
Raisa pun membuka portal teleportasi sihir dengan menggunakan kemampuan sihirnya.
"Sudah saatnya untuk kau pergi," kata Raisa
"Rupanya, istriku sendiri tak sabar ingin cepat-cepat mengusirku untuk pergi," ujar Rumi
"Bukan seperti itu. Kalau tidak sekarang, kau akan tidak rela meninggalkan aku dan aku pun akan tidak rela melihat kau pergi," ucap Raisa
"Kau benar. Aku harus pergi sekarang juga," kata Rumi
"Aku akan selalu merindukanmu saat kau tidak ada di sisiku. Aku mencintaimu, Sayangku," sambung Rumi
"Aku juga, sangat mencintaimu, Suamiku," balas Raisa yang lalu mengecup pipi sebelah kanan sang suami dengan singkat.
Rumi tersenyum kecil. Lalu, pria itu mulai melambaikan sebelah tangannya saat kedua kakinya terus melangkah masuk ke dalam lingkaran hitam yang merupakan portal sihir teleportasi. Setelah sang suami hilang dari pandangan mata, Raisa langsung menutup portal sihir teleportasi yang telah dibuka olehnya dengan cepat karena takut dirinya sebdiri tidak tahan dengan kepergian sang suami tercinta.
Begitu portal sihir teleportasi hilang dalam sekejap, air langsung terjatuh dari pelupuk mata Raisa.
"Akhirnya air mataku jatuh juga. Memang tidak bisa lagi kutahan. Ini sudah yang ke berapa kalinya? Harusnya aku tidak seperti ini. Air mataku bahkan jatuh mengenai coklat pemberian dari Rumi. Kalau seperti ini, bisa-bisa coklatnya tidak terasa manis lagi, melainkan terasa pahit karena terkena air mata," gumam Raisa yang berusaha menghibur diri dengan menciptakan lelucon receh dan memaksakan dirinya untuk tertawa saat yang sesungguhnya hatinya sedang merasa sedih.
Raisa langsung berbalik untuk kembali masuk ke dalam rumah yang kini terasa sepi karena hanya tinggal seorang dirinya sendiri di sana.
..."Aku tidak boleh sedih seperti ini. Tegarkan hatimu, Raisa! Kau hanya berpisah untuk sementara waktu dengan Rumi. Ini sudah sering terjadi sebelumnya. Namun, tetap saja ini pertama kalinya kita berpisah setelah menikah," batin Raisa meracau dalam hati....
Kini Raisa hanya bisa menghapus air matanya sendiri tanpa ada Rumi yang rela menghapus air matanya itu untuknya.
Raisa beralih menuju kamar di lantai atas. Ia ingin menenangkan diri di sana sambil mengingat setiap momen manis yang selalu dilewati bersama sang suami di sana.
Raisa meletakkan sebatang coklat pemberian dari Rumi yang telah sempat dibuka dan dimakan olehnya dan suami di atas meja kecil di samping ranjang. Ia memerhatikan meja kecil tersebut sambil duduk di tepi ranjang.
"Aku ingat sekali kalau setangkai bunga mawar merah milik Rumi pemberian dariku ditaruh di vas bunga kecil itu di atas meja ini. Kenapa sekarang hanya tersisa vas bunganya saja? Apa Rumi membawa bunga itu bersamanya ke dunianya sana?" gumam Raisa bermonolog ria.
Ya, anggap saja Rumi membawa setangkai bunga mawar merah itu ke kampung halamannya karena memang seperti itulah kenyataannya.
..."Sayangnya semalam aku malah mendadak datang bulan. Kalau tidak itu akan jadi spesial sebelum kepergian Rumi," batin Raisa...
Raisa pun memilih untuk merebahkan diri di atas ranjang. Meraup sisa-sisa aroma Rumi yang tertinggal di sana sebelum hilang sepenuhnya sambil mengingat kembali kebahagiaan bersama suaminya di dalam kamar dan terutama di atas ranjang tersebut.
Karena rasa malas akibat siklus datang bulannya, Raisa pun mulai kembali tertidur secara perlahan. Mungkin ia bisa merasa bahagia karena bisa bertemu dengan sang suami di dalam dunia mimpi yang indah.
Di sisi dimensi dunia lain.
Rumi masuk ke dalam rumahnya seorang diri tanpa ditemani sang istri.
