Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
[Season 2] 119 - Pemandian Air Panas Berhantu.


__ADS_3

Raisa berjalan sambil menggenggam tangan Rumi sampai di depan rumah, lalu ia mengetuk pintu rumah tersebut.


Tok-tok-tok!


"Permisi, aku masuk, ya ... " Raisa langsung membuka puntu setelah mengetuknya.


Raisa pun masuk ke dalam rumah bersama Rumi.


Begitu masuk, ada Raihan yang menoleh ke arah pintu rumah dan melihat kakak perempuan dan kakak iparnya yang masuk bersama.


"Hei, kakak ketuk pintu bukannya dibuka pintunya," tegur Raisa


"Yang penting sekarang kakak udah masuk," kata Raihan


Raihan yang memang sedang dalam mode kaum rebahan pun kembali berbaring di atas sofa.


"Bangun kamu, Ray! Jam segini baru mau tidur, kebiasaan deh!" seru Raisa sambil menepuk punggung adik lelaki yang berbaring miring di atas sofa.


Tak hanya itu, Raisa bahkan menatik tangan adik lelakinya yang terus bergeming hingga posisinya berubah menjadi duduk.


"Bangun dong. Kasihan, tuh, kakak ipar kamu mau duduk," kata Raisa


Namun, Raisa-lah yang pertama duduk setelah menarik adik lelakinya hingga terduduk. Lalu, Raisa menepuk-nepuk pisisi sofa di sebelahnya bermaksud meminta suaminya untuk ikut duduk bersama di sampingnya. Rumi pun menurut dan bergerak menjatuhkan bok*ngnya untuk duduk di samping sang istri tercinta.


"Ganggu aja, sih. Bilang aja Kak Raisa yang mau duduk bukannya Kak Rumi," dumel Raihan yang merasa terganggu.


"Kami berdua yang mau duduk," sahut Raisa sambil tersenyum.


"Kamu mandi sana, gih! Katanya mau tour wisata keliling desa?!" sambung Raisa


"Mau, sih, tapi masih ngantuk, nih ... " kata Raihan


"Makanya, mandi biar jadi segar lagi," ujar Raisa


"Iya, deh ... " patuh Raihan yang langsung bangkit berdiri dan melangkah dengan malas menuju ke kamar mandi.


Saat Raihan beralih menuju ke kamar mandi, ternyata Bu Vani baru saja habis ke luar dari kamar mandi.


"Raisa, Rumi, udah makan siang belum?" tanya Bu Vani


"Sudah. Siang tadi, Bu," jawab Rumi


"Udah lama dong. Mau makan lagi gak? Makan bareng di sini aja," tawar Bu Vani


"Makan barengnya nanti aja, Bu. Kan, kita mau pergi," kata Raisa


"Jadi, mau pergi sekarang? Mau pergi ke mana?" tanya Bu Vani


"Rencananya mau ajak pergi ke pemandian air panas. Nanti bisa makan juga di sana, tapi mau minta pendapat yang lain juga," jawab Raisa


"Begitu, rupanya. Kalau Ibu setuju dan ikut aja, sih ... " ujar Bu Vani


"Bapak di mana, Bu? Kok gak kelihatan?" tanya Raisa


"Bapak tadi bilangnya mau keliling sebentar. Udah hampir satu jam belum balik juga, gak tahu pergi ke mana," jelas Bu Vani


"Apa kucari saja? Aku akan suruh ular sihirku untuk mencari Bapak, ya?" tanya Rumi


"Tidak perlu. Sebentar lagi Bapak juga kembali. Aku tahu Bapak sedang cari jalan pulang, sudah dekat kok," jawab Raisa


"Kok kamu bisa tahu, Raisa?" tanya Bu Vani


Raisa hanya tersenyum menanggapi pertanyaan dari sang ibu.


Raisa memang bisa mengetahui keberadaan Pak Hilman dengan menggunakan kemampuan sihir yang dimilikinya. Ia memiliki ikatan dari hubungan antara anak dan Ayah dengan Pak Hilman. Jadi, mudah saja bagi Raisa mendeteksi keberadaan Pak Hilman dengan kemampuan sihir miliknya.


Saat itu, Raina, Farah, dan Arka pun ke luar dari kamar tidur utama.


"Farah, baru bangun tidur siang, ya?" tanya Rumi


Farah mengangguk kecil khas anak yang baru saja bangun dari tidur sambil sesekali mengucek matanya. Lalu, gadis kecil itu berlarian kecil ke arah Raisa dan Rumi.


