
Acara kelulusan berakhir, pelepasan murid tingkat akhir pun usai...
Semua murid telah kembali berbaur dengan yang lain, entah itu dengan teman atau kerabat mereka atau pun dengan keluarga mereka yang telah hadir di sana untuk menyaksikan acara kelulusan tersebut.
Raisa pun menuruni panggung kecil yang tersedia di sana. Baru saja kakinya menginjak tanah lapang sekolahnya, sudah ada banyak orang yang mengerubunginya. Mereka yang datang adalah sesama teman sekolah yang tidak terhasut atau tidak mendengar gosip miring tentang primadona tingkat akhir sekolah itu, mereka menghampiri Raisa untuk memberi Raisa ucapan selamat atas apa yang telah diraihnya.
"Selamat ya, Raisa!"
"Ternyata emang kamu ya yang dapat peringkat satu umum di sekolah ini..."
"Emang benar-benar primadona sekolah!"
"Ahaha, bisa aja. Terima kasih loh atas ucapannya." Ucap Raisa
Ada banyak yang mengerubungi di sekelilingnya, Raisa sampai agak kewalahan merespon semua orang yang menghampirinya.
"Tapi, apa sih gosip miring yang sempat kamu bahas di panggung tadi, Raisa?"
"Ah, itu! Bukan apa-apa, hanya bicaranya orang iseng." Jawab Raisa
"Oh, begitu. Pasti cuma perbuatan orang gak benar!"
"Aku sih percaya Raisa orang baik. Gosip miring itu pasti emang cuma gosip!"
"Itu sih, pasti! Raisa kan primadona sekolah yang gak cuma cantik dan pintar, tapi juga cewek baik-baik. Gosip itu pasti fitnah kebohongan!"
Saat Raisa menyampaikan klarifikasi di atas panggung tentang gosip miring yang menerpanya, ia memang tidak bicara dengan rinci dan jelas seperti apa gosip yang menyebar itu. Ia hanya mengatakan gosip itu tidaklah benar dan memberi alasan pasti yang menjadikan gosip itu sebenarnya adalah palsu. Raisa hanya berniat menyampaikan hal kebenaran itu, tapi tidak disangka ternyata masih ada orang yang percaya pada dirinya dan menepis kuat-kuat gosip yang bahkan belum pernah mereka dengar. Raisa merasa bersyukur karena itu...
"Terima kasih kalian semua udah mau percaya sama aku." Ucap Raisa sambil menyunggingkan senyuman terbaiknya.
"Kalau begitu, semoga kita semua masih bisa ketemu setelah lulus dan ke luar dari sekolah ini ya."
"Ya, semoga aja." Kata Raisa
"Kak Raisa!!~" Panggil seseorang sambil melambaikan tangannya ke arah Raisa.
"Oh, itu pasti keluarga kamu ya, Raisa. Kalau begitu, kita gak ganggu lagi deh."
"Sekali lagi, selamat ya, Raisa!"
"Hmm, terima kasih, teman-teman..."
Orang-orang yang berkerumun di sekeliling Raisa pun langsung membubarkan diri mereka dan ikut berkumpul bersama keluarga kerabat mereka masing-masing.
Setelah terbebas dari kerumunan temannya, Raisa pun menghampiri keluarganya yang datang di sana. Tak lupa Raisa juga melambaikan tangannya pada seseorang yang tadi memanggil dengan menyerukan namanya, dia adalah adik lelakinya yang ikut datang bersama kedua orangtuanya, yaitu Raihan.
"Raisa, selamat ya, sayang..." Ucap Pak Hilman, Ayah Raisa.
"Kamu emang kebanggaannya Ibu!" Puji Bu Vani, Ibu Raisa.
"Kakak hebat! Bisa dapat peringkat umum pertama satu sekolah!" Ujar Raihan
"Hehe, terima kasih, semua." Kata Raisa
"Iya dong! Siapa dulu?!" Sambar Maura yang menimbrung datang.
"Raisa, gitu loh! Temanku, Si primadona sekolah!" Sahut Nilam
"Oh, Nak Maura dan Nilam ya?" Ujar Bu Vani
"Iya, Bu, Pak. Halo, Raihan... Apa kabar?" Sapa Maura
"Kami semua baik, Nak. Kalian berdua gak ngumpul bareng keluarga di sini?" Ujar Pak Hilman
"Sebenarnya, keluarga kami juga datang. Tapi, masih belum kelihatan nih ada di sebelah mana..." Kata Nilam
"Kami mau ikut gabung dulu sebentar, sekalian mau ngenalin teman-temannya Raisa juga." Ujar Maura
Teman-teman yang dimaksud oleh Maura adalah teman-teman spesial Raisa yang datang dari dunia dimensi lain yang ternyata sudah ikut berada di sana bersamaan dengan munculnya Maura dan Nilam di sana...
