Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
[Season 2] 120 - Rasa Percaya Diri dan Kekompakan.


__ADS_3

Setelah mendapat kamar masing-masing, mereka semua mengganti pakaian dengan pakaian khas pemandian air panas yang bentuknya seperti kimono dengan bahan katun halus.


Semua nendapat kamar yang dibagi menjadi 3, yaitu satu kamar untuk Bu Vani, Pak Hilman, dan Raihan. Satu kamar lainnya untuk Raina, Farah, dan Arka. Sedangkan satu kamar lagi untuk Raisa dan Rumi.


Usai semua mengganti pakaian ala pemandian air panas, mereka beranjak menuju ke ruang makan yang sudah dibooking khusus untuk mereka makan bersama.


Sebenarnya ruang makan yang dibooking khusus itu bukan atas permintaan dari Rumi atau Raisa, tapi atas ketersediaan pihak pemandian air panas yang ingin memberi pelayanan khusus setelah tahu bahwa pelanggan yang datang adalah pasangan penyelamat desa yang sedang berwisata ke tempat tersebut.


"Apa tidak apa kami semua mendapat pelayanan khusus seperti ini saat untuk sebagian pembayarannya saja kami mengandalkan voucher potongan harga?" tanya Raisa


"Permisi, maaf ... tapi, apa dua voucher ini masih berlaku?" Rumi melanjutkan pertanyaan Raisa pada pelayan di sana.


Salah seorang pelayan yang sedang nenghidangkan makanan pun menghampiri Rumi untuk melihat voucher yang dimaksudkan untuk ditunjukkan padanya. Ia pun memeriksa voucher tersebut.


"Bukankah dua voucher ini adalah yang diberikan oleh atasan sebagai hadiah pernikahan untuk putra Pemimpin Desa?" gumamnya, seorang pelayan.


Pelayan tersebut pun tersenyum profesional khas para pegawai baik.


"Benar, ini adalah voucher potongan harga di tempat kami dan masih berlaku. Maaf, kalau begitu kami akan bawa dua voucher ini untuk menulis pendataan sebagai salah satu transaksi pembayaran," jelasnya


"Silakan saja," kata Rumi


"Pelayanan khusus yang diberikan ini atas perintah langsung dari atasan kami karena pelanggan yang datang adalah Dewi Penyelamat bersama suami dan keluarganya yang berwisata di tempat kami. Tanpa voucher potongan harga ini pun kalian akan mendapat potongan harga lainnya," ungkapnya


"Terima kasih banyak, tapi mohon jangan panggil saya dengan sebutan Dewi seperti tadi," ucap Raisa


Pelayan tersebut mengangguk sambil tersenyum.


"Kalau begitu, silakan nikmati makanannya dan selamat atas pernikahan kalian berdua serta selamat berlibur bersama keluarga!"


"Kalau memerlukan sesuatu, silakan bunyikan saja loncengnya."


"Terima kasih banyak!"


Setelah menghidangkan makanan, para pelayan pun beranjak ke luar dari ruang makan khusus tersebut. Para pelayan juga meninggalkan sebuah lonceng sebagai sarana untuk memanggil dan permintaan pelayanan.


"Sepertinya voucher yang Morgan berikan pada kita untuk hadiah pernikahan justru tadinya adalah hadiah pernikahan yang diberikan bos tempat ini untuk pernikahannya. Namun, sepetinya dia takut untuk datang kembali ke sini karena hantu prajurit perang itu," bisik Raisa


"Sepertinya kau benar," sahut Rumi


"Ciie ... yang dipanggil Dewi Penyelamat!" seru Raihan


"Tapi, kamu jangan jadi tinggi hati karena dipanggil seperti itu, ya, Raisa," pesan Raina


"Aku juga gak suka dengan panggilan seperti itu kok, karena merasa terbebani terlebih lagi aku juga tidak pantas, tapi orang-orang yang memberi julukan seperti itu untukku. Aku juga tidak bisa melarang mereka," ucap Raisa


"Tapi, yang disebut penyelamat itu cuma Raisa doang, ya, dari panggilan Dewi tadi? Apa Rumi gak dianggap sebagai penyelamat juga?" tanya Arka


"Karena memang Raisa-lah yang berperan besar dan penting saat menyelamatkan desa. Kalau aku tidak terkenal dan aku tidak peduli juga," ungkap Rumi


"Aku juga tidak mau jadi terkenal, tahu!" seru Raisa


"Tapi, kau sudah terlanjur jadi terkenal karena kebaikanmu sebagai penyelamat desa," kata Rumi


Mereka semua pun makan bersama. Usai makan bersama, Rumi membunyikan lonceng dengan cara menggoyangkannya untuk memanggil pelayan. Beberapa pelayan datang untuk merapikan bekas makan pada ruangan tersebut.


