Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
64 - Aku Ada di Sini!


__ADS_3

"Rumi, telah berhasil diracuni!" Pekik Raisa dengan perasaan panik!


Seorang musuh yang menyerangnya berhasil menyuntikkan suatu cairan pada tubuh Rumi melalui tangannya. Kulit pada tubuh Rumi lebih keras dari tubuh orang biasa, itu membuatnya tidak menyadari telah disuntikkan sesuatu ke dalam tubuhnya.


Raisa menemukan bahwa tubuh Rumi telah terinfeksi oleh racun dengan efek yang sangat kuat. Itulah yang membuat Rumi sampai tak sadarkan diri dan mengalami demam yang sangat hebat. Suhu tubuh Rumi saat ini sangat tinggi. Saat menyentuh kulit Rumi sampai bisa membuat Raisa meringis saking panasnya. Namun, saat ini Rumi tidak bereaksi apa-apa, ia hanya terlihat mengerutkan dahinya menahan hawa panas dari tubuhnya. Rumi adalah sosok lelaki yang kuat. Namun, melihatnya seperti sekarang inilah yang membuat Raisa tidak kuat dan tidak tega. Raisa merasa kasihan dan sangat sedih melihatnya tidak berdaya seperti ini...


Raisa pun menekan beberapa titik pada tubuh Rumi, memberinya totok seperti akupuntur untuk membantunya memuntahkan sebagian racun yang telah masuk ke dalam tubuhnya.


Ohok!


Huk... Uhuk~


Raisa membantu sedikit mengangkat tubuh Rumi agar ia dapat lebih mudah memuntahkan racun dari dalam tubuhnya. Setelah Rumi memuntahkan apa yang ingin dimuntahkannya, Raisa kembali membaringkan tubuh Rumi.


Rumi pun mengeluarkan cairan merah dari dalam mulutnya. Itu adalah racun yang telah menyatu dengan darahnya. Walau sudah memuntahkan ke luar sebagian dari racun dalam tubuhnya, Rumi masih saja belum dapat membuka mata dan sadarkan diri. Kemungkinan racun yang berhasil dikeluarkan hanya sebagian kecil dari jumlah racun yang telah masuk ke dalam tubuhnya. Sebagian besar racun telah menyerap dan bereaksi pada tubuhnya yang mana membuatnya mengalami demam hebat.


..."Sebenarnya, racun apa dan seberapa kuat racun yang telah berhasil masuk ke dalam tubuhmu ini, Rumi? Bagaimana bisa racun itu dapat mengalahkan daya tahan tubuhmu yang sangat kuat dan berhasil menginfeksi dirimu? Kenapa bisa sampai seperti ini? Siapa juga orang-orang yang telah menyerangmu itu?" Batin Raisa...


Raisa pun terus mencoba menyembuhkan Rumi dengan kemampuan sihir medisnya. Ia menaruh kedua tangannya pada dada Rumi dan terus berusaha membuat demam yang dialami Rumi segera turun dengan cara menekan efek racun di dalam tubuh Rumi dan menetralkan dengan tenaga sihirnya.


Sudah cukup lama Raisa berusaha menekan efek racun dan menetralkan dengan tenaga sihirnya. Namun, masih belum memberi perubahan apa pun. Kondisi Rumi masih saja separah sebelumnya.


..."Kenapa aku terus merasa usahaku sia-sia? Aku merasa tubuh Rumi mengalami ansuran yang sedikit sekali. Padahal aku sudah mengeluarkan sebagian racun dari dalam tubuhnya dan menetralkan juga menekan efek racun dengan tenaga sihirku? Rumi, kau harus tetap bertahan! Kumohon, demi aku!" Batin Raisa...


Tak kehabisan akal sampai sini saja, Raisa pun melakukan sesuatu yang mungkin dapat menurunkan demam pada tubuh Rumi.


