
Saat semua sedang makan dan di sela-sela obrolan ringan mereka, Raisa pun kembali mengeluarkan ponselnya. Merekam acara makan bersama untuk menambahkan moment di ponselnya.
"Raisa, kau sedang apa dengan ponselmu itu lagi?" tanya Morgan
"Sedang merekam. Saat kita semua makan bersama setelah aku keluar rumah sakit, aku tidak sempat merekam momen itu. Jadi, sekaranglah saatnya," ungkap Raisa
"Tapi, jika kau terus sibuk dengan ponselmu itu. Kau akan kehabisan daging untuk dimakan," ujar Billy
"Aku juga bukan makan banyak kok. Secukupnya saja. Kalian makanlah saja. Dan, lihatlah ke sini sebentar," ucap Raisa
Raisa pun terus merekam.
Merekam yang lain saat sedang makan, apa menu makanan mereka. Momen kebersamaan mereka bertambah dalam ponsel Raisa.
"Kalian menikmati makanannya kan?" tanya Raisa di sela rekamannya
"YA!!" serempak semuanya.
"Tentu saja ...."
"Ini enak sekali!"
"Rasanya nikmat~"
"Daging adalah makanan terenak untuk disantap," ujar Chilla
"Semua makanan pun akan kau bilang enak, Gendut! Dasar, rakus ... " ledek Ian
"Baiklah... Selamat menikmati! Selamat makan, semuanya ... " ujar Raisa di penutup rekamannya.
Raisa pun mengakhiri rekamannya. Menaruh kembali ponselnya ke dalam tas. Dan meneruskan makannya.
"Kau sudah selesai? Sekarang makanlah. Kau akan benar-benar kehabisan dagingnya," ucap Rumi
"Iya, aku akan makan. Kau juga makanlah yang banyak," kata Raisa
•••
Setelah semua selesai makan, tagihan pun datang!
"Silahkan membayar," kata pelayan yang menyerahkan tagihan.
"Aqila, bantu aku membayar dengan uangku," bisik Raisa pada Aqila.
"Baiklah," bisik Aqila
"Bayarlah sesuai porsi masing-masing yang kalian makan," ujar Devan
"Tagihan ini sepertinya salah," kata Dennis
"Apa tagihannya membengkak? Ini pasti gara-gara Chilla yang makan terlalu banyak. Dia mengambil daging dengan berlebihan," ucap Ian
"Kenapa jadi aku?" tanya Chilla
"Itu karena kau yang makan sangat banyak," ketus Ian
"Tidak. Ini sepertinya lebih sedikit dari yang seharusnya," ujar Marcel
"Biar kulihat," kata Aqila
Aqila pun mengambil alih tagihan.
"Pemilik restoran bilang, kalian dapat potongan harga 50%. Melihat kalian adalah orang-orang yang membantu menyelamatkan desa saat musuh menyusup dan terjadinya pertarungan besar," jelas pelayan
__ADS_1
"Ini keberuntungan," kata Wanda
"Benar," serempak Sanari dan Amy
"Aqila, apa aku bisa membayar semuanya dengan uangku saja?" tanya Raisa, berbisik pada Aqila.
"Jika ada potongan harga seperti ini, kau bisa membayar semua tagihannya. Uangmu cukup bahkan masih ada sisa," bisik Aqila
"Yasudah, aku saja yang membayar semuanya. Aku yang traktir," ucap Raisa
"Aqila, bantu aku dengan uangnya untuk membayar," pinta Raisa
"Baik," kata Aqila
Aaila pun membantu Raisa membayarkan tagihan dengan uangnya.
"Wah, uangmu banyak juga," ujar Morgan
"Sepertinya begitu," kata Raisa
"Terima kasih traktirannya, Raisa ... " kompak semuanya bersamaan.
"Sama-sama," kata Raisa disertsi senyuman manisnya.
•••
Setelah keluar restoran, Raisa kembali mengambil ponsel dari dalam tasnya. Mengambil beberapa jepretan foto di sekitar sana. Ia juga memotret tampak luar restoran daging tempatnya makan tadi.
...'Baterai hpku tinggal sedikit. Semoga cukup sampai aku pulang nanti. Setidaknya sampai hari terakhirku di sini,' batin Raisa...