Pria tampan itu terduduk di tepi ranjang dengan sebotol air putih yang terisi sepertiganya. Ia menatuh botol air itu di atas neja samping ranjang, lalu ia mengeluarkan gulungan kertas sihir dari dalam tas pinggang miliknya dan setangkai bunga mawar merah muncul ke luar dari gulungan kertas sihir miliknya setelah ia merapalkan mantra.
Rumi pun memasukkan setangkai bunga mawar merah pemberian dari sang istri ke dalam botol air yang diletakkan di atas meja samping ranjang tadi dengan harapan bunga tersebut tetap dan terus hidup seperti perasaan cinta di dalam hatinya.
"Teruslah hidup seperti rasa cinta di dalam hatiku, wahai bunga. Kau tak seindah istriku, tapi akan terus mengingatkan aku pada yang memberikanmu padaku, yaitu istri cantikku. Raisa," gumam Rumi
Rumi terus tersenyum saat menatap setangkai bunga mawar merah sambil membayangkan wajah cantik sang istri tercinta.
Raisa terbangun saat menyadari dirinya kembali tertidur.
"Tidur sebentar pun bisa mimpi indah," gumam Raisa sambil tersenyum.
Raisa pun bangkit dan beranjak ke luar dari dalam kamar. Ia harus menepis rasa malasnya dengan melakukan sesuatu. Wanita itu beralih menuruni anak tangga menuju ke lantai bawah.
Raisa berjalan menuju ke dapur untuk kembali mengisi perutnya sebelum memutuskan untuk pergi. Wanita itu mengambil sedikit sisa nasi goreng saat sarapan tadi dan memakannya.
Raisa duduk di kursi meja makan yang biasa ditempati oleh Rumi. Ia bisa merasakan kehadiran sang suami dengan duduk di sana. Hatinya menghangat setiap kali mengingat pria tampan itu.
__ADS_1
Usai makan, Raisa bersiap untuk pergi. Ia memutuskan untuk pergi ke Kafe Putri supaya tidak hanya bermalasan jika berdiam diri di rumah seorang diri.
Raisa membawa serta tas miliknya ke luar dari rumah setelah memesan mobil dari aplikasi online. Wanita itu pun pergi menuju ke Kafe Putri dengan menaiki mobil yang telah dipesan olehnya secara online.
Begitu tiba, Raisa langsung turun dari mobil setelah mambayar tarif dan berjalan masuk ke dalam Kafe Putri.
Saat masuk, Fira langsung menyambutnya karena sedang membersihkan meja pelanggan.
"Selamat siang, Bu Raisa," salam Fira
"Selamat siang juga, Fira. Omong-omong, meja kasir kok kosong? Yeni ke mana?" tanya Raisa
"Yeni lagi istirahat, Bu. Selagi sepi, sebelum jadi ramai pas waktu makan siang nanti," jawab Fira
"Kalau di ruang manager ada siapa?" tanya Raisa
"Hari ini yang datang cuma Bu Nilam, Bu, sekarang ada di ruang manager," jawab Fira
"Oke. Saya mau ke ruang manager dulu," kata Raisa
Fira hanya mengangguk menanggapi perkataan sang boss. Raisa pun beralih menuju ke ruangan manager.
Kondisi kafe memang termasuk sepi dan kemungkinan akan ramai saat jam makan siang nanti. Saat ini masih sekitar jam 11 siang dan masih ada waktu sebelum waktu istirahat makan siang.
"Eh, ada Bu Boss datang!" seru Nilam yang berada di dalam ruang manager begitu melihat Raisa masuk ke dalam sana.
"Santai aja kali, Nil. Kan, kita teman," kata Raisa
"Tapi, kan, ini masih waktunya kerja dan kamu boss aku. Kemungkinan dinding punya telinga itu pasti ada dan aku mau kasih contoh yang baik ke semua pegawai," ujar Nilam
"Terserah kamu aja, deh. Bagaimana sama kondisi kafe hari ini?" tanya Raisa
"Ya, seperti itulah. Tadi sempat ramai, tapi sekarang lagi sepi. Pelanggan yang datang juga pada tanya tentang kamu," jelas Nilam
"Kalau ramai jadi kerepotan gak?" tanya Raisa
Sementara Raisa sedang ada di ruang manager bersama Nilam, Yeni sedang istirahat sambil berbincang dengan Gita, Citra, dan Galih di dapur.
