Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
[Season 2] 52 - Keluh Kesah Saudari Kembar.


__ADS_3

Setelah menyaksikan langsung rahasia besar milik Raisa, Lina merasa tinggi hati karena merasa telah memegang kartu as milik Raisa. Lina bahkan tidak tahu malu menjadi tamu tak diundang.


"Lina!"


"Apa yang Kak Raisa lakukan ini? Sihir? Apa teman-teman Kak Raisa juga tahu dan terima semua ini? Apa mereka semua juga sudah terkena sihir Kak Raisa?" tanya Lina dengan begitu sombong.


"Kaulah yang tidak tahu apa-apa. Jadi, jangan sok tahu atau ikut campur," ucap Billy


Raisa langsung merentangkan satu tangannya. Bermaksud untuk melerai pertengkaran yang ada dan berusaha meredakan emosi teman-temannya. Ia pun melangkah maju berhadapan dengan Lina.


"Lina, kau datang, tapi aku tidak ingat pernah memberitahu tentang vila ini atau mengundangmu ke sini. Apa kau berubah haluan dan merasa senang menjadi penguntit? Jadi, katakan sejujurnya. Apa tujuanmu sebenarnya?" tanya Raisa menyelidik.


"Penguntit? Apa aku gak salah dengar? Aku ke sini hanya ingin melihat orang yang aku suka, tapi gak disangka ... aku malah melihat sesuatu yang sangat tak terduga dan mencengangkan," ujar Lina


"Sangat disayangkan, sepertinya kalian semua juga udah terkena sihirnya yang membuat kalian menerima sosoknya yang penuh tipu muslihat. Apa jangan-jangan Kak Raisa juga pakai sihir untuk jadi terkenal? Rumi, kamu juga pasti udah diperdaya sama dia. Cepat jauhi dia," sambung Lina


"Jadi, tujuan kamu adalah Rumi? Ternyata, benar ... kamu menyukainya dan terobsesi ingin memilikinya? Sampai rela jadi penguntit?" tanya Raisa


Rumi mendekati Raisa dan menggenggam tangannya.


"Raisa, aku tidak suka padanya. Jangan berurusan dengannya," kata Rumi


Raisa tersenyum. Namun, Lina terlihat marah.


"Aku bukan penguntit! Melihat orang yang dicintai itu bukan kesalahan," kata Lina


"Rumi, lepas tangan kamu dari perempuan licik seperti dia dan jauhi dia," sambung Lina yang sudah mulai menggila.


"Lalu, kau mau aku mendekatimu ... begitu? Tidak akan kulakukan. Jangan sesekali kau berkata buruk tentang Raisa. Kau tidak tahu kalau aku dan bahkan kami semua juga-"


"Aku gak peduli dengan yang lain. Aku hanya peduli dan mau dirimu, tapi kau malah terpikat sama sihirnya. Dia udah mempermainkan perasaan kamu. Kamu jangan percaya sama dia dan datanglah ke arahku," ucap Lina


Padahal Rumi ingin mengungkap identitas mereka semua yang juga punya dan bisa menggunakan kemampuan sihir. Ia tak mau hanya Raisa yang diolok-olok karena kemampuan tersembunyi miliknya. Namun, Lina yang telah menggila tidak memberinya kesempatan itu.


"Akan aku ungkap semua ini! Akan aku beberkan wajah asli penuh muslihatnya! Lihat aja!" ancam Lina


Lina mengeluarkan ponselnya hendak mengabadikan lingkaran sihir yang terbuka ke dalam memori digitalnya.


Melihat aksi nekat itu, Raisa mengulurkan tangannya. Dari jarak jauh, Raisa merampas ponsel milik Lina dengan menggunakan kemampuan sihirnya. Ponsel itu melayang di udara hingga jatuh ke dalam genggaman tangan Raisa.


"Apa-apaan!? Kembalikan HP milikku!" teriak Lina


Lina tidak berani mendekat untuk merebut ponsel miliknya lagi. Ia takut Raisa melakukan hal jahat padanya menggunakan sihir.


Raisa mengutak-atik ponsel milik Lina dan langsung menghapus rekaman video dan foto yang telah diambil.


"Untuk sementara waktu, kamu gak akan memerlukan HP itu. Singkirkan saja dulu," ucap Raisa


Dalam tangan Raisa yang menggenggam ponsel milik Lina mengeluarkan api hingga memusnahkan alat komunikasi itu tanpa jejak seolah hilang dan lenyap ditelan angin.


"Berani-beraninya!" emosi Lina


Portal sihir teleportasi masih terus terbuka. Lingkaran hitam pada portal menyebar ke seluruh penjuru dan seolah melahap mereka semua serta membawa mereka ke tempat lain yang asing. Kini mereka semua berada dalam ruang hampa yang hanya terlihat serba berwarna putih.