"Onty Icha, Uncle Rumi, kata Mami ... kita mau pergi jalan-jalan, ya? Emang benar?" tanya Farah


"Benar. Kita akan pergi jalan-jalan bersama-sama," jawab Rumi


"Om Ehan sekarang lagi mandi, tapi sebentar lagi mungkin selesai. Habis Om Ehan, Farah langsung mandi, ya," ujar Bu Vani

__ADS_1


"Nanti Farah mandi sama Mami, ya," kata Raina


"Oke, deh ... " patuh Farah


Terlihat raut wajah Arka yang menegang dan tidak mengenakkan.


"Kak Arka, mau ke kamar mandi, ya? Apa mau ke kamar mandi di rumah Rumi aja?" tanya Raisa


"Emang boleh?" tanya balik Arka


"Boleh kok," jawab Raisa


"Ayo, biar aku antar," kata Rumi


"Gak usah. Aku tahu kok. Rumah warna abu-abu tua selang tiga rumah ke kiri dari sini, kan?" tanya Arka


Rumi mengangguk membenarkan pertanyaan dari Arka.


"Kak Arka, yakin mau ke sana sendiri?" tanya Rumi


"Iya, bisa sendiri. Gak enak juga kalau kamu cuma nungguin aku di sana atau antar aku ke sana terus balik lagi ke sini. Mending kamu di sini aja sama Raisa dan yang lain," jawab Arka


"Ya sudah. Kak Arka nanti bisa langsung masuk karena pintu rumahnya tidak dikunci dan hanya ditutup. Karena rumahnya memang kecil, Kak Arka pasti bisa langsung menemukan kamar mandinya dengan mudah," ujar Rumi


Arka pun langsung bergegas untuk beralih menuju rumah (Rumi) lainnya sekalian dengan membawa pakaian ganti. Setelah Arka pergi, Raihan kembali usai mandi. Raina dan Farah pun beranjak ke kamar mandi bersama.


"Sekarang tinggal tunggu Bapak, Kak Arka, Kak Raina, dan Farah," gumam Raisa


"Emang Kak Arka ke mana?" tanya Raihan


"Tadi Kak Arka tergesa-gesa ingin menggunakan kamar mandi. Jadi, dia pergi ke rumahku," jelas Rumi


"Pantas aja, ternyata kebiasaannya kebawa sampai ke sini," ujar Raihan


"Memangnya Kak Arka punya kebiasaan seperti apa?" tanya Rumi


"Bukan kebiasaan yang bagus. Gimana jelasinnya, ya-" Raigan sengaja menggantungkan perkataannya dan melirik ke arah Raisa dengan maksud meminta kakak perempuannya itu menjelaskannya sendiri pada sang suami.


"Kakak iparku itu entah kenapa kebiasaannya aneh sekali. Kalau tidak pergi, ya bermain ponsel, dan suka sekali berdiam diri di kamar mandi seolah sedang bertapa. Katanya, sih, sakit perut, tapi masa iya setiap kali ke kamar mandi alasannya sakit perut? Itu adalah kebiasaan anehnya. Abaikan saja," jelas Raisa


Raihan pun ikut duduk bersama kakak perempuan dan kakak iparnya di atas sofa.


"Kamu bilang pernah cari tahu tempat wisata di Desa Daun. Apa kamu punya pendapat kita harusnya pergi jalan-jalan ke mana?" tanya balik Raisa


"Ditanya malah tanya balik. Jawab pertanyaan aku dulu," pinta Raihan


"Rencananya tujuan kita kali ini adalah pemandian air panas," ungkap Rumi


"Rencana bagus, tuh. Kita ke pemandian air panas Z aja. Katanya di sana ada hantu penunggunya. Pasti seru," ujar Raihan


"Kita memang mau menuju ke sana," kata Rumi


"Aku lupa tentang hantu penunggu itu. Tempat itu emang paling direkomendasikan dan kita bahkan punya voucher potongan harga yang kita dapat sebagai hadiah pernikahan, tapi kepergian kita kali ini bersama Farah. Sepertinya agak ekstrim jika kita membawa anak kecil ke tempat berhantu," ucap Raiaa


"Justru itu serunya! Katanya di sana juga ada kuis jelajah berhadiah!" seru Raihan


"Apanya yang seru? Maksud kamu yang seru itu kena amuk Kak Raina karena bawa anaknya yang masih kecil ke tempat berhantu seperti itu?" tanya Raisa