"Setelah ini Anda semua ingin bermain permainan atau ingin langsung berendam air panas?"


"Sebelum datang ke sini, kami semua sudah mandi. Kalau begitu, kami pilih bermain dulu saja," jawab Raisa


"Ada permainan apa aja, ya, di sini?" tanya Raihan


"Permainan unggulan di tempat kami adalah tenis meja dan catur. Lalu, masih ada juga permainan yang lain."


"Kalau begitu, tolong siapkan dua permainan itu di ruangan ini saja," pinta


"Baiklah."


"Maaf, tapi kalau jelajah berhadiah? Bukannya ada permainan seperti itu juga di sini?" tanya Raihan


"Jelajah misteri malam. Memecahkan misteri yang ada sambil menjelajahi pemandian air panas ini. Jika berhasil memecahkan total 4 misteri secara keseluruhan, akan ada hadiah yang bisa didapatkan. Permainan itu masih ditunda untuk beberapa jam ke depan untuk menambah kesan misterius jika dilakukan pada malam hari yang gelap."


"Begitu, rupanya ... " kata Raihan


"Kalau begitu, kami akan menyiapkan dua permainan yang lain dulu. Permisi ...."


Setelah selesai merapikan bekas makan, ruangan itu pun kembali digunakan sebagai tempat berkumpul untuk bermain bersama. Para pelayan pun menyiapkan permainan tenis meja dan membawakan permainan catur. Lalu, para pelayan itu beranjak ke luar setelahnya.


Arka pun langsung berdiri meraih raket tenis meja setelah permainan itu disiapkan.

__ADS_1


"Ayo, siapa yang mau lawan aku main tenis meja?" tanya Arka


"Malas, ah!" seru Raihan


"Masa gak ada yang berani lawan aku, sih? Takut kalah sama master, ya?" tanya Arka


"Apanya yang master? Kan, kamu gak bisa main tenis meja, Pih," ujar Raina


"Jangan meremehkan aku dong, Mih," kata Arka


"Ayo, Raisa! Main sama kakak," sambung Arka mengajak adik iparnya bermain tenis meja untuk menjadi lawannya.


"Aku gak bisa main, gak tahu caranya," tolak Raisa


"Yah ... gak seru, nih. Masa kamu minta disiapin permainan tenis meja, tapi gak ada yang mau main?" tanya Arka


"Seperti ini saja, Kak Arka main sama Rumi dulu. Main permainan tunggal. Setelah aku lihat dan tahu cara mainnya kita lawan main duel. Aku sama Rumi, Kak Arka sama Raihan," ujar Raisa


"Setuju!" seru Arka


"Kok bawa-bawa aku, sih?" tanya Raihan


Raisa hanya tersenyum dan terkekeh kecil menanggapi pertanyaan sang adik.


"Sayang, bermainlah agar aku tahu cara bermainnya," pinta Raisa pada sang suami


"Baiklah," patuh Rumi


Rumi langsung bangkit meraih raket tenis meja untuk berhadapan bermain melawan Arka. Satu lawan satu.


"Biar Ibu yang jadi wasitnya," kata Bu Vani yang ikut berdiri.


"Aku siap!" seru Rumi


"Aku yang ajak bermain pertama kali. Pastinya aku udah lebih dulu siap," ujar Arka


Permainan tenis meja antara Arka yang melawan Rumi pun dimulai setelah peluit dibunyikan oleh Bu Vani yang menjadi wasit. Raisa pun memerhatikan dengan baik permainan tenis meja yang sedang berlangsung untuk mempelajari cara bermainnya.


Bu Vani sedang menjadi penegah yang adil dalam menilai permainan antara dua menantu lelakinya. Sementara itu, Pak Hilman sibuk menata bidak catur di atas papannya sebelum mulai bermain.


"Raisa, dulu kamu udah pernah Bapak ajarin main catur, kan? Ayo, sekarang main sama Bapak!" seru Pak Hilman mengajak putri keduanya untuk bermain catur melawannya.


