
Usai para tamu yang datang memberikan ucapan selamat, Raisa, Rumi, dan keluarga pun mengganti busana dengan busana pesta. Yaitu, gaun dan setelan jas untuk pasangan pengantin. Sedangkan untuk rombongan keluarga mengenakan pakaian formal untuk acara. Maksudnya tidak meski memakai gaun untuk Bu Vani, karena pihak Tuan Rommy sudah menyiapkan pakaian yang sekiranya terasa nyaman untuk keluarga besannya itu.
Setelah semua siap dengan mengenakan busana pesta, semua pun memulai pesta perayaan pernikahan bersama para tamu yang telah datang. Mereka makan dan berbincang bersama. Suasana kekeluargaan yang hangat sangat kental terasa meski mereka semua tidak berkumpul menjadi satu kelompok saja. Namun, semuanya saling berbaur dan terlihat akrab.
Terasa menyenangkan dan membahagiakan.
Meski berada di tempat yang pernah terkenal menyeramkan karena merupakan wilayah beracun terlarang sewaktu dulu dan sekarang merupakan tanah kediaman tahanan rumahan seumur hidup, semua orang yang datang tidak lagi memedulikan hal tersebut dan sibuk menikmati acara yang digelar setidaknya pada hari ini.
...
Acara berlangsung hingga malam hari. Suasana terasa berbeda saat merayakan pesta di tempat terbuka dengan tenda. Bintang yang menghiasi langit pun menambah kesan megah dan meriah pada pesta yang berlangsung hingga malam itu.
Hingga jam 10 malam, tamu yang tersisa pun hanya tinggal beberapa dan mereka pun mulai berpamitan untuk pulang.
"Sampai jumpa lagi, Rumi, Raisa!" seru mereka yang berpamitan untuk segera pergi.
"Sampai jumpa dan hati-hati," balas dan pesan Raisa
Setelah melihat rombongan tamu terakhir pergi, Raisa, Rumi, dan yang lainnya pun masuk kembali ke dalam kediaman untuk segera istirahat.
Setelah masuk ke dalam kanar, Raisa langsung bergerak menghapus riasan di wajahnya dan melepaskan aksesoris yang dikenakannya hingga mengurai kembali rambut panjangnya yang ditata sedemikian rupa selama acara pernikahan berlangsung.
Saat itu, Rumi pun mendekat ke arah sang istri itu hingga berdiri di belakang istri cantiknya.
"Sayang, apa kau perlu bantuanku? Seperti menurunkan resleting gaunmu, misalnya?" tanya Rumi yang sudah langsung menggerakkan tangannya untuk membuka resleting gaun Raisa tanpa mendengar jawaban dari wanita itu lebih dulu.
"Boleh, deh. Tolong, ya, Suamiku," jawab Raisa sambil tersenyum.
Baru saja menjawab pertanyaan dari sang suami, Raisa sudah merasakan sepasang telapak tangan bergerilya di atas permukaan kulit punggungnya hingga membuat senyumnya berubah menjadi senyuman tegang.
..."Rumi, mulai lagi, deh ... " batin Raisa...
Bulu roma semakin dibuat berdiri saat Raisa merasakan helaan nafas dan bibir Rumi pada bagian belakang telinga kirinya yang merupakan salah satu area sensitif bagi wanita cantik itu.
"Sayang, bagaimana kalau kita mandi berdua saja?" tanya Rumi sambil berbisik pelan di telinga Raisa.
Raisa memejamkan kedua matanya secara perlahan untuk menetralkan perasaannya yang kacau bercampur aduk dibuat oleh suami tampannya.
"Uhh~" lenguh pelan Raisa yang berhasil lolos begitu saja dari mulutnya
Raisa langsung membekap mulutnya sendiri dengan satu tangan karena satu tangan lainnya telah digunakan untuk menahan bagian depan gaun yang dikenakannya agar tidak merosot jatuh setelah resletingnya diturunkan.
Tak sempat mendengar jawaban dari mulut manis sang istri, Rumi malah melihat istri cantiknya itu berlarian dengan cepat masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamar tersebut dan bahkan pria itu mendengar suara pintu kamar mandi terkunci dari dalam.
"Maaf, Sayang ... mandi berduanya lain kali saja, ya!" teriak Raisa dari dalam kamar mandi yang pintunya telah ia kunci dengan sengaja.