"Oh, teman-teman sekolahnya, Raisa ya?" Tanya Bu Vani
"Stt! Kan Raisa yang mau ngenalin langsung sama orangtuanya. Kenapa malah kamu yang mulai sih!?" Bisik Nilam setelah menyenggol lengan Maura.
"Aku gak sabar lihat reaksi orangtuanya Raisa pas tahu mereka datang demi Raisa sih! Hehe..." Balas Maura berbisik.
"Kayak pernah lihat, tapi di mana ya?" Ujar Pak Hilman
"Wah, keren! Cepat, kenalin dong!" Girang Raihan yang langsung memeluk lengan Raisa dan menggoyang-goyangkannya.
"Iya-iya, sebentar dong. Bisa tenang dikit gak sih!?" Pelan Raisa menegur Raihan.
__ADS_1
Raihan terlihat seperti sudah mengenali teman-teman Raisa yang telah datang itu. Adik Raisa itu sudah pernah melihat mereka dari foto yang Raisa tunjukkan, Ibu dan Bapaknya pun begitu. Tapi nungkin karena orangtua, keduanya tidak lagi mudah untuk mengingat...
Melihat Raihan merangkul lengan Raisa dengan perasaan senang dan Raisa pun membiakan tanpa menolaknya, Rumi merasa sesuatu di dalam dadanya terasa panas seperti terbakar. Rumi belum mengetahui identitas lelaki itu yang terlihat sangat dekat dengan Raisa. Lelaki periang yang tingginya hampir menyamai tinggi tubuh Raisa walau sedikit lebih rendah. Namun, Rumi berusaha menahan rasa perih di hatinya dan menunggu Raisa sendiri yang memberi tahu langsung padanya siapa lelaki itu...
"Mereka juga datang menghadiri acara kelulusan ini, bukan teman sekolah Raisa. Mereka datang dari jauh. Bapak pernah lihat bukan secara langsung, tapi lewat foto." Jelas Raisa
Raisa sedikit mendekat ke arah kedua orangtuanya dan berbisik pada mereka...
..."Mereka semua ini teman-temanku dari dunia lain berbeda dimensi itu loh! Mereka datang berkunjung sekaligus ingin memberiku selamat, ini kunjungan istimewa. Maura dan Nilam hanya tahu mereka datang dari jauh, jadi tolong kerja samanya untuk sedikit bersandiwara." Bisik Raisa memberi tahu pada kedua orangtuanya dan juga Raihan....
"Sekarang sudah ingat belum?" Tanya Raisa yang sudah kembali menjauh berposisi seperti sedia kala.
"Oh, pantas aja kayak pernah lihat!" Kata Pak Hilman
"Ternyata kamu punya banyak teman dari tempat yang jauh itu ya, Raisa..." Ujar Bu Vani
"Hehe... Ya, begitulah. Kenalin dulu, mereka teman-temanku. Ada, Morgan, Aqila, Rumi. Terus, Devan, Chilla, Ian. Di sana, Marcel, Billy, Dennis. Lalu, Amy, Wanda, dan Sandra." Ucap Raisa memperkenalkan semua teman dunia lainnya seraya menunjukinya satu persatu pada kedua orangtua dan adik lelakinya.
Semua teman dari dunia lain berbeda dimensi datang, kecuali Sanari. Tapi, Raisa sudah dapat menebak alasannya. Pasti karena dia sedang sibuk setelah benar-benar kembali memasuki pekerjaannya sebagai peneliti peralatan ilmiah modern.
"Lalu, semuanya... Perkenalkan, ini Ibu dan Ayahku. Dan, anak usil ini adalah adik lelakiku, Raihan." Sambung Raisa yang memperkenalkan keluarganya yang hadir di sana pada semua teman spesialnya.
"Salam, Bibi dan Paman. Halo juga, Raihan." Sapa semuanya secara serempak.
"Kami semua teman Raisa..." Ujar Rumi
"Ternyata, lelaki itu adiknya. Hampir saja aku salah paham dengan Raisa." Batin Rumi
"Ih, kok Bibi dan Paman sih? Kuno banget! Terus, kayak sama pembantu aja!" Celetuk Raihan
"Ah, maaf. Kami tidak bermaksud seperti itu, mohon maaf." Ucap Aqila seraya membungkukkan badannya sebagai permohonan maaf mewakili semua temannya.
"Eh, gak perlu sampai segitunya. Angkat kepalamu, Nak." Ujar Bu Vani. Aqila pun kembali berdiri tegak seperti semula.