"Gita, Yeni, kalian berdua udah mulai masuk kerja dari kemarin, kan? Ketemu sama Raisa gak? Boss artis kita itu gimana orangnya?" tanya Citra
"Ya, seperti itulah. Bu Raisa tetap cantik dan baik, ada suaminya juga. Boss Rumi, kelihatan tampan, dingin, tapi juga romantis," ungkap Gita
"Itu, sih, juga udah pada tahu. Maksudnya, apa benar boss kita itu baik? Apa cuma pencitraan di TV doang?" tanya Galih
"Kemarin itu bu Raisa kayak agak sewot gitu karena ada banyak wartawan yang datang," jawab Yeni
"Masa, sih? Kayaknya pas aku lihat di acara gosip di TV gak gitu, deh. Mereka kelihatan ramah dan mesra. Apa benar itu cuma pencintraan doang?" tanya Citra
"Kalau menurut aku, sih, mereka baik kok. Kemarin itu bu Raisa cuma agak tegas aja karena dia ngomongin soal peraturan di sini. Kan, wajar kalau boss punya sifat tegas," jelas Gita
"Benar cuma tegas? Atau malah galak? Yeni bilangnya sewot berarti marah, kan?" tanya Galih
Karena merasa Gita tidak asik diajak bergosip, Yeni, Citra, dan Galih pun lebih memilih meninggalkan teman kerjanya itu di dapur dan beralih mengobrol sambil berjalan ke servis area di bagian depan.
"Kalau kata aku, mah, bu Raisa itu malah agak sombong. Masa ada wartawan datang aja dia jadi sewot? Padahal kalau diwawancara kesannya lembut dan baik hati banget," ujar Yeni
"Berarti benar cuma pencitraan doang dong? Emang bu Raisa bilang apa pas wartawan datang?" tanya Citra
"Pas ada wartawannya, sih, gak bilang apa-apa. Dia sibuk ikut layanin pelanggan yang datang. Pas wartawan udah pergi malah bilang, harusnya kasih tahu kalau ada wartawan yang datang dan jangan sampai wartawan yang datang itu malah jadi ganggu aktivitas jual beli kita sama pelanggan jadi terganggu. Bilangnya sambil agak sewot dan terkesan sombong gitu mentang-mentang boss," jelas Yeni
"Yang kerja mending fokus kerja aja, jangan malah bergosip tentang bu boss," ucap Fira yang mendengar obrolan ketiga teman kerjanya.
"Fira, gak asik, nih ... kayak si Gita aja. Kalau gak mau ikutan ngegosip gak usah malah ceramah," ujar Galih
"Emang kebanyakan artis cuma bisa pencitraan di depan pihak media aja, sifat baiknya palsu. Termasuk bu Raisa juga," sambung Galih
__ADS_1
Padahal Fira bermaksud menegur karena takut Raisa bisa mendengarnya dari dalam ruang manager.
Memang benar, Raisa dapat mendengar perbincangan gosip tentangnya yang dibicarakan ketiga pegawai kafenya dari dalam ruang manager. Begitu juga dengan Nilam, yang tampak canggung melihat reaksi Raisa yang mendengar gosip dari para pegawai tentang dirinya.
"Jadi, ada gosip tentangku juga. Apa mereka udah mulai gosipnya dari awal masuk kerja?" tanya Raisa
"Jawab aja, aku gak apa-apa kok. Gak usah merasa gak enak bilang ke aku. Aku cuma mau tau," sambung Raisa yang mengerti dengan sikap diamnya Nilam.
"Hari ini, sih, baru kali ini mereka bergosip tentang kamu. Tapi, kemarin si Yeni itu udah mulai bergosip sambil mendumel gitu, tapi Fira dan Gita gak terlalu menanggapi. Dan sekarang kayaknya Citra dan Galih merasa penasaran tentang kamu, jadi Yeni cuma nyampein pendapatnya tentang kamu, tapi jadinya malah bergosip," jelas Nilam
"Emang, dasar mulut netizen ... " kata Raisa sambil terkekeh pelan.
Raisa pun hendak beranjak ke luar dari dalam ruangan. Namun, Nilam mencegahnya dengan sederet pertanyaan.
