Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
59 - Semua Kembali.


__ADS_3

"Apa kalian sudah selesai? Apa ada yang bisa kubantu bawakan ke meja makan?" Tanya Rumi


Rumi yang tiba-tiba muncul dan berbicara membuat ketiga gadis di dapur itu terkejut. Itu juga membuat Amy melepaskan pelukannya pada Raisa.


Jujur saja! Sebenarnya, Rumi sengaja tiba-tiba masuk begitu saja ke area dapur. Ia ingin Amy dan Raisa menyudahi pelukan mereka. Karena dalam hatinya terbesit rasa cemburu! Walaupun Rumi sendiri tak mengerti perasaan apa yang sedang dirasakan di dalam hatinya. Ia tak ingin orang lain berlama-lama memeluk gadis pujaan hatinya. Sekali pun itu adalah sesama seorang gadis! Bahkan sebenarnya ia tak ingin ada seorang pun yang memeluk tubuh gadis pujaan hatinya itu!


"Sebentar lagi. Kami hanya tinggal menyajikannya di atas piring." Ujar Sanari


Sebelum ini, Raisa mendengar perkataan yang menyanjungnya dari mulut Amy. Sekarang Rumi datang... Raisa jadi teringat kembali saat Rumi menyatakan suka padanya!


..."Raisa, sebenarnya... Akhir-akhir ini, aku merasa- Uhm, Raisa... Aku menyukaimu! Aku suka padamu~" Ungkap Rumi dengan jujur....


..."Kau baik hati sekali, Raisa! Aku menyukaimu! Kalau bisa, aku ingin menikah denganmu agar kita selalu bersama." Ucap Amy...


...'Semoga saja, Rumi, tidak mendengar apa yang dikatakan Amy padaku tadi. Kalau perasaannya sungguh-sungguh padaku, aku tidak ingin dia jadi terinspirasi dari kata-kata Amy. Dan malah membuatku semakin gila! Semoga dia tak dengar. Dan semoga ini hanya aku saja yang merasa GR.' Batin Raisa...


Raisa tak ingin jika Rumi sampai mendengar ucapan Amy dan mengungkit serta membahas hal tentang 'menikah'. Pernikahan! Itu akan membuat Raisa semakin merasa kesulitan. Sulit menolak, sulit memberi alasan yang tepat agar Rumi melupakan niatnya. Jangan sampai hal itu terjadi! Memikirkannya saja sudah membuatnya stress bukan main! Tapi, semoga semua itu hanya perasaan berlebihan Raisa saja...


"Sebenarnya, tanpa kau datang membantu, kami pun masih bisa menangani semua ini. Toh, ini hanya makan malam sederhana. Tak banyak masakan yang akan kami bawa." Ucap Raisa


'Lagi-lagi kau menolakku, Raisa. Tak bisakah kau melihat usaha yang kulakukan? Ini semua karenamu, untukmu, dan karena aku menyukaimu!' Batin Rumi


"Tidak apa. Aku yang ingin membantu kalian." Kata Rumi


"Kalau begitu, terima kasih ya, Rumi." Ujar Raisa seraya tersenyum manis pada Rumi.


'Ya, teruslah seperti ini. Tersenyumlah padaku, hanya kepadaku. Tataplah diriku saja! Aku takkan pernah bosan mengatakan, karena aku menyukaimu, Raisa.' Batin Rumi


"Jangan pernah sungkan padaku. Apa yang harus aku bantu bawakan?" Ujar Rumi


"Kau bantu bawakan ini saja. Tolong ya, Rumi." Kata Amy


Amy memberikan sepiring hasil masakan yang baru saja matang pada Rumi untuk dibawakannya.


"Hati-hati karena masakannya masih panas." Ujar Sanari


"Ada lagi?" Tanya Rumi


"Kau bawakan itu saja. Yang lain biar kami saja yang bawa." Jawab Raisa


"Tidak apa. Aku bisa membawa yang lain juga bersamaku." Ucap Rumi


Rumi pun meraih sesuatu dan membawa sesuatu yang perlu dibawa.