Raisa mengeluarkan sesuatu dari tas pinggangnya yang ia bawa. Itu adalah satu-satunya tas yang ia bawa saat pergi begitu saja mencari Rumi selain tas ransel dan koper berukuran kecil yang telah dititipkan pada teman-temannya sebelumnya. Yang Raisa ke luarkan dari dalam tas pinggangnya adalah obat penurun demam dan botol air mineral berukuran kecil yang ia bawa dari dunianya.


..."Apa Rumi sudah makan sebelumnya? Obat hanya akan cepat bereaksi jika yang mengonsumsinya telah makan terlebih dulu." Batin Raisa...


Raisa ingat juga telah memasukkan sebungkus roti pada tas pinggangnya. Raisa pun mengeluarkan sebungkus roti itu juga. Dan hendak memberi Rumi makan roti itu sebelum memberinya obat.


"Untuk bisa memakan roti ini, kau harus bangun dulu, Rumi. Setidaknya sedikit sadarlah, buka matamu agar aku dapat menyuapimu makan roti ini. Sadarlah, Rumi! Buka matamu. Aku datang untukmu." Ucap Raisa


Raisa pun berusaha membangunkan Rumi. Memanggil namanya, menggoyangkan tubuhnya, sampai menepuk-nepuk pelan pipinya. Namun, Rumi tetap hanya diam dan tidak menunjukkan reaksi apa pun. Mata Rumi masih terus tertutup.


..."Apa aku harus menyuapinya makan dengan mulutku?" Batin Raisa dengan ragu bertanya-tanya....


Bluushh~


Pipi Raisa memerah karena pikirannya sendiri. Membayangkan jika harus menyuapi Rumi makan dengan mulutnya nampu membuatnya salah tingkah dan memunculkan rona merah pada pipinya...


Raisa terus mencoba membhat Rumi sadar dan terbangun. Namun, hasilnya nihil! Rumi masih saja tak menunjukkan respon sedikit pun! Raisa pun terpaksa melakukan pilihan lainnya itu...


"Aku terpaksa melakukannya. Rumi, maafkan aku! Aku tidak bermaksud apa-apa atau mencari kesempatan darimu. Aku suapi kau ya..." Gumam Raisa


Raisa pun membuka pembungkus roti yang ada di tangannya. Menggigit kecil roti itu ke dalam mulutnya. Lalu, Raisa sedikit mengangkat tubuh Rumi, mengangkat kepala Rumi, dan mengarahkan wajahnya untuk mendekat pada wajah Rumi. Ia menempelkan bibirnya pada bibir Rumi. Memasukkan gigitan roti dari dalam mulutnya ke dalam mulut Rumi. Kemudian, membantu Rumi untuk menelan roti itu.


..."Maafkan aku yang terpaksa melakukan ini tanpa izin darimu. Aku bukan bermaksud tidak sopan atau kurang ajar, aku hanya ingin membantumu, hanya menolongmu sebisaku saja." Batin Raisa...


Gigitan pertama roti itu akhirnya berhasil ditelan oleh Rumi. Raisa pun kembali menjauhkan wajahnya dari wajah Rumi. Tapi, satu gigitan roti saja masih belum cukup. Raisa hanya bisa melakukannya lagi. Sampai suapan gigitan roti ketiga, Raisa pun menyudahinya.

__ADS_1


"Itu sudah cukup, kan? Setidaknya Rumi berhasil memakan sesuatu walau hanya sedikit." Gumam Raisa


Raisa pun menyiapkan obat dan air mineral yang ia bawa untuk diminum oleh Rumi. Ia membuka satu tablet obat Paracetamol.


Raisa pun menaruh obat Paracetamol itu ke dalam mulut Rumi, mengangkat kepalanya dan membantunya meminum air mineral agar ia dapat menelan obatnya. Namun, bukannya berhasil tertelan, air yang Raisa bantu agar Rumi menelannya bersama obat malah mengalir ke luar dari mulutnya, obatnya bahkan juga ke luar dari dalam mulutnya dan terjatuh ke tanah.