"Kalau begitu, Kak Raisa dan Kak Raina yang gak seru," ujar Raihan


"Seru, gak seru ... kamu kalau didatagi hantunya nanti baru tahu rasa serunya. Serunya ngompol di celana sampai jatuh pingsan," omel Raisa


"Bukankah itu hanya sekadar rumor belaka? Memangnya sungguhan ada hantu di sana?" tanya Rumi


Raisa mengangguk. Sekarang baru ia merasa ragu. Pasalnya keponakan perempuannya pernah diganggu oleh makhluk astral yang mengikuti saat mssih duduk di bangku sekolah Taman Kanak-kanak. Meski setelah diceritakan oleh sang kakak yang diberi tahu oleh guru yang bisa melihat makhluk ghaib, Raisa langsung mengusir makhluk astral yang mengganggu Farah dengan menggunakan kemampuan sihir cahaya suci miliknya yang membuat keponakannya terlindung dari hal semacam itu, Raisa masih saja ragu dan khawatir.


"Di pemandian air panas Z memang ada hantu penunggu yang merupakan nendiang prajurit perang pada masa lampau. Hantu itu memang tidak mengganggu, tapi terkadang suka menampakkan diri. Tidak, dengan menampakkan diri saja artinya dia sudah mengganggu karena orang-orang pasti akan terkejut dan takut saat melihatnya. Yang pernah melihatnya langsung adalah Morgan dan Amon yang pernah berlibur ke sana bersama keluarga, lalu juga Tuan Ghanee yang pernah berwisata ke sana dengan Tuan Keanu dan Kak Mira," ungkap Raisa


"Morgan dan Amon tidak bisa dikatakan melihatnya secara langsung, tapi mereka berdua melihat penampakannya pada foto yang diambil saat mereka berlibur di sana. Pada akhirnya mereka berdua membuang foto itu sebelum keluarganya melihat karena takut menjadi sial. Namun, kalau Tuan Ghanee ... dia melihatnya secara langsung dengan mata kepalanya sendiri saat terbangun dari tidur di tengah malam dan menjadi sangat ketakutan," sambung Raisa


"Ternyata, kau tahu cerita seperti itu. Lalu, bagaimana? Bukankah kita sudah menyiapkan voucher potongan harga untuk pergi ke sana?" tanya Rumi


"Benar kata kakak ipar, Kak Raisa. Sayang sama vouchernya kalau gak dipakai. Kita hanya perlu gak kasih tahu ke yang lain tentang hantu prajurit itu," ujar Raihan


"Baiklah, seperti itu saja. Setelah sampai di sana aku akan langsung mendirikan pelindung agar hantu itu tidak mengganggu atau muncul di hadapan kita," ucap Raisa


"Nah, begitu dong!" seru Raihan

__ADS_1


Usai berdiskusi bertiga, Pak Hilman akhirnya kembali dari jalan-jalannya ke sekeliling daerah sana.


"Bapak, sudah pulang. Bagaimana jalan-jalannya, Pak? Bapak tidak tersasar di jalan, kan?" tanya Rumi


"Tadinya aku mau mencari Bapak, tapi Raisa melarangku," sambung Rumi


"Habisnya kau mau mencari Bapak dengan mengerahkan ular sihirmu. Nanti yang ada Bapak lari tak tentu arah karena merasa takut," ujar Raisa


"Benar juga. Harusnya tadj aku langsung pergi sendiri untuk mencari Bapak," kata Rumi


"Gak apa, Bapak cuma keliling sebentar di dekat sini kok. Gak mungkun nyasar juga dan masih tahu arah pulang. Terus Bapak gak kayak yang dibilang Raisa, Bapak gak takut ular kok," ungkap Pak Hilman


"Iya, soalnya dulu Bapak juga tinggal di desa dekat hutan pegunungan. Jadi, sering lihat atau ketemu ular. Katanya ... " ujar Raihan


"Emang benar kok," kata Pak Hilman


Saat itu, Raina dan Farah pun kembali dari kamar mandi sudah dengan berganti pakaian yang rapi dan baru.


"Cucu Kakek udah cantik. Habus mandi, ya? Mau ke mana, sih, kok cantik banget?" tanya Pak Hilman


"Kata Onty Icha dan Uncle Rumi, kita semua mau diajak jalan-jalan," jawab Farah


"Iya, Pak. Jadi, Bapak juga siap-siap, ya," kata Raisa


Lalu, barulah Arka datang setelah selesai menggunakan kamar mandi di rumah (Rumi) lainnya.