"Anak-anak yang sopan!" Gumam Pak Hilman
"Kalian tidak perlu sungkan, tidak apa. Raihan hanya bercanda mengusili kalian." Ucap Raisa yang langsung melototi adik lelakinya. Raihan pun hanya memperlihatkan cengir kudanya.
"Hehe, iya. Maaf, kakak-kakak semua." Kata Raihan
"Raisa sama seramnya saat marah seperti Aqila. Kukira, semua perempuan akan sama jika sedang marah." Pelan Morgan berbisik
"Hei, itu tidak benar!" Kesal Morgan dengan pelan.
"Kau hanya tidak mengakuinya." Kata Devan berbisik.
"Terserah kalian mau memanggil Ibu dan Ayahku seperti apa. Bibi dan Paman pun tidak masalah, Ibu dan Ayahku juga dipanggil seperti itu oleh sanak saudara di kampung halamannya. Kalian juga bisa langsung memanggil Ibu dan Bapak, seperti aku. Atau panggil Bu Vani dan Pak Hilman, seperti yang umum di sini. Atau bisa panggil Tante dan Om." Jelas Raisa
"Oke, kami gak akan ganggu kebersamaan keluarga dan semua tamunya di sini. Saya dan Maura undur diri dulu..." Ujar Nilam
"Iya, kebetulan kami juga udah lihat adanya keluarga yang datang di sini." Ucap Maura
"Permisi, semuanya." Kata Maura dan Nilam secara serempak.
"Aku titip salam aja ya buat Tante dan Om. Maaf, gak bisa ikut bareng kalian." Ujar Raisa
"Paham kok, Raisa. Tenang aja!" Kata Nilam
"Iya, gapapa kok. Pergi dulu ya, Raisa." Kata Maura
Maura dan Nilam pun beranjak dari sana setelah melihat keberadaan keluarga mereka yang datang di sana.
"Oh ya, kakakmu gak bisa datang. Sebagai gantinya, nanti dia bakal datang ke rumah setelah kita pulang." Ujar Bu Vani
"Iya, Bu, gapapa. Kakak pasti repot harus mengurus suami dan anaknya dulu." Kata Raisa
"Ngomong-ngomong, yang tadi kakak bahas di atas panggung yuh gosip miring apa sih?" Tanya Raihan
"Oh, itu! Bukan apa-apa cuma ulah teman yang iseng aja." Jawab Raisa
"Teman kamu buat iseng apa sama kamu? Apa ada yang bully kamu di sekolah?" Tanya Pak Hilman
"Enggak kok, Pak. Lagian, Bapak kayak tahu-tahuan tentang bully aja." Kata Raisa
"Benar, nih? Ibu khawatir loh..." Ujar Bu Vani
"Iya, Bu. Anak Ibu ini juga kan baik-baik aja, gak usah khawatir yang berlebihan." Ucap Raisa
Akhirnya, semua kegiatan dan acara di sekolah pun telah usai. Bersama keluarga kerabat, semua murid pun pergi dari tempat yang pernah mereka menimba ilmu di sana sebagai status yang baru, yaitu lulus atau mantan murid.
Raisa dan keluarga pun sedang bersiap untuk kembali pulang bersama dengan semua teman spesialnya.
__ADS_1
"Ibu, Bapak, dan Raihan, pulang aja duluan. Raisa gak bisa ikut bareng, aku sama teman-temanku aja karena gak mungkin semua bisa naik mobil." Ujar Raisa
Kedua orangtua Raisa dan juga Raihan memang datang ke sekolah dengan menaiki mobil keluarga. Saat hendak pulang, mau tak mau Raisa tak bisa ikut menaiki mobil bersama karena harus membawa semua teman spesialnya yang datang untuk ikut serta pulang bersama dan tidak mungkin semua bisa ikut menaiki mobil.
"Oh, kakak mau pake cara ajaib itu kan? Raihan ikut sama kakak dong! Mau tahu rasanya!" Ujar Raihan
"Boleh aja. Tapi, kita cari tempat sepi dulu biar gak ketahuan orang lain." Ucap Raisa
"Sip lah, yang penting aku ikut! Boleh kan, Bu, Pak?" Ujar Raihan
"Boleh, sana ikut kakakmu." Jawab Pak Hilman
"Jaga adikmu ya, Raisa." Pesan Bu Vani
"Siap, laksanakan!" Patuh Raisa dengan sedikit gurauan.
"Apa sih, Bu? Aku kan udah besar, gak perlu dijagain kayak anak kecil. Lagi pula, Ibu kayak masih gak percaya aja sama Kak Raisa." Ujar Raihan
"Hush! Gak boleh bicara begitu sama Ibu!" Tegur Raisa
"Sudah... Kalau gitu, Bapak dan Ibu pulang dulu ya." Kata Pak Hilman
"Hati-hati di jalan ya, Pak. Jangan ngebut nyetirnya." Pesan Raisa
"Sampai ketemu di rumah, Ibu, Bapak." Kata Raihan
Bu Vani dan Pak Hilman pun pulang lebih dulu dengan menaiki mobil. Sedangkan Raisa dan Raihan bersama yang lain pergi mencari tempat sepi dan tersembunyi untuk pulang dengan cara yang ajaib, yaitu menggunakan sihir.