Rumi hanya bisa tersenyum kecil seraya menghela nafas kasar saat melihat tingkah malu-malu sang istri yang membuatnya gagal bermesraan berdua.
Rumi tak punya pilihan lain selain menunggu hingga Raisa selesai dan ke luar dari kamar mandi.
Setelah selesai mandi, Raisa membuka pintu kamar mandi dan ke luar dari sana dengan langkah yang amat sangat pelan. Awalnya ia mengintip dari balik pintu di dalam kamar mandi hanya untuk berjaga-jaga terhadap sang suami. Setidaknya jangan sampai ia langsung disergap begitu ke luar dari dalam kamar mandi.
Untung saja saat ke luar kamar mandi, Raisa melihat Rumi sedang berbaring telentang di atas ranjang dalam kondisi dua matanya yang tertutup masih lengkap dengan setelan kemeja dan celana bahannya kecuali jasnya yang sudah dibuka.
Raisa pun bisa bergerak leluasa tanpa khawatir diterkam oleh suami tampannya itu, meski mssih harus melangkah dengan hati-hati agar tidak membangunkan singa tidur yang notabennya adalah suaminya itu.
Raisa membuka pintu lemari pakaian secara perlahan dan setelah terbuka, wanita itu melirik ke arah Rumi di atas ranjang. Pria tampan itu masih tertidur dan itu berarti Raisa masih aman. Raisa pun memilih dan mengambil piyama tidur untuk dipakai olehnya.
Awalnya, ia merutuki dirinya sendiri saat tidak membawa pakaian ganti ke dalam kamar mandi. Namun, jika dipikir lagi bukan salahnya kalau lupa. Itu karena Rumi yang sudah mulai mengincar dirinya seolah ingin memangsa hingga membuat dirinya merinding disko.
Raisa berpikir, setelah selesai berpakaian, ia akan membangunkan Rumi untuk mandi karena merasa kasihan dengan suaminya yang pasti merasa tidak nyaman dengan tubuh yang berkeringat itu.
Namun, baru saja hendak membuka jubah mandinya untuk segera berpakaian, Raisa sudah dikejutkan dengan sepasang tangan yang melingkar di pinggangnya.
"Rumi, kau mengejutkan aku!" seru Raisa yang terkejut karena tidak mendengar suara suaminya beranjak dari ranjang.
__ADS_1
"Kenapa terkejut? Apa karena kau tertangkap basah?" tanya Rumi
Raisa langsung kembali menegang seketika. Namun, wanita iru berusaha bersikap biasa saja.
"Enak saja, tertangkap basah ... apa kau pikir aku ini pencuri?" tanya balik Raisa
"Ya. Kau adalah pencuri hatiku yang ke luar dari persembunyian dengan sangat hati-hati agar tidak tertangkap olehku," jawab Rumi
Seperti itulah penggambaran dari Rumi untuk Raisa yang ke luar dari kamar mandi dengan memindik-mindik.
"Sudah, jangan banyak bicara lagi. Segeralah mandi dan jangan lupa bawa pakaian gantinya juga," ujar Raisa yang berbalik begitu saja sambil memberikan piyama tidur untuk Rumi berganti pakaian di dalam kamar mandi nanti.
"Baiklah, Sayangku ... " kata Rumi
Sebelum beranjak ke dalam kamar mandi, Rumi menyempatkan diri untuk mencuri cium bibir Raisa dengan singkat. Raisa hanya bisa mematung dan baru tersadar saat suaminya telah masuk ke dalam kamar mandi.
"Huh ... sekarang siapa yang pencuri? Kaulah orangnya," dumel Raisa
Selain merasa agak lelah setelah mengadakan acara pernikahan kedua, Raisa bukannya ingin menolak atau enggan melayani suami. Hanya saja, cara Rumi mendekatkan diri dengannya dengan cara menggodanya dengan rayuan manis itulah yang membuat Raisa tidak tahan. Bukan pula Raisa tidak suka dengan perlakuan manis dari sang suami, tapi meski telah menikah, wanita itu masih saja tidak terbiasa. Perlakuan Rumi padanya setelah menikah semakin membuat jantungnya berpacu dengan sangat cepat hingga membuat wanita itu bisa saja meleleh seketika atau bahkan terbang tinggi ke amgkasa. Entahlah yang mana yang benar. Yang jelas Raisa jadi tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri.