"Hari ini, kita beruntung sekali ya... Sudah dapat potongan harga, ditraktir pula," ucap Billy
"Ya. Ini berkat Raisa. Terima kasih ya," kata Amy
"Tidak usah berlebihan. Kalian tadi kan sudah berterima kasih padaku," ujar Raisa
"Kau ini terlalu berlebihan. Aku yang orang asing di sini mana mungkin bisa mendatangkan keberuntungan. Hal yang kau katakan, murni hanya kebaikan pemilik rumah makannya saja," ucap Raisa
"Tapi, sejak ada kau, kami selalu dimudahkan. Dari kau yang membantu desa kami bahkan dapat menyembuhkan kami, makan gratis, dan potongan harga. Kemudahan itu berawal sejak kau hadir," jelas Marcel
"Aku senang kalian berpikir begitu dan menerima kehadiranku. Tapi, tidak ada aku pun desa kalian akan tetap aman dan selamat. Karena memang orang-orang di sini pada kenyataannya adalah orang-orang hebat. Tanpa aku dapat menyembuhkan kalian pun, aku yakin kalian akan terus berjuang demi desa kalian tercinta ini. Dan untuk masalah makanan, kalian juga kan yang disebut-sebut sebagai penyelamat desa. Tanpa ada aku pun pemilik rumah makan akan memberikan keringanan untuk kalian. Jadi, jangan terlalu membesarkan. Aku tak mau sampai lupa diri nantinya. Bahkan aku tak sebaik yang kalian kira. Buktinya, aku tetap mengambil uang yang pemimpin desa tawarkan sebagai imbalan dan tidak melakukan semua dengan hanya niat yang tulus," ungkap Raisa
Semua pun tertegun.
Raisa benar-benar baik dan berhati lembut. Padahal ia sudah banyak sekali berjasa tapi ia tetap menyangkalnya hanya karena hal yang sepantasnya ia dapatkan. Ia malah takut akan dibilang lupa diri hanya karena itu.
Semua pun hendak beranjak dari tempat itu.
"Kalian jangan pergi dulu. Kita ambil foto bersama dulu, yuk. Mumpung kita sedang berkumpul," ucap Raisa mengajak berfoto bersama.
"Lagi? Tidak puaskah kau dengan rekaman yang kau ambil tadi? Sangat pentingkah itu untukmu?" tanya Ian
"Ya. Sangat penting," jawab Raisa, singkat.
"Ayolah, inikan hanya permintaan sederhana saja," bujuk Raisa
"Baiklah ...."
"Rumi, tolong ya. Merepotkanmu lagi," ujar Raisa meminta tolong Rumi memegang ponselnya untuk memfoto.
"Tidak masalah. Apapun untukmu," kata Rumi
Blussh~
__ADS_1
Raisa sedikit salah tingkah mendengar penuturan Rumi. Membuat pipinya merona merah.
...'Jangan salah paham dengan perkataannya, Raisa. Rumi tidak bermaksud lain terhadapmu,' Batin Raisa...
"Mohon bantuanmu. Kau masih ingat caranya, kan, Rumi?" tanya Raisa
"Iya. Masih," Jawab Rumi
Raisa pun menyerahkan ponselnya pada Rumi, meminta bantuannya untuk memotret mereka semua bersama.
Rumi pun memanjangkan lengan tangannya dengan sihir. Lalu, mengambil beberapa potret mereka semua bersama.
Cekriik cekrik!
Cekriiikk~
Cekrikk...
Rumi pun mengembalikan ponsel pada Raisa.
"Terima kasih," ucap Raisa
"Sama-sama," balas Rumi
Raisa melihat-lihat hasil jepretan Rumi dengan senyuman mengembang di bibirnya.
...'Ini sangat berarti untukku. Sangat berharga,' batin Raisa...
•••
Akhirnya waktunya pun tiba.
Waktu menunjukkan hari sudah hampir terik~
Entah, ini adalah waktu yang dinanti atau akan jadi hari yang disesali. Tetapi, keputusan harus tetap dijalani.
Raisa harus pergi!
Raisa telah bersiap. Membawa barang yang tak banyak miliknya yang dibawa.
Raisa terus tersenyum. Namun, tatapan matanya sedikit sendu. Tersirat ketidak-relaan yang terpancar pada sorotan matanya~
"Raisa, kau sungguh akan pergi hari ini? Sekarang juga?" tanya Sanari
"Apa kau tidak mau menunggu sampai semua datang? Itu lebih baik," ujar Amy
"Ya, Raisa. Morgan, Aqila, dan Rumi masih belum datang," kata Wanda
"Mereka bertiga sepertinya dipanggil untuk diberikan tugas yang harus segera mereka laksanakan," ungkap Devan
"Sepertinya mereka bertiga sudah mulai sibuk lagi. Aku titipkan salam saja untuk mereka bertiga, ya. Bagaimana pun aku harus pulang. Aku memilih untuk pergi sekarang karena takut semakin tak rela meninggalkan kalian semuanya di sini nantinya," ucap Raisa
Beberapa teman telah berkumpul demi perpisahan dengan Raisa.
Sanari, Amy, Wanda. Devan, Ian, Chilla. Billy, Marcel, Dennis. Mereka sudah datang kecuali Morgan, Aqila, dan Rumi yang entah tak bisa dihubungi sementara ini karena kemungkinan sedang menerima tugas baru.
.
.
.
•
__ADS_1
.
Bersambung...