Melihat perubahan besar pada sekeliling, Lina menjadi waspada. Namun, yang lain bersikap seolah biasa saja.


"Di mana ini? Ke mana kamu membawa kita semua, penyihir jahat!?" Lina menjadi marah karena tidak tahu harus berbuat apa.


"Tenangkan dirimu, Lina. Gak perlu membawa-bawa orang lain dalam urusan kita. Cukup kita saja yang tahu dan ayo segera selesaikan ini," ucap Raisa


"Heh! Sihir pun pasti punya kelemahan. Tapi, yang harus dilakukan pertama-tama-"


Lina berjalan maju. Semuanya hanya diam tanpa merasa takut.


Lina mendekati Rumi dan langsung menarik tangan lelaki itu untuk menjauh dari Raisa.

__ADS_1


" ... Adalah menjauhkan kamu dari penyihir jahat itu!" Lina membentak dan menunjuk tajam ke arah Raisa.


Rumi tersentak. Ia tak menyangka Lina akan menariknya. Rumi pun menghempaskan kasar tangannya agar genggaman Lina terlepas dari tangannya.


"Kuperingatkan kau! Jangan dekati aku dan Raisa atau memisahkan kami berdua!" tegas Rumi


Rumi langsung mengeluarkan shir petirnya untuk memberi peringatan bagi Lina. Melihat itu, Lina sangat terkejut. Ia tak menyangka jika Rumi juga bisa dan punya kemampuan sihir.


Namun, Lina langsung berusaha tenang.


"Kamu bisa sihir ... kalian semua juga? Pantas aja. Kalau begitu, semua ini jadi gak mengherankan lagi," ujar Lina


"Tapi, gak apa. Aku bisa terima kamu apa adanya, Rumi. Asalkan kamu harus jauhi perempuan licik ini dulu!" sambung Lina


"Memangnya siapa yang ingin pergi dari Raisa dan datang padamu. Tidak akan, aku tidak sudi!" tegas Rumi


Melihat Rumi sudah menggunakan kemampuan sihirnya, yang lain pun melakukan posisi siaga dan siap untuk menyerang Lina jika ia kembali berbuat nekat.


Raisa langsung berjalan mendekati Lina.


"Tenangkan diri kalian semua. Biarkan ini jadi urusanku dengan Lina saja," kata Raisa


Raisa meraih tangan Lina dan menggenggamnya.


"Lina, aku tidak ingin menyakitimu. Sadarlah. Jangan mau dikuasai dan dibutakan oleh amarah. Tenangkan dan kontrol dirimu," ucap Raisa sambil menatap lurus ke arah Lina.


Lina terkejut, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Tanpa sadar ia membalas tatapan mata Raisa sedalam-dalamnya.


"Lepaskan aku! Apa yang mau kamu lakukan? Apa kamu juga mau memperdaya aku dengan sihirmu itu? Maaf, tapi itu takkan berhasil!" Lina berteriak dengan mata merahnya.


Lina memang berkata seolah marah dan melakukan penolakan. Namun, detik selanjutnya mata merahnya itu berkaca-kaca dan Lina mulai menangis.


"Air mata ... aku menangis? Apa yang udah kamu lakukan sama aku? Aku kasih tahu sama kamu, sihir apa pun yang kamu berikan takkan mempan! Aku punya daya tahan yang kuat dan kebal dengan hal seperti itu!" marah Lina


Raisa terus menggenggam tangan Lina dan menatapnya. Lina pun tidak bisa melepaskan tangan Raisa atau menolak dan bahkan terus membalas tatapan Raisa.


Di sisi lain.


Seorang gadis cantik berlarian kecil menghampiri seorang pria yang ternyata adalah Pak Wisnu.


Pak Wisnu adalah pemilik tempat pelatihan berkuda sedangkan gadis yang menghampirinya adalah anak dari pengusaha yang berinvestasi di tempat pelatihan berkuda milik Pak Wisnu.


"Pak Wisnu, di mana Lina?" tanyanya


"Non Luna, Non Lina ada di dalam vila ini," jawab Pak Wisnu


"Terus, kenapa Pak Wisnu tetap di sini? Kenapa gak masuk ke dalam dan bawa Lina ke luar? Kata Pak Wisnu, Lina terus bersikap mencurigakan selama datang ke sini, kan? Apa Lina melakukan hal berbahaya seperti melukai orang di vila ini?" tanyanya, seorang gadis bernama Luna.