"Raisa, kamu mau ke mana? Mau ke luar? Mau apa? Mau marah atau menegur mereka? Apa kamu mau mereka makin parah bergosip tentang kamu? Apa kamu gak bisa biarin aja dan abaikan atau anggap aja gosip itu gak ada?" tanya Nilam
"Kalau mau ke luar, ya, ke luar aja. Kenapa aku harus marah? Aku juga cuma ngobrol biasa aja kok," ujar Raisa
"Atau, jangan bilang kamu mau terus diam di sini? Bagaimana kalau mereka juga ngomongin tentang kamu? Kalau kamu bisa diam aja di belakang mereka, kenapa atau apa artinya kamu gak bisa diam juga di depan mereka? Aku masih bisa kontrol emosi kok. Santai aja," sambung Raisa sambil tersenyum kecil.
Sebenarnya Raisa memang merasa kesal saat ada orang yang bergosip buruk tentang dirinya. Namun, ia tidak bisa dan tidak mau memperkeruh keadaan dengan memarahi orang-orang yang bergosip itu.
Bisa saja jika Raisa ingin menmmbawa emosinya dan marah dengan para pegawainya yang bukannya bekerja, tapi malah bergosip itu. Apa lagi pasti rasanya akan seru saat ia meluapkan amarahnya saat emosinya sedang tidak stabil dan perasaannya sedang lebih sensitif serta suasana hatinya yang mudah berubah saat dalam periode datang bulan ini. Namun, ia hanya tidak ingin dikuasai oleh emosi dalam keadaan apa pun.
"Terus, kalau bu manager kita gimana orangnya? Kemarin kamu juga ketemu sama dia, kan, Yeni? Siapa namanya? Bu Nilam, ya?" tanya Citra
"Ya, kemarin aku udah ketemu sama dia. Selain manager kita, bu Nilam, ada juga wakil managernya, bu Andien. Orangnya biasa aja, tapi mungkin itu juga pencitraan doang di depan bu Raisa, padahal mereka sama bu Raisa itu berteman," ungkap Yeni
"Bu Raisa gak adil gak, sih? Dia nunjuk bu Nilam dan bu Andien jadi manager dan wakil manager di depan aku, Fira, dan Gita. Pilih kasih banget mentang-mentang sama teman," sambung Yeni
"Ternyata, sifatnya gitu, ya, tapi bu Nilam ini kayaknya antara pendiam atau penakut deh. Dari tadi dia diam aja di dalam ruangannya," kata Galih
"Yang ada di dalam ruang manager itu bukan cuma bu Nilam, tapi ada bu Raisa juga, tahu!" batin Fira
Saat Yeni, Citra, dan Galih sedang asik bergosip ria, Raisa dan Nilam muncul ke luar dari balik pintu ruang manager.
Keempat pegawai itu langsung terkesiap kaget. Mereka langsung terdiam dengan berdiri sikap sempurna dan pandangan mata yang menunduk. Para pegawai sangat jelas terlihat gugup dan cemas begitu melihat boss mereka, kecuali Fira yang tetap tampak tenang.
"Bu Nilam dan ada Bu Raisa juga ...."
"Lagi pada kumpul di sini, ya? Lagi apa? Lalu, mana Gita? Kok gak kelihatan?" tanya Raisa
"Gita ada di dapur, Bu. Kayaknya dia lebih suka mengadon kue dan jadi asik sendiri," jawab Fira
Raisa hanya mengangguk tanda mengerti.
"Citra, Galih!" seru Raisa memanggil kedua pegawai kafenya yang baru masuk kerja di hari itu juga.
"Ya, Bu ... " sahut Citra dan Galih yang masih menundukkan pandangan.
"Kalian berdua baru datang hari ini, kan? Udah kenalan sama teman kerja yang lain belum?" tanya Raisa
"Udah, Bu," jawab Citra dan Galih secara bersamaan.
"Saya harap kalian semua bisa akur. Semangat terus kerjanya dan semoga betah kerja di sini, ya," ucap Raisa
"Ya, Bu," sahut keempat pegawai kafe secara bersamaan.
"Kalau begitu, saya tinggal dulu. Mau lihat dan cek ke belakang sebentar. Layani dengan baik kalau ada pelanggan yang datang," ujar Raisa
"Baik, Bu," sahut keempat pegawai kafe secara bersamaan.
Raisa pun mengajak Nilam untuk beralih menuju dapur untuk sekadar melihat-lihat sambil mengecek Gita yang bekerja di sana.
.
__ADS_1
•
Bersambung.