Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
[Season 2] 154 - River dan Alexis.


__ADS_3

Tidak ada lagi suasana tegang dan mencekam antara pihak manusia dengan Sang Dewa. Yang ada malah percakapan ringan yang terdengar akrab.


"Maaf jika aku menyela momen dari perbincangan hangat kalian semua, tapi bagaimana dengan nasib River di sini? Harus kami apakan dia? Apa perlu kami habisi atau bebaskan?" tanya Helio, Sang Phoenix alias burung api legendaris.


"Benar, jangan asik sendiri saja!" seru Niran, Sang Naga Suci Emas.


"Kalian berdua bicara dengan hebat seperti biasanya, padahal akulah yang berhasil membekuk River," kata Glyn Veron, Sang Penguasa Sungai Suci Abadi.


Asik karena telah bisa menjadi akrab dengan Sang Dewa, mereka malah melupakan para makhluk sihir suci yang senebulmnya juga ikut saling bertarung.


River Sang Naga Biru masih berada di bawah cengkraman cakar Glyn Veron si serigala raksasa Sang Penguasa Sungai Suci Abadi dan dijaga ketat oleh Sang Phoenix dan Sang Naga Suci Emas.


"Benar juga. Maaf telah melupakan kalian," kata Raisa


"Raisa, apa kau menginginkan Naga Biru itu? Aku bisa memberikannya padamu sebagai permintaan maaf dariku. Terserah mau kau apakan saja dia, dibunuh pun tidak masalah," ujar Sang Dewa, Arion.


"Mudah sekali kau membicarakan rencana pembunuhan, Arion. Padahal selama ini River telah mengikuti dan menuruti segala perintahmu. Ingatlah kalau kau harus mengubah sudut pandang dan pola pikir milikmu itu," ucap Raisa


Dengan kemampuan elemen sihir petir miliknya, Raisa pun berpindah posisi dengan cepat bagai kilat mendekat ke arah para makhluk sihir suci yang ada di sana.


"Kami siap menghabisinya selama kau memberikan perintah, Raisa," kata Niran Sang Naga Suci Emas.


"Kalian adalah sesama makhluk sihir suci ... apa mudah bagi kalian untuk membunuh satu sama lain?" tanya Raisa


"Memang tidak mudah, tapi selama ada perintah darimu akan kami laksanakan," jawab Helio Sang Phoenix.


"Tapi, aku tidak menginginkan itu terjadi dan lebih tidak suka dengan gagasan itu," kata Raisa


"Veron, lepaskan dia," sambung Raisa beralih bicara pada serigala raksasa Sang Penguasa Sungai Suci Abadi.


"Baiklah," patuh Glyn Veron yang langsung menghilangkan cakar pada kakinya dan bergerak turun dari atas tubuh Sang Naga Biru yang sebelumnya ditindihi olehnya.


Terlepas dari cengkraman Glyn Veron, River Sang Naga Biru langsung merunduk di hadapan Raisa.


"Aku mengakui dirimu sebagai Tuan baruku. Apa perintahmu untukku, Tuan?" tanya River Sang Naga Biru.


Karena Sang Dewa telah lepas tangan dari Sang Naga Biru, River pun tak punya pilihan selain mengakui Raisa sebagai Tuan barunya karena Tuan sebelumnya telah mencampakkannya.


"Aku adalah Raisa dan itulah nama panggilanku. Terlebih lagi, aku menolak menjadi Tuanmu. Tuanmu selamanya adalah Arion," ujar Raisa


"Tapi, Dewa Naga sudah tidak menginginkan diriku lagi," elak River Sang Naga Biru.


"Dia tidak akan seperti itu padamu, River," kata Raisa


"Raisa tidak bisa menerima makhluk sihir suci yang jenis elemen sihirnya serupa. Sedangkan River, jenis elemen sihir milikmu sama seperti yang dimiliki Veron. Yaitu, air dan es," ungkap Rumi


"Aku tidak perlu ikut dengan merasuk ke dalam dirimu seperti Helio dan Veron. Tidak masalah jika kau menempatkan diriku di mana pun di tempat lain, aku akan selalu patuh," ucap River Sang Naga Biru.