"Saya gak tahu, Non. Yang saya tahu, Non Lina sering memantau vila ini bahkan membayar orang untuk jadi mata-mata di sini. Tapi, hari ini Non Lina malah masuk. Saya gak berani masuk karena tiba-tiba aura vila ini jadi seram," ungkap Pak Wisnu


Luna adalah saudari kembar Lina. Saat Pak Wisnu tahu Lina datang ke Puncak, Pak Wisnu melaporkan hal ini ke keluarganya. Namun, yang menerima laporan Pak Wisnu melalui telepon malah saudari kembarnya. Sejak itu Pak Wisnu terus memberi laporan tentang aktivitas mencurigakan Lina pada Luna. Dan hari ini, Luna memilih datang untuk menjemput Lina.


Sebenarnya Lina adalah orang baik. Namun, itu hanya pada orang tertentu, terutama pada saudari kembarnya, Luna. Lina memiliki tempramen yang berubah-ubah. Terkadang, ia bersikap lembut, tapi tak jarang Lina juga menjadi kasar.


Luna yang mengetahui penyebab tempramen Lina yang sering berubah-ubah ingin membuat saudari kembarnya itu terbebas dari pribadinya yang kasar. Luna yang ingin menjemput Lina kali ini pun salah satu usahanya untuk membuat saudari kembarnya sadar dari kelakuannya yang tidak baik itu.


"Siapa pemilik dan siapa yang menempati vila ini sekarang?" tanya Luna


"Vila ini milik keluarga besar dari seorang artis yang baru-baru ini populer. Raisa dan teman-temannya yang menempati vila ini sekarang," jawab Pak Wisnu


"Apa ... Kak Raisa yang itu?" batin Luna


"Saya akan masuk ke dalam," kata Luna


"Tapi, Non-"

__ADS_1


"Lina ada di dalam. Kalau ada dia saya pasti baik-baik aja karena dia selalu melindungi adiknya yang lemah ini. Gak akan terjadi apa-apa," ucap Luna


 ---


"Raisa, apa yang kau lakukan padanya? Kau benar-benar akan memperdaya Lina dan mencuci otaknya dengan sihir ilusimu?" tanya Amon


"Jangan bicara seperti itu. Raisa tidak akan berbuat buruk pada orang lain," tegur Sanari


Tatapan mata Lina menjadi kosong dan masih saja terus menangis.


"Aku tidak melakukan hal buruk padanya seperti yang kubilang jika aku tidak ingin menyakitinya. Aku hanya ingin membuatnya sadar atas perlakuan buruknya dan sekarang dia mulai menyadari itu secara perlahan. Sesi ini bisa dibilang adalah meditasi untuk memperbaiki diri dengan menyadari kesalahan dan membuang semua pikiran buruk. Aku hanya membantunya untuk intropeksi diri dengan bantuan sedikit sihir untuk menerangi pikirannya yang terus kacau," ungkap Raisa


"Bahkan bukan aku yang tidak ingin melepaskan tangannya, tapi sebaliknya ... dia yang tidak ingin melepaskan tanganku," sambung Raisa sambil memperlihatkan bahwa ia bisa saja melepaskan tangan Lina, tapi justru Lina yang membalas genggaman tangannya dengan sangat kuat seolah tidak ingin melepaskannya.


Lina terus berdiri mematung dalam diam seperti sedang melamun. Dan, semua itu dibuyarkan oleh kedatangan Luna.


"Sebenarnya, tempat apa ini?"


"Lina, aku datang!" seru Luna


"Luna, kenapa kamu datang ke sini?" tanya Lina


"Mereka berdua kembar!"


Saat Luna datang, yang lain langsung tahu jika itu adalah kembaran Lina.


Diamnya Lina sebenarnya adalah usahanya untuk fokus pada meditasi yang dibantu oleh Raisa. Namun, Luna datang dan mengacaukannya. Itu membuat emosi Lina yang tidak stabil kembali bangkit.


"Lina, kamu sedang apa di sini? Kita pulang, yuk. Gak ada masalah yang terjadi, kan? Lepasin tangan kakak itu dan kita pergi dari sini," ujar Luna


"Masalah ... jadi, kamu pikir aku lagi buat masalah di sini? Kenapa kamu seolah berpikir aku yang penjahatnya? Kamu salah! Dia ini penyihir jahat! Dia yang jahat, bukan aku!" teriak Lina


"Bukan gitu maksud aku. Aku cuma mau ajak kamu pulang. Aku rindu karena udah lama kamu gak pulang sejak kamu jadi model," kata Luna yang terus membujuk Lina untuk pulang.


"Rindu, kamu bilang? Mustahil! Kamu sama aja kayak Mama Papa yang gak peduli sama aku. Aku cuma orang buangan. Mana mungkin ada rindu di hati kamu untuk aku. Kalian semua sama aja!" marah Lina


Fokus Lina memang telah terpecah, emosinya pun kembali tidak stabil. Namun, ia masih tidak melepaskan genggaman tangan Raisa. Itu artinya tidak semuanya sia-sia. Usaha Raisa untuk menyadarkan dirinya masih belum gagal sepenuhnya. Raisa yang sadar akan hal itu hanya membiarkannya.