..."Rumi, tidak bisa meminum obatnya. Bagaimana ini?" Batin Raisa...


"Masa sih, hanya meminum air dan obat, aku juga harus menyuapinya dengan mulutku?" Gumam Raisa


Tak ada pilihan lain! Raisa hanya bisa melakukannya lagi. Membantu Rumi untuk meminum obat dan menyuapi dengan mulutnya.


Raisa pun membuka tablet obat baru. Untungnya ia membawa satu strip obat Paracetamol itu. Ia memasukkan tablet obat itu ke dalam mulutnya dan menampung air mineral ke dalam mulutnya. Lalu, ia mendekatkan bibirnya ke arah bibir Rumi. Melakukan hal yang sama seperti saat ia menyuapi gigitan roti pada Rumi, dengan melalui mulutnya. Raisa pun berusaha agar Rumi dapat menelan obat yang ia berikan melewati mulutnya.


Uhm...


Gluk!


Obat sudah berhasil tertelan oleh Rumi. Raisa pun kembali menjauhkan wajahnya dari wajah Rumi.


..."Akhirnya obatnya tertelan juga! Setelah ini, aku akan tetap menetralisir dan menekan efek racun dalam tubuhmu. Maka dari itu, segeralah sadar, Rumi." Batin Raisa...


Setelah membantu Rumi meminum obat, Raisa terus menggunakan sihir medisnya untuk menetralisir dan menekan efek racun dalam tubuh Rumi dengan tenaga sihirnya. Setelah terus menunggu sambil terus berusaha, akhirnya usaha Raisa mulai membuahkan hasil. Tubuh Rumi memperlihatkan perubahan yang lebih baik. Demam pada tubuh Rumi mulai mengalami penurunan yang signifikan. Walau begitu, Rumi masih belum menunjukkan tanda akan segera sadarkan diri. Tubuh Rumi tetap diam di bawah penanganan Raisa. Raisa pun kembali terpikir suatu cara.


..."Demi Rumi, aku harus bisa melakukannya. Aku harus bisa menahan rasanya." Batin Raisa...


Raisa pun berpikir untuk menempelkan sesuatu yang dingin pada seluruh tubuh Rumi agar demamnya bisa cepat turun dan sembuh.


Sebelum melakukan suatu cara pada Rumi, Raisa terlebih dulu menggunakan sihir elemen tanahnya untuk membangun dinding menjadi sebuah gubuk. Bukan gubuk kayu atau bambu, melainkan gubuk tanah yang ia ciptakan berasal dari sihirnya. Seperti yang Raisa ketahui, ada suatu cara untuk menghilangkan demam, yaitu dengan membiarkan seorang yang terkena demam saling bersentuhan kulit langsung dengan si penolong yang memiliki suhu tubuh yang lebih rendah. Jadi, jika si pemilik suhu tubuh yang tinggi bersentuhan kulit langsung dengan pemilik suhu tubuh yang lebih rendah, maka si pemilik tubuh yang bersuhu tinggi akan mengalami penurunan suhu tubuh sampai sembuh. Raisa akan melakukan hal serupa itu namun berbeda.


Raisa membuka beberapa kancing pakaian Rumi. Namun, Raisa tak mungkin membiarkan dirinya saling bersentuhan kulit langsung dengan Rumi, ia pun memilih suatu cara lain. Raisa melakukan sihir elemen air tingkat lanjut, yaitu elemen es. Raisa membaluti tubuhnya sendiri dengan sihir airnya lalu membekukannya menjadi es tipis. Kini tubuh Raisa telah diselimuti dengan es tipis. Raisa pun ikut berbaring di samping Rumi dan memeluk tubuh lelaki itu dengan tubuh berselimut es miliknya. Membiarkan tubuh demam Rumi terpulihkan oleh tubuh berselimut esnya, agar suhu tubuh Rumi kembali normal dari demam tingginya.