Raisa, Sanari, Amy, dibantu Rumi untuk membawa alat makan dan hasil masakan ke meja makan. Di meja makan, yang lainnya sudah menunggu di sana untuk menyantap makan malam bersama.


Satu persatu masakan dan alat makan pun diletakkan di atas meja makan. Tersusun dengan rapi...


"Sekali lagi, terima kasih ya, Rumi." Ucap Raisa


"Sama-sama." Balas sahut Rumi


Semua telah duduk mengelilingi meja makan di kursi masing-masing. Memulai kegiatan makan malam bersama.


"Ternyata kau pandai memasak ya, Raisa. Selama di sini, walau kau dibantu yang lain, makanan yang tersaji selalu enak." Puji Wanda


"Tidak bisa dikatakan pandai juga. Aku hanya bisa membuat makanan yang sederhana saja. Selama ini pun aku agak takut masakan di dunia ini tidak sesuai selera kalian." Ucap Raisa


"Hei, Raisa... Wanda, sudah memuji dan berkata bahwa masakanmu enak. Itu berarti masakanmu cocok dan sesuai dengan selera kami. Jadi, kau jangan merendah seperti itu." Ujar Chilla


"Kau bicara seperti itu karena apapun makanannya kau pun suka. Apapun itu kau makan, masuk ke dalam mulut dan perutmu. Dasar, kau gendut rakus!" Cibir Ian


"Masakanmu enak kok, Raisa. Buktinya kami selalu memakan dan menghabiskannya." Puji Dennis


"Memang enak dan aku menyukainya." Kata Rumi. Seolah tak mau kalah dengan Dennis yang memuji masakan dan menyenangkan hati Raisa.


Gluk!


Hampir saja Raisa tersedak karena mendengar perkataan Rumi. Lagi-lagi, Rumi membuatnya terkejut. Ucapannya yang sama, 'menyukai' membuat Raisa kembali merasa tak karuan. Perkataannya mampu membuatnya salah paham jika saja pikirannya sedang tidak jernih. Perkataannya selalu saja ambigu bagi orang yang mendengarnya membuat Raisa tak habis pikir...


"Ahaha... Syukurlah dan terima kasih karena sudah suka dengan masakanku. Terima kasih juga bagi yang sudah membantuku memasak selama ini." Ucap Raisa di sertai tawa canggungnya di awal.


"Kau tidak perlu sungkan, Raisa. Kami tidak mungkin membiarkanmu repot melayani kami sendiri selama kami menginap di sini." Ujar Aqila

__ADS_1


"Kalian yang tak usah sungkan denganku. Sudah seharusnya aku melayani tamu spesial seperti kalian. Aku senang melakukannya, apapun untuk kalian..." Balas Raisa


Suasana makan pun kembali tenang. Semua kembali fokus pada makanan dan pikirannya masing-masing. Hening, legang... Hanya terdengar suara dentingan sendok dan garpu dengan piring.


Raisa memerhatikan semua temannya satu persatu. Mengembang seutas senyuman pada bibirnya di sela aktivitas makannya.


...'Semua lengkap, hangat, dan membuatku bahagia. Tak terasa, besok aku sudah harus mengirim mereka kembali ke dunia mereka. Mulai besok semua akan kembali pada kehidupan masing-masing. Aku pasti merindukan mereka lagi. Terutama kau, Rumi!' Batin Raisa...


Tatapan Raisa terhenti pada Rumi. Lelaki yang selalu ia rindukan, inginkan, yang merebut hatinya, sekaligus harus ia jauhi. Ia menyadari harus membangun batasan jarak antara dirinya dan Rumi agar tidak terjebak dalam perasaan yang menyakitkan. CINTA.


Cinta adalah perasaan indah sekaligus menyakitkan, perasaan sejuta rasa. Tidak! Perasaan cinta adalah yang membuat kita selalu rindu dengan seseorang dan ingin selalu berada di dekatnya, yang membuat kita rela melakukan apapun hanya demi seseorang, bahkan sampai rela terluka, dan mengorbankan nyawa. Perasaan yang membuat kita gila dan kehilangan akal, tak bisa berpikir secara logika hanya karena seseorang. Itulah cinta...


