Raihan ingin beranjak dari ranjangnya, ia melihat ada seekor ular putih dan langsung lompat kembali ke atas kasurnya.

__ADS_1


"GYAAAHH! ULAR!! IBU TOLONG!" Teriak Raihan


Ular putih itu mendesis pada Raihan dan lansung mengeluarkan suara manusia.


"Pikasebeleun! Hei, budak bangor! Ini kakak ... Raisa. Kamu lupa kakak pernah bilang bakal hubungi kamu pakai ular sihir? Jangan teriak, berisik! Nanti ibu yang dengar malah jadi panik. Tenang ular ini gak gigit kalau kamu gak nakal."


"Kalau aku nakal bakal digigit dong?"


"Ya, makanya jangan nakal. Udah, ah, jangan bercanda."


Raihan pun berangsur menjadi tenang.


"Jadi ini benar ... Kak Raisa?"


"Iya, ini kakak. Emangnya siapa lagi yang bisa lakuin sihir kalau bukan kakakmu ini?"


"Ada apa, Kak, kok pakai hubungin lewat ular segala? Pulangnya bakal diundur?"


"Ingat juga kamu. Ya, kakak ga bisa pulang hari ini karena dikasih tugas mendadak. Kamu tolong kasih tahu ibu dan bapak kalau kakak pulang telat supaya mereka gak khawatir."


"Iya, nyaho. Tugas kayak apa, sih, sampai harus diserahin ke Kak Raisa yang padahal mau balik? Siapa yang kasih tugasnya? Gak pengertian banget."


"Hush, gak sopan. Kakak masih sama teman-teman, tahu. Emang kamu mau dilaporin terus kena kiriman sihir dari sini? Udah dulu, ceritanya namti aja kalau kakak udah pulang. Kakak masih harus selesaikan tugasnya, ini penting."


"Iya, deh, iya. Soalnya aku gak mau kena kiriman sihir santet. Seram ...."


"Ya udah, kakak putus komunikasinya. Tenang aja, nanti ularnya balik sendiri ke kamar kakak. Jangan takut."


"Ok, sip."


Setelah menyampaikan pesan dari Raisa dari dunia yang berbeda, ular itu pun langsung merayap ke luar dari sela bawah pintu untuk kembali menuju kamar pribadi Raisa.


Raihan pun merasa lega setelah ular itu pergi dari kamarnya.


Sebelumnya Raisa memang sengaja meninggalkan ular sihir pemberian dari Rumi di rumahnya. Ia berpikur untuk berjaga-jaga jika tidak bisa pulang setelah tiga hari pergi seperti yang sudah dijanjikan, jadi ia bisa mengabari orang di rumahnya melalui ular sihir tersebut. Dan terbukti itu berguna untuk saat ini.


 


Kembali pada pososi asli Raisa di Desa Bambu.


"Sudah selesai. Terima kasih, Rumi," ucap Raisa


"Dan maaf iika kalian jadi mebdengar ucapan yang kurang menyenangkan dariku atau adikku tadi," sambung Raisa


"Sama-sama," balas Rumi


Rumi pun menyimpan kembali ular sihir miliknya dengan baik.


"Sebenarnya ada kata-kata yang baru pertama kali kudengar tadi," kata Sanari merasa bingung saat mendengar beberapa kata saat Raisa berkomunikasi dengan Raihan.


"Oh, itu bahasa daerah di duniaku. Tidak usah terlalu dipikirkan karena tidak bisa dimengerti juga," jelas Raisa


"Raisa, sebenarnya kau sengaja menunggalkan ular sihir dariku di rumahmu sana karena sudah berfirasat akan pulang terlambat, kan?" tanya Rumi mencoba menebak.


"Iya, tapi sebenarnya kukira alasanku pulang terlambat karena aku saja yang tidak tega pergi terlalu cepat dari sini. Ternyata malah karena ada misi dadakan," ungkap Raisa


"Itu juga sebagian dari firasatmu, Raisa. Ternyata memang firasatmu selalu tepat," kata Sanari


Saat itu tiba-tiba auman keras yang menyeramkan terdengar begitu saja. Warga desa yang memang sedang bersiap-siap menyelesaikan pekerjaannya karena hari sudah mendekati sore menjelang matahari terbenam yang bertepatan pada waktu munculnya monster sudah hampir tiba langsung berhamburan meninggalkan aktivitas mereka di luar dan langsung kocar-kacir masuk ke dalam rumah masing-masing sambil berteriak ketakutan.


Kilatan api pun terlihat menyambar ke sembarang arah.


"Monster itu sudah muncul," kata Amon


"Raisa, ini gara-gara kau lama berkomunikasi kita jadi terlambat pergi menyelidiki monster itu dan sekarang dia telah muncul," sambung Amon


"Tenang, Amon. Meski pun ini sudah sore, tapi masih cukup jauh dari waktu terbenamnya matahari. Pasti ada alasan lain kenapa monster itu lebih cepat muncul dari biasanya," ucap Sanari


"Ada bagusnya juga jika dia terlihat muncul karena kita bisa langsung dengan mudah mencari keberadaannya," sambung Sanari


"Kalau begitu, ayo ... kita langsung pergi ke lokasi keberadaannya," ujar Rumi


"Ya ... ayo," setuju Raisa


Amon tidak lagi mendebat Raisa karena bagaimana pun juga harus menjaga sikap di depan Sanari, pacarnya. Lelaki garang itu tampak sangat patuh pada gadis yang dicintainya.


Mereka berempat pun langsung pergi menuju ke sumber suara dan kilatan api itu.


.



Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2