"Aku bilang tidak akan," kata Raisa


Raisa menatap ke arah River Sang Naga Biru. Makhluk sihir suci yang malang. Lalu, wanita cantik itu memeluk leher Sang Naga Biru.


"Senang bisa bertemu denganmu, River. Selama ini kau sudah berusaha keras," ujar Raisa


"Terima kasih ... Raisa," ucap River Sang Naga Biru.


Raisa melepaskan pelukannya terhadap Sang Naga Biru.


"Raisa, kau bahkan belum pernah memelukku selama kau di sini, tapi kau langsung memeluk nagaku itu padahal baru bertemu," ucap Sang Dewa

__ADS_1


Saat mendengar ucapan Sang Dewa, Rumi langsung kembali menatap tajam ke arahnya seolah mengintimidasi dan memberi peringatan.


"Tapi, untung saja Raisa langsung memelukku saat aku datang menemuinya di sini," batin Rumi


Raisa menyentuh kepala Sang Naga Biru dengan tangannya dan menggunakan kempuan sihir miliknya, Raisa memberi tanda Bunga Teratai Putih di bagian tengah kepala Sang Naga Biru.


"Kau bilang kau tidak akan menerima Naga Biru itu mengakuimu sebagai Tuan barunya, tapi kenapa kau malah memberinya tanda sihir milikmu, Raisa?" tanya Rumi


"Tanda ini hanya sihir penghubung, bagian dari sihir pendeteksi," ungkap Raisa


"River, tuanmu selamanya adalah Arion. Tapi, aku akan mengawasimu melalui tanda sihir milikku yang kuberikan padamu dan aku akan memberi tugas untukmu," sambung Raisa yang beralih bicara pada Sang Naga Biru.


"Apa pun perintah darimu akan aku laksanakan. Silakan beri tahu perintahmu untukku," ujar Sang Naga Biru.


"Aku ingin kau tetap selalu menemani Arion dan mengawasinya. Jika dia berada di dalam bahaya, maka selamatkan dia. Jika dia membuat bahaya pada orang lain, berilah dia hukuman. Dan, jika dia melakukan kesalahan fatal, maka kau sebagai makhluk sihir suci ... bunuh saja dia karena salah satu dari tugasmu untuk membasmi kejahatan, tapi jika dia menyesali perbuatannya dan meminta diberi kesempatan, maka hak ada di tanganmu ... apa kau ingin memberi kesempatan atau tidak padanya, itu terserah padamu," jelas Raisa


"Aku mengerti. Aku menerima perintah darimu dan akan aku ingat untuk selalu mengerjakannya dengan baik," patuh River Sang Naga Biru.


"Raisa, apa kau tidak akan memberi tanda sihirmu padaku juga? Apa kau tidak ingin mengawasiku secara langsung juga?" tanya Sang Dewa


"Arion, meski aku tidak percaya dengan eksistensi Dewa, tapi nyatanya kau adalah Dewa terakhir yang tersisa di dunia yang sudah tercipta ini. Kau harus sadari diri sendiri. Ingatlah bahwa dengan sesama makhluk hidup harus saling hidup berdampingan dengan rasa hormat. Anggaplah kita semua berteman baik, maka hidupmu akan lebih tenang dan damai," ucap Raisa


"Padahal aku berharap kau bisa membantu dan mengawasiku karena aku masih punya banyak kekurangan dan takut kembali berbuat salah," ujar Sang Dewa


"Aku tidak bisa terus mengawasimu, makanya aku meminta River selalu menemanimu di sini untuk itu. Karena kau tahu sendiri, aku hanya manusia biasa," kata Raisa sambil tersenyum.


"Baiklah," sahut Sang Dewa


Saat itu, ada seseorang yang berlari dengan sedikit tergopoh-gopoh karena banyak luka di tubuhnya. Ia menghampiri dan berlutut di hadapan Sang Dewa.


"Tuan Dewa, maaf karena aku telah gagal melindungimu dan aku akan mencoba melindungimu dengan seluruh sisa tenaga yang kupunya," ucapnya yang adalah pelayan setia Sang Dewa.


"Al, syukurlah kau masih hidup," kata Sang Dewa


Dengan kemampuan sihir miliknya, ia memunculkan sebuah pedang entah dari mana langsung berada di dalam genggaman tangannya secara ajaib. Dengan tatapan sengit dari kedua matanya, ia mengacungkan pedang ke arah Raisa, suami, dan teman-temannya.