Tidak apa jika Raisa yang melakukan itu semua. Tapi, jangan sampai Rumi jadi terluka karenanya. Raisa tak sanggup melihat dan membiarkan itu terjadi.


...'Rumi, kau sudah cukup melindungi Morgan saja. Menjaganya agar mataharimu terus bersinar, menyinari duniamu. Kau sudah sering terluka karenanya, jangan sampai kau terluka karenaku juga. Jadi, biarkan aku yang melindungimu. Menjaga bintangku agar terus bersinar, menerangi malamku yang gelap. Jangan sampai kau terluka oleh cinta ini juga. Jangan sampai saat kau terlanjur merasakan cinta dan berakhir sakit hari karena kenyataan tak bisa bersama dan bersatu. Biarkan aku saja yang merasakan rasa sakit dan luka di hati ini. Jangan sampai kau merasakan hal yang sama juga. Masih sempat jika kau menghentikan perasaanmu padaku sekarang. Kau baru merasa suka, tapi, jangan sampai kau merasakan cinta. Kau hanya perlu bahagia bersama teman-temanmu. Dan biarkan aku menjadi temanmu saja, tidak lebih dari itu.' Batin Raisa...


Raisa terus makan sambil memerhatikan Rumi. Namun, saat Rumi balik membalas tatapannya, ia langsung menundukkan pandangannya menatap piring makanannya. Ia kembali fokus pada makanannya.


Malam ini tak ada yang membahas tentang hari esok. Tidak ada yang mengungkit tentang kepulangan mereka di esok hari. Entah mereka yang tidak mau merasa sedih karena harus berpisah dengan Raisa atau karena mereka tak ingin Raisa merasa sedih karena harus berpisah dengan mereka. Yang Raisa tau, mereka tak ingin semuanya merasa sedih. Jadi, mereka hanya bungkam dan diam. Entah malam ini mereka semua bisa tidur yang nyenyak atau tidak. Yang pasti, malam ini adalah malam terakhir bagi mereka semua bisa bersama-sama.


"Sebelum tidur, jika ada yang mau camilan atau minuman, aku sudah menyiapkannya. Katakan saja padaku, akan aku ambilkan." Ucap Raisa


Kini kegiatan makan malam bersama telah usai. Dan mereka sedang kembali bersantai bersama di ruang kumpul sebelum pergi tidur...


Seperti biasa, Raisa yang sebelum tidur akan meminum susu. Ia pun menyiapkan segalas susu putih untuknya dan menyiapkan camilan dan minuman untuk yang lain yang memesan.


Malam ini akan segera berakhir. Malam mereka bersama akan segera berlalu dan esok hari akan tiba. Entah di hari esok mereka akan kembali pulang ke dunia mereka di pagi hari bahkan di pagi buta atau menunggu saat siang hari. Entahlah... Hanya bisa menunggu esok hari tiba baru bisa tau. Yang jelas kepulangan mereka sudah ditentukan akan dilakukan di hari esok walaupun tak ada yang mengatakannya. Saat setelah mereka pulang kembali ke dunia mereka, maka Raisa juga akan pulang ke rumahnya. Meninggalkan vila penuh kenangan kebersamaan itu.


...


Waktu terus berlalu.


Keesokan harinya...


Di pagi hari semua sudah siap dan rapi. Dan kini mereka semua sedang berkumpul untuk makan sarapan bersama. Dengan menu makan sarapan pagi yang sederhana lagi menyehatkan, mereka semua fokus pada kegiatan makan masing-masing. Sunyi... Tidak ada yang saling sahut menyahut dalam obrolan yang hangat.