Salah satu tangan Raisa diletakkan pada dada Rumi saat memeluknya. Raisa tetap mrnyalurkan tenaga sihirnya pada Rumi untuk terus menetralisir dan menekan efek racun dalam tubuh Rumi. Dalam kondisi seperti ini, Raisa terus menahan rasa dingin dari tubuh berselimut esnya. Ia memiliki kelemahan terhadap rasa dingin. Namun, demi Rumi, ia rela menahan rasa itu.


"Aku akan menahan rasa dingin ini demi dirimu, Rumi. Yang penting kau bisa pulih dan segera sadarkan diri. Bukalah matamu, Rumi. Aku ada di sini! Di sisimu." Ucap Raisa


Raisa terus menahan dingin dari tubuh berselimut esnya di samping tubuh Rumi yang ia peluk di dalam gubuk tanah sihir ciptaannya. Raisa terus merasa kedinginan dan menahannya, sampai ia tak sadar tertidur di samping tubuh Rumi yang ia peluk. Dalam kondisi itu tidak ada yang tau keadaan dan keberadaan mereka. Karena mereka berdua berada di suatu tempat, tanah tandus tak bertuan yang terpencil.


 


Di sisi lain, Morgan, Aqila, Chilla, Devan, Ian, Amy, Wanda, dan Sandra terus menunggu dan menanti kabar baik. Tak banyak yang mereka lakukan, selain terus menunggu dengan perasaan gelisah.


"Ini sudah cukup lama, kita terus menunggu. Apa tidak sebaiknya kita juga pergi mencari Rumi dan menyusul Raisa?" Ujar Morgan yang terus merasa gelisah.


"Mencari ke mana? Memangnya kau tau, Rumi berada di mana dan Raisa pergi mencarinya ke arah mana?" Tanya Sandra


"Tidak tau. Tapi-"


"Kita tunggu sebentar lagi, pasti tanda di tangan kita ini akan menunjukkan kabar baik." Ucap Wanda


Tanda di tangan maksudnya adalah lambang Bunga Teratai Putih yang ditanamkan Raisa sebagai pendeteksi. Masing-masing dari mereka memiliki satu pada telapak tangan mereka. Tanda itu memang berwarna putih jika tidak terjadi apa-apa, namun akan mengalami perubahan jika sesuatu sedang terjadi. Dan saat ini tanda itu muncul menandakan bahaya dengan berwarna merah. Dan suatu bahaya itu sedang menyerang salah satu penilik tanda tersebut, yaitu Rumi.

__ADS_1


"Lihat, telapak tangan kalian! Tandanya mulai betubah warna!" Ungkap Ian


Semua pun langsung melihat pada telapak tangan mereka yang telah terdapat tanda tersebut. Warna dari tanda tersebut yang sebelumnya berwarna merah kini berubah warna. Menjadi warna kuning.


"Tandanya berubah menjadi warna kuning. Apa artinya?" Tanya Chilla


"Raisa bilang, warna tanda ini akan berubah menjadi warna hijau jika Rumi sudah baik-baik saja. Tapi, kenapa malah jadi warna kuning?" Ujar Morgan


"Kurasa, Raisa sudah menemukan Rumi. Dan mungkin saat ini Raisa sedang mencoba membantu Rumi yang dalam kondisi bahaya itu. Entah membantu dalam hal apa. Tapi, Raisa sedang berusaha merubah kondisi bahaya itu. Makanya, tanda ini jadi berwarna kuning. Rumi belum benar-benar baik-baik saja, namun Raisa sedang berusaha membantunya." Jelas Aqila


"Sepertinya memang benar begitu. Kita tunggu saja sebentar lagi. Pasti sebentar lagi kembali berubah warna. Dan saat sudah berubah warna menjadi warna hijau, kita akan langsung pergi ke tempat orangtua Rumi tinggal. Kita akan menyusul mereka ke sana. Bersabarlah." Ucap Devan


"Semoga mereka berdua baik-baik saja. Semoga Raisa bisa menyelamatkan Rumi." Kata Amy


"Baiklah, aku akan bersabar dan menunggu sebentar lagi." Ujar Morgan


...