"Ayo, deh ... udah lama juga gak main catur," kata Raisa


"Katanya mau belajar main tenis meja sambil lihat pertandingan suami tercinta lawan kakak ipar. Gimana mau bisa kalau baru lihat sebentar malah main permainan yang lain?" tanya Raihan


"Habisnya kasihan Bapak gak ada lawan mainnya," jawab Raisa


"Alasan aja," kata Raihan


Raisa terkekeh pelan dan mulai bermain catur bersama dan melawan Pak Hilman.


Sementara itu, Rumi mulai malas bermain saat sang istri tidak memperhatikannya hingga berulang kali mengalami kekalahan dalam permainannya melawan Arka pada pertandingan tenis meja.


Sekali bermain, Raisa kalah dari Pak Hilman dalam permainan catur. Namun, saat bermain untuk kedua kalinya Raisa percaya diri bisa menang setelah memerhatikan cara bermain sang ayah. Dalam permainan pertama dirinya kalah karena sudah lama tidak bermain, jadi pada permainan kedua ia akan melawan Pak Hilman dengan sungguh-sungguh.


Sedangkan Rumi terus tidak bersemangat hingga bermain seadanya sampai tidak peduli jika dirinya benar-benar akan kalah.


"Akhirnya bisa menang juga di permainan kedua! Aku kalah di permainan pertama karena aku udah lama gak main catur," ujar Raisa


"Iya, deh ... Bapak kalah. Berarti kita seri, ya. Poinnya satu sama," kata Pak Hilman


"Kak Raisa menang, tapi Kak Rumi kalah, tuh!" seru Raihan


Raisa dan Pak Hilman telah selesai bermain catur. Lalu, Rumi dan Arka juga telah selesai bermain tenis meja. Rumi kalah melawan Arka.


"Sekarang tinggal permainan gandanya. Ayo, Raisa, Raihan!" seru Arka


Rumi langsung menghampiri Raisa dan membantu istrinya untuk bangkit berdiri.


"Ayo, Ray!" seru Raisa


Raihan pun ikut bangkit berdiri dengan malas.


"Aku juga yang kena," kata Raihan


"Ayolah ... kan, kamu yang paling semangat pas mau pergi ke sini," ujar Raisa


"Farah, dukung siapa? Papi sama Om Ehan atau Onty Icha sama Uncle Rumi?" tanya Raina yang menjadi penonton bersama sang putri.

__ADS_1


"Dukung Papi aja, Sayang. Papi udah menang tadi, pasti bisa menang lagi kali ini," ujar Arka


"Dukung Om Ehan juga, ya. Om Ehan jago kok main tenis meja di sekolah," kata Raihan


Farah tampak berpikir sejenak.


"Tadi Papi yang menang dan Uncle Rumi kalah, Om Ehan juga katanya jago main dan Onty Icha gak bisa main. Berarti kali ini aku dukung Papi sama Om Ehan aja, deh. Maaf, ya, Onty Icha, Uncle Rumi ... " ucap Farah


"Kalau begitu, ayo, kita semangatin Papi dan Om Ehan," ujar Raina


"Papi, Om Ehan ... semangat!" seru Farah


Raisa hanya tersenyum, lalu ia mengambil raket tenis meja yang diberikan oleh Rumi. Sedangkan Raihan mengambil raket tenis meja itu sendiri.


"Kenapa tadi kau kalah? Kukira kau bisa bermain tenis meja?" tanya Raisa


"Apa kau merasa kecewa karena aku tidak bisa memenangkan permainannya?" tanya balik Rumi


"Tidak, aku hanya ingin tahu alasannya," jawab Raisa


"Aku jadi tidak semangat dan kalah karena kau tidak memerhatikan saat aku bermain tadi," ungkap Rumi


"Kalau begitu, kali ini kita berdua pasti bisa menang," ujar Raisa sambil tersenyum.


"Jangan sombong, padahal tadi Rumi aja kalah. Kamu juga gak tahu caranya main, kan? Terus, tadi lihat cara bermain aku dan Rumi aja cuma sebentar. Aku dan Raihan pasti bisa menang," ujar Arka


"Melihat sebentar aja aku yakin langsung bisa prakteknya," kata Raisa


"Jangan sombong," kata Raihan


"Aku atau kami berdua gak sombong, tapi percaya diri bisa menang. Justru Kak Arka yang sombong padahal baru menang sekali permainan," ucap Raisa


"Kalau begitu, lihat aja siapa yang bakal menang," ujar Raihan


Sebelum mulai bermain, Raisa dan Rumi saling bergenggaman tangan untuk saling percaya dan memberikan rasa kepercayaan satu sama lain agar bisa memenangkan permainan dengan baik. Sedangkan Arka dan Raihan saling melakukan hi five atau bertos ria untuk menunjukkan kekompakan.