"Raisa, setelah selesai sarapan kali ini, kami akan langsung kembali pulang ke dunia kami." Ungkap Devan


"Sudah. Tidak banyak juga barang yang kita bawa." Jawab Morgan


"Ya, jangan sampai kalian tertinggal sesuatu di sini. Baiklah, makan saja dulu sarapan kalian. Makan sepuasnya. Aku pun butuh makan, supaya ada tenaga untuk membuka portal teleportasi ke dunia kalian dan mengirim kalian pulang setelah ini." Ucap Raisa


"Baik, aku akan makan banyak untuk terakhir kalinya di sini." Kata Chilla


Raisa tersenyum meresponnya. Ia merasa senang. Semua menyukai hasil masakannya. Bahkan ada seorang yang akan makan banyak makanan yang dibuatnya untuk terakhir kali saat ini. Toh, ini bukan terakhir kali yang sesungguhnya. Di lain waktu, Raisa masih bisa bertemu dengan mereka lagi. Teman-teman berbeda dunia dimensi lainnya itu.


---


Setelah sarapan dan beristirahat sebentar guna menyiapkan barang yang akan mereka bawa kembali ke dunia mereka, semua pun bersiap untuk kembali pulang. Raisa pun ada di tengah mereka semua. Dia adalah media satu-satunya agar teman-temannya itu bisa kembali ke dunia asal mereka.


"Raisa, setelah ini kau yang harus mengunjungi dunia kami!" Ucap Marcel


"Ya, kau masih harus menepati janjimu padaku!" Kata Sandra


"Untuk bertarung duel melawanmu!? Ya, aku paham dan hafal. Aku pun mengerti untuk harus menepati janji. Aku masih ingat itu, kau tak harus khawatir aku akan melupakannya. Janjiku padamu akan kutepati!" Ujar Raisa


"Bagus! Kita semua memang harus saling mengunjungi." Kata Billy


"Kalian semua sudah siap? Tidak ada yang terlupa?" Tanya Raisa


"Siap!" Serempak para lelaki.


"Ya~" Serempak para gadis


Raisa menjulurkan satu tangannya. Menggerakkan pergelangan tangannya searah jarum jam~


Wush... Syuuuhh~


Shaa!


Lingkaran hitam misterius pun muncul. Mereka semua yang sedang berada di halaman belakang vila lagi-lagi melihat sihir hebat itu terjadi. Sihir pembuka portal teleportasi antar dimensi pun terbuka~


"Sebelum ujian kelulusan berlangsung, masih ada hari libur. Saat itu, aku akan datang mengunjungi dunia kalian." Ungkap Raisa

__ADS_1


"Kami akan menunggu hari itu sampai kau datang." Ujar Morgan


"Baik-baik belajar untuk ujian ya, Raisa. Aku akan menunggumu." Ucap Amy


Rumi yang selalu berdiri di dekat Raisa mulai menghampirinya. Menggenggam tangannya untuk kesekian kalinya.


"Baik-baik di sini. Aku akan merindukamu, Raisa." Ucap Rumi


Raisa mengangguk lembut membalasnya...


Tangan Raisa bergerak melepaskan genggaman tangan Rumi karena teringat sesuatu. Ia mengeluarkan sesuatu dari tas yang digunakannya. Suatu benda itu seperti lembaran kertas. Namun, itu bukanlah kertas biasa melainkan beberapa lembar foto.


"Aku hampir lupa memberikan kalian ini." Ucap Raisa sambil menyerahkan beberapa lembar foto di tangannya.


Tangan Aqila terulur untuk menerima lembaran foto yang Raisa berikan.


"Apa ini?" Tanya Aqila yang masih belum melihat jelas barang yang diberikan Raisa.


"Itu adalah kumpulan foto kita. Foto kita saat aku di dunia kalian waktu lalu, saat itu masih belum ada Sandra. Ada juga kumpulan foto kita saat sepama kalian berlibur di sini, di situ sudah terdapat Sandra di dalamnya. Aku sudah ingin memberikannya sejak hari pertama kalian menginap di sini, tapi, selalu saja lupa. Baru sekarang aku benar-benar mengingatnya. Saat kalian sudah hendak pergi untuk kembali pulang." Jelas Raisa menjawab.