Namun, Raisa malah tersenyum.


"Nona Dewi, harusnya Anda dengan tenang dan senang hati menerima Tuan Dewa yang memilih Anda sebagai calon pengantinnya. Kenapa Anda malah membuat keributan di sini dengan mendatangkan para manusia ini dari bumi?"


"Alexis, apa-apaan kau ini? Harusnya kau menghormatinya bukan malah mengacungkan pedang padanya!" seru Sang Dewa


"Maafkan aku, Tuan Dewa. Nona Dewi telah membahayakan hidupmu, maka aku hanya akan melawannya dan melindungimu."


"Sudah berapa kali aku menjelaskan kekuatannya padamu? Dia jauh lebih kuat darimu, melawannya hanya akan membuatmu mati. Kuperingatkan padamu, turunkan pedangmu," ujar Sang Dewa


"Aku tidak peduli meski aku harus mati. Bisa melindungimu itu sepadan-"


"Kalau begitu, aku juga akan tidak peduli dengan caramu mengancamku," ujar Raisa


Dengan menggunakan kemampuan sihir miliknya, Raisa langsung mengendalikan pedang milik pelayan setia Sang Dewa dan merampasnya dari jauh. Begitu pedang tersebut melayang dan jatuh ke dalam genggaman tangannya, Raisa langsung menggulung bilah pedang seolah itu adalah kertas.


"Sudah kubilang, dia jauh lebih hebat dan kuat dari pada dirimu, Alexis. Kau malah tidak mendengarkan aku," kata Sang Dewa


"Aku tidak takut! Anda boleh membunuhku, tapi jangan pernah coba menyakiti Tuan Dewa!"


"Aku tidak akan membunuhmu, Alexis. Tidak akan ada siapa pun yang dibunuh atau disakiti di sini. Jadi, tenangkanlah dirimu," ujar Raisa sambil tersenyum dengan lembut dan hangat.


"Sudah kubilang, harusnya kau menghormati dia. Karena meski pun dia bukan lagi termasuk kandidat calon pengantinku, dia tetap tamu terhormat yang datang ke sini," ucap Sang Dewa

__ADS_1


"Turunkan sikap waspadamu dan kau bisa tenang, Alexis. Kami semua tidak akan membahayakan siapa pun di sini," kata Raisa


"Tapi, para manusia yang datang ke sini demi Anda telah berbuat kekacauan di seluruh tempat ini."


"Alexis, baru kali ini kau terus membantah ucapanku. Berani sekali kau!" seru Sang Dewa


"Kau juga tenanglah, Arion. Setidaknya yang mereka lawan hanyalah boneka sihir ciptaan Arion, sedangkan Arion sendiri masih baik-baik saja. Kau bisa lihat sendiri, Alexis. Ketahuilah mereka berbuat seperti ini juga karena mereka ingin menyelamatkan diriku, seperti kau yang ingin melindungi Arion," ujar Raisa


"Benar, aku baik-baik saja. Bahkan Raisa juga telah menyembuhkan kebutaan pada kedua mataku. Jadi, sudah cukup. Kau jangan berlebihan," ucap Sang Dewa


"Kalau begitu, mohon ampuni diriku yang telah bersikap lancang ini, Nona Dewi." Pelayan setia Sang Dewa yang bernama Alexis itu langsung membungkuk hormat pada Raisa.


Raisa pun melangkah mendekati Alexis dan memegangi pundaknya untuk membantunya kembali berdiri dengan tegak.


"Tidak perlu berlebihan seperti ini denganku dan kau cukup panggil saja aku dengan namaku. Sama seperti aku dan Arion yang saling memanggil nama. Lalu, ini pedang milikku ... aku kembalikan," ucap Raisa


Raisa pun mengembalikan bentuk pedang milik Alexis yang telah ia jadikan bagai gulungan kertas ke bentuk semula dan memberikannya kembali pada pemiliknya.


Alexis pun menerima kembali pedang miliknya dari tangan Raisa. Tiba-tiba saja pelayan setia Sang Dewa itu merasa aneh pada tubuhnya sendiri. Yang tadinya tubuhnya terasa sakit karena terdapat penuh luka, kini tidak terasa sakit lagi sama sekali. Seolah ia tidak pernah terluka dan sehat bugar.