Raisa pun mulai bergerak memakai piyama tidurnya dan merapikan penampilan malamnya sebelum tidur. Setelahnya pun Raisa langsung merebahkan dirinya di atas ranjang yang empuk dan memejamkan kedua matanya untuk melepas rasa lelah.
Usai mandi dan ke luar dari kamar mandi, Rumi langsung naik ke atas ranjang untuk menghampiri Raisa yang tertidur di sana.
"Sayang, kau sudah tidur? Kau meninggalkan aku lagi?" tanya Rumi yang malah menggangu tidur sang istri.
"Hmm ... aku hanya memejamkan mata," jawab Raisa masih dengan kedua matanya tertutup.
Rumi mendekat ke arah Raisa. Merasa telah bersentuhan kulit dengan sang suami, Raisa pun membuka kedua matanya meski sulit karena tidurnya telah terganggu. Begitu kedua matanya terbuka, Raisa melihat dada suaminya terekspos dengan jelas karena Rumi tidak mengancingi pakaian tidurnya sama sekali dan membiarkan piyama tidurnya terbuka begitu saja.
"Rumi, kau tidak mengancingi pakaian tidurmu? Apa hal seperti ini pun kau ingin aku yang membantu melakukannya untukmu?" tanya Raisa
Raisa bergerak mengulurkan kedua tangannya untuk menyentuh bagian kerah baju tidur suaminya untuk dirapikan. Barulah tangannya bergerak turun untuk mengancingi piyama tidur suaminya itu. Namun, Rumi malah menahan gerakan tangan istri cantiknya.
"Tidak perlu kau pasangkan kalau pada akhirnya akan dibuka lagi," jawab Rumi
"Apa maksudmu? Kau bisa masuk angin jika tidur dalam keadaan bajumu tidak tertutup," ujar Raisa
Sepertinya rasa lelah membuat Raisa tidak bisa memahami maksud suaminya dengan jelas.
"Sayang, bukankah kita baru saja melangsungkan acara pernikahan kedua? Bukankah artinya ini adalah malam pertama kita juga? Bukankah kita juga masih terbilang sebagai pengantin baru?" tanya Rumi
Teori macam apa pula itu? Sepertinya Rumi mulai mengada-ada. Jika maksudnya adalah menuntut pengalaman pertama di dunianya, bukankah sudah pernah melakukannya saat siang dua hari yang lalu? Atau mungkin karena melakukannya di siang hari, jadi tidak termasuk dengan yang disebut malam pertama? Entah itu pengalaman pertama atau malam pertama, itu sudah berlalu dan pernah dilakukan, meski itu dilakukan di dunia sana dan bukan di dunianya. Sudah sangat jelas Rumi hanya menginginkan sang istri tercinta.
"Sayang, apa kau tidak lelah?" tanya Raisa yang sudah terkonek dengan apa yang dimaksud oleh suaminya.
"Tidak terlalu ... masih belum," jawab Rumi yang mulai mendekatkan wajahnya ke arah wajah sang istri.
"Baiklah, lakukan saja. Malam ini, aku milikmu ... " kata Raisa yang telah mengalungkan kedua tangannya pada leher Rumi.
"Hati dan tubuhku juga milikmu sepenuhnya, Sayangku. Aku mencintaimu," balas Rumi
"Aku juga sangat mencintaimu, Sayang," sahut Raisa
Keduanya pun memulai dengan berciuman dengan lembut dan semakin berubah menjadi panas.
Kali ini Raisa tak ingin kalah atau tinggal diam mengikuti permainan sang suami. Ia juga ingin menciptakan permainannya sendiri.
Dengan inisiatifnya sendiri, Raisa menggerakkan tangannya untuk menanggalkan pakaian tidur Rumi dari tubuh suami tampannya itu. Rumi pun menuruti dan mengikuti gerakan sang istri yang sedang melepaskan pakaian tidur dari tubuhnya.
Setelah pakaian tidur berhasil ditanggalkan dari tubuh Rumi, kedua tangan Raisa bergerak dengan begitu lihainya menjelajahi bagian atas tubuh suaminya. Menyentuh, meraba, serta membelai mulai dari leher, dada, perut, pinggang, hingga beralih ke belakang pada punggung, belikat, selangka, sampai pada tengkuk, dan berakhir meremas helaian rambut pria tampan tercintanya.
Saat pasangan suami istri itu memulai penyatuan kedua raga, bahkan Raisa juga menggigit pundak Rumi untuk menyalurkan rasa sakit yang terasa yang bercampur dengam hasratnya yang kian menggebu.