Permainan kembali dimulai dengan berkelompok 'ganda' setelah peluit ditiup oleh Bu Vani.


Pertandingan antara pasangan ganda antara Arka-Raihan dan Raisa-Rumi berlangsung lancar dan menegangkan.


Tak disangka rasa semangat yang dimiliki Rumi saat awal-awal pertandingannya melawqn Arka sebelumnya kini bangkit kembali. Mungkin karena kali ini Raisa tak lagi menontonnya bertanding melainkan menjadi pasangannya dalam bertanding, meski sesungguhnya pun keduanya adalah pasangan asli yang sesungguhnya. Dan tak disangka, kekompakan yang ditunjukkan oleh Arka dan Raihan dengan melakukan hi five sebelum bertanding kini tampak terkalahkan dengan kekompakan dan rasa percaya diri dari Raisa dan Rumi.


Tak hanya semangat, Rumi terlihat lebih sering mengambil alih untuk memukul seolah melindungi Raisa dari lemparan bola servis yang dipukul kencang oleh pasukan lawan. Namun, beberapa kali Raisa mendapat kesempatan untuk memukul dan sekalinya mendapat giliran mekukul wanita itu tidak tanggung-tanggung memukul dengan sangat keras hingga mampu menjatuhkan lawan dengan bola smash!


Permainan yang apik dan kerja sama dengan baik antara Raisa dan Rumi membuat keduanya terus mengungguli poin dari pasukan lawan hingga akhirnya nendapat kemenangan telak dan mengalahkan pasukan lawan dengan tanpa ampun.


Raisa dan Rumi bersorak usai memenangkan pertandingan tenis meja melawan Arka dan Raihan.


Yang lain baru pertama kali melihat dan mendengar Rumi bersorak dengan antusias bahkan hanya karena menang bermain tenis meja. Bukan hanya yang lain saja, bahkan Raisa juga baru pertama kali ini melihat antusiasme sang suami selama pernah mengenalnya hanya karena menang dalam permainan. Mungkin karena bermain bersama sang istri-lah yang membuat Rumi merasa sangat bersemangat sekaligus antusias seperti saat ini.


Raisa memekik kegirangan setelah dapat menang dalam pertandingan. Ia mengepalkan tangannya sambil tersenyum senang dengan semangat.


"Kita menang!" pekik Raisa dan Rumi secara bersamaan.


"Sudah kubilang kalau kami berdua bisa menang," ujar Raisa


"Tak ada yang bisa mengalahkan rasa percaya diri dan kekompakan kami berdua," kata Rumi


"Gimana, sih, katanya bisa menang? Huh!" seru Raina


"Iya ... Papi sama Om Ehan payah! Harusnya tadi aku dukung Onty Icha sama Uncle Rumi aja!" seru Farah


"Kalau emang jago main, kenapa tadi kalah pas permainan pertama, Rumi?" tanya Arka


"Kak Rumi, mah, semangatnya pas sama Kak Raisa doang. Makanya, pas permainan pertama kalah karena mainnya sendiri," ungkap Raihan


Rumi dan Raisa hanya tersenyum menanggapi Arka dan Raihan.


"Raisa dari dulu itu bisa belajar dengan cepat hanya dengan melihat sebentar atau sekali melihat secara sekilas. Buktinya pas main catur tadi aja, di permainan pertama dia kalah, tapi begitu ulang permainan kedua langsung menang," batin Pak Hilman


"Sekalinya rasa percaya diri Raisa muncul, dia gak akan terkalahkan. Dari dulu emang seperti itu. Harusnya Arka menurunkan rasa sombongnya dan berhati-hati saat Raisa bilang dia merasa percaya diri," batin Bu Vani


Pasangan paruh baya itu sengaja bicara dalam hati karena khawatir akan dibilang memihak dan pilih kasih pada anak dan menantunya yang menang pertandingan serta tidak memiliki rasa simpati pada anak dan menantunya yang kalah.


.



Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2