"Kakakmu itu lelaki atau perempuan, Raisa?" Tanya Rumi. Mungkin maksudnya bertanya demikian supaya tak lagi salah paham dan cemburu berlebihan.
"Kakakku, perempuan. Bukankah tadi aku sempat bilang dia harus mengurus suami? Berarti dia seorang istri alias perempuan." Ungkap Raisa
"Raisa, sedari tadi banyak sekali kendaraan aneh yang banyak digunakan. Kendaraan apakah semua itu?" Tanya Dennis
"Berbeda dengan dunia kalian yang hanya menggunakan satu alat tranportasi saja, di sini terdapat banyak. Di antaranya yang digunakan orangtuaku, yaitu mobil. Lainnya ada motor dan masih banyak lagi. Mobil pun banyak jenisnya, ada bus dan sejenisnya. Itu hanya transportasi jarak dekat, di sini pun ada kereta untuk transportasi jarak jauh. Lalu, itu hanya yang digunakan di jalan darat, jika di laut ada kapal yang berlayar, jika di udara ada pesawat yang terbang mengudara atau bisa disebut juga kapal terbang. Semua itu beroperasi karena adanya mesin yang bekerja." Jelas Raisa
"Kok tanya tentang ini? Emangnya di sana gak ada kendaraan?" Tanya Raihan
"Di sana gak banyak kendaraan seperti di sini. Hanya ada kereta listrik untuk di darat karena tempat tinggal di sana adalah wilayah daratan. Di wilayah negara perairan pun ada kapal. Pesawat pun ada sih, tapi untuk penggunaan pemindahan barang kapasitas besar dan berat." Ungkap Raisa
"Kau tahu jelas dunia tempat tinggal kami ya, Raisa." Kata Devan
"Banyak sekali. Apa aku harus meminta Ayah untuk membuat kendaraan seperti yang di sini ya?" Ujar Dennis
"Wah, jiwa pebisnismu langsung muncul lagi ya, Dennis!" Kata Ian
"Jangan! Nanti di dunia kalian jadi sangat padat seperti di sini. Banyak polusi juga! Jika seperti itu, nantinya tempat tinggal akan terasa panas dan tercemar. Mungkin beda cerita jika semua kendaraan diciptakan berbasis listrik, tapi itu akan jadi mahal dan akan ada perbedaan antara rakyat kelas atas dan bawah. Tapi, jika itu untuk kemajuan teknologi sih terserah saja. Hanya saja, aku lebih suka jika tetap seperti sekarang. Di tempat legang seperti di sana aku sangat ingin berkeliling menaiki kuda! Wah, aku sangat mengharapkan itu dari kecil! Semua ini hanya pendapatku saja sih..." Tutur Raisa
"Kau benar juga sih, Raisa. Perusahaan Ayahku juga tidak bisa mrnciptakan kendaraan begitu saja harus ada pembelajaran teknik pembuatannya dan itu sangatlah sulit." Ucap Dennis
"Pemikiranmu luas juga ya, Raisa." Kata Morgan
Mereka semua pun akhirnya menemukan suatu tempat yang cocok! Yang sepi dan tersembunyi...
"Nah, di sini saja!" Kata Raisa
"Kali ini, kita akan ke mana, Raisa?" Tanya Amy
"Rumah orangtuaku, tempat tinggalku." Jawab Raisa
"Akhirnya, ada kesempatan untuk kami mengetahui rumahmu!" Ucap Rumi
"Raihan, kamu tetap dekat sama kakak ya." Kata Raisa
Raihan pun lebih mendekatkan diri pada Raisa.
Raisa pun bersiap. Ia menjulurkan satu tangannya ke depan dan menggunakan kemampuan sihirnya untuk mengeluarkan sihir teleportasi. Lingkaran hitam misterius sebagai gerbang portal teleportasi pun muncul dan perlahan terbuka...
"Udah pernah lihat pun tetap aja mengagumkan! Kita masuk ke dalam sana, Kak?" Ujar Raihan
"Iya, kamu masuk bareng kakak ya." Kata Raisa
Raihan mengangguk tanda mengerti...
Mereka semua pun memasuki lingkaran hitam tersebut untuk pergi ke suatu tempat lain langsung seperti jalan pintas. Dan setelah itu, mereka pun tiba di rumah Raisa!
.
•
Bersambung...
__ADS_1