Kembali pada Raisa dan Rumi...


Raisa masih terus dalam posisi memeluk tubuh Rumi dari samping. Es yang menyelimuti tubuh Raisa terlihat mulai melelah habis karena bersentuhan dengan tubuh panas Rumi. Raisa masih tertidur karena terus menahan rasa dingin pada tubuhnya demi menurunkan panas pada tubuh Rumi. Sedangkan Rumi masih belum sadarkan diri.


Setelah beberapa saat, mulai ada pergerakan. Rumi mulai merasa terusik dan sadarkan diri.


"Eunggh~" Rumi melenguh karena mulai tersadarkan.


Rumi mulai tersadarkan dengan suasana sekitarnya yang terasa asing. Ia mengerjapkan matanya dan mulai membukanya perlahan. Ia mulai mengingat apa yang terjadi padanya sebelumnya. Ia diserang oleh beberapa orang asing tak dikenal entah dengan motif apa. Pertarungan pun terjadi karena tak dapat terelakkan. Setelah mumukul mundur para musuhnya, ia mulai merasa aneh pada tubuhnya dan akhirnya jatuh tak sadarkan diri.


Rumi mulai benar-benar sadar melihat sekelilingnya yang terlihat asing. Seingatnya ia terjatuh tak sadarkan diri di tempat terbuka, namun saat ini ia berada dalam suatu tempat tertutup seperti gubuk dari tanah. Dan ia melihat seseorang berada di sampingnya. Seorang gadis yang tertidur sambil mrmeluknya. Ia mengenali wajah gadis di sampingnya itu.


Rumi pun bangkit dari posisinya menjadi duduk dengan memindahkan tangan seorang gadis yang memeluknya. Ia tak menyangka ini terjadi! Karena seorang gadis yang memeluknya dari samping adalah gadis yang ia sukai! Itu adalah Raisa!


"Ini terasa seperti mimpi! Raisa ada di sini, memelukku dari samping! Seperti inikah kenyataan bagaikan mimpi yang pernah Raisa rasakan saat aku diam-diam berada di sampingnya saat ia tertidur?" Batin Rumi


"Tapi, kenapa Raisa bisa berada di sini dan menemukanku?" Gumam Rumi bertanya-tanya


Merasakan ada pergerakkan dari sampingnya, Raisa pun mulai tersadar dan terbangun dari tidurnya. Dilihatnya saat ini, Rumi sudah sadar dan sedang duduk di samping posisi tidurnya. Sang lelaki pujaan hatinya yang tak sadarkan diri sebelumnya, saat ini sudah terlihat baik-baik saja dalam kondisi sudah sadarkan diri.


Buru-buru, Raisa pun langsung bankit dari pisisinya menjadi duduk di samping Rumi.


"Rumi, kau sudah sadar? Apa yang kau rasakan saat ini? Adakah yang terasa sakit atau semacamnya? Apa demammu sudah benar-benar turun dan tibuhmu kembali bersuhu normal?" Tanya Raisa bertubi-tubi karena mengkawatirkan kondisi Rumi.


Raisa pun memeriksa suhu tubuh Rumi dengan menyentuh dahi Rumi dengan punggung tangannya. Suhu tubuh Rumi sudah kembali normal sekarang.


"Demamnya sudah turun, kau sembuh! Suhu tubuhmu sudah kembali normal." Ujar Raisa


Tangan Rumi pun terulur untuk menggenggam tangan Raisa yang menyentuh dahinya. Rumi menarik turun tangan Raisa yang berada di dahinya dan terus menggenggamnya. Raisa pun terus menatap Rumi yang berada di sampingnya.


.


__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2