"Ah, benar! Banyak sekali fotonya." Kata Sanari yang mengintip lembaran foto di tangan Aqila


"Aku juga sudah menyimpan beberapa untukku." Ungkap Raisa


"Baiklah. Foto-foto ini biar kusimpan dulu. Aku akan membagikannya pada yang lain nanti. Terima kasih, Raisa." Ucap Aqila


"Terima kasih juga atas traktiran dan makanannya selama ini." Ujar Chilla


"Terima kasih karena sudah mengizinkan kami menginap di sini." Kata Ian


"Terima kasih juga kalian sudah mau mengunjungiku saat liburan kalian. Selama ini juga kalian telah menambah kenangan indah yang tak terlupakan untukku. Kalian juga sudah banyak membantuku selama menginap di sini, termasuk juga yang saat mengajariku pelajaran untuk ujian. Aku sangat senang dan bahagia sekali. Terima kasih banyak!" Ungkap Raisa


"Saat kau berkunjung saat liburan sebelum kau ujian nanti, aku juga akan membantu mengajarimu lagi, Raisa. Jika, kau mau..." Ujar Dennis


"Tentu saja, aku mau. Jika, kau tidak keberatan. Sekali lagi, terima kasih!" Ucap Raisa


"Baik, kami pergi dulu..." Pamit Devan


"Sampai jumpa lagi nanti, Raisa." Kata Morgan


"Baik-baiklah selama aku tidak bersama kalian. Sampai jumpa lagi..." Ujar Raisa


Satu persatu dari mereka pun mulai memasuki gerbang portal teleportasi antar dimensi yang telah dibuka. Didahului oleh Devan...


"Kami selalu beramai-ramai dan ada yang melindungi kami, kau tak usah khawatir. Aku menanti kehadiranmu. Aku menyukaimu, Raisa!" Ucap Rumi.


Rumi memelankan suara di akhir kalimatnya yang mengatakan sukanya dan kembali mengeraskan suaranya saat menyebut nama Raisa.


Rumi pun mendapat giliran terakhir untuk memasuki gerbang portal teleportasi antar dimensi itu.


"Walau aku sendiri, aku juga kasih punya banyak orang yang melindungiku. Aku juga menyukaimu, Rumi!" Balas Raisa


Raisa pun sama... Ia memelankan suara di akhir kalimatnya saat membalas pernyataan suka dari Rumi dan kembali mengeraskan suaranya saat menyebut nama Rumi.


Raisa mengucapkan itu sesaat sebelum Rumi sebagai orang terakhir memasuki gerbang portal teleportasi antar dimensi. Namun, Raisa tak menjelaskan sebagai apa perasaan sukanya terhadap Rumi.


Saat semua telah pergi memasuki gerbang portal teleportasi antar dimensi menuju dunia asal mereka, Raisa pun menutupnya. Sihir gerbang portal teleportasi antar dimensi itu...


Kini Raisa sendiri di vila milik keluarga besarnya itu.


Setelah Raisa sendiri, ia kemvali masuk ke dalam vila. Merapikan, membersihkan, dan membereskan semua yang ada di dalam. Termasuk mencuci piring bekas sarapan bersama mereka yang telah pergi pagi ini. Setelah itu ia mengabari Pak Danu untuk datang guna menyerahkan kembali kunci vila pada penjaganya.


Saat Pak Danu menanyakan teman-temannya, Raisa hanya menjawab mereka sudah pulang dengan dipesankan mobil online. Anehnya Pak Danu tidak melihat ada mobil asing yang memasuki desa tersebut, karena memang itu hanyalah alasan yang dibuat-buat oleh Raisa saja.


Setelah menyerahkan kembali kunci vila, Raisa kembali berkeliling untuk membelikan buah tangan untuk keluarganya di rumah. Setelah itu, ia tinggal kembali pulang dengan sihir pembuka portalnya di tempat yang sepi menuju rumah keluarganya.


Semua kembali pada kehidupan dan aktivitasnya masing-masing...


.



Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2