Semua pun mulai bersiap-siap, sedangkan Raisa dan Rumi menunggu sambil duduk di sofa.


Setelah selesai bersiap-siap, mereka semua pun langsung menuju ke tempat Pemandian Air Panas Z. Meski semuanya terlihat senang, namun Raihan-lah yang paling bersemangat. Karena meski kakak perempuannya bilang akan membuat pelindung saat sampai di tempat tujuan, Raihan benar-benar penasaran ingin merasakan sensasi berlibur di tempat berhantu yang telah dikenal dan dipastikan kebenarannya.


Dan seperti yang telah dikatakan sendiri olehnya, begitu sampai di lokasi Pemandian Air Panas Z, Raisa langsung mendirikan dan menebar cahaya suci di seluruh tempat yang dilewatinya di sana ke seluruh isi tempat tersebut yang berfungsi sebagai pelindung dari hal-hal seperti roh ghaib.


Bahkan saat mereka hendak masuk ke bilik tidur untuk menginap di sana, Raisa melihat sosok itu. Hantu berbaju zirah besi yang merupakan roh dari mendiang prajurit perang.


"Kalian semua duluan saja. Aku mau ke toilet dulu. Tadi sewaktu di rumah lupa ke kamar mandi dulu soalnya," ujar Raisa yang sebenarnya hanya beralasan belaka.


Namun, sebenarnya Raisa langsung beranjak untuk menemui hantu prajurut perang yang sudah ingin berjumpa dengannya. Mungkin hantu itu muncul dan menampakkan diri di depan Raisa setelah merasa tergangu dengan cahaya suci pelindung yang menyebar ke seluruh tempat tersebut untuk membatasi pergerakannya.


Lalu, hantu itu pun menjumpai Raisa karena ingin berbincang untuk mengetahui alasan dari orang membatasi pergerakannya di sana dengan memancing Raisa untuk beranjak tempat yang agak terpencil sebelum energi rohnya habis karena adanya pelindung cahaya suci.


Raisa sendiri tidak bicara langsung dengan hantu prajurit itu melainkan berkomunikasi dengan kemampuan sihir batin yang membuatnya dapat bercakap-cakap dengan sosok roh ghaib.


"Kenapa kau membatasi pergerakanku di wilayahku sendiri?" tanya hantu prajurit perang dengan tatapan mata yang geram.


"Maafkan aku. Mohon pengertianmu. Aku hanya ingin kau tidak muncul menampakkan diri di sekitarku dan keluargaku, setidaknya untuk sehari saja," jawab Raisa


Saat berbincang dengan Raisa, hantu roh prajurit perang itu melihat aura kekuatan dari Sang Dewi Kebajikan Teratai Putih pada tubuh Raisa.


"Kenapa tidak bilang kalau kau adalah Sang Dewi? Baiklah, aku akan patuh dan tidak akan muncul di persekitaranmu. Lagi pula, energiku terus terkikis karena adanya cahaya suci pelindung di seluruh tempat ini, jadi aku aku akan bersembunyi di tempat yang paling terpencil. Nikmatilah waktumu di tempat ini, wahai Sang Dewi!"


"Terima kasih. Sekali lagi mohon pengertian dan maaf," ucap Raisa


Sosok hantu prajurit perang itu pun mulai menghilang dari hadapan Raisa setelah membungkuk hormat ke arah Raisa.


Setelah itu, Raisa pun kembali menemui yang lain di sana.


"Habis ke toilet, Kak? Ketemu sama hantu prajurit perangnya gak?" tanya Raihan sambil berbisik.


"Iya, ketemu. Dia udah pergi bersembunyi di tempat yang nenurutnya aman," jawab Raisa sambil berbisik pula.


"Kok dia yang sembunyi? Bukannya Kak Raisa yang sembunyi pas ketemu dia?" tanya Raihan


"Karena dia takut sama cahaya suci sihir pelindung yang kakak buat," jawab Raisa


"Jadi, tadi kau ke toilet atau bertemu hantu?" tanya Rumi


"Hantu itu menarikku karena ingin bicara," ungkap Raisa


"Tapi, kau baik-baik saja, kan?" tanya Rumi


"Ya. Aku baik-baik saja kok," jawab Raisa sambil mengangguk kecil.


Raisa tersenyum manis, lalu bersandar pada bahu Rumi. Rumi pun langsung merangkul pinggang Raisa dengan mesra.


.


__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2