Sepertinya Raisa berkeinginan untuk bermain agresif dan itu membuat Rumi merasa senang dan bertambah semangat untuk bergerak di atas tubuh istri cantiknya.
__ADS_1
Setelah keduanya sama-sama telah dalam keadaan bertubuh polos, entah berapa ronde yang sudah dilakukan saat keduanya sama-sama diliputi semangat yang menggairahkan. Hingga akhirnya Raisa benar-benar tertidur pulas setelahnya karena kelelahan dan Rumi pun ikut tumbang di samping Raisa.
Namun, sebelum benar-benar tertidur Raisa dan Rumi sama-sama menarik selimut hingga seatas dada untuk menutupi tubuh keduanya yang masih dalam keadaan polos.
Keduanya baru saja selesai melakukan malam pertama kedua setelah mengadakan acara pernikahan kedua di sana.
•••
Pagi hari di keesokan harinya.
Raisa bergerak mengganti posisi tidurnya dan membelakangi Rumi. Namun, Rumi malah bergerak memeluk pinggang Raisa dari belakang.
"Jangan peluk aku," larang Raisa
"Kenapa jangan?" tanya Rumi
"Karena kau bisa terbangkitkan lagi," jawab Raisa dengan suara paraunya yang sangat pelan.
"Kau sudah pakai celanamu lagi belum?" tanya balik Raisa
"Sudah kok," jawab Rumi yang kembali memeluk tubuh Raisa dengan erat.
Kali ini Raisa hanya membiarkannya.
"Sayang, bukankah sudah saatnya kita untuk bangun sekarang?" tanya Rumi
"Hmm ... memang iya, tapi biarkan aku memejamkan mata selama 5 sampai 10 menit lagi," jawab Raisa yang kemudian bergerak berbalik untuk masuk ke dalam pelukan Rumi dan membenamkan wajahnya pada dada suami tampannya.
"Kau sangat lelah, ya, Sayangku?" tanya Rumi
Raisa hanya menganggukkan kepalanya masih dengan kedua mata yang terpejam untuk menjawab pertanyaan dari sang suami.
"Untungnya acara pernikahan kedua kita kali ini hanya berlangsung seharian sampai tadi malam," ucap Rumi
"Tapi, aku merasa sangat senang karena kau sangat luar biasa semalam. Terima kasih, Sayang," sambung Rumi
"Sama-sama, Suamiku ... " balas Raisa yang kemudian mendongakkan wajahnya untuk mengecup singkat bibir Rumi.
Rumi pikir istrinya akan merasa malu-malu saat dirinya membahas soal penyatuan raga semalam. Namun, siapa sangka dugaannya akan salah bahkan ia juga mendapat kecupan singkat di bibir dari sang istri.
"Sayang, kenapa kau jadi berubah? Ya ... meski aku merasa senang, sih?" tanya Rumi yang merasa sedikit bingung dengan perubahan sikap istrinya meski itu membuatnya merasa senang.
"Karena aku juga merasa senang. Kalau tidak, aku tidak akan memberikan malam pertama kedua untukmu semalam," ungkap Raisa sambil tersenyum manis penuh cinta.
Kini Raisa telah membuka kedua matanya dan menatap wajah tampan suaminya setelah bangun tidur.
"Tapi, kecupan darimu tadi tidak termasuk morning kiss, ya," ujar Rumi
"Terserah kau saja," kata Raisa
Raisa pun bangkit duduk dari tidurnya sambil menahan selimut di atas dada untuk menutupi tubuh polosnya. Lalu, wanita itu beranjak turun dari ranjang.
"Aku akan mandi lebih dulu dan jangan katakan ingin mandi berdua," ucap Raisa
Raisa pun berjalan perlahan menuju ke kamar mandi dan masuk ke dalamnya sambil membungkus dirinya dengan selimut.
Rumi hanya diam bergeming di atas ranjang. Matanya memandangi sang istri yang berjalan menuju ke kamar mandi sambil mengingat kejadian semalam yang membuatnya merasa sangat senang dan puas. Makanya, ia akan membebaskan istri cantiknya itu.
Namun, tetap saja setelah keduanya siap dengan pakaian rapi usai mandi, Rumi masih menagih jatah morning kiss dari Raisa yang telah diminta lebih dulu sebelum istrinya beranjak untuk mandi tadi.
.
•
Bersambung.
__ADS_1