"Apa maksud kamu, Lina? Kamu gak pernah marah seperti ini sama aku dan aku pun selalu sayang sama kamu. Aku rindu dan peduli sama kamu. Mama Papa juga. Mereka juga sayang dan peduli bahkan juga rindu sama kamu. Selama ini kamu hanya salah paham sama orangtua kita," ujar Luna


Lina menangis semakin deras.


Raisa mengerti dengan emosinya yang meluap-luap. Lina hanya ingin melampiaskan semua kekesalan dan sakit hatinya yang selama ini dirasakannya karena merasa ketidak-adilan karena tidak dipedulikan.


"Gak apa, Lina. Katakan saja yang ingin kamu katakan, ke luarkan semua amarah dan keluh kesahmu. Aku tidak akan melarang," kata Raisa


"Orangtua kita ... bukannya mereka berdua hanya orangtuamu? Mereka berdua tidak pernah mengharapkan aku. Buktinya mereka gak peduli sama aku, sedangkan kamu menikmati semuanya. Kasih sayang, perhatian, harta, dan kehangatan dari mereka. Hanya aku yang tidak dianggap!" emosi Lina pun meledak.


"Raisa, kenapa tidak menghentikannya, tapi kau malah memprovokasi emosinya?" tanya Marcel yang merasa heran.


Raisa hanya tersenyum lembut.


"Mereka berdua sayang sama kamu, Lina. Kamu cuma gak menyadarinya hanya karena mereka lebih memperhatikan aku yang lemah dan punya kesehatan yang buruk. Mungkin cara mereka juga salah karena tidak memperlihatkannya langsung sama kamu dan buat kamu jadi salah paham seperti ini. Tapi, aku tahu orangtua kita juga sayang sama kamu karena kamu juga darah daging mereka," ucap Luna


"Bohong! Di mata dan hati Mama Papa cuma ada kamu. Bahkan mereka langsung jadiin kamu penerus perusahaan dan mendidik kamu dari nol tentang bisnis, tapi aku ... mereka bantu aku untuk pilih profesi aja enggak, saat aku ke luar rumah untuk jadi model aja mereka gak peduli atau sekadar kasih ucapan semangat pun gak sama sekali. Semuanya cuma selalu tentang kamu. Sedikit perkataan yang mereka ucap untuk aku juga tentang kamu. Harus jadi kakak yang baik, jaga adik baik-baik, lindungi adik. Setelah aku ke luar dari rumah mereka juga gak pernah hubungin aku untuk sekadar tanya kabar," tutur Lina


"Mama Papa emang selalu sibuk. Mereka perhatian sama aku karena aku sering sakit, tapi bukan berarti gak perhatian sama kamu. Uang jajan yang selalu aku kasih ke kamu yang kamu kira adalah uang sia uang jajan aku itu sebenarnya Mama Papa yang kasih dan titip lewat aku. Bibi selalu buatin bekal karena mereka yang suruh, Pak Eko yang antar ke mana pun kamu pergi juga mereka yang suruh. Kamu hanya gak tahu itu semua karena mereka mereka gak memperlihatkannya langsung sama kamu," ungkap Luna


"Kita ini saudara, harusnya kamu jangan iri sama aku. Justru aku yang iri sama kamu. Kamu bisa sekolah, sedangkan aku cuma home schooling, kamu punya banyak teman, sedangkan teman aku cuma kamu, kamu bisa bebas ke luar rumah tapi dari kecil aku gak pernah dibolehin ke luar rumah. Udah besar pun aku cuma boleh ke kantor untuk kerja itu pun di bawah pengawasan mereka. Aku pergi kali ini pun mereka gak tahu. Aku pasti dimarahi setelah pulang nanti. Dikekang dengan perhatian yang berlebihan itu gak enak, aku iri sama kamu yang bisa bebas. Mama Papa bukannya gak peduli kamu mau kerja apa, tapi mereka kasih kamu kebebasan untuk pilih pekerjaan dan masa depan yang kamu suka. Gak kayak aku yang harus ikut pilihan mereka dengan alasan kebaikan," sambung Luna


Setelah melampiaskan semua kelih kesahnya, kini berganti Lina yang mendengarkan keluh kesah Luna. Ia menelaah semuanya dalam pikirannya. Lalu, Lina pun terjatuh tersungkur di tanah. Ia memegangi kepalanya yang terasa sakit karena berusaha mencerna semuanya secara langsung dan tiba-tiba.


.


__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2