Alexis memegangi bagian dari tubuhnya yang tadinya terasa sakit dan karena merasa heran, ia melirik ke arah Sang Dewa seolah meminta bantuan penjelasan darinya.


"Jangan malah menatapku. Itu adalah kebaikan dari Raisa yang telah menyembuhkan luka pada tubuhmu," kata Sang Dewa yang seolah mengerti dengan arti tatapan mata Alexis yang meminta bantuan penjelasan darinya.


Benar, itu adalah perbuatan Raisa. Saat Raisa memegang pundak Alexis untuk membantunya berdiri, maka saat itulah Raisa menyembuhkan luka yang ada pada tubuh pelayan setia Sang Dewa itu dengan menggunakan kemampuan sihir medis miliknya hanya dengan sekali sentuhan.


Karena tidak diperbolehkan untui membungkuk hormat lagi, maka Alexis pun menyilangkan satu tangannya di depan dada.


"Terima kasih banyak atas kebaikan hati Anda, Nona Raisa," ucap Alexis


"Rupanya, kau masih saja memanggilku dengan embel-embel sebutan Nona, tapi itu terserah kau saja. Lalu, tidak perlu sungkan atau segan denganku karena juga jadi tanggung jawabku untuk menyembuhkan lukamu. Karena kau terluka karena berusaha melindungi tempat ini dari serangan mereka yang datang demi menyelamatkan aku," ujar Raisa sambil mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan Alexis yang disilangkan di depan dada.


"Lalu, Alexis ... aku percaya bahwa kau orang yang baik. Maka, teruslah dampingi dan temani Arion. Bantulah dia berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi," sambung Raisa


"Nona Raisa, tenang saja. Sudah menjadi sumpah setiaku bahwa aku akan selalu berada di sisi Tuan Dewa selamanya," kata Alexis


"Bagus, aku bisa tenang. Karena sepertinya aku dan yang lain sudah harus pergi dari sini," ucap Raisa


"Kalau begitu, aku dan Helio akan kembali merasuk ke dalam dirimu, Raisa," ujar Glyn Veron, Sang Penguasa Sungai Suci Abadi.


"Benar," sahut Helio Sang Phoenix


"Aku juga akan kembali merasuk ke dalam dirimu, Rumi," kata Niran, Sang Naga Suci Emas.


Glyn Veron pun berubah menjadi bola roh air dan Helio berubah menjadi bola roh api, lalu melayang masuk ke dalsm tubuh Raisa. Begitu juga dengan Niran yang berubah bentuk menjadi bola roh emas dan melayang masuk ke dalam diri Rumi.


"Maaf karena kami sudah berbuat banyak kekacauan di tempat ini," kata Raisa


"Tidak masalah. Aku sendiri yang jadi penyebab utama kekacauan di sini. Aku dan Alexis bisa perlahan-lahan memperbaiki seluruh tempat ini. Lain kali datanglah lagi ke sini saat tempat ini sudah pulih menjadi indah seperti dulu," ucap Sang Dewa


"Kalau begitu, lain kali undanglah kami untuk datang lagi dengan cara yang lebih baik dari pada yang sebelumnya pernah kau lakukan," ujar Raisa


"Tentu saja. Itu sudah pasti," kata Sang Dewa


Saat Raisa mengatakan sudah harus pergi, Ian sudah langsung bersiap menciptakan lukisan 2 ekor burung raksasa yang dihidupkan dengan kemampuan sihir. Ian, Devan, Chilla, Aqila, dan Morgan pun sudah menaiki burung raksasa 2 dimensi yang hidup itu.


Lalu, Rumi pun menghampiri Raisa. Pria itu memeluk pinggang sang istri untuk membawanya naik bersama ke atas pungung burung raksasa 2 dimensi yang dihidupkan oleh Ian itu. Ian, Devan dan Chilla naik satu burung raksasa 2 dimensi yang sama. Sedangkan, Aqila, Morgan, Rumi, dan Raisa menaiki satu burung raksasa 2 dimensi yang lainnya.


.

__ADS_1



Bersambung.


__ADS_2